Epilog
Jika aku diberi satu kesempatan lagi, aku takkan ragu menyebut namamu di depan mereka semua. Aku akan memilihmu, meski harus menunggu lebih lama.
Namun sekarang, biarlah cinta ini hidup dalam doa, dan aku akan terus menyebutmu. Hingga Allah menghapus perasaanku, atau menjemputku ke surga-Nya.
Bukan di dunia, tapi di surga—tempat kita bisa tersenyum, dan akhirnya mengucapkan kata-kata yang tak sempat terucap: “Selamat datang, sayang. Kita tak pernah benar-benar pergi.”TAMAT
Monolog: Dan Jika Aku Tak Pernah Datang
Dan jika aku tak pernah datang padamu, bukan karena aku tak mencintaimu.
Tapi karena aku takut: Kepergianku justru akan menyakitimu lebih dalam.
Jika aku hanya menuliskanmu dalam bait-bait puisi, bukan berarti aku menghindar.
Karena hanya lewat kata-kata, aku bisa dekat padamu tanpa membuat hatimu terbebani oleh bayangku.
Dan jika suatu hari nanti kamu membuka buku ini, ketahuilah: aku pernah ada.
Pernah menunggumu di persimpangan waktu. Pernah menyebut namamu dalam setiap doa yang kusebut lirih.
Tapi jika takdir menuliskan bahwa kita tak satu tujuan, tak apa. Aku takkan memaksakan akhir yang kupilih.
Karena aku tahu, cinta yang paling ikhlas… adalah yang tetap mendoakan, meskipun akhirnya tak saling memiliki.
Lanjut ==> Epilog
Setelah Segalanya
Sudah bertahun sejak pertemuan terakhir itu.
Sejak payung merah muda itu menghilang dari pandanganku, bersama langkah-langkah yang tak pernah kembali.
Waktu katanya bisa menyembuhkan. Tapi menurutku, waktu hanya pandai membuat kita terbiasa. Bukan sembuh—hanya tahu bagaimana caranya melanjutkan hidup dengan luka yang tetap tinggal di sana.
Aku tetap hidup seperti biasa. Bangun pagi, menyeduh kopi, membuka jendela, menatap langit yang entah ke mana arahnya. Aku bekerja, tersenyum saat perlu, menjawab bila ditanya.
Tapi ada hari-hari ketika hujan turun diam-diam,
dan aku mendadak diam lebih lama dari biasanya. Ada hari-hari ketika aku masih memikirkannya.
Bukan karena aku belum move on. Tapi karena dia pernah tumbuh di hatiku begitu dalam.
. . .
Di suatu sore yang biasa, aku menemukan buku catatan lama.
Isinya: puisi-puisi, potongan doa, percakapan yang tak pernah dikirim, dan selembar surat yang tidak pernah kubaca ulang sejak dulu.
Kukembalikan buku itu ke rak. Tak ingin membuka luka, tapi juga tak ingin melupakan bahwa aku pernah merasa sedalam itu. Aku hanya tersenyum tipis—bukan karena bahagia, tapi karena… sudah menerima.
Kini, aku masih menuliskan namanya. Tidak sesering dulu, tapi sesekali, saat senja memanggil dan hujan mulai turun seperti dulu—aku menyebut namanya dalam bait yang tenang.
Aku masih berdoa untuknya. Bukan lagi dengan gemetar, bukan lagi dengan tangis. Tapi dengan ikhlas yang perlahan kupelajari. Semoga bahagianya tak berkurang. Semoga cintanya tumbuh subur—di tangan yang kini menggenggamnya.
Sementara aku? Aku tetap berjalan. Bukan karena sudah sembuh, tapi karena sudah bisa berdamai.
Aku masih percaya: Cinta tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti bentuk. Kadang menjadi doa. Kadang menjadi kekuatan untuk tersenyum. Kadang menjadi kenangan yang diam-diam kita simpan rapi… di laci paling sunyi dalam hati. Cinta sejati tak selalu datang dengan kata “bersama”. Terkadang, cinta sejati hanya butuh satu hal: Kesediaan untuk melepas—tanpa dendam, tanpa amarah, hanya dengan kasih yang paling tulus.
Lanjut Bagian Akhir ==> Monolog
Pertemuan Terakhir
Hujan turun dengan tenang sore itu. Tidak deras, hanya gerimis yang cukup membuatku mengancing jaket dan menggenggam payung lebih erat. Waktu hampir pukul lima sore. Dan aku, sudah menunggunya—di tempat yang dulu pernah jadi saksi kami: bangku taman kecil di samping perpustakaan kota.
Sudah lama kami tidak bertemu. Sudah berapa bulan? Aku bahkan tidak yakin dia akan datang. Tapi dia datang.
Masih dengan langkah yang sama.
Masih dengan senyum yang sederhana.
Masih dengan tatapan yang membuatku ingin menetap—meski aku tahu tak pernah ada rumah untukku di sana.
“Maaf, aku terlambat,” katanya sambil duduk di sampingku. Suaranya masih lembut.
Aku menggeleng pelan.
“Nggak apa-apa. Yang penting kamu datang.”
Dia tersenyum. Tapi aku tahu, senyum itu tidak seperti dulu. Ada sesuatu yang belum dia katakan. Dan aku… entah kenapa… bisa merasakannya.
“Aku… akhir-akhir ini banyak pikiran,” ujarnya setelah beberapa saat hening.
“Kayaknya keluarga mulai serius mau kenalin aku sama seseorang.”
Dunia tiba-tiba mengecil.
“Oh…”
Itu saja yang sanggup kuucapkan.
“Aku belum bilang ‘iya’, kok,” katanya cepat. “Tapi… aku juga belum bisa bilang ‘tidak’.”
Aku menunduk. Menggenggam tangan sendiri.
Menahan dada yang terasa makin sesak.
“Kalau kamu bilang ‘tidak’… apa itu karena aku?” tanyaku akhirnya.
Dia menatapku. Dalam. Tapi mata itu seperti tak ingin terlalu jujur.
“Aku… bingung,” bisiknya.
“Kamu baik. Tapi kamu juga… terlalu diam.”
Aku terdiam. Kata-kata itu menamparku dengan lembut.
Menyadarkan bahwa rasa, tanpa keberanian, hanya akan jadi kenangan.
“Terima kasih…” ucapku pelan.
“…karena sudah mau menemuiku.”
Dia tersenyum. Kali ini sedikit mengendurkan hatiku.
“Kamu akan selalu jadi bagian dari puisi-puisiku.”
“Dan kamu akan selalu jadi bagian dari doaku,” jawabku.
Hujan makin merintik. Gerimis yang jatuh ke daun flamboyan di atas kepala kami seolah menangisi sesuatu yang tak ingin kami ucapkan.
“Kalau ini terakhir kali kita ketemu… kamu akan baik-baik saja?” tanyanya.
Aku menatapnya.
“Aku akan baik. Tapi tidak segera.”
Dia bangkit. Payungnya terbuka—merah muda, seperti biasa. Dia melangkah pelan, meninggalkan jejak basah di jalan taman.
Dan aku hanya bisa memandangi punggungnya yang perlahan menghilang.
Aku tidak mengejarnya.
Karena aku tahu: Jika cinta tak cukup untuk membuat kita tetap bersama, maka melepaskannya adalah bentuk tertulus dari menyayanginya.
“Kadang yang paling menyakitkan dari cinta… adalah ketika kita terlalu lambat untuk bersuara.
Dan yang kita cintai… akhirnya memilih pergi, bukan karena tak cinta, tapi karena kita terlalu diam.”
Lanjut Bagian XI ==> Setelah Segalanya
Kilas Balik: Langit Biru di Cianjur
Langit pagi itu cerah sekali. Awan-awan tipis menggantung manis di atas Kota Cianjur. Masjid Agung di kejauhan tampak megah nan indah seolah menyambut seseorang yang baru saja menginjakkan kaki di kota ini.
“Aku suka langit pagi ini,” katanya, tersenyum kecil.
Aku berdiri di sampingnya. Tak banyak kata keluar dari mulutku—hanya anggukan pelan.
Dia mengenakan baju berwarna violet, seperti yang sering ia ceritakan sebagai warna kesukaannya.
Gaya berpakaiannya sederhana. Wajahnya tanpa banyak polesan. Tapi entah kenapa… justru dari situlah aku melihat keindahan yang tenang.
Kejujuran yang diam-diam menumbuhkan harapan.
“Kamu kelihatan lebih tenang daripada yang aku bayangkan,” ujarku akhirnya, memecah hening.
Dia tertawa pelan.
“Kalau kamu… kelihatan lebih gugup dari yang aku duga.”
Kami tertawa bersama. Untuk sesaat, dunia terasa memberi izin—untuk menikmati waktu tanpa bayang-bayang lalu, tanpa ketakutan akan nanti.
Kami berjalan menyusuri taman kota, membeli roti cokelat, duduk berdua di bangku semen. Kami bicara tentang mimpi, tentang keluarga, tentang buku, tentang puisi-puisi kami.
“Kalau suatu hari kita tidak bersama… Kamu masih mau menulis puisi untukku?”
Pertanyaannya menggantung di udara.
Angin menyusup di sela-sela diam kami, membawa aroma berbagai jenis makanan dari para pedagang tak jauh dari sana.
Aku menarik napas. Lalu menjawab:
“Kalau aku tidak bisa memilikimu… aku akan tetap menulis untukmu.”
“Sebab menulislah caraku mencintaimu tanpa menyakitimu.”
Dia menatapku. Kali ini lebih dalam. Matanya tak sekadar tersenyum. Ada getar, ada pesan yang tak diucap.
“Aku ingin kamu jadi yang terakhir,” katanya pelan.
Aku menunduk. Karena dalam hati kecilku, aku tahu:
Mungkin aku tak bisa jadi yang terakhir.
Masih banyak hal yang belum selesai dalam hidupku.
Masih banyak keterbatasan dalam diriku.
Masih ada jalan panjang yang harus dilewati.
. . .
Kami berpisah sore itu di bawah langit senja.
Tak ada lambaian. Tak ada janji. Tapi sejak hari itu, doaku berubah.
Dari:
“Ya Allah, jadikanlah dia milikku,”
Menjadi:
“Ya Allah, bahagiakanlah dia… meski bukan bersamaku.”
Beberapa orang memang ditakdirkan bertemu, tapi tidak untuk bersama. Tapi siapa pun yang hadir dalam doa… tak pernah benar-benar pergi.
Lanjut Bagian X ==> Pertemuan Terakhir
Terlambat
Aku berdiri di depan sebuah masjid kecil, sendirian. Langit Kebumen muram. Hujan belum turun, tapi menggantung berat.
Aku membaca namamu di undangan itu—berulang kali. Namamu, berdampingan dengan lelaki lain. Bukan aku.
Aku terlambat. Terlalu lama menggenggam mimpi. Terlalu takut memeluk kenyataan.
“Kenapa aku nggak datang waktu itu?” tanyaku sendiri.
Karena aku pikir, aku masih punya waktu. Masih bisa mengejarmu. Masih bisa menjadi lebih baik.
Masih bisa memperjuangkanmu… dengan cara paling halal dan paling mulia.
Tapi waktu ternyata terlalu cepat. Dan keberanian datang terlambat.
Aku tak pernah berhenti menulis untukmu. Setiap malam, dalam gelap dan sunyi. Sajak-sajak itu tak pernah kukirim. Karena aku ingin, jika suatu hari aku datang padamu, aku akan membacakannya langsung—di hadapanmu. Bukan lewat layar, bukan lewat huruf-huruf hening.
Tapi sekarang…
Bahkan napas pun tak cukup untuk menyampaikan rindu ini padamu. Karena kamu telah memilih jalan, dan aku tetap menjadi lelaki yang mencintai… dalam diam.
. . .
Aku berjalan menuju pantai. Tempat kita pernah duduk—meski tak berdampingan. Hanya saling menatap dari balik payung merah muda dan gigil hujan.
Kau masih mengingatnya? Aku… terlalu sering mengenangnya. Aku menatap langit. Awan seperti memeluk bumi, burung-burung pulang ke sarang. Sementara aku masih tersesat—tak tahu arah pulang.
Lalu aku bicara dalam hati:
“Wahai kamu, yang kusebut dalam sujud terakhirku semalam… Aku mencintaimu bukan untuk kumiliki.”
“Aku mencintaimu… untuk kusampaikan kepada Tuhan. Agar jika bukan di dunia, mungkin kita bertemu di surga. Dan jika tak di surga, setidaknya Allah tahu: aku mencintaimu dengan sebenar-benarnya.”
Dari saku jaket, kupetik satu surat yang belum sempat kukirim.
Kepadamu,
Aku tak datang membawa bunga atau cincin.
Tapi aku datang membawa diriku—dengan semua luka yang kujahit sendiri.
Aku datang bukan untuk menagih rasa, tapi untuk menyampaikan bahwa aku pernah memilihmu…
Meski dunia tak mengizinkan kita bersatu.
Kini aku tahu: yang abadi bukanlah pernikahan,
Bukan pula pertemuan.
Yang abadi adalah kerinduan—yang bahkan waktu pun tak bisa membunuhnya.
Aku meletakkan surat itu di pasir. Kupandangi langit sekali lagi.
“Jika ada satu tempat yang paling ingin aku datangi setelah mati…” bisikku.
“Bukan surga…”
“Tapi tempat di mana aku bisa melihatmu tersenyum padaku untuk pertama kalinya…”
“…dan menyebut namaku, untuk terakhir kalinya.”
Hujan turun.
Payung merah muda itu tak ada lagi.
Tak ada tanganmu.
Tak ada tatapanmu.
Hanya aku.
Sendiri.
Dengan cinta… yang tertinggal.
Dan sebelum aku datang padamu, dulu, aku telah memutuskan:
“Tak akan ada yang lebih kucintai, selain dari caraku mencintaimu.”
Lanjut Bagian IX ==> Kilas Balik: Langit Biru di Cianjur
Dari Hati Yang Tak Kaupilih (Perspektif Sang Gadis)
Aku tak pernah benar-benar tahu, sejak kapan rindu itu mulai tumbuh. Mungkin sejak hari itu—saat ia menyebut namaku dalam diamnya.
Atau saat tatapan matanya selalu menghindar setiap kali aku mencoba menatap lebih lama.
Atau… sejak aku sadar, ia tak akan datang. Tapi aku tetap menunggunya.
“Ay, dia datang nggak?”
Pertanyaan itu muncul dari Dila, sahabatku, di malam sebelum hari pernikahanku.
Aku hanya tersenyum samar. Tak ada yang tahu, di antara puluhan nama tamu undangan, aku masih diam-diam menanti satu nama.
“Kayaknya enggak.”
“Kamu masih berharap dia datang?”
Aku menarik napas panjang.
“Bukan berharap… aku cuma ingin tahu apakah dia baik-baik saja.”
“Atau… apakah dia masih ingat aku.”
. . .
Dulu… saat aku membaca puisi-puisinya, aku menangis diam-diam. Aku tahu itu untukku. Tapi aku pura-pura tak tahu. Karena aku takut terlalu yakin.
Takut berharap.
Dia mencinta dengan jujur, sementara aku terlalu sibuk menyembunyikan luka yang belum sembuh.
Dia terlalu setia menyimpan rasa, sementara aku… terlalu ragu menyambutnya.
Padahal aku juga menyebut namanya dalam sujud panjangku.
Aku juga pernah berharap, bahwa akhirnya… kami akan bertemu di satu tujuan.
Tapi waktu tak pernah berpihak.
Dan aku…
Kalah oleh keadaan.
Kalah oleh diamku sendiri.
Kalah oleh keberanian yang tak pernah sempat tumbuh.
“Aku nikah, bukan karena aku nggak cinta kamu, Ardi”
ucapku dalam hati, saat tangan seorang lelaki menyentuh keningku di akad.
“Tapi karena kamu tak kunjung datang… sementara waktu tak mau menunggu. Maaf…”
. . .
Beberapa hari setelah resepsi, entah kenapa aku ingin membuka emailku. Dan, benar saja, aku menemukan email dari alamat yang sudah lama tak mengirim apa-apa.
Kusentuh perlahan. Kubaca dengan gemetar.
Hai…
Maaf jika diamku terlalu lama. Tapi bukan karena aku lelah. Bukan karena aku lupa.
Aku hanya takut—takut harapanku akan menyakitimu.
Kau tahu? Sering aku bertanya dalam doa:
“Apakah aku salah mengenalmu? Salah mencintaimu?”
Tapi Tuhan hanya menjawab dengan sunyi… dan mimpi-mimpi yang selalu tentangmu.
Mungkin, rindu ini memang bukan untuk kujemput. Hanya untuk kukenang.
Dan jika nanti aku benar-benar tiada, dan kau membaca ini, ketahuilah…
Aku akan bahagia, melihatmu bahagia.
Sesaat sebelum sinarku padam.
Salam, dari seseorang yang pernah mencintaimu seutuhnya, tanpa pernah benar-benar bisa memilikimu selamanya.
Air mataku jatuh. Suamiku sudah tertidur di sampingku.
Aku tak sanggup membangunkannya—atau menjelaskan apa yang kurasakan. Karena ini… luka yang tak bisa dibagi.
Di depan cermin kamar, aku berbicara pelan. Kepada diriku sendiri.
“Kalau kamu mendengar doaku malam ini… Ketahuilah, aku tak pernah benar-benar berhenti menyayangimu.”
“Namun, cinta saja tidak cukup, bukan? Harus ada waktu dan keberanian. Dan kita tak punya keduanya.”
“Maaf… karena aku membuatmu menunggu, hanya untuk akhirnya aku pergi. Maaf… karena aku tak cukup kuat untuk memilihmu. Tapi aku juga… tak cukup kuat untuk melupakanmu.”
Pagi itu, sebelum berangkat ke tempat baru bersama suami, aku menulis catatan kecil. Bukan untuk dikirim. Hanya untuk diriku sendiri:
Jika aku diberi satu kesempatan untuk mengulang waktu,
Aku akan menyebut namamu di depan mereka semua.
Aku akan memilihmu, meski harus menunggu lebih lama.
Namun sekarang, Biarlah cinta ini hidup dalam doa.
Dan aku akan terus menyebutmu…
Sampai Allah menghapus perasaanku,
Atau menjemputku ke surga-Nya.
Lanjut Bagian VIII ==> Terlambat
Sebelum Sinarku Padam
Pukul 01.32 dini hari.
Sudah hampir dua jam aku hanya terbaring—mata terbuka, pikiran berlarian ke mana-mana. Dinding kamar terasa lebih tipis dari biasanya, seolah suara sunyi bisa menembus masuk dan menumpuk di dadaku. Lampu belajar redup, tapi bukan tugas atau skripsi yang kupikirkan.
Melainkan kamu.
Lagi-lagi kamu.
“Sampai kapan aku begini?” gumamku sendiri.
Aku bangkit, membuka jendela kamar. Angin dingin malam menyapa wajahku, membawa sisa aroma hujan. Jauh di luar sana, sesekali suara motor memecah kesepian. Tapi batinku jauh lebih riuh dari jalanan kota.
Aku teringat pesan terakhirku padamu:
“Kalau bukan aku, tak apa. Asal kau bahagia.”
Tak ada balasan. Tidak malam itu. Tidak besoknya. Tidak sampai sekarang.
Kutatap layar ponsel, lalu menulis di notes:
Tidak ada mata terpejam
Kala malam-malam
Rinduku semakin tenggelam
Kepada insan tamam.
Kurangkai kalam
Di atas layar kapal yang hampir karam
Dengan sisa tinta pada ujung qalam.
Sabda-sabda cinta yang tenggelam di samudera hati terdalam
Tumbuhkan pohon asmara berbuah masam.
Apakah meraih kesetiaan qalbu
Bagiku adalah haram?
Saat remuk-berserak
Segala tekad suci dan azam.
Kala putih bersih sinar kasih
Terhapus oleh warna hitam, kelam.
Adalah aku—
Penyelam lautan air mata gadis, yang muram.
Dalam tangis sendu
Atas lukanya yang terlampau dalam,
Lalu kesetiaanku dibayar
Dengan panah yang menghujam.
Tepat mengenai jantungku,
Berdarah lagi, lebam.
Bagaimana darah ini harus kuredam?!
Tiada satu pun kan paham?!
Kerikil-kerikil menerjang,
Merajam.
Aku melirih dalam gumam
Berikan aku cinta segenggam…
Aku akan bahagia
Sesaat sebelum sinarku padam.
Lalu jasadku tenggelam,
Dan namaku di lisan orang-orang,
Redam.
Kasih, setialah engkau
Walau aku mulai terdiam.
Datanglah segera
Selagi sang aku belum terbenam.
Bawakan air keabadian
Bernama cinta padaku,
Sebelum mataku benar-benar terpejam—
Agar aku akan abadi mencintaimu,
Di hatimu kau cintai,
Sepanjang siang dan malam…
Aku berhenti. Menunduk. Mengusap wajah yang mulai basah. Air mata itu selalu datang di waktu yang sama—setiap aku mencoba melupakanmu.
. . .
Beberapa minggu berlalu.
Hidup berjalan. Tapi rindu tetap tinggal. Lalu, kabar itu datang. Bukan dari kamu, tapi dari seseorang yang tak sengaja melihatnya.
“Dia benar-benar menikah, ya?”
“Iya. Hasan namanya. Teman satu komunitas.” Katanya, “Dia orangnya ramah, alim juga.”
“Ayla bahagia, kayaknya.”
“Kayaknya…”
Kata “kayaknya” itu menamparku lebih dari kabar pernikahannya sendiri. Karena bahkan saat kau bahagia pun, aku tak tahu apakah aku harus ikut senang… atau patah dalam diam.
Hari itu, seharusnya aku bisa datang ke akadnya. Sebagai tamu. Tapi aku memilih pergi jauh. Menumpang kereta malam menuju kota yang tak ada dia.
Di dalam gerbong, suara rel seperti denyut luka.
Di sana, aku menulis surat terakhir untuknya.
Surat itu kukirim ke emailnya.
Entah akan dia baca atau tidak.
Aku hanya ingin dia tahu—aku pernah ada. Dan pernah begitu mencintai dan merindukannya.
Dan malam itu, di kamar sepi penginapan kecil, aku berdoa dalam diam:
“Ya Allah… bahagiakanlah dia, walau bukan denganku. Jangan biarkan cinta ini membuatku kufur pada takdir-Mu. Biarlah aku padam dalam sunyi, asal dia bersinar bahagia bersama seseorang yang menjadi kekasihnya kini.”
Lanjut Bagian VII ==> Dari Hati Yang Tak Kaupilih
Bolehkah Aku Mengenangmu?
Hujan turun di hari Minggu. Deras. Tapi tak sedingin kesunyian yang datang dari arahmu.
Aku duduk di dekat jendela kamar, memandangi gerimis yang menari di kaca. Cangkir kopi luwak yang kupersiapkan pagi tadi kini sudah dingin. Di luar, daun-daun bergoyang dalam irama rintik. Dan dinding kamar ini… masih menyimpan gema suaramu—yang sudah lama tak kudengar.
Hari ini hari Minggu. Dulu, biasanya aku menemuimu. Kita berjalan melewati gang kecil menuju taman, duduk di bangku tua di bawah pohon flamboyan. Kau akan tertawa karena aku selalu lupa membawa payung.
Aku tersenyum sendiri. Mengingatnya terasa manis dan menyakitkan dalam waktu bersamaan.
Lalu kutulis bait itu:
Bolehkah aku…
Pada November ini mengingatmu,
Kala Minggu pagi berlangit biru…
Puisi itu kutulis semalam. Untukmu. Tapi aku ragu mengirimkannya.
Ponselku diam. Tidak ada notifikasi. Tidak ada namamu muncul. Sudah lama tidak ada. Tapi tak ada yang bisa menghentikan kepalaku dari memutar ulang kenangan tentangmu.
Kugulir folder foto di ponsel. Satu demi satu, momen bersamamu muncul lagi. Kau dengan rambutmu yang terurai, mengenakan jaket ungu favoritmu, tertawa kecil karena aku menggigit roti cokelat buatanmu terlalu besar. Waktu itu kau menyodorkannya dengan malu-malu.
“Kamu suka?”
“Aku suka kamu,” jawabku waktu itu, separuh bercanda, separuh serius.
Kuketik lagi di notes:
Bolehkah aku…
Merasakan kembali roti cokelat pemberianmu,
Dengan rasa kasih dan ketulusan yang dulu kau sisipkan diam-diam?
Kututup galeri, menghela napas, lalu bangkit menuju meja kerja. Di sana, tergeletak buku bersampul coklat tua—buku puisimu. Hadiah ulang tahunku tahun lalu.
Kubuka halaman tengahnya.
Untukmu,
Yang tak pernah kutemui tanpa rindu.
Tanganku gemetar. Ingin sekali menghubungimu. Tapi keinginan itu seperti api yang diarahkan ke kertas basah. Takkan menyala. Takkan kau jawab. Atau… mungkin tak akan kau baca.
Tetap saja, kutulis pesan pendek itu:
Hai… Bolehkah aku… sekadar mengenangmu hari ini?
Kukirim.
Tak ada balasan.
. . .
Beberapa jam kemudian, layar HP menyala. Tapi bukan darimu.
Dari seorang teman:
“Bro, si Ayla udah tunangan ya? Aku lihat dia bareng cowok itu kemarin sore. Katanya keluarganya udah sepakat.”
Dunia terasa runtuh. Seketika.
Aku menatap pesan itu. Hening. Bahkan hujan pun seakan berhenti. Lalu seperti palu menghantam dada, aku merasa… hancur.
Kutulis di buku catatan harianku malam itu:
Bolehkah aku…
Meneteskan kembali air mata di pipiku,
Sebab bahagia mencintaimu,
Dan sebab luka kepergianmu?
Bolehkah aku…
Terpuruk di malam-malam tanpamu,
Terjaga oleh rindu yang menggebu,
Dan oleh diam yang kau beri padaku?
Keesokan harinya, aku duduk di taman kota. Sendiri.
Kusobek sunyi dengan membuka catatan terakhir darimu: selembar kertas kecil yang dulu kau selipkan diam-diam ke dalam bukuku.
Tulisan tanganmu lembut:
Kalau nanti kamu tak mendapatiku di tempat biasa,
Bukan berarti aku tak cinta.
Mungkin aku hanya sedang kalah oleh takdir,
Yang terlalu sulit untuk kita lawan bersama…
Aku terdiam. Lama.
Dan malam itu, di sepertiga malam yang lengang, aku kembali bersujud, doaku malam itu:
“Ya Allah… jika dia bukan untukku, jangan biarkan aku mendustai takdirmu dengan terus memaksakan rasa ini.”
“Tapi jika masih ada kemungkinan… kuatkan aku menjaga cinta ini, tanpa membuat hatiku binasa.”
Lalu kutulis puisi terakhir malam itu:
Bolehkah aku…
Membaca lagi puisi darimu,
Sebagai petanda bahwa hati kita menyatu saat itu—
Sekeping hatiku terutuhkan oleh keping hatimu.
Bolehkah aku…
Menikmati lagi kisah tentang doa-doamu,
Di sepertiga malam yang tak pernah berlalu
Tanpa sujud dan ruku’ pada Rabbmu?
Bolehkah aku…
Percaya lagi bahwa aku adalah jawaban doa-doamu itu,
Pengurai ikatan jarak kau dan karibmu,
Pelerai sengketa tiga hati yang beradu?
Bolehkah aku…
Membuka album kenangan masa-masa indah itu,
Di bawah hujan yang menggigilkan tubuhku,
Di bawah derai yang membasahi baju?
Bolehkah aku…
Melukiskan lagi keindahan itu:
Air yang terjun bebas dan mengenai punggungmu,
Begitu deras terlempar ke atas kepalaku.
Bolehkah aku…
Mencicipi hidanganmu—
Duduk makan berdua di atas batu,
Seraya sesekali menikmati panorama sang banyu,
Dan gelak tawamu saat aku berlaga sok lucu?
Bolehkah aku…
Mendengar lagi petikan gitarmu,
Suara anak kecil dari nyanyianmu,
Duduk bersama mencipta sebuah lagu?
Bolehkah aku…
Membayangkan tingkahmu,
Bergelayut di atas pintu,
Mematahkan cincin di jarimu?
Bolehkah aku…
Melilitkan syal pemberian darimu—
Mengingatkan pada sosok yang selalu kau rindu, katamu,
Yang terbaring di tanah semenjak bertahun-tahun lalu?
Bolehkah aku…
Menulis sajak-sajak cinta dari namamu,
Syair-syair romantis tentangmu,
Atau puisi-puisi indah untukmu?
Bolehkah aku…
Terpuruk di malam-malam tanpamu,
Terjaga sebab rindu-kangen menggebu,
Dan oleh abaian darimu?
Bolehkah aku…
Tak kudapati cinta selain cintamu—
Mengecup sajadah di sepertiga malamku,
Tersungkur di atas shalat malam dan tahajud bersamamu?
Bolehkah aku…
Bolehkah aku…
Menyayangimu tanpa harus memilikimu?
Lanjut Bagian VI ==> Sebelum Sinarku Padam
Angin Makassar dan Namamu
Makassar,
Angin sore dari arah laut menderu lewat balkon kamar penginapan kecilku. Di kejauhan, langit perlahan berubah dari jingga menjadi kelabu. Ombak menggulung di Pantai Losari, memecah di batu-batu karang seperti hatiku yang terhempas gelombang rindu—yang tak bisa kucegah, tak bisa kusampaikan.
Sudah tiga minggu aku di sini. Mengikuti program pertukaran mahasiswa—“kesempatan emas” kata orang-orang. Tapi dalam hatiku, yang kurasa bukan emas, melainkan beban. Bukan karena kuliah atau adaptasi budaya. Tapi karena satu hal: jauhnya aku darimu, Ayla.
“Kenapa kamu belum bales pesanku, Ay?” gumamku lirih sambil menatap layar ponsel yang tetap kosong.
Pagi tadi aku mengirim pesan sederhana:
Selamat pagi, Ay. Di sini mendung. Kamu bagaimana?
Tapi seperti biasa, tak ada balasan. Dan ini bukan pertama kali. Aku yang lebih dulu mengirim, aku yang menunggu, aku yang menebak-nebak—apakah kamu sengaja menjauh, atau sekadar terlalu sibuk?
Atau…
Apakah kamu sedang belajar melupakanku perlahan? tanyaku pada diri sendiri.
Malam-malam di sini sering kulewati dengan doa. Dalam sepertiga yang sepi, aku menyebut namamu—tanpa suara, hanya lewat getar dada dan kalimat yang kupaksakan lirih:
“Ya Allah… jika dia memang untukku, jaga hatinya. Tapi jika bukan, redakanlah rasa ini—walau perlahan.”
Tapi pagi harinya, aku tetap saja mencarimu.
. . .
Malam itu, aku membuka laptop. Folder rahasia yang kusembunyikan di antara tugas-tugas kuliah: spring_folder.
Isinya: puisi-puisiku. Semuanya—tanpa terkecuali—tentangmu.
Aku klik salah satu file:
Kau yang kuharap di setiap sudut waktu,
Mengapa hadirmu tak pernah menjadi nyata?
Bahkan sapamu terasa seperti milik lalu,
Aku diam di Makassar… dan kau diam di hatiku.
Aku terdiam lama, sebelum menutup laptop pelan. Lalu melangkah ke balkon. Angin kembali menerpa wajahku, membawa aroma laut yang asin—jauh berbeda dengan harum tubuhmu yang begitu lembut dalam ingatanku.
Kupeluk tubuh sendiri yang dingin. Kuambil ponsel.
Kutekan nomormu.
Tapi tak jadi kutelpon.
Kutatap saja namamu. Hening. Hanya namamu dan aku, dalam ruang tunggu yang sunyi.
Sampai tiba-tiba, ada notifikasi masuk.
Dari grup FLP Cianjur.
Grup FLP Cianjur
Pesan dari satu nama: Ayla Nurul Haifa.
Jika kutahu rindu seberat ini,
Takkan kutanya kenapa kamu tak kunjung kembali.
Tapi karena cinta tak mengenal logika,
Maka kusebut namamu… dalam tiap sujud yang lama.
Aku membacanya berulang kali.
Namamu, puisimu…
Apakah ini… untukku?
Jari-jariku gemetar. Ingin bertanya, ingin mengirim pesan:
Ayla, itu puisi untuk siapa?
Tapi aku tahan.
Kupandangi langit malam Makassar yang mulai kelam.
Lalu kutulis dalam buku catatan pribadiku:
Angin Makassar pun mampu menenggelamkanku dalam rindu yang tak bisa kutenangkan—padamu.
. . .
Beberapa hari kemudian, seorang mahasiswi lokal menyapaku di kelas.
“Kak… Ardi, ya?”
Aku menoleh.
Wajah ramah, mata penuh rasa ingin tahu.
“Iya. Saya.”
“Saya baca puisi Kakak di papan diskusi. Indah banget.”
Aku hanya tersenyum.
“Terima kasih.”
Namanya Yuliana. Aktivis seni kampus, penyuka puisi, dan teman makan siang di beberapa kesempatan. Kami berdiskusi tentang sastra, musik, kadang politik. Tapi tak ada satu pun yang bisa menggeser bayangan Ayla dari dalam benakku.
Suatu hari, Yuliana bertanya:
“Semua puisimu… tentang seseorang, ya?”
Aku tak ragu menjawab:
“Iya. Seseorang yang belum bisa kutemui lagi.”
“Dia… menunggu kamu?”
Aku terdiam. Lalu menjawab pelan:
“Entah… Mungkin aku yang masih menunggu. Mungkin aku hanya menunggu harapan.”
. . .
Hari-hari di Makassar terus berjalan. Satu per satu kegiatan selesai. Tapi tidak dengan rindu—ia justru makin tumbuh.
Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, aku membuka galeri. Foto terakhir kita: kamu berdiri di bawah payung merah muda, tersenyum. Senyum yang tak lagi bisa kulihat secara nyata, tapi terus menempel di kepalaku.
Aku ingin kembali ke waktu itu. Tapi waktu, seperti biasa, tak pernah bersedia diajak pulang.
Lanjut Bagian V ==> Bolehkah Aku Mengenangmu?