Kilas Balik: Langit Biru di Cianjur
Langit pagi itu cerah sekali. Awan-awan tipis menggantung manis di atas Kota Cianjur. Masjid Agung di kejauhan tampak megah nan indah seolah menyambut seseorang yang baru saja menginjakkan kaki di kota ini.
“Aku suka langit pagi ini,” katanya, tersenyum kecil.
Aku berdiri di sampingnya. Tak banyak kata keluar dari mulutku—hanya anggukan pelan.
Dia mengenakan baju berwarna violet, seperti yang sering ia ceritakan sebagai warna kesukaannya.
Gaya berpakaiannya sederhana. Wajahnya tanpa banyak polesan. Tapi entah kenapa… justru dari situlah aku melihat keindahan yang tenang.
Kejujuran yang diam-diam menumbuhkan harapan.
“Kamu kelihatan lebih tenang daripada yang aku bayangkan,” ujarku akhirnya, memecah hening.
Dia tertawa pelan.
“Kalau kamu… kelihatan lebih gugup dari yang aku duga.”
Kami tertawa bersama. Untuk sesaat, dunia terasa memberi izin—untuk menikmati waktu tanpa bayang-bayang lalu, tanpa ketakutan akan nanti.
Kami berjalan menyusuri taman kota, membeli roti cokelat, duduk berdua di bangku semen. Kami bicara tentang mimpi, tentang keluarga, tentang buku, tentang puisi-puisi kami.
“Kalau suatu hari kita tidak bersama… Kamu masih mau menulis puisi untukku?”
Pertanyaannya menggantung di udara.
Angin menyusup di sela-sela diam kami, membawa aroma berbagai jenis makanan dari para pedagang tak jauh dari sana.
Aku menarik napas. Lalu menjawab:
“Kalau aku tidak bisa memilikimu… aku akan tetap menulis untukmu.”
“Sebab menulislah caraku mencintaimu tanpa menyakitimu.”
Dia menatapku. Kali ini lebih dalam. Matanya tak sekadar tersenyum. Ada getar, ada pesan yang tak diucap.
“Aku ingin kamu jadi yang terakhir,” katanya pelan.
Aku menunduk. Karena dalam hati kecilku, aku tahu:
Mungkin aku tak bisa jadi yang terakhir.
Masih banyak hal yang belum selesai dalam hidupku.
Masih banyak keterbatasan dalam diriku.
Masih ada jalan panjang yang harus dilewati.
. . .
Kami berpisah sore itu di bawah langit senja.
Tak ada lambaian. Tak ada janji. Tapi sejak hari itu, doaku berubah.
Dari:
“Ya Allah, jadikanlah dia milikku,”
Menjadi:
“Ya Allah, bahagiakanlah dia… meski bukan bersamaku.”
Beberapa orang memang ditakdirkan bertemu, tapi tidak untuk bersama. Tapi siapa pun yang hadir dalam doa… tak pernah benar-benar pergi.
Lanjut Bagian X ==> Pertemuan Terakhir