*

Pertemuan Terakhir

Posted by Endang Muhammad Ramdan on January 8, 2026 in Novel |

Hujan turun dengan tenang sore itu. Tidak deras, hanya gerimis yang cukup membuatku mengancing jaket dan menggenggam payung lebih erat. Waktu hampir pukul lima sore. Dan aku, sudah menunggunya—di tempat yang dulu pernah jadi saksi kami: bangku taman kecil di samping perpustakaan kota.
Sudah lama kami tidak bertemu. Sudah berapa bulan? Aku bahkan tidak yakin dia akan datang. Tapi dia datang.
Masih dengan langkah yang sama.
Masih dengan senyum yang sederhana.
Masih dengan tatapan yang membuatku ingin menetap—meski aku tahu tak pernah ada rumah untukku di sana.
“Maaf, aku terlambat,” katanya sambil duduk di sampingku. Suaranya masih lembut.
Aku menggeleng pelan.
“Nggak apa-apa. Yang penting kamu datang.”
Dia tersenyum. Tapi aku tahu, senyum itu tidak seperti dulu. Ada sesuatu yang belum dia katakan. Dan aku… entah kenapa… bisa merasakannya.
“Aku… akhir-akhir ini banyak pikiran,” ujarnya setelah beberapa saat hening.

“Kayaknya keluarga mulai serius mau kenalin aku sama seseorang.”

Dunia tiba-tiba mengecil.
“Oh…”
Itu saja yang sanggup kuucapkan.
“Aku belum bilang ‘iya’, kok,” katanya cepat. “Tapi… aku juga belum bisa bilang ‘tidak’.”
Aku menunduk. Menggenggam tangan sendiri.
Menahan dada yang terasa makin sesak.
“Kalau kamu bilang ‘tidak’… apa itu karena aku?” tanyaku akhirnya.
Dia menatapku. Dalam. Tapi mata itu seperti tak ingin terlalu jujur.
“Aku… bingung,” bisiknya.
“Kamu baik. Tapi kamu juga… terlalu diam.”
Aku terdiam. Kata-kata itu menamparku dengan lembut.
Menyadarkan bahwa rasa, tanpa keberanian, hanya akan jadi kenangan.
“Terima kasih…” ucapku pelan.
“…karena sudah mau menemuiku.”
Dia tersenyum. Kali ini sedikit mengendurkan hatiku.

“Kamu akan selalu jadi bagian dari puisi-puisiku.”

“Dan kamu akan selalu jadi bagian dari doaku,” jawabku.
Hujan makin merintik. Gerimis yang jatuh ke daun flamboyan di atas kepala kami seolah menangisi sesuatu yang tak ingin kami ucapkan.
“Kalau ini terakhir kali kita ketemu… kamu akan baik-baik saja?” tanyanya.
Aku menatapnya.
“Aku akan baik. Tapi tidak segera.”
Dia bangkit. Payungnya terbuka—merah muda, seperti biasa. Dia melangkah pelan, meninggalkan jejak basah di jalan taman.
Dan aku hanya bisa memandangi punggungnya yang perlahan menghilang.
Aku tidak mengejarnya.
Karena aku tahu: Jika cinta tak cukup untuk membuat kita tetap bersama, maka melepaskannya adalah bentuk tertulus dari menyayanginya.

“Kadang yang paling menyakitkan dari cinta… adalah ketika kita terlalu lambat untuk bersuara.
Dan yang kita cintai… akhirnya memilih pergi, bukan karena tak cinta, tapi karena kita terlalu diam.”

Lanjut Bagian XI ==> Setelah Segalanya

Tags: ,

Copyright © 2023-2026 Cerita Tersurat dari Kisah yang Tersirat All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.5, from BuyNowShop.com.