*

Sebelum Sinarku Padam

Posted by Endang Muhammad Ramdan on January 8, 2026 in Novel |

Pukul 01.32 dini hari.
Sudah hampir dua jam aku hanya terbaring—mata terbuka, pikiran berlarian ke mana-mana. Dinding kamar terasa lebih tipis dari biasanya, seolah suara sunyi bisa menembus masuk dan menumpuk di dadaku. Lampu belajar redup, tapi bukan tugas atau skripsi yang kupikirkan.
Melainkan kamu.
Lagi-lagi kamu.
“Sampai kapan aku begini?” gumamku sendiri.
Aku bangkit, membuka jendela kamar. Angin dingin malam menyapa wajahku, membawa sisa aroma hujan. Jauh di luar sana, sesekali suara motor memecah kesepian. Tapi batinku jauh lebih riuh dari jalanan kota.
Aku teringat pesan terakhirku padamu:
“Kalau bukan aku, tak apa. Asal kau bahagia.”
Tak ada balasan. Tidak malam itu. Tidak besoknya. Tidak sampai sekarang.
Kutatap layar ponsel, lalu menulis di notes:

Tidak ada mata terpejam
Kala malam-malam
Rinduku semakin tenggelam
Kepada insan tamam.
Kurangkai kalam
Di atas layar kapal yang hampir karam
Dengan sisa tinta pada ujung qalam.
Sabda-sabda cinta yang tenggelam di samudera hati terdalam
Tumbuhkan pohon asmara berbuah masam.
Apakah meraih kesetiaan qalbu
Bagiku adalah haram?
Saat remuk-berserak
Segala tekad suci dan azam.
Kala putih bersih sinar kasih
Terhapus oleh warna hitam, kelam.
Adalah aku—
Penyelam lautan air mata gadis, yang muram.
Dalam tangis sendu
Atas lukanya yang terlampau dalam,
Lalu kesetiaanku dibayar
Dengan panah yang menghujam.
Tepat mengenai jantungku,
Berdarah lagi, lebam.
Bagaimana darah ini harus kuredam?!
Tiada satu pun kan paham?!
Kerikil-kerikil menerjang,
Merajam.
Aku melirih dalam gumam
Berikan aku cinta segenggam…
Aku akan bahagia
Sesaat sebelum sinarku padam.
Lalu jasadku tenggelam,
Dan namaku di lisan orang-orang,
Redam.
Kasih, setialah engkau
Walau aku mulai terdiam.
Datanglah segera
Selagi sang aku belum terbenam.
Bawakan air keabadian
Bernama cinta padaku,
Sebelum mataku benar-benar terpejam—
Agar aku akan abadi mencintaimu,
Di hatimu kau cintai,
Sepanjang siang dan malam…

Aku berhenti. Menunduk. Mengusap wajah yang mulai basah. Air mata itu selalu datang di waktu yang sama—setiap aku mencoba melupakanmu.
. . .
Beberapa minggu berlalu.
Hidup berjalan. Tapi rindu tetap tinggal. Lalu, kabar itu datang. Bukan dari kamu, tapi dari seseorang yang tak sengaja melihatnya.
“Dia benar-benar menikah, ya?”
“Iya. Hasan namanya. Teman satu komunitas.” Katanya, “Dia orangnya ramah, alim juga.”
“Ayla bahagia, kayaknya.”
“Kayaknya…”
Kata “kayaknya” itu menamparku lebih dari kabar pernikahannya sendiri. Karena bahkan saat kau bahagia pun, aku tak tahu apakah aku harus ikut senang… atau patah dalam diam.
Hari itu, seharusnya aku bisa datang ke akadnya. Sebagai tamu. Tapi aku memilih pergi jauh. Menumpang kereta malam menuju kota yang tak ada dia.
Di dalam gerbong, suara rel seperti denyut luka.
Di sana, aku menulis surat terakhir untuknya.
Surat itu kukirim ke emailnya.
Entah akan dia baca atau tidak.
Aku hanya ingin dia tahu—aku pernah ada. Dan pernah begitu mencintai dan merindukannya.
Dan malam itu, di kamar sepi penginapan kecil, aku berdoa dalam diam:

“Ya Allah… bahagiakanlah dia, walau bukan denganku. Jangan biarkan cinta ini membuatku kufur pada takdir-Mu. Biarlah aku padam dalam sunyi, asal dia bersinar bahagia bersama seseorang yang menjadi kekasihnya kini.”

Lanjut Bagian VII ==> Dari Hati Yang Tak Kaupilih

Tags: ,

Copyright © 2023-2026 Cerita Tersurat dari Kisah yang Tersirat All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.5, from BuyNowShop.com.