Dari Hati Yang Tak Kaupilih (Perspektif Sang Gadis)
Aku tak pernah benar-benar tahu, sejak kapan rindu itu mulai tumbuh. Mungkin sejak hari itu—saat ia menyebut namaku dalam diamnya.
Atau saat tatapan matanya selalu menghindar setiap kali aku mencoba menatap lebih lama.
Atau… sejak aku sadar, ia tak akan datang. Tapi aku tetap menunggunya.
“Ay, dia datang nggak?”
Pertanyaan itu muncul dari Dila, sahabatku, di malam sebelum hari pernikahanku.
Aku hanya tersenyum samar. Tak ada yang tahu, di antara puluhan nama tamu undangan, aku masih diam-diam menanti satu nama.
“Kayaknya enggak.”
“Kamu masih berharap dia datang?”
Aku menarik napas panjang.
“Bukan berharap… aku cuma ingin tahu apakah dia baik-baik saja.”
“Atau… apakah dia masih ingat aku.”
. . .
Dulu… saat aku membaca puisi-puisinya, aku menangis diam-diam. Aku tahu itu untukku. Tapi aku pura-pura tak tahu. Karena aku takut terlalu yakin.
Takut berharap.
Dia mencinta dengan jujur, sementara aku terlalu sibuk menyembunyikan luka yang belum sembuh.
Dia terlalu setia menyimpan rasa, sementara aku… terlalu ragu menyambutnya.
Padahal aku juga menyebut namanya dalam sujud panjangku.
Aku juga pernah berharap, bahwa akhirnya… kami akan bertemu di satu tujuan.
Tapi waktu tak pernah berpihak.
Dan aku…
Kalah oleh keadaan.
Kalah oleh diamku sendiri.
Kalah oleh keberanian yang tak pernah sempat tumbuh.
“Aku nikah, bukan karena aku nggak cinta kamu, Ardi”
ucapku dalam hati, saat tangan seorang lelaki menyentuh keningku di akad.
“Tapi karena kamu tak kunjung datang… sementara waktu tak mau menunggu. Maaf…”
. . .
Beberapa hari setelah resepsi, entah kenapa aku ingin membuka emailku. Dan, benar saja, aku menemukan email dari alamat yang sudah lama tak mengirim apa-apa.
Kusentuh perlahan. Kubaca dengan gemetar.
Hai…
Maaf jika diamku terlalu lama. Tapi bukan karena aku lelah. Bukan karena aku lupa.
Aku hanya takut—takut harapanku akan menyakitimu.
Kau tahu? Sering aku bertanya dalam doa:
“Apakah aku salah mengenalmu? Salah mencintaimu?”
Tapi Tuhan hanya menjawab dengan sunyi… dan mimpi-mimpi yang selalu tentangmu.
Mungkin, rindu ini memang bukan untuk kujemput. Hanya untuk kukenang.
Dan jika nanti aku benar-benar tiada, dan kau membaca ini, ketahuilah…
Aku akan bahagia, melihatmu bahagia.
Sesaat sebelum sinarku padam.
Salam, dari seseorang yang pernah mencintaimu seutuhnya, tanpa pernah benar-benar bisa memilikimu selamanya.
Air mataku jatuh. Suamiku sudah tertidur di sampingku.
Aku tak sanggup membangunkannya—atau menjelaskan apa yang kurasakan. Karena ini… luka yang tak bisa dibagi.
Di depan cermin kamar, aku berbicara pelan. Kepada diriku sendiri.
“Kalau kamu mendengar doaku malam ini… Ketahuilah, aku tak pernah benar-benar berhenti menyayangimu.”
“Namun, cinta saja tidak cukup, bukan? Harus ada waktu dan keberanian. Dan kita tak punya keduanya.”
“Maaf… karena aku membuatmu menunggu, hanya untuk akhirnya aku pergi. Maaf… karena aku tak cukup kuat untuk memilihmu. Tapi aku juga… tak cukup kuat untuk melupakanmu.”
Pagi itu, sebelum berangkat ke tempat baru bersama suami, aku menulis catatan kecil. Bukan untuk dikirim. Hanya untuk diriku sendiri:
Jika aku diberi satu kesempatan untuk mengulang waktu,
Aku akan menyebut namamu di depan mereka semua.
Aku akan memilihmu, meski harus menunggu lebih lama.
Namun sekarang, Biarlah cinta ini hidup dalam doa.
Dan aku akan terus menyebutmu…
Sampai Allah menghapus perasaanku,
Atau menjemputku ke surga-Nya.
Lanjut Bagian VIII ==> Terlambat