Terlambat
Aku berdiri di depan sebuah masjid kecil, sendirian. Langit Kebumen muram. Hujan belum turun, tapi menggantung berat.
Aku membaca namamu di undangan itu—berulang kali. Namamu, berdampingan dengan lelaki lain. Bukan aku.
Aku terlambat. Terlalu lama menggenggam mimpi. Terlalu takut memeluk kenyataan.
“Kenapa aku nggak datang waktu itu?” tanyaku sendiri.
Karena aku pikir, aku masih punya waktu. Masih bisa mengejarmu. Masih bisa menjadi lebih baik.
Masih bisa memperjuangkanmu… dengan cara paling halal dan paling mulia.
Tapi waktu ternyata terlalu cepat. Dan keberanian datang terlambat.
Aku tak pernah berhenti menulis untukmu. Setiap malam, dalam gelap dan sunyi. Sajak-sajak itu tak pernah kukirim. Karena aku ingin, jika suatu hari aku datang padamu, aku akan membacakannya langsung—di hadapanmu. Bukan lewat layar, bukan lewat huruf-huruf hening.
Tapi sekarang…
Bahkan napas pun tak cukup untuk menyampaikan rindu ini padamu. Karena kamu telah memilih jalan, dan aku tetap menjadi lelaki yang mencintai… dalam diam.
. . .
Aku berjalan menuju pantai. Tempat kita pernah duduk—meski tak berdampingan. Hanya saling menatap dari balik payung merah muda dan gigil hujan.
Kau masih mengingatnya? Aku… terlalu sering mengenangnya. Aku menatap langit. Awan seperti memeluk bumi, burung-burung pulang ke sarang. Sementara aku masih tersesat—tak tahu arah pulang.
Lalu aku bicara dalam hati:
“Wahai kamu, yang kusebut dalam sujud terakhirku semalam… Aku mencintaimu bukan untuk kumiliki.”
“Aku mencintaimu… untuk kusampaikan kepada Tuhan. Agar jika bukan di dunia, mungkin kita bertemu di surga. Dan jika tak di surga, setidaknya Allah tahu: aku mencintaimu dengan sebenar-benarnya.”
Dari saku jaket, kupetik satu surat yang belum sempat kukirim.
Kepadamu,
Aku tak datang membawa bunga atau cincin.
Tapi aku datang membawa diriku—dengan semua luka yang kujahit sendiri.
Aku datang bukan untuk menagih rasa, tapi untuk menyampaikan bahwa aku pernah memilihmu…
Meski dunia tak mengizinkan kita bersatu.
Kini aku tahu: yang abadi bukanlah pernikahan,
Bukan pula pertemuan.
Yang abadi adalah kerinduan—yang bahkan waktu pun tak bisa membunuhnya.
Aku meletakkan surat itu di pasir. Kupandangi langit sekali lagi.
“Jika ada satu tempat yang paling ingin aku datangi setelah mati…” bisikku.
“Bukan surga…”
“Tapi tempat di mana aku bisa melihatmu tersenyum padaku untuk pertama kalinya…”
“…dan menyebut namaku, untuk terakhir kalinya.”
Hujan turun.
Payung merah muda itu tak ada lagi.
Tak ada tanganmu.
Tak ada tatapanmu.
Hanya aku.
Sendiri.
Dengan cinta… yang tertinggal.
Dan sebelum aku datang padamu, dulu, aku telah memutuskan:
“Tak akan ada yang lebih kucintai, selain dari caraku mencintaimu.”
Lanjut Bagian IX ==> Kilas Balik: Langit Biru di Cianjur