*

Setelah Segalanya

Posted by Endang Muhammad Ramdan on January 8, 2026 in Novel |

Sudah bertahun sejak pertemuan terakhir itu.
Sejak payung merah muda itu menghilang dari pandanganku, bersama langkah-langkah yang tak pernah kembali.
Waktu katanya bisa menyembuhkan. Tapi menurutku, waktu hanya pandai membuat kita terbiasa. Bukan sembuh—hanya tahu bagaimana caranya melanjutkan hidup dengan luka yang tetap tinggal di sana.
Aku tetap hidup seperti biasa. Bangun pagi, menyeduh kopi, membuka jendela, menatap langit yang entah ke mana arahnya. Aku bekerja, tersenyum saat perlu, menjawab bila ditanya.
Tapi ada hari-hari ketika hujan turun diam-diam,
dan aku mendadak diam lebih lama dari biasanya. Ada hari-hari ketika aku masih memikirkannya.
Bukan karena aku belum move on. Tapi karena dia pernah tumbuh di hatiku begitu dalam.
. . .
Di suatu sore yang biasa, aku menemukan buku catatan lama.

Isinya: puisi-puisi, potongan doa, percakapan yang tak pernah dikirim, dan selembar surat yang tidak pernah kubaca ulang sejak dulu.

Kukembalikan buku itu ke rak. Tak ingin membuka luka, tapi juga tak ingin melupakan bahwa aku pernah merasa sedalam itu. Aku hanya tersenyum tipis—bukan karena bahagia, tapi karena… sudah menerima.
Kini, aku masih menuliskan namanya. Tidak sesering dulu, tapi sesekali, saat senja memanggil dan hujan mulai turun seperti dulu—aku menyebut namanya dalam bait yang tenang.
Aku masih berdoa untuknya. Bukan lagi dengan gemetar, bukan lagi dengan tangis. Tapi dengan ikhlas yang perlahan kupelajari. Semoga bahagianya tak berkurang. Semoga cintanya tumbuh subur—di tangan yang kini menggenggamnya.
Sementara aku? Aku tetap berjalan. Bukan karena sudah sembuh, tapi karena sudah bisa berdamai.
Aku masih percaya: Cinta tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti bentuk. Kadang menjadi doa. Kadang menjadi kekuatan untuk tersenyum. Kadang menjadi kenangan yang diam-diam kita simpan rapi… di laci paling sunyi dalam hati. Cinta sejati tak selalu datang dengan kata “bersama”. Terkadang, cinta sejati hanya butuh satu hal: Kesediaan untuk melepas—tanpa dendam, tanpa amarah, hanya dengan kasih yang paling tulus.

Lanjut Bagian Akhir ==> Monolog

Tags: ,

Copyright © 2023-2026 Cerita Tersurat dari Kisah yang Tersirat All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.5, from BuyNowShop.com.