Bolehkah Aku Mengenangmu?
Hujan turun di hari Minggu. Deras. Tapi tak sedingin kesunyian yang datang dari arahmu.
Aku duduk di dekat jendela kamar, memandangi gerimis yang menari di kaca. Cangkir kopi luwak yang kupersiapkan pagi tadi kini sudah dingin. Di luar, daun-daun bergoyang dalam irama rintik. Dan dinding kamar ini… masih menyimpan gema suaramu—yang sudah lama tak kudengar.
Hari ini hari Minggu. Dulu, biasanya aku menemuimu. Kita berjalan melewati gang kecil menuju taman, duduk di bangku tua di bawah pohon flamboyan. Kau akan tertawa karena aku selalu lupa membawa payung.
Aku tersenyum sendiri. Mengingatnya terasa manis dan menyakitkan dalam waktu bersamaan.
Lalu kutulis bait itu:
Bolehkah aku…
Pada November ini mengingatmu,
Kala Minggu pagi berlangit biru…
Puisi itu kutulis semalam. Untukmu. Tapi aku ragu mengirimkannya.
Ponselku diam. Tidak ada notifikasi. Tidak ada namamu muncul. Sudah lama tidak ada. Tapi tak ada yang bisa menghentikan kepalaku dari memutar ulang kenangan tentangmu.
Kugulir folder foto di ponsel. Satu demi satu, momen bersamamu muncul lagi. Kau dengan rambutmu yang terurai, mengenakan jaket ungu favoritmu, tertawa kecil karena aku menggigit roti cokelat buatanmu terlalu besar. Waktu itu kau menyodorkannya dengan malu-malu.
“Kamu suka?”
“Aku suka kamu,” jawabku waktu itu, separuh bercanda, separuh serius.
Kuketik lagi di notes:
Bolehkah aku…
Merasakan kembali roti cokelat pemberianmu,
Dengan rasa kasih dan ketulusan yang dulu kau sisipkan diam-diam?
Kututup galeri, menghela napas, lalu bangkit menuju meja kerja. Di sana, tergeletak buku bersampul coklat tua—buku puisimu. Hadiah ulang tahunku tahun lalu.
Kubuka halaman tengahnya.
Untukmu,
Yang tak pernah kutemui tanpa rindu.
Tanganku gemetar. Ingin sekali menghubungimu. Tapi keinginan itu seperti api yang diarahkan ke kertas basah. Takkan menyala. Takkan kau jawab. Atau… mungkin tak akan kau baca.
Tetap saja, kutulis pesan pendek itu:
Hai… Bolehkah aku… sekadar mengenangmu hari ini?
Kukirim.
Tak ada balasan.
. . .
Beberapa jam kemudian, layar HP menyala. Tapi bukan darimu.
Dari seorang teman:
“Bro, si Ayla udah tunangan ya? Aku lihat dia bareng cowok itu kemarin sore. Katanya keluarganya udah sepakat.”
Dunia terasa runtuh. Seketika.
Aku menatap pesan itu. Hening. Bahkan hujan pun seakan berhenti. Lalu seperti palu menghantam dada, aku merasa… hancur.
Kutulis di buku catatan harianku malam itu:
Bolehkah aku…
Meneteskan kembali air mata di pipiku,
Sebab bahagia mencintaimu,
Dan sebab luka kepergianmu?
Bolehkah aku…
Terpuruk di malam-malam tanpamu,
Terjaga oleh rindu yang menggebu,
Dan oleh diam yang kau beri padaku?
Keesokan harinya, aku duduk di taman kota. Sendiri.
Kusobek sunyi dengan membuka catatan terakhir darimu: selembar kertas kecil yang dulu kau selipkan diam-diam ke dalam bukuku.
Tulisan tanganmu lembut:
Kalau nanti kamu tak mendapatiku di tempat biasa,
Bukan berarti aku tak cinta.
Mungkin aku hanya sedang kalah oleh takdir,
Yang terlalu sulit untuk kita lawan bersama…
Aku terdiam. Lama.
Dan malam itu, di sepertiga malam yang lengang, aku kembali bersujud, doaku malam itu:
“Ya Allah… jika dia bukan untukku, jangan biarkan aku mendustai takdirmu dengan terus memaksakan rasa ini.”
“Tapi jika masih ada kemungkinan… kuatkan aku menjaga cinta ini, tanpa membuat hatiku binasa.”
Lalu kutulis puisi terakhir malam itu:
Bolehkah aku…
Membaca lagi puisi darimu,
Sebagai petanda bahwa hati kita menyatu saat itu—
Sekeping hatiku terutuhkan oleh keping hatimu.
Bolehkah aku…
Menikmati lagi kisah tentang doa-doamu,
Di sepertiga malam yang tak pernah berlalu
Tanpa sujud dan ruku’ pada Rabbmu?
Bolehkah aku…
Percaya lagi bahwa aku adalah jawaban doa-doamu itu,
Pengurai ikatan jarak kau dan karibmu,
Pelerai sengketa tiga hati yang beradu?
Bolehkah aku…
Membuka album kenangan masa-masa indah itu,
Di bawah hujan yang menggigilkan tubuhku,
Di bawah derai yang membasahi baju?
Bolehkah aku…
Melukiskan lagi keindahan itu:
Air yang terjun bebas dan mengenai punggungmu,
Begitu deras terlempar ke atas kepalaku.
Bolehkah aku…
Mencicipi hidanganmu—
Duduk makan berdua di atas batu,
Seraya sesekali menikmati panorama sang banyu,
Dan gelak tawamu saat aku berlaga sok lucu?
Bolehkah aku…
Mendengar lagi petikan gitarmu,
Suara anak kecil dari nyanyianmu,
Duduk bersama mencipta sebuah lagu?
Bolehkah aku…
Membayangkan tingkahmu,
Bergelayut di atas pintu,
Mematahkan cincin di jarimu?
Bolehkah aku…
Melilitkan syal pemberian darimu—
Mengingatkan pada sosok yang selalu kau rindu, katamu,
Yang terbaring di tanah semenjak bertahun-tahun lalu?
Bolehkah aku…
Menulis sajak-sajak cinta dari namamu,
Syair-syair romantis tentangmu,
Atau puisi-puisi indah untukmu?
Bolehkah aku…
Terpuruk di malam-malam tanpamu,
Terjaga sebab rindu-kangen menggebu,
Dan oleh abaian darimu?
Bolehkah aku…
Tak kudapati cinta selain cintamu—
Mengecup sajadah di sepertiga malamku,
Tersungkur di atas shalat malam dan tahajud bersamamu?
Bolehkah aku…
Bolehkah aku…
Menyayangimu tanpa harus memilikimu?
Lanjut Bagian VI ==> Sebelum Sinarku Padam