*

Angin Makassar dan Namamu

Posted by Endang Muhammad Ramdan on January 8, 2026 in Novel |

Makassar,
Angin sore dari arah laut menderu lewat balkon kamar penginapan kecilku. Di kejauhan, langit perlahan berubah dari jingga menjadi kelabu. Ombak menggulung di Pantai Losari, memecah di batu-batu karang seperti hatiku yang terhempas gelombang rindu—yang tak bisa kucegah, tak bisa kusampaikan.
Sudah tiga minggu aku di sini. Mengikuti program pertukaran mahasiswa—“kesempatan emas” kata orang-orang. Tapi dalam hatiku, yang kurasa bukan emas, melainkan beban. Bukan karena kuliah atau adaptasi budaya. Tapi karena satu hal: jauhnya aku darimu, Ayla.
“Kenapa kamu belum bales pesanku, Ay?” gumamku lirih sambil menatap layar ponsel yang tetap kosong.
Pagi tadi aku mengirim pesan sederhana:
Selamat pagi, Ay. Di sini mendung. Kamu bagaimana?
Tapi seperti biasa, tak ada balasan. Dan ini bukan pertama kali. Aku yang lebih dulu mengirim, aku yang menunggu, aku yang menebak-nebak—apakah kamu sengaja menjauh, atau sekadar terlalu sibuk?
Atau…
Apakah kamu sedang belajar melupakanku perlahan? tanyaku pada diri sendiri.
Malam-malam di sini sering kulewati dengan doa. Dalam sepertiga yang sepi, aku menyebut namamu—tanpa suara, hanya lewat getar dada dan kalimat yang kupaksakan lirih:
“Ya Allah… jika dia memang untukku, jaga hatinya. Tapi jika bukan, redakanlah rasa ini—walau perlahan.”
Tapi pagi harinya, aku tetap saja mencarimu.
. . .
Malam itu, aku membuka laptop. Folder rahasia yang kusembunyikan di antara tugas-tugas kuliah: spring_folder.
Isinya: puisi-puisiku. Semuanya—tanpa terkecuali—tentangmu.
Aku klik salah satu file:

Kau yang kuharap di setiap sudut waktu,
Mengapa hadirmu tak pernah menjadi nyata?
Bahkan sapamu terasa seperti milik lalu,
Aku diam di Makassar… dan kau diam di hatiku.

Aku terdiam lama, sebelum menutup laptop pelan. Lalu melangkah ke balkon. Angin kembali menerpa wajahku, membawa aroma laut yang asin—jauh berbeda dengan harum tubuhmu yang begitu lembut dalam ingatanku.
Kupeluk tubuh sendiri yang dingin. Kuambil ponsel.
Kutekan nomormu.
Tapi tak jadi kutelpon.
Kutatap saja namamu. Hening. Hanya namamu dan aku, dalam ruang tunggu yang sunyi.
Sampai tiba-tiba, ada notifikasi masuk.
Dari grup FLP Cianjur.
Grup FLP Cianjur
Pesan dari satu nama: Ayla Nurul Haifa.

Jika kutahu rindu seberat ini,
Takkan kutanya kenapa kamu tak kunjung kembali.
Tapi karena cinta tak mengenal logika,
Maka kusebut namamu… dalam tiap sujud yang lama.
Aku membacanya berulang kali.

Namamu, puisimu…
Apakah ini… untukku?
Jari-jariku gemetar. Ingin bertanya, ingin mengirim pesan:
Ayla, itu puisi untuk siapa?
Tapi aku tahan.
Kupandangi langit malam Makassar yang mulai kelam.
Lalu kutulis dalam buku catatan pribadiku:
Angin Makassar pun mampu menenggelamkanku dalam rindu yang tak bisa kutenangkan—padamu.
. . .
Beberapa hari kemudian, seorang mahasiswi lokal menyapaku di kelas.
“Kak… Ardi, ya?”
Aku menoleh.
Wajah ramah, mata penuh rasa ingin tahu.
“Iya. Saya.”
“Saya baca puisi Kakak di papan diskusi. Indah banget.”
Aku hanya tersenyum.
“Terima kasih.”
Namanya Yuliana. Aktivis seni kampus, penyuka puisi, dan teman makan siang di beberapa kesempatan. Kami berdiskusi tentang sastra, musik, kadang politik. Tapi tak ada satu pun yang bisa menggeser bayangan Ayla dari dalam benakku.
Suatu hari, Yuliana bertanya:
“Semua puisimu… tentang seseorang, ya?”
Aku tak ragu menjawab:
“Iya. Seseorang yang belum bisa kutemui lagi.”
“Dia… menunggu kamu?”
Aku terdiam. Lalu menjawab pelan:
“Entah… Mungkin aku yang masih menunggu. Mungkin aku hanya menunggu harapan.”
. . .
Hari-hari di Makassar terus berjalan. Satu per satu kegiatan selesai. Tapi tidak dengan rindu—ia justru makin tumbuh.
Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, aku membuka galeri. Foto terakhir kita: kamu berdiri di bawah payung merah muda, tersenyum. Senyum yang tak lagi bisa kulihat secara nyata, tapi terus menempel di kepalaku.
Aku ingin kembali ke waktu itu. Tapi waktu, seperti biasa, tak pernah bersedia diajak pulang.

Lanjut Bagian V ==> Bolehkah Aku Mengenangmu?

Tags: , ,

Copyright © 2023-2026 Cerita Tersurat dari Kisah yang Tersirat All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.5, from BuyNowShop.com.