Red String

Hembusan Angin Berbicara

Look, I’m proud of the imagery I’m presenting and the tone that speaks out… But I’ll say that it’s a tad bit dramatic. Of course, I wrote this in high school (as always), so you can see where the dramatization comes from (because I barely knew shit about poems that day. Well, not like I’m suddenly an expert now, anyway). Come to think of it, I could’ve done more with the first stanza because it seemed too… General and simple. Also, the feature of red string is here too!

 

Hembusan Angin Berbicara

Hembusan angin mengirim pesan untukmu

Ia terbang menghampirimu

Berlomba di antara para burung

Berdansa ria mendekatimu

Datanglah ia hendak menerpa wajahmu

 

Tetapi kamu hantu

Hembusan angin tembus melaluimu

Walaupun kamu mencoba mencari keberadaanku

 

Karena aku hanya semilir hembusan angin…

Terbang mengejar waktu

 

Kami sering bertabrakan di antara jiwa raga lain yang sibuk

Bagaikan ada benang merah yang menyatukan

Namun apakah kamu betul kiriman dari Tuhan?

Kamu saja membuatku bingung mabuk

 

Karena aku hanya semilir hembusan angin

Bepergian kesana kemari demi melewatimu

Tetapi saying kamu tak mampu menyaksikan sosok diriku

Walaupun aku di sana, tidak tahu lagi harus bagaimana…

 

Hembusan angin berbicara.

Leave a comment

Benang Merah

I don’t know why I always have this weird fascination with red strings whenever I would talk about love. Yes, the myth is famous itself, but I would find myself putting benang merah or red string into most of my “love” poems. In this case, this poem is the first to feature “red string” itself.

 

BENANG MERAH

Kapan kami bisa bertemu di tengah benang merah yang menyatukan kami jadi satu?

Atau apakah aku tersesat di ujung benang merah dari kisah kami yang menemukanku ke jalan buntu?

 

Doa yang aku siasati,

Yang lama terpendam dan tersembunyi dalam lubuk hati,

Merayap keluar dari tempatnya berdiam diri…

Tertutupi.

 

Doa itu menyebut namamu

Saking lamanya menunggu sampai dunia menuntutku untuk menyerah

Namun aku tak pernah berhenti berharap akan awal kisah kami yang berawal dari seuntai benang merah

 

Leave a comment

Red String

This is what comes up during a boring class… Or no-class since the teacher isn’t there. I don’t remember much about how this poem came to be, yet all I know is that the words seem to flow out on their own. So, despite the very noticeable short length of this one-stanza verse, it came out decently.

 

RED STRING

Red string

Left me sting

Around my skin

Couldn’t feel a thing

Blood spills thin

My head spins

The devil wins

No more sins

Originally written in April 20, 2024

Leave a comment