Indonesian

Hembusan Angin Berbicara

Look, I’m proud of the imagery I’m presenting and the tone that speaks out… But I’ll say that it’s a tad bit dramatic. Of course, I wrote this in high school (as always), so you can see where the dramatization comes from (because I barely knew shit about poems that day. Well, not like I’m suddenly an expert now, anyway). Come to think of it, I could’ve done more with the first stanza because it seemed too… General and simple. Also, the feature of red string is here too!

 

Hembusan Angin Berbicara

Hembusan angin mengirim pesan untukmu

Ia terbang menghampirimu

Berlomba di antara para burung

Berdansa ria mendekatimu

Datanglah ia hendak menerpa wajahmu

 

Tetapi kamu hantu

Hembusan angin tembus melaluimu

Walaupun kamu mencoba mencari keberadaanku

 

Karena aku hanya semilir hembusan angin…

Terbang mengejar waktu

 

Kami sering bertabrakan di antara jiwa raga lain yang sibuk

Bagaikan ada benang merah yang menyatukan

Namun apakah kamu betul kiriman dari Tuhan?

Kamu saja membuatku bingung mabuk

 

Karena aku hanya semilir hembusan angin

Bepergian kesana kemari demi melewatimu

Tetapi saying kamu tak mampu menyaksikan sosok diriku

Walaupun aku di sana, tidak tahu lagi harus bagaimana…

 

Hembusan angin berbicara.

Leave a comment

Benang Merah

I don’t know why I always have this weird fascination with red strings whenever I would talk about love. Yes, the myth is famous itself, but I would find myself putting benang merah or red string into most of my “love” poems. In this case, this poem is the first to feature “red string” itself.

 

BENANG MERAH

Kapan kami bisa bertemu di tengah benang merah yang menyatukan kami jadi satu?

Atau apakah aku tersesat di ujung benang merah dari kisah kami yang menemukanku ke jalan buntu?

 

Doa yang aku siasati,

Yang lama terpendam dan tersembunyi dalam lubuk hati,

Merayap keluar dari tempatnya berdiam diri…

Tertutupi.

 

Doa itu menyebut namamu

Saking lamanya menunggu sampai dunia menuntutku untuk menyerah

Namun aku tak pernah berhenti berharap akan awal kisah kami yang berawal dari seuntai benang merah

 

Leave a comment

Lika Liku Luka

I recently wrote this a few months ago because of the fun alliteration, but to say I was proud of the finished product? Not really. I put too many expressions without adding images and visuals, which results in a weak tone, despite the strong adjectives I use in this so-called “poem”. Here goes.

 

Lika-liku luka

Lika-liku

Luka-luka

Hanyut dalam darahmu

Siapa sangka

 

Begitu langka

menyaksikan

Wajahmu yang murka

Tenggelam dalam duka

 

Teka-teki

Membuatku dengki

Hati telah mati

Kalbu terkubur dalam abu

 

Sana. Pergi

Leave a comment

Netra Karamel

Wrote this in high school. I asked my friend to give me 5 random words for me to work into a poem, because I had a bit of writer’s block that week. Safe to say I was kinda proud of it. It’s no revolutionary poem, for sure, it’s not even Sapardi Djoko Damono’s level, even though I strive to be there. At the end of the day, it’s a fun poem to write.

 

NETRA KARAMEL

Matamu memikatku

Di bawah cakrawala aku membeku

Meskipun senja hangat membalur kedua siluet kami bagai madu

 

Kupandang terus engkau dari jauh

Sepasang netramu yang berbau karamel tak kunjung riuh

Justru jatuh terjebak bagai sauh di ujung laut

Bahkan sebuah binar pun tak tertemu

Hanya goresan masa lalu yang tampak dalam sepasang netra karamelmu itu

Leave a comment