I don’t know why I always have this weird fascination with red strings whenever I would talk about love. Yes, the myth is famous itself, but I would find myself putting benang merah or red string into most of my “love” poems. In this case, this poem is the first to feature “red string” itself.
BENANG MERAH
Kapan kami bisa bertemu di tengah benang merah yang menyatukan kami jadi satu?
Atau apakah aku tersesat di ujung benang merah dari kisah kami yang menemukanku ke jalan buntu?
Doa yang aku siasati,
Yang lama terpendam dan tersembunyi dalam lubuk hati,
Merayap keluar dari tempatnya berdiam diri…
Tertutupi.
Doa itu menyebut namamu
Saking lamanya menunggu sampai dunia menuntutku untuk menyerah
Namun aku tak pernah berhenti berharap akan awal kisah kami yang berawal dari seuntai benang merah