Sebuah tulisan dari tahun 2020 yang sedikit saya edit dan tambahkan dengan kondisi saya saat ini. Untuk tulisan asli yang ditulis di tahun 2020 bisa dilihat di Blog Blogspot saya ya, link Blog nya bisa di klik di menu Tentang Saya. Selamat menyimak tulisan yang sudah direvisi dan ditambahkan ini ya!
Halo, namaku Dzikra Yuhasyra, alumni program studi Sarjana Rekayasa Pertanian SITH ITB angkatan 2013 dan sekarang menjadi mahasiswa baru di program studi Magister Ekonomi Pertanian Faperta UNPAD di tahun 2023 ini. Tak terasa saat menulis dan mengedit tulisan ini sudah berselang 10 tahun sejak aku masuk S1, dan 5 tahun sejak aku lulus dari ITB di tahun 2018.
Aku tinggal di kampung kota di wilayah timur Kota Bandung yang sepertinya masuk kawasan peri urban, karena termasuk berada di wilayah antara desa dan kota. Di wilayah tempat tinggalku, di kawasan kampung kota ini, jamak ditemui lahan pertanian, lebih banyak pemukiman padat penduduk, harus sedikit berkendara ke atas ke arah kaki Gunung Manglayang baru lahan pertanian ditemui, itu pun bukan sentra produksi sayuran atau padi yang masif seperti Lembang ataupun kawasan pantura Jawa.
Karena lebih dekat dengan pasar tradisional, lebih banyak masyarakat di kampungku berprofesi menjadi pedagang atau menjadi guru dan pekerja kantoran yang nglaju ke pusat kota, sangat jarang yang berprofesi sebagai petani. Sehingga sedari kecil masalah-masalah yang sering aku temui adalah masalah-masalah urban dan peri urban di kota besar, seperti kemacetan, polusi udara, masalah sanitasi dan pencemaran, kepadatan penduduk, ataupun kesemrawutan pasar tradisional khas perkotaan. Sangat jarang aku menemukan masalah-masalah agrikultur, agribisnis, atau kesejahteraan petani yang mayoritas ada di pedesaan. Seperti yang aku tulis pada tulisan sebelumnya, aku masuk Rekayasa Pertanian SITH ITB karena aku menyukai pelajaran Biologi dan keresahanku melihat berita media tentang bidang pertanian yang terkesan dipinggirkan dan selalu pesimistis untuk sukses karena yang diberitakan baik di koran atau TV hanya berita gagal panen dan paceklik, jarang sekali berita inspirasi sukses petani di desa.
Menjadi anak kampung kota yang berada di posisi itu menjadi keuntungan sekaligus kerugian untukku untuk terjun ke bidang pertanian. Keuntungan karena tidak ada hambatan dari keluarga dan lingkungan terdekat untuk terjun kuliah dan menekuni bidang pertanian tapi sekaligus kerugian karena tidak pernah ada pengalaman real langsung bagaimana hidup di desa dengan permasalahan agrikultur dan agribisnis sebagai petani, sehingga sosok petani hanya aku ketahui dengan sumber dari “katanya”, baik kata dosen, kata buku, kata jurnal, atau kata media tapi tidak pernah mengalami langsung. Sehingga aku sendiri tidak pernah mengalami kesulitan dan penderitaan langsung petani yang tinggal di desa dan melihat realita di lapangan.
Waktu kuliah lapangan Agroekologi, salah satu mata kuliah di Rekayasa Pertanian SITH ITB, aku pernah mewawancarai peternak sapi perah yang tidak ingin anaknya menjadi peternak juga karena beban kerja yang sangat berat dan lebih ingin anaknya kerja kantoran di kota. Sedangkan anak kampung kota yang tidak pernah merasakan beban itu malah tertantang ingin mencoba untuk menjadi petani dan peternak lalu hidup di desa.
Tidak ada yang salah dengan hal itu, tapi seperti yang dikatakan Pak Tomy Perdana dosen Agribisnis Unpad pada salah satu seminar yang aku ikuti, dikhawatirkan tekad anak kota yang ingin berkecimpung di dunia pertanian hanya sebatas keinginan sesaat dan tidak ditekuni serius serta mendalam. Pak Tomy menyebutkan hal tersebut bisa terlihat dari banyaknya startup pertanian bermunculan tapi tidak bisa bertahan lama dan tidak bisa konsisten berdiri. Itu juga yang dirasakan aku sebagai anak kampung kota yang masih kurang nyali untuk menggarap lahan pertanian dan memang kenyataannya tidak punya lahan kosong untuk digarap.
Tapi dewasa ini, ada gerakan lain yang muncul, yaitu urban farming melalui maraknya dan menjamurnya hidroponik. Tentu ini menjadi angin segar bagi anak kota yang ingin bertani. Tapi apabila ditinjau lebih dalam hal ini belum menyelesaikan permasalahan agrikultur yang ada di desa. Muncul juga gerakan permakultur dan pertanian alami untuk digalakan di kota yang tentu menjadi angin segar juga bagi anak kampung kota seperti ku. Tapi realisasi permakultur di wilayah perkotaan mengalami banyak hambatan dan kendala terutama karena terbatasnya lahan. Dan sekali lagi hal ini belum menjadi solusi bagi masalah agrikultur di desa.
Jadi anak kota berani bertani? Masih menjadi pertanyaan yang harus di jawab penulis yang sekarang ternyata masih terjebak mencari pekerjaan kantoran di kota untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Itulah tulisanku pada tahun 2020 saat aku masih getol-getolnya mencari pekerjaan. Pekerjaan full time yang aku dapatkan setelah menulis artikel ini adalah menjadi Marketing, Sales, and Business Development Executive di salah satu startup Agroindustri dan Agroteknologi yaitu Griin.id atau PT Gelora Rempah Inti Indonesia, setelah pada awal 2020 aku menjalani internship di salah satu startup Agritech, Neurafarm atau PT Neura Cipta Nusantara, yang memiliki produk aplikasi pendeteksi penyakit tanaman Dokter Tania, sebagai Business Development Intern.
Pada dua pekerjaanku ini selama rentang tiga tahun membuka mata dan mindsetku bahwa pertanian adalah bidang yang sangat berharga, potensial, dan patut untuk diperjuangkan. Bagaimana tidak, selama pandemi berlangsung, bidang yang tumbuh positif hanyalah sektor pertanian dan sektor IT. Aku sadar bahwa suatu negara bisa diselamatkan ekonominya saat bidang pertanian dikelola dengan baik dan bisa ditambahkannya added value atau nilai tambah pada produk-produk pertanian tersebut.
Jadi saat pertanyaan penutup tulisanku di tahun 2020 diulang, “Jadi anak kota berani bertani?”, aku akan menjawab: harus berani! Karena masa depan pertanian Indonesia ada di tangan generasi muda yang ingin memajukan negeri dan masyarakatnya dimanapun ia berada. Dan langkah konkret yang aku ambil adalah dengan melanjutkan pendidikan ke Magister Ekonomi Pertanian Faperta UNPAD untuk melakukan riset mengenai Korporasi Pangan Petani, yang semoga menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan taraf kehidupan petani di Jawa Barat khususnya, dan di Indonesia dan dunia pada umumnya.
Semoga aku diberi kekuatan serta kelancaran untuk menempuh semua langkah yang aku pilih, dan Allah SWT senantiasa memberi ridho dan berkah-Nya. Aamiin..
