Penyampaian sejarah tidak lepas dari keterkaitan sudut pandang atau perspektif penyampainya. Museum Konferensi Asia-Afrika yang berlokasi di Braga, Bandung, adalah salah satunya. Museum ini menyajikan sejarah Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung pada bulan April tahun 1955. Konferensi tersebut menjadi salah satu titik balik utama dalam sejarah kemerdekaan dan anti-kolonialisme di Asia dan Afrika. Museum Konferensi Asia-Afrika memberikan perspektif yang komprehensif tentang peristiwa tersebut. Hal itu dapat dilihat dari berbagai koleksi yang disusun sesuai kronologi sejarah, dimulai dari latar belakang, proses, dan dampak dari konferensi tersebut, serta peran penting Indonesia dalam gerakan non-blok. Berbagai penjelasan dan deskripsi sejarah di museum tersebut dibagi menjadi tiga menurut warna dan berdasarkan urutan kejadian; penjelasan dengan latar warna kuning untuk pra-konferensi, latar warna merah untuk menuju dan hari-H konferensi, serta latar warna biru untuk pasca atau dampak konferensi.
Salah satu pengunjung Museum Konferensi Asia-Afrika, pada Sabtu, 16 Maret 2024, mengungkap bahwa penggunaan warna sesuai kronologi ini dapat meningkatkan pengalaman pengunjung apabila pengunjung Museum Konferensi Asia-Afrika menyadari hal tersebut. Namun sayangnya, tidak banyak pengunjung yang menyadari fakta penggunaan latar warna ini sebagai salah satu cara penyampaian peristiwa sejarah. Seperti warna merah yang digunakan pada koleksi di samping, ulasan pers nasional dan internasional tersebut dirilis menjelang dan selama Konferensi Asia-Afrika dilaksanakan pada 18–24 April 1955. Dengan kata lain, latar berwarna merah pada ulasan pers tersebut menunjukkan peristiwa selama konferensi dilaksanakan. Dari Museum Konferensi Asia-Afrika, dapat dilihat bahwa konferensi ini memiliki dampak yang nyata bagi politik internasional melihat banyaknya bahasa dalam ulasan pers yang digunakan dalam pemberitaan.
Walaupun Museum Konferensi Asia-Afrika didominasi oleh kumpulan foto dan penjelasan peristiwa, tetapi beberapa koleksi fisik turut meramaikan isi museum. Koleksi ini terdiri atas beberapa mesin ketik, piringan hitam berisi rekaman pidato Ir. Soekarno yang diputar saat konferensi, set meja dan kursi rotan, kamera, hingga lampu pencahayaan yang digunakan selama konferensi berlangsung. Ada pula replika tokoh-tokoh perwakilan negara yang menghadiri konferensi, di antaranya replika Ali Sastroamidjojo perwakilan Indonesia, Sir John Kotelawala perwakilan Sri Lanka, Muhammad Ali Jinnah perwakilan Pakistan, U Nu perwakilan Myanmar, dan Jawaharlal Nehru perwakilan India. Replika Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, turut dipajang di podium bersama kelima tokoh KAA tersebut.
Hal yang menarik tentang Museum Konferensi Asia-Afrika adalah museum ini tidak hanya menyajikan peristiwa yang berkaitan dengan KAA, tetapi juga menghadirkan foto-foto Kota Bandung tempo dulu semasa konferensi. Pengunjung seolah dibawa ke Bandung tahun 1955 sebelum menyimak runtutan peristiwa konferensi. Sentuhan foto-foto jadul yang dipajang membuat pengalaman pengunjung menjadi lebih berkesan. Penjelasan dan deskripsi berbagai peristiwa pun dilengkapi foto sehingga para pengunjung mendapat gambaran yang lebih detail tentang tiap peristiwanya. Museum ini cocok dikunjungi oleh segala usia, salah satunya pelajar sekolah menengah, melihat peristiwa Konferensi Asia-Afrika ini masuk dalam silabus pembelajaran. Masyarakat umum pun bebas mengunjungi museum ini sebagai sarana untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Dengan demikian, sudah selayaknya Museum Konferensi Asia-Afrika masuk dalam daftar destinasi wisata bagi orang-orang yang berkunjung ke Bandung.