Di masyarakat Indonesia, terutama di beberapa daerah, cacing tanah sudah lama dikenal sebagai “obat tradisional tipes.” Nama yang paling sering disebut adalah Lumbricus rubellus. Belakangan, spesies lain seperti Eisenia fetida juga ikut dibicarakan karena sama-sama diketahui memiliki senyawa bioaktif antimikroba. Pertanyaannya, apakah benar kedua cacing ini bisa disebut obat untuk typhoid? Atau ini sekadar mitos yang diwariskan dari generasi ke generasi?
Jawaban jujurnya tidak hitam-putih. Ini bukan mitos total, karena memang ada dasar ilmiah yang menunjukkan bahwa cacing tanah mengandung molekul antimikroba. Namun, ini juga belum bisa disebut fakta klinis yang kuat bahwa Lumbricus rubellus atau Eisenia fetida adalah obat tifoid yang terbukti efektif pada manusia.
Memahami dulu: apa itu typhoid?
Typhoid atau demam tifoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan di banyak negara berkembang, terutama di wilayah dengan sanitasi dan akses air bersih yang belum optimal. WHO menyebutkan bahwa tifoid masih menyebabkan jutaan kasus setiap tahun, dan penyakit ini dapat berakibat serius bila tidak ditangani dengan benar. Gejalanya antara lain demam berkepanjangan, lemah, sakit kepala, mual, nyeri perut, konstipasi atau diare, dan pada kasus berat dapat menimbulkan komplikasi yang mengancam nyawa. Tifoid juga perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan yang tepat, bukan hanya berdasarkan “demam mirip tipes.”
Hal yang sangat penting: tifoid adalah penyakit infeksi bakteri yang terapi utamanya tetap antibiotik. WHO dan CDC sama-sama menegaskan bahwa demam tifoid diobati dengan antibiotik, meskipun saat ini penanganannya menjadi lebih rumit karena resistensi antimikroba yang makin meningkat.
Mengapa cacing tanah dipercaya bisa membantu?
Kepercayaan ini tidak muncul begitu saja. Dari sisi biologi, cacing tanah memang memiliki sistem pertahanan bawaan yang menarik. Berbagai kajian menunjukkan bahwa ekstrak cacing tanah dan cairan koelomnya mengandung senyawa aktif seperti peptida antimikroba, protein aktif, dan molekul lain yang diduga berperan melawan mikroba. Dalam ulasan komprehensif tentang bioaktif cacing tanah, disebutkan adanya molekul seperti lumbricin, fetidin, lysenin, eiseniapore, dan beberapa kelompok peptida antimikroba lain.
Pada Lumbricus rubellus, salah satu molekul yang paling sering disebut adalah lumbricin-I, suatu peptida antimikroba yang diduga bekerja dengan mengganggu membran sel mikroba. Secara teori, ini membuat L. rubellus tampak masuk akal untuk diteliti sebagai kandidat antibakteri.
Pada Eisenia fetida, literatur juga menunjukkan adanya berbagai senyawa bioaktif dan komponen pertahanan antimikroba. Bahkan, kajian lain menyebut E. fetida memiliki banyak metabolit dan biomolekul yang relevan secara farmakologis. Jadi, dari sudut pandang biokimia, kedua spesies ini memang menarik.
Lalu, apa kata penelitian terhadap Salmonella Typhi?
Di sinilah letak perbedaan antara “potensi” dan “obat yang terbukti.”
Beberapa studi in vitro melaporkan bahwa ekstrak cacing tanah memiliki aktivitas antibakteri terhadap Salmonella Typhi. Salah satu studi membandingkan Lumbricus rubellus dan Eisenia foetida terhadap beberapa bakteri, termasuk Salmonella thyposa/typhi, dan menemukan bahwa aktivitas antibakteri terbaik ada pada Lumbricus rubellus, disusul Eisenia foetida, tetapi keduanya masih lebih lemah daripada ampisilin. Studi tersebut juga mengamati adanya kebocoran sel bakteri setelah pajanan ekstrak.
Namun hasil penelitian tidak selalu konsisten. Studi lain pada 2022 justru melaporkan bahwa ekstrak Lumbricus rubellus pada konsentrasi 100%, 150%, dan 200% tidak membentuk zona hambat terhadap pertumbuhan Salmonella Typhi pada uji difusi cakram. Artinya, dalam kondisi penelitian tersebut, ekstrak itu tidak menunjukkan efek penghambatan yang jelas.
Jadi, kalau hanya melihat data laboratorium, kesimpulannya adalah: ada sinyal aktivitas antibakteri, tetapi hasilnya belum seragam dan sangat dipengaruhi oleh spesies, bentuk sediaan, metode ekstraksi, konsentrasi, serta metode pengujian.
Bagaimana dengan bukti pada hewan dan manusia?
Pada model hewan, ada penelitian yang menunjukkan bahwa ekstrak Lumbricus rubellus dapat menurunkan penanda stres oksidatif seperti MDA dan 8-OHdG pada tikus yang diinfeksi S. Typhi. Ini menarik, tetapi perlu dicatat bahwa temuan tersebut lebih menunjukkan efek biologis pendukung, bukan bukti bahwa ekstrak cacing menyembuhkan tifoid pada manusia.
Yang lebih penting lagi, tinjauan sistematis tahun 2023 menemukan bahwa dari 17 studi yang memenuhi kriteria, hanya satu yang merupakan uji klinik. Dalam uji klinik itu, 52 pasien tifoid dibagi menjadi kelompok yang mendapat ciprofloxacin plus ekstrak Lumbricus rubellus dan kelompok yang mendapat ciprofloxacin plus plasebo. Hasilnya, tidak ada perbedaan bermakna pada lama demam, penggunaan antipiretik, gejala gastrointestinal, maupun beberapa parameter laboratorium. Ulasan tersebut juga menilai risiko bias studi klinik ini tinggi.
Ini poin yang sangat penting. Bila satu-satunya uji klinik yang tersedia belum menunjukkan manfaat tambahan yang bermakna, maka kita belum bisa menyebut Lumbricus rubellus sebagai terapi tifoid yang terbukti. Untuk Eisenia fetida, dalam penelusuran sumber yang saya dapatkan, bukti terhadap S. Typhi masih terutama berada pada level in vitro, dan saya belum menemukan bukti klinik yang meyakinkan pada pasien tifoid.
Jadi, mitos atau fakta?
Jawaban paling adil adalah:
Fakta, bahwa Lumbricus rubellus dan Eisenia fetida memiliki komponen bioaktif yang secara ilmiah berpotensi antimikroba.
Bukan fakta klinis yang kuat, bahwa keduanya sudah terbukti sebagai obat tifoid pada manusia.
Mitos yang berlebihan, bila dikatakan bahwa cacing tanah bisa menggantikan antibiotik standar untuk tifoid.
Dengan kata lain, cacing tanah mungkin lebih tepat diposisikan sebagai objek riset bioaktif alami yang menjanjikan, bukan sebagai terapi definitif tifoid yang sudah mapan.
Mengapa masyarakat merasa “berhasil” setelah minum ekstrak cacing?
Ada beberapa kemungkinan.
Pertama, tidak semua orang yang merasa “kena tipes” benar-benar mengalami tifoid yang terkonfirmasi. Banyak demam infeksi lain yang gejalanya mirip. Kedua, sebagian pasien memang tetap membaik karena mendapat antibiotik, cairan, istirahat, dan nutrisi yang cukup, sementara ekstrak cacing diminum bersamaan sehingga tampak seolah-olah itulah penyembuh utamanya. Ketiga, beberapa komponen pada cacing mungkin memiliki efek biologis pendukung tertentu, tetapi efek pendukung tidak sama dengan efek kuratif yang terbukti.
Sikap ilmiah yang paling bijak
Dari sudut pandang ilmiah dan klinis, ada beberapa hal yang perlu ditegaskan.
Pertama, jangan mengganti antibiotik yang diresepkan dokter dengan ekstrak cacing tanah pada pasien tifoid. CDC menekankan bahwa terapi tifoid bergantung pada antibiotik yang sesuai, dan pilihan obat kini juga harus mempertimbangkan pola resistensi.
Kedua, bila cacing tanah ingin dikembangkan menjadi produk kesehatan, tantangan terbesarnya bukan hanya “apakah ada senyawa aktif,” tetapi juga standarisasi bahan baku, metode ekstraksi, keamanan, dosis, kemurnian, stabilitas, dan bukti klinik. Tinjauan sistematis yang ada sendiri menyatakan bahwa bentuk sediaan paling efektif maupun keamanannya belum dapat disimpulkan secara definitif, dan studi klinik lanjutan masih dibutuhkan.
Ketiga, untuk Eisenia fetida, keberadaan berbagai biomolekul menarik memang mendukung eksplorasi farmasi di masa depan, tetapi itu masih wilayah penelitian, bukan alasan untuk segera mengklaimnya sebagai obat tifoid.
Penutup
Perdebatan tentang cacing tanah sebagai obat tifoid sebetulnya mengajarkan satu hal penting: tradisi kadang menyimpan petunjuk biologis yang menarik, tetapi petunjuk tidak sama dengan bukti klinis. Lumbricus rubellus dan Eisenia fetida memang menyimpan potensi sebagai sumber senyawa antimikroba. Beberapa studi laboratorium mendukung kemungkinan itu. Akan tetapi, sampai hari ini, bukti yang ada belum cukup kuat untuk menyatakan keduanya sebagai obat tifoid yang terbukti efektif pada manusia.
Jadi, bila pertanyaannya adalah “mitos atau fakta?”, jawabannya adalah: setengah fakta, bila dibahas sebagai potensi bioaktif; tetapi belum fakta, bila diklaim sebagai obat tifoid yang sudah terbukti secara klinis.
Daftar pustaka singkat
World Health Organization. Typhoid fact sheet. 2023.
Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Guidance for Typhoid Fever and Paratyphoid Fever. 2024.
Centers for Disease Control and Prevention. Typhoid and Paratyphoid Fever, Yellow Book. 2025.
Sara M, Ilyas F, Hasballah K, Nurjannah N, Harapan H, Mudatsir M. Lumbricus rubellus earthworm as an antibacterial: A systematic review. 2023.
Kartikaningsih H, Maharani S, Sartika F. Antibacterial activity ethyl acetate extracts of earthworms (Lumbricus rubellus, Eisenia foetida, Nereis sp.) toward Salmonella in vitro. 2019.
Nabani A, dkk. Uji efektivitas ekstrak cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap bakteri Salmonella typhi penyebab demam tifoid. 2022.
Samatra DPGP, dkk. Extract of earthworms (Lumbricus rubellus) reduced malondialdehyde and 8-hydroxy-deoxyguanosine level in male Wistar rats infected by Salmonella typhi. 2017.
Purwitanto, Nugroho A, Datau EA. Pengaruh penambahan ekstrak Lumbricus rubellus pada pengobatan pasien demam tifoid. 2013.
Aftab N, dkk. Medicinal perspective of antibacterial bioactive agents in earthworms: A comprehensive review. 2022.
Shetty A, Biradar PM. Analysis of different bioactive compounds in the tissue of the epigeic earthworm, Eisenia fetida. 2024.
