My Story

Dari Laboratorium ke Masyarakat: Hilirisasi Riset untuk Kesehatan, Kemandirian, dan Kesejahteraan

Perjalanan tridharma, inovasi, dan kolaborasi pentahelix dalam membangun ekosistem pohon industri berbasis riset bahan alam Indonesia : Riset yang hidup adalah riset yang memberi manfaat.

 

Bismillah,

Saya memulai perjalanan ini dari sebuah keyakinan yang sederhana namun mendalam: bahwa setiap penyakit memiliki ikhtiar penyembuhan, dan alam menyimpan potensi besar sebagai sumber bahan baku kesehatan yang aman, bernilai, dan dekat dengan kehidupan manusia. Namun bagi saya sebagai akademisi, keyakinan itu tidak cukup untuk diyakini. Ia harus diteliti, dibuktikan, distandardisasi, dan diubah menjadi manfaat nyata.

Sebagai dosen di Universitas Padjadjaran, saya memandang tridharma perguruan tinggi bukan sebagai tiga tugas yang berjalan sendiri-sendiri. Pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat adalah satu siklus hidup ilmu. Pengajaran harus selalu diperbarui oleh hasil penelitian. Penelitian tidak boleh berhenti di laboratorium atau publikasi. Dan pengabdian kepada masyarakat tidak cukup hanya hadir sebagai kegiatan seremonial, tetapi harus lahir dari ilmu yang matang dan menjawab kebutuhan nyata.

Cara pandang itu membentuk perjalanan riset saya sejak tahun 1998 hingga hari ini. Perjalanan tersebut saya bagi ke dalam lima fase. Fase pertama, 1998–2003, adalah fase belajar: membangun fondasi keilmuan, kedisiplinan, dan kepekaan terhadap persoalan riil di bidang farmasi. Fase kedua, 2003–2010, adalah fase riset dasar: memperkuat pijakan ilmiah, memahami bahan baku, sistem formulasi, dan mekanisme yang menjadi dasar inovasi. Fase ketiga, 2010–2019, adalah fase antara: ketika penelitian mulai bergerak dari pengetahuan menuju prototipe, translasi, dan kesiapan teknologi. Fase keempat, 2019–2024, adalah fase hilirisasi: ketika hasil riset mulai diarahkan ke luaran yang lebih siap guna, siap kolaborasi, siap HKI, dan siap memberi nilai tambah. Fase kelima, 2024 hingga sekarang, adalah fase berdampak pada masyarakat: saat inovasi tidak hanya menjadi prototipe, tetapi mulai hadir sebagai manfaat yang lebih nyata.

Titik balik paling penting dalam perjalanan ini terjadi ketika saya menyadari bahwa bahan baku obat, kosmetik, bahkan obat tradisional di Indonesia masih memiliki ketergantungan impor yang tinggi. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan hayati yang melimpah. Dari sana saya melihat bahwa riset tidak boleh berhenti pada artikel ilmiah. Bila digerakkan hingga hilir, riset dapat meningkatkan kesejahteraan petani, menguatkan UMKM, mendukung kemandirian industri lokal, dan memberi dampak luas bagi masyarakat, khususnya dalam bidang kesehatan.

Atas dasar itulah saya dan tim riset memilih masuk ke jalur hilirisasi. Bagi saya, hilirisasi bukan sekadar proses komersial. Hilirisasi adalah jembatan antara ilmu dan manfaat. Ia adalah cara agar hasil penelitian dapat benar-benar hidup, digunakan, dan dirasakan. Karena itu, hilirisasi harus dibangun dengan inovasi, kolaborasi, dan keberlanjutan.

Dalam prosesnya, saya melihat bahwa kampus tidak bisa berjalan sendiri. Riset yang ingin berdampak harus dipertemukan dengan industri, pemerintah, komunitas, dan media. Dari sinilah konsep pentahelix menjadi penting. Bagi saya, pentahelix bukan hanya model kerja sama, tetapi model pergerakan ekosistem. Kampus menjadi sumber pengetahuan dan pengkaderan. Industri menjadi penggerak produksi dan skala. Pemerintah memberi arah kebijakan dan dukungan sistem. Komunitas dan masyarakat menjadi ruang kebermanfaatan. Media membantu menyebarkan inspirasi dan membangun kepercayaan.

Keseluruhan proses ini saya bayangkan sebagai pohon industri. Akar pohon adalah nilai, keyakinan, ilmu dasar, dan kekayaan alam Indonesia. Batangnya adalah tridharma perguruan tinggi. Aliran hidup di dalamnya adalah data, evidensi, standardisasi, dan inovasi. Cabangnya adalah platform riset dan teknologi. Daunnya adalah jejaring kolaborasi pentahelix. Bunganya adalah prototipe, HKI, dan validasi. Buahnya adalah produk dan manfaat nyata. Sedangkan benihnya adalah regenerasi mahasiswa, UMKM, mitra baru, dan ekosistem inovasi yang terus tumbuh.

Perjalanan itu kemudian melahirkan berbagai portofolio unggulan. Dari riset human epidermal growth factor lahir prototipe EPIGROF-SR. Dari riset bahan bioaktif seperti curcumin, brazilin, dan mangostin lahir CUBRATIN. Dari pengembangan minyak sacha inchi lahir platform bahan baku dan produk seperti BIOSACHI, BIOSCRUB, serta pengembangan produk kosmetik seperti CREYA dan COSMETORY. Portofolio ini menunjukkan bahwa riset dapat bergerak dari molekul, laboratorium, dan prototipe menuju produk dan ekosistem manfaat.

Perjalanan ini juga ditopang oleh rekam jejak akademik yang kuat: 137 publikasi nasional dan internasional, 71 publikasi internasional bereputasi, 26 HKI, 11 buku, dan 24 hibah riset kompetitif. Namun bagi saya, angka-angka itu bukanlah akhir. Semuanya hanyalah fondasi agar riset bisa melangkah lebih jauh, keluar dari kampus, dan hadir sebagai nilai bagi masyarakat.

Ke depan, saya ingin terus menjadi agen inspirasi melalui tridharma perguruan tinggi, dengan inovasi yang kolaboratif berbasis pentahelix, agar manfaat riset semakin besar, semakin luas, dan semakin nyata. Melalui kolaborasi pentahelix, mari kita bersama-sama membantu meningkatkan kesejahteraan petani, menguatkan UMKM, mendukung kemandirian industri lokal, dan menghadirkan sebesar-besarnya manfaat bagi masyarakat, khususnya di bidang kesehatan.

InsyaAllah…