Di Bawah Langit Yang Sama
Hujan sore itu turun tanpa aba-aba. Langit yang sedari pagi mendung akhirnya menumpahkan seluruh tangisnya ke bumi. Jalanan yang tadinya riuh oleh lalu-lalang para siswa mendadak sepi—hanya menyisakan bayang-bayang mereka yang berteduh di bawah selasar kelas.
Aku berdiri di bawah atap sebuah bangunan tua, menyandarkan tubuh pada tiang besi yang dingin. Satu tanganku memegang ponsel—layarnya hening, tak ada pesan baru, tak ada panggilan masuk. Tapi aku tetap menunggunya.
Ayla.
Nama itu mengendap di pikiranku sejak pagi. Kami memang tak berjanji bertemu hari ini. Tapi entah mengapa, dua hari terakhir ini aku selalu datang ke tempat yang sama, di jam yang sama, saat langit mulai menggelap.
Dia tak pernah janji akan datang. Tapi aku tetap menunggu. Entah itu keyakinan… atau hanya harapan.
Dan sore itu, seperti hadiah kecil dari langit yang kelabu, dia muncul. Mengenakan jaket yang sedikit kebesaran dan memegang payung merah muda—warna mencolok di antara abu-abu suasana. Seperti permen karet yang jatuh di tengah hujan.
Langkahnya pelan. Ia tampak terburu-buru, tapi tetap menjaga gaya jalannya yang khas—anggun, tapi tak dibuat-buat. Ketika melihatku, dia sedikit terkejut. Lalu tersenyum.
“Eh… kamu di sini juga?”
Aku menahan gugup.
“Iya… eh, iya. Lagi nunggu hujan reda.”
Dia menengadah, menatap langit yang masih menangis.
“Kayaknya belum mau reda, deh.”
“Kayaknya, iya,” jawabku, sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
Dia memutar badan sebentar, lalu merapatkan kedua tangannya pada gagang payung.
“Kalau gitu, mau bareng? Aku ke arah sana, mau mencari angkot.”
Aku menatapnya. Sejenak, ragu. Tapi tentu saja… siapa yang bisa menolak tawaran berbagi payung dengan perempuan yang diam-diam selalu kunanti?
“Iya, boleh banget.”
Kami pun berjalan berdampingan. Payungnya kecil, dan otomatis membuat bahu kami saling bersentuhan. Aku bisa mencium aroma tubuhnya—campuran antara sampo bunga dan tanah basah. Sesuatu yang anehnya membuat jantungku berdetak lebih cepat.
“Payungnya lucu,” kataku, mencoba mencairkan suasana.
“Merah muda bukan warna favoritku, sih. Tapi ini hadiah dari sahabatku. Jadi aku pakai.”
“Lucu, kok,” ulangku. “Kayaknya… cocok sama kamu.”
Dia menoleh sebentar. Senyumnya tipis.
“Makasih.”
Kami berjalan pelan. Tak banyak bicara. Hanya detak jantungku yang kacau dan suara langkah kami yang bercampur dengan gemericik hujan. Dan di sanalah, dalam diam yang tenang itu, aku tahu: aku sedang jatuh cinta.
“Eh, kamu suka nulis puisi, kan?” tanyanya tiba-tiba.
Aku tersentak.
“Loh, kamu tahu?”
Dia tertawa kecil.
“Tahu, lah. Aku pernah baca status kamu yang pakai metafora bulan dan kopi. Terlalu puitis buat status galau biasa.”
Aku nyengir, malu.
“Itu… ketahuan, ya?”
“Ketahuan banget,” jawabnya sambil tersenyum. “Tapi bagus, kok.”
Kata-katanya seperti hujan di musim kemarau. Menyuburkan rasa percaya diriku yang sempat layu.
“Kalau begitu… nanti aku tulis puisi tentang kamu,” godaku pelan.
Dia menoleh cepat, menahan senyum.
“Tentang aku?”
Aku mengangguk.
“Judulnya… Senja, Hujan, dan Payung Merah Muda.”
Ia tertawa—lebih lepas kali ini. Dan tawanya adalah melodi paling jernih yang pernah kudengar sepanjang sore itu.
. . .
Kami sampai di tikungan sebuah gang kecil—tempat biasa kami berpisah arah. Tapi aku masih ingin bersamanya, meski hanya sedetik lebih lama.
“Kayaknya aku belok sini dulu, ya,” ucapnya.
Aku mengangguk pelan.
“Hati-hati.”
Dia menatapku. Ada keheningan yang menyusup di antara kami. Lalu, sebelum berbalik arah, dia berkata,
“Kalau kamu serius soal puisi itu… aku mau baca.”
Lalu dia melangkah pergi—membawa payung merah mudanya. Tapi tidak dengan kehadirannya. Sebab hatiku tahu, sore itu dia tinggal di sini—di dalam dadaku, bersama rintik dan senyum terakhirnya.
Dan malam harinya, aku benar-benar menulis puisi itu. Dengan rasa yang belum sempat kukatakan.
Hujan, Senja, dan Payung Merah Muda
Musim penghujan adalah untai kenangan,
Tiap senja—bersamamu dan hujan—adalah keagungan.
Bagaimana diam menjadi bisu,
Sedang rindu pernah menjadi bahasa qalbu.
Aku menantimu dalam buai gigil,
Namun, hatimu seolah terus memanggil:
“Jangan pergi,” katamu—memesan satu tiket di waktuku.
Dan aku tetap setia, menunggumu di bawah kelabu.
Lanjut Bagian IV ==> Angin Makassar dan Namamu