Prolog
Setiap cinta punya waktu. Tapi tidak semua cinta punya kesempatan.
Beberapa orang datang dalam hidup kita tidak untuk menetap, melainkan untuk mengajarkan sesuatu: tentang rindu yang tak sempat terucap, tentang doa yang diam-diam melangit, tentang harapan yang tumbuh di tengah ketidakpastian.
Cerita ini bukan tentang dua orang yang akhirnya bersama.
Ini bukan kisah cinta yang berakhir bahagia dalam pelukan dan janji setia.
Ini adalah kisah tentang dua jiwa yang saling menyimpan rasa—tapi terhalang oleh diam, waktu, dan takdir.
Ardi mencintai Ayla dalam diam, dalam puisi, dan dalam doa. Tapi tak pernah sempat datang ketika hati gadis pujaannya itu masih menunggu.
Dan saat ia benar-benar datang, waktu telah memilihkan orang lain untuk menggenggam tangan gadis itu.
Kadang, kita bukan tidak cukup mencintai—
kita hanya terlalu lama berpikir, terlalu takut melangkah.
Dan cinta, seperti bunga liar, hanya tumbuh di musim yang tepat. Lewat dari itu, ia akan layu, meski akar masih tertanam dalam.
Novel ini bukan sekadar kisah patah hati. Ia adalah kisah perjalanan batin—tentang bagaimana melepaskan seseorang tanpa kehilangan makna dari mencintainya. Tentang belajar berdamai, bukan karena luka telah sembuh, tapi karena hati telah menerima bahwa tidak semua cinta ditakdirkan bersatu.
Dan jika kamu pernah menunggu seseorang yang tak pernah datang, pernah mencintai dalam sunyi, atau pernah kehilangan bukan karena dikhianati, tapi karena takdir tak berpihak—
maka mungkin kamu akan menemukan dirimu dalam halaman-halaman ini.
Karena sesungguhnya… cinta sejati bukan tentang siapa yang datang lebih dulu, tetapi siapa yang tetap mendoakan, bahkan setelah semuanya berlalu.
Lanjut Bagian III ==> Di Bawah Langit Yang Sama