Pendahuluan
Dalam penelitian farmakologi dan toksikologi, uji preklinik menggunakan hewan laboratorium, seperti mencit (Mus musculus), sering digunakan untuk menentukan keamanan dan efektivitas suatu obat sebelum diuji pada manusia. Salah satu langkah penting dalam transisi dari uji hewan ke manusia adalah konversi dosis. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta organisasi kesehatan lainnya, seperti FDA dan EMA, memberikan pedoman standar dalam menghitung konversi dosis untuk memastikan keamanan pasien.
Prinsip Konversi Dosis
Konversi dosis dari hewan ke manusia tidak dilakukan secara langsung berdasarkan berat badan (mg/kg) karena adanya perbedaan fisiologi dan metabolisme antara spesies. Oleh karena itu, metode yang digunakan adalah berbasis Surface Area Scaling (SAS) atau perhitungan berdasarkan luas permukaan tubuh.
Konversi ini menggunakan faktor koreksi yang disebut Km factor, yang merepresentasikan luas permukaan tubuh relatif terhadap berat badan.
Rumus Konversi Dosis
Dosis manusia dihitung menggunakan rumus berikut:
Di mana nilai Km untuk beberapa spesies adalah sebagai berikut:
| Spesies | Km Factor |
|---|---|
| Mencit (Mus musculus) | 3 |
| Tikus (Rattus norvegicus) | 6 |
| Kelinci (Oryctolagus cuniculus) | 12 |
| Anjing (Canis lupus familiaris) | 20 |
| Manusia (Homo sapiens, 60 kg) | 37 |
Contoh Perhitungan
Misalkan suatu penelitian menggunakan mencit dengan dosis uji sebesar 50 mg/kg. Maka, untuk mengonversi ke manusia, perhitungannya adalah:
Jika dikonversi ke dosis total untuk seseorang dengan berat 60 kg:
Dengan demikian, dosis ekuivalen untuk manusia yang berbobot 60 kg adalah 243 mg per hari.
Faktor Koreksi Tambahan
Setelah mendapatkan dosis manusia yang dihitung dari konversi hewan, sering kali diperlukan faktor keamanan untuk memastikan toleransi pada manusia. Faktor keamanan ini umumnya berkisar antara 3 hingga 10 kali lipat, tergantung pada tingkat toksisitas obat yang diuji. Oleh karena itu, dosis awal dalam uji klinis sering dikurangi dengan faktor koreksi ini.
Sebagai contoh, jika faktor keamanan yang digunakan adalah 10, maka dosis manusia yang disarankan:
Kesimpulan
Konversi dosis dari mencit ke manusia memerlukan pendekatan berbasis luas permukaan tubuh menggunakan faktor Km. Perhitungan ini sangat penting untuk menentukan dosis awal dalam uji klinis guna memastikan keamanan dan efektivitas obat yang diuji. Dalam implementasinya, faktor koreksi tambahan juga diperlukan untuk menghindari risiko efek samping pada manusia.
Dengan memahami metode konversi dosis ini, para peneliti dapat meningkatkan ketepatan dalam menentukan dosis yang aman sebelum uji klinis pada manusia, sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh BPOM dan badan pengawas lainnya
