Menulis Pakai HP
oleh Ahmad Sarwat.
Dulu saya bingung memikirkan para ulama yang produktif menulis. Konon kabarnya saking produktifnya dalam menulis, mereka bisa menulis kapan saja dimana saja.
Dalam pikiran saya saat itu, berarti mereka kemana-mana pasti bawa alat tulis, baik kertas, buku tulis atau pulpen. Soalnya kan tidak mungkin nulisnya di atas kertas tissu.
Namun hari ini apa yang dulu sulit saya bayangkan, sekarang justru sudah jadi kenyataan sehari-hari. Ternyata HP yang aslinya berfungsi sebagai alat komunikasi, malah bisa dijadikan ‘buku tulis’.
Mungkin bagi yang tidak terbiasa, mengetik di HP itu susah. Soalnya layarnya kecil, huruf-huruf di keyboardnya juga lebih kecil lagi.
Saking kecilnya sampai seringkali typo alias salah ketik. Itu memang amat mengganggu dan harus diakui lebih mudah mengetik di laptop atau komputer.
Tapi percaya nggak percaya, setelah seringkali mengisi waktu luang dengan mainan berbagai aplikasi dan games HP, saya kok malah menikmati keisengan mengetik pakai HP.
Awalnya kan hanya mengetik WA, SMS, atau update status. Tapi kok lama-lama jadi enak mengetik lebih banyak. Hehe kok akhirnya malah bisa jadi artikel dua tiga halaman. Lumayan lah.
Dan bagi saya sendiri, pengalaman menulis pakai HP ada banyak kelebihannya, antara lain hal-hal berikut ini.
Pertama, HP adalah benda yang setia menemani kita dimana pun kita berada. Sehingga kita tidak perlu repot mikirin bawa pulpen dan buku tulis lagi.
Kapan ada ide untuk menulis, saat itu juga kita punya alat tulis. Jadi tinggal buka HP dan mulai asyik menulis. Soalnya kalau nggak segera ditulis, bisa-bisa hilang tuh ide tauk kemana. Buat saya spontanitas menulis itu kudu harus musti wajib.
Kedua, dengan menulis pakai HP sama saja kita menulis di komputer. Tulisan kita dengan mudah bisa diedit, dikoreksi, diperbaiki, ditambahi, dikurangi bahkan diubah semuanya.
Bayangkan kalau kita masih harus menulis pakai tangan. Hasil goresan pena yang ditulis pakai tangan tentu saja tidak mudah diedit atau dikoreksi.
Lagian kudu masih harus diketik ulang kalau nanti mau diterbitkan. Itu pun kalau tulisan tangan kita bagus. Sebab kadang ada juga tulisan tangan yang sulit dibaca orang.
Ketiga, mengetik pakai HP itu enaknya tulisan kita otomatis jadi tersimpan dalam memori internal, atau pun bisa juga di clowd.
Pokoknya tidak lagi ada istilah kehilangan kertas hasil tulisan, karena pasti ada jejak digitalnya.
Tulisan kita yang sudah bertahun-tahun yang lalu pun masih tersimpan dengan baik. Kalau dibutuhkan, tinggal searching saja baik pada judul ataupun pada isi teks.
Keempat, naskah tulisan yang diketik di HP bisa langsung dikirimkan ke tempat yang jauh. Misalnya ke pihak penerbit, dosen atau siapa pun yang membutuhkannya.
Dikirimkan bisa lewat WA, email bahkan dipublish lewat sosial media. Maka saat ini juga tulisan kita bisa langsung dibaca oleh orang sedunia.
Kelima, menulis pakai HP juga sangat mudah dalam mencari rujukan dan referensi. Karena fungsi HP bisa juga digunakan untuk mencari lewat search engine semacam Google dan lainnya.
Ada banyak website, situs, aplikasi, buku digital atau perpustakaan online yang bisa dibaca pakai HP.
* * *
Jadi kesimpulannya kalau sekedar alat tulis insyaallah tidak ada masalah. Sudah canggih dan superkeren lah pokoknya. Tinggal yang jadi masalah adalah niat dan komitmen untuk menulis.
Kalau nggak ada niat kan susah juga. Apalagi nggak punya komitmen. Mau jadi penulis hanya sebatas wacana bahkan sekedar mimpi. Karena tulisannya nggak pernah jadi.
Tidak ada niat, tidak ada hasil
[]