Ilmu Agama dan Tokohnya
oleh Ahmad Sarwat.
Satu hal yang perlu kita sempurnakan dalam belajar ilmu agama adalah lebih mengenalkan tokoh-tokoh besar dalam bidang-bidang ilmu agama.
Jangan hanya dikenalkan dengan pahlawan perang saja, tetapi tokoh ilmuwan justru harus lebih diperbanyak. Sebab Islam itu lebih dominan sebagai agama berbasis ilmu ketimbang agama peperangan.
Bandingkan dengan ilmu-ilmu yang umum, pastinya kita kenal dengan nama tokohnya.
Ketika kita belajar fisika, pastinya kita kenal Newton, Eisntein bahkan Stephen Hawking.
Ketika kita belajar ilmu ukur, pasti kita kenal dengan Phitagoras.
Ketika kita belajar ilmu kimia, pasti kita kenal dengan Antoine Lavoisier, Mendeleyev, Dalton, Avogadro,
Ketika kita belajar filsafat, pasti kita kenal dengan Sokrates, Plato dan Aristoteles.
Jangankan ilmu pengetahuan, bahkan sekedar hobi main bola pun harus kenal dengan tokoh legendarisnya seperti Pele, Maradona, Ronaldo, Mesi, Zidan sampai Bambang Pamungkas.
***
Maka wajar ketika kita belajar agama, harus juga berkenalan dengan para tokoh besar di masing-masing cabang ilmu keislaman.
Kenalkan anak-anak kita dengan berbagai macam cabang ilmu keislaman, lengkap dengan para tokoh besar di masing-masing bidang ilmu itu.
Misalnya kita bicara ilmu tafsir, seharusnya kita berkenalan dulu dengan para ulama tafsir alias para mufassir, mulai dari kalangan shahabat, tabi’in hingga para mufassir berikutnya seperti Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Ar-Razi, Al-Qurthubi, Al-Alusy, Asy-Syaukani, Ibnu Asyur hingga Wahbah Az-Zuhaili.
Bicara ilmu hadits, seharusnya kita berkenalan juga dengan para tokoh besarnya seperti Az-Zuhri, Al-Baihaqi, Al-Bukhari, At-Tirmizy, Ar-Romahurmuzy, Ibnul Jauzy, Ibnul Mulaqin hingga Ibnu Shalah.
Bicara ilmu fiqih, tentu harus kenal siapa itu Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, An-Nawawi, Ibnu Hajar Al-Haitami, Zakaria Al-Anshari, Asy-Syirbini, Ar-Ramli, Al-Qalyubi dan seterusnya.
Bicara ilmu Ushul Fiqih juga demikian, seharusnya kita kenal dulu dengan para tokohnya seperti Asy-Syafi’i, Asy-Syasi, Ibnu Qudamah, As-Subki, Al-Asnawi, Az-Zarkasyi, dan seterusnya.
Dan bicara Ilmu Al-Quran, seharusnya kita berkenalan dengan tokohnya seperti Ad-Dinawari, Ad-Dani, Ibnul Jauzy, Ibnul Jazary, Az-Zarkasyi, Asy-Suyuthi, Az-Zurqani, hingga Husein Adz-Dzahabi.
Seharusnya anak-anak kita akrab dengan nama-nama itu. Setidaknya para santri yang belajar ilmu-ilmu keislaman di pesantren, soalnya kan mereka memang belajar ilmu keislaman. Masak sih nggak dikenalkan dengan tokoh-tokoh besarnya?
* * *
Asal tahu saja, kalau kita bingung siapa sajakah yang disebut dengan ulama, maka nama-nama yang saya tuliskan di atas itulah para ulama yang sesungguhnya.
Bagaimana? Apakah nama-nama mereka cukup familiar di tellinga kita? Semoga sudah tidak asing lagi.
Tapi kalau nama-nama mereka masih terasa asing di telinga, jangan-jangan kita memang belum kenal para ulama.
Masalahnya, kalau dengan nama-nama para ulama betulan itu saja kita merasa kurang familiar, masak sih berani ngaku-ngaku sudah berilmu?
Padahal belum disuruh sebutkan judul-judul kitab mereka, bahkan belum disuruh melengkapi nama mereka dengan angka tahun wafat.
Masalahnya, kalau dengan nama-nama para ulama betulan itu saja kita merasa kurang familiar, masak sih berani ngaku-ngaku sudah berilmu?
[]