Era Digital
oleh Ahmad Sarwat.
Dalam logika saya, era digital itu seharusnya semua berkas data berubah dari manual menjadi digital. Seharusnya kiita sudah meninggalkan zaman kertas, termasuk uang kertas sudah mulai berganti menjadi uang digital.
Namun untuk surat menyurat, baru sebagiannya saja yang berubah. Surat pribadi yang dulunya pakai kertas, ditulis pakai pulpen, dimasukkan amplop ditempeli perangko, kini sudah berubah menjadi surat digital alias email.
Dikirim sekarang, sekarang juga langsung dibaca oleh penerima. Nggak pakai nunggu berhari-hari meski sudah pakai pos kilat.
Mushaf Al-Quran dan surat Yasin juga sudah banyak yang berubah jadi buku digital, padahal dulunya berupa kertas.
Sedangkan surat tanah, surat tanda kepemilikan kendaraan bermotor, surat ijazah, surat nikah, surat izin mengemudi, dan berbagai persuratan lainnya, kita masih mempertahankan warisan nenek moyang kita berabad yang lalu.
Kita masih ngotot pakai kertas plus stempel sebagai tanda bahwa kita pemilik benda berharga.
Bagaimana dengan uang?
Uang juga mulai pindah menjadi uang digital. Kemana-mana kita tidak perlu lagi bawa uang banyak sampai dompet jadi tebal. Sekarang kita cukup bawa kartu debit, emoney atau bahkan cukup pegang HP saja. Urusan bayar-bayar tinggal klik.
Semua bisa terjadi karena Bank sudah duluan migrasi ke era digital. Semua sistem administrasi perbankan pasti sudah digital online.
Setidaknya di kantor bank saya tidak lagi menemukan mesin ketik manual, juga tidak ada buku jurnal ukuran raksasa. Soalnya semua data sudah masuk server dan diakses secara online. Boleh dibilang, bank itu sudah masuk era digital secara kaffah.
* * *
Yang masuk era digital secara kaffah juga adalah industri rekaman, baik lagu atau pun film. Buktinya kita sudah tidak bisa lagi menemukan toko kaset atau toko video secara fisik. Kaset lagu dan kaset video juga sudah lama menghilang dari pasaran, termasuk alat pemutarnya juga.
Bukan berarti zaman sekarang sudah tidak ada lagu dan video, tapi wujud fisiknya berubah jadi file MP3, mp4 dan lainnya, tidak lagi direkam secara fisik dan manual di pita kaset.
Tambah lagi beredarnya tidak lagi pakai keping CD/VCD/DVD, tapi cukup hanya lewat jaringan internet alias online.
Kalau sudah online kayak gini, ujung-ujungnya kita tidak perlu lagi memiliki koleksi kaset atau keping cakram secara fisik. Bukannya sok modern atau sok keren. Jangan tersinggung dulu.
Kalau pun kita ngotot tetap maunya pakai kaset dan cakram, terus dimana ada yang jual kaset dan keping cakram hari ini? Kalau pun punya koleksi kaset dan keping cakram, terus beli alat pemutarnya dimana?
Bukannya nggak ada yang jual, tapi amat terbatas sekali. Tidak di setiap mal dan pasar barangnya tersedia. Carinya kudu di toko antik, penjual barang jadul atau malah di pasar loak sekalian.
* * *
Sayangnya belum semua kalangan siap mental dan mengikhlaskan diri untuk hidup secara ‘kaffah’ dengan sistem non kertas alias paperless.
Dunia perbukuan bisa dijadikan contoh bagaimana lambatnya proses hijrah konversi ke era digital. Buktinya hampir semua pencinta buku yang saya kenal, rata-rata justru keukeuh dengan buku fisiknya. Mereka ogah pakai buku digital, ada 1001 alasan untuk ngotot pakai buku fisik.
Jadi apa kabar buku digital online di negeri kita?
Duh, nasibnya amat mengenaskan. Beda jauh dengan negara maju macam Amerika. Di Amrik sana ada Amazon, biangnya jutaan koleksi buku digital. Mau cari buku digital apa saja pasti tersedia.
Lucunya, kita orang Indonesia seperti diblokir oleh Amazon dengan berbagai macam ‘keribetan’ roaming dan kebijakan.
Akibatnya jutaan buku di Amazon nyaris tidak ada yang berbahasa Indonesia. Kalau pun orang kita mau beli, kudu pakai kartu kredit, tidak bisa bayar pakai Gopay, Ovo atau kartu debit.
Intinya, Amazon itu bukan kita banget. Belinya susah, bacanya tambah susah.
Wajar kalau kita terlalu amat jarang sekali lah deh dong melihat orang baca buku pakai Kindle di negeri ini.
Bukan berarti di Indonesia tidak ada buku digital, tapi yang populer hanya selevel buku bajakan saja. Kurang lebih mirip kondisi di tahun 90-an, ketika kita hanya kenal Windows bajakan.
Windows ORI zaman segitu aneh bin ajaib. Saya cukup lama untuk sadar bahwa Windows saya itu hasil dari ngerampok. Soalnya logika yang berkembang di tengah kita saat itu : ngapain beli yang original? Kan memang nggak ada yang jual?
Begitu juga dengan buku digital di masa kini. Emangnya ada tempat beli buku digital yang halal dan legal?
Lagian ngapain beli segala, kan yang haram dan hasil ngerampok juga tersedia, tinggal sedot aja.
Malah para ustadz dan kiyainya saling kirim-kiriman pdf bajakan.
Selama tokoh agamanya masih menghalalkan perampokan dan pembegalan buku, masak muridnya mau sok suci dengan beli buku digital resmi dan halal?
Nanti kualat . . .
Untunglah Al-Qur’an, Hadits dan penulisan ilmu para Ulama awal ngga dikerjakan pada jaman PDF…
[]