Blog

  • Tim Riset Sacran Hidrogel Film Untuk Terapi Regeneratif Telah Terbentuk

    Tim Riset Sacran Hidrogel Film Untuk Terapi Regeneratif Telah Terbentuk

    [Jatinangor (16/05/2017)] Sebulan lebih sekembalinya tugas belajar S3 di Jepang, akhirnya bisa membentuk tim riset yang terdiri dari 2 orang mahasiswa S2 dan 2 orang mahasiswa S1 yang dibantu oleh seorang staf peneliti dan tim dosen.

    Tim riset yang akan meneliti “Pengembangan Sacran Hidrogel Film Sebagai Terapi Regeneratif pada Luka Diabetes” yakni :

    1. Arvenda Rezky P (Mahasiswa S2)
    2. Elasari Dwi Pratiwi (Mahasiswa S2)
    3. Hana Lanasastri (Mahasiswa S1)
    4. Ripa’atul Mahmudah (Mahasiswa S1)
    5. Melinda Januarti (Staf Peneliti)

    Dengan dibantu oleh staf dosen Dr. Aliya Nur Hasanah dan Sriwidodo, M.Si.

    Riset ini merupakan lanjutan dari penelitian S3 sebelumnya dan direncanakan akan berakhir pada November 2017. Selain itu, pembentukan tim riset ini sebagai langkah berikutnya agar budaya menulis dan publikasi di jurnal internasional bereputasi tetap terjaga seperti tercantum di buku yang akan segera diterbitkan yang berjudul “Menembus Jurnal Internasional Bereputasi untuk Peneliti Pemula”

    Senin, 15 Mei 2017, adalah waktu bersejarah yang merupakan “kick off project” untuk tim riset yang terbentuk saat ini. Semoga apa yang kami lakukan hingga saat ini kedepan bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat nantinya.

  • Book Reading dan Technical Seminar, Kegiatan Rutin yang Bermanfaat Bagi Mahasiswa dan Dosen

    [Kumamoto (17/11/2016)] Kegiatan rutin lainnya yang dilakukan di Departemen tempat saya saat ini adalah “Book Reading”, yakni bedah buku teks baru atau buku ilmu dasar kefarmasian dan “Technical Seminar”, yakni penjelasan prinsip dan tata cara penggunaan alat-alat laboratorium yang digunakan dalam sebuah penelitian.

    Yang unik di Jepang adalah, jam pertama kuliah adalah Pk. 8.40, sehingga beberapa Departemen memanfaatkan waktu sebelum waktu kuliah setiap harinya. “Book Reading” dan “Technical Seminar” dilakukan 30 menit dari Pk. 08.00 pagi.

    Kegiatan ini rutin setiap 2 kali seminggu di pagi hari. Kegiatan ini sangat bermanfaat baik untuk mahasiswa juga untuk saling mengingatkan bagi dosennya.”Technical Seminar” dilaksanakan di semester ganjil, dan “Book Reading” di semester genap. Jadi jika disimpulkan, setiap paginya selalu diisi kegiatan rutin ini ditambah “paper seminar”, sisa satu hari adalah untuk “cleaning lab” atau membersihkan dan membuang sampah.

    Berikut beberapa hal terkait kegiatan “Book Reading”

    1. Setiap mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk mempresentasikan bukunya yang dibagi rata sesuai jumlah halaman dari bukunya
    2. Setiap mahasiswa membuat handout 2 halaman atau 1 lembar A4 berisi rangkuman dari halaman yang dibahas, ditambah 1 halaman untuk menjawab pertanyaan jika diperlukan
    3. Bentuk presentasi tidak menggunakan slide, tetapi hanya dibacakan dengan merunut ke hand out yang dibuat juga bukunya
    4. Dosen akan mengarahkan dan bertanya untuk memastikan mahasiswa paham, jika tidak paham kegiatan ini akan diulang di waktu yang ditentukan kemudian

    Berikut beberapa hal terkait kegiatan “Technical Seminar”

    1. Setiap mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan alat yang digunakan di penelitiannya, disini terjadi transfer ilmu dari senior ke junior
    2. Setiap mahasiswa membuat handout ringkasan prinsip dan cara kerja dari alatnya serta prosedur penggunaannya
    3. Bentuk presentasi tidak menggunakan slide, tetapi hanya dibacakan dengan merunut ke hand out yang dibuat juga membawa instrumen contohnya jika memungkinkan untuk dibawa
    4. Dosen akan mengarahkan dan bertanya untuk memastikan mahasiswa paham, jika tidak paham kegiatan ini akan diulang di waktu yang ditentukan kemudian
  • Cara Presentasi “Paper Seminar” Review Jurnal Internasional Bereputasi yang Baik

    Cara Presentasi “Paper Seminar” Review Jurnal Internasional Bereputasi yang Baik

    [Kumamoto-16/11/2016] Seminggu dua kali, tepatnya setiap jam 7.30 hingga 9 pagi diselenggarakan “Paper Seminar” yakni presentasi mer-review Jurnal Internasional terbaru bereputasi oleh mahasiswa di Departemen tempat saya berada saat ini.

    Di halaman ini akan memberikan “Cara Presentasi “Paper Seminar” Review Paper Jurnal Internasional Bereputasi yang Baik” untuk diterapkan di Laboratorium saya kelak.

    Persyaratan dan proses “paper seminar” di Jepang

    1. Paper atau jurnal yang dipilih dengan topik sesuai minat dan penelitian yang dilakukan mahasiswa
    2. Jurnal dengan Impact Factor >5 dengan waktu maksimal 1 tahun terakhir
    3. Calon jurnal yang dipilih harus dikirim melalui e-mail milis departemen/laboratorium sebulan sebelum pelaksanaan, jika disetujui dosennya boleh dipilih
    4. Mahasiswa membuat 2 file, hand out dan presentasi, dikirim minimal 1 hari sebelum presentasi melalui e-mail
    5. Isi presentasi bukan hanya membahas jurnal yang dipilih, melainkan jurnal pendukung bisa referensi atau mencari yang terkait terutama untuk menjelaskan latar belakang
    6. Peserta adalah seluruh mahasiswa yang melakukan penelitian di departemen beserta dosen-dosennya dengan membawa laptop untuk melihat file handout dan presentasi, serta browsing sumber lain jika diperlukan
    7. Dilaksanakan dalam waktu 150 menit, terdiri dari presentasi dan diskusi
    8. Waktu presentasi dibagi 2 bagian, bagian pertama pendahuluan, dilanjutkan jika berhasil mempresentasikannya dan dianggap dimengerti oleh mahasiswa terutama dosennya memberi kode boleh melanjutkan ke bagian hasil, diskusi dan pembahasan serta kesimpulan
    9. Jika mahasiswa gagal mempresentasikan dan dianggap tidak menguasai bahan jurnalnya, diulangi di pertemuan yang akan ditentukan kemudian
    10. Setiap mahasiswa dalam satu semester melakukan 1 kali presentasi, kecuali program doktor 2 semester 3 kali.

    Berikut adalah contoh file hand out

    [embeddoc url=”https://blogs.unpad.ac.id/nasrul/wp-content/uploads/sites/16214/2016/11/Nasrul-The-5th-Paper-seminar.pdf” viewer=”google”]

    Berikut adalah contoh file presentasi

    [embeddoc url=”https://blogs.unpad.ac.id/nasrul/wp-content/uploads/sites/16214/2016/11/Nasrul-paper-seminar-010616-Accelerated-wound-healing-.pdf” viewer=”google”]

    Kegiatan ini sangat bermanfaat terutama untuk

    1. Mengetahui dan mengerti isu terkini di bidang penelitian yang dilakukan mahasiswa
    2. Mengetahui dan mengerti bagaimana tingkat kedalaman penelitian jika ingin penelitiannya dipublikasikan di jurnal bersangkutan
    3. Membiasakan mahasiswa dan meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris dalam memahami jurnal internasional
    4. Secara tidak langsung bisa meningkatkan kualitas penulisan ilmiah untuk penelitian yang dilakukan mahasiswa
  • Cara Memindahkan Gambar Hasil Penelitian dari Powerpoint ke Word yang Benar

    Cara Memindahkan Gambar Hasil Penelitian dari Powerpoint ke Word yang Benar

    Kumamoto (14/11/2016). Hal yang dianggap mudah, tetapi ternyata perlu trik khusus untuk memindahkan gambar hasil penelitian dari microsoft powerpoint ke word dengan baik tanpa konversi bentuk (save as) dan tanpa menurunkan resolusi gambar. Selain itu, tetap mudah mengatur posisi gambar sesuai yang diinginkan. Cara dibawah ini cocok untuk penulisan skripsi, tesis, atau disertasi, khusunya untuk mahasiswa/i bimbingan saya.

    Mengapa gambar hasil penelitian harus di buat di powerpoint? hal ini untuk membiasakan ketika submit ke Jurnal Internasional bereputasi, dimana bentuk powerpoint dengan satu halaman satu gambar adalah format yang diterima oleh kebanyakan jurnal ilmiah. Oleh karenanya, laporan kemajuan penelitian wajib dibuat di powerpoint.

    Hal yang sering dilakukan ketika memindahkan gambar adalah “copy” dari powerpoint dan “paste special” di word, nah paste disini bisa ke berbagai format, dan hal ini hendaknya ditinggalkan karena bisa merubah resolusi gambar sehingga buram ketika di print. “Paste special” diperlukan karena untuk mempermudah pengaturan posisi dari gambar dengan mengatur konfigurasi “wrap text” selanjutnya.

    Cara yang paling efektif adalah dengan menggunakan fitur sederhana “group” dan “ungroup”, serta “text wrap”. Berikut adalah contohnya.

    cara2

    Bisa dilihat, diatas tulisan Fig.17.  ada ruang untuk penempatan gambar hasil penelitian yang akan dipindahkan dari powerpoint.

    cara

    Select all, gambar yang akan dipindahkan kemudian grouping. Harap diingat, pengeditan gambar atau tata letak detil gambar hasil penelitian harus dilakukan di powerpoint, jadi di word tidak ada lagi pengeditan gambar.

    cara3

    Langkah berikutnya adalah atur “wrap text”, pilih “in front of text” agar lebih mudah untuk mengaturnya. Kemudian aturlah posisi sesuai yang diinginkan.

    cara4

    Akan timbul sedikit masalah ketika memindahkan gambar bentuk grafik. Hal yang sama seperti diatas dilakukan namun tahap terakhir ada yang sedikit berbeda untuk menghilangkan kotak pada grafiknya.

    cara5

    Pindahkan ke word, atur “wrap text”, kemudian “ungroup”, dan pilih “no outline” untuk menghilangkan kotak yang mengganggu.

    cara6

    Sehingga gambar grafik akan memiliki resolusi yang sama dengan di powerpoint.

    cara7

  • Cara Menulis Bagian Hasil dan Diskusi Terpisah Untuk Publikasi di Jurnal Internasional

    Cara Menulis Bagian Hasil dan Diskusi Terpisah Untuk Publikasi di Jurnal Internasional

    Kumamoto (13/11/2016). Setelah sebelumnya membahas bagaimana cara membuat abstrakpendahuluan, alat, bahan dan metode, serta diskusi dan pembahasan yang disatukan. Kini saatnya untuk memberikan tips bagaimana caranya untuk membuat diskusi yang terpisah dari hasil untul publikasi di Jurnal Internasional yang bereputasi.

    Tulisan di halaman ini khususnya untuk mahasiswa bimbingan saya agar mengikuti tata cara penulisannya. Perlu diketahui bahwa tujuan membuat sebuah karya ilmiah termasuk artikel ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi tujuannya adalah melaporkan penelitian yang telah dilakukan agar bisa tersampaikan dan dimengerti bagi yang membacanya.

    Oleh karenanya, saya sebut karya ilmiah itu adalah sebuah seni dalam menulis. Semua orang bisa memiliki gaya sendiri dalam menulis. Di bawah ini adalah gaya penulisan yang saya terapkan dalam penulisan disertasi saat ini.

    Berikut adalah poin-poin penting di bagian RESULT

    1. Satu paragraf untuk satu topik atau eksperimen percobaan
    2. Diantara paragraf harus koheren, ada alur cerita yang saling terkoneksi
    3. Isi dari hasil terdiri dari kalimat : pendahuluan/latar belakang, tujuan penelitian, metode penelitian, hasil, kesimpulan

    Contoh bagian paragraf hasil

    Generally, it is important for HGFs to have an amorphous state due to a high thermodynamic activityTo investigate the crystalline or amorphous state of the Sac-HGF, we analyzed the X-ray diffraction (XRD) pattern of the HGFs. Approximately 2.5 x 2.5 mm2 of the HGFs were scanned by X-ray diffractometer. As shown in Fig. 9, the XRD patterns of the Sac-HGF and Na-Alg-HGF were amorphous patterns. These results suggest that both the Sac-HGF and Na-Alg-HGF have a high thermodynamic activity.

    Berikut adalah poin-poin penting di bagian DISCUSSION

    1. Satu paragraf untuk satu topik atau eksperimen percobaan
    2. Diantara paragraf harus koheren, ada alur cerita yang saling terkoneksi
    3. Setiap paragraf bagian diskusi saling terhubung dengan bagian hasil
    4. Isi dari diskusi terdiri dari kalimat : pendahuluan, alasan hasil penelitian/dari jurnal lainnya, hasil (tunjukan gambar) dan kesimpulan

    Contoh bagian paragraf kesimpulan

    An amorphous hydrogel with high thermodynamic activity is tended to be essential for wound dressing application. Recently, Das et al. proved that a silver nanoparticle loaded amorphous hydrogel of carboxymethylcellulose (SNP-CMC) could be used for filling deep wounds of irregular shapes. The absorbing property of SNP-CMC gel would help in removing the exudates and prevent wound maceration, while the donation property would help in debridement of dead tissue. These properties would ensure a moist wound environment and facilitate early wound healing. In other study, hypromellose succinate-crosslinked chitosan HGFs showed an amorphous XRD pattern, which could absorb more drugs than their parent polymers, and undergo sustained drug release. In this study, the Sac-HGF showed amorphous form (Fig. 9), suggesting the potential as a wound dressing material.

  • Format Laporan Kemajuan dan Log Book Penelitian Untuk Mahasiswa Tingkat Akhir

    Format Laporan Kemajuan dan Log Book Penelitian Untuk Mahasiswa Tingkat Akhir

    Kumamoto (11/11/2016). Dalam melakukan sebuah penelitian diperlukan pendokumentasian yang baik bagi setiap mahasiswanya. Jika dibiasakan, hal ini akan mempermudah baik dalam penulisan skripsi Sarjana, tesis Magister, maupun disertasi Doktor.

    Dokumentasi itu diantaranya adalah laporan kemajuan mingguan atau bulanan, dan log book penelitian. Khususnya untuk laporan kemajuan sebaiknya telah dalam bentuk gambar dengan standar publikasi di Jurnal Internasional bereputasi.

    Setiap dosen akan memiliki aturan sendiri untuk mahasiswa bimbingannya. Di halaman ini akan dijelaskan khususnya untuk mahasiswa bimbingan saya wajib mengikuti format laporan kemajuan dan log book penelitian di bawah ini.

    Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat laporan kemajuan

    1. Buat laporan kemajuan di powerpoint (ppt), A4
    2. Cantumkan sedikitnya informasi nama dan tanggal pertemuan laporan kemajuan di bagian atas laporan kemajuan
    3. Cantumkan topik penelitian, judul penelitian, tujuan penelitiantopik
    4. Tuliskan outline/daftar isi dari laporan kemajuan yang akan dilaporkan
    5. Tuliskan judul dan tujuan dari eksperimen
    6. Tuliskan prosedur/protokol singkat penelitian, gunakan tabel jika perlulaporan-kemajuan
    7. Di bagian hasil, cantumkan gambar sesuai format publikasi Jurnal Internasional
    8. Cantumkan halaman laporan kemajuanhasil
    9. Rencana selanjutnya, terinci dengan waktu pelaksanaanfuture-plan

    Contoh laporan kemajuan EVI SULASTRI – PROGRESS REPORT

    Hal yang harus diperhatikan dalam log book penelitian,

    1. Log book adalah catatan dokumentasi selama penelitian, semua yang dilakukan dicatat dalam log book sebagai bahan laporan kemajuan untuk didiskusikan, sehingga log book wajib dibawa seketika melaporkan laporan kemajuannya
    2. Bagian di log book yakni, tanggal penelitian, nomor penelitian, judul eksperimen, tujuan eksperimen, prinsip/skema, protokol/prosedur, hasil termasuk data mentah, dan diskusiloog-book
  • Mekanisme Antiradang dari Polisakarida Baru, Sacran

    Mekanisme Antiradang dari Polisakarida Baru, Sacran

    Kumamoto (6/11/2016). Besok adalah laporan bulanan rutin, seperti biasanya dalam mempersiapkan laporan ini harus mampu menjelaskan alasan mengapa hasilnya seperti tercantum di laporan. Oleh karenanya, sambil membaca jurnal yang telah dipublikasikan, sekalian juga menulis untuk berbagi di website ini.

    Jurnal yang akan dibahas di halaman ini berjudul “Anti-inflammatory Effects of Novel Polysaccharide Sacran Extracted from Cyanobacterium Aphanothece sacrumin Various Inflammatory Animal Models”

    Untuk mengetahui apa itu sacran dan latar belakang tulisan ini, bisa membaca artikel berikut ini : Polisakarida Baru Sacran Potensial Mempercepat Penyembuhan Luka.

    Dihalaman ini akan lebih rinci dijelaskan secara ilmiah tepatnya di bagian hasil dan diskusi dari jurnalnya.

    Uji pra klinis sacran menggunakan berbagai model hewan inflamasi

    Sacran menunjukkan efek anti-inflamasi kuat dengan konsentrasi yang optimum efektif pada 0,01 dan 0,05% (w / v). Sacran secara nyata menghambat pembekakan kaki dan infiltrasi neutrofil dalam kaki edema tikus yang diinduksi karagenan

    Efek ini mirip dengan (4-biphenyl acetic acid) BPAA sebagai obat referensi pada konsentrasi yang sama. Obat non-steroid anti-inflamasi seperti BPAA, metabolit aktif dari fenbufen, bertindak sebagai inhibitor poten dari sintesis prostaglandin yang merupakan mediator penting dari inflamasi akut).

    Berdasarkan temuan ini, kemampuan sacran untuk mengurangi pembentukan edema di tikus karagenan diinduksi mungkin dikaitkan dengan efek penghambatan pada sintesis prostaglandin. Sebuah penelitian serupa dilaporkan untuk aktivitas anti-inflamasi fucan, polisakarida sulfat, terhadap edema kaki tikus yang diinduksi karagenan.

    6,7-dimetoksi-1-metil-2 (1H) -quinoxalinone-3-propionil-asam karboksilat (DMEQ) sacran -labeled memiliki kemampuan untuk menembus kulit kaki tikus yang diinduksi karagenan dibanding kulit normal.

    Senyawa flueresensi DMEQ untuk deteksi sacran menembus kulit tikus diamati pada epidermis dan dermis lapisan dalam kak edema tikus yang diinduksi karagenan. Hasilnya terlihat senyawa fluoresensi itu mampu memperlihatkan sacran dapat menembus ke dalam epidermis kulit edema.

    Sacran secara signifikan menekan edema kaki tikus yang diinduksi kaolin dan dekstran

    Model kedua peradangan akut digunakan dalam penelitian ini diinduksi dengan kaolin. Larutan Sacran pada konsentrasi 0,01 dan 0,05% (w / v) secara signifikan memperlihatkan penghambatan yang menonjol dari tikus kaki edema diinduksi kaolin.

    Telah dilaporkan bahwa respon inflamasi terhadap induksi kaolin dimediasi oleh kinins dan terutama oleh prostaglandins. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan aktivitas anti-inflamasi sacran yang bisa setidaknya sebagian melalui penghambatan biosintesis prostaglandin.

    Dekstran adalah agen phlogistis terkenal yang menginduksi kaki edema sebagai akibat dari pembebasan histamin dan serotonin dari mast cells. Larutan Sacran (0,05% (w / v)) efisien menekan kaki edema yang diinduksi dextran.

    Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa larutan sacran menurunkan rilis β-hexosaminidase dalam sel RBL-2H3, yang sekarang dikenal menjadi analog dari sel mast tikus mukosa, menunjukkan penghambatan degranulation pad sel mast.

    Hasil ini menunjukkan bahwa efek anti nflamasi sacran dapat berkontribusi untuk inhibisi tidak hanya prostaglandin tetapi juga mediator inflamasi lainnya.

    Sacran secara signifikan menekan 12-O-tetradecanoylphorbol-13-asetat (TPA) edema telinga mencit dan ekspresi mRNA tingkat siklooksigenase (COX) -2 serta sitokin pro-inflamasi seperti tumor necrosis factor (TNF) -α , interleukin (IL) -1β, dan IL-6.

    Fitur inflamasi edema telinga tikus dengan 12-O-Tetradecanoylphorbol-13-acetate (TPA) ditandai dengan edema, hiperplasia epidermal dan infiltrasi sel inflamasi serta pembebasan mediator inflamasi seperti COX-2, IL-6, TNF-α, dan IL-1β di kulit tikus.

    Penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi topikal 0,05% (w / v) larutan sacran secara signifikan menekan edema telinga yang diinduksi TPA dan tingkat ekspresi mRNA COX-2 serta sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α, IL- 1β, dan IL-6. Hasil ini menunjukkan bahwa efek anti-inflamasi dari larutan sacran mungkin akibat dari ekspresi down-regulation TPA diinduksi COX-2, IL-1β, IL-6, dan TNF-α.

    Mengapa sacran memiliki efek anti inflamasi

    Sacran adalah glycosaminoglycanoid cyanobacteria yang unik. Efek anti-inflamasi yang ditampilkan oleh sacran bisa berhubungan dengan kemiripan struktur kimia dari glikosaminoglikan, yakni polisakarida sulfat, yang memiliki banyak efek bioaktivitas.

    Kandungan sulfat dan karboksil yang tinggi pada glikosaminoglikan memungkinkan mereka untuk berinteraksi dengan berbagai protein, enzim, sitokin, kemokin, lipoprotein, dan adhesi molecules.

    Ngatu et al. melaporkan bahwa aplikasi epicutaneous dari sacran untuk 2,4,6-trinitrochlorobenzene-diinduksi tikus NC / Nga secara signifikan menghambat perkembangan lesi kulit dermatitis alergi, dan penurunan jumlah episode perilaku menggaruk dengan meningkatkan stabilitas, elastisitas, dan hidrasi penghalang kulit serta menghambat produksi T-helper 2 (Th2) sitokin (IL-4, IL-5), Th1 sitokin (TNF-α, interferon-γ (IFN-γ)) dan kemokin inflamasi seperti monosit kemotaktik proteinuria 1 (MCP-1) dan eotaksin; dengan demikian, menghambat imunoglobulin E (IgE) dan infiltrasi eosinofilik di mencit. Sifat unik ini dipamerkan oleh sacran yang tidak umum terdapat di polisakarida yang memiliki banyak gugus sulfat.

    Hasil dari penelitian ini menunjukkan aktivitas anti-inflamasi larutan sacran bergantung pada konsentrasi, dengan konsentrasi yang efektif optimum pada 0,01 dan 0,05% (w / v).

    Efek ini berkaitan dengan sifat rantai sakarida seperti muatan listrik atau rantai konformasi. Baru-baru ini, Mitsumata et al. menunjukkan bahwa, dalam rezim encer kurang dari 0,09% (w / w), rantai tunggal sacran menempati volume bebas globul dengan diameter panjang yang fluktuasi. Sementara itu, di rezim terkonsentrasi rantai sacran kehilangan muatan listrik dan membentuk helixes ganda di 0,1% (b / b) karena penurunan gaya tolak listrik pada rantai sakarida.

    Selain itu, terbentuk gel yang lemah di 0,2% (w / w). Sebuah domain makroskopik kristal cair diamati pada konsentrasi lebih dari 0,2% (w / w) mungkin karena sifat hidrofobik silang antara helixes ganda, menunjukkan rantai panjang. Sebagai akibatnya, dari sudut pandang biologis, mekanisme pembentukan gel dari rantai sacran sangat penting yang dapat mempengaruhi struktur molekul, ukuran dan panjang serta penetrasi kulit melalui jaringan yang meradang.

    Keselamatan dan keamanan sacran diverifikasi oleh tidak adanya sitotoksisitas dalam sel HaCaT. Hasil ini menunjukkan bahwa sacran mungkin berguna sebagai agen terapi terhadap penyakit kulit inflamasi tanpa efek samping yang mengancam jiwa.

    Sumber :

    K. Motoyama, Y. Tanida, K. Hata, T. Hayashi, I.I.A. Hashim, T. Higashi, Y. Ishitsuka, Y. Kondo, T. Irie, S. Kaneko, H. Arima, Biological and Pharmaceutical Bulletin, 39 (2016) 1172-1178. http://doi.org/10.1248/bpb.b16-00208

  • Tips Cara Mengelola File Skripsi,Tesis, atau Disertasi Dengan Baik

    Kumamoto (3/11/2016). Di era digital ini segala hal bisa membuat lebih mudah, termasuk dalam pengorganisasian atau pengelolaan file skripsi, tesis, atau disertasi untuk memperlancar proses penulisan dan bimbingan dengan para dosennya.

    Tips di halaman ini diperuntukkan untuk mendokumentasikan apa yang telah saya lakukan saat ini dan untuk mahasiswa bimbingan saya kelak, juga bisa dipergunakan untuk mahasiswa lainnya.

    1. Backup online dan integrasikan dengan PC

    Mengapa sistem backup online  menjadi yang pertama? karena ini merupakan awal dimana file penting harus disimpan, walau sebenarnya bisa di atur belakangan, namun tidak ada salahnya mulai rapi sejak awal.

    Selain itu, sudah bukan zamannya lagi akibat kerusakan atau kehilangan laptop/PC membuat skripsi tertunda. Saatnya pergunakan sistem “cloud”.

    Banyak yang memberikan layanan gratisan untuk penyimpanan file secara online, tapi harus diperhatikan pada waktu tertentu ketika kapasitas penyimpanan melebihi quota gratisnya akan diminta untuk berbayar.

    Sebagai mahasiswa, tentunya fasilitas gratis pilihan utama. Disini saya lebih memilih produk google, mengapa? karena memberikan gratis penyimpanan 15 GB untuk satu e-mail google, lebih dari cukup untuk sebuah skripsi, desertasi, atau tesis. Jika kurang tinggal buat gmail lainnya.

    Selain itu, layaknya fitur penyedia lainnya telah tersedia sistem integrasi dengan desktop atau PC, baik dengan sistem Mac, Windows, atau mobile IOS dan Android. Tentunya sistem privasi dan keamanan akan lebih terjaga dengan perusahaan raksasa google.

    Langkah pertama tentunya buat e-mail google (gmail) kemudian install atau download versi desktop melalui link berikut ini

    https://tools.google.com/dlpage/drive/index.html?hl=id

    Maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini

    google-drive

    Setelah berhasil diinstall, maka otomatis akan muncul folder google drive di Windows Explorer atau Finder (Mac) seperti di bawah ini

    drive

    Selanjutnya ikuti petunjuk berikutnya.

    2. Simpan dan susun rapi dalam folder khusus

    Tanpa disadari, file dokumen, baik itu dalam bentuk word, excel, powerpoint, pdf, gambar dan lainnya penting untuk disimpan dengan rapi.

    Sebagai contoh, buatlah folder khusus untuk artikel/jurnal di folder google drive, folder ini akan otomatis tersinkronisasi secara online jika menemukan jaringan internet. Kemudian buat folder skripsi untuk menyimpan file skripsinya. Pisahkan pula file gambar di folder yang berbeda.

    Kelebihannya, ketika menggunakan PC berbeda, kita bisa langsung mengambil atau mengedit file yang telah disimpan di google drive, syaratnya log in ke situs google drive nya di https://www.google.com/intl/id/drive/

    google-drive

    Ibaratnya seperti di perpustakaan, menyimpan buku di raknya dengan rapi membuat mudah mencari dimana file yang akan dicari.

    3. Sistem penamaan file yang baik

    Setelah membuat folder atau tempat menyimpan file, saatnya untuk membuat nama file yang benar. Berikut beberap tips untuk penamaan file yang  baik

    • Buat sistem penamaan yang jelas dan terstruktur, dengan kata lain konsisten sistem penamaan seperti apa yang akan dibuat, misal, Bab_1_Ver_1
    • Jangan menghapus/replace file sebelumnya, terkadang seketika dosen meminta revisi maka harus dihapus bagian tertentu atau dilakukan penambahan, maka kita harus merevisinya dan tekan “save as” menjadi versi berikutnya, contoh, Bab_1_Ver_2, suatu saat pasti kalian akan memerlukan file awal sebelum direvisi.
    • Untuk dosen juga demikian, nantinya jika direvisi, maka akan mengembalikan ke mahasiswanya dengan nama file versi berbeda, misal, Bab_1_Ver_3
    • Bisa juga menggunakan sistem penanggalan di nama filenya,  misal Bab_1_03112016, menurut saya sistem Versi lebih baik karena tanggal otomatis ada di bagian file propertiesnya, dengan sistem pencarian “date modified”.

    4. Proteksi keamanan file

    share-drive

    Google drive dan juga aplikasi lainnya menyediakan sistem “share link”, pergunakanlah sistem ini sebaik mungkin, hati-hati dalam mengelola proteksi untuk publik termasuk kelebihan google, bisa diatur untuk mengedit secara online melalui google document.

  • 5 Hal Penting Agar Setiap Penelitian Bisa Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi

    5 Hal Penting Agar Setiap Penelitian Bisa Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi

    Kumamoto (1/11/2016). Manuscript ketiga akhirnya telah siap meluncur untuk proses submission yang rencananya akan di publikasikan di International Journal of Biological Macromolecules.

    Banyak para peneliti yang mampu mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal memiliki IF yang sangat tinggi, semakin bereputasi suatu jurnal internasional maka semakin baru, mendalam dan kompleks penelitian yang dilakukannya.

    Ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan untuk dijadikan bahan panduan baik untuk saya maupun mahasiswa/i bimbingan saya kelak.

    Berikut ini adalah hal-hal yang harus dilakukan jika penelitian di bidang farmasi, khususnya farmasetika ingin di publikasikan di jurnal internasional bereputasi.

    1. Tema penelitian baru

    Alasannya sederhana, mari kita telusuri dari sudut non-ilmiah. Menyelami dunia blogging ternyata publisher jurnal internasional juga mengikuti pola-pola yang dilakukan oleh para blogger.

    Publisher sangat berkeinginan untuk meningkatkan reputasi jurnal-jurnal yang dikelolanya dengan output banyaknya yang mengakses dan download, banyaknya akses bisa didapat dari tema baru dan tema yang dicari para peneliti. Selain itu, mesin pencari akan menempatkan di halaman pertama untuk tema penelitian yang benar-benar belum di publikasikan.

    Dari sisi ilmiah, tema penelitian baru akan menjawab permasalahan sebelumnya dan menemukan hal baru yang bisa bermanfaat baik bagi kelompok peneliti maupun masyarakat luas nantinya. Otomatis, reputasi jurnal pun akan terangkat dengan banyaknya yang mencari jurnal tersebut.

    Beruntung bagi saya mengambil topik terkait polisakarida dari ganggang air tawar yang baru ditemukan di sungai daerah Kumamoto. Namanya Sacran yang memiliki berat molekul paling tinggi di dunia.

    [Baca : Polisakarida Baru Ini Potensial Mempercepat Penyembuhan Luka]

    2. Eksperimen yang dilakukan belum pernah dipublikasikan

    Satu pertanyaan dari profesor saya yang pada akhirnya disadari bahwa itulah inti jika penelitian kita ingin dipublikasikan di jurnal internasional.

    “please check, are there any journals doing this experiment?”

    Maksud belum pernah dilakukan disini adalah penelitian yang kita kerjakan belum dipublikasikan walaupun menggunakan metode yang telah dipublikasikan, paling penting adalah tidak ada seorang pun yang mengerjakan penelitian dengan bahan yang kita gunakan.

    Contohnya, banyak yang meneliti polisakarida yang digunakan untuk mengobati luka, tapi tidak ada yang meneliti terkait Sacran.

    3. Jenis dan kedalaman eksperimen menggambarkan jurnal yang akan disubmit

    Dalam bidang farmasetika terutama terkait pra formulasi dan formulasi suatu sediaan farmasi, poin-poin berikut ini yang perlu diperhatikan :

    1. Karakterisasi sediaan yang dibuat
    2. Pengujian sediaan in vitro
    3. Pengujuan sediaan in vivo
    4. Mekanisme terapi hingga tingkat DNA

    Kebetulan, penelitian saya termasuk penelitian dasar yang mudah dilakukan nantinya di Indonesia. itulah sebenarnya yang menjadi salah satu alasan mengapa memilih departemen saat ini.

    Untuk poin 4, merupakan tahapan advanced yang biasanya selalu ada di jurnal bereputasi tinggi seperti nature.

    Penelitian saya saat ini hanya sampai poin 3, tetapi harus mampu menjawab mekanisme berdasarkan asumsi dan hasil penelitiannya.

    Dapat diambil kesimpulan bahwa, satu penelitian minimal memiliki 10 gambar atau 10 pengujian yang dilakukan. Dari kesepuluh gambar ini bisa disatukan hingga nantinya total menjadi sekitar 5-6 gambar dengan beberapa poin.

    4. Kesimpulan penelitian signifikan baik

    Ini adalah rahasia yang perlu diketahui agar membiasakan diri setiap penelitian memiliki output publikasi.

    Dari satu paper penelitian yang dikerjakan, awalnya tidak sesuai apa yang dihipotesakan. Ada beberapa eksperimen yang hasilnya mengecewakan, oleh karenanya bagian tersebut tidak dipublikasikan sehingga merubah story line atau alur cerita penelitiannya.

    Ingat! bukan merubah atau memanipulasi hasil, tapi hasil tersebut tidak dipublikasikan dan mencari jalan keluar dari sudut pandang lainnya.

    Contohnya, saya membuat kombinasi sacran dengan berbagai jenis siklodektrin alpa, beta, dan gama, ternyata hanya gama yang memiliki hasil yang bagus. Sehingga yang dilaporkan hanya yang gama, padahal untuk alpa dan beta saya juga mengerjakannya hingga tuntas. Itulah namanya karya seni ilmiah!

    5. Membiasakan menulis

    Sederhana tapi sulit, tanpa disadari memulai mengetik atau menulis artikel populer walau dalam bahasa indonesia membawa kita untuk mudah dalam menulis artikel ilmiah.

    Contoh kasus, saya menulis beberapa artikel di bawah ini

    1. Alasan Kurkumin Efektif Mempercepat Penyembuhan Luka di Kulit
    2. Alasan Ilmiah Antioksidan Penting dalam Proses Penyembuhan Luka Kronis
    3. Alasan Ilmiah Lamanya Waktu Penyembuhan Luka Pada Penyakit Kronis
    4. Transplantasi Sel Punca dan Polimer Berpori Efektif Sembuhkan Luka Diabetes
    5. Pentingnya Siklodekstrin dalam Industri Makanan, Kosmetik, dan Farmasi
    6. Penggunaan Siklodekstrin Bisa Menjawab Masalah Resistensi Antibiotik
    7. Peranan Hidrogel Berbasis Polisakarida Interpenetrasi dalam Rekayasa Jaringan

    Padahal semua artikel diatas adalah bahasan untuk bahan publikasi di jurnal internasional. Dengan kata lain, carilah sebuah metode yang membuat terbiasa untuk menulis, baik itu bentuk novel, buku ajar, dan lainnya.

    Yang paling penting adalah rutinitas! sadar tidak sadar selain bermanfaat bagi diri sendiri, juga bermanfaat bagi orang banyak.

  • Desertasi Untuk Raih PhD di Jepang Sangat Tipis Tapi Penuh dengan Makna

    Desertasi Untuk Raih PhD di Jepang Sangat Tipis Tapi Penuh dengan Makna

    Kumamoto (31/10/2016). Saat ini saya sedang menyusun Desertasi atau disini dikenal dengan Doctor Thesis, dan sekarang telah mencapai bagian Chapter 1 atau Bab I.

    Berbeda dengan Skripsi Sarjana dan Tesis Magister yang saya buat sebelumnya dimana lebih tebal, salah satunya karena bagian penelusuran pustaka.

    Begitu terkejut ketika melihat sebuah contoh Desertasi dengan jumlah halaman hanya 41 dengan 21 gambar. Tetapi, ketika ditanya isinya, setiap bagian berisi tulisan ilmiah yang penuh makna dengan dijelaskan secara singkat dan padat.

    Alasan mengapa Desertasi di Jepang bisa tipis?

    Alasannya sangat sederhana, desertasi layaknya sebuah karya seni ilmiah yang dibuat sebagai laporan singkat selama studi S3 dimana semua teknik penulisan mengacu pada pembuatan sebuah jurnal ilmiah untuk publikasi internasional.

    Penelusuran atau tinjauan pustaka dirangkum dalam sebuah pendahuluan (introduction) dengan teknik penulisan seperti membuat publikasi jurnal internasional.

    Chapter selanjutnya adalah satu penelitian, sebagai contoh saya akan memiliki 3 chapter dari 3 publikasi ilmiah saya. Perlu sedikit perjuangan agar ada korelasi cerita atau alur cerita layaknya membuat skenario dalam sebuah film. Dalam tiap chapternya akan berisi, introduksi, hasil dan diskusi, serta summary. Dengan demikian sebenarnya Desertasi adalah penggabungan dari publikasi jurnal yang dimiliki seorang PhD candidate.

    Bagian lainnya yang tak kalah penting, seperti “abstract”, “acknowledgement”,”material methods”,”conclusion” dan “references”.

    Jadi wajar rasanya halaman desertasi di Jepang sangat minim tetapi penuh dengan makna.