{"id":158,"date":"2026-01-08T16:11:53","date_gmt":"2026-01-08T16:11:53","guid":{"rendered":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/?p=158"},"modified":"2026-01-09T10:20:07","modified_gmt":"2026-01-09T03:20:07","slug":"pertemuan-terakhir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/2026\/01\/08\/pertemuan-terakhir\/","title":{"rendered":"Pertemuan Terakhir"},"content":{"rendered":"<p>Hujan turun dengan tenang sore itu. Tidak deras, hanya gerimis yang cukup membuatku mengancing jaket dan menggenggam payung lebih erat. Waktu hampir pukul lima sore. Dan aku, sudah menunggunya\u2014di tempat yang dulu pernah jadi saksi kami: bangku taman kecil di samping perpustakaan kota.<br \/>\nSudah lama kami tidak bertemu. Sudah berapa bulan? Aku bahkan tidak yakin dia akan datang. Tapi dia datang.<br \/>\nMasih dengan langkah yang sama.<br \/>\nMasih dengan senyum yang sederhana.<br \/>\nMasih dengan tatapan yang membuatku ingin menetap\u2014meski aku tahu tak pernah ada rumah untukku di sana.<br \/>\n\u201cMaaf, aku terlambat,\u201d katanya sambil duduk di sampingku. Suaranya masih lembut.<br \/>\nAku menggeleng pelan.<br \/>\n\u201cNggak apa-apa. Yang penting kamu datang.\u201d<br \/>\nDia tersenyum. Tapi aku tahu, senyum itu tidak seperti dulu. Ada sesuatu yang belum dia katakan. Dan aku\u2026 entah kenapa\u2026 bisa merasakannya.<br \/>\n\u201cAku&#8230; akhir-akhir ini banyak pikiran,\u201d ujarnya setelah beberapa saat hening.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKayaknya keluarga mulai serius mau kenalin aku sama seseorang.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Dunia tiba-tiba mengecil.<br \/>\n\u201cOh&#8230;\u201d<br \/>\nItu saja yang sanggup kuucapkan.<br \/>\n\u201cAku belum bilang \u2018iya\u2019, kok,\u201d katanya cepat. \u201cTapi\u2026 aku juga belum bisa bilang \u2018tidak\u2019.\u201d<br \/>\nAku menunduk. Menggenggam tangan sendiri.<br \/>\nMenahan dada yang terasa makin sesak.<br \/>\n\u201cKalau kamu bilang \u2018tidak\u2019&#8230; apa itu karena aku?\u201d tanyaku akhirnya.<br \/>\nDia menatapku. Dalam. Tapi mata itu seperti tak ingin terlalu jujur.<br \/>\n\u201cAku&#8230; bingung,\u201d bisiknya.<br \/>\n\u201cKamu baik. Tapi kamu juga&#8230; terlalu diam.\u201d<br \/>\nAku terdiam. Kata-kata itu menamparku dengan lembut.<br \/>\nMenyadarkan bahwa rasa, tanpa keberanian, hanya akan jadi kenangan.<br \/>\n\u201cTerima kasih&#8230;\u201d ucapku pelan.<br \/>\n\u201c\u2026karena sudah mau menemuiku.\u201d<br \/>\nDia tersenyum. Kali ini sedikit mengendurkan hatiku.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKamu akan selalu jadi bagian dari puisi-puisiku.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>\u201cDan kamu akan selalu jadi bagian dari doaku,\u201d jawabku.<br \/>\nHujan makin merintik. Gerimis yang jatuh ke daun flamboyan di atas kepala kami seolah menangisi sesuatu yang tak ingin kami ucapkan.<br \/>\n\u201cKalau ini terakhir kali kita ketemu&#8230; kamu akan baik-baik saja?\u201d tanyanya.<br \/>\nAku menatapnya.<br \/>\n\u201cAku akan baik. Tapi tidak segera.\u201d<br \/>\nDia bangkit. Payungnya terbuka\u2014merah muda, seperti biasa. Dia melangkah pelan, meninggalkan jejak basah di jalan taman.<br \/>\nDan aku hanya bisa memandangi punggungnya yang perlahan menghilang.<br \/>\nAku tidak mengejarnya.<br \/>\nKarena aku tahu: Jika cinta tak cukup untuk membuat kita tetap bersama, maka melepaskannya adalah bentuk tertulus dari menyayanginya.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKadang yang paling menyakitkan dari cinta\u2026 adalah ketika kita terlalu lambat untuk bersuara.<br \/>\nDan yang kita cintai&#8230; akhirnya memilih pergi, bukan karena tak cinta, tapi karena kita terlalu diam.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Lanjut Bagian XI ==&gt; <a href=\"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/2026\/01\/08\/setelah-segalanya\/\">Setelah Segalanya<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hujan turun dengan tenang sore itu. Tidak deras, hanya gerimis yang cukup membuatku mengancing jaket dan menggenggam payung lebih erat. Waktu hampir pukul lima sore. Dan aku, sudah menunggunya\u2014di tempat yang dulu pernah jadi saksi kami: bangku taman kecil di samping perpustakaan kota. Sudah lama kami tidak bertemu. Sudah berapa bulan? Aku bahkan tidak yakin [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":10758,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"aside","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[14,15],"class_list":["post-158","post","type-post","status-publish","format-aside","hentry","category-novel","tag-cinta","tag-penantian","post_format-post-format-aside"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10758"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=158"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":163,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158\/revisions\/163"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=158"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=158"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=158"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}