{"id":151,"date":"2026-01-08T16:04:41","date_gmt":"2026-01-08T16:04:41","guid":{"rendered":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/?p=151"},"modified":"2026-01-09T10:18:58","modified_gmt":"2026-01-09T03:18:58","slug":"kilas-balik-langit-biru-di-cianjur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/2026\/01\/08\/kilas-balik-langit-biru-di-cianjur\/","title":{"rendered":"Kilas Balik: Langit Biru di Cianjur"},"content":{"rendered":"<p>Langit pagi itu cerah sekali. Awan-awan tipis menggantung manis di atas Kota Cianjur. Masjid Agung di kejauhan tampak megah nan indah seolah menyambut seseorang yang baru saja menginjakkan kaki di kota ini.<br \/>\n\u201cAku suka langit pagi ini,\u201d katanya, tersenyum kecil.<br \/>\nAku berdiri di sampingnya. Tak banyak kata keluar dari mulutku\u2014hanya anggukan pelan.<br \/>\nDia mengenakan baju berwarna violet, seperti yang sering ia ceritakan sebagai warna kesukaannya.<br \/>\nGaya berpakaiannya sederhana. Wajahnya tanpa banyak polesan. Tapi entah kenapa\u2026 justru dari situlah aku melihat keindahan yang tenang.<br \/>\nKejujuran yang diam-diam menumbuhkan harapan.<br \/>\n\u201cKamu kelihatan lebih tenang daripada yang aku bayangkan,\u201d ujarku akhirnya, memecah hening.<br \/>\nDia tertawa pelan.<br \/>\n\u201cKalau kamu\u2026 kelihatan lebih gugup dari yang aku duga.\u201d<br \/>\nKami tertawa bersama. Untuk sesaat, dunia terasa memberi izin\u2014untuk menikmati waktu tanpa bayang-bayang lalu, tanpa ketakutan akan nanti.<br \/>\nKami berjalan menyusuri taman kota, membeli roti cokelat, duduk berdua di bangku semen. Kami bicara tentang mimpi, tentang keluarga, tentang buku, tentang puisi-puisi kami.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKalau suatu hari kita tidak bersama\u2026 Kamu masih mau menulis puisi untukku?\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Pertanyaannya menggantung di udara.<br \/>\nAngin menyusup di sela-sela diam kami, membawa aroma berbagai jenis makanan dari para pedagang tak jauh dari sana.<br \/>\nAku menarik napas. Lalu menjawab:<br \/>\n\u201cKalau aku tidak bisa memilikimu\u2026 aku akan tetap menulis untukmu.\u201d<br \/>\n\u201cSebab menulislah caraku mencintaimu tanpa menyakitimu.\u201d<br \/>\nDia menatapku. Kali ini lebih dalam. Matanya tak sekadar tersenyum. Ada getar, ada pesan yang tak diucap.<br \/>\n\u201cAku ingin kamu jadi yang terakhir,\u201d katanya pelan.<br \/>\nAku menunduk. Karena dalam hati kecilku, aku tahu:<br \/>\nMungkin aku tak bisa jadi yang terakhir.<br \/>\nMasih banyak hal yang belum selesai dalam hidupku.<br \/>\nMasih banyak keterbatasan dalam diriku.<br \/>\nMasih ada jalan panjang yang harus dilewati.<br \/>\n. . .<br \/>\nKami berpisah sore itu di bawah langit senja.<br \/>\nTak ada lambaian. Tak ada janji. Tapi sejak hari itu, doaku berubah.<br \/>\nDari:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cYa Allah, jadikanlah dia milikku,\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Menjadi:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cYa Allah, bahagiakanlah dia\u2026 meski bukan bersamaku.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Beberapa orang memang ditakdirkan bertemu, tapi tidak untuk bersama. Tapi siapa pun yang hadir dalam doa\u2026 tak pernah benar-benar pergi.<\/p>\n<p>Lanjut Bagian X ==&gt; <a href=\"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/2026\/01\/08\/pertemuan-terakhir\/\">Pertemuan Terakhir<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Langit pagi itu cerah sekali. Awan-awan tipis menggantung manis di atas Kota Cianjur. Masjid Agung di kejauhan tampak megah nan indah seolah menyambut seseorang yang baru saja menginjakkan kaki di kota ini. \u201cAku suka langit pagi ini,\u201d katanya, tersenyum kecil. Aku berdiri di sampingnya. Tak banyak kata keluar dari mulutku\u2014hanya anggukan pelan. Dia mengenakan baju [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":10758,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"aside","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[14,15],"class_list":["post-151","post","type-post","status-publish","format-aside","hentry","category-novel","tag-cinta","tag-penantian","post_format-post-format-aside"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/151","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10758"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=151"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/151\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":160,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/151\/revisions\/160"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=151"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=151"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=151"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}