{"id":143,"date":"2026-01-08T15:55:52","date_gmt":"2026-01-08T15:55:52","guid":{"rendered":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/?p=143"},"modified":"2026-01-09T10:19:12","modified_gmt":"2026-01-09T03:19:12","slug":"dari-hati-yang-tak-kaupilih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/2026\/01\/08\/dari-hati-yang-tak-kaupilih\/","title":{"rendered":"Dari Hati Yang Tak Kaupilih (Perspektif Sang Gadis)"},"content":{"rendered":"<p>Aku tak pernah benar-benar tahu, sejak kapan rindu itu mulai tumbuh. Mungkin sejak hari itu\u2014saat ia menyebut namaku dalam diamnya.<br \/>\nAtau saat tatapan matanya selalu menghindar setiap kali aku mencoba menatap lebih lama.<br \/>\nAtau\u2026 sejak aku sadar, ia tak akan datang. Tapi aku tetap menunggunya.<br \/>\n\u201cAy, dia datang nggak?\u201d<br \/>\nPertanyaan itu muncul dari Dila, sahabatku, di malam sebelum hari pernikahanku.<br \/>\nAku hanya tersenyum samar. Tak ada yang tahu, di antara puluhan nama tamu undangan, aku masih diam-diam menanti satu nama.<br \/>\n\u201cKayaknya enggak.\u201d<br \/>\n\u201cKamu masih berharap dia datang?\u201d<br \/>\nAku menarik napas panjang.<br \/>\n\u201cBukan berharap\u2026 aku cuma ingin tahu apakah dia baik-baik saja.\u201d<br \/>\n\u201cAtau\u2026 apakah dia masih ingat aku.\u201d<br \/>\n. . .<br \/>\nDulu\u2026 saat aku membaca puisi-puisinya, aku menangis diam-diam. Aku tahu itu untukku. Tapi aku pura-pura tak tahu. Karena aku takut terlalu yakin.<br \/>\nTakut berharap.<br \/>\nDia mencinta dengan jujur, sementara aku terlalu sibuk menyembunyikan luka yang belum sembuh.<br \/>\nDia terlalu setia menyimpan rasa, sementara aku\u2026 terlalu ragu menyambutnya.<br \/>\nPadahal aku juga menyebut namanya dalam sujud panjangku.<br \/>\nAku juga pernah berharap, bahwa akhirnya\u2026 kami akan bertemu di satu tujuan.<br \/>\nTapi waktu tak pernah berpihak.<br \/>\nDan aku\u2026<br \/>\nKalah oleh keadaan.<br \/>\nKalah oleh diamku sendiri.<br \/>\nKalah oleh keberanian yang tak pernah sempat tumbuh.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cAku nikah, bukan karena aku nggak cinta kamu, Ardi\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>ucapku dalam hati, saat tangan seorang lelaki menyentuh keningku di akad.<br \/>\n\u201cTapi karena kamu tak kunjung datang\u2026 sementara waktu tak mau menunggu. Maaf\u2026\u201d<br \/>\n. . .<br \/>\nBeberapa hari setelah resepsi, entah kenapa aku ingin membuka emailku. Dan, benar saja, aku menemukan email dari alamat yang sudah lama tak mengirim apa-apa.<br \/>\nKusentuh perlahan. Kubaca dengan gemetar.<\/p>\n<p><em>Hai\u2026<br \/>\nMaaf jika diamku terlalu lama. Tapi bukan karena aku lelah. Bukan karena aku lupa.<br \/>\nAku hanya takut\u2014takut harapanku akan menyakitimu.<br \/>\nKau tahu? Sering aku bertanya dalam doa:<br \/>\n\u201cApakah aku salah mengenalmu? Salah mencintaimu?\u201d<br \/>\nTapi Tuhan hanya menjawab dengan sunyi\u2026 dan mimpi-mimpi yang selalu tentangmu.<br \/>\nMungkin, rindu ini memang bukan untuk kujemput. Hanya untuk kukenang.<br \/>\nDan jika nanti aku benar-benar tiada, dan kau membaca ini, ketahuilah\u2026<br \/>\nAku akan bahagia, melihatmu bahagia.<br \/>\nSesaat sebelum sinarku padam.<\/em><\/p>\n<p>Salam, dari seseorang yang pernah mencintaimu seutuhnya, tanpa pernah benar-benar bisa memilikimu selamanya.<br \/>\nAir mataku jatuh. Suamiku sudah tertidur di sampingku.<br \/>\nAku tak sanggup membangunkannya\u2014atau menjelaskan apa yang kurasakan. Karena ini\u2026 luka yang tak bisa dibagi.<br \/>\nDi depan cermin kamar, aku berbicara pelan. Kepada diriku sendiri.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKalau kamu mendengar doaku malam ini\u2026 Ketahuilah, aku tak pernah benar-benar berhenti menyayangimu.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<blockquote><p>\u201cNamun, cinta saja tidak cukup, bukan? Harus ada waktu dan keberanian. Dan kita tak punya keduanya.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<blockquote><p>\u201cMaaf\u2026 karena aku membuatmu menunggu, hanya untuk akhirnya aku pergi. Maaf\u2026 karena aku tak cukup kuat untuk memilihmu. Tapi aku juga\u2026 tak cukup kuat untuk melupakanmu.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Pagi itu, sebelum berangkat ke tempat baru bersama suami, aku menulis catatan kecil. Bukan untuk dikirim. Hanya untuk diriku sendiri:<\/p>\n<blockquote><p>Jika aku diberi satu kesempatan untuk mengulang waktu,<br \/>\nAku akan menyebut namamu di depan mereka semua.<br \/>\nAku akan memilihmu, meski harus menunggu lebih lama.<br \/>\nNamun sekarang, Biarlah cinta ini hidup dalam doa.<br \/>\nDan aku akan terus menyebutmu\u2026<br \/>\nSampai Allah menghapus perasaanku,<br \/>\nAtau menjemputku ke surga-Nya.<\/p><\/blockquote>\n<p>Lanjut Bagian VIII ==&gt; <a href=\"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/2026\/01\/08\/terlambat\/\">Terlambat<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aku tak pernah benar-benar tahu, sejak kapan rindu itu mulai tumbuh. Mungkin sejak hari itu\u2014saat ia menyebut namaku dalam diamnya. Atau saat tatapan matanya selalu menghindar setiap kali aku mencoba menatap lebih lama. Atau\u2026 sejak aku sadar, ia tak akan datang. Tapi aku tetap menunggunya. \u201cAy, dia datang nggak?\u201d Pertanyaan itu muncul dari Dila, sahabatku, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":10758,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"aside","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[14,15],"class_list":["post-143","post","type-post","status-publish","format-aside","hentry","category-novel","tag-cinta","tag-penantian","post_format-post-format-aside"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/143","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10758"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=143"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/143\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":149,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/143\/revisions\/149"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=143"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=143"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=143"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}