{"id":140,"date":"2026-01-08T15:54:10","date_gmt":"2026-01-08T15:54:10","guid":{"rendered":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/?p=140"},"modified":"2026-01-09T10:19:18","modified_gmt":"2026-01-09T03:19:18","slug":"sebelum-sinarku-padam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/2026\/01\/08\/sebelum-sinarku-padam\/","title":{"rendered":"Sebelum Sinarku Padam"},"content":{"rendered":"<p>Pukul 01.32 dini hari.<br \/>\nSudah hampir dua jam aku hanya terbaring\u2014mata terbuka, pikiran berlarian ke mana-mana. Dinding kamar terasa lebih tipis dari biasanya, seolah suara sunyi bisa menembus masuk dan menumpuk di dadaku. Lampu belajar redup, tapi bukan tugas atau skripsi yang kupikirkan.<br \/>\nMelainkan kamu.<br \/>\nLagi-lagi kamu.<br \/>\n\u201cSampai kapan aku begini?\u201d gumamku sendiri.<br \/>\nAku bangkit, membuka jendela kamar. Angin dingin malam menyapa wajahku, membawa sisa aroma hujan. Jauh di luar sana, sesekali suara motor memecah kesepian. Tapi batinku jauh lebih riuh dari jalanan kota.<br \/>\nAku teringat pesan terakhirku padamu:<br \/>\n\u201cKalau bukan aku, tak apa. Asal kau bahagia.\u201d<br \/>\nTak ada balasan. Tidak malam itu. Tidak besoknya. Tidak sampai sekarang.<br \/>\nKutatap layar ponsel, lalu menulis di notes:<\/p>\n<p><em>Tidak ada mata terpejam<br \/>\nKala malam-malam<br \/>\nRinduku semakin tenggelam<br \/>\nKepada insan tamam.<br \/>\nKurangkai kalam<br \/>\nDi atas layar kapal yang hampir karam<br \/>\nDengan sisa tinta pada ujung qalam.<br \/>\nSabda-sabda cinta yang tenggelam di samudera hati terdalam<br \/>\nTumbuhkan pohon asmara berbuah masam.<br \/>\nApakah meraih kesetiaan qalbu<br \/>\nBagiku adalah haram?<br \/>\nSaat remuk-berserak<br \/>\nSegala tekad suci dan azam.<br \/>\nKala putih bersih sinar kasih<br \/>\nTerhapus oleh warna hitam, kelam.<br \/>\nAdalah aku\u2014<br \/>\nPenyelam lautan air mata gadis, yang muram.<br \/>\nDalam tangis sendu<br \/>\nAtas lukanya yang terlampau dalam,<br \/>\nLalu kesetiaanku dibayar<br \/>\nDengan panah yang menghujam.<br \/>\nTepat mengenai jantungku,<br \/>\nBerdarah lagi, lebam.<br \/>\nBagaimana darah ini harus kuredam?!<br \/>\nTiada satu pun kan paham?!<br \/>\nKerikil-kerikil menerjang,<br \/>\nMerajam.<br \/>\nAku melirih dalam gumam<br \/>\nBerikan aku cinta segenggam&#8230;<br \/>\nAku akan bahagia<br \/>\nSesaat sebelum sinarku padam.<br \/>\nLalu jasadku tenggelam,<br \/>\nDan namaku di lisan orang-orang,<br \/>\nRedam.<br \/>\nKasih, setialah engkau<br \/>\nWalau aku mulai terdiam.<br \/>\nDatanglah segera<br \/>\nSelagi sang aku belum terbenam.<br \/>\nBawakan air keabadian<br \/>\nBernama cinta padaku,<br \/>\nSebelum mataku benar-benar terpejam\u2014<br \/>\nAgar aku akan abadi mencintaimu,<br \/>\nDi hatimu kau cintai,<br \/>\nSepanjang siang dan malam&#8230;<\/em><\/p>\n<p>Aku berhenti. Menunduk. Mengusap wajah yang mulai basah. Air mata itu selalu datang di waktu yang sama\u2014setiap aku mencoba melupakanmu.<br \/>\n. . .<br \/>\nBeberapa minggu berlalu.<br \/>\nHidup berjalan. Tapi rindu tetap tinggal. Lalu, kabar itu datang. Bukan dari kamu, tapi dari seseorang yang tak sengaja melihatnya.<br \/>\n\u201cDia benar-benar menikah, ya?\u201d<br \/>\n\u201cIya. Hasan namanya. Teman satu komunitas.\u201d Katanya, \u201cDia orangnya ramah, alim juga.\u201d<br \/>\n\u201cAyla bahagia, kayaknya.\u201d<br \/>\n\u201cKayaknya\u2026\u201d<br \/>\nKata \u201ckayaknya\u201d itu menamparku lebih dari kabar pernikahannya sendiri. Karena bahkan saat kau bahagia pun, aku tak tahu apakah aku harus ikut senang\u2026 atau patah dalam diam.<br \/>\nHari itu, seharusnya aku bisa datang ke akadnya. Sebagai tamu. Tapi aku memilih pergi jauh. Menumpang kereta malam menuju kota yang tak ada dia.<br \/>\nDi dalam gerbong, suara rel seperti denyut luka.<br \/>\nDi sana, aku menulis surat terakhir untuknya.<br \/>\nSurat itu kukirim ke emailnya.<br \/>\nEntah akan dia baca atau tidak.<br \/>\nAku hanya ingin dia tahu\u2014aku pernah ada. Dan pernah begitu mencintai dan merindukannya.<br \/>\nDan malam itu, di kamar sepi penginapan kecil, aku berdoa dalam diam:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cYa Allah\u2026 bahagiakanlah dia, walau bukan denganku. Jangan biarkan cinta ini membuatku kufur pada takdir-Mu. Biarlah aku padam dalam sunyi, asal dia bersinar bahagia bersama seseorang yang menjadi kekasihnya kini.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Lanjut Bagian VII ==&gt; <a href=\"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/2026\/01\/08\/dari-hati-yang-tak-kaupilih\/\">Dari Hati Yang Tak Kaupilih<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pukul 01.32 dini hari. Sudah hampir dua jam aku hanya terbaring\u2014mata terbuka, pikiran berlarian ke mana-mana. Dinding kamar terasa lebih tipis dari biasanya, seolah suara sunyi bisa menembus masuk dan menumpuk di dadaku. Lampu belajar redup, tapi bukan tugas atau skripsi yang kupikirkan. Melainkan kamu. Lagi-lagi kamu. \u201cSampai kapan aku begini?\u201d gumamku sendiri. Aku bangkit, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":10758,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"aside","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[14,15],"class_list":["post-140","post","type-post","status-publish","format-aside","hentry","category-novel","tag-cinta","tag-penantian","post_format-post-format-aside"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/140","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10758"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=140"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/140\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":147,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/140\/revisions\/147"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=140"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=140"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=140"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}