{"id":129,"date":"2026-01-08T15:40:42","date_gmt":"2026-01-08T15:40:42","guid":{"rendered":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/?p=129"},"modified":"2026-01-09T10:19:24","modified_gmt":"2026-01-09T03:19:24","slug":"bolehkah-aku-mengenangmu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/2026\/01\/08\/bolehkah-aku-mengenangmu\/","title":{"rendered":"Bolehkah Aku Mengenangmu?"},"content":{"rendered":"<p>Hujan turun di hari Minggu. Deras. Tapi tak sedingin kesunyian yang datang dari arahmu.<br \/>\nAku duduk di dekat jendela kamar, memandangi gerimis yang menari di kaca. Cangkir kopi luwak yang kupersiapkan pagi tadi kini sudah dingin. Di luar, daun-daun bergoyang dalam irama rintik. Dan dinding kamar ini\u2026 masih menyimpan gema suaramu\u2014yang sudah lama tak kudengar.<br \/>\nHari ini hari Minggu. Dulu, biasanya aku menemuimu. Kita berjalan melewati gang kecil menuju taman, duduk di bangku tua di bawah pohon flamboyan. Kau akan tertawa karena aku selalu lupa membawa payung.<br \/>\nAku tersenyum sendiri. Mengingatnya terasa manis dan menyakitkan dalam waktu bersamaan.<br \/>\nLalu kutulis bait itu:<\/p>\n<blockquote><p>Bolehkah aku\u2026<br \/>\nPada November ini mengingatmu,<br \/>\nKala Minggu pagi berlangit biru\u2026<\/p><\/blockquote>\n<p>Puisi itu kutulis semalam. Untukmu. Tapi aku ragu mengirimkannya.<br \/>\nPonselku diam. Tidak ada notifikasi. Tidak ada namamu muncul. Sudah lama tidak ada. Tapi tak ada yang bisa menghentikan kepalaku dari memutar ulang kenangan tentangmu.<br \/>\nKugulir folder foto di ponsel. Satu demi satu, momen bersamamu muncul lagi. Kau dengan rambutmu yang terurai, mengenakan jaket ungu favoritmu, tertawa kecil karena aku menggigit roti cokelat buatanmu terlalu besar. Waktu itu kau menyodorkannya dengan malu-malu.<br \/>\n\u201cKamu suka?\u201d<br \/>\n\u201cAku suka kamu,\u201d jawabku waktu itu, separuh bercanda, separuh serius.<br \/>\nKuketik lagi di notes:<\/p>\n<blockquote><p>Bolehkah aku\u2026<br \/>\nMerasakan kembali roti cokelat pemberianmu,<br \/>\nDengan rasa kasih dan ketulusan yang dulu kau sisipkan diam-diam?<\/p><\/blockquote>\n<p>Kututup galeri, menghela napas, lalu bangkit menuju meja kerja. Di sana, tergeletak buku bersampul coklat tua\u2014buku puisimu. Hadiah ulang tahunku tahun lalu.<br \/>\nKubuka halaman tengahnya.<\/p>\n<blockquote><p>Untukmu,<br \/>\nYang tak pernah kutemui tanpa rindu.<br \/>\nTanganku gemetar. Ingin sekali menghubungimu. Tapi keinginan itu seperti api yang diarahkan ke kertas basah. Takkan menyala. Takkan kau jawab. Atau\u2026 mungkin tak akan kau baca.<\/p><\/blockquote>\n<p>Tetap saja, kutulis pesan pendek itu:<br \/>\nHai&#8230; Bolehkah aku\u2026 sekadar mengenangmu hari ini?<br \/>\nKukirim.<br \/>\nTak ada balasan.<br \/>\n. . .<br \/>\nBeberapa jam kemudian, layar HP menyala. Tapi bukan darimu.<br \/>\nDari seorang teman:<br \/>\n\u201cBro, si Ayla udah tunangan ya? Aku lihat dia bareng cowok itu kemarin sore. Katanya keluarganya udah sepakat.\u201d<br \/>\nDunia terasa runtuh. Seketika.<br \/>\nAku menatap pesan itu. Hening. Bahkan hujan pun seakan berhenti. Lalu seperti palu menghantam dada, aku merasa\u2026 hancur.<br \/>\nKutulis di buku catatan harianku malam itu:<\/p>\n<blockquote><p>Bolehkah aku\u2026<br \/>\nMeneteskan kembali air mata di pipiku,<br \/>\nSebab bahagia mencintaimu,<br \/>\nDan sebab luka kepergianmu?<br \/>\nBolehkah aku\u2026<br \/>\nTerpuruk di malam-malam tanpamu,<br \/>\nTerjaga oleh rindu yang menggebu,<br \/>\nDan oleh diam yang kau beri padaku?<\/p><\/blockquote>\n<p>Keesokan harinya, aku duduk di taman kota. Sendiri.<br \/>\nKusobek sunyi dengan membuka catatan terakhir darimu: selembar kertas kecil yang dulu kau selipkan diam-diam ke dalam bukuku.<br \/>\nTulisan tanganmu lembut:<\/p>\n<blockquote><p>Kalau nanti kamu tak mendapatiku di tempat biasa,<br \/>\nBukan berarti aku tak cinta.<br \/>\nMungkin aku hanya sedang kalah oleh takdir,<br \/>\nYang terlalu sulit untuk kita lawan bersama\u2026<\/p><\/blockquote>\n<p>Aku terdiam. Lama.<br \/>\nDan malam itu, di sepertiga malam yang lengang, aku kembali bersujud, doaku malam itu:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cYa Allah\u2026 jika dia bukan untukku, jangan biarkan aku mendustai takdirmu dengan terus memaksakan rasa ini.\u201d<br \/>\n\u201cTapi jika masih ada kemungkinan\u2026 kuatkan aku menjaga cinta ini, tanpa membuat hatiku binasa.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Lalu kutulis puisi terakhir malam itu:<br \/>\n<em>Bolehkah aku&#8230;<br \/>\nMembaca lagi puisi darimu,<br \/>\nSebagai petanda bahwa hati kita menyatu saat itu\u2014<br \/>\nSekeping hatiku terutuhkan oleh keping hatimu.<br \/>\nBolehkah aku&#8230;<br \/>\nMenikmati lagi kisah tentang doa-doamu,<br \/>\nDi sepertiga malam yang tak pernah berlalu<br \/>\nTanpa sujud dan ruku\u2019 pada Rabbmu?<br \/>\nBolehkah aku&#8230;<br \/>\nPercaya lagi bahwa aku adalah jawaban doa-doamu itu,<br \/>\nPengurai ikatan jarak kau dan karibmu,<br \/>\nPelerai sengketa tiga hati yang beradu?<br \/>\nBolehkah aku&#8230;<br \/>\nMembuka album kenangan masa-masa indah itu,<br \/>\nDi bawah hujan yang menggigilkan tubuhku,<br \/>\nDi bawah derai yang membasahi baju?<br \/>\nBolehkah aku&#8230;<br \/>\nMelukiskan lagi keindahan itu:<br \/>\nAir yang terjun bebas dan mengenai punggungmu,<br \/>\nBegitu deras terlempar ke atas kepalaku.<br \/>\nBolehkah aku&#8230;<br \/>\nMencicipi hidanganmu\u2014<br \/>\nDuduk makan berdua di atas batu,<br \/>\nSeraya sesekali menikmati panorama sang banyu,<br \/>\nDan gelak tawamu saat aku berlaga sok lucu?<br \/>\nBolehkah aku&#8230;<br \/>\nMendengar lagi petikan gitarmu,<br \/>\nSuara anak kecil dari nyanyianmu,<br \/>\nDuduk bersama mencipta sebuah lagu?<br \/>\nBolehkah aku&#8230;<br \/>\nMembayangkan tingkahmu,<br \/>\nBergelayut di atas pintu,<br \/>\nMematahkan cincin di jarimu?<br \/>\nBolehkah aku&#8230;<br \/>\nMelilitkan syal pemberian darimu\u2014<br \/>\nMengingatkan pada sosok yang selalu kau rindu, katamu,<br \/>\nYang terbaring di tanah semenjak bertahun-tahun lalu?<br \/>\nBolehkah aku&#8230;<br \/>\nMenulis sajak-sajak cinta dari namamu,<br \/>\nSyair-syair romantis tentangmu,<br \/>\nAtau puisi-puisi indah untukmu?<br \/>\nBolehkah aku&#8230;<br \/>\nTerpuruk di malam-malam tanpamu,<br \/>\nTerjaga sebab rindu-kangen menggebu,<br \/>\nDan oleh abaian darimu?<br \/>\nBolehkah aku&#8230;<br \/>\nTak kudapati cinta selain cintamu\u2014<br \/>\nMengecup sajadah di sepertiga malamku,<br \/>\nTersungkur di atas shalat malam dan tahajud bersamamu?<br \/>\nBolehkah aku&#8230;<br \/>\nBolehkah aku\u2026<br \/>\nMenyayangimu tanpa harus memilikimu?<br \/>\n<\/em><\/p>\n<p>Lanjut Bagian VI ==&gt; <a href=\"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/2026\/01\/08\/sebelum-sinarku-padam\/\">Sebelum Sinarku Padam<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hujan turun di hari Minggu. Deras. Tapi tak sedingin kesunyian yang datang dari arahmu. Aku duduk di dekat jendela kamar, memandangi gerimis yang menari di kaca. Cangkir kopi luwak yang kupersiapkan pagi tadi kini sudah dingin. Di luar, daun-daun bergoyang dalam irama rintik. Dan dinding kamar ini\u2026 masih menyimpan gema suaramu\u2014yang sudah lama tak kudengar. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":10758,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"aside","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[14,15],"class_list":["post-129","post","type-post","status-publish","format-aside","hentry","category-novel","tag-cinta","tag-penantian","post_format-post-format-aside"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/129","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10758"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=129"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/129\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":142,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/129\/revisions\/142"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=129"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=129"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=129"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}