{"id":125,"date":"2026-01-08T15:33:31","date_gmt":"2026-01-08T15:33:31","guid":{"rendered":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/?p=125"},"modified":"2026-01-09T10:19:31","modified_gmt":"2026-01-09T03:19:31","slug":"angin-makassar-dan-namamu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/2026\/01\/08\/angin-makassar-dan-namamu\/","title":{"rendered":"Angin Makassar dan Namamu"},"content":{"rendered":"<p>Makassar,<br \/>\nAngin sore dari arah laut menderu lewat balkon kamar penginapan kecilku. Di kejauhan, langit perlahan berubah dari jingga menjadi kelabu. Ombak menggulung di Pantai Losari, memecah di batu-batu karang seperti hatiku yang terhempas gelombang rindu\u2014yang tak bisa kucegah, tak bisa kusampaikan.<br \/>\nSudah tiga minggu aku di sini. Mengikuti program pertukaran mahasiswa\u2014\u201ckesempatan emas\u201d kata orang-orang. Tapi dalam hatiku, yang kurasa bukan emas, melainkan beban. Bukan karena kuliah atau adaptasi budaya. Tapi karena satu hal: jauhnya aku darimu, Ayla.<br \/>\n&#8220;Kenapa kamu belum bales pesanku, Ay?&#8221; gumamku lirih sambil menatap layar ponsel yang tetap kosong.<br \/>\nPagi tadi aku mengirim pesan sederhana:<br \/>\nSelamat pagi, Ay. Di sini mendung. Kamu bagaimana?<br \/>\nTapi seperti biasa, tak ada balasan. Dan ini bukan pertama kali. Aku yang lebih dulu mengirim, aku yang menunggu, aku yang menebak-nebak\u2014apakah kamu sengaja menjauh, atau sekadar terlalu sibuk?<br \/>\nAtau\u2026<br \/>\nApakah kamu sedang belajar melupakanku perlahan? tanyaku pada diri sendiri.<br \/>\nMalam-malam di sini sering kulewati dengan doa. Dalam sepertiga yang sepi, aku menyebut namamu\u2014tanpa suara, hanya lewat getar dada dan kalimat yang kupaksakan lirih:<br \/>\n\u201cYa Allah\u2026 jika dia memang untukku, jaga hatinya. Tapi jika bukan, redakanlah rasa ini\u2014walau perlahan.\u201d<br \/>\nTapi pagi harinya, aku tetap saja mencarimu.<br \/>\n. . .<br \/>\nMalam itu, aku membuka laptop. Folder rahasia yang kusembunyikan di antara tugas-tugas kuliah: spring_folder.<br \/>\nIsinya: puisi-puisiku. Semuanya\u2014tanpa terkecuali\u2014tentangmu.<br \/>\nAku klik salah satu file:<\/p>\n<blockquote><p>Kau yang kuharap di setiap sudut waktu,<br \/>\nMengapa hadirmu tak pernah menjadi nyata?<br \/>\nBahkan sapamu terasa seperti milik lalu,<br \/>\nAku diam di Makassar\u2026 dan kau diam di hatiku.<\/p><\/blockquote>\n<p>Aku terdiam lama, sebelum menutup laptop pelan. Lalu melangkah ke balkon. Angin kembali menerpa wajahku, membawa aroma laut yang asin\u2014jauh berbeda dengan harum tubuhmu yang begitu lembut dalam ingatanku.<br \/>\nKupeluk tubuh sendiri yang dingin. Kuambil ponsel.<br \/>\nKutekan nomormu.<br \/>\nTapi tak jadi kutelpon.<br \/>\nKutatap saja namamu. Hening. Hanya namamu dan aku, dalam ruang tunggu yang sunyi.<br \/>\nSampai tiba-tiba, ada notifikasi masuk.<br \/>\nDari grup FLP Cianjur.<br \/>\nGrup FLP Cianjur<br \/>\nPesan dari satu nama: Ayla Nurul Haifa.<\/p>\n<blockquote><p>Jika kutahu rindu seberat ini,<br \/>\nTakkan kutanya kenapa kamu tak kunjung kembali.<br \/>\nTapi karena cinta tak mengenal logika,<br \/>\nMaka kusebut namamu\u2026 dalam tiap sujud yang lama.<br \/>\nAku membacanya berulang kali.<\/p><\/blockquote>\n<p>Namamu, puisimu\u2026<br \/>\nApakah ini\u2026 untukku?<br \/>\nJari-jariku gemetar. Ingin bertanya, ingin mengirim pesan:<br \/>\nAyla, itu puisi untuk siapa?<br \/>\nTapi aku tahan.<br \/>\nKupandangi langit malam Makassar yang mulai kelam.<br \/>\nLalu kutulis dalam buku catatan pribadiku:<br \/>\nAngin Makassar pun mampu menenggelamkanku dalam rindu yang tak bisa kutenangkan\u2014padamu.<br \/>\n. . .<br \/>\nBeberapa hari kemudian, seorang mahasiswi lokal menyapaku di kelas.<br \/>\n\u201cKak\u2026 Ardi, ya?\u201d<br \/>\nAku menoleh.<br \/>\nWajah ramah, mata penuh rasa ingin tahu.<br \/>\n\u201cIya. Saya.\u201d<br \/>\n\u201cSaya baca puisi Kakak di papan diskusi. Indah banget.\u201d<br \/>\nAku hanya tersenyum.<br \/>\n\u201cTerima kasih.\u201d<br \/>\nNamanya Yuliana. Aktivis seni kampus, penyuka puisi, dan teman makan siang di beberapa kesempatan. Kami berdiskusi tentang sastra, musik, kadang politik. Tapi tak ada satu pun yang bisa menggeser bayangan Ayla dari dalam benakku.<br \/>\nSuatu hari, Yuliana bertanya:<br \/>\n\u201cSemua puisimu\u2026 tentang seseorang, ya?\u201d<br \/>\nAku tak ragu menjawab:<br \/>\n\u201cIya. Seseorang yang belum bisa kutemui lagi.\u201d<br \/>\n\u201cDia\u2026 menunggu kamu?\u201d<br \/>\nAku terdiam. Lalu menjawab pelan:<br \/>\n\u201cEntah\u2026 Mungkin aku yang masih menunggu. Mungkin aku hanya menunggu harapan.\u201d<br \/>\n. . .<br \/>\nHari-hari di Makassar terus berjalan. Satu per satu kegiatan selesai. Tapi tidak dengan rindu\u2014ia justru makin tumbuh.<br \/>\nMalam ini, seperti malam-malam sebelumnya, aku membuka galeri. Foto terakhir kita: kamu berdiri di bawah payung merah muda, tersenyum. Senyum yang tak lagi bisa kulihat secara nyata, tapi terus menempel di kepalaku.<br \/>\nAku ingin kembali ke waktu itu. Tapi waktu, seperti biasa, tak pernah bersedia diajak pulang.<\/p>\n<p>Lanjut Bagian V ==&gt; <a href=\"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/2026\/01\/08\/bolehkah-aku-mengenangmu\/\">Bolehkah Aku Mengenangmu?<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Makassar, Angin sore dari arah laut menderu lewat balkon kamar penginapan kecilku. Di kejauhan, langit perlahan berubah dari jingga menjadi kelabu. Ombak menggulung di Pantai Losari, memecah di batu-batu karang seperti hatiku yang terhempas gelombang rindu\u2014yang tak bisa kucegah, tak bisa kusampaikan. Sudah tiga minggu aku di sini. Mengikuti program pertukaran mahasiswa\u2014\u201ckesempatan emas\u201d kata orang-orang. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":10758,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"aside","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[14,13,15],"class_list":["post-125","post","type-post","status-publish","format-aside","hentry","category-novel","tag-cinta","tag-novel","tag-penantian","post_format-post-format-aside"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/125","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10758"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=125"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/125\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":138,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/125\/revisions\/138"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=125"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=125"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/mahabbatularabiyah\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=125"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}