{"id":482,"date":"2022-12-07T00:15:20","date_gmt":"2022-12-07T00:15:20","guid":{"rendered":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/derryadrian\/?p=482"},"modified":"2022-12-07T00:25:54","modified_gmt":"2022-12-07T00:25:54","slug":"waris-bukan-balas-jasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/derryadrian\/notes\/ahmad-sarwat\/2022\/12\/07\/waris-bukan-balas-jasa\/","title":{"rendered":"Waris Bukan Balas Jasa"},"content":{"rendered":"<p><strong>oleh Ahmad Sarwat<\/strong><\/p>\n<p>Salah satu kekeliruan dalam memahami fiqih mawaris adalah konsep balas jasa. Terus terang masih banyak kalangan yang memegang konsep sesat dan keblinger macam ini.<\/p>\n<p>Mentang-mentang si ahli waris paling banyak jasanya kepada orang tua, terus dia dapat bagian paling banyak. Seolah-olah bagi waris itu sejalan dengan balas jasa.<br \/>\nMisalnya, salah satu anak meminta bagian lebih banyak dengan alasan bahwa dia lah yang selama ini merawat orang tua.<\/p>\n<p>Pada kenyataannya memang orang tua memang tinggal di rumah si anak. Bahkan segala kebutuhannya, mulai dari urusan kesehatan hingga berbagai macam kebutuhan lainnya, memang dicover oleh si anak.<\/p>\n<p>Namun tetap saja dalam urusan bagi waris nantinya, semua itu sama sekali tidak ada pengaruhnya. Tidak mentang-mentang satu anak lebih berjasa, lantas dalam bagi waris dia berhak mendapat yang lebih banyak.<\/p>\n<p>Sebab bagi waris itu tidak sama dengan urusan balas jasa. Jangan dihubung-hubungkan.<\/p>\n<p>Yang jadi masalah, alih-alih pada belajar fiqih Mawaris Islam, justru malah banyak yang berusaha melawan dan menentang dengan seribu satu alasan.<\/p>\n<p>Pertanyaannya : <em>kok ada sih orang yang berani-beraninya melawan ketentuan waris yang sudah Allah SWT tentukan dalam Al-Quran?<\/em><\/p>\n<p>Memangnya tidak pernah baca ayat berikut ini :<br \/>\n\u0648\u064e\u0645\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u0639\u0652\u0635\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064e \u0648\u064e\u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064e\u0647\u064f \u0648\u064e\u064a\u064e\u062a\u064e\u0639\u064e\u062f\u0651\u064e \u062d\u064f\u062f\u064f\u0648\u062f\u064e\u0647\u064f \u064a\u064f\u062f\u0652\u062e\u0650\u0644\u0652\u0647\u064f \u0646\u064e\u0627\u0631\u064b\u0627 \u062e\u064e\u0627\u0644\u0650\u062f\u064b\u0627 \u0641\u0650\u064a\u0647\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0647\u064f \u0639\u064e\u0630\u064e\u0627\u0628\u064c \u0645\u064f\u0647\u0650\u064a\u0646\u064c<br \/>\n<em>Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.<\/em> (QS. An-Nisa : 14)<\/p>\n<p>Dosa menantang hukum waris Islam itu bukan sebatas berdosa, tapi masuk neraka dan abadi di dalamnya, nggak keluar-keluar lagi.<\/p>\n<p>Ngeri banget sih kalau tahu resikonya menentang hukum waris Islam. Mungkin belum pada baca ayat di atas. Atau baca sih, tapi nggak paham.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>[]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>oleh Ahmad Sarwat Salah satu kekeliruan dalam memahami fiqih mawaris adalah konsep balas jasa. Terus terang masih banyak kalangan yang memegang konsep sesat dan keblinger macam ini. Mentang-mentang si ahli waris paling banyak jasanya kepada orang tua, terus dia dapat bagian paling banyak. Seolah-olah bagi waris itu sejalan dengan balas jasa. Misalnya, salah satu anak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4778,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"chat","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,23,63],"tags":[52],"class_list":["post-482","post","type-post","status-publish","format-chat","hentry","category-ahmad-sarwat","category-fiqih","category-waris","tag-waris","post_format-post-format-chat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/derryadrian\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/482","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/derryadrian\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/derryadrian\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/derryadrian\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4778"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/derryadrian\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=482"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/derryadrian\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/482\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/derryadrian\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=482"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/derryadrian\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=482"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blogs.unpad.ac.id\/derryadrian\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=482"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}