Emotion Regulation

Dalam bab tinjauan pustaka ini, akan dibahas tentang regulasi emosi yang terjadi pada individu. Namun sebelumnya, akan dibahas pula tentang emosi, karena sebelum dilakukan regulasi emosi, kita perlu mengetahui apa yang akan diregulasi oleh seseorang, yaitu emosi itu sendiri. Selanjutnya akan dibahas tentang Leukemia pada anak, yang meliputi definisi, gejala penyakit, aneka pemeriksaan yang dilakukan dan tahapan kemoterapi sebagai pengobatan utama pada Leukemia.
2.1 Emosi
Emosi adalah pola reaksi yang mengandung perubahan fisiologis, perilaku ekspresif dan states of feeling yang muncul sebagai respon terhadap situasi (Wortman, Loftus & Weaver, 1999). Sedangkan Santrock (2007) menyatakan emosi seringkali disamaartikan dengan perasaan atau afek yang melibatkan gabungan antara keterbangkitan fisik (physical arousal) dan perilaku nyata (overt behavior).
Menurut Campos (2004), Emosi didefinisikan sebagai perasaan atau affect, yang terjadi ketika seseorang berada dalam suatu kondisi atau suatu interaksi yang penting baginya, terutama bagi kesejahteraannya. Emosi bercirikan perilaku yang merefleksikan atau mengekspresikan kepuasan atau ketidakpuasan dari keadaan atau transaksi individu.
Plutchik (1994) menyebutkan ada 7 emosi dasar (primer) pada manusia, yaitu fear, disgust, wonder, anger, subjection, elation, tender. Sedangkan menurut Ekman dalam Dalgleish (2000), ada 6 macam yang termasuk emosi dasar, yaitu marah, takut, sedih, senang, surprise dan disgust. Dari emosi dasar itu bisa terjadi penggabungan yang disebut emosi kompleks atau sekunder (Plutchik, 2008), misalnya seperti yang terlihat dalam tabel 2.1. Emosi kompleks ini berkembang seiring usia, menurut Santrock (2007), pada masa middle childhood terjadi peningkatan pemahaman terhadap emosi kompleks.
Tabel 2.1 Beberapa emosi kompleks sebagai gabungan emosi dasar. Diambil dari buku Emotions in the Practice of Psychotherapy, Robert Plutchik, 2008, hal 66.
Primary Emotion Component
Label For Mixed Emotions
Joy + acceptance = Love, friendliness
Fear + surprise = Alarm, awe
Sadness + disgust = Remorse
Disgust + Anger = Contempt, hatred, hostility
Joy + Fear = Guilt
Anger + Joy = Pride
Fear + Disgust = Shame, prudishness
Anticipation + Fear = Anxiety, caution

Masih banyak lagi para psikolog mengklasifikasikan rentang emosi dalam berbagai cara, tetapi berdasarkan pendapat Santrock (2008), hampir seluruh klasifikasi merancang emosi sebagai emosi positif atau negatif. Menurut Lazarus (1991), emosi positif berarti emosi yang sesuai atau sejalan (congruent) dengan tujuan seseorang , misalnya emosi senang atau cinta, dan sebaliknya emosi negatif tidak sejalan (incongruent) dengan tujuan seseorang, misalnya marah atau sedih.
Gross (1999) menyatakan bahwa emosi mempunyai fungsi sosial, dan saat ini teori modern tentang emosi menekankan pada nilai adaptif dari emosi. Namun menurut Morgan (1986) emosi juga dapat menyebabkan seseorang terlibat masalah jika emosi yang dirasakan terlalu kuat dan mudah terbangkitkan. Intensitas emosi yang terlalu tinggi bisa membuat seseorang tidak dapat mengekspresikan emosinya secara adaptif. Seorang individu dapat mengekspresikan emosinya secara adaptif dengan melakukan pengendalian emosi (regulasi emosi).
Dari semua pemahaman tentang emosi, telah disepakati oleh semua ahli bahwa emosi merupakan rangkaian proses. Frijda (1986) menggambarkan proses emosi sebagai berikut :

Gambar 2.1 Proses Emosi menurut Frijda (1986)

Gross (2007) menggambarkan proses emosi sebagai model modalitas yang didasari pada suatu transaksi antara seseorang dengan situasi, proses ini lebih sederhana dibandingkan proses emosi menurut Frijda, walaupun demikian dua proses ini memiliki kesamaan makna. Menurut Gross (2007), proses emosi meliputi rangkaian : situation – attention – appraisal – response. Rangkaian ini dimulai dengan adanya situasi eksternal maupun internal yang dialami individu, kemudian individu akan memberikan perhatian bila situasi tersebut relevan dengan dirinya, lalu ia memberi penilaian hingga akhirnya muncul respon emosi. Respon emosi disini meliputi tiga aspek yaitu perilaku nyata, pengalaman subyektif, dan perubahan fisiologis. Siklus ini berjalan dinamis, karena respon dari suatu situasi dapat menjadi situasi baru untuk proses berikutnya, dan begitu sterusnya. Oleh karena itu proses emosi ini merupakan proses yang dapat terjadi berulang dan berlangsung dalam waktu yang panjang, tergantung dari situasi yang dihadapi individu tersebut. Gross menggambarkan proses emosi ini sebagai berikut :

Gambar 2.2 Pengulangan Tampilan Emosi Menggunakan Suatu Feedback Loop dalam Model Modal (Gambar A), atau menggunakan iterasi Model Modal (Gambar B), pengulangan S(situasi) – R (Respon), Diambil dari Teori Gross, dalam Buku Handbook of Emotion Regulation, Gross, J.J., 2007, Hal.6.

Siklus situasi – respon ini dapat terus berulang, dan diharapkan seseorang dapat adaptif dengan situasi yang ada dengan memanipulasi unsur-unsur dari proses emosi tersebut , sehingga respon emosi dapat diminimalisir, terutama pada emosi negatif. Manipulasi terhadap unsur –unsur tersebut selanjutnya disebut regulasi emosi, maka regulasi emosi dapat terjadi pada berbagai tahap emosi, yaitu pada saat situasi itu muncul (situation), perhatian (attention), penilaian (appraisal) maupun respon (response), dengan kata lain regulasi emosi dapat dilakukan pada saat sebelum maupun setelah respon emosi muncul.

2.2 Regulasi Emosi
2.2.1 Definisi
Regulasi emosi memiliki berbagai definisi, Thompson (1994), beranggapan bahwa definisi regulasi emosi berdasarkan teori dari berbagai ahli masih belum jelas, oleh karena itu Thompson (1994) dari sudut perkembangan mendefinisikan regulasi emosi sebagai berikut:
Regulasi emosi terdiri dari proses ekstrinsik dan intrinsik yang menentukan pengawasan, evaluasi, dan pemodifikasian reaksi emosi, khususnya fitur intensif dan temporal, untuk mencapai tujuan seseorang.
Emotion regulation consists of the extrinsic and intrinsic processes responsible for monitoring, evaluating,and modifying emotional reactions, especially their intensive and temporal features, to accomplish one’s goals (Thompson, 1994)

Pendapat Thompson ini didasarkan pada evaluasi nya terhadap definisi sebelumnya yang dianggap terlalu menekankan pada aspek intrinsik, terutama yang banyak difokuskan pada orang dewasa. Oleh karena itu Thompson melihat bahwa regulasi emosi yang terjadi pada anak sejak masa infant merupakan hasil dari proses perkembangannya yang tidak bisa terlepas dari faktor ekstrinsik, terutama peran pengasuh.
Kemudian Eisenberg dan Spinrad (2004) dengan berpijak pada definisi Thompson mengembangkan definisi regulasi emosi sebagai :
proses memulai, menghindari, mencegah, memelihara atau memodulasi kejadian, bentuk, intensitas atau durasi kondisi perasaan internal, psikologis yang berhubungan dengan emosi, proses perhatian, kondisi motivasi, dan/atau perilaku yang berhubungan dengan emosi untuk melakukan adaptasi biologis atau sosial atau pencapaian tujuan.
Process of initiating, avoiding, inhibiting, maintaining, or modulating the occurrence, form, intensity, or duration of internal feeling states, emotionrelated physiological, attentional processes, motivational states, and/or the behavioral concomitants of emotion in the service of accomplishin g affect-related biological or social adaptation or achieving individual goals” (Eisenberg & Spinrad, 2004).
Definisi menurut Eisenberg dan Spinrad ini sejalan dengan definisi menurut Thompson, yang diakui oleh Eisenberg dan Spinrad (2004) bahwa definisinya berpijak pada definisi regulasi oleh Thompson, hanya menurut Eisenberg dan Spinrad proses emosi berhubungan erat dengan modulasi perilaku, maka mereka menambahkan komponen modulasi perilaku baik yang dilakukan secara internal maupun eksternal.
Gross dan Levenson (1993) mendefinisikan regulasi emosi sebagai manipulasi yang dilakukan pada diri sendiri atau terhadap : anteseden emosi (situasi yang dapat memicu respon emosi), atau satu atau lebih dari komponen-komponen respon emosi yang terdiri dari aspek fisiologis, pengalaman subjektif, atau perilaku. Artinya bahwa regulasi emosi bisa dilakukan dengan mempengaruhi situasi saat respon emosi belum muncul atau ketika respon emosi telah muncul.
Emotion regulation may defined as the manipulation in self or other of (a) emotion antecedent or (b) one or more of the physiological, subjective, or behavioral components of emotional response (Gross and Levenson, 1993)
Sedangkan Gross (2007), menilai bahwa makna regulasi emosi yang selama ini ada merupakan suatu hal yang ambigu, apakah emosi yang merubah berbagai aspek seperti pemikiran, perilaku atau fisiologis (regulation by emotion) atau bagaimana emosi itu sendiri yang diregulasi (regulation of emotion). Kemudian Gross lebih cenderung setuju dengan makna kedua yaitu bagaimana emosi itu sendiri yang diregulasi mengingat fungsi primer emosi, yaitu untuk mengkoordinir sistem respon. Untuk selanjutnya Gross berusaha mendefinisikan regulasi emosi secara rinci dengan membuat bentuk strateginya secara eksplisit, yang kemudian dikaitkan dengan proses emosi yang terjadi, dalam arti bahwa regulasi emosi itu dilakukan pada saat proses emosi tertentu, apakah pada saat sebelum terjadinya respon emosi atau sesudah munculnya rspon emosi. Akhirnya Gross (2007) mendefinisikan bahwa regulasi emosi mengarah pada serangkaian proses heterogen yang mana emosi itu sendiri di regulasi, selanjutnya regulasi emosi tersebut dapat diwakili oleh 5 kelompok proses yaitu situation selection, situation modification, attentional deployment, cognitive change, dan response modulation (pemilihan situasi, modifikasi situasi, pemanfaatan perhatian, perubahan kognitif, dan modulasi respon).
Emotion regulation refers to the heterogeneous set of process by which emotions are themselves regulated. These five points represent five families of emotion regulation processes: situation selection, situation modification, attentional deployment, cognitive change, and response modulation .

Gross (2007) menyebutkan teori tersebut sebagai process model of emotion regulation, akan tetapi dalam penjelasan berikutnya, gross menyatakan sebagai strategi yang bisa dilakukan tanpa melalui seluruh proses atau tahap. Misalnya, dalam suatu siuasi yang akan memunculkan emosi, bisa saja seseorang tidak melakukan strategi situation selection atau situation modification, tetapi langsung melakukan attentional deployment. Maka regulasi emosi ini adalah strategi yang melekat dengan proses emosi dan dapat dilakukan pada berbagai komponen proses emosi.
Dari beberapa definisi diatas, dalam penlitian ini peneliti menentukan bahwa definisi regulasi emosi adalah perilaku yang melibatkan proses intrinsik dan ekstrinsik yang berperan dalam manipulasi pikiran dan perilaku yang dilakukan seseorang untuk mencapai tujuannya ketika menghadapi emosi, yang meliputi strategi situation selection, situation modification, attentional deployment, cognitive change, dan response modulation.

2.2.2 Strategi Regulasi Emosi

Model regulasi emosi didasarkan pada model proses emosi yang sebelumnya telah dibuat Gross (2007).
Dengan mendasarkan pada model modalitas emosi, Gross (2007) mengajukan kembali model modalitas, dengan menekankan pada lima kelompok di mana seseorang bisa mengatur emosi nya. Lima hal ini mewakili lima kelompok proses regulasi emosi : pemilihan situasi (situation selection), modifikasi situasi (situation modification), pemanfaatan perhatian (attentional deployment), perubahan kognitif (cognitive change,), dan modulasi respon (response modulation), lihat gambar 2.1. Empat kelompok regulasi emosi yang pertama bisa disebut sebagai regulasi emosi yang terfokus pada anteseden (antecedent focus), dalam hal ini regulasi emosi terjadi saat sebelum adanya penilaian (appraisals) yang mengakibatkan munculnya kecenderungan berkembangnya respon emosi, dan kelompok terakhir yaitu respon modulation merupakan regulasi emosi yang terfokus pada respon (response focus) yang terjadi setelah adanya respon emosi (Gross & Munoz, 1995).

Gambar 2.3 Model proses regulasi emosi yang menyoroti lima kelompok (families) strategi regulasi emosi, diambil dari Handbook of Emotion Regulation, oleh Gross, J.J, halaman 10.

a. Situation selection
Jenis regulasi emosi ini meliputi tindakan yang menentukan bagaimana kita akan berakhir pada situasi yang kita harapkan, yang bisa menyebabkan emosi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, dengan kata lain tindakan mendekati atau menghindari orang atau situasi bedasarkan dampak emosional yang mungkin muncul. Pemilihan situasi ini bisa dilakukan oleh diri sendiri (intrinsik) atau oleh orang lain (ekstrinsik). Pemilihan situasi secara ekstrinsik sebenarnya diperlukan sepanjang masa, akan tetapi sangat jelas terlihat dan dibutuhkan pada masa bayi dan anak-anak. karena bayi dan anak-anak kecil belum bisa memilih situasi untuk diri mereka sendiri.
Contoh situation selection adalah menghindari rekan kerja yang tidak sopan, atau orangtua memilihkan tempat potong rambut yang nyaman untuk anak .

b. Situation modification
Situation modification merupakan usaha yang secara langsung dilakukan untuk memodifikasi situasi agar efek emosinya teralihkan. Modifikasi ini misalnya dapat dilakukan oleh hadirnya individu lain misalnya teman, orangtua dan tindakan atau intervensi dari individu tersebut. Gross (2007) mengakui bahwa memang ada ketidakjelasan istilah “situasi” di sini, terkadang kita sulit membedakan antara pemilihan situasi (situation selection) dan modifikasi situasi (situation modification). Hal ini dapat terjadi karena usaha untuk memodifikasi situasi bisa dengan mudah memicu keberadaan sebuah situasi baru. Meskipun sebelumnya telah dijelaskan bahwa situasi bisa datang dari luar atau dari dalam, modifikasi situasi yang dimaksud Gross (2007) berhubungan dengan proses modifikasi lingkungan eksternal dan fisik. Sedangkan usaha dalam memodifikasi pada lingkungan internal (contohnya kognisi) di digolongkan pada strategi perubahan kognitif (cognitive change).
Pada anak-anak yang lebih besar dan pada orang dewasa, modifikasi situasi bisa menggunakan ungkapan kata-kata untuk membantu penyelesaian masalah atau untuk memastikan respon emosi. Intinya adalah bahwa dalam situasi-situasi yang dapat memunculkan emosi, modifikasi situasi dapat dilakukan baik oleh hadirnya pihak eksternal (seperti orangtua, pasangan,/teman) yang mendukung dan oleh adanya intervensi khusus dari pihak eksternal tersebut. Contoh dari modifikasi situasi ini diantaranya adalah tindakan orangtua yang membujuk anaknya untuk tidak takut disuntik, atau tindakan menyediakan mainan bagi anak saat mereka harus dirawat di rumahsakit.
Batasan lain dari situation modification adalah yang berkaitan dengan konsekuensi sosial dan ekspresi emosi, artinya ekspresi emosi orang lain dapat menjadi bentuk ekstrinsik yang kuat bagi individu dalam melakukan situation modification. Misalnya ketika orangtua berusaha mendorong dan secara simpatis memberikan respon terhadap reaksi emosi negatif anaknya, maka anak akan mampu menghadapi emosi nya itu dengan leih adaptif dalam situasi darurat, yang selanjutnya anak akan memperoleh kemampuan regulasi emosi yang lebih positif di masa mendatang.

c. Attentional deployment
Attentional deployment merupakan cara bagaimana individu mengarahkan perhatiannya di dalam sebuah situasi untuk mengatur emosinya. Gross (2007) mengutip pendapat Rothbart, Ziaie, & O’Boyle, 1992, menyatakan bahwa attentional deployment ini merupakan salah satu proses pengaturan emosi pertama pada sebuah perkembangan dan digunakan dari sejak seseorang masih bayi hingga menjadi dewasa, khususnya jika mengubah atau memodifikasi situasi tidak bisa dilakukan. Attentional deployment bisa dianggap sebagai versi internal dari pemilihan situasi. Dua strategi perhatian yang utama dalam tipe ini adalah pengalihan perhatian (distraksi) dan konsentrasi. Distraksi memfokuskan perhatian pada aspek berbeda dari sebuah situasi, atau memindahkan perhatian jauh dari sebuah situasi secara bersamaan, misalnya apabila seorang bayi mengalihkan pandangannya dari stimulus yang bisa menimbulkan emosi ke stimulus yang kurang menimbulkan emosi (Rothbart & Sheese, dalam Gross 2007). Distraksi juga bisa meliputi perubahan fokus internal, contohnya pada saat individu melibatkan pemikiran atau ingatan yang menyenangkan ketika menghadapi keadaan emosi yang tidak menyenangkan, atau saat seorang aktor berusaha untuk mengingat insiden yang melibatkan emosi untuk memerankan emosi tersebut secara meyakinkan dalam aktingnya.
Konsentrasi menarik perhatian fitur-fitur emosi sebuah situasi. Apabila perhatian secara berulang diarahkan kepada perasaan kita dan konsekuensinya, maka hal ini dikenal dengan istilah perenungan (rumination). Borkovec, Roemer, dan Kinyon (1995) menyatakan bahwa jika perhatian difokuskan pada ancaman-ancaman yang mungkin datang di masa yang akan datang, efeknya adalah meningkatnya keresahan ringan namun menurunkan kekuatan respon emosi negatif. Attentional deployment memiliki banyak bentuk, termasuk distraksi berupa (1) bentuk yang melibatkan fisik (misalnya menutupi mata atau telinga), (2) mengarahkan kembali perhatian internal (misalnya melalui pengalihan perhatian atau konsentrasi), dan (3) merespon kembali distraksi yang sebelumnya telah dilakukan orang lain. Apabila anak-anak menjadi lebih sadar akan penentu internal pengalaman emosi, kepercayaan mereka terhadap attentional deployment untuk mengatur emosi meningkat. Attentional deployment diperoleh sejak masa kanak-kanak. Di sekolah dasar, anak-anak sangat menyadari bahwa intensitas emosi mereka bisa berkurang, saat mereka tidak terlalu memikirkan situasi yang memicu emosi.
d. Cognitive change
Cognitive change adalah perubahan cara seseorang dalam menilai situasi ketika berada untuk mengubah signifikansi emosinya, baik dengan cara mengubah cara berpikir mengenai situasi tersebut atau mengenai kemampuan untuk mengatur tuntutan-tuntannya. Satu bentuk perubahan kognitif yang mendapatkan perhatian khusus adalah penilaian ulang (reappraisal) (Gross, 2002; John & Gross, 2004; Ochsner & Gross, 2005). Jenis cognitive change ini meliputi perubahan arti situasi yaitu dengan cara mengalihkan pengaruh emosinya. Bagi anak-anak, penilaian kognitif yang terkait dengan emosi sangat dipengaruhi oleh gambaran emosi mereka yang sedang berkembang, termasuk penyebab dan konsekuensi dari emosi-emosi ini (Stegge & Terwogt, dalam Gross, 2007). Perkembangan ini memiliki implikasi terhadap usaha anak-anak untuk mengatur emosi. Tidak mengherankan, orang tua, teman sebaya dan pengasuh lainnya, sangat memengaruhi emosi anak yang sedang berkembang dalam hal penilaian ini

e. Response modulation
Berbeda dengan proses regulasi emosi sebelumnya, modulasi respon terjadi di ujung proses bangkitnya (generative) emosi pada sistem emosi, seperti yang terlihat pada gambar 2.4, setelah kecenderungan respon telah dimulai atau emosi sudah terjadi. Modulasi respon diarahkan pada upaya untuk mempengaruhi respon emosi yang telah muncul berupa aspek fisiologis, eksperiensial (pengalaman subyektif), dan perilaku yang terlihat nyata. Upaya modulasi respon pada aspek fisiologis misalnya obat-obatan yang digunakan untuk mengobati respon fisiologis seperti ketegangan otot (anxiolytics) atau aktivitas berlebihan syaraf simpatis (beta blockers). Olah raga dan relaksasi juga bisa digunakan untuk mengurangi aspek fisiologis dan eksperiensial dari emosi negatif, dan, alcohol, rokok, narkoba, dan bahkan makanan juga bisa digunakan untuk memodifikasi pengalaman emosi. Bentuk lainnya yang lazim dari modulasi respon meliputi peregulasian perilaku ekspresi emosi (Gross, Richards, & John, 2006), contohnya, menyembunyikan rasa takut saat berhadapan dengan seorang preman.
Dari lima strategi regulasi emosi diatas, secara umum anak-anak dan orang dewasa sepertinya lebih bisa meregulasi emosi jika mereka bisa menemukan cara mengekspresikannya secara adaptif daripada secara maladaptif (Thompson, 1994).

2.2.2.1 Regulasi Emosi Antecedent Focus dan Response Focus

Berdasarkan teori model strategi regulasi emosi menurut Gross (2007), kelompok situation selection, situation modification, attentional deployment dan cognitive change termasuk kedalam bentuk regulasi emosi antecedent focus, sedangkan response modulation termasuk dalam bentuk regulasi emosi response focus. Regulasi emosi antecedent focus merupakan regulasi dengan memanipulasi input dari system emosi, seperti yang terlihat dalam gambar 2.4, sehingga seseorang mampu mengantisipasi dan meregulasi sebelum emosi itu muncul. Sedangkan regulasi response focus merupakan cara meregulasi dengan memanipulasi output dari sistem emosi, maka regulasi dilakukan setelah emosi itu muncul.

Gambar 2.4 Model Proses Emosi Yang Menyoroti Dua Bentuk Regulasi Emosi , Diambil Dari Teori Gross, J.J., Dalam Journal of Personality and Social Psychology 1998, Vol.74 No. 1, Hal.226

Aspek pergantian emosi yang berulang seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sangat penting untuk memahami perbedaan antara antecedent focus dan response focus. Dalam pandangan sifat siklus emosi (lihat kembali Gambar 2.2), contoh regulasi emosinya adalah yang terfokus pada anteseden atau yang terfokus pada respon dalam kaitannya dengan siklus yang diberikan melalui proses generatif emosi. Contoh nyata dari perbedaan bentuk regulasi emosi ini bisa kita umpamakan dengan penggunaan cognitive change untuk membantu meregulasi kecemasan yang dirasakan mengenai ujian yang akan datang. Pada malam hari sebelum ujian, dalam upaya untuk mengurangi kecemasan seseorang, mungkin dia berusaha memikirkannya dengan sebuah cara yang mengurangi pentingnya ujian untuk memperoleh cita-cita kita di masa depan (mungkin dia memikirkan seberapa baik hal yang di lakukan dengan aspek lain dari pelajaran yang akan diujikan sejauh ini, atau mengingatkan diri sendiri bahwa ada hal-hal yang lebih penting dalam hidup daripda nilai, dll). Memang contoh regulasi emosi ini terjadi sebelum ujiannya, tetapi ini bukanlah hal yang membentuk strategi regulasi antecedent focus. Akan tetapi kita memang bisa meningkatkan usaha yang sama pada perubahan kognitif selama ujian, dan hal ini masihlah merupakan regulasi emosi yang terfokus pada anteseden. Emosi terungkap seiring dengan waktu, dan pada tiap siklus generasi emosinya, respon seseorang dalam siklus itu memengaruhi respon subsekuen nya. Ketika seseorang menggunakan regulasi emosi kognitif sebelum atau selama ujian, hal ini dianggap sebagai upaya regulasi emosi yang terfokus pada antesedan yaitu bahwa upaya-upaya tersebut terjadi pada awal siklus generatif emosi yang ada (saat munculnya situasi yang mencetuskan emosi).
Perbedaan bentuk regulasi emosi ini mempunyai konsekuensi berbeda. Menururt Gross (1998), reappraisal dan bentuk strategi lainnya dari bentuk regulasi emosi antecedent focus merupakan sebuah cara yang efektif untuk menurunkan pengalaman emosi, dan juga mempunyai konsekuensi positif terhadap kesehatan psikologis (psychological health) dan kesehatan fisik (physical health). Regulasi emosi antecedent focus dapat menurunkan perilaku expresif (expressive behavior) dan pengalaman subyektif (subjective experience), sedangkan regulasi emosi response focus dapat menurunkan perilaku ekspresif, tetapi tidak mempengaruhi pengalaman subyektif. Regulasi emosi mempunyai peran penting dalam kesehatan fisik dengan adanya bukti bahwa jika seseorang melakukan regulasi emosi response focus dapat berdampak pada meningkatnya syaraf simpatis, dan berimplikasi pada masalah cardiovascular (jantung dan pembuluh darah), mengaktifasi stress, dan dapat mempengaruhi respon immun (Porges, 1994; Sapolsky, 1994; Salovey, 2000). Begitu pula sebaliknya, regulasi emosi antecedent focus dalam konteks situasi yang penuh stress dapat menurunkan relevansi emosionalnya, menurunkan kecenderungan teraktifasinya emosi, mengarahkan pada sedikitnya perasaan subyektif, tanda ekspresi emosi negatif berkurang, tidak terjadi peningkatan aktifasi syaraf parasimpatis sehingga tidak terjadi keluhan somatik dan peningkatan denyut jantung. Dengan perbedaan konsekuensi ini, bentuk regulasi emosi antecedent focus sering dianggap lebih baik daripada regulasi emosi response focus dalam hal kesejahteraan psikologis (psychological well-being), walaupun diakui pula regulasi emosi antecedent focus ini tidak terlepas dari berbagai kekurangan.

2.2.3 Perkembangan Emosi dan Regulasi Emosi

Holodynski (2005) menyatakan bahwa sedikit sekali teori dan penelitian yang menyebutkan secara eksplisit bagaimana perkembangan regulasi emosi dari sejak usia dini (early) hingga dewasa (adulthood). Dengan mendasarkan pada pemahaman bahwa proses mental muncul selama ontogenesis melalui internalisasi proses regulasi, maka kemudian ia mengembangkan model internalisasi dari perkembangan emosi dan regulasinya. Perkembangan regulasi emosi menurutnya didasarkan pada aspek-aspek bagaimana seseorang mendapatkan kemampuan untuk menahan atau membendung konsekuensi dari emosi yang tidak diharapkan, dan meregulasinya atau mengantisipasi motivasi dan harapan dimasa mendatang. Sedangkan menurut Lopes dalam Holodynski (2005), regulasi emosi itu berkaitan erat dengan kualitas fungsi sosial pada anak. Berdasarkan model internalisasi dari Holodynski ini, perkembangan emosi dan regulasinya dapat dibagi menjadi lima fase, yaitu :

a. Fase pertama : usia 0 – 2 tahun
Pada fase ini infant dihadapkan pada tugas untuk membangun kemampuan membedakan berbagai emosi yang dimediasi oleh tanda-tanda ekspresi dan menerima berbagai bentuk coping dalam kerangka regulasi interpersonal dengan caregivers ( pengasuh ). Pengasuh harus menginterpretasikan ekspresi dan reaksi tubuh yang masih membingungkan bagi infant. Infant dan pengasuh bersama-sama mempersiapkan untuk beradaptasi dalam melakukan regulasi. Jadi pada fase ini, regulasi emosi infant masih terorganisisr secara interpersonal, karena emosi untuk selanjutnya diarahkan pada orang lain. Infant masih total tergantung pada regulasi interpersonal melaui pengasuh, dan mereka masih belum dapat mengontrol emosi mereka. Oleh karena itu tugas pada fase ini benar-benar dibebankan pada pengasuh.
Akan tetapi secara spesifik, Calkins dalam Gross (2007) menyatakan bahwa usaha regulasi emosi dimulai pada manusia saat usia 3 bulan, dimana pada saat ini control perilaku didominasi oleh mekanisme fisiologis bawaan, dan bersifat instrumental atau gerakan motorik yang sederhana (simple motor movement), misalnya memberi tanda perasaan senang atau tidak senang dengan ekspresi wajah, bayi dapat bereaksi terhadap stimulus yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan dengan cara menengok atau memalingkan muka. Kemudian usia 3 – 6 bulan bayi mampu mengenal stimulus yang tidak menyenangkan secara sederhana dengan distraksi sederhana, misalnya menghindari hal yang menakutkan dengan mengalihkan perhatian pada mainan. Pada akhir tahun pertama, bayi mulai aktif melakukan usaha dalam mengontrol munculnya perasaan (affective arousal). Pada akhir tahun ke-dua, mampu melakukan strategi regulasi emosi berupa calming (physical self-soothing, misalnya menghisap jari atau dot, menggunakan selimut yang lembut), distraction (umumnya berupa memalingkan pandangan dan manipulasi objek dengan mainan) dan first symbolic strategies / cognitive reinterpretation (awal dari fungsi simbolik, tetapi masih jarang pada usia ini). Secara umum fase ini sebagian besar masih bersifat regulasi interpersonal.

b. Fase kedua : usia 3 – 6 tahun
Anak dihadapkan pada tugas untuk mengurangi dukungan komprehensif dari pengasuh mereka dan menjadi mampu (capable) baik regulasi intrapersonal maupun interpersonal. Fase ini anak mulai mampu meregulasi secara independen melalui emosi dan kemauan mereka sebatas yang dia mampu berdasarkan pengaruh yang didapatkan sebelumnya terhadap emosi dan keinginannya. Dalam konteks ini, mulai muncul emosi bangga (pride), malu (shame), dan perasaan bersalah (guilt) yang berkaitan dengan meningkatnya self-aware (kesadaran diri) anak terhadap norma dan aturan budaya. Mereka mempelajari koordinasi antara motivasi kepuasaan dengan lingkungan social mereka. Seiring kemampuan dalam autonomi nya, anak pada usia 3 – 6 tahun dapat ditinggalkan dan bermain sendiri dalam waktu singkat, dan bila mengalami emosi dia akan mencari support sosial untuk membantunya menghadapi emosi tersebut. Kemampuan berbicara yang meningkat pada fase ini juga meningkatkan kemampuan regulasi emosi nya. Pada masa ini anak dapat menghadapi atau menghindari peristiwa yang menimbulkan emosi dengan berbicara dan juga self instruction, juga mengekspresikan emosi secara verbal. Maka pada saat ini pengasuh dapat meningkatkan strategi simbolik dalam melakukan regulasi emosi interpersonal, dan komunikasi verbal menjadi penting dalam regulasi emosi. Hal ini sesuai pula dengan pernyataan Kopp (1992) yang menyatakan bahwa mengembangkan kemampuan bahasa sangat mendorong kemampuan anak-anak kecil untuk memahami, menyampaikan, mencerminkan, dan mengatur emosi mereka. Pada akhir usia 6 tahun, anak mampu melakukan distraksi secara mandiri, misalnya bermain dengan objek lain saat pengasuh tidak ada. Begitu juga saat ada pengasuh, ketika pengasuh sibuk, anak bisa tersenyum pada pengasuhnya, memperlihatkan mainannya atau mengajaknya bermain. Sebaliknya pada usia ini strategi calming menjadi menurun. Secara umum, pada fase ini peran eksternal atau interpersonal regulation mengalami sedikit penurunan.
Dalam penelitian Stansbury dan Sigman yang dikutip oleh Holodynski (2005) menyatakan bahwa pada fase ini juga ditemukan bahwa anak lebih menyukai strategi regulasi seperti yang dilakukan ibunya. Hal ini dapat menunjukkan bahwa pada usia ini terjadi proses belajar spesifik dari orangtua. Menurut Thompson (1990) anak mempelajari regulasi emosi dari orangtua melalui empat cara yaitu (1) instruksi langsung (direct instruction), (2) mengajukan reinterpretasi penyebab (proposals for reinterpreting the cause), (3) mencontoh model (model learning), (4) berdiskusi seputar masalah emosi (discourse over emotions)

c. Fase ketiga : diatas 6 tahun
Cara regulasi psikologis (ekspresi dan bicara) mengalami perubahan dalam implementasi regulasi secara intrapersonal. Seiring meningkatnya autonomy, ekspresi dan tanda bicara / speech signs (misalnya : suara, bahasa) menyesuaikan dengan fungsi baru dari regulasi intrapersonal dengan terjadinya internalisasi : ekspresi fisik dan bicara yang dapat difahami oleh orang lain (observer perspective) menjadi ekspresi mental dan bicara dapat dipersersepsi hanya oleh orang tersebut (actor perspective). Cemoohan dan cacian menjadi hal yang disembunyikan, senyum yang terlihat (visible smile) menjadi sesuatu yg inner (inner smile) dan bisa berlangsung sebentar saja, audible speech menjadi inner speech. Level mental dari ekspresi, bicara dan tindakan mulai muncul.
Dengan terjadinya internalisasi tadi, maka semakin mengoptimalkan regulasi, yang selanjutnya memungkinkan optimalisasi dalam mengontrol ekspresi emosi. Ketika seseorang merasakan suatu emosi, ia dapat mengadaptasi ekspresi emosi nya sesuai tuntutan budaya dan lingkungannya tanpa mengganggu perasaannya. Secara spesifik Shields (1997) menyatakan bahwa regulasi emosi pada usia ini menunjukkan bahwa anak mampu menyadari display rule, dan memungkinkan terjadinya ketidaksesuaian antara emosi yang ditampilkan dengan pengalaman internalnya sehubungan dengan konteks yang dihadapi.
Menurut Santrock (2007), pada masa ini anak semakin mampu mengembangkan pemahaman emosi dan regulasi emosi. Selain itu ia menyatakan terdapat perubahan perkembangan emosi pada masa ini yaitu :
- Meningkatnya pemahaman tentang emosi . Misalnya, anak- anak usia sekolah dasar mengembangkan suatu kemampuan untuk memahami emosi kompleks tertentu seperti bangga dan malu. Emosi dan regulasi emosi menjadi lebih mandiri (intrapersonal) serta terintegrasi dengan tanggungjawab personal.
- Meningkatnya pemahaman tentang emosi kompleks daripada emosi dasar yang dapat dialami atau diterapkan dalam situasi tertentu.
- Meningkatnya kecenderungan untuk mengingat akan peristiwa yang menimbulkan reaksi emosi
- Meningkatnya kemampuan menekan atau menyembunyikan reaksi emosi negatif. Anak – anak sekolah dasar sering dengan sengaja menyembunyikan emosi mereka.
- Menggunakan strategi dengan berinisiatif sendiri (self-initiated) untuk mengalihkan perasaannya. Dalam usia sekolah dasar, anak menjadi lebih reflektif dan megembangkan strategi yang lebih baik untuk menanggulangi masalah dengan pola emosi. Mereka dapat lebih efektif dalam mengatur emosinya dengan strategi kognitif, misalnya dengan mengalihkan fikiran atau perhatian (cognitive change).
- Terdapat suatu kapasitas empati yang tulus

d. Fase ke-empat : usia remaja (adolescence)
Tugas pada fase ini tidak hanya mengatur aksi dan emosi dengan memperhatikan saat ini dan sesaat berikutnya, tetapi untuk mengembangkan kemampuan memperluas kompetensi self-controlling ini jauh di masa mendatang. Ada peningkatan penyesuaian ekspresi emosi yang lebih halus pada interaksi dan konteks tertentu. Dalam teori internalisasi dari Holodynski ini tidak banyak dijelaskan perkembangan pada usia ini karena menurutnya tidak cukup bukti penelitian yang mendukung penjelasannya.
Menurut Santrock (2007), kemampuan mengontrol emosi merupakan aspek penting dalam perkembangan aspek emosi masa remaja ini. Kemampuan regulasi emosi berkaitan pada berbagai keberhasilan atau kegagalan banyak aspek misalnya akademik.

e. Fase ke lima : usia dewasa (adulthood)
Charles dan Cartensen menyatakan bahwa regulasi emosi tidak menurun seiring meningkatnya usia. Cartensen dalam Holodynski (2005) menyatakan bahwa optimalisasi kemampuan regulasi emosi terjadi pada masa dewasa ini. Individu pada fase ini menunjukkan kemampuan meregulasi emosi negative yang lebih baik daripada fase sebelumnya.

2.2.4 Faktor yang mempengaruhi regulasi emosi

Terdapat berbagai faktor yang dianggap berpengaruh terhadap regulasi emosi baik secara intrinsik maupun ekstrinsik , diantaranya yaitu :
a. Usia
Faktor usia dalam hal ini terkait dengan kematangan organ, menurut Beer dan Lombardo dalam Gross (2007) menyatakan bahwa regulasi emosi seseorang melibatkan peran dari proses kerja lobus frontal di otak, cingulate anterior, lobus temporal, dan kemungkinan amygdala. Calkins dalam Gross (2007) menyatakan bahwa lobus frontal bertanggungjawab dalam perilaku menghindar atau mendekat terhadap stimulus yang menimbulkan emosi. Kemampuan ini semakin berkembang seiring usia, dari kemampuan instrumental hingga bersifat affektif dan kognitif. Implikasi lain dari faktor biologis ini adalah bahwa kemampuan regulasi emosi pada seseorang pada awal-awal usia kehidupan lebih dilakukan secara ekstrinsik dalam arti lebih diregulasi oleh fihak eksternal dirinya yaiut caregivers dan bentuk attachmentnya. Seiring meningkatnya usia bentuk regulasi emosi dari yang bersifat interpersonal (lebih dipengaruhi faktor eksternal) menjadi lebih bersifat intrapersonal (bersifat internal, dilakukan secara mandiri baik instrumental maupun kognitif).

b. Jenis kelamin, `
Secara neural, McRae (2008) dalam penelitiannya menyatakan bahwa gender berpengaruh dalam regulasi emosi seseorang. Gender ini terkait dengan respon amygdala yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Dibanding perempuan, laki-laki memperlihatkan lebih sedikit peningkatan dalam area prefrontal yang berhubungan dengan reappraisal, selain itu laki-laki mengalami penurunan yang lebih besar dalam amygdala yang berhubungan dengan respon emotional, lalu perluasan area ventral striatal nya lebih sedikit dibanding perempuan yang mana hal ini berkaitan dengan reward processing. Reward procesing adalah mekanisme yang mana stimulus dengan valensi appetitive, menyenangkan dan positif menimbulkan respon emosi. (Reward processing is the mechanism by which appetitive, pleasurable, and positively valenced stimuli evoke an emotional response (Baxter&Murray dalam Dickstein, 2006). Selain itu Middendorp (2005) dalam penelitiannya menyatakan bahwa regulasi emosi pada perempuan lebih kuat pengaruhnya terhadap perasaan tentang kesehatannya, atau regulasi emosi yang dilakukan didasari oleh kondisi kesehatannya yang bisa dianggap mengancamnya.
Berdasarkan konsep cognitif emotion regulation yang dikembangkan oleh Garnefski (2007), ia menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki regulasi emosi yang relatif berbeda. Menurutnya, perempuan lebih banyak melakukan rumination (terus menerus memikirkan hal yang negatif), catastrophizing (merasa peristiwa yang dialami adalah pengalaman yang buruk) dan positive refocusing (fokus pemikiran pada hal-hal positif atau menyenangkan daripada memikirkan yang sebenarnya).

c. Kognitif
Zelazo dalam Gross (2007) menyatakan bahwa regulasi emosi berhubungan langsung dengan executive function (EF). EF merupakan pemahaman tentang kontrol kesadaran akan pemikiran dan aksi. Walaupun berhubungan langsung namun EF ini bukan satu-satunya rute regulasi emosi. Selain itu menurut Philippot (2004) bahwa regulasi emosi melibatkan seluruh domain penting dari kognisi seperti persepsi, perhatian (attention), memory, pembuatan keputusan dan kesdaran (consciusness), kemudian dengan konsep dual memory model nya, ia menyebutkan bahwa regulasi emosi dapat dicapai secara tidak langsung dengan melakukan feedback loops yang memelihara dan meningkatkan aktifasi schema.

d. Motivasi
Motivasi berperan dalam terbentuknya regulasi emosi, hal ini sebetulnya terkait juga dengan aspek budaya, dimana motivasi sosial bisa membentuk regulasi emosi yang dilakukan. Menurut Fischer dalam Philipot (2004) orang cendrung menginginkan situasi yang nyaman dan kemudian ia menghindari keadaan negatif dalam arti hubungan interpersonal. Selanjutnya Fischer membedakan tiga perbedaan tipe motivasi pada level interpersonal yaitu (1) impression management, dalam tipe ini individu melakukan regulasi emosi dengan menghindari penilaian yang tidak menyenangkan atau tidak menguntungkan yang dikarenakan potensial terjadinya ketidaktepatan emosi mereka. (2) prosocial motive, tipe ini menunjukkan bahwa individu termotivasi untuk tidak melukai orang lain atau bahkan melindungi orang lain. (3) influence, tipe ini merupakan tipe dimana seseorang ingin mempengaruhi orang lain. Jadi dengan mengekspresikan emosi, individu sebenarnya menunjukkan tujuan dari motivasinya (Roseman, Wiest &Swartz, 1994 yang dikutip oleh Philippot, 2004) seperti ingin membuat nyaman satu sama lain, ingin melukai orang lain, ingin orang melakukan sesuatu untuk dirinya, dan sebagainya.

e. Aspek sosial terutama pengaruh keluarga
Keluarga dan teman sebaya dianggap dapat menjadi komponen dalam konstruksi sosial pada berbagai keadaan individu. Begitu pula regulasi emosi dibentuk oleh berbagai pengaruh ekstrinsik yang berinteraksi dengan pengaruh intrinsik yang telah dibahas sebelumnya, dan dari sudut perkembangan, Thompson dan Meyer, dalam Gross (2007) menyatakan bahwa regulasi emosi dipengaruhi oleh keluarga dan teman sebaya. Teman sebaya penting dalam perkembangan kemampuan regulasi emosi pada konteks di luar rumah dan keluarga dalam konteks di dalam rumah. Pada faktor keluarga, kualitas hubungan orangtua dan anak menjadi dasar utama yang berpengaruh terhadap regulasi emosi. Anak yang memiliki secure attachment dengan orangtuanya cenderung lebih sadar diri secara emosional, menerima pemahaman emosi yang lebih besar dan mengembangkan kapasitas untuk mengatur emosi yang tepat di lingkungannya, menyediakan sumber support yang dapat diandalkan secara berkesinambungan. Sebaliknya, anak dengan insecure relationship yang mempunyai ibu kurang sensitif dan berrespon secara tidak konsisten terhadap perasaan anaknya, serta kurang membuat nyaman ketika berbicara tentang kesulitan emosi yang dialami sang anak tersebut, anak ini cenderung terbatas dalam memahami emosi dan sulit dalam melakukan regulasi emosi terutama dalam keadaan penuh stress, hal ini terjadi karena kurangnya support dalam hubungan orangtua dan anak. Anak ini dapat memperlihatkan disregulasi emosi dengan memperlihatkan peningkatan emosi negatif yang tidak teratur. Selain itu menurut Diener (2002), anak yang memiliki hubungan yang secure mempunyai kemampuan mengatur emosi yang lebih baik sejak awal kehidupan. Maka konteks relasi ini menjadi penting dalam regulasi emosi.

f. Budaya
Cultural models theory menekankan bahwa proses sosial dan psikologis bermakna secara bervariasi di berbagai budaya (Mesquita dalam Gross 2007), dan menurutnya begitu pun dalam hal regulasi emosi. Regulasi emosi tidak hanya berkaitan dengan proses intra personal, akan tetapi emosi di regulasi sesuai dengan dimana dan bagaimana cara individu tersebut menjalani kehidupan. Regulasi emosi terjadi pada tataran budaya praktis melalui penstrukturan situasi sosial dan dinamika interaksi sosial, usaha orang terdekat untuk memodifikasi situasi individu yang bersangkutan, fokus perhatian seseorang atau makna yang diambil dalam berbagai situasi, dan kesempatan yang tersedia dalam perilaku emosional dalam hal ini regulasi emosi. Kemudian dalam tataran kecenderungan psikologis individu menunjukkan perbedaan budaya melalui orientasi yang berbeda seperti menghindari atau menghadapi suatu situasi tertentu, perspektif umum tentang situasi dan makna yang meninjol didalamnya, dan kecenderungan perilaku yang berkaitan dengan emosi yang ada. Aspek budaya ini menjadi berhubungan pula dengan motivasi, regulasi emosi dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain.
Regulasi emosi juga dipengaruhi oleh proses cultural dalam kaitannya dengan cara caregiver berinteraksi dengan infant sesuai dengan sistem pemahaman subyektif mereka yang secara sosial dan kultural diturunkan (Friedlmeier, 1999). Kemudian Kitayama (2004) dan Matsumoto (2008) dalam penelitian cross cultural -nya menyatakan bahwa memang regulasi emosi yang dilakukan seseorang bisa terjadi dalam tataran kolektif atau individual. Akan tetapi dengan dimediasi oleh nilai subyektif dan sikap, seseorang yang berada pada kultur kolektif mempunyai dukungan interdependen yang kuat, hal ini mempunyai implikasi bahwa jika seseorang menghadapi emosi, ia akan mendekat (engagement) dan mencari dukungan sosial. Hal ini memungkinkan seseorang memiliki bentuk regulasi interpersonal yang kuat. Sebaliknya pada kultur individual atau independent, seseorang cenderung relatif menjauh (disengagement) dari peran social, hal ini memungkinkan seseorang lebih cenderung melakukan regulasi secara intrapersonal.

g. Norma
Norma sebenarnya berkaitan dengan aspek lain yang telah dibahas sebelumnya seperti budaya, motivasi dan gender, akan tetapi Fischer dalam Philippot (2004) menyebutkan bahwa norma memainkan peran penting dalam regulasi emosi. Contoh praktis misalnya individu tidak mau terlihat sebagai abnormal, bagaimana individu tertawa di suatu tempat, adanya stereotipi gender yang menyebutkan bahwa laki-laki lebih rasional dan perempuan lebih emosional, norma untuk memelihara harmoni sosial dengan menekan emosi negatif terhadap orang lain. Fischer juga menyimpulkan bahwa yang membentuk dasar motivasi adalah norma.

2.3 Kanker
Kanker adalah pertumbuhan sel yang berlebihan secara abnormal. Kanker berkembang karena terjadi suatu perubahan dalam DNA (deoxyribonucleic acid). DNA merupakan unsur genetik yang esensial pada seorang individu, yang berfungsi membantu menentukan karakteristik individu pada tiap manusia. Sel normal pada tubuh seseorang terbelah secara cepat dan menyalin DNA melalui proses yang rumit. Miliaran sel dibagi dalam tubuh kita setiap hari, dan kesalahan bisa saja terjadi. Akan tetapi dalam tubuh sendiri terdapat mekanisme perbaikan untuk menangani kesalahan tersebut. Masalah baru terjadi ketika kesalahan-kesalahan (errors) tidak terdeteksi oleh mekanisme perbaikan tadi. Demikian pula dengan suatu sel cancer juga mengikuti pola yang sama dan membiarkan sel kanker itu dibagi dan disalin, sehingga hal ini menimbulkan penyakit yang disebut kanker itu sendiri. Sel kanker tumbuh lebih cepat dibanding sel normal, sehingga sel kanker mengejar sel normal dan akhirnya menimbulkan gejala-gejala (Howell, 2008).
Secara umum kanker dibagi menjadi lima tipe berdasarkan jenis jaringan yang terkena, yaitu (1) carcinoma, kanker yang terjadi pada jaringan kulit dan system organ seperti saluran pencernaan, pernafasan dan saluran reproduksi, (2) melanomas, kanker pada kulit khususnya yang menghasilkan pigmen kulit atau melanin, (3) lymphoma, yaitu kanker pada system limfe atau kelenjar getah bening, (4) sarcoma, yaitu kanker ganas pada tulang, otot dan jaringan penyokong lainnya, (5) Leukemia, yaitu kanker pada organ pembentuk darah seperti sumsum tulang belakang, yang akan mencetuskan pada pembelahan sel darah putih yang ekstrim.
Leukemia merupakan kanker yang paling sering dijumpai pada masa anak. Dengan metode diagnostic yang lebih akurat pemberian terapi yang lebih efektif pada uji klinis terkontrol, serta perawatan suportif yang lebih baik, hasil pengobatan Leukemia pada anak telah memperlihatkan kemajuan yang pesat.

2.4 Leukemia

Leukemia adalah kanker yang terjadi di dalam sumsum tulang pembuat sel darah (bagian dalam tulang yang lembut), yang ditandai dengan adanya kelebihan sel darah putih (leukosit) yang abnormal. Leukosit adalah sel darah putih, merupakan salah satu komponen darah selain eritrosit (sel darah merah) dan trombosit (pembeku darah). Leukemia terjadi karena terdapat beberapa perubahan selular, yaitu terjadi mutasi pada material genetic, yaitu DNA (deoksiribonulkeat acid) didalam sel tertentu. Leukemia mulai ketika satu atau beberapa sel darah putih mengalami kehilangan atau kerusakan pada DNA nya. Leukosit yang abnormal itu kemudian di copy / disalin dan ditinggalkan pada generasi sel berikutnya, sehingga meninggalkan bentuk leukosit yang immature dan tidak pernah matur, juga tidak megalami kematian sel sebagaimana mestinya melainkan diakumulasi dalam tubuh.
Menurut Swierzewski (2007), secara umum Leukemia diklasifikasikan atas dasar perjalanan alamiah penyakit yaitu akut dan kronik, serta berdasarkan tipe sel predominan yaitu limfoid dan myeloid. Maka secara umum Leukemia diklasifikasikan menjadi :
- Leukemia Myeloid Akut / Acute Myelogenous Leukemia (AML)
- Leukemia Myeloid Kronik / Chronic Myelogenous Leukemia (CML)
- Leukemia Lymfositik Akut (LLA)/Acute Lymphocytic Leukemia (ALL)
- Leukemia Lymfositik Kronik (LLK) / Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL)
Dalam penelitian ini, Leukemia yang dimaksud adalah jenis Leukemia Lymfositik Akut (LLA). LLA merupakan tipe Leukemia yang paling sering terjadi pada anak, yaitu sekitar 80 % dari Leukemia anak , dan sisanya sebagian besar adalah leukemia myeloid akut (non limfositik). Leukemia akut biasanya berkembang cepat, sementara tipe kronik muncul dalam beberapa tahun sebelum diagnosis (Swierzewski , 2007). Untuk selanjutnya istilah LLA dalam penelitian ini digunakan istilah Leukemia.
2.4.1 Penyebab Leukemia

Penyebab Leukemia atau perubahan selular pada Leukemia belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor yang dianggap berperan dalam kejadian Leukemia adalah faktor lingkungan, genetik dan keadaan immunodefisiensi (Rudolph, 1995). Swierzewski (2007) menyatakan penyebab kanker secara umum adalah :
- Usia
- Radiasi
- Kimiawi
- Virus
- Genetik
- Rokok
- Pengobatan

2.4.2 Gejala Klinis Leukemia
Tanda dan gejala Leukemi bisa berbeda dari satu penderita dengan penderita lainnya, namun menurut Tehuteru (2005), gejala yang umum terjadi adalah :
- Lemah, pucat, mudah lelah, serta denyut jantung yang meningkat. Keadaan ini terjadi karena jumlah sel darah merah yang berkurang akibat terdesak oleh sel-sel leukemic
- Sering demam dan mengalami infeksi. Keadaan ini disebabkan oleh karena berkurangnya jumlah sel darah putih yang baik yang bertugas untuk melawan organisme-organisme penyebab penyakit.
- Tampak biru-biru di beberapa bagian tubuh, bintik-bintik merah, mimisan, serta gusi berdarah. Keadaan ini terjadi karena berkurangnya jumlah trombosit.
- Merasakan nyeri-nyeri pada tulang. Keadaan ini terjadi akibat sudah menyebarnya sel-sel blast (sel darah yang masih muda) ke dalam tulang.
- Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar limfe. Keadaan ini juga terjadi akibat sudah menyebarnya sel-sel blast ke dalam organ-organ tersebut di atas.
- Toleransi exercise menurun
- Kehilangan berat badan
- Nyeri perut

2.4.3 Pemeriksaan diagnosis

Tehuteru (2005) menyatakan bahwa jika anak mengeluhkan gejala yang disebutkan sebelumnya, maka anak akan dilakukan pemeriksaan darah tepi untuk mengetahui nilai laboratorium darah seperti hemoglobin, leukosit, trombosit, dan sebagainya. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menyuntikkan jarum kedalam pembuluh darah, biasanya di bagian tangan. Dugaan ke arah Leukemia akan semakin kuat bila hasil pemeriksaannya menunjukkan kadar hemoglobin, leukosit dan trombosit yang rendah.
Untuk memastikannya, selanjutnya anak akan dianjurkan untuk dilakukan pemeriksaan aspirasi sumsum tulang atau BMP (Bone Marrow Punctie) untuk dapat langsung melihat ke pusat pembuat darah. Pemeriksaan ini dilakukan pada anak usia diatas 2 tahun, dilakukan di sekitar tonjolan tulang yang letknya beberapa centimeter dari tulang ekor, seperti yang terlihat pada gambar 2.5 . Agar anak tidak merasa sakit selama prosedur berlangsung, dokter akan mengawalinya dengan memberikan suntikan bius lokal. Melalui pemeriksaan inilah, anak dapat ditentukan apakah ia benar menderita Leukemia atau tidak. Jika sudah dipastikan bahwa memang anak menderita Leukemia, tahap berikutnya adalah pengobatan.

Gambar 2.5 Illustrasi tindakan BMP (Bone Marrow Punctie), diambil dari ADAM Multimedia Encyclopedia

2.4.4 Pengobatan Leukemia
Penanganan Leukemia meliputi aspek kuratif (pengobatan) dan suportif atau pendukung/meringankan gejala, (Zwierzewski, 2007). Penanganan kuratif bertujuan untuk menyembuhkan Leukemia, terutama melaui pemberian obat-obatan atau kemoterapi, yang membutuhkan waktu minimal dua tahun. Artinya protokol (panduan) kemoterapi akan membutuhkan waktu dua tahun seandainya pengobatan yang diberikan sesuai jadual, dimana kondisi anak memang memungkinkan untuk diberikan pengobatan tersebut. Kondisi anak sering tidak selalu sama, pada saat jadual kemoterapi, terkadang kondisi anak tidak memungkinkan untuk dilakukan kemoterapi karena hasil pemeriksaan darah yang tidak mendukung. Maka waktu pengobatan tersebut bisa memanjang. Sedangkan penanganan suportif meliputi penanganan terhadap penyakit penyerta Leukemia dan pengobatan komplikasi antara lain berupa pemberian transfusi darah atau pemberian antibiotik.
Kemoterapi, sebagai strategi dasar untuk pengobatan Leukemia, mempunyai berbagai protokol atau regimen (panduan) yang relatif berbeda yang disesuaikan kondisi anak (kelompok resiko yang berbeda), namun pada umumnya menurut Zwierzewski (2007), regimen kemoterapi ini meliputi empat fase :
a. Induksi
Merupakan kemoterapi intensif jangka pendek secara intensif (sekitar 4 – 8 minggu, tergantung kelompok resiko) untuk menghancurkan sel-sel blast yang ada (sel darah yang immatur). Kemoterapi fase ini meliputi pemberian obat-obatan yang diberikan melalui infus satu minggu sekali, serta obat yang diminum setiap hari. Pada kelompok resiko tinggi, biasanya diberikan pula pengobatan melalui intrathecal (IT), yaitu memberikan obat yang disuntikkan kedalam cairan yang berada di sekitar otak dan sepanjang tulang belakang (cairan serebrospinal), obat disuntikkan melalui ruas tulang belakang 3 – 4 (punggung bagian bawah), lihat gambar 2.6. Hal ini dilakukan untuk mengejar sel kanker yang kemungkinan sudah menyerang otak. Sukses atau tidaknya penghancuran sel kanker pada fase induksi ini, dapat diketahui melalui pemeriksaan BMP yang kedua, yang dilakukan pada akhir fase induksi. Penghancuran dianggap berhasil bila dari pemeriksaan BMP didapatkan jumlah sel blast berkurang sampai batas normal yang ditentukan. Keadaan ini disebut sebagai remisi.
Efek samping yang dapat muncul dari obat-obatan yang diberikan pada fase ini meliputi mual, muntah, lelah/lemas (fatigue), perubahan sensasi rasa (taste sensation), kerontokan rambut, sariawan, reaksi alergi seperti kemerahan di area suntikan, peningkatan berat badan, efek pada otot, saraf serta darah itu sendiri, gangguan tidur, peningkatan tekanan darah, dan masalah dalam nilai laboratorium darah.

Gambar 2.6 Area Pemberian obat melaui intrathecal (IT), diambil dari ADAM Multimedia Encyclopedia
b. Konsolidasi
Fase ini berlangsung 4 – 8 bulan pada anak, merupakan terapi untuk mengeliminasi sel leukemia yang kemungkinan masih ada didalam tubuh. Obat-obatan diberikan melaui intratekal (IT). Efek samping yang dirasakan pada fase ini terutama mual, muntah, perubahan warna kulit (kehitaman), anemia (menjadi lemah) dan penurunan sel darah putih (mudah terinfeksi). Oleh beberapa ahli fase ini sering disamakan dengan fase profilaksis, sehingga tidak disebut secara eksplisit. Untuk selanjutnya dalam penelitian ini, fase konsolidasi akan diganbungkan dengan fase profilaksis, sehingga proses pengobatan dijadikan tiga fase.

c. Pengobatan profilaksis (terapi preventif)
Fase ini bertujuan untuk mencegah penyebaran sel kanker ke otak dan system syaraf. Tindakan yang dilakukan pada fase ini adalah dengan memberikan obat melalui intrathecal (IT) dan bisa pula memberikan irradiasi (terapi sinar) pada daerah kepala. Fase ini dapat berlangsung selama 14 – 28 minggu. Efek samping dari pemberian obat pada fase ini sama dengan fase konsolidasi.

d. Terapi pemeliharaan (maintenance)
Fase ini dimaksudkan untuk mencegah kembalinya kondisi leukemia setelah remisi tercapai. Obat-obatan yang diberikan seperti pada fase induksi, akan tetapi dalam dosis yang rendah. Waktu yang dibutuhkan sekitar 6 bulan intensif hingga mencapai waktu pengobatan seluruhnya selama 2 – 3 tahun.
Follow up terapi medis untuk pasien Leukemia biasanya meliputi :
- Terapi simptomatis (mengatasi gejala-gejala penyerta), misalnya pemberian nutrisi intravena (melalui infus)
- Transfusi darah (dilakukan saat terjadi penurunan nilai darah terutama hemoglobin / anemia dan trombosit ).

This entry was posted in Akademik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 2 = 9

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>