Librarian Journal

Buku Harian Pustakawan

Menjadi Pustakawan Fungsional, It’s not Only About Angka Kredit, Tunjangan Kinerja atau Grade, Men!

March1

Mahasiswa magang di perpustakaan sedang mengolah koleksi ( Sbr. Dokumentasi FLKC 2013)

Menjadi pustakawan adalah pilihan sadar yang harus diimbangi dengan tanggungjawab profesi yang sempurna. Pustakawan fungsional ideal, tidak hanya mengurus-i angka kredit (apalagi angka kredit sendir saja). Namun ia memiliki tanggung jawab profesi untuk membina pemustaka di sekelilingnya. Ia memiliki tanggung jawab terhadap perpustakaan secara keseluruhan tempat ia bekerja. Pustakawan tidak bisa memilah-milah pekerjaan dan hanya mengerjakan pekerjaan sendiri atau memilih pekerjaan atau hanya mau mengerjakan pekerjaan yang menghasilkan angka kredit untuk dirinya sendiri.  Ia harus memiliki sense of belonging terhadap perpustakaan tempat ia bekerja, rasa hariwang (baca:khawatir) biila layanan tidak berjalan sesuai keinginan. Pustakawan harus memiliki rasa nya’ah (baca: sayang) terhadap sumber daya informasi (koleksi) yang ada di perpustakaannya.

Maka, bila melihat jam layanan seharusnya sudah buka, dan ternyata belum…ia harus khawatir dan segera bergerak…membukakan layanan. BIla melihat koleksi berserakan atau rusak, maka ia segera bergerak, memperbaiki, mengamankan.

Menjadi pustakawan , apalagi pustakawan fungsional di instansi negeri bukan melulu mengurus angka kredit! Kum, atau grade. Miris ketika mendengar berbondong-bondong menjadi pustakawan karena sekarang grade pustakwan besar-besar, tinggi-tinggi…..kemarin pada kemana? ketika pustakawan masih dipandang sebelah mata, belum naik daun, belum punya grade tinggi. Yaah, tak apalah, minimal sudah tertarik menjadi….nah PR nya sekarang adalah bagaimana pustakawan angka kredit atau pustakawan grade itu meng-upgrade diri dan kemampuannya sehingga sesuai dan pantas untuk menyandang pangkat di pustakawan fungsional.

Lalu, satu lagi, menjadi pustakawan itu tidak melulu mengurus kum sendiri. Prioritas itu tetap layanan kepada civitas akademika, yaitu mahasiswa dan dosen. Semua hal terkait layanan harus diutamakan. Maka, yang namanya layanan sirkulasi termasuk shelving, weeding, jaga layanan….itu menjadi tanggung jawab bersama…jauuuuuh di atas kewajiban pribadi untuk naik pangkat atau mencari kum sesuai jabatan masing-masing. Jadi ada pekerjaan khusus sesuai level jabatannya, ada juga pekerjaan bersama yng menjadi tanggung jawab bersama……apalagi bila SDM jumlahnya belum memadai antara persentase pustakawan ahli dan pustakawan terampil. Percayalah kum itu akan sangat overload di perpustakaan itu. namun ketika seseorang karena “merasa” sudah di level tinggi dan merasa tak pantas mengerjakan pekerjaan yang menurutnya “sepele” seperti layanan sirkulasi termasuk shelving, weeding, jaga layanan itu…..huh….di situlah Saya merasa sedih, men!

eh tapi…meskipun memang ada seimbang antara jumlah pustakawan ahli dan pustakawan terampil….emang kita mau tega membiarkan teman pustakawan terampil kita mengurusi layanan sirkulasi, shelving sendirian…shelaving sekian ribu koleksi setiap hari? iiih, yang benar saya, atuh! di mana hatimu?

Apalagi yang bisa diperbuat kalau memberikan informasi sudah, melatih sudah, mengkoordinasikan sudah….tapi tak berubah juga….yaaah mungkin masih perlu waktu lagi ya, untuk berubah….

baiklah….sampai kapan? perpustakaan Unpad itu sudah tertinggal jauh dari perpustakaan perguruan tinggi yang lain…so, seharusnya sudah running well-laaah! berikan SDM yang bisa mampu running well dengan cepat.

Kalau tak berubah juga tuh SDM…tetap tidak peduli meski terhadap pekerjaan yang menurutnya “sepele” seperti layanan sirkulasi termasuk shelving, weeding, jaga layanan itu….(kalau tak peduli sama pekerjaan yang menurutnya “sepele”…emang dia membuat hal yang “tidak sepele” , gitu?….tidak juga, ternyata!)…..jadi, kembali ke pertanyaan mendasar……untuk apa ada di perpustakaan dan menjadi pejabat fungsional pustakawan?

Ah baiklah , mungkin memang masih perlu waktu banyak untuk membuat semua idealisme itu melebur dengan kondisi lapangan.

Putus asa? iiih, no way, lah! hanya prihatin saja. Unpad yang memiliki prodi Ilmu Informasi dan Perpustakaan, namun tak bisa berbuat banyak untuk mengembangkan perpustakaan di rumah sendiri!

Jleb!

 

posted under Diary

Comments are closed.