Setiap orang punya kehendak untuk bertahan dari suatu serangan. Baik itu serangan fisik maupun psikis. Hal itu bisa dibilang contoh dari berlakunya hukum aksi = - reaksi. Satu tahun terakhir ini kita disuguhi dengan “hukum” itu. Lihat saja kasus antasari. Pak antasari bagaimanapun juga mencari celah untuk menangkis tuduhan bahwa ia bersalah. Mungkin benar beliau salah, namun beliau juga mengusahakan membuktikan bahwa tidak sepenuhnya itu semata mata kesalahan beliau. Ini wujud dari kehendak untuk “bertahan”. Berlanjut pula dengan kasus Bank Century, ada pihak yang dituduh sengaja berbuat melanggar aturan/norma/ketentuan atau apapun istilahnya. Yang dituduhpun berupaya membuat citra bahwa tuduhan itu tidaklah benar.

Sebelumnya muncul pula tuduhan bahwa Bibit dan Chandra dianggap melakukan tindakan menyimpang, kemudian dengan serta merta ditangkis bahkan dengan gelombang dukungan yang sangat besar dari masyarakat. Yang ini “reaksinya” berhasil (apa karena suara masyarakat adalah suara kebenaran?) Yang jelas buntutnya , pak Susno pun jadi lengser sebagai Kabareskrim. Sesuatu yang tidak mengenakkan tentunya. Akhirnyapun pak Susno “bertahan” / “berreaksi” untuk menunjukkan bahwa :”Saya bukanlah satu satunya yang keliru di institusi ini” ” Bahkan ada yang lebih parah keadaan institusi ini” Teriaknya demikian lantang sehingga merembet kemana mana, namun sayangnya sekarang seperti hilang ditelan ombak (mengapa masyarakat tidak memperlihatkan dukungan yang sangat hebat sebagaimana dukungan kepada Bibit Chandra?).

Dari panggung politik juga sama kejadiannya. DPR dengan gegap gempita mengurusi kasus Bank Century. Yang diserangpun berusaha bertahan. Akhirnya jatuhlah (atau naiklah?) bu Sri Mulyani. Setelah itu mereda sambil muncul Setgab Koalisi (berkaitan barangkali…?) Balik lagi ke pak Susno, pak Susnopun seperti tak ingin sengsara sendiri. Pak Susno ingin “barjibarbeh” (bubar siji bubar kabeh), maka muncul kasus rekening gemuk perwira. Maka yang diserangpun “bertahan” segala upaya dilakukan untuk mencari pembenaran. Baru saja mau dikomentari ini itu ini itu , eee muncullah hal hal lain yang harus ditanggapi masyarakat yaitu soal tabung gas yg gampang meledak. Jadi lupa dong dengan kasus besar Century? Yang punya tanggungjawab soal tabung gas pun berreaksi… alasan ini itu ini itu… belum selesai diurusi, yang punya tanggungjawab seperti mendapat angin dengan perhelatan besar Piala Dunia Sepakbola. Kita semua seperti “refreshing” menghindari segala persoalan publik. Kesempatan pula nih untuk naikkan TDL.Hampir bersamaan , seperti mendapat angin segar, persoalan yang harusnya ditangani terlebih dahulu menjadi tertunda dengan munculnya “hiburan” bagi masyarakat sekaligus kecaman dari masyarakat perihal Ariel Luna Tari. Sampai sekarangpun belum selesai dan seperti diulur ulur. Hingga hampir satu tahun semua kasus tidak diselesaikan secara tuntas.. tas tas tas. (kali perlu minum pil tuntas). Ujung ujungnya ini sepertinya (patut diduga) mirip pertarungan serial antara dua kutub (awalnya) menjadi banyak kutub yang tidak disengaja (pada akhirnya)

Bilakah ini suatu rangkaian yang peristiwa hilirnya bukan skenario yang diharapkan? inikah rangkaiannya ? Kekuasaan - Pemilu - Dana Besar - Laksana Bailout - Pelemahan Kontrol Superbody - Penidakberdayaan pimpinan - maka amanlah !!! Sayangnya berlanjut pad hal yg tidak diharapkan : Diketahui keanehan Century - wah bisa bubar jalan niih - ledakkan kehebohan lain - eee kok yang lain kena batunya??!! - nah ini entah Tuhan ingin sekalian semua jenis kebobrokan ditunjukkan muncul pula Uda/Kang Ariel dkk. Semua pihak yang terlibat seperti tidak perlu diperintah, semuanya berupaya bertahan. bertahan bertahan.. Dan yang terakhir masyarakatpun bertahan.. bertahan bertahan dengan kenaikan TDL .. kenaikan harga cabe .. bentar lagi kenaikan harga sembako .. yg sudah menjadi tradisi ketika menjelang ramadhan dan lebaran.

Karena ramadhan pulalah masyarakatpun diminta bertahan untuk tidak bernafsu…. belajar menahan diri fisik dan mental… bahkan seharusnya bukan belajar ,, tapi keharusan. Logikanya kalau kita bisa menahan diri pada bulan ramadhan dan lebaran .. mungkin yang jual cabe dan sembako pun mikir… buat apa jual dengan harga mahal kalau ga ada yang beli??? Marilah kita bertahan…. mudah mudahan bisa. Amiin.

Sudah sangat lama saya tidak menengok blog ini. Mungkin ini dampak dari adanya facebook? atau memang saya tak banyak waktu luang untuk menuangkan sesuatu ? Ingin pula rasanya mengembangkan blog ini untuk keperluan tugas pokok. Tampaknya perlu ada waktu yang tidak tersita oleh hal hal yg rutin. Mungkin saatnya tiba ketika kami dapat kesempatan keluar. Insyaallah.

hari ini kuliah diisi oleh mas dwi purnomo. diberikan satu lembar berisi tulisan tentang kopi dan cara menjualnya. intinya dahulu orang jual kopi cukup dibungkus dengan plastik atau kertas samak buku warna coklat dan yang beli perlu membuat sendiri kopi seduh dan dinikmatinya di rumah.
jaman sekarang sudah lain tampaknya. orang jual kopi hanya dipakai sarana untuk menjual “yang lain”. yang lain itu adalah “kenikmatan” yang tidak diperoleh dari penjual yang lain. muncullah merek merek kopi yang beragam seperti nescafe, good day, nengsari, excelso, ABC, kapal api, dan juga muncul kedai kedai kopi seperti star buck, coffee bean, bahkan kedai kopi pinggir jalan yang banyak ada di sumatra. semua menjual sesuatu yang lain agar konsumen merasa peroleh kenikmatan. kemampuan menjual “kenikmatan” itu dibilang sulit bisa sulit dan dibilang mudah bisa mudah. seseorang perlu menguasai “cara mengelola” yang biasa dibilang dengan manajemen. manajemen operasi menjadi alat yang digunakan, karena dalam manajemen operasi dibahas semua hal yang menyangkut sistem bisnis. fungsi fungsi manajemen dijelaskan seperti fungsi organisasi, pemasaran, keuangan dan tentu produksi. saya coba berikan materi dari pengarang lain yang bisa di download. maaf ternyata terlalu lemot untuk impor dan upload bahan presentasi

lebaran memberikan pelajaran
lebaran memberikan peringatan
lebaran memberikan kekuatan
lebaran memberikan makna
lebaran memberikan kesabaran
lebaran memberikan segalanya yang jadi bahan renungan setelah usia beranjak menuju akhir

meski hanya sebentar, menikmati pantai menjadi sesuatu yang sangat membantu meringankan beban
baron gk

Ada yang menarik daak petuah dari tulisan seseorang yang kemudian yang unduh. Banyak petuah di dalamnya. Simaklah :
Kinanthi ini
Panggawe becik puniku,
gampang yen wus dilakoni,
angel yen durung linakwan,
aras-arasen nglakoni,
tur iku den lakonana,
munfa’ati badanneki.

Mulane wong anom iku,
abecik ingkang taberi,
jejagongan lan wong tuwa,
ingkang sugih kojah ugi,
kojah iku warna-warni,
ana ala ana becik.

Ingkang becik kojahipun,
sira anggowa kang remit,
ingkang ala singgahana,
aja niyat anglakoni,
lan den awas wong kang kojah,
ing lair masa puniki.

diterjemahkan menjadi begini :
Perbuatan baik itu,
mudah apabila sudah dilakukan,
sukar apabila belum dilakukan,
enggan melakukan,
lagipula itu harap dilaksanakan,
bermanfaat (terhadap) badan ini.

Maka orang muda itu,
sebaiknya yang rajin,
bertandang (berbicara) dengan orang tua,
yang kaya pembicaraan,
pembicaraan itu bermacam-macam,
ada yang buruk ada yang baik.

Yang baik pembicaraannya,
kau pakai yang hati-hati/teliti,
yang buruk kau simpan saja,
jangan berniat menjalankan,
dan waspadailah orang yang berbicara,
yang terungkap masa kini.

Cukup dalam petuah ini, tentang bagaimana seseorang (muda) bersikap. Semoga bermanfaat.

Kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah MO, berikut saya uploadkan handout kuliah kita yang telah berlangsung. Semoga bermanfaat. Perlu saya ingatkan kembali bahwa kalau kita kuliah dengan hanya mengandalkan handout saja , saya kira kita ngga akan mendapatkan banyak pengetahuan. Yang lebih penting adalah berpikir bahwa handout ini menjadi pemicu bagi kita untuk mendapatkan materi yang lebih dalam dan lebih lengkap. Begitu banyak tersebar di dunia maya ini materi materi yang sangat bagus. Bagi saya selaku yang dipercaya untuk menularkan pengetahuan, prinsip yang saya anut dalam memberikan penilaian adalah bagaimana proses dan hasil Anda berubah dari keadaan sebelum mengikuti kuliah dengan setelah mengikuti kuliah. Pengetahuan demikian luasnya dan tanpa batas. Adalah tidak mungkin melakukan penilaian hanya dari materi belaka, lebih penting juga adalah proses berpikir yang terjadi pada Anda. Sampai ketemu lagi yaa !! selamat belajar dan mencari pengetahuan sebanyak banyaknya.
Materi : Introduction to OM
Materi : Decision Making

Kadang kadang ada kesempatan di pagi hari untuk sambung ke internet. Default page saya adalah unpad.ac.id. Menarik, setiap buka selalu disuguhkan dinamika tampilan juga isinya yang selalu terbaharukan. Senang dan bangga rasanya, sebab unpad adalah tempat saya sebagai abdi negara. Berita dan knowledge resource selalu berubah. Selamat kepada yang terlibat di dalamnya.
Di sisi lain tampaknya kinerja itu perlu ditularkan kepada admin web pada situs situs yang lain, maksud saya di lingkungan kita sendiri. Saya melihat website fakultas dimana saya berada juga tampaknya kedodoran dalam updatingnya. Saya jelas khawatir pada akhirnya website itu tidak ada yang mengunjungi lagi. Salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah menggunakan situs itu untuk media komunikasi antara dosen dengan mahasiswa dalam rangka proses belajar mengajar. Dengan demikian dinamika bisa setidak tidaknya berlangsung. Namun tetap saja admin web di fakultas itu sangat dibutuhkan untuk melakukan pembaharuan isi setiap harinya, sebab dinamika tidak hanya karena adanya interaksi antara dosen dan mahasiswa melainkan website ini niatnya juga digunakan sebagai gerbang “citra publik” bagi fakultas. Karenanya, diperlukan seorang yang setiap harinya khusus bekerja sebagai admin web dan sifatnya bukan voluntering lagi. Tampaknya ini berlaku untuk beberapa unit atau fakultas yang lain. Barangkali masalahnya adalah kita kekurangan sdm yang memiliki kompetensi itu. Sangat berharap sekali bahwa adanya sdm itu di setiap unit sebagaimana yang pernah direncanakan, sehingga performansi website universitas bisa diimbangi oleh website unit/fakultas. Iseng iseng saya buka pula website kepegawaian Unpad. Kondisinya juga tidak jauh berbeda dengan yang di fakultas saya. Berita terakhir diposting Oktober 2007.
Menurut saya tidak jadi masalah kalau kita bisa memperbaharui mulai saat ini, daripada kita tidak lakukan apa apa dan itu terus menerus berlangsung. Semoga saja kita punya niat kemauan dan tenaga untuk selalu impro

Saya membaca bahwa ternyata jumlah dosen Unpad bukan 2500 orang, tetapi tidak lebih dari 2000 orang dan itu yang berstatus PNS. Sedangkan jumlah mahasiswa S1 26000 orang. Dengan demikian rasio dosen - mahasiswa kira kira sebesar 1 : 10 . Melihat ini pastilah boleh dikata jumlah dosen Unpad cukup, karena bila dibandingkan dengan standar satu dosen “mengawal” 15 mahasiswa, maka dosen Unpad lebih ringan dalam melaksanakan tugas. Kalau ternyata muncul anggapan bahwa dosen cukup “sibuk” (seperti kekurangan waktu) dalam menjalankan tugas, maka pastilah banyak faktor lain yang membuat anggapan seperti itu muncul.

Jumlah Dosen per Program Studi
Salah satu faktor yang bisa diduga adalah rasio dosen mahasiswa tidak benar benar merata di setiap program studi, sehingga benar bila ada dosen suatu program studi lebih sibuk dibanding dengan yang lain. Kadang yang bisa bikin aneh bila justru dosen yang sibuk adalah dosen pada program studi dengan rasio dosen mahasiswa yang lebih baik. Bisa diduga pasti ada faktor lain lagi dari hal ini. Hal itu berlaku pula pada kondisi sebaliknya.

Dosen Melakukan Riset Dengan Intens
Ternyata bisa jadi bahwa meski jumlah mahasiswa sedikit, tetapi mahasiswa merasa kurang mendapat layanan pendidikan dari mahasiswa. Kejadian ini bisa jadi karena ternyata porsi waktu dosen lebih besar untuk riset. Dikatakan dosen perlu melakukan riset minimal 25 % dari bobot beban. Kurang yakin sih angka itu bisa dijadikan patokan, sebab angka 25 % itu kan angka untuk persyaratan bila dosen dinilai kinerjanya guna prestasi dalam bentuk kenaikan jabatan. Jadi dengan angka minimal itu sah sah saja barangkali bahwa dosen mengalokasikan waktunya dari 25 % hingga 70 % (harusnya). Mengapa tidak sampai 100% ? sebab minimal 30 % waktu perlu disediakan untuk kegiatan pengajaran. Dugaan saya, dosen seperti ini bisa jadi mengalokasikan waktu 100 % untuk penelitian.!!!! Salahkah? jawabnya : ya memang salah. Namun bila dibandingkan dengan kelakuan yang mungkin saja terjadi : dosen tidak menggunakan waktunya baik untuk pengajaran maupun untuk penelitian, maka dosen yang intens dengan risetnya masih lebih baik. Setidaknya banyak hal positif. Pertama dosen tersebut lebih bertanggungjawab dengan gaji yang diterima. Kedua : Hasil riset dapat bermanfaat untuk pengetahuan, menjunjung nama institusi, berguna untuk mahasiswa sehingga apa yang diajarkan tidak monoton.

Sambil mengemudikan mobil, saya mendengarkan radio trijaya (kesukaan saya karena berita beritanya yang aktual dan tajam). Ketika itu dibahas mengenai bagaimana pemerintah (daerah) khususnya Jawa Barat memberikan pelayanan kepada rakyat yang memiliki keterbatasan berupa cacat fisik. Read the rest of this entry »