PELESTARIAN JENIS MACODES PETOLA (Blume) ANGGREK LANGKA SECARA INSITU DAN EXSITU



Titin Supriatun, Prihadi Santosa dan Tia Setiawati

Staf Dosen BiologiFmpa Unpad

Macodes petola (Blume)Lindl., merupakan jenis Anggrek terrestial yang keberadaannya sudah mulai langka dan  dilindungi dalam PP No 7 Tahun 1999.  Sinonim dari anggrek tersebut adalah Neottia petola Blume Bijr, Macodes javanica (Blume) Hook.F.Bot.Mag, M. argyroneura dan M. robusta.Struktur morfologisnya mempunyai urat daun yang ekslusif berwarna putih perak/putih tulang bentuk daun bulat aatau lonjong. Umumnya jenis anggrek nilai keindahannya ada pada bentuk/tipe bunganya, namun untuk jenis Macodes keindahannya terletak pada urat daun, tekstur daun yang halus seperti beludru yang dinamakan juga ”jewel orchids (anggrek permata)” dan merupakan jenis anggrek saprofit yang endemik dengan memiliki tingkat sensitifitas yang tinggi terhadap gangguan habitatnya, sehingga hanya dapat ditemukan di kawasan hutan yang belum terganggu (Comber, 1990). Dikatakan pula bahwa tumbuhnya kecil, mempunyai rhizom dan jumlah daun 7-8 tumbuh membentuk spiral, berbunga majemuk kecil-kecil berwarna putih menyerupai tandan tingginya 8-10 cm dengan pertumbuhan yang sangat lambat anakan muncul setelah berumur 1-2 tahun dan sangat ditentukan oleh kelembaban udara dan tanahnya.

Menurut Becker & Bakhuizer (1963) dan Cronquist (1981) jenis Macodes, termasuk kelas Liliopsida,sub famili Aphiratoideae, dan tribe Cranichidae. Jenis lain adalah Anoectochilus, Ludisia dan Goodyra.

Beberapa penulis mengatakan bahwa tumbuhan ini dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat hepatitis. Namun mengingat dari sifat yang sangat sensitif terhadap gangguan habitat dan bersifat endemik dan ditemukannya hanya pada saat tertentu, jenis seperti ini umumnya sulit dikembangkan/diperbanyak ataupun dibudidayakan,untuk itu jenis Macodes perlu dilestarikan baik secara insitu maupun exsitu.

 

Hasil penyelusuran tentang keberadaan M.petola yang telah dilakukan adalah di kawasan Cagar Alam Pananjung Pangandaran dan di daerah Panaruban dari kedua kawasan tersebut ternyata jenis Macodes yang ditemukan mempunyai perbedaan pada urat daunnya, yaitu jenis yang ditemukankan di kawasan Cagar Alam Pangandaran, tumbuhnya berkelompok cukup terlindung pada ketingian 151 pdl, kelembaban tanah 80%, kelembaban udara 645 hpa, temperatur sekitar 26oC,intensitas cahaya 1000lux, berurat daun putih tulang dan bentuk daun yang membulat sedangkan dari kawasan Panaruban menyebar membentuk kelompok kecil dengan jumlah kelompok lebih sedikit daripada jenis yang didapatkan di kawasan Pangandaran pada ketinggian 980-1000 dpl, kelembaban tanah 70-80%, kelembaban udara 26oC intensitas cahaya 11.000 – 13.000 dengan pH tanah 4,9 -5,2,  urat daunnya putih dengan bentuk daun melonjong dan warna daun dari keduanya berwarna hijau, namun di kawasan Panaruban didapatkan juga jenis Macodes yang berdaun kecoklatan dengan urat daun kemerahan, jenis tersebut adalah jenis Anoectochilus sp, adapun sebagai faktor-faktor penunjang yang ada disekitar rhizosfer tumbuhan jenis Macodes petola ditemukan pula spora endomikoriza jenis Glomus, Acaulospora dan Sclerocystis dan di di kawasan Panaruban didapatkan jenis Gigaspora (Titin Supriatun, 2007).

Adapun hasil pemeliharaan secara exsitu, ternyata jenis Macodes sangat peka terhadap lingkungan, terutama jenis Macodes dari kawasan Cagar Alam Pananjung Pangandaran, sehingga usaha perbanyakan pada pot percobaan dapat bertahan hidup selama 6 bulan, sedangkan jenis Macodes yang berasal dari Panaruban dapat bertahan dan dapat berbunga setelah berumur 12 bulan, namun tumbuhnya anakan sangat lambat. Pemeliharan secara exsitu dari jenis Macodes petola tersebut memerlukan tempat dan kelembaban serta pH tanah yang sama dengan habitat aslinya.

Upaya lain untuk melestarikan jenis Macodes ini, telah dicoba diperbanyak melalui metoda kultur jaringan, hasilnya menunjukkan bahwa sumber eksplan menentukan tumbuhnya Macodes secara in vitro, yaitu eksplan dari internodus dan menunjukkan pertumbuhan yang lambat dan enam bulan setelahpenanaman baru terjadi pembengkakan eksplan yang ditanam pada media Murashige & Skoog yang ditambahkan kombinasi 2,4 D 3mg/L dengan BA 1mg/L.

Pengamatan/penelitian tentang perbanyakan M.petola masih terus dicoba untuk dibudidayakan melalui penanaman secara invitro pada macam-macam media, dan berharap tanaman langka serta endemik ini dapat dikembangkan secara exsitu yang selanjutnya dapat dimanfaatkan baik sebagai tanaman obat ataupun sebagai tanaman hias yang eksotik dan tentunya dapat dijadikan bahan komoditi tanaman yang dapat diandalkan sebagai spesies tanaman  Indonesia.

Adapun jenis Macodes petola yang ditemukan di kawasan Cagar Alam Pananjung Pangandaran dan Panaruban tertera pada foto-foto di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

Foto 1. M.petola di kawasan Cagar Alam Pananjung Pangandaran

 

 

 

 

Foto  2. M.petola di kawasan Panaruban

 

 

 

 

 

 

Foto 3. eksplan internodus M.petola

Pada media MS + 3 mg/L 2,4-D + 1 mg/L BA

This entry was posted in Penelitian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 6 = 3

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>