Skip to content


SALAH ……

Beberapa pendapat mengatakan bahwa:
Salah satu kesalahan terbesar masyarakat kita adalah tidak berani berbuat salah. Mereka takut salah, takut gagal, sehingga memilih tidak berani ambil resiko. Tidak berani mencoba. Tidak berani keluar dari kotak, tetap di dalam tempurung.
DIAM DI TEMPAT.
DIAM MEMBISU.
APATIS.
NRIMO.
PASRAH.
PASIF.

Anehnya, sekalinya berbuat sesuatu, trus salah, tidak segera memperbaiki. Artinya, mereka berbuat salah lagi. Kesalahan yang dilakukan tidak segera diperbaiki. Itu namanya berbuat salah 2 X.

Sebaliknya, ada sebagian orang yang tau bahwa hal itu salah. Tapi nekad melakukannya. Itu bukan suatu kesalahan, tapi kebodohan.

Berani berbuat salah tidak identik dengan berbuat kebodohan. Bahkan ada yang mengatakan, bahwa dirinya berani & sering berbuat salah. Padahal, dia berbuat salah yang sama berulang kali, berkali-kali. Itu artinya dia bukan berbuat salah, tetapi berbuat bodoh berkali-kali.

Tapi jangan salah, kadang kita memang harus berani berbuat salah berkali-kali, seperti anak kecil yang belajar berjalan. Seperti kita latihan naik sepeda. Jatuh berkali-kali, tapi bangun kembali.
Jatuh.
Bangun.
Mencoba lagi.
Jatuh lagi.
Salah lagi.
Dan mencoba lagi, sampai sukses. Sampai berhasil.

Einstain, Thomas Alfa Edison, Bill Gate, dlsb., adalah orang sukses yang sebelumnya telah melakukan banyak kesalahan, dan kegagalan. Mereka terus mencoba, walau salah & gagal berulang kali. Tetapi setiap kesalahan, selalu dipelajari, mengapa, bagaimana memperbaikinya. Apa yang salah?

Mereka sangat sadar, hanya dengan ekperimen, percobaan, perbuatan, dan tindakan akan diketahui mana yang salah dan mana yang benar. Artinya untuk menemukan suatu kebenaran harus diketahui mana yang salah. Disini salah dan benar, gagal dan sukses, perbedaannya atau jaraknya sangat tipis.

Peneliti selalu mempunyai semboyan ‘boleh salah, tapi nggak boleh bohong’. Katanya, kalau pedagang semboyannya lain lagi, ‘boleh bohong, tapi nggak boleh salah’. Idealnya para pejabat negara, birokrat, anggota DPR yang terhormat harus punya prinsip dan tindakan ‘tidak boleh salah dan tidak boleh bohong’.

Tapi yang dipertontonkan di TV dan media cetak, sangat ironis. Sebagian diantara mereka justru senang berbuat salah dan itupun masih ditutupi dengan kebohongan. Bahkan bohong menjadi menu harian. Bohong, munafik, hipokrit, berpura-pura dan sejenisnya katanya diperlukan untuk meningkatkan pencitraan. Benarkah?
Udah gitu kalau salah, bohong lagi, dan menyalahkan orang lain.
Menyalahkan anak buah.
Menyalahkan rekan.
Menyalahkan pimpinan.
Menyalahkan gaji kecil.
Menyalahkan keadaan.
Menyalahkan orang lain.

Padahal, secara tidak sadar, justru dirinyalah yang paling salah. Paling bertanggung jawab.

Mari kita renungkan. Ternyata kitapun sering berbuat salah. Sengaja atau tidak sengaja. Cuman kesalahan orang lain nampak jelas, sedang kesalahan kita nggak terlihat.

Yah, benarlah pepatah: ‘gajah di pelupuk mata nggak nampak, tapi kalau kuman diseberang lautan pasti nampak’.

Dalam menilai suatu kesalahan kita kadang pakai standar ganda. Salah untuk orang lain, benar untuk kita. Untuk mengetahui bahwa kita berbuat salah atau tidak, cara yang paling ampuh adalah membuka diri untuk dikritik. Membuka diri untuk memperoleh masukan. Tidak apriori pada pendapat yang berbeda. Yang kita anggap salah, kadang benar. Atau sebaliknya, kita pikir benar, padahal salah.

Kalau kebetulan kita melihat kesalahan, dan diam. Ternyata kita salah juga. Kalau kebetulan anda seorang pimpinan, melihat anak buah berbuat salah, dan diam, itu artinya anda berbuat 2 kesalahan. Kalau anda adalah anak buah, melihat bos berbuat salah, dan diam, anda salah juga, dan akan menanggung resiko.

Bayangkan, anda naik bus, sopirnya ugal-ugalan dan berbuat salah dengan melanggar rambu lalulintas. Anda diam, tidak negur sopir. Kalau ada sesuatu, anda sebagai penumpang akan menanggung resiko juga. Bahkan kadang justru lebih sakit. Si sopir yang ugal-ugalan dan salah, kadang langsung kabur, lari, nggak bertanggung jawab.

Hanya saja harus diingat, kalau akan memperbaiki kesalahan jangan dengan cara yang salah. Sering ada kesalahan karena ingin memperbaiki kesalahan. Kesalahan harus diperbaiki dengan cara yang benar. Memperbaiki kesalahan jangan sampai menyinggung seseorang secara personal. Memperbaiki kesalahan bukan berarti mempermalukan orang yang berbuat salah. Semuanya harus dilakukan dengan cara yang proporsionil.
Memperbaiki kesalahan kadang harus dilkaukan dengan tegas, jelas dan lugas.
Kadang cukup dengan kerlingan mata.
Kadang cukup dengan senyum dan diam.
Tapi tidak jarang harus dilakukan dengan jeweran.
Bentakan.
Marah, tapi bukan marah-marah atau kebencian.
Mereka yang berbuat salah harus diingatkan.
Ditegur.
Diberi tau.
Dinasehati.
Namun secara pribadi mereka tetap manusia biasa.
Tetap kita hormati hak-hak nya.

Mengapa…….., karena kitapun sering berbuat salah.

Marilah kita saling mengingatkan, dengan cara yang baik, santun, bijaksana, agar kesalahan disekitar kita bukan menjadi bencana, tapi justru menjadi pemicu untuk berbuat lebih baik, lebih bermanfaat, lebih benar, lebih berguna ….

Credit : Milist Tekno 2000

Posted in Renungan.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.