Diversifikasi Jenis Produksi dan Konsumsi Masyarakat

Sustainable Development Goals (SDGs) atau Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang disahkan pada tanggal 25 September 2015 di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berisi 17 tujuan dan aksi global untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan di seluruh dunia yang dirancang untuk 15 tahun ke depan (terhitung dari 2016-2030).

Salah satu tujuan dalam SDGs adalah menjamin pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan yang tercantum dalam tujuan ke 12. Tujuan ini berlaku secara universal, termasuk negara-negara maju sekalipun. Tak terkecuali bagi Indonesia yang masih termasuk dalam negara berkembang, tujuan ini perlu direalisasikan dengan berbagai aksi nyata.

Faktanya di Indonesia banyak terjadi kasus terputusnya pola produksi dan konsumsi. Hal ini dikarenakan kurang optimalnya manusia dalam memanfaatkan potensi alam dan potensi diri. Sebagian besar rakyat Indonesia yang bersifat konsumtif menyebabkan terputusnya pola produksi dan konsumsi, karena dengan adanya sifat tersebut masyarakat menjadi terbiasa membeli dan menghabiskan bukan menciptakan dan menghasilkan sehingga bagi masyarakat yang tidak sanggup untuk membeli maka pola konsumsinya akan terputus atau mengalami kelaparan yang juga melanggar dari tujuan SDGs yang ke dua.

Untuk merealisasikan tujuan tersebut maka perlu dilakukannya penganekaragaman atau diversifikasi pada jenis produksi yang kemudian dilanjutkan pada konsumsi masyarakat. Hal ini harus dilakukan oleh seluruh pihak baik pemerintah, masyarakat maupun mahasiswa. Pemerintah perlu membuka dan membagi secara rata lahan untuk produksi baik yang produksi alamiah (pertanian, perikanan dan lain-lain) maupun produksi sintesis. Juga dibutuhkan masyarakat yang harus siap mengembangkan diri untuk memproduksi suatu hal. Begitupun halnya dengan mahasiswa yang harus peka dan pandai dalam membaca masalah dan peluang yang ada. Maka dengan adanya kerja sama antara pemerintah, masyarakat dan mahasiswa maka akan mudah untuk mencapai tujuan tersebut.

Selain diperlukannya kerja sama dari tiga pihak di atas, juga dibutuhkan kesadaran dari diri masing-masing untuk melakukan inovasi sehingga dapat tercipta produk-produk baru yang sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan dihasilkannya produk-produk baru maka pola produksi akan terus berlanjut seiring dengan kebutuhan manusia yang tidak pernah berhenti. Pun demikian pada pola konsumsi masyarakat, dengan adanya penganekaragaman produk yang dihasilkan maka akan menyebabkan keragaman pula pada konsumsi masyarakat sehingga akan terus berkelanjutan seiring berjalannya waktu.

Akan tetapi dalam program diversifikasi ini perlu diperhatikan dari segala aspek gar tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan, misalnya persaingan yang tidak sehat atau banyaknya produk yang tidak bermutu. Kejadian tersebut bisa ditanggulangi dengan diciptakannya peraturan dan undang-undang yang membahas hal tersebut ataupun pelatihan-pelatihan yang ditujukan kepada masyarakat.

Etika dalam Berpendapat

Dewasa ini, teknologi di Indonesia semakin berkembang dengan pesat. Hal ini terlihat dari berbagai kemudahan yang dirasakan masyarakat Indonesia dalam mengakses beberapa kebutuhan hidup berbasiskan online. Perkembangan teknologi di Indonesia yang dirasakan masyarakat baik di bidang transportasi, media komunikasi, sarana prasarana publik dan privasi, peralatan industri, hingga teknologi pangan dan beberapa rumah produksi. Masyarakatpun dapat dengan bebas menjadi konsumen maupun produsen, menjadikan kemajuan ini sebagai katalis kehidupan maupun pembuka lapangan pekerjaan. Tentunya bijaksana dalam pemakaian menjadi pedoman utama yang harus dijunjung karena gaya hidup yang serba “instan” saat ini pun mampu menciptakan kemunduran bagi para penggunanya, karena dianggap mampu membentuk karakter dan mental masyarakat menjadi acuh dalam berjuang dan bekerja keras, disamping itu akan membuat kecenderungan masyarakat yang pasif dalam berkomunikasi.Ditinjau dari berbagai aspek, media komunikasi menjadi objek yang paling berpengaruh terhadap perubahan dan perkembangan negara Indonesia saat ini. Karena media komunikasi menjadi peran utama dalam birokrasi dan konektor antar teknologi lainnya. Media komunikasi saat ini sudah beragam bentuk dan jenisnya, kecanggihan yang paling dirasakan oleh masyarakat dari media komunikasi adalah sarana interaksi sosial yang telah beragam juga jenisnya, yang disebut media sosial.Banyak media sosial yang kita kenal lewat aplikasi yang tersedia di gadget atau android antara lain Facebook, Line, Path, WhatsApp, Instagram, Twitter, dan lain-lain. Kehadiran media sosial ini memberikan salah satu kebermanfaatannya yaitu sebagai alat untuk mempertemukan kita dengan saudara, teman dan orang lain dimana pun berada tanpa ada batasan tempat atau lokasi, waktu dan keadaan sehingga menjelma sebagai permainan baru yang seolah-olah tak bisa lepas dari tangan kita. Efeknya adalah, setiap orang semakin tergantung dan tidak bisa lepas dengan device-nya dan hal ini membuktikan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa lepas dari interaksi antar sesamanya. Dapat kita lihat pula kemanapun masyarakat saat ini berada, baik ketika berdiam diri maupun bepergian, tak lepas dari yang namanya membuat status, sebagai sarana mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya saat itu dengan harapan mendapat respon dari teman jejaringnya, juga sebaliknya tak lepas dari mengomentari atau merespon status yang dibuat oleh orang lain.Namun terkadang tanpa disadari dari beberapa komentar-komentar yang ada di media sosial kerap terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti menyinggung perasaan orang lain. Banyak contoh kasus pidana yang terkait dengan adanya kasus yang menyinggung perasaan orang lain, mencemarkan nama baik orang lain, atau dianggap menyudutkan seseorang atau kelompok tertentu sehingga mendapat sanksi hukum berdasar pada Undang-Undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Pasal 27 ayat 3 UU ITE, yaitu “ setiap orang sengaja tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”.Media sosial juga menjadi sarana masyarakat untuk mewujudkan kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi. Namun kebebasan berpendapat atau kebebasan berekspresi di media sosial manapun memiliki batasan dan etika sehingga kita tidak terjebak dalam hiruk pikuk komentar-komentar bias yang menjerumuskan terhadap hukum tersebut, karena ruang publik adalah milik semua orang. Media komunikasi dan bahasa tak hanya menjadi alat interaksi sosial tetapi juga sebagai budaya yang diwariskan, karena budaya memiliki banyak unsur pembentuknya yang merupakan kegiatan sosial dari manusia, salah satunya adalah bahasa yang digunakan saat berkomunikasi. Pada tempat atau daerah yang berbeda akan menciptakan bahasa budaya yang berbeda pula, sehingga menciptakan perbedaan juga dalam berkomunikasi. Dan berkomunikasi atau mengemukakan pendapat dengan menggunakan bahasa budaya juga menjadi hak asasi setiap manusia. Dalam menggunakan hak kebebasan mengemukakan pendapat, kita harus memegang prinsip bebas dan bertanggung jawab. Bebas artinya bahwa segala ide, pikiran atau pendapat kita, dapat dikemukakan secara bebas tanpa tekanan dari siapapun. Bertanggung jawab maksudnya bahwa ide, pikiran atau pendapat tersebut mesti dilandasi akal sehat, niat baik, dan norma-norma yang berlaku. Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, sejalan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip hukum internasional sebagaimana tercantum dalam pasal 29Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia yang antara lain menetapkan, setiap orang memiliki kewajiban terhadap masyarakat yang memungkinkan pengembangan kepribadian secara bebas dan penuh.ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab, yaitu pendapatnya harus disertai argumentasi yang kuat dan masuk akal, sehingga tidak sembarang pendapat. Pendapat hendaknya mewakili kepentingan orang banyak, sehingga memberi manfaat bagi kehidupan bersama. Pendapatnya dikemukakan dalam kerangka peraturan yang berlaku, sehingga tidak melanggar hukum. Berpendapat sepatutnya terbuka terhadap tanggapan, sehingga tercipta komunikasi sosial yang baik. Penyampaian pendapat hendaknya dilandasi oleh keinginan untuk menegmbangkan nila-nilai keadilan, demokrasi, dan kesejahteraan. Dalam pelaksanaan hak kebebasan, setiap orang harus tunduk semata-mata pada pembatasan yang ditentukan oleh UU dengan maksud guna menjamin pengakuan dan penghargaan terhadap hak serta kebebasan orang lain, guna memenuhi syarat-syarat yang adil bagi moralitas, ketertiban serta kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis.Salah satu contoh kasus tidak beretika dalam berpendapat di media sosial menimpa mantan Walikota Bandung yang dikenal sebagai sosok yang aktif di sosial media, terutama instagram. Beberapa postingannya disenangi anak muda, karena dinilai banyak sisi humoris. Sayangnya, ia dinilai sudah melewati batas dan tidak beretika ketika menjadikan hadits sebagai guyonan, hal tersebut telah menjadi kontroversi pada beberapa pengguna sosial media atau netizen. Dan hal ini menjadi pelajaran bahwa sudah sepatutnya dalam mengemukakan pendapat khususnya di media sosial, harus sangat memperhatikan etika seperti nilai-nilai kesopanan dan norma agama. Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman ataupun ketidaknyamanan bagi sesama pengguna media sosial.

The Legend of Gunung Pinang

Once upon a time, in Banten seashore, lived an old widow and her son named Dampu Awang. They were very poor. Dampu Awang always wanted to go to Malaka and wished to be a rich man, so he and his mother could live happily ever after, but his mother never allowed him to go.“Dampu…,” a voice called Dampu Awang’s name. “I feel worried with your condition now, you’re just dreaming to be rich. So, if you want to go…it’s okay, dear.”“Really? Thank you, mom… thank you very much.” Dampu Awang  was very happy to hear that, then he went to Malaka accompanied by  a parrot named si Ketut.Every day, before the sun was rising, Dampu Awang worked very hard cleaning all of the docks on Teuku Abu Matsyah’s ship, a merchant from Malaka. As time went by, Dampu Awang was known as a very diligent ship crew until one day, Teuku Abu Matsyah called him to talk together.“Dampu, as we know, you’ve been working with me for five years…I’m very proud of you. You are very diligent and also a hard worker.” Said Teuku Abu Matsyah.“Thank, you, sir.” Said Dampu Awang.“And…I want you to marry my beloved daughter, Siti Nurhasanah. Will you marry her?”Dampu Awang was very surprised to hear that. “But, sir…I’m just an ordinary ship crew…Do I deserve her?”“Don’t worry…, I know the best for my daughter.”The days went by, and Dampu Awang had left his village for ten years.One day a news that a merchant from Malaka would come to Banten arose. Dampu Awang’s mother felt very happy when she heard the news.“I wish that is my son, Dampu Awang. Son…finally your dreams come true. Thank God…Thank you very much.”The next day, the merchant’s ship was sighted entering the harbour. Meanwhile, inside the ship, Dampu Awang felt very worried that he would meet his mother. He was a rich merchant now.Many people streamed to the harbour to see the merchant. He was very handsome, and on his shoulder… there was a parrot that seemed very strong and healthy.“Dampu Awang…son…here…your mother is right here!” Called Dampu Awang’s mother.“What a poor and messy woman. Is she your mother, honey?” asked Dampu Awang’s wife.Dampu Awang felt very ashamed so he didn’t confess that the old woman  was his mother.“No! She is not my mother! My parents were very rich and they had already died!” He denied,. “Hey you, crazy woman! I’ve never had a mother like you! Poor and dirty old woman!”His mother was very sad and her heart was broken. She was very disappointed. Then she prayed to God. “God… if he is not my son, let him go. But if he is my son, punish him…because he has made his mother sad.”The day turned dark. Thunder and storm appeared. Dampu Awang’s ship drifted on the sea. And the miracle came. Si Ketut could talk!“Confess your mother, Dampu Awang…, confess your mother.”“No! She is not my mother! My mother had died!”Then twister came and threw Dampu Awang’s ship away far to the South. His ship capsized and  became a mountain. Now people called it Gunung Pinang. It’s located in Kramat Watu, Banten province.

Prince Pande Gelang and Princess Cadasari

Once upon a time there was a kingdom of Banten. The king had a beautiful daughter. her name was Princess Cadasari. She was very beautiful and kind to people.

However, she was very sad lately. A prince from another kingdom came and planned to marry her. His name was prince Cunihin. People did not like him. he was arrogant and mean to people. He had supernatural power. Prince Cunihin talked to the king about the marriage. The king accepted the proposal. He was afraid that Prince Cunihin would attack the kingdom if the proposal was refused.

The marriage was set. Princess Cadasari was sad. She did not have any choice. She prayed to god. And in one night she had a dream. She was in the park and a handsome man would help her.

On the following day, Princess Cadasari went to the park and waited the handsome man. While she was there suddenly an old man came to her.

“What’s the matter Princess? You look very sad,” asked the old man.

“I have a great problem. And I’m waiting for someone to help me.”

“Maybe I can help you.”

The princess was hesitant. In a dream, a handsome man would help her, but then it was an old man who offered to help her. She decided to talk about the problem to him. His name was Pande Gelang. Pande means maker and gelang means a bracelet. He made bracelets to make a living.

“Don’t worry princess, I can help you. Just tell prince Cunihin to find a big stone and just ask him to make a big hole in the stone. I will put my giant bracelet inside the stone, after that ask him to go through the bracelet. He will lose his supernatural power then”

Princess Cadasari did it. She asked Prince Cunihin to find a big stone. And make a big hole in it. Prince Cunihin did not have any problem to make the hole. And after he did it, he put the stone in the park. It was the place where the wedding party would be held. And secretly, Pande Gelang put the giant bracelet inside the stone.

On the wedding day, people were gathered in the park. Before the ceremony was started, Princess Cadasari asked Prince Cunihin to go through the stone. Although he didnot understand, Prince Cunihin still did the request.

Prince Cunihin was ready to go through the stone and the princess was waiting on the other side. And when he walked through the stone, Princess Cunihin screamed in pain. He was screaming and finally falling down on the ground. And when he got up, he saw Pande Gelang in front of him.

“You did this to me…” said Prince Cunihin.

Amazingly, Prince Cunihin slowly changed into an old man and Pande Gelang changed into a handsome man.

Pande Gelang then explained to princess Cadasari. He was a prince. Previously, Prince Pande Gelang and Prince Cunihin were best friend. They both were students from a great teacher. But after they finished the lesson, Prince Cunihin killed the teacher and stole Prince Pande Gelang’s power. He would get his power back if Prince Cunihin would go throuh his bracelet.

Princess Cadasari was very happy. She then remembered her dream. It was true that a handsome man would help her. Since then, Prince Pande Gelang stayed in the palace. He helped the kingdom from bad people. Later Prince Pande Gelang and Princess Cadasari got married. The people were very happy. They were very grateful. They also named the palace as Pande Gelang. It is known now as Pandeglang

Pecutan tuk Sang Pecundang

Memang dasar anak muda

Senang sekali berfoya dan bercinta

Hura-hura kerjaannya

Lupa akan mahal dan sombongnya suatu masa

Takkan kembali barang sedetik jua

Tik….

Di atas garis takdirNya, hujan jatuh menyapa saya

Seorang anak muda usia belasan, hidup di sebuah kota besar

Kota besar?

Menjanjikan ribuan kebahagiaan para penghuni

Terkecuali mereka

Di bawah hujan yang masih senang bermain ke bumi

Mereka lalu-lalang, menjajakan jasa yang tak seberapa

Ojek payung pa? ojek payung bu? Ojek payung mbak?

Kala saya masih tertawa

Tuhan kirimkan guntur dan petir

Memecut saya yang masih saja terleha

Tidak tergerak hatinya

Jangankan mengulurkan tangan, mendoakan pun enggan

Dasar pecundang

Umpat ku dari jiwa ku untukku Sampai bila jadi pecundang?

Cinta Pandang Pertama, Cinta Luar Biasa

Di bawah naungan langit yang cerah, teringat dua wajah indah yang tak kunjung merasa lelah. Berkah sekali hidup mereka, ketika segala upah yang dipunya semua diberi untuk anak-anak tercinta. Ya, merekalah orang tua kita. Yang rasa sayangnya mungkin tak akan pernah terbilang. Yang rasa cintanya mungkin tak akan pernah ada yang bisa menggantikan.

Di setiap helaan nafas, di setiap aliran jiwa, memang betul ternyata bahwa kekuatan cinta pertama itu luar biasa. Bagaimana mungkin, sebelum ada tapi sudah selalu didamba kehadirannya. Bagaimana mungkin, sebelum lahir sudah disiapkan segala kebutuhannya. Bagaimana mungkin, setiap waktu selalu dirindu keberadaannya.

Maka ketika begitu ia hadir, darah ini mengalir begitu deras, jantung ini berdebar begitu kencang, air mata menetes tanpa diperintah. Apakah ini yang dinamakan cinta pertama, Tuhan? Cinta yang kemudian menjadikan mereka melakukan apapun untuknya. Cinta yang kemudian menjadikan mereka merelakan apapun untuknya. Cinta yang kemudian menjadikan mereka tak ingin berpisah dengannya.

Bagaimana mungkin ada manusia yang rela menghanyutkan bayi laki-laki ke aliran sungai nan deras demi untuk menyelamatkannya? Bagaimana mungkin tak ada satu malam pun yang terlewat tanpa lantunan doa yang dilangitkan untuk keselamatan anaknya? Bagaimana mungkin ada yang rela mengintai setiap waktu untuk memastikan anaknya baik-baik saja di genggaman tangan orang baru?

Oh atas kehendak Tuhan yang Maha Esa, Ibunda Musa alaihissalam ternyata mampu melakukannya. Ia rela menghanyutkan sang bayi Musa demi agar Musa tidak dibunuh hidup-hidup oleh sang penguasa. Ia rela mengurangi waktu tidurnya demi untuk mendoakan keselamatan bayi Musa di tangan Fir’aun dan istrinya. Ia rela mengintai semua informasi terkait sang bayi Musa di istana raja. Oh sungguh besar jasa sang Ibunda.

Lalu bagaimana mungkin ada manusia yang rela menguras tenaga demi untuk memberi makan orang lain? Bagaimana mungkin ada manusia yang rela menghabiskan waktunya untuk sekadar mengenalkan Tuhan kepada anaknya? Bagaimana mungkin seorang laki-laki bisa berperangai lembut kepada anak-anaknya? Oh atas kehendak Tuhan yang Maha Esa, cinta itu membuat sang Luqman, Zakaria dan Ibrahim alaihimussalam melakukan hal apapun tuk buah hati tercinta. 

Cinta orang tua adalah cinta yang tak hanya indah dalam ucapan namun abadi dalam pembuktian. Cinta yang membuat anak-anaknya hidup berkecukupan hingga semua kebutuhan dipenuhkan. Cinta yang mengalir deras dalam setiap tetesan darah, denyut nadi dan deru nafas manusia. Cinta yang begitu besar hingga konon katanya kekuatan cintanya dapat memindahkan sebuah gunung raksasa. Ah sungguh indah cinta yang dilukiskan sang orang tua. Cinta yang benar-benar nyata tak sebatas ucapan belaka. Cinta di luar nalar manusia yang baru bisa dirasakan ketika menjadi orang tua pula.

            Maka tak heran jika dalam buku pedoman hidup manusia seluruh alam, terdapat banyak perintah untuk mengabdikan diri kepada mereka; orang tua kita. Bahkan untuk sekedar mengatakan “ah” saja kita dilarang oleh-Nya.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah,”Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (Al Quran Surah Al Isra: 23-24).    


            Sampai di sini, harusnya kita tahu siapa yang harus diutamakan diberi kabar. Siapa yang harus diutamakan dijaga perasaannya, siapa yang harus didahulukan dalam setiap pengambilan keputusan, siapa yang harus dirindukan setiap waktu. Karena mereka, orang tua kita, telah mencurahkan seluruh rasa cinta, mengorbankan segala kesenangan demi kebahagiaan putra-putri tercinta.

Sampai di sini kita tahu, bahwa mereka, orang tua kita tidak hanya merawat kita hanya saat sedang lucu-lucunya. Mereka, orang tua kita tetap menjaga kita saat berbagai kekurangan terlihat. Mereka, orang tua kita tetap menyayangi kita meski terkadang kita tak mampu mewujudkan harapanya. Lantas, mengapa masih banyak anak yang terbersit pikiran untuk meninggalkan hanya karena mereka mempunyai setitik kekurangan?

            Saat pertama memandangmu, rasa cinta itu tak pernah memudar bahkan senantiasa membuncah setiap masa. Sejak pertama menyentuhmu, rasa sayang itu tak pernah hilang meski semili. Sejak pertama menimangmu, rasa bahagia ini tak pernah berubah. Maka, berterima kasihlah pada Tuhan atas anugerah yang sangat besar. Mohonkanlah pada Tuhan agar senantiasa memberi kebaikan dan keberkahan untukmu dan orang-orang yang mencintaimu.

Untuk sang belahan jiwa..

Nak, sudah sekian lama kamu merantau di sana. Berjuang, berdoa dan berusaha sekuat yang kamu bisa. Kamu adalah anak ibu yang luar biasa, kamu adalah gelimang cahaya, sebuah harap yang jauh dari keluarga namun ditunggu oleh kami setiap masa.

Ibu khawatir dengan keadaanmu. Apakah kamu baik-baik saja di sana? Apakah kamu sehat-sehat saja di sana? Apakah kamu berbahagia di sana?

Nak, ibu tahu kamu anak yang kuat. Kamu akan berkata baik-baik saja walau jutaan badai menerpa. Ibu tahu kamu gengsi untuk mengatakan bahwa kamu lelah, kamu ingin istirahat, bahkan kamu ingin menyerah. Ibu tahu kamu akan dengan tegas berkata baik-baik saja walau hati dalam keadaan nestapa.

Nak, sudahlah tidak apa-apa. Tidak apa-apa jika ternyata dirimu tidak menjadi siapa-siapa. Tidak apa-apa jika ternyata dirimu bukan seorang mahasiswa berprestasi di kampus ternama. Selama kamu sadar untuk apa kamu dicipta maka bagi ibu, kamu mahasiswa paling berprestasi di dunia.

Kisah di Kaki Gunung Manglayang

 Terlihat langit mendung seolah mengerti apa yang aku rasakan. Tiba masanya burung-burung terbang kembali menuju sarangnya, kala itu aku baru saja menyelesaikan pertemuan kelima kelas tahsin yang membahas surat ‘Abasa di masjid kampus. Kalau kalian mengira aku pengajarnya, kalian salah besar, karena masa itu aku bukanlah siapa-siapa dan belum bisa apa-apa.
Langit semakin murung, lagi-lagi menjelma seperti rasa yang ada di kalbuku, ribuan mahasiswa berduyun-duyun meninggalkan kampus bak semut yang baru saja keluar dari rumahnya. Begitupun dengan diriku yang juga seorang mahasiswa, aku duduk di dekat gerbang lama menunggu seseorang yang berjanji akan menjemputku dan membawaku ke kaki Gunung Manglayang.
Tak lama ia datang, Kang Abdul namanya, seseorang yang mengaku sebagai mapres dari kampus tetangga. Tapi jika ditelisik lebih dalam, memanglah betul Kang Abdul ini bukan sembarang mahasiswa. Beliaulah alumni dari sekolah Aliyahku yang pertama kali menginjakkan kakinya di Papua, terbang ke berbagai daerah dengan berbagai tujuan. Yaaa cukup pantaslah kalau disebut sebagai mapres walaupun kalau mendapat pertanyaan, “Kang, IPK nya berapa?” beliau selalu menghindar dengan jawaban “mapres itu bukan IPK yang terpenting, harusnya kamu nanya gimana caranya jadi ampres, bukan malah nanyain IPK”. Mungkin memang betul aku tak perlu tau berapa IPKnya tapi yang terpenting beliaulah kakakku disini, di tanah rantau yang penuh kisah ini.
Kembali ke janji kita, Kang Abdul membawa diriku yang dibalut jaket tebal keluar gerbang bersama motor butut yang konon bernama Dilan, tokoh utama di suatu film romantis yang terkenal seantero Indonesia kala itu. Ekspektasiku kita akan melakuakn perjalanan panjang menuju sebuah desa yang katanya indah. Semesta tak sejalan dengan ekspektasiku. Kang Abdul justru membawa aku masuk kembali menuju kampusku, aku sempat mengomel tidak jelas karena disaat mahasiswa lain pergi meninggalkan kampus, aku malah dibawa kembali ke kampus, huftt,.. menyebalkan memang.
Tapi ternyata ada satu hal yang baru aku sadari, ini adalah kali pertama aku naik motor di kampusku sendiri, ya maklumlah, saat itu aku masih menjadi mahasiswa baru 2 bulan jadi belum bisa beli motor untuk menemani perjalananku. Kalian mungkin bertanya-tanya bagaimana aku menuju kampus, hahaha kalian mungkin akan tertawa ketika mengetahui kostan ku yang jaraknya hanya dua menit dari gerbang. Lalu bagaimana menuju kelas? Hahaha aku sudah menebak pertayaan berikutnya. Baik akan aku jelaskan, karena aku seorang mahasiswa di salah satu kampus terbaik di Indonesia, jadi sudah barang tentu memiliki fasilitas yang sangat memudahkan mahasiswanya untuk menuju fakultas masing-masing, ya betul sekali, angkutan kampus gratis yang tidak pernah sepi peminat.
Dibalik kekecewaanku yang dibawa masuk ke kampus lagi aku merasakan sensasi betapa nikmatnya semilir angin sore yang berhembus manja. Sensasi melewati tanjakan cinta yang konon katanya banyak yang menemukan jodohnya disini. Indah sekali rasanya sore itu, aku sampai lupa kalau aku sedang bersedih hati. Dilan terus melaju gagah melewati hutan kampus yang terkenal seram saat sore dan malam hari, menuju gerbang rektorat, menanjaki tanjakan ekstrem di jalanan pedesaan hingga akhirnya aku sampai di tempat tujuan. Kaki gunung Manglayang.
Terlihat kang abdul menyapa warga sekitar yang ternyata sudah mengenali dirinya. Aku langsung diajak naik ke sebuah bangunan yang tampaknya terhenti proses pembangunnanya.
“Ini kaki gunung Manglayang, liat disana ada gunung Geulis. Tapi disini gak bisa liat sunset karena itu bukan barat” Kang Abdul mengarahkan telunjuknya ke sebuah gunung yang terlihat mungil.
Aku diam beberapa saat, merasakan semilir angin sore dari kaki gunung Manglayang. Decak kagumku akan ciptaanNya berbuncah dalam kalbu. Gunung  Geulis yang biasa terlihat berdiri sangat gagah sekarang kecil hanya seperti bukit telettubies. Pemandangan itu seolah menampar mengingatkanku bahwa aku memang bukanlah siapa-siapa. Gunung saja terlihat kecil dari kejauhan, lalu bagaimana aku yang tingginyapun tidak sampai 170 cm.
Aku masih mematung, “teh ipa kenapa? Ayo cerita, tadi katanya lagi galau” Kang Abdul menyadarkanku dari lamunan pendekku.
“hh galau? Nggak kok kang sekarang udah baik-baik aja, makasih udah ajakin syifa kesini”
“gapapa cerita aja, semoga nanti ketemu pemecahan masalahnya”
Tak terasa, air bening dari mata perlahan membasahi pipi. Aku melihat ujung daun bambu bergoyang-goyang seolah memintaku untuk bercertita jua. Ku pandangi gunung geulis dan pemandangan disekitarnya. Perlahan ku awali bercerita mulai dari asal mula aku skait, disusul ke topik aku yang selalu merasa sendiri, yang selalu ingin pulang  dan kemudian ditutup dengan cerita kedua orang tuaku yang menyarankanku untuk pulang. Air mata sudah tak terbendung lagi, aku tidak merasakan kehadiran Kang Abdul yang ada di belakangku. Bagiku, aku hanya berbagi cerita pada yang aku pandang, pemandangan dari kaki Manglayang.
Azan maghrib berkumandang dari segala penjuru,
“yuk sholat dulu biar hatinya tenang lagi” lagi-lagi Kang Abdul menyadarkan aku bahwa aku tidak hanya bercerita pada alam saja, dirinyapun mendengar semua apa yang aku ceritakan.
Ku basuh mata sembabku dengan air wudhu yang menyejukkan, ditemani adik-adik yang sedang bersiap-siap untuk shalat berjamaah. Seusai sholat, banyak adik-adik yang mnegerumuniku, ada yang hanya ingin sekedar bersalaman, berkenalan bahkan ada yang ingin diperhatikan. Aku kembali merasakan kebahagiaan yang beberapa hari sebelumnya sulit sekali dirasakan. Belum lama aku bermain bersama mereka, Kang Abdul mengajakku pulang karena udara malam tidak baik untukku yang saat itu sedang sakit. Aku berpamitan dengan adik-adik disana kemudian mengikuti langkah Kang Abdul yang ternyata kembali naik ke atas bangunan.
Aku diam terpaku melihat pemandnagan di depanku yang 2x lebih indah dari pemandnagan sore tadi.
“di sebelah kanan itu kota bandung, kabupaten bandung dan bandung barat. Yang di tengah sumedang, nah kalau yang sebelah kiri itu subang. Gimana? Bagus kan??” Kang Abdul menjelaskan letak lampu-lampu dari ribuan bangunan  itu.
“woww, nanti syifa bakal kesana kang, gak cuma liat dari sini aja, nanti syifa bakal datengin tempat itu satu-satu”.
“ya udah yuk pulang, udah malem, nanti makin dingin”.
Kami bergegas pulang sebelum udara semakin menusuk kulit. Kegalauanku selama berhari-hari hilang atas kehendakNya melalui perantara Kang Abdul dan pemandangan dari kaki Manglayang. Sejak sore itu aku jatuh cinta dengan sukasari, kaki gunung manglayang.