Salah Siapa?

Jadi salah siapa?

Kecurangan ada dimana-mana

Kejahatan, kirminalitas dan pengangguran merajalela

Kebohongan sudah jadi budaya

Narkoba menjadi makanan utama

Aborsi, prostitusi, bukan lagi suatu hal yang keji

Korupsi sudah melekat pada setiap diri

Salah siapa?

Jadi salah siapa?

Saat dunia ini bukan lagi tempat yang damai

Saat dunia ini bukan lagi tempat yang tentram

Saat dunia ini sudah enggan berkawan

Saat dunia ini memaksa tuk ditinggalkan

Naas, semua sudah terjadi

Aksi bunuh diri menjadi sebuah prestasi

Salah siapa?

Jadi salah siapa?

Apakah salah seorang presiden yang cinta rakyatnya?

Atau salah para polisi yang tugasnya mengayomi?

Salah sang hakim yang bijaksana?

Salah sang pembuat aturan yang penuh pertimbangan? Atau salah rakyat yang tidak mau bertaubat?

Sepanjang Jalan Braga

Senja sudah datang

Menandakan raja siang akan pulang

Kenangan itu kembali

Menyeruak dan menyibak celah-celah di hati

Terbayang seorang sosok gagah perkasa

S’lalu maju pertama saat diri ini terluka

Di sepanjang Jalan Braga

Tuhan berikan kesempatan kami berdua

Menghabiskan waktu, menikmati buih-buih rindu

Di sepanjang Jalan Braga

Tuhan kirimkan ia padaku

Berbagi kisah, berbagi beban

Mengisi kenangan dalam relung pikiran

Di sepanjang Jalan Braga

Tuhan ciptakan sebuah kenangan yang takkan terlupa

Nasihat tuk bekal perjuangan t’lah dilontarkan

Doa-doa penuh harapan t’lah dilantunkan

Di sepanjang Jalan Braga

Tentang anak yang dicinta Ayahnya Tentang Ayah yang dicinta anaknya

Senang

Semalam tidak hujan

Karena rembulan ingin bersinar terang

Semalam tidur nyenyak

Karena badan ingin berehat

Pagipun menjelma

Mentari sudah terlihat

Menerangi relung hati yang sepi

Dan diisi oleh senyuman bidadari

Embun sudah hilang

Karena hari sudah siang

Tapi senyum bidadari tak pernah hilang

Jika bersama yang aku sayang

Jika aku punya mantera

Kan ku hentikan kedipan mata

Agar tak henti menatap dirinya

Agar aku senang selamanya

Mutiara

Berkilau terpapar sinar sang surya

Mengerjap-kerjap seperti ingin digoda

Namun sayang seribu sayang

Dikau sulit untuk didapat

Melalui ribuan inci dari daratan

Mengapul ditengah ombak menerjang

Menyelelam jauh ke dasar lautan

Melawan hiu yang menghadang

Tak jarang nyawa menjadi jaminan

Tapi semua kan dilakukan

Hanya demi sebutir dikau.

Gemerlap indah terlukis diwajah

Saat berhasil menjamah dikau

Harga kau selangit

Namun yang minat tak sedikit

Mutiara…

Untung nian nasib dikau.

Mentari

Pohon mulai merunduk

Tapi tak seperti padi yang berisi

Terik menghajar dunia ini

Ulah manusia yang tak tahu diri.

Dahulu mentari bak kawan

Menghangatkan tubuh di siang hari

Menemani jiwa kesana kemari

Hingga tiba senja hari.

Tetapi sekarang

Mentari mulai garang

Tidak lagi menghangatkan

Bahkan berani mengahanguskan

Manusia, pepohonan, hewan-hewan..

Dibuat tercengang olehnya

Dahulu tersenyum bersama

Sekarang menolehpun tak kuasa.

Satu, Dua, Tiga

Senja ‘kan hilang

Menandakan raja siang ‘kan segera pulang

Kenangan jahiliyah itu kembali

Menyeruak dan menyibak celah-celah di hati

Tak lama lagi malam tiba

Terasa dingin nan mencekam

Memeluk erat sayatan sugesti terdalam

Tinggal lah sebuah penyesalan

Yang menukik tajam ke ulu hati

Di bawah sinar lampu menyinari 3×3

Dibuka buku pedoman manusia sejagat raya

Terhitung sejak dua pekan silam

Lembaran ayat suci selalu menemani

Acap kali orang berkata daku sok suci, sok agamis, sok bosok

Khimar yang menjalar membuat ku tegar

Bermimpi satu

Ku jadikan daku sebagai utrujah

Perumpamaan insan yang lekat dengan Al Quran

Berwarna cerah memikat mata

Berbau sedap tak tertandingkan

Rasa manis mengusir dahaga, menimbulkan sejuta bahagia

Bersikap dua

Sabar dan syukur selalu bersama

Mengikuti sabda insan terbaik alam semesta

Nikmat? Bersyukurlah

Musibah? Bersabarlah

Berpedoman tiga
Al Quran, Sunnah dan Ijma’ ‘ulama

Lengkap sudah semua

Pada ajaran Islam yang mulia

Malam Syahdu, Usia Tiga Windu

Di bawah temaram langit malam
Jam dinding berdetak, tepat pukul tiga
Purnama berjalan perlahan beranjak dari peraduannya
Aku baru terjaga
Kepala di atas meja dengan topping tumpukan kertas berserakan
Tangan masih kekar menggenggam sebatang pena
Terdengar dari jauh sayup-sayup suara yang merasuki jiwa
Aku tak tau lantunan apalah itu namanya
Semakin ku coba mendengar, semakin bergidik bulu roma
Sebentar,
kenapa pula jantungku berdesir rasanya?

Tak mampu ku biarkan rasa penasaran menguak jiwa
Akan apa yang dilantunkan orang malam-malam di belahan bumi sana
Tangan segera berkeliling kamar mencari sebuah gawai
Ditemukan tergeletak dengan tampilan wajah sangar bertato di sekujur lengan
Dengan yakin aku ketik lirik yang telinga dengar

Oh ternyata,
Al I’tirof namanya
“Apaan tuh?” ucapku seketika
Ku telisik semakin dalam
Ku tekan salah satu link yang tersedia

Hening.
Jiwaku menikmati lantunan intro lagu itu
Tunggu, ternyata bukan lagu
Ku baca di layar gawai, Syair Abu Nawas tulisannya.
Ku dengar lantunan liriknya dengan saksama
Ku eja arti dari tiap kata

Aku termenung
Oh Tuhan,
Betapa hinanya diri ini yang selalu memohon surga
Padahal sholat hanya saat ingat
Kalau diingat-ingat, bahkan tak ingat kapan terakhir sholat
Oh Tuhan,
Betapa panas api neraka mu itu
Jika tersentuh puntung rokok teman menjadi jalan keluar sumpah serapah segala rupa
Membuat kacau balau pertemanan yang sudah dirintis lama

Bagaimana ini?
Aku yang dulu dilahirkan dengan sambutan lantunan kalam Iqamah dan azan
Saat sudah besar malah abai dengan azan
Bagaimana ini?
Aku yang dulu ditimang dengan lantunan shalawat
Saat sudah besar tak tau siapa yang harus dijadikan teladan dengan ikhlas

Malam syahdu, tepat di usia tiga windu
Berlinang air mata membasahi tubuh
Tak henti mengucap bait-bait permohonan ampun
Terasa semakin menenangkan qalbu

Oh apakah ini yang disebut hidayah?
Oh apakah ini yang disebut manisnya iman?
Yang selalu digaungkan oleh orang-orang yang pernah merasakan
Oh sungguh, ini jauh lebih manis dari jatuh cinta
Oh sungguh, ini jauh lebih menenangkan dari belahan jiwa
Anda tidak percaya?
Silahkan coba saja!

Bimbang

Terjebak

Antara cinta dan nafsu

Cinta pada hamba Tuhan yang taat

Nafsu jiwa tuk memilikinya.

Tidaklah serupa

Antara cinta dan nafsu

Cinta yang membuat hidup indah

Nafsu birahi mengacau semua.

Bimbang bimbang bimbang..

Aku bimbang harus bagaimana.

Belenggu Setan

Saat raga mulai lupa

Pada kebesaran sang pencipta

Benih ujub mulai nampak

Acuh pula pada sesama

Merah padam..

Terengah-engah menahan amarah

Buncahan emosi meletup-letup

Meluap bak magma dari perut bumi.

Dunia semakin fana

Belenggu Setan tersebar merajalela

Mencari mangsa guna dijadikan kawan

Didasar neraka jahannam.

Wahai manusia…

Janganlah mau jadi kawan setan.

Pulang

Malam panjang aku termenung

Menangis meratapi tinta yang tumpah

Dahulu pernah hina

Sekarangpun masih hina

Gemetar hati mendengar sang kyai

Berkoar-koar menyampaikan kalam Tuhan

Tapi sedikit yang mendengarkan

Bahkan tak ada lah yang mengamalkan

Cahaya itu mulai meredup

Redup dan semakin meredup

Entah sampai bila

Mungkin sampai terompet ditiupkan.

Kembalilah wahai diri

Kembali pulang ke jalan Tuhan.