Siapa yang Terlampau Jahat?

Konon aku punya sahabat
Saat di kelas ia mengumumkan pada khalayak
Bahwa jika aku sedang sedih, berbait puisi akan sigap berbaris
Sungguh itu tidak selamanya benar, pun tidak salah
Karena aku, akan membenarkannya pada malam ini.

Mahal ya harga sebuah percaya
Rahasia bobol meski dengan dalih kebaikan
Tak kan datang baginya pengampunan
Layaknya cermin yang retak, ia tak kan pernah kembali sempurna
Bahkan hanya bisa memantulkan bayang yang lebih buruk dari aslinya.

Tuhan, rasanya awal tahun ini sungguh indah
Kesempatan magang di pusat pengetahuan PTN ternama
Kesempatan belajar dari ahli-ahli
Kesempatan membina “adik” ideologis
Kesempatan membangun persahabatan
Tapi sayang seribu sayang, hanya bertahan tepat sebulan.

Malam itu di bawah rintik hujan
Aku kembali menempuh perjalanan sekitar 28 km
Perjalanan yang sudah sering aku lewati, bukan hal yang spesial
Melainkan waktu, yap travel terakhir
Menembus jalanan lengang
Baru sampai hampir tengah malam.

Nan jauh di tempat sebelum ku kembali
Seseorang bertanya kabar, risau dengan diri ini
Haha, aku dianggapnya wanita biasa
Seolah perjalanan singkat ini amat berbahaya
Padahal yang berbahaya adalah dirinya
Menebar rasa yang terlarang

Aktivitas magang menghambat aku belajar di tempat lain
Berulang kali absen dari rapat untuk persiapan membina
Untungnya, ya aku selalu beruntung
Seseorang mau bersusah payah menjelaskan progres dari rapat-rapat yang telah dilakukan
Bukan main!
Dua jam lamanya, dari tengah malam hingga pukul 2 dini hari
Malam itu jadi permulaan.

Setelahnya, kami berbincang banyak hal
Membahas betapa menariknya hidup bersama manusia
Betapa sepelenya urusan kita dibanding hajat orang lain
Dan betapa yang lainnya
Spesial sekali, aku dikunjungi secara ekslusif
Menempuh perjalanan satu jam dengan kecepatan maksimum
Hanya untuk bercerita kisah hidupnya padaku
Amboi, beruntung nian aku saat itu
Menjadi orang kepercayaannya.

Ntah setan mana yang menghasutku melapor ceritanya
Pada orang yang akan menentukan surganya
Dengan kami sama-sama perempuan
Dengan dalih kebaikan bersama
Dan dalih lain yang sungguh tidak bisa dibenarkan.

Yap, ada kesalahan maka harus ada tebusan
Kepercayaan itu hilang seketika
Membuat demamku semakin menggigil
Membuat batukku semakin berdahak
Ah sakit sekali rasanya.
Tuhan, persahabatan indah ini
Kepercayaan besar ini
Hanya bertahan sebulan
Waktu yang sangat singkat bahkan untuk membajak sawah berpuluh hektar.

Tuhan Maha Tau.
Aku melakukannya karena tidak tau
Apalagi yang bisa aku lakukan
Menyandang status ajnabi, aku tidak banyak kuasa
Keteguhan niat yang ku punya, aku akan membantu menyelesaikan masalah besarnya.

Amboii, aku lupa
Ia kan sudah tidak percaya
Hahaha
Dicampakkan selama berhari-hari
Dengan whatsapp yang selalu delive
Tanpa berubah menjadi biru, read
Jangan harap akan ada pesan masuk darinya.

Hahaha
Sangat sulit dipercaya
Orang kepercayaannya sekarang tidak dianggap ada
Hampir tiap hari aku menanyakan kabar, dalam diam
Enggan, pasti tak berbalas
Disaat genap memasuki kepala dua
Aku mengirimkan doa, melalui lisan yang melangit dan whatsapp sebagai perantara
Sudah kuduga, tak berbalas jua.

Aku ingin membuatnya bahagia
Maka ku putuskan untuk mengajak temannya mendoakan jua
Dia berbalas, terima kasih katanya
Tentu ditujukan pada temannya, bukan aku yang jahat bagi dia.

Perih rasanya
Lebih perih dibanding luka disiram air jeruk dan garam
Mungkin karena aku tidak pernah merasakannya
Bayangkan sajalah
Tiada hari tanpa mengecek apakah pesanku sudah menjadi biru
Tiada hari tanpa mengecek apakah dia online
Tiada hari tanpa, ahh berat
Apalagi malam, semua perilakunya bak belati yang membuat dada ini sesak
Terbaca lebay ya?
Yap, faktanya itulah yang terasa.

Aku sangat rindu masa itu
Kala kami berbagi cerita
Kala ia menghibur Syifa
Mengenalkan Miku dan Menhera
Ah sampai sekarang, itu masih menimbulkan gurat senyum di wajah
Meski kini ditambah aliran air di pipi.

Tuhan
Sakit sekali rasanya dicampakkan
Tak pernah digubris meski tiap hari berceloteh
Aku sudah biasa pada perhatiannya
Ah kali ini dicampakkan begitu saja
Sudah cukup, cukup sudah hukuman ini!

Tuhan, sebesar itukah dosaku padanya?
Hingga tak terampuni semili jua
Hingga ia enggan membaca whatsapp
Jangan harap ia berbalik tanya kabar.

Aku kehabisan cara untuk meminta maaf
Melalui pesan yang setiap hari ku lempar
Melalui telpon yang ntahlah berapa kali dibiarkan.

Tuhan Maha Tau ya
Bahwa aku merasa sedih akan sikapnya yang terlampau jahat
Tunggu, terlampau jahat?
Apakah dia jahat, Tuhan?
Atau aku yang terlampau jahat padaNya?

Tuhan
Sungguh makhlukmu ini bodoh
Tidak tau siapa yang jahat dan berhak meminta maaf
Tidak tau siapa yang harus berlapang dada menerima
Maka itu, beritahu aku Tuhan
Meski bukan lewat pesannya, mungkin bisa lewat bunga mimpi untukku dan dia.

Disudut kamar yang gelap,
Ditulis dengan menahan segala sedih yang menyeruak,
Yang lemah tak berdaya,
Manusia di Serang Raya.

syifanawanda

Student at University of Padjadjaran Head of Programm Invention Tradition (Inventra), Salman Mosque

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *