Dewasa ini, teknologi di Indonesia semakin berkembang dengan pesat. Hal ini terlihat dari berbagai kemudahan yang dirasakan masyarakat Indonesia dalam mengakses beberapa kebutuhan hidup berbasiskan online. Perkembangan teknologi di Indonesia yang dirasakan masyarakat baik di bidang transportasi, media komunikasi, sarana prasarana publik dan privasi, peralatan industri, hingga teknologi pangan dan beberapa rumah produksi. Masyarakatpun dapat dengan bebas menjadi konsumen maupun produsen, menjadikan kemajuan ini sebagai katalis kehidupan maupun pembuka lapangan pekerjaan. Tentunya bijaksana dalam pemakaian menjadi pedoman utama yang harus dijunjung karena gaya hidup yang serba “instan” saat ini pun mampu menciptakan kemunduran bagi para penggunanya, karena dianggap mampu membentuk karakter dan mental masyarakat menjadi acuh dalam berjuang dan bekerja keras, disamping itu akan membuat kecenderungan masyarakat yang pasif dalam berkomunikasi.Ditinjau dari berbagai aspek, media komunikasi menjadi objek yang paling berpengaruh terhadap perubahan dan perkembangan negara Indonesia saat ini. Karena media komunikasi menjadi peran utama dalam birokrasi dan konektor antar teknologi lainnya. Media komunikasi saat ini sudah beragam bentuk dan jenisnya, kecanggihan yang paling dirasakan oleh masyarakat dari media komunikasi adalah sarana interaksi sosial yang telah beragam juga jenisnya, yang disebut media sosial.Banyak media sosial yang kita kenal lewat aplikasi yang tersedia di gadget atau android antara lain Facebook, Line, Path, WhatsApp, Instagram, Twitter, dan lain-lain. Kehadiran media sosial ini memberikan salah satu kebermanfaatannya yaitu sebagai alat untuk mempertemukan kita dengan saudara, teman dan orang lain dimana pun berada tanpa ada batasan tempat atau lokasi, waktu dan keadaan sehingga menjelma sebagai permainan baru yang seolah-olah tak bisa lepas dari tangan kita. Efeknya adalah, setiap orang semakin tergantung dan tidak bisa lepas dengan device-nya dan hal ini membuktikan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa lepas dari interaksi antar sesamanya. Dapat kita lihat pula kemanapun masyarakat saat ini berada, baik ketika berdiam diri maupun bepergian, tak lepas dari yang namanya membuat status, sebagai sarana mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya saat itu dengan harapan mendapat respon dari teman jejaringnya, juga sebaliknya tak lepas dari mengomentari atau merespon status yang dibuat oleh orang lain.Namun terkadang tanpa disadari dari beberapa komentar-komentar yang ada di media sosial kerap terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti menyinggung perasaan orang lain. Banyak contoh kasus pidana yang terkait dengan adanya kasus yang menyinggung perasaan orang lain, mencemarkan nama baik orang lain, atau dianggap menyudutkan seseorang atau kelompok tertentu sehingga mendapat sanksi hukum berdasar pada Undang-Undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Pasal 27 ayat 3 UU ITE, yaitu “ setiap orang sengaja tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”.Media sosial juga menjadi sarana masyarakat untuk mewujudkan kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi. Namun kebebasan berpendapat atau kebebasan berekspresi di media sosial manapun memiliki batasan dan etika sehingga kita tidak terjebak dalam hiruk pikuk komentar-komentar bias yang menjerumuskan terhadap hukum tersebut, karena ruang publik adalah milik semua orang. Media komunikasi dan bahasa tak hanya menjadi alat interaksi sosial tetapi juga sebagai budaya yang diwariskan, karena budaya memiliki banyak unsur pembentuknya yang merupakan kegiatan sosial dari manusia, salah satunya adalah bahasa yang digunakan saat berkomunikasi. Pada tempat atau daerah yang berbeda akan menciptakan bahasa budaya yang berbeda pula, sehingga menciptakan perbedaan juga dalam berkomunikasi. Dan berkomunikasi atau mengemukakan pendapat dengan menggunakan bahasa budaya juga menjadi hak asasi setiap manusia. Dalam menggunakan hak kebebasan mengemukakan pendapat, kita harus memegang prinsip bebas dan bertanggung jawab. Bebas artinya bahwa segala ide, pikiran atau pendapat kita, dapat dikemukakan secara bebas tanpa tekanan dari siapapun. Bertanggung jawab maksudnya bahwa ide, pikiran atau pendapat tersebut mesti dilandasi akal sehat, niat baik, dan norma-norma yang berlaku. Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, sejalan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip hukum internasional sebagaimana tercantum dalam pasal 29Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia yang antara lain menetapkan, setiap orang memiliki kewajiban terhadap masyarakat yang memungkinkan pengembangan kepribadian secara bebas dan penuh.ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab, yaitu pendapatnya harus disertai argumentasi yang kuat dan masuk akal, sehingga tidak sembarang pendapat. Pendapat hendaknya mewakili kepentingan orang banyak, sehingga memberi manfaat bagi kehidupan bersama. Pendapatnya dikemukakan dalam kerangka peraturan yang berlaku, sehingga tidak melanggar hukum. Berpendapat sepatutnya terbuka terhadap tanggapan, sehingga tercipta komunikasi sosial yang baik. Penyampaian pendapat hendaknya dilandasi oleh keinginan untuk menegmbangkan nila-nilai keadilan, demokrasi, dan kesejahteraan. Dalam pelaksanaan hak kebebasan, setiap orang harus tunduk semata-mata pada pembatasan yang ditentukan oleh UU dengan maksud guna menjamin pengakuan dan penghargaan terhadap hak serta kebebasan orang lain, guna memenuhi syarat-syarat yang adil bagi moralitas, ketertiban serta kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis.Salah satu contoh kasus tidak beretika dalam berpendapat di media sosial menimpa mantan Walikota Bandung yang dikenal sebagai sosok yang aktif di sosial media, terutama instagram. Beberapa postingannya disenangi anak muda, karena dinilai banyak sisi humoris. Sayangnya, ia dinilai sudah melewati batas dan tidak beretika ketika menjadikan hadits sebagai guyonan, hal tersebut telah menjadi kontroversi pada beberapa pengguna sosial media atau netizen. Dan hal ini menjadi pelajaran bahwa sudah sepatutnya dalam mengemukakan pendapat khususnya di media sosial, harus sangat memperhatikan etika seperti nilai-nilai kesopanan dan norma agama. Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman ataupun ketidaknyamanan bagi sesama pengguna media sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *