Diversifikasi Jenis Produksi dan Konsumsi Masyarakat

Sustainable Development Goals (SDGs) atau Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang disahkan pada tanggal 25 September 2015 di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berisi 17 tujuan dan aksi global untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan di seluruh dunia yang dirancang untuk 15 tahun ke depan (terhitung dari 2016-2030).

Salah satu tujuan dalam SDGs adalah menjamin pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan yang tercantum dalam tujuan ke 12. Tujuan ini berlaku secara universal, termasuk negara-negara maju sekalipun. Tak terkecuali bagi Indonesia yang masih termasuk dalam negara berkembang, tujuan ini perlu direalisasikan dengan berbagai aksi nyata.

Faktanya di Indonesia banyak terjadi kasus terputusnya pola produksi dan konsumsi. Hal ini dikarenakan kurang optimalnya manusia dalam memanfaatkan potensi alam dan potensi diri. Sebagian besar rakyat Indonesia yang bersifat konsumtif menyebabkan terputusnya pola produksi dan konsumsi, karena dengan adanya sifat tersebut masyarakat menjadi terbiasa membeli dan menghabiskan bukan menciptakan dan menghasilkan sehingga bagi masyarakat yang tidak sanggup untuk membeli maka pola konsumsinya akan terputus atau mengalami kelaparan yang juga melanggar dari tujuan SDGs yang ke dua.

Untuk merealisasikan tujuan tersebut maka perlu dilakukannya penganekaragaman atau diversifikasi pada jenis produksi yang kemudian dilanjutkan pada konsumsi masyarakat. Hal ini harus dilakukan oleh seluruh pihak baik pemerintah, masyarakat maupun mahasiswa. Pemerintah perlu membuka dan membagi secara rata lahan untuk produksi baik yang produksi alamiah (pertanian, perikanan dan lain-lain) maupun produksi sintesis. Juga dibutuhkan masyarakat yang harus siap mengembangkan diri untuk memproduksi suatu hal. Begitupun halnya dengan mahasiswa yang harus peka dan pandai dalam membaca masalah dan peluang yang ada. Maka dengan adanya kerja sama antara pemerintah, masyarakat dan mahasiswa maka akan mudah untuk mencapai tujuan tersebut.

Selain diperlukannya kerja sama dari tiga pihak di atas, juga dibutuhkan kesadaran dari diri masing-masing untuk melakukan inovasi sehingga dapat tercipta produk-produk baru yang sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan dihasilkannya produk-produk baru maka pola produksi akan terus berlanjut seiring dengan kebutuhan manusia yang tidak pernah berhenti. Pun demikian pada pola konsumsi masyarakat, dengan adanya penganekaragaman produk yang dihasilkan maka akan menyebabkan keragaman pula pada konsumsi masyarakat sehingga akan terus berkelanjutan seiring berjalannya waktu.

Akan tetapi dalam program diversifikasi ini perlu diperhatikan dari segala aspek gar tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan, misalnya persaingan yang tidak sehat atau banyaknya produk yang tidak bermutu. Kejadian tersebut bisa ditanggulangi dengan diciptakannya peraturan dan undang-undang yang membahas hal tersebut ataupun pelatihan-pelatihan yang ditujukan kepada masyarakat.

Etika dalam Berpendapat

Dewasa ini, teknologi di Indonesia semakin berkembang dengan pesat. Hal ini terlihat dari berbagai kemudahan yang dirasakan masyarakat Indonesia dalam mengakses beberapa kebutuhan hidup berbasiskan online. Perkembangan teknologi di Indonesia yang dirasakan masyarakat baik di bidang transportasi, media komunikasi, sarana prasarana publik dan privasi, peralatan industri, hingga teknologi pangan dan beberapa rumah produksi. Masyarakatpun dapat dengan bebas menjadi konsumen maupun produsen, menjadikan kemajuan ini sebagai katalis kehidupan maupun pembuka lapangan pekerjaan. Tentunya bijaksana dalam pemakaian menjadi pedoman utama yang harus dijunjung karena gaya hidup yang serba “instan” saat ini pun mampu menciptakan kemunduran bagi para penggunanya, karena dianggap mampu membentuk karakter dan mental masyarakat menjadi acuh dalam berjuang dan bekerja keras, disamping itu akan membuat kecenderungan masyarakat yang pasif dalam berkomunikasi.Ditinjau dari berbagai aspek, media komunikasi menjadi objek yang paling berpengaruh terhadap perubahan dan perkembangan negara Indonesia saat ini. Karena media komunikasi menjadi peran utama dalam birokrasi dan konektor antar teknologi lainnya. Media komunikasi saat ini sudah beragam bentuk dan jenisnya, kecanggihan yang paling dirasakan oleh masyarakat dari media komunikasi adalah sarana interaksi sosial yang telah beragam juga jenisnya, yang disebut media sosial.Banyak media sosial yang kita kenal lewat aplikasi yang tersedia di gadget atau android antara lain Facebook, Line, Path, WhatsApp, Instagram, Twitter, dan lain-lain. Kehadiran media sosial ini memberikan salah satu kebermanfaatannya yaitu sebagai alat untuk mempertemukan kita dengan saudara, teman dan orang lain dimana pun berada tanpa ada batasan tempat atau lokasi, waktu dan keadaan sehingga menjelma sebagai permainan baru yang seolah-olah tak bisa lepas dari tangan kita. Efeknya adalah, setiap orang semakin tergantung dan tidak bisa lepas dengan device-nya dan hal ini membuktikan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa lepas dari interaksi antar sesamanya. Dapat kita lihat pula kemanapun masyarakat saat ini berada, baik ketika berdiam diri maupun bepergian, tak lepas dari yang namanya membuat status, sebagai sarana mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya saat itu dengan harapan mendapat respon dari teman jejaringnya, juga sebaliknya tak lepas dari mengomentari atau merespon status yang dibuat oleh orang lain.Namun terkadang tanpa disadari dari beberapa komentar-komentar yang ada di media sosial kerap terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti menyinggung perasaan orang lain. Banyak contoh kasus pidana yang terkait dengan adanya kasus yang menyinggung perasaan orang lain, mencemarkan nama baik orang lain, atau dianggap menyudutkan seseorang atau kelompok tertentu sehingga mendapat sanksi hukum berdasar pada Undang-Undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Pasal 27 ayat 3 UU ITE, yaitu “ setiap orang sengaja tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”.Media sosial juga menjadi sarana masyarakat untuk mewujudkan kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi. Namun kebebasan berpendapat atau kebebasan berekspresi di media sosial manapun memiliki batasan dan etika sehingga kita tidak terjebak dalam hiruk pikuk komentar-komentar bias yang menjerumuskan terhadap hukum tersebut, karena ruang publik adalah milik semua orang. Media komunikasi dan bahasa tak hanya menjadi alat interaksi sosial tetapi juga sebagai budaya yang diwariskan, karena budaya memiliki banyak unsur pembentuknya yang merupakan kegiatan sosial dari manusia, salah satunya adalah bahasa yang digunakan saat berkomunikasi. Pada tempat atau daerah yang berbeda akan menciptakan bahasa budaya yang berbeda pula, sehingga menciptakan perbedaan juga dalam berkomunikasi. Dan berkomunikasi atau mengemukakan pendapat dengan menggunakan bahasa budaya juga menjadi hak asasi setiap manusia. Dalam menggunakan hak kebebasan mengemukakan pendapat, kita harus memegang prinsip bebas dan bertanggung jawab. Bebas artinya bahwa segala ide, pikiran atau pendapat kita, dapat dikemukakan secara bebas tanpa tekanan dari siapapun. Bertanggung jawab maksudnya bahwa ide, pikiran atau pendapat tersebut mesti dilandasi akal sehat, niat baik, dan norma-norma yang berlaku. Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, sejalan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip hukum internasional sebagaimana tercantum dalam pasal 29Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia yang antara lain menetapkan, setiap orang memiliki kewajiban terhadap masyarakat yang memungkinkan pengembangan kepribadian secara bebas dan penuh.ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab, yaitu pendapatnya harus disertai argumentasi yang kuat dan masuk akal, sehingga tidak sembarang pendapat. Pendapat hendaknya mewakili kepentingan orang banyak, sehingga memberi manfaat bagi kehidupan bersama. Pendapatnya dikemukakan dalam kerangka peraturan yang berlaku, sehingga tidak melanggar hukum. Berpendapat sepatutnya terbuka terhadap tanggapan, sehingga tercipta komunikasi sosial yang baik. Penyampaian pendapat hendaknya dilandasi oleh keinginan untuk menegmbangkan nila-nilai keadilan, demokrasi, dan kesejahteraan. Dalam pelaksanaan hak kebebasan, setiap orang harus tunduk semata-mata pada pembatasan yang ditentukan oleh UU dengan maksud guna menjamin pengakuan dan penghargaan terhadap hak serta kebebasan orang lain, guna memenuhi syarat-syarat yang adil bagi moralitas, ketertiban serta kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis.Salah satu contoh kasus tidak beretika dalam berpendapat di media sosial menimpa mantan Walikota Bandung yang dikenal sebagai sosok yang aktif di sosial media, terutama instagram. Beberapa postingannya disenangi anak muda, karena dinilai banyak sisi humoris. Sayangnya, ia dinilai sudah melewati batas dan tidak beretika ketika menjadikan hadits sebagai guyonan, hal tersebut telah menjadi kontroversi pada beberapa pengguna sosial media atau netizen. Dan hal ini menjadi pelajaran bahwa sudah sepatutnya dalam mengemukakan pendapat khususnya di media sosial, harus sangat memperhatikan etika seperti nilai-nilai kesopanan dan norma agama. Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman ataupun ketidaknyamanan bagi sesama pengguna media sosial.

The Legend of Gunung Pinang

Once upon a time, in Banten seashore, lived an old widow and her son named Dampu Awang. They were very poor. Dampu Awang always wanted to go to Malaka and wished to be a rich man, so he and his mother could live happily ever after, but his mother never allowed him to go.“Dampu…,” a voice called Dampu Awang’s name. “I feel worried with your condition now, you’re just dreaming to be rich. So, if you want to go…it’s okay, dear.”“Really? Thank you, mom… thank you very much.” Dampu Awang  was very happy to hear that, then he went to Malaka accompanied by  a parrot named si Ketut.Every day, before the sun was rising, Dampu Awang worked very hard cleaning all of the docks on Teuku Abu Matsyah’s ship, a merchant from Malaka. As time went by, Dampu Awang was known as a very diligent ship crew until one day, Teuku Abu Matsyah called him to talk together.“Dampu, as we know, you’ve been working with me for five years…I’m very proud of you. You are very diligent and also a hard worker.” Said Teuku Abu Matsyah.“Thank, you, sir.” Said Dampu Awang.“And…I want you to marry my beloved daughter, Siti Nurhasanah. Will you marry her?”Dampu Awang was very surprised to hear that. “But, sir…I’m just an ordinary ship crew…Do I deserve her?”“Don’t worry…, I know the best for my daughter.”The days went by, and Dampu Awang had left his village for ten years.One day a news that a merchant from Malaka would come to Banten arose. Dampu Awang’s mother felt very happy when she heard the news.“I wish that is my son, Dampu Awang. Son…finally your dreams come true. Thank God…Thank you very much.”The next day, the merchant’s ship was sighted entering the harbour. Meanwhile, inside the ship, Dampu Awang felt very worried that he would meet his mother. He was a rich merchant now.Many people streamed to the harbour to see the merchant. He was very handsome, and on his shoulder… there was a parrot that seemed very strong and healthy.“Dampu Awang…son…here…your mother is right here!” Called Dampu Awang’s mother.“What a poor and messy woman. Is she your mother, honey?” asked Dampu Awang’s wife.Dampu Awang felt very ashamed so he didn’t confess that the old woman  was his mother.“No! She is not my mother! My parents were very rich and they had already died!” He denied,. “Hey you, crazy woman! I’ve never had a mother like you! Poor and dirty old woman!”His mother was very sad and her heart was broken. She was very disappointed. Then she prayed to God. “God… if he is not my son, let him go. But if he is my son, punish him…because he has made his mother sad.”The day turned dark. Thunder and storm appeared. Dampu Awang’s ship drifted on the sea. And the miracle came. Si Ketut could talk!“Confess your mother, Dampu Awang…, confess your mother.”“No! She is not my mother! My mother had died!”Then twister came and threw Dampu Awang’s ship away far to the South. His ship capsized and  became a mountain. Now people called it Gunung Pinang. It’s located in Kramat Watu, Banten province.

Prince Pande Gelang and Princess Cadasari

Once upon a time there was a kingdom of Banten. The king had a beautiful daughter. her name was Princess Cadasari. She was very beautiful and kind to people.

However, she was very sad lately. A prince from another kingdom came and planned to marry her. His name was prince Cunihin. People did not like him. he was arrogant and mean to people. He had supernatural power. Prince Cunihin talked to the king about the marriage. The king accepted the proposal. He was afraid that Prince Cunihin would attack the kingdom if the proposal was refused.

The marriage was set. Princess Cadasari was sad. She did not have any choice. She prayed to god. And in one night she had a dream. She was in the park and a handsome man would help her.

On the following day, Princess Cadasari went to the park and waited the handsome man. While she was there suddenly an old man came to her.

“What’s the matter Princess? You look very sad,” asked the old man.

“I have a great problem. And I’m waiting for someone to help me.”

“Maybe I can help you.”

The princess was hesitant. In a dream, a handsome man would help her, but then it was an old man who offered to help her. She decided to talk about the problem to him. His name was Pande Gelang. Pande means maker and gelang means a bracelet. He made bracelets to make a living.

“Don’t worry princess, I can help you. Just tell prince Cunihin to find a big stone and just ask him to make a big hole in the stone. I will put my giant bracelet inside the stone, after that ask him to go through the bracelet. He will lose his supernatural power then”

Princess Cadasari did it. She asked Prince Cunihin to find a big stone. And make a big hole in it. Prince Cunihin did not have any problem to make the hole. And after he did it, he put the stone in the park. It was the place where the wedding party would be held. And secretly, Pande Gelang put the giant bracelet inside the stone.

On the wedding day, people were gathered in the park. Before the ceremony was started, Princess Cadasari asked Prince Cunihin to go through the stone. Although he didnot understand, Prince Cunihin still did the request.

Prince Cunihin was ready to go through the stone and the princess was waiting on the other side. And when he walked through the stone, Princess Cunihin screamed in pain. He was screaming and finally falling down on the ground. And when he got up, he saw Pande Gelang in front of him.

“You did this to me…” said Prince Cunihin.

Amazingly, Prince Cunihin slowly changed into an old man and Pande Gelang changed into a handsome man.

Pande Gelang then explained to princess Cadasari. He was a prince. Previously, Prince Pande Gelang and Prince Cunihin were best friend. They both were students from a great teacher. But after they finished the lesson, Prince Cunihin killed the teacher and stole Prince Pande Gelang’s power. He would get his power back if Prince Cunihin would go throuh his bracelet.

Princess Cadasari was very happy. She then remembered her dream. It was true that a handsome man would help her. Since then, Prince Pande Gelang stayed in the palace. He helped the kingdom from bad people. Later Prince Pande Gelang and Princess Cadasari got married. The people were very happy. They were very grateful. They also named the palace as Pande Gelang. It is known now as Pandeglang

Salah Siapa?

Jadi salah siapa?

Kecurangan ada dimana-mana

Kejahatan, kirminalitas dan pengangguran merajalela

Kebohongan sudah jadi budaya

Narkoba menjadi makanan utama

Aborsi, prostitusi, bukan lagi suatu hal yang keji

Korupsi sudah melekat pada setiap diri

Salah siapa?

Jadi salah siapa?

Saat dunia ini bukan lagi tempat yang damai

Saat dunia ini bukan lagi tempat yang tentram

Saat dunia ini sudah enggan berkawan

Saat dunia ini memaksa tuk ditinggalkan

Naas, semua sudah terjadi

Aksi bunuh diri menjadi sebuah prestasi

Salah siapa?

Jadi salah siapa?

Apakah salah seorang presiden yang cinta rakyatnya?

Atau salah para polisi yang tugasnya mengayomi?

Salah sang hakim yang bijaksana?

Salah sang pembuat aturan yang penuh pertimbangan? Atau salah rakyat yang tidak mau bertaubat?

Pecutan tuk Sang Pecundang

Memang dasar anak muda

Senang sekali berfoya dan bercinta

Hura-hura kerjaannya

Lupa akan mahal dan sombongnya suatu masa

Takkan kembali barang sedetik jua

Tik….

Di atas garis takdirNya, hujan jatuh menyapa saya

Seorang anak muda usia belasan, hidup di sebuah kota besar

Kota besar?

Menjanjikan ribuan kebahagiaan para penghuni

Terkecuali mereka

Di bawah hujan yang masih senang bermain ke bumi

Mereka lalu-lalang, menjajakan jasa yang tak seberapa

Ojek payung pa? ojek payung bu? Ojek payung mbak?

Kala saya masih tertawa

Tuhan kirimkan guntur dan petir

Memecut saya yang masih saja terleha

Tidak tergerak hatinya

Jangankan mengulurkan tangan, mendoakan pun enggan

Dasar pecundang

Umpat ku dari jiwa ku untukku Sampai bila jadi pecundang?

Sepanjang Jalan Braga

Senja sudah datang

Menandakan raja siang akan pulang

Kenangan itu kembali

Menyeruak dan menyibak celah-celah di hati

Terbayang seorang sosok gagah perkasa

S’lalu maju pertama saat diri ini terluka

Di sepanjang Jalan Braga

Tuhan berikan kesempatan kami berdua

Menghabiskan waktu, menikmati buih-buih rindu

Di sepanjang Jalan Braga

Tuhan kirimkan ia padaku

Berbagi kisah, berbagi beban

Mengisi kenangan dalam relung pikiran

Di sepanjang Jalan Braga

Tuhan ciptakan sebuah kenangan yang takkan terlupa

Nasihat tuk bekal perjuangan t’lah dilontarkan

Doa-doa penuh harapan t’lah dilantunkan

Di sepanjang Jalan Braga

Tentang anak yang dicinta Ayahnya Tentang Ayah yang dicinta anaknya

Senang

Semalam tidak hujan

Karena rembulan ingin bersinar terang

Semalam tidur nyenyak

Karena badan ingin berehat

Pagipun menjelma

Mentari sudah terlihat

Menerangi relung hati yang sepi

Dan diisi oleh senyuman bidadari

Embun sudah hilang

Karena hari sudah siang

Tapi senyum bidadari tak pernah hilang

Jika bersama yang aku sayang

Jika aku punya mantera

Kan ku hentikan kedipan mata

Agar tak henti menatap dirinya

Agar aku senang selamanya

Mutiara

Berkilau terpapar sinar sang surya

Mengerjap-kerjap seperti ingin digoda

Namun sayang seribu sayang

Dikau sulit untuk didapat

Melalui ribuan inci dari daratan

Mengapul ditengah ombak menerjang

Menyelelam jauh ke dasar lautan

Melawan hiu yang menghadang

Tak jarang nyawa menjadi jaminan

Tapi semua kan dilakukan

Hanya demi sebutir dikau.

Gemerlap indah terlukis diwajah

Saat berhasil menjamah dikau

Harga kau selangit

Namun yang minat tak sedikit

Mutiara…

Untung nian nasib dikau.

Mentari

Pohon mulai merunduk

Tapi tak seperti padi yang berisi

Terik menghajar dunia ini

Ulah manusia yang tak tahu diri.

Dahulu mentari bak kawan

Menghangatkan tubuh di siang hari

Menemani jiwa kesana kemari

Hingga tiba senja hari.

Tetapi sekarang

Mentari mulai garang

Tidak lagi menghangatkan

Bahkan berani mengahanguskan

Manusia, pepohonan, hewan-hewan..

Dibuat tercengang olehnya

Dahulu tersenyum bersama

Sekarang menolehpun tak kuasa.