Posts belonging to Category Publication



Analisis Wacana Kritis: Teori Kritis dan Linguistik

Kajian Analisis Wacana Kritis (AWK) sebagai Implikasi

Paradigma Teori Kritis pada Linguistik

(Studi Kasus: Teks Berita Pernikahan Bupati Garut)[1]

Susi Yuliawati

susi.y@unpad.ac.id

 

Abstrak

Paradigma teori kritis muncul dilatarbelakangi oleh adanya krisis yang terjadi pada teori sosial. Selama tahun 1960-an, beragam paradigma teori baru bermunculan yang secara umum mengkritisi konsep positivisme, empiris, dan kuantitatif yang selama ini diterapkan dalam teori dan penelitian sosial. Ketidakpuasan teoretis dan metodologis yang diproduksi oleh paradigma yang ada tersebut, kemudian memotori pencarian paradigma baru yang dapat dijadikan sebagai alternatif metodologi dan teori pada ilmu sosial. Paradigma-paradigma baru dalam fenomenologi, etnometodologi, strukturalisme, Marxisme, feminisme, dan teori kritis lainnya menawarkan konsepsi baru dengan keyakinan bahwa konsepsi baru tersebut lebih cocok diterapkan untuk mengkaji isu-isu dalam masyarakat kontemporer. Teori-teori di atas menjadi perbincangan hangat dalam bidang teori sosial dan memicu perdebatan tentang konsep dasar, metode, dan tujuan teori sosial kritis[2]. Seiring berjalannya waktu, minat terhadap teori kritis pun terus menunjukkan peningkatan yang terbukti dari pesatnya perkembangan literatur sekunder teori sosial (Agger, 2012: 1) dan meluasnya pengaruh teori kritis terhadap berbagai bidang ilmu. Salah satu bidang ilmu yang mendapat pengaruh dari paradigma teori kritis adalah linguistik. Ledakan teori kritis dalam bidang linguistik sangat kentara di dalam kajian Critial Discourse Analysis (CDA) atau analisis wacana kritis (AWK) yang awalnya berasal dari kajian Critical Linguistics – muncul pada tahun 1970-an. Berdasarkan hal tersebut, dalam artikel ini saya akan mencoba mendeskripsikan secara singkat implikasi paradigma teori kritis terhadap linguistik yang terrealisasi dalam kajian analisis wacana kritis (AWK) dan memberikan contoh penerapan ancangan AWK ini pada teks berita tentang pernikahan Bupati Garut.

 

Kata Kunci: Analisis Wacana Kritis, Teori Kritis, Bupati Garut

 

PengaruhTeori Kritis pada Kajian Analisis Wacana Kritis (AWK)

            Tidak dapat dipungkiri bahwa paradigma teori kritis mempengaruhi beragam disiplin. Salah satunya adalah lingustik. Pada akhir tahun 1970-an muncul critical linguistics (CL) sebagai implikasi paradigma teori kritis pada linguistik. Prinsip-prinisp dasar dalam CL ini selanjutnya menjadi cikal bakal Critical Discourse Analisis (CDA)/analisis wacana kritis (AWK)[3]. Kedua terminologi tersebut awalnya seringkali digunakan secara bergantian, tetapi kini AWK/CDA cenderung lebih sering digunakan daripada CL. CDA menggunakan pendekatan CL terutama dalam konsep unit dasar komunikasi yaitu unit teks diskursif yang lebih besar, sehingga penelitiannya mempertimbangkan wacana-wacana institusional, politik, gender, dan media (Wodak & Meyer, 2001: 2).

Proyek dan perspektif AWK yang berkaitan dengan isitilah ‘kritis’ yang digunakan oleh para critical linguists tentunya dapat dilacak dari pengaruh Mahzab Frankfurt dan salah satu tokohnya Jurgen Habermas[4]. Dalam perkembanganya AWK pun tidak lepas dari peran dan kontribusi Teun van Dijk, Norman Fairclough, Gunther Kress, Theo van Leeuwen, dan Ruth Wodak. Mereka mencoba mengkolaborasikan teori-teori dan metode-metode analisis wacana, hingga kemudian semakin memperkuat metode dan teori AWK.

Secara umum paradigma AWK memandang bahasa sebagai praktik sosial (Faircough & Wodak, 1997) dan menawarkan cara untuk menginvestigasi bahasa dengan menggunakan konteks sosial. Dengan menentang otonomi bahasa dan memungkinkan ekplorasi bagaimana teks merepresentasikan dunia melalui cara-cara yang bergantung pada kepentingan tertentu, AWK membuka peluang untuk mempertimbangkan relasi antara wacana dan masyarakat, teks dan konteks, serta bahasa dan kuasa (Fairclough, 2001 dalam Henderson (2005)).

Kajian analisis wacana kritis menentang beberapa konsep dalam pandangan positivisme dan juga konstruktivisme yang sekaligus menunjukkan adanya peran paradigma teori kritis yang mempengaruhinya. Implikasi metodologis maupun substantif dari paradigma teori kritis pada linguistik yang tercermin dalam kajian AWK adalah sebagai berikut:

  1. Implikasi metodologis paradigma teori kritis terhadap AWK tampak pada pandangan para pengkaji AWK yang menegaskan bahwa kesadaran peran mereka dalam masyarakat sangat krusial. Mereka menolak kemungkinan ilmu yang bebas nilai dengan argumentasi bahwa ilmu secara inheren merupakan bagian dan sekaligus dipengaruhi oleh struktur sosial, serta diproduksi di dalam interkasi sosial[5]. Fairclough (2001 & 2002) pun mempertegas bahwa AWK tidak akan pernah bisa objektif, tetapi selalu didasari oleh interest tertentu, selalu datang dari perspektif tertentu, dan menawarkan pemahaman yang selalu parsial, tidak lengkap, dan bersifat sementara. Dengan kata lain, dalam pendekatan AWK peneliti harus mengakui dari posisi mana ia memiliki cara pandang, cara membaca, dan cara menganalisis data. Oleh karena itu, AWK sangat bergantung pada struktur sosial. Ditegaskan lebih jauh oleh Bourdieu (dalam Wodak dan Meyer (2008)) bahwa keberadaan peneliti, ilmuwan, dan filsuf tidak di luar hirarki kuasa dan status dalam masyarakat, tetapi menjadi subjek dalam struktur tersebut. Bahkan biasanya mereka cenderung menempati posisi superior dalam masyarakat. Hal ini berarti pula bahwa kebenaran dalam AWK tidak bersifat tunggal, melainkan plural karena setiap peneliti dalam melihat data yang sama disyahkan untuk memiliki cara membaca yang beragam sejauh validitasnya dapat dipertanggungjawabkan.
  2. AWK menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dan objek bahasa. AWK berpandangan bahwa bahasa bukan semata-mata media untuk memahami realitas objektif belaka yang dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pernyataan, akan tetapi subjek dianggap sebagai faktor penting dalam wacana dan relasi-relasi sosial. Selain itu, yang juga tidak kalah pentingnya untuk dipertimbangkan adalah bahwa setiap wacana secara inheren memuat faktor-faktor relasi kuasa yang berperan dalam membentuk jenis-jenis subjek tertentu dan juga perilaku-perilakunya (tidak dipertimbangkan dalam konstruktivisme). AWK pun tidak difokuskan pada kebenaran atau ketidakbenaran struktur tata bahasa dan proses penafsiran, tetapi menekankan pada konstelasi kekuatan pada proses produksi dan reproduksi makna. Individu pun tidak dianggap sebagai subjek yang netral yang mampu menafsir secara bebas sesuai dengan pikirannya karena subjek tidak dapat melepaskan diri dari relasi dan pengaruh kekuatan sosial dalam masyarakatnya. Dalam hal ini, bahasa tidak dianggap sebagai medium yang netral tetapi sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subjek, tema, wacana, maupun strategi-strategi tertentu. Oleh karena itu, AWK digunakan untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa. Dengan pandangan semacam ini, wacana dianggap sebagai praktik sosial yang selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subjek dan berbagai tindakan representasi yang terdapat dalam masyarakat (Eriyanto, 2012: 5-7).
  3. AWK menekankan pentingnya kajian interdisipliner untuk mendapatkan pemahaman yang lebih tepat tentang bagaimana bahasa membentuk dan mentransmisikan pengetahuan dalam mengorganisir struktur sosial maupun dalam mempraktikan kuasa. Hal ini mengindikasikan pula bahwa AWK berorientasi pada permasalahan (problem-oriented), sehingga kajian inter- atau multidisipliner menjadi krusial. Artinya juga bahwa para peneliti harus membuka diri pada berbagai teori dan membuka peluang AWK untuk dapat memediasi dialog interdisipliner antara teori-teori sosial dan metode (Fairclough, 2000: 163). Dalam berbagai kasus, para pengkaji AWK harus menyadari betul bahwa apa yang dikerjakannya dikendalikan oleh motif sosial, ekonomi, dan politik seperti karya-karya ilmiah lainnya, tetapi bukan berarti mereka dalam posisi yang superior. Justru dengan mengusung istilah ‘kritis’, para peneliti AWK harus menjunjung tinggi standard etika – menyatakan secara eksplisit dan setransparan mungkin intensi mereka memposisikan diri dengan cara tertentu serta kepentingan dan nilai penelitiannya. Berdasarkan hal di atas, dapat pula dikatakan bahwa AWK tidak tertarik jika sekedar menginvestigasi unit linguistiknya, tetapi mempelajari fenomena sosial yang kompleks sehingga membutuhkan pendekatan multidisipliner dan juga multimetodologis dianggap sangat signifikan (Wodak & Meyer, 2008: 1-7).
  4. AWK memiliki proyek yang ditujukan untuk memproduksi dan menggambarkan pengetahuan kritis yang memungkinkan manusia membebaskan dirinya sendiri dari bentuk-bentuk dominasi melalui refleksi diri. Oleh karena itu, teori dalam AWK bukan hanya diterapkan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan struktur wacana secara intrinsik, tetapi juga membongkar segala jenis kesadaran palsu yang melibatkan analisis ekstrinsik wacana[6]. Artinya, pendekatan AWK sejalan dengan teori kritis karena ditujukan untuk menciptakan kesadaran para agen akan kebutuhan dan kepentingannya (Wodak & Meyer, 2008:7). Sejalan dengan Wodak & Meyer, van Dijk pun berpendapat bahwa AWK adalah pendekatan terhadap analisis wacana yang intinya mengkaji bagaimana cara penyalahgunaan kuasa sosial (social power abuse), dominasi, dan ketidaksetaraan dipraktikan, direproduksi, dilegitimasi, dan ditentang melalui struktur wacana dalam konteks sosial dan politik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa para pengkaji AWK mengambil posisi eksplisit karena mereka ingin memahami, mengekspos, dan tentunya menentang ketidaksetaraan sosial.
  5. Implikasi substantif teori kritis terhadap linguistik sangat kentara pada kritik AWK yang ditujukan pada pemikiran aliran strukturalis yang menganggap bahasa sebagai mekanisme yang otonom, sehingga bahasa dapat dideskripsikan dan dianalisis tanpa harus bergantung pada konteks penggunaanya (pendekatan intrinsik). Dengan kata lain, konteks dan proses-proses sosial menjadi topik marginal dalam kajian linguistik (Graddol (1993) dalam Borsley). Ini bukan berarti bahwa konteks penggunaan bahasa sama sekali tidak tersentuh, tetapi variabel konteks dalam paradigma strukturalisme (seperti dalam sosiolinguistik dan pragmatik) selalu dikaitkan dengan sistem otonom bahasa. Sebagai bentuk kritik pada pemikiran strukturalis di atas, AWK mengganggap konteks penggunaan bahasa adalah variabel yang sangat penting dan mencoba menghindari asumsi relasi deterministik sederhana antara bahasa dan sosial, bahkan menyerukan ide ‘mediasi’ melalui pendekatan relasi-dialektikal[7]. AWK menekankan pemahaman bahwa wacana disusun oleh dominasi (Wodak & Mayer, 2001: 3). Oleh karena itu, wacana dianggap sebagai praktik sosial yang mengimplikasikan relasi dialektikal antara perisitiwa diskursif dengan situasi, institusi, dan struktur sosial yang menjadi kerangkanya.
  6. Fairclough (dalam Henderson, 2005) mengemukakan bahwa terdapat keterbatasan dalam sub-kajian linguistik yang selama ini diterapkan. Sebagai contoh, menurutnya kajian sosiolinguistik terlalu berkiblat pada aspek postivis (mencari kaidah penggunaan bahasa dalam struktur sosial masyarakat), kajian pragmatik terlalu menunjukkan individualisme dalam unit analisisnya (bahasa dilihat secara spesifik berdasarkan peristiwa tutur tertentu), dan analisis percakapan terlalu berfokus pada aspek formal percakapan (daripada content-nya). Oleh karena itu, AWK mencoba menggabungkan analisis wacana yang berorientasi pada bahasa dan pemikiran sosial dan politik yang relevan dengan wacana dan bahasa.
  7. Implikasi substantif teori kritis pada AWK tampak pada perluasan definisi unit analisisnya. Pada awalnya analisis wacana lebih berfokus pada aspek co-text atau struktur internal yang membangun kepaduan dan keutuhan wacana melalui kohesi gramatikal – seperti reference (eksopora & endofora), substitusi, dan elipsis – dan kohesi leksikal – seperti repetisi, sinonimi, superordinate, dan general words. AWK menawarkan peleburan kajian linguistik dengan teori-teori sosial. Hal ini tampak dari definisi wacana yang diberikan oleh Fairclough (1989, 1992, dan 2001). Menurutnya wacana merupakan konsep tridimensional karena bahasa adalah bagian dari masyarakat, dan fenomena bahasa itu merupakan jenis fenomena sosial tertentu, serta fenomena sosial itu sendiri adalah bagian dari linguistik. Dalam menggunakan istilah wacana yang mengacu pada keseluruhan proses interaksi sosial seperti yang disebutkan di atas, Fairclough juga memberikan konsep bahwa peristiwa diskursif secara simultan merupakan bagian dari teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Konsep tersebut artinya mengintegrasikan definisi wacana menurut linguistik dari Halliday dan pemahaman teori sosial dari Foucault dalam kaitannya dengan wacana, yang terjalin di dalamya pemahaman teori kritis dan Mahzab Frankfurt, Marxisme, dan neo-Marxisme (Henderson, 2005: 6).
  8. Implikasi substantif lainnya dari teori kritis terhadap AWK terlihat dari beberapa pendekatan[8] yang digunakan dalam menganalisis wacana:
  9. Critical Linguitics

CL yang banyak dipengaruhi oleh teori Systemic Functional Grammar dari Halliday melihat bagaimana gramatika bahasa membawa posisi dan makna ideologi tertentu. Artinya ideologi dikaji melalui pilihan kata dan struktur tata bahasa yang digunakan. Ideologi dalam tataran umum menunjukkan bagaimana satu kelompok berusaha memenangkan dukungan politik dan memarjinalkan kelompok lain melalui pemakaian bahasa dan struktur tata bahasa tertentu.

  1. French Discourse Analysis

Pendekatan FDC didasari oleh pemikiran Pecheux yang banyak dipengaruhi oleh ideologi Althusser. Menurut pandangannya bahasa dan ideologi bertemu pada pemakaian bahasa, sehingga bahasa menjadi medan pertarungan yang dengannya berbagai kelompok dan kelas sosial menanamkan keyakinan dan pemahaman. Pecheux memusatkan perhatian pada efek ideologi dari formasi diskursif yang memposisikan seseorang sebagai subjek dalam situasi sosial tertentu.

  1. Socio-Cognitive Approach

Pendekatan kognisi sosial dikembangkan oleh Teun A. Van Dijk yang memusatkan perhatian pada isu-isu seperti etnis, rasisme, dan pengungsi. Ia menganggap bahwa faktor kognisi sebagai unsur penting dalam proses produksi wacana, sehingga wacana dilihat bukan hanya dari strukturnya saja tetapi juga menyertakan bagaimana wacana diproduksi. Proses produksinya itulah yang disebut dengan kognisi sosial. Oleh karena itu, melalui pendekatan ini dapat dikaji wacana-wacana yang memiliki kecenderungan memarjinalkan kelompok-kelompok tertentu dalam pembicaraan publik.

  1. Sociocultural Change Approach

Pendekatan perubahan sosiokultural dikemukakan oleh Fairclough yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Foucault, Julia Kristeva, dan Bakhtin. Wacana di sini dipandang sebagai praktik sosial yang memiliki hubungan dialektis antara praktik diskursif dengan identitas dan relasi sosial. Dengan pendekatan ini, dapat dijelaskan bagaimana wacana dapat memproduksi, mereproduksi status quo, dan mentransformasikannya.

  1. Discourse Historical Approach

Pendekatan wacana sejarah diperkenalkan oleh Wodak dan koleganya yang dipengaruhi oleh pemikiran Habermas dari Mahzab Frankfurt. Pendekatannya ditujukan untuk membongkar bagaiman wacana rasisme, antisemit, dan rasialisme ditunjukkan dalam media dan fenomena masyarakat kontemporer. Pendekatannya disebut wacana sejarah karena menyertakan konteks sejarah bagaimana wacana tentang suatu komunitas digambarkan.

Analisis Kajian Wacana Kritis Vs Analisis Wacana

            Untuk memperjelas paparan tentang implikasi paradigma teori kritis terhadap linguistik, saya akan mencoba memberikan contoh analisis awal dengan menggunakan AWK terhadap satu teks berita tanggal 24 November 2012 yang berjudul “Bupati Garut Nikah Ekspres Gadis Bawah Umur” dari www.metrotvnews.com. Melalui contoh analisis ini, diharapkan perbedaan antara pendekatan analisis wacana dan AWK dapat ditunjukkan.

Jika dikaji berdasarkan analisis wacana atau discourse analysis, yang dapat diungkap dalam teks berita yang berjudul “Bupati Garut Nikah Ekspres Gadis Bawah Umur” adalah unsur-unsur intrinsik yang membangun kepaduan/kohesi dan keutuhan/koherensi wacana secara tekstualitas. Misalnya untuk melihat kepaduannya, unsur-unsur tekstual dapat dikaji melalui kohesi gramatikal[9] dan kohesi leksikal[10]. Sebagai contoh, dalam paragraf pertama teks berita tertulis sebagai berikut:

Bupati Garut Aceng M. Fikri dilaporkan ke Lembaga Perlindungan Anak setempat. Ia dituduh menikahi gadis di bawah umur yang kemudian diceraikannya empat hari kemudian. Pelapor adalah keluarga gadis itu.”

 

Dalam teks di atas tampak adanya kepaduan yang tampak dari relasi gramatikal yang dibangun oleh referensi personal. Contohnya, terdapat referensi personal ‘ia’ dan ‘-nya’ pada kalimat kedua. Kedua referensi personal tersebut mengacu pada Bupati Garut Aceng M. Fikri dalam kalimat sebelumnya (anafora[11]). Selain itu, terdapat pula referensi demontrativa ‘itu’ yang melekat pada kata ‘gadis’ dalam kalimat ketiga yang mengacu pada ‘gadis di bawah umur yang diceraikannya empat hari kemudian’ yang disebutkan sebelumnya (anafora). Kemudian, jika dilihat berdasarkan kohesi leksikalnya, maka terdapat hubungan semantis antar unsur pembentuk wacana dalam wujud leksikal atau kata dalam paragraf tersebut. Misalnya, terdapat relasi antonimi atau hubungan antar kata yang beroposisi antara kata ‘menikahi’ dan ‘diceraikannya’, hubungan kolokasi antara kata ‘dituduh’ dan ‘pelapor’, dan repetisi dengan menyebutkan kata ‘gadis’ sebanyak dua kali (pada kalimat pertama dan kedua). Keseluruhan unsur-unsur tersebut membangun teks sehingga memiliki makna yang padu. Contoh analisis tersebut mengungkap unsur-unsur internal wacana. Meskipun, jika teks tersebut dikaji ke wilayah yang lebih eksternal seperti aspek koherensi, maka yang bisa dipaparkan masih seputar keberterimaan teks yang disebabkan oleh kepaduan semantis atau secara spesifik hubungan antar teks dan faktor di luar teks berdasarkan pengetahuan seseorang (shared-context dan shared-knowledge)[12].

Berbeda dengan kajian analisis wacana (Discourse Analysis), AWK yang salah satunya adalah model van Dijk menganggap bahwa penelitian wacana tidak cukup hanya didasari dengan analisis atas teks semata (secara intrinsik), seperti yang dilakukan dalam analisis wacana di atas, karena teks adalah hasil dari suatu praktik produksi. Artinya perlu diperhatikan juga bagaimana teks diproduksi, sehingga dapat diperoleh pengetahuan mengapa suatu teks bisa seperti itu. Proses produksi tersebutlah yang kemudian oleh van Dijk dinamai dengan kognisi sosial. Dengan kata lain, model AWK van Dijk tidak dikhususkan pada analisis tekstual saja, tetapi meliputi tiga dimensi: teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Dalam dimensi teks, yang dianalisis adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Dalam dimensi kognisi sosial, proses produksi teks yang melibatkan kognisi individu penulis diteliti. Sementara itu, melalui dimensi konteks sosial, bagaimana wacana tentang suatu hal diproduksi dan dikonstruksikan dalam masyarakat ditelaah (Eriyanto, 2001: 223-224).

Dalam AWK model van Dijk, analisis tekstual tidak berhenti pada analisis unsur-unsur yang membangun kohesi maupun koherensi, tetapi unsur-unsur tersebut dipandang sebagai salah satu aspek yang digunakan untuk strategi dalam melegitimasi suatu topik tertentu. Van Dijk membagi tiga level analisis tekstual yaitu: struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro[13]. Makna global (struktur makro) suatu teks didukung oleh kerangka teks (superstruktur) dan juga pilihan bahasa (struktur mikro), sehingga ketiga level analisis tersebut merupakan kesatuan yang saling berhubungan dan mendukung. Berdasarkan hal ini, maka dapat ditarik simpulan bahwa kajian dalam analisis wacana atau discourse analysis hanya termasuk ke dalam bagian dari struktur mikro teks dalam AWK. Artinya, dapat pula dikatakan bahwa kajian AWK memiliki unit analisis yang lebih luas dari pada analisis wacana.

Sebagai contoh analisis, kita dapat mengaplikasikan analisis tataran tekstual model AWK van Dijk pada teks berita “Bupati Garut Nikah Ekspres Gadis Bawah Umur” (teks berita dari www.metrotvnews.com pada 24 November 2012). Teks tersebut memberitakan tindakan yang dilakukan Bupati Garut, Aceng M. Fikri, terhadap seorang gadis berusia 17 tahun. Bupati itu menikahi gadis tersebut pada 17 Juli 2012 dan diceraikan empat hari kemudian melalui SMS. Teks berita tersebut adalah salah satu dari sekian banyak pemberitaan mengenai pernikahan singkat Bupati Garut, Aceng M. Fikri. Dalam teks tersebut, ada kecenderungan bupati tersebut dimarjinalkan. Teks berita menggambarkan tindakan Bupati Garut yang menikahi gadis berusia 17 tahun dan dalam empat hari kemudian diceriakannya melalui SMS sebagai perilaku yang merendahkan martabat pernikahan dan juga perempuan, bahkan dikategorikan sebagai tindak pelanggaran hukum. Sebaliknya, informasi mengenai latar belakang korban dan alasan-alasan korban bersedia dinikahi oleh Bupati Garut tidak dihadirkan dalam teks tersebut.

Terdapat dua tema utama (makna global) wacana yang dikembangkan dalam teks berita tersebut. Pertama, tindakan Bupati Garut, Aceng M. Fikri, mengarah pada tindak pelanggaran hukum. Bupati menikahi korban ketika korban berusia 17 tahun yang artinya korban masih tergolong ke dalam kategori anak-anak. Bahkan menurut LPA Garut, peristiwa tersebut termasuk ke dalam kasus human trafficking. Tema kedua adalah mensugestikan kepada khalayak bahwa tindakan Bupati Garut tersebut tidak benar karena telah menipu korban dengan janji-janjinya, merendahkan martabat korban dengan menyebar informasi bahwa korban sudah tidak perawan, dan bahkan membuat korban depresi dengan segala isu dan pemberitaan.

Tema wacana ini pun selanjutnya didukung dengan cara penceritaan (superstruktur/skematik). Yaitu, bagaimana satu peristiwa dirangkaikan dengan peristiwa yang lain dalam satu teks. Peristiwa pertama adalah ketidakpuasan Aceng terhadap korban. Disebutkan dalam teks berita bahwa berdasarkan isu, ketidakpuasan Aceng disebabkan karena korban sudah tidak perawan. Peristiwa selanjutnya adalah klarifikasi Aceng berkenaan dengan tindakannya. Disebutkan juga dalam berita bahwa ia telah memberikan kompensasi terhadap korban dan korban telah menandatangani surat pernyataan. Artinya, telah terjadi kesepakatan antara bupati dan korban. Akan tetapi, peristiwa pertama yang disuguhkan kepada khalayak melalui teks berita tersebut bukan tentang alasan ketidakpuasan Aceng terhadap korban. Ketidakpuasan Aceng terhadap korban tidak dijadikan sebagai penjelas utama. Peristiwa pertama yang dihadirkan dalam teks berita justru tentang pelaporan keluarga korban kepada LPA atas tindakan Aceng yang dituduh telah menikahi gadis di bawah umur yang diikuti dengan informasi mengenai penderitaan korban atas tindakan Aceng. Bahkan informasi tentang kompensasi dan kesepakatan yang telah dibuat oleh Aceng bersama korban disimpan di bagian akhir teks.

Bagaimana tindakan Aceng dan implikasinya terhadap korban dapat dilihat dari struktur mikro berupa elemen detil dan maksud. Implikasi tindakan Aceng terhadap korban mendapatkan porsi detil yang panjang dan digambarkan secara eksplisit. Sementara itu, tindakan Aceng yang dilatarbelakangi oleh alasan-alasan tertentu, kesepakatan dan kompensasi yang sudah diberikan Aceng kepada korban bukan hanya tidak diuraikan dengan detil yang panjang, tetapi juga diungkapkan secara implisit. Sebagai contoh, implikasi tindakan Aceng terhadap korban secara eksplisit dipaparkan dalam paragraf 2, 4, dan 5. Secara panjang lebar dan eksplisit paragraf-paragraf tersebut menguraikan kondisi korban yang disudutkan, depresi, tertipu, dan tersakiti akibat tindakan bupati yang tidak memenuhi janji-janjinya, menceraikannya dalam usia pernikahan yang baru menginjak empat hari melalui SMS, dan tersebarnya isu tentang ketidakperawanannya. Sebaliknya, paparan tentang alasan-alasan yang melatarbelakangi tindak menceraikan yang dilakukan oleh Aceng tidak dikemukakan dengan detil yang panjang dan bahkan secara implisit. Sebagai contoh, dalam paragraf kedua secara implisit menyebutkan adanya “isu” tentang ketidakperawanan korban sebagai latarbelakang terjadinya perceraian. Alasan ketidakperawan itu tidak dikemukakan secara lugas tetapi implisit karena adanya kata “isu”, sehingga tidak begitu saja dapat dijadikan sebagai fakta. Selain itu, alasan inipun bukanlah topik utama paragraf dan tidak disertai dengan detil. Alasan ini hanya sebagai pendukung untuk menegaskan kondisi korban yang semakin terpojok dan depresi. Lebih jauh lagi, teks inipun tampak mengajak khalayak untuk mengecam perbuatan Aceng dengan cara tidak menghadirkannya latar argumentasi Aceng akan tindakannya serta latar kehidupan korban dan alasan-alasan korban atas kesediaanya dinikahi oleh Aceng. Selain itu, masih dalam tataran struktur mikro, teks berita inipun tampak diwarnai dengan penggunaan pilihan-pilhan kata tertentu (leksikon) yang ditujukan untuk menegaskan penderitaan korban sebagai implikasi tindakan Aceng. Sebagai contoh terdapat beberapa kalimat sebagai berikut:

  1. “Meluasnya kabar ini bukan justru membuat gadis ini dan keluarganya bangga pernah dinikahi bupati. Malah sebaliknya membuat gadis itu makin terpojok, bahkan depresi”. (paragraf kedua)
  2. “Apalagi muncul kabar tidak enak bahwa ia dicerai karena sudah tidak perawan lagi”. (paragraf kedua)
  3. “Sebelum menikah, korban diiming-imingi janji untuk melanjutkan pendidikan, dan menunaikan ibadah umrah”. (paragraf ketiga)
  4. “Bukan janji yang menjadi kenyataan, ia justru diceraikan empat hari kemudian. Lebih menyakitkan lagi, ia dicerai hanya lewat pesan singkat alias SMS”. (paragraf ketiga)
  5. “Sudah begitu, gadis tersebut menjadi bulan-bulanan kabar tak sedap yang beredar di media massa”. (paragraf ke-empat)

Keseluruhan pilihan kata dalam kalimat-kalimat tersebut memiliki konotasi negatif yang digunakan sebagai strategi untuk menegaskan penderitaan korban, sebagai akibat dari perbuatan Aceng, dan sekaligus bentuk kecaman terhadap tindakan Aceng.

Dua dimensi lainnya dalam kajian AWK, dimensi produksi teks dan konteks sosial, memang bukan hal yang mudah dilakukan. Perlu penelusuran yang teliti dan cermat terhadap aspek historis dan konteks sosial yang berkembang di masyarakat. Misalnya, jika dilihat berdasarkan dimensi produksi teks, pemberitaan tentang penikahan singkat Bupati Garut (yang bertahan selama empat hari) dengan seorang gadis berusia 17 tahun dalam teks “Bupati Garut Nikah Ekspres Gadis Bawah Umur” perlu telaah dari sudut pandang kesadaran mental wartawan yang membuat teks tersebut. Dalam hal ini, perlu dikaji bagaimana kepercayaan, pengetahuan, dan prasangka wartawan terhadap seorang pejabat yang melakukan pernikahan singkat dengan gadis di bawah umur. Hal ini perlu dilakukan seperti yang ditegaskan di atas oleh van Dijk bahwa analisis wacana tidak dibatasi pada struktur teks sebab struktur wacana itu sendiri menunjukkan atau menandakan sejumlah makna, pendapat, dan ideologi. Oleh karena itu, untuk menyingkap makna tersembunyi dari teks dibutuhkan analisis kognisi dan konteks sosial. Misalnya, jika dalam teks berita pernikahan Bupati Garut ada kecenderung memarginalkan Bupati Garut, maka berita tersebut dipandang sebagai representasi mental dari wartawan dalam memandang peristiwa tersebut. Pendapat dan keyakinan wartawan tentang pernikahan dan perilaku pejabat negara dapat mempengaruhi teks yang dihasilkannya. Dalam hal ini, wartawan tidak dianggap sebagai individu yang netral, tetapi sebagai individu yang mempunyai keyakinan akan nilai-nilai tertentu, pengalaman, dan pengaruh ideologi yang diperoleh dari kehidupannya. Jika diteliti lebih lanjut maka kognisi sosial dapat dipetakan berdasarkan skema. Skema menggambarkan bagaimana seseorang menggunakan informasi yang tersimpan dalam memorinya dan bagaimana itu diintegrasikan dengan informasi baru yang menggambarkan bagaimana peristiwa dipahami, ditafsirkan, dan dimasukkan sebagai bagian dari pengetahuan individu tentang suatu realitas[14]. Berdasarkan skemanya, teks berita tersebut misalnya dapat dianalisis sebagai berikut:

  1. skema persona: skema ini memberikan gambaran bagaimana wartawan memandang Aceng berdasarkan latarbelakang gender atau agama wartawan tersebut. Misal berdasarkan gendernya, wartawan perempuan dan laki-laki tentunya akan memiliki perspektif yang kurang lebih berbeda sehingga ia akan menulis dengan cara yang berbeda pula. Misalnya, jika wartawan tersebut berjenis kelamin perempuan yang punya keyakinan bahwa pernikahan adalah institusi yang bermartabat dan harus dilakukan berdasarkan norma dan aturan tertentu dan pandangan bahwa perempuan bukanlah komoditas/objek, tetapi individu yang memiliki peran-peran tertentu dalam institusi pernikahan yang seharusnya dihargai oleh kaum laki-laki, maka besar kemungkinan hal ini dapat mempengaruhi keberpihakan yang tercermin dari berita yang ia tulis.
  2. Skema peran: skema ini memberikan gambaran tentang prasangka apa atau bagaimana wartawan memandang peran dan posisi Aceng dalam masyarakat. Misalnya, si wartawan berpandangan bahwa sebagai bupati, Aceng selayaknya memberikan contoh baik atau memiliki perilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku yang dapat dijadikan sebagai anutan bagi masyarakatnya. Hal ini tentunya juga akan mempengaruhi si wartawan dalam menuliskan beritanya.
  3. Skema peritiwa: skema ini menggambarkan bagaimana wartawan memandang peritistiwa pernikahan bupati dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa lainnya. Misalnya, peristiwa pernikahan tersebut dikaitkan dengan undang-undang perlindungan anak, isu gender, atau human trafficking.

Berdasarkan keseluruhan analisis tersebut, AWK diharapkan mampu membongkar latarbelakang wartawan, berdasarkan kognisi sosialnya, mengapa ia menulis berita dengan kecenderungan tertentu.

Selanjutnya, berdasarkan dimensi konteks atau analisis sosial, melalui AWK kita dapat menganalisis bagaimana wacana yang berkembang dalam masyarakat, proses produksi dan reproduksi seseorang atau peristiwa digambarkan. Misalnya, kita memiliki perspektif bahwa teks berita “Bupati Garut Nikah Ekspres Gadis Bawah Umur” berkaitan dengan isu gender, kekerasan terhadap anak-anak/perempuan, atau human trafficking, maka melalui studi pustaka atau penelusuran sejarah, perlu diteliti wacana yang berkenaan dengan isu-isu tersebut yang berkembang dalam masyarakat. Intinya untuk menunjukkan bagaimana makna yang dihayati bersama dan kekuasaan sosial diproduksi melalui praktik diskursus dan legitimasi. Menurut van Dijk dalam level ini ada dua hal penting yaitu kekuasaan dan akses[15].

Dari aspek kekuasaan, van Dijk mendefinisikannya sebagai kekuatan yang dimiliki oleh suatu kelompok yang mengontrol kelompok lain. Sebagai contoh, jika teks berita “Bupati Garut Nikah Ekspres Gadis Bawah Umur” dikaitkan dengan isu kekerasan terhadap anak-anak/perempuan, maka analisis atas diksursus sosial dapat dilakukan dengan meneliti wacana sistem patriarkal yang berkembang di masyarakat, bagaimana peran laki-laki dan perempuan dalam sistem tersebut. Berbicara tentang kekuasaan artinya berbicara pula tentang dominasi. Berdasarkan analisis sosial, misalnya dapat pula ditelusuri secara historis tentang dominasi kaum laki-laki terhadap perempuan di masyarakat melalui kasus-kasus seperti kekerasan, ketidaksetaraaan, atau trafficking. Selain itu, dilihat dari pola akses yang mempengaruhi wacana bisa dikaji tentang bagaimana akses masing-masing kelompok dalam masyarakat. Kaum yang superodrinat biasanya memiliki akses yang lebih besar daripada kelompok yang subordinat. Oleh karena itu, mereka memiliki kuasa yang lebih untuk mempengaruhi kesadaran khalayak.

Contoh analisis kasus pernikahan Bupati Garut berdasarkan ancangan AWK model van Dijk di atas tentunya baru analisis awal. Artinya tidak keseluruhan pendekatan model analisis van Dijk sepenuhnya diterapkan. Penjelasan di atas hanyalah gambaran awal dan di tataran permukaan saja dengan harapan dapat menunjukkan perbedaan analisis antara pendekatan AWK (yang dipengaruhi oleh paradigma teori krtitis) dan analisis wacana (discourse anaysis) dalam kajian linguistik.

Simpulan

Berdasarkan paparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan paradigma teori kritis berimplikasi pada linguistik baik secara metodologis maupun substantif. Implikasi tersebut sangat kentara terrealisasi dari kehadiran Critical Discourse Analysis (CDA) atau analisis wacana kritis (AWK) dalam kajian linguistik. Terdapat dua implikasi yang perlu digarisbawahi, yaitu:

  1. Secara metodologis: AWK bukanlah kajian paradigm-oriented, melainkan problem-oriented sehingga kajian inter-, multi-, atau supradisipliner perlu diterapkan khususnya untuk melihat relasi antara bahasa dan masyarakat (termasuk kognisi sosial, sejarah, politik, dan budaya).
  2. Secara substantif: AWK ditujukan untuk mengungkap apa yang diimplisitkan, disembunyikan, atau tidak dihadirkan secara jelas dalam kaitannya dengan dominasi dan ideologi. Dengan kata lain, AWK memusatkan perhatian pada strategi manipulasi, legitimasi, dan cara-cara diskursif lainnya untuk mempengaruhi benak manusia (dan tindakannya secara tidak langsung) untuk praktik kuasa.

 

Daftar Pustaka

Agger, Ben. 1991. Critical Theory, Poststructuralism, Postmodernism: Their Sociological Relevance. Annu. Rev. Sociol. 1991. 17:105-31.

Agger, Ben. 2006. Critical Social Theories: An Introduction. USA: Oxford University Press. (Diterjemahkan oleh Nurhadi. 2012. Teori Sosial Kritis. Kreasi Wacana).

Borsley, Robert D. A Postmodern Critique f Linguistics. Diakses melalui privatewww.essex.ac.uk/~rborsley/PMC.htm.

Chouliaraki, Lilie & Fairclough, Norman. 1999. Discourse in Late Modernity: Rethinking Critical Discourse Analysis. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Dijk, Teun A. van. 18 Critical Discourse Analysis. Diakses melalui www.discourses.org

Dijk, Teun A. van. 1995. Aims of Critical Discouse Analysis. Japanese Discourse vol. 1 (1995), 17-27.

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengatar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LkiS.

Fairclough, Norman. 1992. Discourse and Social Change. UK: Polity Press.

Fairclough, Norman. 1992. Discourse and Text: Linguisitcs and Intertextual Analysis within Discourse Analysis. Discourse and Society, 3(2): 193-217.

Fairclough, Norman. 1995. Critical Discourse Analysis: the Critical Study of Language. London: Longman.

Fairclough, Norman. & Wodak, Ruth. 1997. Critical Discouse Analysis. dalam T.A. van Dijk (ed.), Discourse Studies: A Multidisciplinary Introduction: Vol 2. Discouse as Social Interaction. London: Sage Publication.

Fairclough, Norman. 2001. Language and Power. London: Longman.

Fairclough, Norman. 2002. Analysing Discourse: Textual Analysis fro Social Research. London: Routledge.

Henderson, Robyn. 2005. A Faircloughian Approach to CDA: Principled Eclecticism or a Method Searching for a Theory. Melbourne Studies in Education, 46 (2), 9-24. ISSN 0076-6275.

Keller, Douglas. Critical Theory and the Crisis of Social Theory. Diakses melalui http://www.gseis.ucla.edu/faculty/keller/keller.html.

Wodak, Ruth & Meyer, Michael. 2008. Critical Discourse Analaysis: History, Agenda, Theory, and Methodology. Diakses melalui www.corwin.com/upm-data/24615_01_Wodak_Ch_01.pdf.

Wodak, Ruth & Meyer, Michael. 2001. Methods of Critical Discouse Analysis. London: Sage Publications. Ltd.

 

 

[1] Penelitian Mandiri, 2012

[2] Keller, Douglas. Critical Theory and the Crisis of Social Theory (http://gseis.ucla.edu/faculty/keller.html)

[3] Dalam Dijk. Teun A. 18 Critical Discourse Analysis (www.discourses.org)

[4] Teori kritis dalam pemahaman Mahzab Franfurt utamanya didasari oleh makalah terkenal yang dibuat oleh Horkheimer (1937) yang intinya mengemukakan bahwa teori sosial seharusnya berorientasi pada kegiatan mengkritisi dan mengubah masyaakat secara utuh, yang berlawanan dengan teori tradisional yang lebih fokus pada kegiatan memahami dan menjelaskan masyarakat (Wodak & Mayer: 2008: 6).

[5] Dalam Dijk. Teun A. 18 Critical Discourse Analysis (www.discourses.org)

 

[6]…explanatory and practical aims of CDA-studies is the attempt to uncover, reveal or disclose what is implicit, hidden or otherwise not immediately obvious in relations of discursively enacted dominance or their underlying ideologies (Dijk, Teun A. Van, 1995).”

[7] “The dialectical-relational approach draws on Halliday’s multifunctional linguistic theory (Halliday, 1985) and the concept of orders of discourse according to Foucault, while the discourse-historical approach and the socio-cognitive approach make use of theories of social congnition (e.g. Moscovici, 2000). This reflection on issues of mediation between language and social structure is absent from many other linguistic approaches, for example conversation analysis (Wodak & Meyer, 2008: 21).

[8] Diambil dari Teun A. Van Dijk (ed.). 1997. Discourse as Social Interaction: Discourse Studies A Multidisciplinary Introduction. Vol 2, London. Sage Publication dalam Eriyanto (2001).

[9] Kohesi gramatikal adalah relasi semantis antarunsur yang dimarkahi dengan alat-alat gramatikal. Wujudnya dapat berbentuk referensi, substitusi, elipsis, dan konjungsi (Cutting, 2008:9)

[10] Kohesi leksikal adalah relasi semantis antarunsur pwmbwntuk wacana dengan memanfaatkan unsur leksikal/kata. Wujudnya dapat berupa sinonimi, antonimi, repetisi, hiponimi, dll. (Kushartanti, dkk. 2005:98-99).

[11] Referensi yang mengacu pada sesuatu yang disebutkan sebelumnya disebut anafora.

[12] Dalam Kushartanti dkk. 2005.‘Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik’

[13] Struktur makro adalah makna global dari suatu teks yang dapat dikaji melalui topik/tema yang dikedepankan dalam suatu berita. Sementara superstruktur adalah struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks, bagaimana bagian-bagian teks disusun ke dalam berita secara utuh. Terakhir, yang disebut dengan struktur mikro adalah wacana bagian kecil dari suatu teks seperti: kata, frasa, klausa, kalimat, proposisi, dan gambar (Eriyanto, 2001: 226)

[14] Augoustinos & Walker dalam Eriyanto, 2001: 261

[15] Teun A. Van Dijk, “Structure of Discourse and Structure ”

Corpus Linguistics: The Representation of Woman in Sundanese Magazine

https://www.academia.edu/13257394/REPRESENTASI_PEREMPUAN_DALAM_KORPUS_MEDIA_SUNDA_MANGLÈ_1958-2013_

Pragmatik: Implikatur Percakapan

Morfologi: Klitika

Sosiolinguistik: Ragam Bahasa

Analisis Percakapan

Linguistik Bandingan Historis: Pronomina Bahasa Inggris

Pragmatik: Mekanisme Giliran Bicara dan Budaya Komunitas Tutur

Sociolinguistics: language Situation

Pragmatics: MEKANISME TURN-TAKING