Sawo Raksasa

Sawo merupakan salah satu buah yang digemari oleh masyarakat, selain rasanya manis sawo juga mengandung vitamin c. Di Cileungsi, sebagai pusat pelestarian plasma nutfah tropis khususnya yang unik dan langka terdapat sawo raksasa yang ukurannya 6-8 kali lipat sawo biasa. Sawo ini pada awalnya berasal dari Meksiko (Amerika Tengah) dan dikenal dengan nama lokal Mamey sapote atau Pantin. Bentuknya bulat lonjong, warnanya coklat dan rasanya sangat mirip dengan sawo Manila yang biasa kita kenal.
Pada daerah asalnya, Sawo Raksasa dikonsumsi dengan cara di juice, namun dapat juga dimakan segar. Daging buahnya yang tebal dan manis merupakan perpaduan rasa antara Sawo Manila dan ubi madu, adalah sumber energi bagi yang mengkonsumsinya. Sedangkan daunnya yang tebal dan lebar dan tajuk yang rindang melebar menjadikan pohonnya cocok sebagai peneduh di halaman.

Pohon Sawo Raksasa yang ditanam mulai dari biji membutuhkan waktu sekitar 10 tahunan untuk mulai berbunga dan berbuah. Sedangkan dengan cara mencangkok atau sambung susu, masa tersebut bisa diperpendek menjadi 4 tahun. Mulai dari pentil buah hingga panen membutuhkan waktu sekitar 9 bulan dan setelah dipetik harus melalui proses pemeraman selama 3 hari agar dapat dikonsumsi.
Bibit sambung susu berhasil tumbuh bagus dibanding sambung pucuk lantaran suplai nutrisi yang lebih baik. “Pada sambung susu bibit memperoleh makanan dari pohon induk dan batang bawah. Sedangkan sambung pucuk sumber nutrisi hanya dari batang bawah,” tutur sudjino.
Cara susui sawo raksasa
1. Siapkan batang bawah pohon alkesah berumur sekitar 8 bulan.
2. Pilih tunas mamey sapote yang tumbuh di sekitar batang seukuran dengan batang bawah. Tunas yang digunakan sebaiknya berwarna kecoklatan dan telah mulai mengeras-semi hardwood.
3. Ikatkan batang bawah di dekat tunas mamey sapote yang akan disusui.
4. Buat sayatan sepanjang 1-2 cm pada tunas. Sayatan dibuat 4-5 cm dari titik tumbuh dengan tebal sayatan 50 % dari diameter tunas.
5. Batang bawah juga dipotong sehingga menyisakan 15-20 cm. Sayat ujung potongan dengan bentuk menyesuaikan sayatan pada tunas sehingga keduanya bisa disisipkan atau disambung.
6. Sambungan kemudian diikat rapat dengan lilitan plastik bening sepanjang 25-30 cm.
7. Sekali sepekan batang bawah disiram. Pentil buah yang tumbuh disekitar batang mamey sapote dirompes supaya pertumbuhan vegetatif optimal.
8. Setelah susuan berumur 2,5 bulan,buat sayatan sekitar 0,5-1 cm dari titik sambungan tunas. Tujuannya, mempersiapkan supaya pohon susuan tidak stres ketika dipisahkan dari pohon induk.
9. Setelah 2 pekan pisahkan susuan dari pohon induk dengan cara memotong habis sayatan yang telah dibuat pada tunas sebelumnya. Susuan kemudian dipindahkan ke pot yang lebih besar. Jadilah bibit mamey sapote hasil susuan.
Sumber :

http://mekarsari.com/index.php?option=com_content&view=article&id=236%3Asawo-raksasa2&catid=31%3Ageneral&Itemid=62&lang=in

majalah trubus (mei, 2010)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply