Bali : Waktu, Ibadah, dan Keinginan dan Bahagia.

Tibatiba flashback saat momen menolak dgn keras untuk dipindah tugaskan ke Bali. Bukan karena tidak mau menikmati alam bali, atau apapun yang terkenal di Bali atau tuntutan profesionalisme kerja yang luar biasa di Bali.
Tapi, menolak jauh dari keluarga dengan pemikiran “sepenting apasih uang? Kenapa harus segininya cari uang?”.
Awalnya Menolak untuk mutasi dengan berbagai cara, dari ibadah minta yang terbaik sampai negoisasi alot. Tapi, kehendak Allah membuat hati ini yakin kalo Bali akan baik baik saja, lagipula ga terlalu jauh.
Singkat cerita…
Disini, bukan nikmat pemandangan alam yang bikin kita sadar kebesaran Allah.
Tapi pas kita sadar kalo dulu sebelum diBali terlalu banyak nikmat yang dilewatkan.
Nikmat mudahnya dengar adzan,
Nikmat gampangnya cari masjid,
Nikmat liat anak kecil belajar ngaji,
Nikmat bahagia kumpul dalam satu forum sesama muslim.
Sampai nikmat berbuka puasa pakai kolak pisang yang dibeli dipinggir jalan.
Kadang sedih, nyesel. Selama di jawa kok bisa lalai, kok bisa seenaknya dalam ibadah. Padahal waktu kita di dunia terbatas.
Sekarang masih Menyesal di Bali? Tidak, kalau dirunut dari segala doa yg pernah dipanjatkan mungkin ini cara Allah biar doa kita terkabul . Alasan pindah ke Bali sangat bisa diterima karena dengan pindah kita bisa jauh menghargai apa yang sebelumnya kita anggep sepele atau hal lumrah.
Selagi ada waktu, tingkatin kualitas ibadah. Jangan lupa berdoa untuk setiap hal yang akan atau telah dilakukan, minta ke Allah dalam setiap keinginan tapi harus ikhlas kalau ternyata Allah punya rencana lain Biar kita bahagia.
Rencana Allah yang terbaik, gausah di nalar. Jalani dengan ikhlas. Ketika udah waktunya, kamu akan sadar bahwa setiap kejadian akan saling berkaitan satusamalain. Dan akan tiba di suatu titik dimana kita sadar kalau, Allah punya jalan untuk setiap HambaNya .

Ya, Bali adalah tempat dimana Allah memang Maha Menyayangi HambaNya, disini keimanan di refresh lagi dengan segala keterbatasan keadaan. Membuat hambaNya yang berakal kembali sadar kalau dunia hanya sarana mencari bekal akhirat, bukan tujuan akhir kehidupan.

Ya, Bali mungkin cara Allah mengabulkan doa hamba Nya. Doa agar diberi kemaslahatan dalam hidup. Doa agar diberikan jodoh yang baik, yang bisa membantu mendapatkan JannahNya. Karena Lelaki baik untuk perempuan baik, dan sebaliknya. Semoga.

Selalu percaya, bahwa Rencana Allah adalah Rencana yang terbaik. Meski menurutmu hidup terasa buruk, sesungguhnya ibadahmu yang buruk. Perbaiki ibadahmu, Insyaa Allah, Allah akan perbaiki hidupmu.

Bahagia hidupmu tergantung kualitas ibadahmu, ibadah secara vertikal, atau horizontal. Dimanapun tempatmu berada, itu masih milik Allah SWT. Jangan pernah merasa sendiri, karena Allah Maha Melihat, segala aktivitasmu, baik atau buruk pasti ada balasannya. Percayalah.

.
.
Ohiya, Bali Still save for muslim, disini muslim memang minoritas, tapi toleransinya tinggi. Ketika ada acara keagamaaan warga setempat siap bantu keamanan, fasilitas dan apapun. Percaya deh, bakal merinding ketika muslim kumpul dan diberi naungan yang hangat olehkaum non muslim

One Response to “ Bali : Waktu, Ibadah, dan Keinginan dan Bahagia. ”

  1. wah jadi kepingin ke Bali lagi 🙂 bener banget walau di Bali agama Hindunya kental, tapi toleransi mereka dengan agama lain tinggi. Kalau aja semua orang memiliki toleransi agam yang tinggi mungkin aksi teror di Surabaya 13 Mei 2018 kemarin tidak terjadi

Leave a Reply