Menyikapi perubahan orang tersayang, seperti apakah?

istilah “Tidak ada yang abadi” mungkin sudah tidak asing di telinga kita, dalam Agama terutama agama yang saya yakini menyebutkan keabadian hanya milik Sang Maha Pencipta. Bila disebutkan energi juga kekal, ya mereka memang kekal dan tidak dapat dihancurkan namun mengalami perubahan.

Sama halnya dengan manusia, dalam hidup mereka mengalami perubahan, baik perubahan fisik maupun perubahan secara sikap, dalam pelajaran biologi bila terjadi perubahan secara fisik disebut pertumbuhan dan bila terjadi proses pendewasaan maka disebut perkembangan, yang biasanya ditandai dengan meningkatnya sebuah kemampuan.

Sudah kodratnya manusia untuk tumbuh dan menua, namun tidak semuanya mengalami pendewasaan, salah satunya adalah dewasa menghadapi perubahan, baik perubahan zaman, kemajuan teknologi atau bahkan perubahan sikap dari orang orang yang tersayang, saya kali ini akan sedikit membahas mengenai hal yang terakhir.istilah manusia makhluk sosial mungkin sudah bergeser menjadi mahluk media sosial hehe.. namun sejatinya manusia tetap membutukan orang yang nyata untuk menjalani kehidupan. Sudah kodratnya manusia saling berinteraksi dengan sekitar, yang mungkin kedepannya akan menimbulkan perasaan nyaman dan menyayangi satu sama lain. Proses menyayangi mungkin terlihat mudah tapi aslina mah hese sing demi Allah hahah. Kenapa saya mengatakan susah, karna sebenarnya sulit membedakan mana menyayangi dan mana obsesi pribadi. Ketika kita sudah merasa nyaman dan sayang tidak akan bisa dipungkiri kita tidak mengharapkan kalau orang yang kita sayang menjadi berubah.

saya teringat sebuah film layar lebar yang diusung oleh Raditya dika yang berjudul Cinta dalam Kardus, diceritakan bahwa, Miko (Raditya Dika) merupakan orang yang percaya bahwa ketika orang membina hubungan, lambat laun mereka akan terkena sindrom BTB (Berubah Tidak Baik). Hal ini terbukti ketika selama beberapa hari belakangan, pacarnya Putri  mendadak jadi sering marah tak karuan. Kontan hal itu mengganggu konsentrasi Miko yang ingin tampil di panggung stand up comedy.

masih segar dalam pikiran ketika seorang teman berkata bila sudah lama menjalin hubungan akan tiba titik dimana merasa jenuh dan mungkin dia akan kembali ke dunianya dan sedikit banyak ingin mengurangi fokus kepada pasangannya, demi menikmati hidup. Masalah kah? mungkin untuk beberapa orang ini menjadi sebuah masalah mungkin akibat terjadinya sebuah Culture Shock dimana kita tidak terbiasa dengan keadaan. imbasnya kita mungkin banyak menuduh, menjadi lebih sensitif terhadap persoalan, dan merasa terabaikan, dada berdebar, gigi gemeretak, muka pucat pasi, dan tumbuh bulu di sekujur tubuh (oke ini berlebihan).

jadi bagaimana kita harus bersikap?

sadarilah bahwa kita dan pasangan memiliki dunia masing masing, ada kalanya kita merasa jenuh dengan keadaan dan ingin mencari suasana baru yang nantinya akan membawa perubahan kecil maupun besar. Kita tidak akan langsung bisa menghadapi perubahan dengan santai dan mungkin akan dipenuhi rasa cemas takut kehilangan. Wajib kita sadari, semua yang ada di dunia merupakan titipan Tuhan, kita lahir tanpa membawa apa apa maka tidak sepatutnya kita merasa kehilangan atas sesuatu, termasuk pasangan. Bersiaplah menghadapi perubahan, dengan menjadi diri sendiri, selalu dekat dengan Sang Maha Pencipta. Jika memang benar sayang, beranilah menghadapi perubahan, jadilah orang yang out of the box, karena begitu kita keluar dari zona nyaman kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai. Hindari membatasi kehidupan seseorang, karna hidupnya bukan cuma untuk satu orang saja. Ikuti saja perubahan dengan ikhlas, ikuti alur main yang dibuat olehnya adaptasi dengan perlahan, sambil tetap menjaga agar suatu hubungan tetap pada jalur yang benar, bila memang tidak sanggup untuk terus bertahan, pastikan kesabaranmu bukan diakhiri oleh emosi namun demi mendapat yang lebih baik. Ingat dia mungkin bukan satu satunya untukmu, yang terbaik akan selalu datang bagi orang yang menjadikan dirinya terbaik. jangan jadikan dia duniamu.

Bagi yang pribadinya mudah mengalami kejenuhan dan ingin melakukan perubahan, pastikan perubahan itu dilakukan dengan perlahan dan jangan begitu saja  berubah karna bisa jadi perubahan itu sulit diterima dengan cepat dan akhirnya menimbulkan masalah yang baru.

3 Responses to “ Menyikapi perubahan orang tersayang, seperti apakah? ”

  1. Memang terkadang jika sedang menjalin hubungan dengan seseorang apalagi sudah dalam jangka waktu yang lama titik jenuh itu pasti ada, solusi bagaimana kita bersikap memang benar seperti yang telah terungkap di atas.

  2. Anda menulis cukup bagus karena pada paragraf 6 bersifat memberikan kekuatan bagi orang yang sedang mengalami masalah yang sama dan bahkan memang begitu banyak orang belum bisa menerima kenyataan seperti itu karena berbagai aspek dan latarbelakang. Isi pesan anda sangat mendalam dan bersifat persuasif pada orang lain terutama bagi yang sedang mengalaminya. Berbagi ilmu itu penting dan menulis ide, pikiran, konsep dan penelitian bagi seorang mahasiswa sangat berguna baginya karena akan merangsang pikiran baru untuk dituangkan dalam bentuk tulisan.
    Salam sukses

Leave a Reply