• About
  • biodata
  • Archives
  • Categories
  • Pertanian Organik Jadi Penting Harus Menjadi Idealisme Para Petani dan Mitos pertanian organik

    2010 - 06.03

    Pertanian Organik Jadi Penting

    Harus Menjadi Idealisme Para

    Petani


    Jumat, 18 September 2009 | 04:54 WIB

    Jakarta, Kompas – Perkuliahan pertanian organik di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, terutama di program sarjana, masih sebatas pengenalan. Meskipun baru sebatas mata kuliah, pertanian organik mulai dianggap penting untuk dikembangkan akademisi dan ilmuwan.

    ”Pertanian organik itu kan masih jadi tren saat ini. Kepada mahasiswa S-1, kami berikan opsi pilihan dalam mata kuliah sehingga ketika terjun di masyarakat nanti mereka bisa melihat, pertanian organik atau anorganik yang mestinya dikembangkan. Jika di program sarjana ada yang langsung dispesifikasikan ke pertanian organik, kasihan mereka. Kita kan belum tahu peluang kerjanya. Program S-1 pertanian masih secara umum,” ujar Rektor Universitas Mataram Mansur Ma’shum yang dihubungi dari Jakarta, Kamis (17/9).

    Perkuliahan pertanian di perguruan tinggi kini menghadapi tantangan turunnya peminat. Untuk mengatasi hal itu, jurusan pertanian, pendidikan pertanian difokuskan pada dua bidang, yakni agroteknologi/agro-ekoteknologi dan agribisnis.

    Menurut Mansur, kalangan perguruan tinggi tak mau terburu-buru memasang kacamata kuda kepada mahasiswa bahwa pertanian organik mesti diutamakan. Pola pikir ke pertanian organik tidak bisa dipaksakan.

    ”Para pengajar dalam ilmu hama, tanah, kesuburan, misalnya, bisa memperkenalkan pentingnya pemakaian zat-zat organik dibandingkan dengan yang anorganik. Di sini pola pertanian organik bisa dimasukkan sebagai pilihan. Kelebihan-kelebihan pertanian organik diperkenalkan. Ketika pertanian organik sudah mulai diterima dan diminati, mahasiswa bisa memilih yang akan dikembangkan,” kata Mansur.

    Gerakan pertanian organik mestinya bukan sekadar perubahan teknik bertani ke bahan alam. Gerakan ini harus menjadi idealisme para petani dan masyarakat untuk memutus ketergantungan pada produk-produk kimia yang umumnya dihasilkan dari luar.

    Menurut Mansur, yang juga guru besar Ilmu Tanah, di program pascasarjana untuk S-2 dan doktor, kajian pertanian organik sebagai tesis dan disertasi mulai diminati. ”Ada kesadaran bisa memakai bahan-bahan alami ramah lingkungan untuk ke depan,” kata Mansur.

    Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Pertanian Bogor Yonny Koesmaryono mengatakan, untuk menjadikan pertanian organik sebagai suatu bidang studi sendiri perlu kajian matang. Minat dari kalangan mahasiswa belum terlihat signifikan. ”Namun, IPB telah mengembangkan laboratorium pertanian organik,” katanya.

    Menurut dia, pengembangan pertanian organik memerlukan kemauan politik pemerintah untuk membuat kebijakan yang bisa dilaksanakan bersama-sama dan berkesinambungan. (ELN)

    Mitos pertanian organik

    Keberhasilan input organik dengan menggeser peran input kimia sebagai sebuah monumen inovasi dari Revolusi Hijau 60 tahun yang lalu semula dipandang sebelah mata oleh para ilmuwan ilmu tanah yang memahami dengan baik hubungan tanah dengan tanaman.

    Namun, ketika gejala yang berkembang, khususnya di Amerika Serikat, makin mengkhawatirkan, beberapa pendapat mulai bermunculan. Salah satunya adalah yang diuraikan oleh Throckmorton (2007), seorang dekan dari Kansas State College.

    Keberatannya terhadap doktrin pertanian organik adalah bahwa tidak mungkin peran pupuk kimia digantikan sepenuhnya oleh pupuk organik. Pertama, jika hal itu mungkin, dunia akan kekurangan biomassa untuk produksi pupuk organik karena dosisnya luar biasa besarnya.

    Kedua, tanaman tidak hanya ditentukan oleh humus saja, tetapi oleh faktor-faktor lain seperti bahan organik aktif, nutrisi mineral tersedia, aktivitas mikroba tanah, aktivitas kimia dalam larutan tanah, dan kondisi fisik tanah.

    Bahan organik tanah memang sering disebut sebagai ”nyawa dari tanah” sebagai ekspresi dari perannya mendukung aktivitas mikroba tanah. Peran lain dari bahan ini memang diakui penting, tetapi bukan satu-satunya, dalam pelarutan hara, pembenah tanah, dan kapasitas menahan air.

    Fakta lain adalah bahwa bahan organik mengandung nutrisi tanaman sangat kecil. Klaim bahwa nutrisi asal bahan organik (kompos, pupuk organik) lebih ”alami” dibandingkan asal pupuk kimia sangat tidak masuk akal, apalagi dihubungkan dengan kesehatan manusia.

    Bukti empiris menunjukkan bahwa pada tanah organik (kadar bahan organik sangat tinggi) percobaan gandum, kentang, dan kubis di Amerika Serikat pada yang dipupuk

    kimia buatan mencapai 5-54 kali lebih besar daripada yang tidak dipupuk kimia. Satu bukti lain bahwa organik bukan satu-satunya unsur utama dalam produksi tanaman adalah pada sistem hidroponik.

    Kebijakan pemerintah, seperti Go Organic 2010, penerbitan SNI Sistem Pangan Organik (01-6729-2002), dan subsidi pupuk organik merupakan langkah-langkah konkret yang perlu diawasi implementasinya. Di samping itu, pertimbangan yang mendalam perlu dilakukan dengan memerhatikan dampak krisis keuangan 2008.

    Daya beli masyarakat menurun, seperti yang dilaporkan di Inggris, berdampak stagnasi pada pertumbuhan produk pertanian organik pada tingkat 2 persen. Konsumen yang mengutamakan rupa daripada rasa juga tidak mudah berubah ke produk organik.

    Di sisi lain, kemampuan produksi input organik untuk menopang produktivitas pangan yang dibutuhkan jauh dari memadai akibat keterbatasan dan terpencarnya bahan baku. Untuk itu, mitos-mitos yang terkait dengan produk organik harus dihapus dan diberikan pemahaman yang benar kepada petani.

    Kombinasi optimal antara input anorganik dan organik akan mampu memenuhi persyaratan berbagai pihak, baik teknis, ekonomi, lingkungan, maupun kesehatan konsumen.

    One Response to “Pertanian Organik Jadi Penting Harus Menjadi Idealisme Para Petani dan Mitos pertanian organik”

    1. selviwulandari says:

      haha… makasihh jams

    Your Reply