H1N1

The H5N1 bird flu virus may be evolving the ability to spread from mammal to mammal, says a team who have discovered that pigs in Indonesia have been infected with the disease since 2005.

The H5N1 bird flu kills 60 per cent of the people it infects. However, most infections occur after direct contact with an infected bird and the disease does not appear to spread well between humans. One way the virus could develop the ability to spread among humans is to first infect pigs, which have many biochemical similarities to humans. Flu viruses adapted to pigs have less trouble adapting to humans than do bird flu viruses – one pig-adapted virus caused the swine flu pandemic in 2009.

Chairul Nidom of Airlangga University in Surabaya, Indonesia, and colleagues in Japan have been tracking H5N1 in pigs since 2005 in Indonesia, the country hardest hit by the avian flu virus. They now report (PDF) that between 2005 to 2007 -when the avian flu peaked- 7.4 per cent of 700 pigs they tested also carried H5N1. There have been sporadic reports of H5N1 in pigs, but this is the first time the extent of the problem has been measured.

Not from pig to pig
In each case, the virus in pigs closely resembled H5N1 from nearby outbreaks in poultry, suggesting it has jumped from the bird to the pig population. That and the small proportion of pigs infected suggest the virus cannot yet spread between pigs. “If the virus was better adapted to pigs it would have spread like wildfire,” says Ab Osterhaus of the University of Rotterdam in the Netherlands, a flu expert not involved in the research.

Virus can easily evade
Since 2007, avian flu outbreaks have diminished in poultry and in people in Indonesia and the investigators found that the rate of infection in pigs has similarly dropped. The team showed that infected pigs show no symptoms. “H5N1 viruses could easily evade detection as they spread through Indonesia in asymptomatic pigs,” warn Nidom and colleagues. Nidom says that in one pig, the virus had developed the ability to bind to a molecule present in the noses of both pigs and humans. That’s exactly the kind of change that could allow it to spread between people. “This shows we should keep a close watch on pig flu, as it can change rapidly,” warns Osterhaus.

New EU collaboration
The European Union is heeding the call and is funding a scientific collaboration called FLUPIG, to study how bird flu adapts to pigs and how it spreads to people. It will meet for the first time later this month.

Kandang Babi Induk

Kandang harus memenuhi tuntutan biologis ternak babi. Ternak babi tergolong hewan berdarah panas atau homeoterm, yaitu mekanisme fisiologisnya selalu berusaha mempertahankan kemantapan keadaan internal tubuh dengan kondisi lingkungan eksternal yang cocok baginya.

Lahan kandang harus dipilih yang bertopografi yang memungkinkan digunakan untuk peternakan babi. Sedapat mungkin dari areal perkandangan dapat disalurkan limbah ternak ketempat penampungan limbah oleh grafitasi saja. Air permukaan harus diarahkan menjauh dari tempat perkandangan dan penampungan limbah. Rambesan dari kandang dan dari penampungan limbah sewdapat mungkin tinggal dilahan peternak itu sendiri dan jangan mencemari lahan milik oranglain.

Tata letak bangunan biasanya disesuaikan dengan keadaan atau topografi lahjan, hamun harus memenuhi persyaratan teknis kandang ternak babi. Bagi peternak babi dangan usaha sekeluarga, atau beternak babi di pekarangan rumah yang memelihara sampai 10 ekor induk, dapat mendirikan hanya satu bangunan kandang dengan luas lantai misalnya 50 m² dengan manajemen pemeliharaan yang efisien. Dalam bangunan kandang tersebut sudah dapat petak kandang jantan, induk tak bunting dam babi bunting, kandang melahirkan sekaligus untuk induk berlaktasi serta kandang membesarkan anak atau kandang menggemukan.

Bangunan kandang babi untuk daerah tropis seperti indonesia lebih sederhan dibandingkan dengan daerah subtropis atau daerah beriklim dingin. Suhu diindonesia rata-tata 27,2◦C, namun suhu di pelbagai daerah

Suhu optimal bagi ternak babi

Status babi Bobot badan  (Kg) Suhu optiomal (◦C)
Baru lahir 1 – 2 35
Menyusui 2 – 5 25 – 34
Lepas sapih/fase bertumbuh 5 – 40 18 – 24
Fase bertumbuh – pengakhiran 40 – 90 12 – 22
Babi bunting 130 – 250 14 – 20
Induk menyusukan anak 130 – 250 5 – 18

 

Unit ataubangsal kandang mengasuh anak ( nursery pens ) yangterdiri dari petak – petak setelah anak babi disapih dan tinggal disitu sampai umur atau bobot badan 35 – 40 Kg. Mungkin juga ditampatkan di petak – petak kandang ini induk bersama anaknya yang dipindahkan dari kandang melahirkan setelah anak berumur 2 – 3 minggu dan induk tinggal disitu sampai anak disapih.

Dalam merancang suatu kompleks peternakan babi, sasaran atau tujuan dapat dinyatakan pada salah satu atau beberapa dari pada hal sebagai berikut :

  1. Untuk mengandangkan ternak babi baik menggunakan ventilasi dengan tenaga maupun ventilasi secara alami.
  2. Memberikan fasilitas untuk babi yang dipelihara dan
  3. Untukmenghasilkan daging

Rancangan perkandangan dapat berubah dari waktu lalu ke sekarang berdasarkan pengalaman sebelumnya baik kegagalan maupun keberhasilan.  Dalam merancang suatu perkandangan selalu dipertimbangkan agar biaya sekecil mungkin, dengan penampilan dan kualitas yang dapat diterima. Tetapi pada kandang ternak sebenarnya tekananutama (paling besar) ditujukan pada penampilan dimana hal itu mempengaruhi terhadap biaya dari sistem produksi.

Dalam merancang bangunan utnuk ternak terdapat enam data dasar yang diperlukan, dimana satu dengan yang lain tidak terpisah tetapi harus dipertimbangkan segala interaksi dan pengaruhnya ;

Lingkungan Bangunan

Tersedianya informasi yang cukup tentang lingkungan ternak sehingga memung-kinkan kita untuk menduga modifikasi iklim yang diperlukan untuk mencapai penampilan optimum secara ekonomis. Modifikasi lingkungan memungkinkan merubah makanan menjadi daging secara effisien (merupakan alasan yang prinsipal untuk kandang ternak babi).  Untuk mencapai dan mempertahankan produksi yang optimum diperlukan faktor antara lain untuk mempertahankan kondisi iklim optimum/ lingkungan optimum sejalan dengan kebutuhan ternak.

Apa yang dimaksud dengan lingkungan optimum ?, faktor apa yang mempengaru-hinya ? Effisiensi produksi ternak babi tergantung kepada keberadaan dimana zat makanan dalam ransum yang digunakan untuk kebutuhan pokok dan untuk produksi jaringan ternak, dengan sistem perkandangan yang intensif sehingga ternak tidak bebas untuk memiliki kondisi tempat tinggal dimana adalah terbatas, oleh karena itu adalah penting untuk mengetahui atau mengerti pengaruh lingkungan terhadap kesehatan ternak, kesejahtraan dan produktivitas.

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa daerah temperatur netral (DTN/ Thermo Netral Zone) dikenal sebagai :

-          kisaran temperatur udara dimana laju metabolisme ternak babi adalah dalam suatu keadaan minimum, tetap dan bebas dari temperatur udara.

-          Kisaran suhu udara dimana metabolisme secara normal diperoleh atau secara mencukupi

-          Produksinya panas danhilangnya panas dari tubuh adalah kira-kira sama atau seimbang.

Keseimbangan  energi dari seekor ternak beberapa sangat dipengaruhi oleh temperatur dan sering digunakan sebagi kriteria tunggal, dalam merinci atau speci-fikasi lingkungan.

 Zoometry dan tingkah laku ternak

Zoometrik adalah ukuran dari ternak dan hubungannya dengan lingkungan kandang, ini sangat penting karena ukuran ternak babi pada umur yang berbeda perlu dijamin agar bangunan dan peralatan berfungsi untuk ukuran kandang ternak babi. Zoometrik perlujuga diketahui untuk pemanfaatan peralatan dapat difungsikan dihubungkan dengan ukuran kandang.

Ukuran ternak babi harus digunakan untuk rancangan peralatan dengan baik seperti

-          tempat makanan ransum

-          tinggi alat minum (kalau menggunakan water nipple )

-          ukuran dan jarak slat dll

Data zoometrik (seperti berat, panjang, umur dan ukuran langkah ternak babi) digunakan untuk rancangan perkandangan.

Bahan dan struktur bangunan

Bahanyang banyak digunakan terutama diluar negeri adalah ;

-          Stainless steel untuk gerobak makanan , kandang babi di daerah yang sangat berkarat, lantai berkisi dan alat minum.

-          Pipa Polivinilchlorida (PVC) untuk air dan membawa makanan.

-          Kayu Blok (timber) untuk menjaga panas apalagi diberi perlakuan untuk memberi daya tahan terhadap kelembaban.

-          Bahan kawat untuk cenderung lebih bersih

-          Bahan plastik lebih disenangi oleh ternak karena bahan tersebut hangat.

Alat-alat atau perlengkapan kandang

  Kandang yang sempurna memerlukan perlengkapan-perlengkapan yaitu :

   1) Tempat makan dan minum

Tempat makan
Ada dua macam tempat makan yaitu yang berbentuk bak dari pasangan semen dan yang kedua ialah tempat makan berupa kotak yang bahannya dari papan ataupun seng. Tempat makan yang berbentuk kotak ini bisa dibuat memanjang ataupun bulat. (Perhatikan pada gambar.) Masing-masing bisa dipakai secara individual atau kelompok. Demikian juga mengenai tempat minum, ada yang berupa bak, tabung dan nozzle.

 
Baik tempat makan ataupun tempat minum ini merupakan perlengkapan kadang yang mutlak diperlukan oleh babi. Oleh karena itu perlengkapan kandang ini harus dengan baik dan memenuhi persyaratan.

Persyaratan pembuatan tempat makan/air minum yang perlu diperhatikan antara lain

 :
• Ukuran tempat makan dan minum hendaknya disesuaikan dengan umur/besar kecilnya babi.
• Mudah dibersihkan.
• Konstruksi tempat makan dan minum harus dijaga, agar babi tidak bisa dengan mudah masuk menginjak-injak ataupun berbaring di dalamnya.
• Tempat makan dan minum letaknya lebih tinggi daripada lantai.
• Permukaan bagian dalam mesti keras, rata dan halus agar sisa makanan tidak bisa tertinggal di sela-selanya, dan mudah dibersihkan.
• Tepi-tepi atau bibir tempat makan dan minum harus dibuat agak bulat seperti punggung belut, sehingga tidak tajam.

      2) Bak air

Seriap kandang hendaknya juga dilengkapi dengan bak air yang terletak di dekat kandang. Bak ini dimaksudkan untuk menampung persediaan air, sehingga sewaktu-waktu air itu hendak diperlukan untuk membersihkan lantai, alat-alat lain, serta memberikan minum selalu siap, tanpa ada sesuatu kesulitan. Ukuran serta jumlah bak ini bisa disesuaikan dengan jumlah babi yang dipiara.

      3) Bak penampungan kotoran

Setiap kandang atau ruangan hendaknya dilengkapi dengan saluran atau parit yang menghubungkan kandang dengan bak penampungan kotoran, sehingga dengan letak lantai yang sedikit miring, air kencing dan kotoran dengan mudah bisa dialirkan langsung kotoran ini ialah bahwa semua kotoran akan tertampung di dalamnya dan tidak mengganggu sekelilingnya serta bisa dimanfaatkan untuk usaha-usaha pertanian. Ukuran bak ini tergantung dari persediaan bak yang ada serta jumlah babi atau luas kandang.

      4) Pintu kandang

Khusus kandang induk sebaiknya perlu dilengkapi sekaligus dengan pintu penghalang, sehingga kematian anak babi akibat tertindih induk bisa dihindarkan. Tetapi apabila tidak ada perlengkapan semacam ini, anak babi bisa ditaruh di dalam kotak tersendiri. Hanya pada saat menyusu saja anak-anak babi tersebut dicampur dengan induknya. Anak-anak babi tersebut harus selalu diawasi.

Kandang induk menyusui
Kandang induk yang efisien ialah jika kandang tersebut nyaman bagi induk dan sekaligus nyaman bagi anak-anak yang dilahirkan, sehingga anak-anaknya bisa mendapatkan kesempatan hidup pada kandang tersebut.
Pada pokoknya kadang babi induk bisa dibedakan antara kandang individual dan kelompok.

      a) Kandang individual

Pada kandang induk individual ini satu ruangan hanyalah disediakan untuk seekor babi. Konstruksi kandang ialah kandang tunggal, di mana kandang hanya terdiri dari satu baris kandang. Dan kandang tersebut atap bagian depanyanya dibuat lebih tinggi daripada bagian belakang, tetapi pada saat hujan, atap bagian depan diusahakan bisa ditutup. Untuk ukuran kandang tersebut adalah sebagai berikut :
• Tinggi bagian depan 2,5 m, bagian belakang 2 m.
• Panjang 2,5 m, ditambah halaman pengumbaran yang terletak di belakang sepanjang 4 m.
• Tinggi tembok 1 m
• Lebar 3 m.
• Pada ren (halaman pengumbarannya) yang berukuran panjang 4 m itu lantainya bisa dibuat dari pasangan seme, tanah atau batu, di mana induk bisa makan di situ pula. Sedangkan untuk diding depan bisa dibuat dari tembok, bamboo, papan atau bahan lain seperti anyaman kawat. Tetapi apabila dinding itu bahannya dari kawat, harus diusahakan dengan anyaman yang kecil, dan kuat supaya anak-anaknya tidak bisa keluar.
• Kandang ini perlu dilengkapi dengan guard-rail (pintu penghalang) yang terletak di dalam, guna mencegah babi kecil mati tertindih.
• Kandang tersebut juga dilengkapi dengan tempat makan khusus untuk anak-anak babi. Tempat makan ini diberi pagar pemisah agar induk tidak bisa mengganggu makanan yang diberikan kepada anak-anaknya.
• Dilengkapi dengan lampu pemanas.
• Kandang diberikan tilam dari jerami kering yang bersing.

      b) Kandang kelompok

Pada pokoknya kandang induk kelompok ini sama seperti pada kandang individual. Biasanya konstruksi kandang ini ialah kandang ganda, sehingga bisa dilengkapi dengan gang/jalan yang dapat dipakai untuk memberikan makanan dan air minum, sedang alat perlengkapan lainnya sama seperti pada kandang tunggal.

Kandang babi

Kandang  Memenuhi Sifat Biologis dan Iklim Setempat

Kandang harus memenuhi tuntutan biologis ternak babi. Ternak babi tergolong hewan berdarah panas atao homeoterm, yakni mekanisme fisiologisnya selalu berusaha memepertahankan kemantapan keadaan internal tubuh dengan kondisi lingkungan eksternal yang tidak cocok baginya. Babi selalu berusaha mencapai keadaan homeostatis melalaui neraca panas tubuh, termoregulasi, neraca biokemis (air, elektrolit, dan senyawa karbon) dan neraca sirkulasi kardio-faskuler. Ternak yang dalam keadaan stress akan mempengaruhi keseimbangan hormon-hormon dan enzim-enzim tubuh yang selanjutnya mempengaruhi metaboisme ternak. Hal ini mungkin juga akan mengubah tingkah laku ternak, yang selanjutnya berpengaruh terhadap produksi, reproduksi maupun kesehatan ternak.

Pada babi kandang-kandang terlihat tingkah laku yang menyimpang dan hal tersebut mungkin oleh faktor genetik dan oleh faktor lingkungan, misalnya kandang yang kurang memadai dan oleh defisiensi zat-zat makanan. Tingkah laku yang menyimpang ini antara lain, kebiasaan menggigit ekor (tailbiting) dan telinga temannya, kanibalisme, suka menggosok-gosok cungurnya ke lantai atau temannya; suka menggosokkan anusnya ke lantai atau dinding landing, suka mengunyah tanpa isi, suka merusak atau menggigit sekat atau penghalang kandang dan hiperaktif.

Dari sebab-sebab faktor eksternal tersebut sedapat mungkin harus dimanipuler oleh pengusaha ternak babi, antara lain menyediakan kandang yang sesuai bagi ternak dan manajemen sebaik mungkin.

Selain kandang harus menyenangkan bagi ternak babi, tetapi juga mudah dibersihkan, mudah kering dan sedapat mungkin terhindar dari suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, humiditas, hembusan angin, terik surya dan memungkinkan sirkulasi udara yang baik sehingga akan sangat dibatasi kepengapan maupun bau yang tak disukai.

Tempat bangunan kandang harus dipilih yang drainasenya (buangan air) baik. Tempat yang sulit dikeringkan, terutama tanah permukaan, sangat berperan dalam pemeliharaan kesehatan lingkungan peternakan.

Luas Kandang

Luas bangunan kandang babi tergantung dari banyak babi yang dipelihara dan tipe usaha yang dijalankan. Tipe usaha yang hanya menggemukan babi, kandangnya sederhana dan dapat semacam saja.

Dalam merencanakan kandang babi sudah tentu dipertimbangkan antara lain :

1)      sarana jalan

2)      ketinggian lokasi (altitute)

3)      Ketersediaan air

4)      Kemungkinan pengadaan listrik

5)      sarana komunikasi

6)      Kemungkinan memperoleh bahan ransum

7)      Kelandaian lahan

8)      Keadaan lingkungan sekitar

9)      Kondisi tanah

10)  Pengaruh terhadap kesehatan ternak dan lain sebagainya.

Khusus  untuk tujuan penghasil bibit ternak, pertimbangan keadaan lingkungan sekitar peternakan harus diperhatikan, antara lain harus aman dari lalulintas ternak atau hewan liar, maupun manusia.

Bangunan kandang babi untuk daerah tropis seperti Indonesia lebih sederhana dibandingkan dengan untuk daerah subtropics atau daerah beriklim dingin. Suhu di Indonesia 27,2° C, namun suhu di berbagai daerah berbeda, tergantung dari letak geografis, ketinggian tempat, kelandaian, sinar, angin, hujan, dan kelembaban.

Suhu atau temperature lingkungan mikro harus dimodifikasi agar sesuai dengan tuntutan hidup ternak babi yang dipelihara dalam kandang. Harus diusahakan agar mikroklimat dalam kandang serasi bagi kehidupan atau kebutuhan fisiologis babi. Bila suhu terlalu tinggi, babi akan kehilangan panas evaporatif (berkeringat atau terengah-engah), konsumsi makanan biasanya menurun, konsumsi air minum meningkat, berusaha mencari kesejukan, dan tingkah laku mungkin berubah, dan faktor- faktor tersebut mengakibatkan gangguan produksi. Suhu lingkungan yang berbeda mengakibatkan pertumbuhan babi berbeda. Temperatur  yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan mengganggu kehidupan babi, sebab babi akan bertumbuh baik di lingkungan zone termonetralnya, yakni berkisar antara 20-26° C.

Syarat faktor- faktor fisik bangunan kandang untuk daerah tropis :

1)      Bahan bangunan yang tahan lama, relatif murah dan berdaya pantul tinggi terhadap sinar

2)      Berkemampuan rendah menyimpan beban panas  yang berasal dari tubuh ternak

3)      Landaian (slope) atap cukup, biasanya 30-45° sehingga ternak terlindung baik terhadap panas sinar, hujan dan angin

4)      Langit-langit bangunan cukup tinggi sesuai kebutuhan

5)      Terjamin sirkulasi udara yang baik, sehingga udara tak sehat keluar dan udara segar masuk

6)      Luas ruangan bagi ternak cukup memadai

7)      Arah memanjang (poros) bangunan kandang adalah Timur-Barat, berbeda dari arah bangunan di daerah beriklim subtropics ataupun beriklim dingin.

Tata Letak dan Bentuk Bangunan Kandang

Tata letak bangunan biasanya disesuaikan dengan keadaan atau topografi lahan, namun harus memenuhi persyaratan teknis kandang ternak babi.

Bagi peternak babi dengan usaha sekeluarga, atau beternak babi di pekarangan rumah yang memelihara sampai 10 ekor induk, dapat mendirikan hanya satu bangunan kandang dengan luas lantai misalnya 50 m² dengan manajemen pemeliharaan yang efisien. Dalam bangunan kandang tersebut sudah terdapat petak kandang pejantan, induk tak bunting dan babi bunting, kandang melahirkan sekaligus untuk induk berlaktasi serta kandang membesarkan anak atau kandang penggemukan.

Kandang betina sebelum dan selama bunting

Bagi betina kering susu, yang belum bunting, dan selama bunting dikandangkan terpisah dari golongan babi lain hingga 3-10 hari sebelum melahirkan anak. Di dalam bagian atau unit kandang ini juga dibuat petak kandang tempat mengawinkan babi bentuk octagonal  diperlukan agar pejantan tidak mengalami kesulitan menaiki betina, sebab sering bagian belakang betina terletak di pojok kandang kawin yang biasa. Pejantan perlu ditempatkan berdekatan dengan betina yang akan kawin, agar merangsang betina lebih cepat berahi dan juga untuk mengurangi betina yang mengalami “berahi tersembunyi” (silent heat). Bila memungkinkan antara setiap 20 petak kandang diantarai jalan setapak dalam kandang.

DAFTAR PUSTAKA

Animal Waste Management. 1971. Proceedings of National Symposium on Animal Waste Management, September 28-30, 1971. The Airlie House, Warrenton, Virginia.

Anonymous. 1947. Pig Boom in China. Pig International (Sept., 1974), hlm. 44.

Sihombing, D.T.H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Fakultas Peternakan IPB, Bogor.

Babi Large White

Babi large white dikembangkan di Inggris pada akhir tahun 1700-an. Ada hampir 4.000 ekor babi large white yang terdaftar di Inggris pada tahun 1981. Babi large white ini dikenal juga sebagai babi large white Inggris yang merupakan jenis babi dalam negeri yang berasal dari Yorkshire oleh karena itu dikenal juga sebagai babi Yorkshire. Babi large white yang pertama kali dikembangbiakkan yaitu nenek moyang dari Yorkshire Amerika di Amerika Utara. Babi large white adalah salah satu yang paling banyak dari semua ras babi yang banyak digunakan dalam perkawinan silang untuk beternak babi intensif di seluruh dunia. Adapun contoh persilangan yang telah dilakukan yaitu antara babi large white dari Yorkshire dengan babi yang berdaging kecil dari Kanton Cina menghasilkan babi putih breeds yang berukuran kecil, menengah hingga besar. McPhee menyebutkan bahwa large white pertama kali dibiakkan di Dookie Pertanian College di Victoria kemudian tahun 1921 menyebar ke daerah Sydney dan pada tahun 1931 diperluas kembali ke daerah Victoria selatan dan barat, Queensland selatan dan Adelaide. Sepuluh tahun kemudian babi large white ini dikembangbiakkan di pantai selatan New South Wales, di Queensland utara, di Tasmania dan di Australia Barat. Hingga sekarang ini tipe large white ini merupakan jenis yang paling popular di Australia. Babi large white ini telah membuktikan diri sebagai anjing ras kasar dan kuat yang dapat menahan variasi iklim dan faktor lingkungan lainnya. Kemampuan mereka untuk dapat menghasilkan jenis baru yang unggulah yang telah memberikan mereka peran utama dalam sistem produksi babi komersial dan piramida peternakan di seluruh dunia. Babi large white memiliki kulit yang putih dan bebas dari rambut hitam serta tubuh yang besar. Mereka lebih panjang di kaki dibandingkan dengan bagian yang lain. Kepalanya agak panjang dengan wajah sedikit dished dan telinga yang tertusuk.

Large white berkembang biak kasar dan kuat yang dapat menahan berbagai kondisi iklim. Mereka umumnya digunakan dalam perkawinan silang atau program hibrida, dengan salib yang paling populer yaitu antara large white dan Landrace. Persilangan ini sering digunakan sebagai garis ibu di ternak komersial. Sebuah breed ketiga seperti Duroc atau Hampshire sering digunakan sebagai Sire terminal. Hasil pemuliaan program dalam babi diproduksi untuk pasar yang memenuhi kebutuhan konsumen dalam jumlah yang rendah lemak dan tingkat kandungan daging yang tinggi.

Dalam sebuah studi oleh Bunter dan Bennett (2004, AGBU Pig Workshop Genetika Catatan), keturunan dari sejumlah ras dan garis terminal Sire dibesarkan dalam kondisi yang sama. Progeni yang dibandingkan untuk pertumbuhan, backfat, daging dan sifat dari kualitas makanan. Ada perbedaan antara breeds untuk beberapa sifat, namun ada juga perbedaan besar antara kelompok-kelompok keturunan dari pejantan dalam berkembang biak. Hal ini menunjukkan bahwa peternak dan produsen harus mempertimbangkan perbedaan antara hewan dalam berkembang biak.

Peningkatan genetic yang dilakukan oleh peternak modern yaitu dengan menggunakan program komputer seperti PIGBLUP untuk perbaikan genetik produksi daging babi. Seleksi keputusan berdasarkan nilai-nilai pemuliaan estimasi (EBVs), yang merupakan perkiraan jasa genetik babi. EBVs berasal dari silsilah dan data kinerja yang tersedia dari sistem perekaman kawanan untuk sejumlah kinerja dan sifat-sifat reproduksi. Keuntungan genetik yang telah dicapai dalam populasi babi ini ditunjukkan melalui kecenderungan genetik, yang menunjukkan EBV rata-rata semua binatang lahir pada tahun yang sama.

Perkembangbiakkan dari large white merupakan bagian dari Program Peningkatan Babi Nasional (NPIP). The NPIP menyediakan EBVs dan kecenderungan genetik untuk large white yang ditampilkan dalam grafik berikut ini untuk mendapatkan rata-rata harian, kedalaman backfat dan ukuran sampah. Genetik tren ini adalah kecenderungan genetik rata-rata semua ternak berpartisipasi. Genetik tren ini merupakan penyedia seedstock individu yang dapat berbeda dengan tren rata-rata genetik karena seleksi yang berbeda penekanan yang ditempatkan pada setiap karakter oleh peternak individu.

Berikut adalah gambar dari kecenderungan genetik untuk large white berdasarkan Harian Rata-rata Laba (Sumber: NPIP 24.11.04). Peternak didirikan berdasarkan prosedur seleksi PIGBLUP di awal 1990-an dan mendapatkan genetik rata-rata tahunan sekitar 6 gram per hari telah dicapai dari tahun 1994 sampai 2004. Genetik keuntungan bersifat kumulatif dan jasa genetik babi hampir 60 g / d lebih tinggi pada tahun 2004 dibandingkan dengan tahun 1993.

Berikut adalah grafik dari kecenderungan genetik untuk large white berdasarkan Ultrasonik Backfat Kedalaman (Sumber: NPIP 24.11.04). Sebuah perbaikan genetik -2,88 mm telah dicapai di White Besar dari tahun 1991 hingga tahun 2003. Kebanyakan seedstock pemasok sekarang mencapai tingkat backfat yang cukup untuk pasar saat ini dan telah mengambil tekanan seleksi dari backfat. Hal ini terlihat dari kecenderungan datar untuk backfat 2003-2004.

Gambar grafik kecenderungan genetik untuk large white berdasarkan Jumlah babi Dilahirkan Hidup (Sumber: NPIP 24.11.04). Kecenderungan genetik untuk menunjukkan ukuran sampah yang peternak telah menempatkan penekanan pada sifat ini sejak tahun 1999 dan kecenderungan kumulatif genetik sekitar 0,5 babi telah dicapai dari tahun 1999 sampai 2004.

Large white mempunyai rata-rata berat sekitar 100 -  250 kg dengan rata-rata umur hidup yaitu 6 – 9 tahun. Jika dilihat dari perawatan tampilannya babi large white ini merupakan salah satu hewan peliharaan yang paling mudah. Mereka hanya membutuhkan dicuci dengan sampo ringan untuk membuang kotoran dari tubuh dan kaki. Adanya kelebihan rambut dipotong dari ekor dan telinga. Sebuah sikat rambut dapat digunakan untuk merapikan rambut dan menghilangkan partikel debu atau serbuk gergaji yang mungkin menempel di kulit babi tersebut.

Sebagai omnivora yang makan tumbuhan dan hewan, babi akan mengkonsumsi hampir segala sesuatu yang dimakan seperti buah-buahan, akar, bunga, rumput, serangga, cacing, semua jenis daging, dan bahkan sisa-sisa dari meja makan.

Tidak seperti hewan ruminansia (sapi dan kambing), babi memiliki perut tunggal. Untuk pertumbuhan yang sehat dan cepat, babi memerlukan makanan tinggi energi terdiri dari biji-bijian (jagung, gandum, gandum, barley), ditambah protein dan suplemen vitamin. Sebagian besar makanan yang tersedia secara komersial untuk babi menggabungkan berbagai biji-bijian pertanian dan suplemen yang diperlukan untuk memastikan perkembangan yang cepat dan efisien. Babi yang terbaik diizinkan untuk makan sebanyak yang mereka inginkan di siang hari agar mereka dapat tumbuh dengan cepat. Makanan pun harus disipakan dengan air minum yang segar.

Babi itu sangat aktif merupakan hewan penasaran yang membutuhkan ruang untuk mengeksplorasi, latihan, dan menjadi diri mereka sendiri secara energik. Ruangan  yang memadai, relatif terhadap ukuran dan berat merupakan pertimbangan utama karena babi yang ramai atau terbatas pada ruang kecil akan menjadi stress dan pertumbuhan yang sehat serta pengembangan dari babi tersebut akan  terhalang. Babi juga membutuhkan gudang atau perumahan yang akan membiarkan mereka tidur di area kering dan bersih di malam hari. Ideal suhu dari tempat tersebut adalah sekitar 60-700F. Selama musim dingin adanya selimut kayu chip sangat dibutuhkan oleh seekor babi dan penampungan air dengan tempat yang luas dibutuhkan pada musim panas.

Untuk memelihara babi large white ini di rumah ini harus ada akses ke sumber air yang membuat nyaman untuk membersihkan babi tersebut atau selang keluar tempat penampungan babi yang diperlukan. Rantai link pagar, pohon-pohon rindang, dan kolam direkomendasikan untuk habitat halaman belakang. Pemilik Babi disarankan untuk memeriksa dengan pemerintah setempat untuk perundang-undangan tentang kepemilikan dan pemeliharaan babi di rumah dan halaman belakang.

Untuk kesehatan meskipun energi mereka dan sifat suka berteman, babi adalah binatang yang sensitif. Mereka mudah stres oleh perjalanan, vaksinasi, suhu ekstrim, dan lingkungan baru. Stres membuat mereka rentan terhadap penyakit seperti radang paru-paru dan bronkitis (karena juga ke paru-paru mereka relatif kecil untuk ukuran mereka). Mereka juga rentan terhadap virus hewan seperti flu. Babi umumnya menderita gatal gila (atau pseudo rabies), disentri, dan parasit (kutu, kutu, dan cacing ascarid). Babi yang sehat memiliki rambut berkilau, mata terang, selera yang kuat, dan energi tinggi. temperatur normal mereka 102.5F. Penyimpangan dari suhu normal dan tanda-tanda lain dari miskin kesehatan termasuk diare dan batuk harus segera dibawa ke dokter hewan perhatian.

Tingkah laku mereka sebagai omnivora yang suka makan dapat menjadi tontonan yang menyenangkan karena mereka menggunakan moncong untuk mencium bau dan menggali potensi makanan. Mereka cerdas dan sosial binatang yang cepat terbiasa dengan kehadiran dan kasih sayang manusia. Beberapa Babi cukup cerdas untuk belajar trik, taat perintah, dan menggunakan kotak sampah. Karena mereka tidak memiliki kelenjar keringat, mereka cenderung untuk mendinginkan diri dengan rolling dalam air atau lumpur. Lumpur yang mengering pada kulit mereka berfungsi sebagai tabir surya dan perlindungan dari parasit seperti kutu, kutu, dan lalat. Large white yang dikenal itu aktif dan kuat.

            Delapan breeds babi besar biasanya digunakan untuk bibit di Amerika Serikat. Secara umum, lima breeds gelap – Berkshire, Duroc, Hampshire, Polandia Cina, dan Spot dikenal dan digunakan untuk siring kemampuan mereka dan potensi untuk meneruskan daya tahan mereka, leanness, dan meatiness ke anaknya. Tiga breeds putih – Chester White, Landrance, dan Yorkshire banyak dicari untuk kemampuan mereka reproduksi dan ibu.

Yorkshire adalah yang paling dicari setelah berkembang biak, Yorks adalah seekor ibu yang baik dan menghasilkan sampah yang besar. Mereka mempunyai tubuh yang panjang dan besa serta berwarna putih dengan bentuk telinga tegak.

Chester White memiliki ukuran medium dengan telinga droopy dan biasanya memiliki tandu besar dan mencari kemampuan mereka untuk bereproduksi. Babi  dari breed ini biasanya agresif.

Berkshire mempunyai tubuh berwana hitam dengan enam poin putih (hidung, ekor, dan kaki), babi ini memiliki telinga tegak dan moncong pendek dished. Mereka bekerja dengan baik dalam fasilitas tertutup dan terkenal akan kemampuan siring mereka.

Duroc ini mencatat pertumbuhan yang cepat dan efisiensi pakan yang baik dengan warna kemerahan dan telinga yang droopy. Secara rata-rata, babi ini membutuhkan pakan yang kurang untuk membuat satu pon otot daripada keturunan lainnya.

Hampshire mempunyai ciri yaitu berwarna hitam dengan sabuk putih yang membentang dari satu kaki depan, di bahu, dan di bawah kaki depan lain. Mempunyai telinga yang tegak dan sangat populer untuk bersandar pada mereka karena memilki banyak daging.

Polandia Cina mempunyai bentuk seperti Berkshire, breed ini memiliki enam titik putih pada tubuh hitam. Mereka punya telinga berukuran sedang droopy dan menghasilkan daging serta tubuh dengan mata pinggang yang besar.

Spot berwarna putih dengan bercak hitam, breed ini memiliki tipe yang sama dari telinga sebagai Cina Polandia. Babi ini dikenal untuk menghasilkan babi dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi.

Landrance mempunyai ciri fisik seperti babi putih lainnya, breed ini dikenal untuk menabur kemampuan ibu. Mereka sangat besar, dengan telinga floppy, berbadan panjang, dan memiliki rata-rata tertinggi disapih bibit apapun, serta tingkat kelangsungan hidup rata-rata tertinggi pasca proses penyapihan.

Large white disebut juga sebagai Yorkshire large white, memiliki reputasi besar sebagai babi bacon dan silang dengan Landrace Denmark yang saat ini mendominasi pasar Eropa. Dengan pusat pendek, bahu yang halus dan tubuh ramping panjang didukung oleh ham kokoh di belakang menyeluruh. Mempunyai sifat jinak dan produktif baik sebagai ibu. Berkembang biak dan persilangannya menyediakan babi bacon terbaik. Pertumbuhan adalah dengan makanan yang memiliki rasio konversi (kg daging memakai per kg makanan) yang baik.

Middle white juga berkembang di Yorkshire, dari silang antara White White Besar dan Kecil, yang terakhir yang sekarang telah punah. Middle white adalah babi yang sangat baik, mencapai berat yang baik, dengan persentase yang tinggi dari daging ke tulang, dan jenis modern yang baik untuk babi atau bacon.

Middle white pertama kali diakui sebagai anjing ras pada tahun 1852.
White Kecil telah dikembangkan dan berasal dari persilangan babi lokal dengan babi Cina dan Siam impor yang mewarisi wajah dished dengan begitu banyak karakteristik middle white.

Black large populer berkembang biak di Devonshire, Cornwall, Suffolk, dan Paul. Meskipun hanya Breed Society yang terbentuk pada tahun 1899.

The Tamworth berasal di Staffordshire dan ditandai oleh banyak rambutnya yang berwarna emas-merah. Ini adalah yang tertinggi sebagai seorang forager, menghasilkan proporsi yang sangat tinggi daging, dan terhormat untuk bacon salib. Mempunyai reproduksi yang kurang subur dibandingkan dengan ras lain, tetapi sekarang ini lebih dari keturunan mereka untuk penyapihan.

The Berkshire adalah keturunan Inggris pertama yang harus ditingkatkan. Berkembang biak dengan menghasilkan babi yang sangat halus dan dianggap berharga untuk persimpangan dengan breeds yang lebih lambat untuk memproduksi daging.

The Saddleback Wessex, berasal di Dorset, dulunya dihormati di seluruh negeri sebagai anjing ras yang sangat tangguh, produktif, kemampuan pengasuhan yang baik, dan cocok untuk produksi di luar ruangan. karakteristik yang beredar adalah pewarnaan, kepala dan leher hitam, perempat tubuh belakang hitam, dan kaki belakang putih ‘sadel’ di atas bahu dan kaki depan bergabung dengan sabuk serta rambut putih.

The Essex, atau Paul Saddleback, menyerupai Saddleback Wessex dengan sabuk putih yang melingkar bahu dan kaki depan pada sebuah benda hitam, leher, dan kepala. Berkembang  biak dengan sifat tahan banting, kemampuan beradaptasi terhadap kondisi luar ruangan, dan produksi daging babi yang baik dan bacon, terutama bila disilangkan dengan large white.

The Gloucestershire Old Spot berasal pada waktu yang sama dan dari keturunan mirip dengan Berkshire. Hal ini ditandai dengan warna dasar putih dengan beberapa bintik hitam besar. The Welsh, meskipun babi golongan tua, dikenal secara luas sejak 1918. Mempunyai karakteristik yang dapat dikatakan mirip dengan Landrace Denmark. Babi ini menghasilkan daging babi yang baik, meskipun lambat dalam perkembangannya.

Babi biasanya disimpan dengan tiga tujuan yaitu sebagai ternak untuk menghasilkan betina dan menabur untuk pembibitan, sebagai ternak untuk menyediakan bibit babi bagi petani untuk babi atau bacon, dan sebagai tempat membeli babi dari usia muda untuk tumbuhnya daging babi atau bacon.

Hasil Sementara Perbaikan sampai Tgl Terakhir Pengiriman

No NPM NAMA Tugas1 Tugas2 Prak1 Prak2 Prak3 UTS  UAS NA GRADE
1 200110060003 Arfian Dicky Saputra 75 80 80 80 85 75.06   79 A
2 200110060007 Ibnu Nisfu Ramadhan 80 75 80 80 85 68.08   78 B
3 200110060008 M. Niko Ratama Sanjaya 65 80 80 90   67.09   64 C
4 200110060013 Yongki 75   80 80 85 70.23   65 C
5 200110060020 Adhy Wibowo 75 85 80 90 85 68.26   81 A
6 200110060029 Pfika Vistara Indraswari 75 85 80 80 85 75.06   80 A
7 200110060034 Adjie Aditya Saleh     80 80 85 66.74   52 D
8 200110060038 Rudianto 80 50 80 70 85 70.58   73 B
9 200110060040 Fauzi Abdirahman 80 75 80 80 85 77.56   80 A
10 200110060057 Yuni Yuniar 75   80 80 85 70.76   65 C
11 200110060058 Taufik Ismail 75 85 80 80 85 76.57   80 A
12 200110060062 Muhamad Ario Utomo Aroef     80 90 85 59.42   52 D
13 200110060063 Ahmad Radik Raharja 85 85 80 80 85 59.42   79 A
14 200110060064 Derry Rusyad Nurdin 75 85 80 80 85 70.58   79 A
15 200110060067 Rully Lukmansyah 80 80 80 80 85 65.58   78 B
16 200110060070 Joko Setiawan 75 85 80 60   70.58   62 C
17 200110060078 Rully Irvansyah 80 75 80 80 85 77.73   80 A
18 200110060080 Yogi Muhamad Nur 75   80 80 85 70.58   65 C
19 200110060087 Lutfi Hadyan Atikasari 75 80 80 50 85 76.40   74 B
20 200110060088 Yusep Suryana 75 80 80 80 85 77.73   80 A
21 200110060090 Mizana Haqussuqthye 80 70 80 90 85 73.08   80 A
22 200110060091 Irsan Nurani 80 80 80 80 85 62.44   78 B
23 200110060094 Ndaru Canggih Tama 80 75 80 80 85 77.73   80 A
24 200110060095 R.A. Sutradara P.   80 80 60 85 78.90   64 C
25 200110060101 Della Putri Relian 70   80 60 85 76.57   62 C
26 200110060102 Priskandi Purwo Sukarno           5.00   0.8 E
27 200110060108 Nana Riana 75 80 80 80 85 75.23   79 A
28 200110060112 M. Iqbal Rahmadi       60 85 74.07   37 E
29 200110060113 Angga Perdana 80 80 80 80 85 77.73   80 A
30 200110060114 Muh. Bhakti 80 80 80 80 85 70.41   79 A
31 200110060115 Sudianto Saputra     80 80 85 77.56   54 D
32 200110060116 Asep Maulana     80 80 85 76.40   54 D
33 200110060117 Thoyib Hariprayogo 80 80 80 80 75 59.94   76 B
34 200110060118 Kesa Priyadinata 80 80 80 80 85 73.08   80 A
35 200110060119 Reza Nugraha 80 75 80 80 85 63.78   77 B
36 200110060122 Zulfikar Iqbal Hilfandi 80   80 80 85 69.42   66 C
37 200110060123 Diangga Prawira     80 80 85 69.42   52 D
38 200110060124 Syamsul Anwar 75   80 80 85 75.41   66 C
39 200110060127 Ekky Maulana     80 60 85 63.26   48 E
40 200110060129 Nita Astria Nurtanti 90 90 80 80 85 74.24   83 A
41 200110060130 Melly Amelia 85 85 80 80 85 69.42   81 A
42 200110060131 Rhomy A. Nugraha 90 60 80 80 85 72.56   78 B
43 200110060135 Renaldi Alfiansyah     80 60 85 68.43   49 E
44 200110060141 Ela Nurlaela 80 75 80 80 85 71.74   79 B
45 200110060143 Jaja Rahmat 75   80 80 85 42.79   60 C
46 200110060146 Saptaria     80     5.00   14 E
47 200110060147 Aip Yusuf Ikhsan 80 85 80 80 85 68.08   80 A
48 200110060150 Miftahul Falah 80 80 80 80 85 69.24   79 A
49 200110060153 Sastra Yanuar M. 80 80 80 80 85 5.00   68 C
50 200110060155 Fauzi Abdirahman 90 85       5.00   30 E
51 200110060157 Ratu Dewi Citra M.A. 85   80 80 85 74.07   67 C
52 200110060166 Firdaus Aji P. 80 80 80 80 85 71.74   79 A
53 200110060175 Raden Anditya Hadisantono     80     5.00   14 E
54 200110060176 Sandi Andriana 75 85 80 80 85 73.90   80 A
55 200110060177 Toni Pramulyandi 80 85 80 80 85 64.42   79 A
56 200110060180 Dwi Ario Harjianto 75 80 80 80 85 67.91   78 B
57 200110060188 Ratu Amalia Jayeng Ningrum 75   80 80 85 76.57   66 C
58 200110060190 Reksa Pratama 75 80 80 80 85 77.91   80 A
59 200110060201 Helmi Hakim 75 65 80 80   74.88   62 C
60 200110060211 Anna Yudiana P.D. 75 90 80 80 85 72.91   80 A
61 200110060213 Dwi Oktaviani 75 85 80 80 85 77.91   80 A
62 200110060214 Diana Sesaria 75 90 80 80 85 63.60   79 B
63 200110060215 Melvi Yurica 80 80 80 90 85 74.42   82 A
64 200110060216 Muhammad  Syahrudin 80 85 80 80 85 57.09   78 B
65 200110060221 Ujang Ade Sukmana 80 75 80 80 85 69.42   78 B
66 200110060229 Tian Septianty 80 75 80 80 85 68.26   78 B
67 200110060232 Bayu Purnama           5.00   0.8 E
69 200110070003 Okkie Rizqie Octora     80     5.00   14 E
70 200110070004 Rendhy Ardiansyah 80 80 80 80 85 75.23   80 A
71 200110070010 Citra Hasna Paramita 75 80 80 85 85 79.88   81 A
72 200110070012 Triana Amanda 85 65 80 85 85 81.22   80 A
73 200110070026 Furi Siti Fauziyah H. 80 95 80 80 85 78.72   83 A
74 200110070027 Versi Vergian Tide 80 85 80 85 85 57.44   79 B
74 200110070035 Rita Setiawati 80 75 80 85   67.56   65 C
76 200110070038 Raden  Bobby  Adi Eryanto 80 85 80 90 85 83.55   84 A
77 200110070050 Magdalena Kristiana     80 60 85 77.56   50 D
78 200110070051 Masmur Fransiskus Xaverius Mel 75 85 80     77.56   53 D
79 200110070054 Sweet 80 85 80 90 85 84.71   84 A
80 200110070060 Risa Dwininta 80 85 80 80 80 86.05   82 A
81 200110070073 Ramadhansyah Harahap 75 80 60 70   58.43   57 D
82 200110070076 Endi Berniyandi 75 90 80 60 80 59.59   74 B
83 200110070080 Lisnawati 85 80 80 90 85 79.88   83 A
84 200110070088 Ira Khaerani 75 85 80 70 85 70.93   78 B
85 200110070103 Angga Hadi Prayitno 75 85 60 70   53.43   57 D
86 200110070111 Rendi Herdiansyah 75   80 60   77.38   49 E
87 200110070118 Bayu Putra Pamungkas     80 65   66.92   35 E
88 200110070169 Pamerdi Tomo 75 75 80 80 85 64.42   77 B
89 200110070202 Cekli Rahmanita L. 80   80 50 85 69.07   61 C
90 200110070210 Sriningsih 75 80 80 90 85 83.55   82 A
91 200110070214 Nina Erdiani Putri 75 80 80   85 82.21   67 C
92 200110070216 Arnesto Limbong 75 80 80 80 85 63.43   77 B
93 200110070222 Ridha Whenny Tarigan 80 85 80 90 85 83.37   84 A
94 200110070231 Agus Nenda 95 90 80 90 85 81.40   87 A
95 200110080040 Sidik Purnama H   75 80 90 85 67.27   66 C
96 200110080061 Andro Putra H 85 85 50 90 85 80.06   79 A
97 200110080069 Daniel Bona H 80   90 90 85 74.07   70 B
98 200110080108 Mauridz Florent F 75 95 80 90 85 74.07   83 A
99 200110080109 Jerisco M S 80 85 80 80 85 69.07   80 A
100 200110080113 Canniqia Simanjuntak 80 80 80 90 85 80.23   83 A
101 200110080119 Syzka Mita Gultom 75 80 80 90 85 71.57   80 A
102 200110080132 Dorma P Sinambela 80 85 70 90 85 70.23   80 A
103 200110080133 Parulian T Sihombing 70   80 90 85 75.23   67 C
104 200110080150 Sella G Panjaitan 75 85 80 90 85 78.90   82 A
105 200110080151 Elisa Oktavina 75 85 80 90 85 80.23   83 A
106 200110080157 Wanda Y S 75 90 80 90 85 77.56   83 A
107 200110080158 Nita Rosari Pratiwi 75 90 75 80 85 73.08   80 A
108 200110080168 Adrianus Mangoloi A 75   75 80   71.74   50 D
109 200110080169 Edward Adrian 80 75 70 80 85 60.93   75 B
110 200110080180 Asrulman Gaho 80 80 80 90 85 62.44   80 A
111 200110080183 Yosua F Ritonga 75   80 90 85 71.74   67 C
112 200110080201 Jefri Petrus     30 80 85 55.93   42 E
113 J10040001 Sheny Astriany 65 90 70 90 85 69.07   78 B
114 J10040056 Dita Fitri Yuniar 80 80 80 80 85 70.76   79 A
115 J10040068 Chandra Hersa 80 80 80 90 85 66.92   80 A
116 J10040080 M. Agung Basyir     80 80 85 81.22   54 D
117 J10040086 Syaefuddin Amir   80 80 80   49.13   48 E
119 J10040509 Dofi Nuklia 75 80 80 80 85 81.40   80 A
120 J10050016 Rahandia Galih P.       90 85 75.06   42 E
121 J10050017 Aan Rudia 75 80 80 80   73.90   65 C
122 J10050041 Apri Lanam 80 85 80 90 85 70.58   82 A
123 J10050042 Denden  Hedi 70 85 80 80 85 50.12   75 B
124 J10050045 Rangga Puja Rama 75   80 90 85 65.58   66 C
125 J10050073 Mochamad Dudi Pinisurya 85 85 80 80 85 73.08   81 A
126 J10050085 Nida Nadiah Ulfah 60   80 80 85 81.22   64 C
127 J10050109 Ichsan Sapari Nurdin 80 80 80 80 85 71.74   79 A
128 J10050122 Elegant Perdana P. 70   80 60 85 75.23   62 C
129 J10050129 Rizki Agusta Setiaji 70 95 80 90 85 77.56   83 A
130 J10050143 Aminah Finasari     80 90   55.29   38 E
131 J10050174 Adityo Dipozele 75   80 80 85 69.24   65 C
132 J10050178 Aditya Priyadi 75 80 80 75   78.72   65 C
133 J10050224 Chepi Gunadhi 55 55 80 80 85 72.91   71 B
134 J10050236 Adi Panji Agustian 80   80 80 85 72.91   66 C
135 J10050258 Jaja Sandika         85 75.06   27 E
136 200110060169 Victor Sahat  70 85 80 90 85 76.40   81 A
137   Evie  65         5.00   12 E
138 200110060010 Yuni Rizki  75   80 80 85 78.72   66 C
139   Creisa  70         5.00   13 E
140 200110060018 Aulia achmad lintang 80   80     5.00   28 E
141 200110060039 Hadiansyah     80 80 85 71.57   53 D
142 200110060043 Windu M P  75         5.00   13 E
143 200110060160 Aulia Fiqi      80 55   5.00   23 E
144 200110060172 Nugraha permana 70   80 80 85 56.10   62 C
145 200110060162 Taufik Ismail R 75   80 80 85 64.42   64 C
146 200110070160 Ririn rostini 70   70 60   83.72   47 E
147 J10052001 Novrizal m arifin         85 75.06   27 E
148 200110060174 Fazrin harahap         85 75.06   27 E
149 200110060155 Budi Prasetio  90 85 80   85 70.76   68 C
149 200110060205 Dico Novarido N     80 80   66.92   38 E

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG KULIT BUAH PEPAYA (Carica Papaya) DALAM RANSUM BABI PERIODE FINISHER TERHADAP PERSENTASE KARKAS, TEBAL LEMAK PUNGGUNG DAN LUAS URAT DAGING MATA RUSUK

ABSTRAK

 Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Teaching Farm Ternak Babi, Desa Kertawangi Kecamatan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung pada tanggal 1 Mei 2009 sampai dengan 20 Juni 2009. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya) dalam ransum babi periode finisher dilihat dari persentase karkas, tebal lemak punggung, dan luas urat daging mata rusuk. Penelitian ini menggunakan 18 ekor ternak babi kastrasi hasil persilangan Landrace umur 34 minggu. Kisaran bobot badan rata-rata ternak babi adalah 55 kg dengan koefisien variasi kurang dari 6,8%. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari tiga perlakuan, dimana setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan Uji Sidik Ragam, apabila signifikan; maka dilakukan Uji Duncan. Berdasarkan hasil analisis statistika menunjukkan bahwa pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya)10% dalam ransum ternak babi tidak mempengaruhi terhadap persentase karkas, tetapi dapat menurunkan sedangkan pada tebal lemak punggung dan meningkatkan luas urat daging mata rusuk. Pemberian Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya) 10% dalam ransum babi dapat digunakan sebagai bahan pakan alternative  bagi ternak babi.

Kata Kunci:     Carica Papaya, Persentase Karkas, Tebal Lemak Punggung, dan Luas Urat Daging Mata Rusuk.

ABSTRACT

 

This Research of “ The Effect of Papaya (Carica papaya) Skin Fruit Flour in Ration for The Finisher Period of Pigs to Percentage Carcass, Back Fat and Loin Eye Area” has been held since March 1, 2009 to Juni 30, 2009 at  KPBI Obor Swastika, Cisarua,  Bandung. The purpose of this research is to find dosage level of  papaya skin fruit flour  that can be added into ration so that can be give the best to percentage carcass, Back Fat and loin eye area for the finisher period of pigs. This research was using 18-finisher period of pigs, age 6 months with weight rate 60.56 kg and variation coefficient  6,8%. The method that was used in this research is Complete Randomize Design with three dosage of papaya skin fruit flour , i.e. 0, 5, 10% with six replications. The result of the research shows give 10% papaya skin fruit flour  in ration pig no significant effect to percentage carcass, but increased loin eye area and decreased back fat thickness (p<0,05).  10% papaya skin fruit flour as alternative stuff can be used for pig finisher periode.

 

 

Keywords: pigs, Percentage Carcass, Back Fat Thickness, Loin Eye Area, Papaya skin flour

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Babi merupakan salah satu komoditas ternak penghasil daging yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena memiliki sifat-sifat dan kemampuan yang menguntungkan antara lain : laju pertumbuhan yang cepat, jumlah anak per kelahiran (litter size)  yang tinggi, efisiensi ransum yang baik (75-80%) dan persentase karkas yang tinggi (65-80%) (Siagian, 1999). Selain itu, babi mampu memanfaatkan sisa-sisa makanan atau limbah pertanian menjadi daging yang bermutu tinggi. Karakteristik reproduksinya unik bila dibandingkan dengan ternak sapi, domba dan kuda, karena babi merupakan hewan yang memiliki sifat prolifik yaitu jumlah perkelahiran yang tinggi (10-14 ekor/kelahiran), serta jarak antara satu kelahiran dengan kelahiran berikutnya pendek. Babi merupakan salah satu sumber protein hewani bagi masyarakat Indonesia. Karkas merupakan bagian utama dari ternak penghasil daging. Kualitas karkas pada dasarnya adalah nilai karkas yang dihasilkan ternak berdasarkan kriteria yang ditentukan oleh konsumen yaitu karkas yang mengandung daging maksimal dan lemak minimal serta tulang yang proporsional, hal ini dapat dilihat dari persentase karkas yang tinggi, tebal lemak punggung yang tipis dan luas daging mata rusuk yang besar. Persentase karkas babi adalah yang terbesar dibandingkan lemak lain yaitu 75% dari bobot hidupnya, hal ini disebabkan kulit dari keempat kakinya adalah termasuk dalam karkas babi kecuali kepala dan jeroan. Selain itu juga permintaan daging babi yang cukup tinggi sebesar 7,11 % yakni pada tahun 2002 sebanyak 164,491 ton naik menjadi 177,093 ton pada tahun berikutnya, sedangkan peningkatan populasi babi hanya sebesar 3,63 % yakni dari 5.926.807 ekor menjadi 6.150.535 ekor (Dirjen  Bina Produksi Peternakan, 2003), hal ini menunjukan bahwa babi mempunyai peranan yang cukup besar dalam mensuplai kebutuhan daging walaupun dengan keterbatasan konsumen serta dapat mendorong semakin potensialnya peternakan babi di Propinsi Jawa Barat khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan dan komposisi tubuh yang meliputi distribusi berat dan komposisi kimia komponen karkas yaitu faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan salah satu diantaranya adalah kualitas dan kuantitas pakan. Kualitas pakan yang baik sering kali peternak mengeluarkan biaya yang tinggi, oleh karena itu untuk meminimalkan biaya ransum maka dibutuhkan bahan pakan alternatif yang bersifat kontinyu, mudah didapat, murah, bergizi tinggi dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Bahan pakan yang dimaksud diantaranya adalah kulit buah pepaya.

Tepung kulit buah pepaya mengandung kadar protein yang tinggi yaitu 25,85% dan serat kasar yang cukup rendah yaitu sebesar 12,51% (Laboratorium Nutrisi Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan UNPAD, 2008). Kulit buah pepaya didapat dari limbah industri pembuatan manisan yang didapat dari daerah Kabupaten Garut, yaitu di Kecamatan Leles. Penggunaan kulit buah pepaya sebagai campuran makanan ternak Babi masih jarang digunakan, kecuali pada beberapa peternakan sapi potong tradisional di kecamatan leles, dan hasilnya menurut para peternak, daging dari sapi-sapi yang diberi kulit buah pepaya segar menjadi lebih merah dan dagingnya lebih padat. Berdasarkan hal tersebut diatas, kulit buah pepaya dapat dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak karena berpotensi sebagai sumber protein nabati. Hasil survey dilapangan menunjukan bahwa potensi kulit buah pepaya adalah 30% dari tiap buah papaya, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang berapa besar tingkat pemberian kulit buah pepaya dalam bentuk tepung sebagai bahan pakan ternak dalam ransum yang dapat meningkatkan produktivitas ternak.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya) dalam Ransum Babi Periode Finisher terhadap persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk”.

Maksud dan Tujuan

Sejalan dengan permasalahan, maka tujuan penelitian ini adalah:

  1. Mengetahui pengaruh pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya dalam ransum babi periode finisher  terhadapi persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk.
  2. Mengetahui persentase pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya dalam ransum babi periode finisher  sehingga dapat memberikan pengaruh terbaik terhadap persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk.

 

Kerangka Pemikiran

Daging merupakan komponen karkas yang penting dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Daging adalah komponen utama karkas. Karkas juga tersusun dari lemak jaringan adipose, tulang, tulang rawan, jaringan ikat dan tendo. Komponen-komponen tersebut menentukan ciri-ciri kualitas dan kuantitas daging (Soeparno, 1998). Komponen bahan kering yang terbesar dari daging adalah protein. Nilai nutrisi daging yang lebih tinggi disebabkan daging mengandung asam amino esensial yang lengkap dan seimbang (Forrest, dkk, 1975).

Di dalam pembentukan daging pada masa pertumbuhan, ternak babi membutuhkan asupan protein dan energi yang sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan protein dan energi ternak tergantung pada beberapa faktor termasuk berat hidup, pertambahan berat badan, dan konsumsi pakan (Soeparno, 1998). Protein merupakan bagian terbesar pembentuk urat daging, organ-organ tubuh, tulang rawan dan jaringan ikat. Konsumsi protein dan energi yang lebih tinggi akan menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih cepat (Anggorodi, 1994). Kandungan protein (asam-asam amino) ransum yang optimal pada ransum babi harus pula memperhatikan kandungan energinya, hal ini disebabkan karena sejumlah energi tertentu dibutuhkan per tiap gram protein dengan demikian protein dapat digunakan efisien untuk pertumbuhan, kebutuhan lisin ternak babi yang sedang tumbuh dengan berat badan 35 – 60 kg adalah 0,61% (Sihombing, 1997). kebutuhan protein kasar bagi babi grower dan pengakhiran adalah 18 sampai dengan 13.5 % dengan energi yang dapat dicerna rata-rata 3400 Kkall. Karena ternak Babi merupakan ternak monogastrik maka yang harus diperhatikan adalah serat kasar yang rendah terutama pada fase pertumbuhan kecuali pada induk.

Di dalam kulit buah pepaya masih terdapat kandungan nutrisi yang tinggi sehingga diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan pakan alternatif untuk ternak. Kulit buah pepaya memiliki kekurangan yaitu mudah busuk, oleh karena itu untuk mengatasinya maka kulit buah pepaya dijadikan tepung sehingga menjadi lebih tahan lama. Tepung kulit buah pepaya memiliki kandungan nutrisi antara lain protein kasar 24,85%, serat kasar 18,52%, lemak kasar 8,87%, abu 8,52%, kalsium 2,39% dan phosphor 0,88% (Laboratorium Nutrisi Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan UNPAD, 2008), dan Fe 0,385% (Analisis Laboratorium Institut Pertanian Bogor, 2008). Kulit buah pepaya memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pakan alternatif sumber protein yang dapat mengganti atau mengurangi penggunaan bahan pakan sumber protein lainnya seperti bungkil kedelai dan lain-lain.

Kulit buah pepaya selain memiliki kadar protein yang tinggi, juga mengandung enzim papain. Enzim ini banyak terkandung dalam kulit, batang, daun, dan buah (http://en.wikipedia.org/wiki/Papaya). Papain merupakan salah satu enzim proteolitik. Manfaat papain antara lain adalah dapat digunakan sebagai pelunak daging (enzim papain mampu memecah serat-serat daging, sehingga daging lebih mudah dicerna), papain berfungsi membantu pengaturan asam amino dan membantu mengeluarkan racun tubuh. Dengan cara ini sistem kekebalan tubuh dapat ditingkatkan, (www.Damandiri.or.id). Kulit buah pepaya selain memiliki protein yang tinggi dan enzim papain juga memiliki kandungan zat besi yang tinggi sebesar 0,385% (Analisis Laboratorium Institut Pertanian Bogor, 2008).    Protein dibutuhkan oleh babi masa pertumbuhan. Protein dalam ransum digunakan untuk membangun, menjaga dan memelihara protein jaringan dan organ tubuh, menyediakan asam-asam amino makanan, menyediakan energi dalam tubuh serta menyediakan sumber lemak badan (Tilman, dkk., 1986). Papain dapat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh, hal ini dikarenakan papain memiliki lebih dari 50 asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh (http://en.wikipedia.org/wiki/papain). Dengan pemberian tepung kulit buah pepaya dalam ransum babi diharapkan dapat memberikan pengaruh terbaik terhadap persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk.

Berdasarkan uraian diatas dapat dikemukakan hipotesis bahwa pemberian tepung kulit buah pepaya dalam ransum sampai 10% dapat memberikan pengaruh yang terbaik terhadap persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk babi periode finisher.

Lokasi dan Waktu Penelitian

            Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan bulan April 2009 di Laboratorium Penelitian (KPBI) Koperasi Peternak Babi Indonesia, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung.

TINJAUAN PUSTAKA

Deskripsi Tanaman Pepaya

Tanaman pepaya menurut Rukmana (1995) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

            Kingdom          : Plantae (Tumbuh-tumbuhan)

            Divisi               : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)

            Sub-divisi        : Angiospermae (Biji tertutup)

            Kelas               : Dicotyledonae (Biji berkeping dua)

            Ordo                : Caricales

            Family                         : Caricaceae

            Spesies           : Carica papaya L.

Buah pepaya merupakan salah satu buah yang telah lama dikenal luas di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, pepaya sangat dikenal semua lapisan masyarakat. Buah pepaya telah lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Buah matangnya sangat digemari karena cita rasanya yang enak, relatif tingginya kandungan nutrisi dan vitamin, serta fungsinya dalam melancarkan pencernaan.

Potensi Kulit Buah Pepaya

Tanaman pepaya yang dipelihara secara intensif dan sistem penanamannya monokultur (satu jenis), tingkat produktifitasnya dapat mencapai 50-150 buah/pohon. Bila lahan kebun seluas 1,0 hektar ditanami pepaya pada jarak tanam 3×3 m terdapat populasi 1.000 tanaman, maka produksi per hektar dapat mencapai 50.000-150.000 butir buah atau setara dengan 20-60 ton buah pepaya dengan catatan, banyak terdapat humus, tata udara dan tata air tanahnya baik, dengan pH sekitar 6-7. Panen perdana tanaman pepaya dapat dilakukan pada saat umur 9-11 bulan. Di dalam satu buah pepaya persentase kulit buahnya dapat mencapai 30% yang 10% diantaranya adalah biji pepaya. Panen tanaman pepaya dapat dilakukan secara kontinyu setiap 5-7 hari sekali bergantung pada kematangan buah, permintaan pasar, dan tujuan penggunaan (Rukmana, 1995).

Kulit buah pepaya merupakan bagian terluar dari buah pepaya yang masih mengandung nilai nutrisi cukup tinggi. Kulit buah pepaya pada keadaan kering mengandung protein kasar sebesar 25,58 %, lemak kasar 8,87 %, serat kasar 18,52 %, Ca 2,39 %, P 0,88 %, dan Abu 8,52 % (Laboratorium Nutrisi Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan UNPAD, 2008). Kandungan nutrisi kulit buah pepaya relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan bahan pakan sumber protein lain, antara lain kacang hijau yang memiliki kandungan protein kasar 26,7 %, lemak 1,47 %, serat kasar 5,93 %, Ca 0,16 %, P 0,72 %, dan abu 5,22 %, bungkil kelapa yang mengandung protein kasar 21 %, lemak 10,9 %, serat kasar 14,2 %, Ca 0,165 %, P 0,62 %, dan abu 8,24 %, serta ampas tahu yang hanya mengandung protein kasar 20,81 %, lemak 7,08 %, serat kasar 14,88 %, Ca 0,64 %, P 0,28 %, dan abu 3,74 % (Sutardi, 1983).

Deskripsi Ternak Babi

Babi merupakan ternak monogastrik yang memiliki kesanggupan dalam mengubah bahan makanan secara efisien apabila ditunjang dengan kualitas ransum yang dikonsumsi. Babi lebih cepat tumbuh, cepat dewasa dan bersifat prolifik yang ditunjukkan dengan banyaknya anak dalam setiap kelahiran yang berkisar antara 8 -14 ekor dengan rata-rata dua kali kelahiran pertahunnya (Sihombing, 1997). Menurut Sihombing (1997), pertumbuhan babi yang digemukkan untuk tujuan daging dibagi menjadi beberapa periode yaitu periode pra sapih (pre starter), lepas sapih (starter), pertumbuhan (grower), dan finisher. Babi periode finisher adalah babi setelah melewati periode pertumbuhan, dicirikan dengan berat hidup 60-90 kg, sedangkan pertambahan bobot badan babi periode finisher adalah 701-815 gram/hari (Annison, 1987).  Soeparno (1992), mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan komponen tubuh secara kumulatif mengalami pertambahan berat selama pertumbuhan sampai mencapai kedewasaan, jadi pertumbuhan mempengaruhi pula distribusi berat dan komponen-komponen tubuh ternak termasuk tulang, otot, dan lemak. Menurut Sutardi (1980), kecepatan pertumbuhan suatu ternak dipengaruhi berbagai faktor antara lain bangsa, jenis kelamin, umur, makanan, dan kondisi lingkungan.

Produksi Karkas Babi

               Karkas babi merupakan bagian tubuh ternak setelah dilakukan pemisahan terhadap kepala, bulu, kuku, isi rongga dada. Karkas babi yang dihasilkan berkisar antara 60-90% dari berat hidup tergantung pada kondisi, genetik, kualitas pakan dan cara pemotongan (Ensminger, 1984). Persentase karkas adalah perbandingan antara bobot karkas dengan bobot potong yang dinyatakan dalam persen (Forrest, dkk. 1975). Bobot potong yang tinggi tidak selalu menghasilkan bobot karkas yang tinggi. Hal ini dikarenakan sering adanya perbedaan pada berat kepala, bulu, isi rongga dada dan perut (Soeparno, 1992), oleh karenanya bobot potong lebih dari 90 kg memang meningkatkan hasil berat karkas tetapi persentase karkas yang dihasilkan akan menurun (Sihombing, 1997). Bobot potong optimum dapat dicapai jika terdapat interaksi antara jenis pakan yang diberikan, cara pemberian pakan, bangsa ternak, jenis kelamin dan kematangan seksual (Davendra dan Fuller, 1979). Persentase karkas babi dibagi menjadi beberapa kelas, kelas 1 menurut USDA  adalah 68-72% (Forrest, dkk. 1975). Besarnya persentase karkas dipengaruhi oleh faktor tipe dan ukuran ternak serta penanganan ternak, lamanya pemuasaan, serta banyaknya kotoran yang dikeluarkan (Soeparno, 1992).  Persentase karkas akan meningkat dengan meningkatnya bobot potong (Forrest et. all, 1975), dinyatakan pula dengan meningkatnya presentase lemak karkas menyebabkan persentase otot dan tulang menurun. Persentase karkas normal berkisar antara 60-75% dari berat hidup. Persentase ini lebih tinggi pada babi dibandingkan dengan ternak lain seperti domba dan sapi karena babi tidak mempunyai rongga badan yang terlalu besar serta babi mempunyai lambung tunggal (Blakelly dan Bade, 1998).

Tebal Lemak Punggung

Pengukuran tebal lemak punggung pertama kali dilakukan tahun 1952 oleh Hazel dan Kline dengan alat yang disebut ”back fat probe” setelah itu sangat meluas penggunaannya maupun perkembangan teknologi peralatannya. Ukuran tebal lemak punggung secara langsung menggambarkan produksi lemak atau daging. Tebal lemak punggung babi yang tipis memberi persentase hasil daging yang tinggi dan sebaliknya tebal lemak punggu yang tinggi memberi hasil persentase hasil daging yang rendah. Sejak tahun 1968 Lembaga USDA di Amerika Serikat telah menentukan suatu cara dalam penentuan kelas karkas dari babi siap potong.

Luas Urat Daging Mata Rusuk

Kualitas daging erat hubungannya dengan ukuran luas penampang otot longisimus (longisimus muscle area) sering juga disebut urat daging mata rusuk yang diukur diantara tulang rusuk ke 10 dan 11 (Miller, dkk. 1991). Luas urat daging mata rusuk dapat digunakan untuk menduga perdagingan karkas dan berat karkas karena terdapat korelasi dengan total daging pada karkas dimana yang lebih berat akan mempunyai ukuran penampang urat daging mata rusuk yang lebih besar.

Crampton dkk (1969), menjelaskan bahwa luas urat daging mata rusuk dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi ternak. Menurut Figueroa (2001) yang meneliti pengaruh performans babi pertumbuhan finisher yang diberikan pakan rendah protein, rendah energi, tepung biji sorghum-kedelai memperoleh nilai rata-rata luas urat daging mata rusuk sebesar 42,97 cm2. Menurut Soeparno (1992), luas urat daging mata rusuk dipengaruhi juga oleh bobot potong. Bobot potong yang tinggi akan menghasilkan daging mata rusuk yang lebih luas.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Bahan Penelitian dan Ternak Penelitian

Ternak yang digunakan adalah 18 ekor ternak babi hasil persilangan Landrace. Kisaran bobot badan rata-rata ternak babi adalah 55 kg dengan koefisien variasi kurang dari 10%. Babi ditempatkan secara acak dalam kondisi kandang individu dengan kondisi lingkungan yang sama dan jenis kelamin babi yaitu jantan kastrasi. Kandang yang digunakan adalah kandang individu yang berukuran 0,6 x 2 x 1,2 m dengan lantai semen dan beratap seng, dilengkapi tempat makan dan minum sebanyak 18 unit. Tiap kandang diberi nomor untuk memudahkan dalam pengontrolan dan pengambilan data.

Peralatan yang Digunakan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian yaitu:

1.      Timbangan duduk kapasitas 200 kg (ketelitian 0,1 kg) untuk   menimbang berat ternak.

2.      Timbangan duduk kapasitas 15 kg (ketelitian 0,1 kg) untuk menimbang jeroan.

3.      Timbangan gantung 150 kg (ketelitian 0,1 kg) untuk menimbang berat karkas.

4.      Pisau, plastik mika transparan dan milimeter block untuk menentukan luas urat daging mata rusuk.

5.      Mistar untuk mengukur tebal lemak punggung.

Kulit Buah Pepaya

Ransum yang diberikan pada ternak percobaan dalam penelitian berupa tepung. Bahan Tepung Kulit Buah Pepaya didapat dari PT. Karya Mulya, Leles Kabupaten Garut. Bahan tersebut dikeringkan hingga kadar air 15% kemudian digiling hingga menjadi tepung.

Ransum Penelitian

Bahan makanan yang digunakan untuk menyusun ransum adalah tepung jagung, tepung ikan, bungkil kelapa, tepung tulang, bungkil kedelai, tepung tulang, dedak padi, dan premix. Penyusunan ransum dilakukan berdasarkan pada kebutuhan zat-zat makanan yang dianjurkan National Research Council (1988).

Tepung kulit buah pepaya dicampur ke dalam ransum dalam jumlah dosis yang berbeda sebagai bahan yang akan diteliti pengaruhnya. Komposisi zat makanan dan susunan ransum yang digunakan masing-masing diperlihatkan pada Tabel 1, sedangkan kandungan ransum percobaan terdapat pada Tabel 2.

Tabel 1. Kandungan nutrisi ransum basal dan tepung kulit buah pepaya. 

Kandungan Gizi Ransum Basal Tepung Kulit Buah Pepaya
EM (kkal) 3244,8 2419
PK (%) 14 25,85
SK (%) 7,5 2,39
Ca (%) 0,32 18,52
P (%) 0,66 0,88

Sumber : Ransum basal (NRC, 1998) 

     Tepung kulit buah pepaya (Permana, 2007)        

Susunan Ransum

Tabel 2. Kandungan nutrisi ransum penelitian

Kandungan Nutrisi Ransum Penelitian
R0 R1 R2
EM (kkal) 3244,8 3203,51 3162,22
PK (%) 14 14,5925 15,185
SK (%) 7,5 8,051 8,062
Ca (%) 0,32 0,4235 0,527
P (%) 0,66 0,671 0,682

R0 = 100% ransum basal

R1 = 95% ransum basal + 5% tepung kulit buah pepaya

R2 = 90% ransum basal + 10% tepung kulit buah pepaya

Metode Penelitian dan Tahap Penelitian

  1. Persiapan kandang, sanitasi kandang, pengadaan ternak, pengadaan ransum dan peralatan serta penimbangan bobot awal ternak sebelum penelitian dimulai. Setiap babi dimasukkan ke kandang individu dan memperoleh satu perlakuan secara acak.
  2. Adaptasi babi terhadap kandang, ransum, perlakuan dan lingkungan yang baru dilakukan selama 1 minggu, dan pemberian obat cacing.
  3. Pemberian ransum sebanyak 1 kg/ ekor dilakukan selama tiga kali sehari, pukul 07.00 dan 12.00 dan 16.00 WIB dengan jumlah ransum per hari adalah 3 kg/ekor.
  4. Penimbangan bobot badan dilakukan setiap 2 minggu sekali dengan menggunakan timbangan duduk pada pagi hari sebelum babi dibersihkan.
  5. Tepung Kulit Buah Pepaya di campur 5% dan 10% dalam ransum basal pada perlakuan R1 dan R2.
  6. Kandang dibersihkan dua kali sehari yaitu pada pukul 06.00 dan 12.00 WIB. Kandang dibersihkan dari semua kotoran ternak babi dan kotoran tersebut dibuang ke saluran pembuangan, setelah itu babi  dimandikan agar  bersih dan merasa nyaman.
  7. Setelah babi mencapai bobot badan 90 kg babi siap dipotong, tetapi sebelum dipotong babi dipuasakan dahulu selama 18 jam untuk mengurangi stress dan menghindarkan kontaminasi isi saluran pencernaan terhadap karkas (Sihombing, 1997). Sesaat sebelum dipotong, ternak babi ditimbang bobot potongnya. Babi ditusuk pada leher bagian atas dekat rahang bawah menuju jantung. Bulu dihilangkan dengan cara dikerok setelah sebelumnya direndam dalam air panas dengan suhu 70°C selama 2 menit kemudian kepala dipisahkan dari tubuh.
  8. Setelah melalui sayatan lurus ditengah perut hingga dada pada tulang dada, rectum dibebaskan melalui anus dan isi perut serta dada dikeluarkan termasuk alat kelamin, vesica urinaria, diaphragma dan ekor.
  9. Tulang dada sampai dengan tulang ekor dipotong sehingga karkas pisah menjadi 2 bagian dan baru dilakukan penimbangan terhadap berat karkas dengan menggunakan timbangan digital.
  10. Antara tulang rusuk ke 10 dengan 11 dipotong dengan menggunakan pisau untuk digambar urat daging mata rusuknya (Miller, dkk. 1991) dengan menggunakan plastik mika transparan, kemudian diukur luasnya dengan menggunakan milimeter block.
  11. Tebal lemak punggung diukur dengan mistar berskala centimeter diatas punggung babi yaitu pada tulang rusuk pertama, keduabelas, dan terakhir kemudian dirata-ratakan (Forest, et.al, 1975).

 

Peubah yang Diamati

Peubah yang diamati dalam penelitian adalah :

  1. Persentase Karkas (%)

Diperoleh dari berat karkas (BK) dibagi bobot potong (BP) dikali 100% atau   dengan rumus :      

    Berat karkas             x  100%

    Berat potong

  1. Luas Urat Daging Mata Rusuk

Diukur dengan menggunakan milimeter block yang ditempelkan pada plastik mika yang telah digambar berdasarkan luas urat daging mata rusuk yang diamati kemudian dihitung berapa banyak kotak yang terisi penuh (Forrest, dkk.  1975).

3.   Tebal Lemak Punggung

      Diukur dengan mistar berskala centimeter diatas punggung babi yaitu pada tulang rusuk pertama, keduabelas, dan terakhir kemudian dirata-ratakan (Forest, et.al, 1975).

Rancangan Percobaan dan Analisis Statistik

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental dengan  menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan, Salah satu perlakuan sebagai kontrol tanpa mengandung tepung kulit buah pepaya dan 2 perlakuan lainnya mengandung kulit buah pepaya dengan dosis yang berbeda. Masing-masing perlakuan terdiri dari lima ulangan, sehingga penelitian ini menggunakan 18 ekor ternak babi.

Model matematik yang digunakan (Steel dan Torrie, 1989) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Yij = µ + αi + єij .

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Tepung Kulit Buah Pepaya Dalam Ransum Babi Periode Finisher Terhadap Persentase Karkas

Data hasil pengamatan selama penelitian tentang pengaruh berbagai dosis tepung kulit buah papaya pada ransum persentase karkas dapat dilihat  pada  Tabel 4.

Tabel 4. Rata-rata Persentase Karkas Hasil Penelitian dari Perlakuan.

Ulangan Perlakuan Rataan

(%)

R0 R1 R2
  ———————%———————  
1 76,47059 76,24309 78,26087
2 77,77778 77,04918 76,53631
3 75,5814 78,02198 77,04918
4 74,7191 75,70621 78,57143
5 76,13636 79,54545 77,34807
6 78,48837 77,9661 77,71739
Rata-rata 76,52893 77,422 77,58054 77,17716

 

Rata-rata persentase karkas secara keseluruhan adalah 77,17%, ini menunjukkan persentase tinggi termasuk ke dalam  kelas 1 menurut USDA yaitu antara 68-72%, ini disebabkan oleh rendahnya berat isi  jeroan dalam bobot potong yang optimal (90 kg). Bobot potong 90 kg adalah bobot potong optimal, dimana berat karkas tinggi, berat karkas sangat mempengaruhi persentase karkas (Hovorka dan Pavlik, 1973).

Berdasarkan pemberian dosis tepung buah kulit pepaya : 0; 5; dan 10% dalam ransum diperoleh persentase karkas berturut-turut : 76,52; 77,42 dan 77,58. Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian berbagai dosis kulit buah pepaya dalam ransum ternak babi pada penelitian ini  tidak berpengaruh terhadap persentase karkas. Hal ini disebabkan karena  persentase karkas merupakan hasil dari pembagi berat karkas dan berat potong jadi pada ternak yang bangsa sama cenderung memperoleh persentase yang sama pula. Penelitian ini sesuai dengan Rikas et al. (2008) yang menyatakan bahwa pemberian tepung kulit buah pepaya dalam ransum kelinci tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum dan persentase karkas, tetapi memperbaiki efisiensi penggunaan ransum pada kelinci.

Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Tepung Kulit Buah Pepaya Dalam Ransum Babi Periode Finisher Terhadap Luas Urat Daging Mata Rusuk

Data hasil pengamatan selama penelitian tentang pengaruh berbagai dosis tepung kulit buah pepaya pada ransum terhadap luas urat mata daging rusuk dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rata-rata Luas Urat Daging Mata Rusuk Hasil Penelitian dari Perlakuan.

Ulangan Perlakuan Rataan

(cm2)

R0 R1 R2
  ——————– cm2——————–  
1 34,6 41,0 42,8
2 35,7 42,2 39,6
3 37,5 40,6 41,5
4 41,0 40,4 41,0
5 38,0 39,0 39,7
6 36,9 39,3 42,0
Rata-rata 37,2 a 40,4  b 41,1 b 39,6

Ket. Huruf yang sama dalam baris menunjukkan tidak berbeda nyata

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa rataan luas urat daging mata rusuk secara keseluruhan adalah 39,6 cm2. Hasil tersebut masih berada dalam kisaran normal sesuai dengan Figueroa (2001) yang meneliti nilai rata-rata luas urat daging mata rusuk pada babi periode finisher yaitu sebesar 42,97 cm2. Berdasarkan pemberian dosis tepung kulit buah pepaya : 0; 5 dan 10 %, diperoleh persentase karkas berturut-turut : 37,28; 40,41 dan 41,1 cm2.

Berdasarkan hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian berbagai dosis tepung kulit buah pepaya dapat meningkatkan luas daging mata rusuk (p<0,05) karena  Tepung kulit buah pepaya mengandung kadar protein yang cukup tinggi yaitu 25,85% dan serat kasar yang cukup rendah yaitu sebesar 12,51% (Laboratorium Nutrisi Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan UNPAD, 2008), sehingga dapat digunakan oleh ternak sebagai sumber asam amino untuk membentuk daging.   Selain itu  kulit buah papaya memiliki Enzim papain termasuk enzim protease, yaitu enzim yang menghidrolisis ikatan peptida pada protein, untuk melakukan aktivitasnya protease membutuhkan air sehingga dikelompokkan ke dalam kelas hidrolase. Protease berperan dalam sejumlah reaksi biokimia seluler, selain diperlukan untuk degradasi senyawa protein nutrien, protease terlibat dalam sejumlah mekanisme patogenisitas, sejumlah pasca translasi protein, dan mekanisme akspresi protein ekstraseluler.

Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Tepung Kulit Buah Pepaya Dalam Ransum Babi Periode Finisher Terhadap Tebal Lemak Punggung

Data hasil pengamatan selama penelitian tentang pengaruh berbagai dosis tepung kulit buah pepaya pada ransum terhadap tebal lemak punggung dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rata-rata Tebal Lemak Punggung Hasil Penelitian dari Perlakuan.

Ulangan Perlakuan Rataan

(cm)

R0 R1 R2
  ———————cm——————–  
1 3,3 2,8 2,5  
2 3,2 2,6 3,0
3 3,0 2,7 2,6
4 3,0 2,8 2,7
5 3,1 3,0 2,9
6 3,4 2,9 2,5
Rata-rata 3,1 2,8 2,7 2,88

 

Dari tabel 6 dapat dilihat bahwa rataan tebal lemak punggung secara keseluruhan adalah 2,88 cm. Hasil tersebut termasuk ke dalam kelas 1 sesuai dengan pendapat Forrest (1975) yang meneliti nilai rata-rata tebal lemak punggung pada babi periode finisher kelas 1 < 3,56 cm. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh tebal lemak punggung dengan urutan dari yang terbesar hingga yang terkecil adalah perlakuan R0 (3,1 cm), R1 (2,8cm), dan R2 (2,7 cm), untuk mengetahui pengaruh Kulit buah pepaya terhadap tebal lemak punggung dilakukan analis sidik ragam yang hasilnya adalah pemberian kulit buah pepaya dapat menurunkan tebal lemak punggung babi finisher  (p<0,05), dari sini dapat kita peroleh bahwa energi yang berlebihan pada ransum dengan adanya kulit tepung kulit buah papaya dapat di transformasi menjadi sumber protein tubuh. Enzim papain yang ada pada kulit buah papaya juga mampu meningkatkan kecernaan ransum terutama protein.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

            Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung kulit buah pepaya sampai tingkat 10 % dalam ransum tidak memberi pengaruh terhadap produksi karkas, tetapi berpengaruh nyata terhadap luas urat daging mata rusuk dan tebal lemak punggung babi periode finisher.

Tepung kulit buah pepaya sampai tingkat 10 % dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pakan alternatif sumber protein dalam ransum dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap produksi dan komponen karkas.

Saran

Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui batas maksimal penggunaan dosis tepung kulit buah pepaya yang memberikan pengaruh yang baik terhadap persentase karkas.

Penggunaan Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya) bisa dijadikan alternatif 10% sebagai pakan alternative untuk ternak babi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Atiya, dkk. 2001. Pemeriksaan Efek Anthelmentik Papain Kasar Terhadap Infeksi Buatan Cacing Haemonchus contortus. Rudolphi Pada Domba. JFF. MIPA. Unair.

Benbrook, E. A., and M. V. Sloss. 1961. Clinical Parasitology. 3  ed, Iowa State Univ. Press. Ames, Iowa, 3-17.

Kusumamihardja, S. 1992.  Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak dan Hewan Piara. Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Lawson, J. L. dan M. A. Gemmel. 1983.  Transmission in Hydatidosis and cysticercosis. Advance’s in Parasitology 2a:279.

Levine, ND. 1982.  Textbook Of Veterinary Parasitology.  Burgess Publishing Company.  USA.

NRC. 1998. Nutrient Requirments of Swine. Nutrient Requirments of Domestic Animal, Ninth Revised Edition National Academy Press. Washingthon DC.

Siagian H. Pollung. 1999. Manajemen Ternak Babi, Diktat Kuliah Jurusan Ilmu Produksi Ternak. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sihombing. 1997. Ilmu Ternak Babi. Cetakan Pertama. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Subronto, dan I. Tjahajati. 2001. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Soulsby, E.J.L.  1982.  Helminths, Antropods and Protozoa of Domesticated Animals. Inglish Laguage Book Service Bailiere Tindall.  7th Ed. Pp.231-257.

Tarmudji, Deddy Djauhari Siswansyah dan Gatot Adiwinata.  1988.  Parasit-parasit Cacing Gastrointestinal pada sapi-sapi di Kabupaten Tapin dan Tabalong Kalimantan Selatan, di dalam Penyakit Hewan.  Balai Penelitian Veteriner, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta.

Wiryosuhanto, S. D. dan Jacoeb, T. N.  1994.  Prospek Budidaya Ternak Sapi.

Kanisius.  Yogyakarta.

______________Papain juga dapat memecah makanan yang mengandung protein hingga terbentuk berbagai senyawa asam amino yang bersifat autointoxicating (http://www.cybermed.cbn.net.id. Diakses 25 Juni 2008)

____________. Papain mempunyai sifat Vermifuga kemampuan menguraikan protein sehingga protein terurai menjadi polipeptida dan dipeptida (http://www. Wikipedia. Com. Diakses 25 Juni 2008)

____________. Papain merupakan enzim protease sulfhidril dan akan mendegradasi protein-protein jaringan konektif dan myofibril (http://www.asiamaya.com. Diakses 25 Juni 2008).

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG KULIT BUAH PEPAYA (Carica papaya) DALAM RANSUM TERHADAP JUMLAH TELUR DAN LARVA CACING DALAM FESES TERNAK BABI PERIODE FINISHER

THE INFLUENCE OF GIVING PAPAYA SKIN FRUIT FLOUR (Carica papaya) IN RATION TOWARD THE SUMM OF EGGS AND WORM LARVA IN FECES OF PIG LIVESTOCK IN FINISHER PERIOD

Marsudin Silalahi , Sauland Sinaga

 

ABSTRAK

Penelitian telah dilakukan di Koperasi Peternak Babi Indonesia (KPBI), Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa jumlah telur dalam tiap gram feses yang terdapat pada ternak babi yang diberi pakan tepung kulit buah pepaya dan mengetahui jumlah larva yang menginvestasi ternak babi tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sensus dengan dua kali pengulangan pengambilan sampel, ternak penelitian yang digunakan adalah 18 ekor ternak babi sehingga diperoleh 36 sampel. Pengambilan feses dilakukan di kandang pemeliharaan diambil dari rektum dari tiap ekor ternak babi. Sampel yang telah diambil dianalisis kemudian dilakukan pemeriksaan untuk mengidentifikasi jumlah telur dan larva cacing yang menginfeksi ternak babi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh pengurangan jumlah telur cacing Strongylus sp, Ascaris sp dan Trichuris suis pada pemberian tepung kulit buah pepaya 5% dan 10% serta tidak ditemukan adanya larva  Strongylus sp, Ascaris sp dan Trichuris suis.

Kata kunci : babi, jumlah telur, jumlah larva, tepung kulit buah pepaya

 

ABSTRACT

The research had done at Koperasi Peternak Babi Indonesia (KPBI), Village of Kertawangi, Subdistrict Cisarua, Lembang, Regency of Bandung. This research aimed to know how many eggs in each gram of feces contain in pig livestock which was given papaya skin fruit flour and to know how many larvae invest that pig livestock. The research method used census method with two times repetition took sample, research livestock used 18 pigs livestock thus gained 36 samples. Feces collecting did in pen of hogs caring took from rectum each pig livestock. The samples took which had analyzed then investigated to know how many eggs and to know how many larvae invest that pig livestock. The results showed that the influence of reducing the amount of Strongylus sp worm eggs, Ascaris sp and Trichuris suis on the skin giving papaya powder 5% and 10% and amount of Strongylus sp, Ascaris sp and Trichuris suis did not find any larvae.

Keywords: pigs, amount of eggs, amount of larvae, papaya skin flour

 

 

PENDAHULUAN

            Babi merupakan salah satu komoditas ternak penghasil daging yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena mempunyai sifat – sifat menguntungkan diantaranya : laju pertumbuhan yang cepat, jumlah anak perkelahiran (litter size) yang tinggi, efisien dalam mengubah pakan menjadi daging dan memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap makanan dan lingkungan.

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha pengembangan ternak babi dari aspek manajemen adalah faktor kesehatan atau kontrol penyakit. Ternak babi sangat peka terhadap penyakit, salah satunya adalah penyakit endoparasit. Parasit merupakan makhluk hidup yang dalam kehidupannya menggunakan makanan makhluk hidup lain sehingga sifatnya merugikan. Cacing mempunyai salah satu sifat merugikan yaitu menimbulkan gangguan nafsu makan dan pertumbuhan. Gangguan pada pertumbuhan akan berlangsung cukup lama sehingga produktivitas akan turun. Gejala-gejala dari hewan yang terinfeksi  cacing antara lain, badan lemah dan bulu rontok. Jika infeksi sudah lanjut diikuti dengan anemia, diare dan badannya menjadi kurus yang akhirnya bisa menyebabkan kematian. Adanya parasit di dalam tubuh ternak tidak harus diikuti oleh perubahan yang sifatnya klinis. Kehadiran parasit cacing bisa diketahui melalui pemeriksaan feses, dimana ditemukan telur cacing, makin banyak cacing makin banyak pula telurnya. Perubahan populasi cacing dalam perut babi dapat diikuti dengan menghitung telur tiap gram feses (TTGF) secara rutin.

Tingkat prevalensi parasit cacing  tergantung pada jumlah dan jenis cacing yang menginfeksinya. Guna mengurangi resiko akibat infestasi cacing ini perlu diketahui jenis cacing, siklus hidup dan epidemologi dari cacing tersebut. Mengendalikan parasit diperlukan pemeriksaan rutin terhadap adanya endoparasit, terutama jenis dan derajat infestasi yang dapat dilakukan bersama-sama dengan pemeriksaan fisik secara rutin (Subronto dan Tjahajati, 2001). Masalah penyakit khususnya penyakit cacingan pada babi dapat diatasi dengan cara menggunakan obat cacing. Pemberian obat-obatan tersebut harus diulang-ulang dan disesuaikan dengan daur hidup cacing. Biaya yang dibutuhkan untuk pemberian obat cacing memerlukan biaya yang mahal. Alternatif lainnya untuk pengobatan adalah dengan pemberian obat tradisional yang dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu jenis flora yang ada di negara kita yaitu pepaya. Selain mudah didapat buah pepaya pun relatif murah harganya.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya (Carica papaya) Dalam Ransum Terhadap Jumlah Telur Dan Larva Cacing Dalam Feses Ternak Babi Periode Finisher”.

 

Identifikasi Masalah

Jumlah telur dan larva cacing dalam tiap gram feses yang terdapat pada babi finisher yang diberi pakan tepung kulit buah papaya (Carica papaya).

Maksud dan Tujuan Penelitian

Mengetahui jumlah telur dan larva cacing dalam tiap gram feses yang terdapat pada babi yang diberi pakan tepung kulit buah papaya (Carica papaya).

Kerangka Pemikiran

Parasit merupakan makhluk hidup yang dalam kehidupannya mengambil makanan makhluk lain, sehingga sifatnya merugikan. Parasit dibagi menjadi dua macam, yaitu ektoparasit dan endoparasit. Ektoparasit adalah parasit yang hidupnya dipermukaan tubuh hewan, yang keberadaannya mengganggu ketentraman hewan dalam pemeliharaan sehingga akan mengganggu proses fisiologis hewan tersebut, sedangkan endoparasit adalah yang hidup di dalam tubuh hewan.

Endoparasit di dalam tubuh akan merampas zat-zat makanan yang diperlukan bagi induk semangnya, cacing dalam jumlah banyak akan mengakibatkan kerusakan usus atau menyebabkan terjadinya berbagai reaksi tubuh yang antara lain disebakan oleh toksin yang dihasilkan oleh cacing-cacing tersebut. Parasit-parasit tersebut biasanya tidak menyebabkan kematian pada hewan secara langsung, melainkan mengakibatkan terjadinya penurunan berat badan pada hewan dewasa dan pertumbuhan akan terhambat pada hewan-hewan muda. (Tarmudji dkk, 1988). Penyakit endoparsit, terutama cacing, menyerang hewan pada usia muda (kurang dari 1 tahun). Presentase yang sakit oleh endoparasit dapat mencapai 30% dan angka kematian yang bisa ditimbulkan adalah sebanyak 30% (Wiryosuhanto dan Jacoeb, 1994).

Menurut Subronto dan Tjahajati (2001), untuk terjadinya infeksi, parasit harus mampu mengatasi pertahanan tubuh hospes definitive. Hubungan parasit dengan hospes dan keadaan sekitarnya perlu dianalisis untuk tiap keadaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah parasit sehingga mampu berkembang serta mencapai kematangan seksual tergantung pada (a) kesempatan hospes berkenalan dengan parasit, (b) biologi parasit, dan (c) tingkat kerentanan hospes. Tiap parasit memiliki sifat khusus dalam daur hidupnya dan kemampuan dari parasit untuk menghasilkan keturunannya.

Jumlah telur tiap gram feses (TTGF) berbanding lurus dengan jumlah cacing betina dewasa yang terdapat dalam saluran pencernaan (Robert dan Swann 1981 dalam Kusumamihardja 1992). Gejala terserangnya parasit cacing akan terjadi tergantung dari jenis parasit, kondisi induk semang, organ yang dipengaruhinya, jumlah parasit, iklim dan umur hewan.  Beberapa faktor yang akan mempengaruhi pertumbuhan cacing diantaranya kepadatan inang antara dan inang definitif, derajat infeksi dari inang definitif, serta penyebaran inang yang terinfeksi oleh cacing tersebut (Lawson dan Gemmel, 1983). Beberapa alternatif zat aditif telah ditawarkan bagi peternak untuk memicu produksi dan reproduksi yang dihasilkan melalui ekstraksi berbagai jenis tanaman yang mempunyai senyawa bioaktif sebagai antioksidan, antibiotik, meningkatkan nafsu makan, meningkatkan sekresi enzim-enzim pencernaan dan meningkatkan kekebalan tubuh, untuk itu negara kita mempunyai peluang cukup besar karena kaya akan keanekaragaman sumber daya alam hayati.

Pepaya (Carica papaya L) merupakan tanaman obat tradisional yang memiliki khasiat sebagai penambah nafsu makan, obat cacing, menurunkan tekanan darah, anemia dan membunuh amuba. Kandungan kimia yang dikandung pepaya antara lain enzim papain, alkaloid karpaina, glikosid, saponin, sakarosa, dextrosa serta mengandung vitamin A yang cukup tinggi yaitu 18.250 IU yang berfungsi sebagai provitamin A. Papain juga dapat memecah makanan yang mengandung protein hingga terbentuk berbagai senyawa asam amino yang bersifat autointoxicating atau otomatis menghilangkan terbentuknya substansi yang tidak diinginkan akibat pencernaan yang tidak sempurna. (Cybermed.cbn.net.id, 2006). Papain mempunyai sifat Vermifuga kemampuan menguraikan protein sehingga protein terurai menjadi polipeptida dan dipeptida. Cacing termasuk protein yang tidak terlindungi oleh selaput sehingga bila papain masuk ke saluran usus yang banyak mengandung cacing, cacing tersebut akan terurai atau menghindar dengan keluar dari lubang anus. Papain bisa memecah protein menjadi arginin, senyawa arginin merupakan salah satu asam amino esensial yang dalam kondisi normal tidak bisa diproduksi tubuh dan biasa diperoleh melalui pakan, namun bila enzim papain terlibat dalam proses pencernaan protein, secara alami sebagian protein dapat diubah menjadi arginin. Proses pembentukan arginin dengan papain ini turut mempengaruhi produksi hormon pertumbuhan. (Wikipedia.com, 2006).

Papain melemaskan cacing dengan cara merusak protein tubuh cacing. Papain merupakan enzim protease sulfhidril dan akan mendegradasi protein-protein jaringan konektif dan myofibril. Proses penguiraian protein pada cacing terjadi melalui mekanisme pemutusan ikatan sebagai berikut : —Phe—AA — Z;—Val—AA— Zi—Leu—AA—Z;—He—AA—Z

(AA merupakan residu asam amino; z merupakan residu asam amino; ester, atau amida) (Asiamaya.com, 2001).

Beberapa penelitian yang mendukung pemanfaatan pepaya sebagai anthelmetika diantaranya yang dilakukan secara in vitro (Atiyah, 2001) dalam penelitiannya digunakan bahan berupa getah yang diperoleh dengan cara menyadap buah muda pepaya tanpa dipetik. Isolasi papain dilakukan dengan membiarkan getah dalam alkohol 80%, sehingga papain akan mengendap. Endapan papain dikeringkan dalam oven bersuhu 50 – 550C selama enam jam, uji terhadap Ascaris sp dilakukan dengan merendam cacing pada larutan papain secara in vitro bekerja sebagai antelmentik pada dosis 600 mg. Perlakuan efek antelmentik papain kasar terhadap cacing lambung (Haemochus contortus), secara in vivo pada domba jantan terinfeksi, dilakukan (Ridayanti, 2001) hasilnya menunjukkan pemberian papain kasar sampai 0,6 g/kg bobot badan meyebabkan penurunan jumlah cacing dan telurnya. (Nuraini, 2001) dari Jurusan Biologi FMIPA Unair, dalam penelitiannya membuktikan, secara in vitro pemberian 50% perasan daun pepaya gantung (Carica papaya) setelah setengah jam, sudah menimbulkan efek kematian pada cacing hati sapi (Fasciola gigantica). Bila lamanya mencapai dua jam, semua cacing yang direndam akan mati (Atiya, dkk. 2001). Berdasarkan kerangka pemikiran diatas diambil hipotesa bahwa pemberian limbah kulit buah pepaya mampu mengurangi jumlah telur dan larva cacing.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1 Mei sampai tanggal 20 Juni 2009 di Koperasi Peternak Babi Indonesia (KPBI), Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung. Analisis dilakukan di Laboratorium Balai Penyidikan Penyakit Hewan dan Kesmavet (BPPHK) Jl. Raya Tangkuban Perahu. KM 22 Cikole Lembang.

TINJAUAN PUSTAKA

Deskripsi Ternak Babi

Babi merupakan ternak monogastrik yang memiliki kesanggupan dalam mengubah bahan makanan secara efisien apabila ditunjang dengan kualitas ransum yang dikonsumsi. Besarnya konversi babi terhadap ransum ialah 3,5 artinya untuk menghasilkan berat babi 1 kg dibutuhkan makanan sebanyak 3,5 kg ransum (Goodwin, D. H. 1974). Babi lebih cepat tumbuh, cepat dewasa dan bersifat prolifik yang ditunjukkan dengan banyaknya anak dalam setiap kelahiran yang berkisar antara 8 -14 ekor dengan rata-rata dua kali kelahiran pertahunnya (Sihombing, 1997).

Beberapa jenis penyakit pada babi khususnya penyakit parasiter oleh cacing masih banyak ditemukan di lapangan, antara lain Nematodiosis.  Penyakit  ini disebabkan oleh  cacing dari klas nematoda atau cacing gilig.  Infeksi cacing ini menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi, karena menyebabkan pertumbuhan ternak menjadi tidak optimal. Akhir-akhir ini telah mulai adanya laporan tentang adanya sifat resistensi cacing terhadap beberapa jenis sediaan antelmintika (obat pembasmi cacing)  yang diduga disebabkan oleh penggunaan obat yang tidak rasional (ketidak tepatan  pemilihan obat, waktu pengobatan dan dosis yang diberikan).  Penelitian ini dilakukan dengan harapan hasilnya dapat digunakan sebagai acuan dalam  memberantas cacingan khususnya untuk babi-babi yang kaji.

            Pada dasarnya babi mengkonsumsi makanannya untuk memenuhi kebutuhan energinya, yang dipakai untuk mengatur suhu tubuh, fungsi vital, aktivitas, reproduksi dan produksi. Untuk babi jumlah makanan yang dikonsumsi sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan, kandungan energi ransum, dan level pemberian makanan. Untuk babi di daerah tropis, jumlah makanan yang dikonsumsi cenderung lebih sedikit daripada di daerah subtropis. Hal ini akan berdampak negatif terhadap performans ternak babi khususnya di daerah tropis, jika tidak diimbangi dengan pemberian nutrient esensial yang secukupnya, oleh karena itu perlu disusun ransum seimbang yang mengandung nutrien lengkap dan jumlah serta proporsi yang tepat agar ternak babi dapat berkembang dengan baik dan sehat.

 

Endoparasit  Pada Ternak Babi

            Parasit merupakan mahluk hidup yang dalam kehidupannya mengambil makanan mahluk hidup lain, sehingga sifatnya merugikan. Parasit dibagi menjadi dua macam, yaitu ektoparasit dan endoparasitEktoparasit adalah parasit yang hidupnya dipermukaan tubuh hewan, yang keberadaannya mengganggu ketentraman hewan dalam pemeliharaan sehingga akan mengganggu proses fisiologis hewan tersebut, sedangkan endoparasit adalah yang hidup di dalam tubuh hewan.

Menurut Subronto dan Tjahajati (2001), untuk terjadinya infeksi, parasit harus mampu mengatasi pertahanan tubuh hospes definitif. Dalam tubuh hospes yang bertindak sebagai reservoir, populasi parasit harus mantap dari generasi induk sampai generasi selanjutnya. Parasit dapat lepas dari hospes yang bertindak sebagai reservoir dengan cara parasit dibebaskan oleh hospes dan langsung masuk ke dalam tubuh hospes definitif atau hospes yang bertindak sebagai reservoir dihancurkan terlebih dahulu dan baru masuk setelah parasit bebas masuk ke dalam tubuh hospes definitive. Penularan terhadap hospes yang rentan oleh parasit stadium infektif yang terdapat di luar tubuh hospes definitif dimungkinkan apabila parasit sanggup mengatasi faktor lingkungan, persaingan antar parasit sendiri dan gangguan secara mekanis oleh ternak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah parasit sehingga mampu berkembang serta mencapai kematangan seksual tergantung pada (a) kesempatan hospes berkenalan dengan parasit, (b) biologi parasit, dan (c) tingkat kerentanan hospes. Tiap parasit memiliki sifat khusus dalam daur hidupnya dan kemampuan dari parasit untuk menghasilkan keturunannya. Parasit akan bertahan tergantung pada jumlah telur yang dihasilkan, panjang waktu menghasilkan telur dan jumlah telur yang dihasilkan setiap hari (Subronto dan Tjahajati, 2001).

 

Helminthiasis  Pada Ternak Babi

Kesehatan Ternak Babi dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain kondisi lingkungan pemeliharaan, makanan, pola manajemen, bibit penyakit dan kelainan – kelainan metabolisme. Presentase ternak yang sakit oleh endoparasit dapat mencapai 30% dan angka kematian yang bisa ditimbulkan adalah sebanyak 30% (Wiryosuhanto dan Jakob, 1994).

            Nematoda adalah cacing yang hidup bebas atau sebagai parasit.  Ciri-ciri tubuhnya tidak bersegmen dan biasanya berbentuk silinder yang memanjang serta meruncing pada kedua ujungnya. Nematoda memiliki siklus hidup langsung, sehingga tidak memerlukan inang antara dalam perkembangan hidupnya. Cacing betina dewasa bertelur dan mengeluarkan telur bersamaan dengan tinja, di luar tubuh telur akan berkembang. Larva infektif dapat masuk ke dalam tubuh babi secara aktif, tertelan atau melalui gigitan vektor berupa rayap. Badannya dibungkus oleh lapisan kutikula yang dilengkapi dengan gelang – gelang yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa (Kusumamihardja, 1992).

Strongylus sp

Strongylus sp merupakan cacing parasit pada ternak babi, berdasarkan klasifikasi taksonomi dalam Soulsby (1982) cacing ini termasuk dalam klasifikasi :

Filum               :  Nemathelminthes

Kelas               :  Nematoda

Ordo                :  Strongylyda

Superfamili      :  Strongyloidea

Famili              :  Strongylus

  Spesies           :  Strongylus vulgaris, Strongylus equines, Stronglus 

   Edentates

 

Morfologi an Siklus Hidup

Cacing Strongylus sp mulutnya dilapisi oleh kapsul yang bentuknya hampir bulat. Suatu cincin yang tersusun dari tonjolan – tonjolan seperti pagar dikenal sebagai korona radiata mengelilingi mulut. Cacing ini tidak mempunyai gigi ataupun lempeng – lempeng pemotong, cacing jantan mempunyai suatu pelebaran di ujung posteriornya dan cacing betina mempunyai ujung ekor yang lancip.

Strongylus sp memliki siklus hidup langsung. Cacing betian dewasa bertelur dan keluar tubuh inang bersama dengan feses. Di luar tubuh inangnya telur akan berkembang. Perkembangan sel telur setelah terjadinya pembelahan membagi diri menjadi dua, lalu empat dan seterusnya. Kemudian embrio berkembang menajdi masa morula kemudian masa kecebong yaitu ujung anteriornya lebar dan embrionya melingkar dua kali.  Pada kondisi tropis di Indonesia yang suhunya 280C – 300C  merupakan suhu yang relatif baik untuk menetasnya telur strongylus sp. Telur akan berkembang menjadi L3 dalam waktu 3 – 4 hari.

Telur strongylus sp menetas di luar tubuh induk semang menghasilkan larva 1 (L1) dalam suhu 80C – 380C kemudian melewati dua kali ekdisis (ganti kulit) menjadi L2 dan selanjutnya L3 disebut stadium infektif. Larva pertama biasanya keluar dari telur yang berumur dua hari bila keadaan baik. Larva makan bakteri yang terdapat dalam feses kemudian melakukan ekdisis dua kali dalam waktu 5 – 6 hari sehingga mencapai larva ketiga (larva infektif). Larva infektif memiliki selubung kutikula ganda sehingga relatif lebih tahan teehadap berbagai kondisi buruk.

Gejala Klinis dan Patogenesis

            Patogenesis infestasi cacing adalah proses perubahan patologis yang terjadi akibat interaksi antara cacing dan inangnya. Jenis dan perluasan dari kontak parasit dan jaringan inang ditentukan oleh mekanisme biologis yang tak terpisahkan antara parasit dan proses fisiologik induk semang yang merespon masuknya cacing.

            Larva strongylus sp mulai menimbulkan kerusakan pada saat menyusup dalam dinding usus kecil dan usus besar. Selanjutnya larva keempat dan kelima menimbulkan kerusakan pada sistem arteri dan mulai katup aorta sampai arteri mesenterica cranialis dan cabang-cabangnya. Peradangan terjadi pada lapisan media dan menimbulkan thrombus (darah beku). Larva biasanya terbungkus dalam thrombus, bila thrombus ini lepas biasanya berakibat fatal terutama bila thrombus ini terjadi pada daerah pangkal sistem arteri yang bisa mengakibatkan penyumbatan arteri coronaria (Kusumamihardja, 1992).

Ascaris sp

Berdasarkan kalsifikasi taksonomi dalam soulsby (1986) cacing ini termasuk dalam klasifikasi :

Filum               :  Nematoda

Kelas               :  Secernentea

Ordo                :  Ascaridida

Famili              :  Ascarididae

Genus             :   Ascaris

Spesies           :   Ascaris sp, Ascaris lumbricoides

 

Morfologi dan Siklus Hidup

Cacing Ascaris sp  merupakan jenis cacing gilig penyebab ascariasis pada ternak babi, teutama babi muda di seluruh dunia (Soulsby, 1982). Kejadian ascariasis sangat tinggi pada babi-babi di daerah tropis dan sub tropis (Chan, 1997 dalam Tsuji, et al (2003). Cacing ini  berparasit pada usus halus (Soulsby, 1982). Infeksi dapat terjadi melalui pakan, air minum, puting susu yang tercemar, melalui kolostrum dan uterus (Levine, 1990).

Siklus hidup ascaris terdiri dari 2 fase perkembangan, yaitu eksternal dan internal. Fase eksternal  dimulai  dari sejak telur dikeluarkan dari tubuh penderita bersama tinja. Pada kondisi lingkungan yang menunjang larva stadium 1 di alam akan menyilih menjadi larva stadium 2 yang bersifat infektif ( siap menulari ternak babi jika tertelan). Di dalam usus, kulit  telur  infektif yang tertelan akan rusak sehingga larva terbebas (larva stadium II). Larva stadium II tersebut selanjutnya  menembus mukosa usus dan bersama sirkulasi darah vena porta menuju ke hati. Dari telur tertelan sampai larva mencapai organ hati, butuh waktu sekitar  24 jam (Smith, 1968). Dari hati, larva stadium II  akan terus mengikuti sirkulasi  darah sampai ke organ jantung  dan paru-paru. Setelah 4 – 5 hari infeksi, larva stadium II akan mengalami perkembangan menjadi larva stadium III, selanjutnya menuju ke alveoli, bronkus dan trakhea (Soulsby, 1982).  Dari trakea, larva menuju ke saluran pencernaan. Larva stadium III mencapai  usus halus  dalam waktu 7 – 8 hari dari infeksi, selanjutnya menjadi larva stadium IV, pada hari ke 21-29 larva stadium IV menjadi larva stadium V di dalam usus halus (Lapage, 1956) dan selanjutnya pada hari ke 50 – 55 telah menjadi cacing dewasa (Seddon, 1967). Satu ekor cacing betina dewasa rata-rata bertelur 200.000 butir per hari dan selama hidupnya diduga dapat bertelur 23 milyar butir (Dunn, 1978).

 

Gejala Penyakit dan Patogenesis

Ascaris sp merupakan cacing yang sangat berbahaya karena telurnya dapat masuk ke saluran pencernaan dan telur akan menjadi larva pada usus. Larva akan menembus usus dan masuk ke pembuluh darah. Ia akan beredar mengikuti sistem peredaran, yakni hati, jantung dan kemudian di paru-paru. Pada paru-paru, cacing akan merusak alveolus, masuk ke bronkiolus, bronkus, trakea, kemudian di laring. Ia akan tertelan kembali masuk ke saluran cerna. Setibanya di usus, larva akan menjadi cacing dewasa.

Pada stadium larva, Ascaris dapat menyebabkan gejala ringan di hati dan di paru-paru akan menyebabkan sindrom Loeffler. Sindrom Loeffler merupakan kumpulan tanda seperti demam, sesak nafas, eosinofilia, dan pada foto Roentgen thoraks terlihat infiltrat yang akan hilang selama 3 minggu. Pada stadium dewasa, di usus cacing akan menyebabkan gejala khas saluran cerna seperti tidak nafsu makan, muntah-muntah, diare, konstipasi, dan mual. Bila cacing masuk ke saluran empedu makan dapat menyebabkan kolik atau ikterus. Bila cacing dewasa kemudian masuk menembus peritoneum badan atau abdomen maka dapat menyebabkan akut abdomen.

Trichuris suis

Berdasarkan klasifikasi taksonomi dalam Soulsby (1986) cacing ini termasuk dalam klasifikasi :

Filum               :  Nematoda

Kelas               :  Adenophorea

Ordo                :  Trichurida

Famili              :  Trichuridae

Genus             :  Trichuris

Spesies           :  Trichuris suis

 

Morfologi dan Siklus Hidup

Cacing Trichuris sp berparasit pada mukosa kolon babi (Anonimous, 2004a). Selain menginfeksi babi-babi peliharaan, juga dilaporkan menginfeksi babi liar dan babi hutan. Cacing ini sering disebut Whipworm. Morfologinya hampir sama dengan Trichuris trichura yang menginfeksi manusia dan primata lain, namun belum ada bukti kongkret yang menyatakan bahwa kedua parasit tersebut dapat saling bertukar induk semang seperti halnya cacing Ascaris sp pada babi dan manusia (Soulsby, 1982). 

Siklus hidup  cacing Trichuris sp, di mulai dari keluarnya  telur dari tubuh bersama tinja dan berkembang menjadi telur infektif dalam waktu beberapa minggu. Telur yang sudah berembrio dapat tahan beberapa bulan apabila berada di tempat yang lembab. Infeksi biasanya terjadi  secara peroral (tertelan lewat pakan dan atau air minum). Apabila tertelan, telur-telur tersebut pada sekum  akan menetas dan dalam waktu sekitar empat minggu telah menjadi cacing dewasa (Soulsby, 1982).

Epidemiologi Cacing pada Ternak Babi

            Studi tentang epidemiologi cacing pada ternak babi bertujuan untuk menyelidiki fluktuasi jumlah telur dalam feses. Jumlah cacing nematoda selain dipengaruhi oleh iklim juga dipengaruhi oleh cara pemeliharaan. Situasi lingkungan dan pengairan tempat perkandangan perlu diperbaiki dengan baik agar dapat dihindari daerah perkandangan yang lembab dan basah atau banyak kubangan tidak sehat yang memungkinkan sebagai tempat hidupnya induk semang antara lain, khususnya siput. Kesehatan lingkungan perkandangan biasanya dapat dipelihara dengan baik. Kebersihan kandang harus terjaga dan dihindari adanya pakan yang masih tersisa di malam hari. Sejauh mungkin diupayakan agar seluruh pakan yang disediakan habis termakan dan tidak banyak yang jatuh berceceran di lantai atau menumpuk di sekitar kandang.

Faktor suhu dan kelembaban sangat besar pengaruhnya terhadap  kelangsungan hidu cacing stasium bebas di alam. Suhu optimum baggi kehidupan tiap parasit berbeda-beda tergantung dari spesiesnya. Kisaran suhu yang diperlukan oleh Nematoda stadium bebas di alam adalah antara 180-380C. Selain suhu faktor lain yang berpengaruh adalah kelembaban. Kelembaban yang tinggi sangat membantu dalam menghancurkan feses yang diduga mengandung telur cacing yang dapat meningkatkan stadium infektif dari cacing.

Kerugian Akibat Infestasi Parasit Cacing

            Adanya infestasi parasit cacing yang patogen di dalam tubuh ternak tidak selalu mengakibatkan parasitisme yang sifatnya klinis. Parasitisme cacing baru akan memperlihatkan gejala klinis bila keseimbangan hubungan terganggu, yang mungkin disebabkan oleh kepekaan hospes yang menurun dan atau oleh peningkatan jumlah cacing yang patogen di dalam tubuh ternak. Kerusakan jaringan oleh parasit yang virulen dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Perubahan yang ditimbulkan oleh parasit cacing dapat berupa (1) kerusakan sel dan jaringan, (2) perubahan fungsi faal dari hospes, (3) penurunan daya tahan terhadap agen penyakit lain, (4) masuknya agen penyakit sekunder setelah terjadinya kerusakan mekanik lain dan (5) parasit mampu menyebarkan mikroorganisme patogen.

Jumlah TTGF dapat dipakai sebagai penduga barat atau ringannya derajat infestasi. Infestasi ringan memiliki jumlah TTGF 50-500, infestasi sedang memiliki TTGF 500-2000 dan infestasi berat memiliki jumlah TTGF lebih dari 2000 (Taazona dalam Kusumamihardja, 1992), derajat keparahan infestasi tergantung jumlah cacing yang menginfestasi. Penurunan berat badan akan terjadi pada infestasi 300 ekor dewasa atau setara dengan 1800 TFGF (Kusumamihardja, 1992).

Infestasi parasit cacing dapat menyebabkan penurunan bobot badan dan gastritis. Penurunan berat badan dapat terjadi akibat anoreksia, peningkatan asam lambung, gastrin dan kolesistokinin yang menyebabkan pengosongan lambung secara cepat sehingga penyerapan makanan kurang efektif. Cacing merampas sari-sari makanan yang diperlukan bagi hospes, menghisap darah atau cairan tubuh dan makan jaringan tubuh. Gejala-gejala yang timbul pada hewan yang terinfestasi cacing antara lain badan lemah, nafsu makan kurang, bulu rontok, kulit pucat dan penurunan produksi susu. Jika infestasi sudah lanjut diikuti anemia, diare dan badannya menjadi kurus yang akhirnya bisa menyebabkan kematian (Subronto dan Ida Tjahajati, 2001).

Pengendalian Penyakit Cacingan pada Babi

Pengendalian penyakit cacing memerlukan penanganan yang terncana secara baik dengan memperlihatkan faktor pengobatan dan tatalaksana pemeliharaan ternak yang memadai. Peternak seringkali mengabaikan managemen peternakan yang baik, apabila dikaji secara seksama akan terlihat betapa besar kerugian yang dapat ditimbulkan oleh infrksi cacing.

Obat yang diberikan dan cara pemberiannya harus sesuai dengan petunjuk dokter hewan agar lebih efektif dan efisien. Pemberantasan penyakit cacing pada babi tidak cukup hanya mengandalkan ilmu pengobatan saja, tetapi harus memperhitungkan pula faktor ekonomi, penataan lingkungan, kebersihan kandang, daur hidup cacing serta tidak bisa hanya diberikan satu kali saja. Pemberian obat medik harus diulang – ulang dan disesuaikan dengan daur hidup cacing.

Potensi Limbah Buah Pepaya

Penyakit cacing pada ternak babi selain dapat diobati menggunakan obat – obatan medik, dapat juga diobati dengan menggunakan obat alternatif yaitu dengan pemberian tepung kulit buah pepaya. Tepung kulit buah pepaya mengandung zat atau enzim papain yang dapat berfungsi sebagai obat cacing atau anthelmentik. Enzim papain termasuk enzim protease, yaitu enzim yang menghidrolisis ikatan peptida pada protein, untuk melakukan aktivitasnya protease membutuhkan air sehingga dikelompokkan ke dalam kelas hidrolase. Protease berperan dalam sejumlah reaksi biokimia seluler, selain diperlukan untuk degradasi senyawa protein nutrien, protease terlibat dalam sejumlah mekanisme patogenisitas, sejumlah pasca translasi protein, dan mekanisme akspresi protein ekstraseluler. Pelepasan protease oleh cacing nematoda parasitik mempunyai peranan penting pada proses reaksi biologik seperti metabolisme protein. aktivitas protease mempunyai korelasi signifikan pada saat cacing parasitik menjalani penetrasi ke jaringan.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Bahan dan Alat Penelitian

Ternak yang digunakan adalah 18 ekor ternak babi hasil persilangan Landrace dengan Yorkshire. Kisaran bobot badan rata-rata ternak babi adalah 60,56 kg dengan koefisien variasi 1,42%. Babi ditempatkan secara acak dalam kondisi kandang individu dengan kondisi lingkungan yang sama dan jenis kelamin babi yaitu jantan kastrasi. Ransum yang diberikan pada ternak percobaan dalam penelitian berupa tepung. Bahan ransum didapat dari PT. Karya Mulya, Leles Kabupaten Garut. Bahan tersebut dikeringkan kemudian digiling hingga menjadi tepung.

  Alat-alat yang digunakan untuk mengindentifikasi jumlah telur dan larva cacing adalah : Mikroskop, alat untuk mengidentifikasi dan menghitung telur cacing (McMaster), cover glass, rak tabung, Erlenmeyer, gelas ukur, batang pengaduk, pipet pasteur, corong glass, timbangan, kain kassa, kapas, tabung reaksi, tabung sentrifugasi, sentrifugasi, cawan petri.

Kandang yang digunakan untuk penelitian adalah kandang individu yang berukuran 2 x 0,6 x 1,2 m dengan lantai semen dan beratap seng. Setiap unit kandang dilengkapi dengan tempat makan yang terbuat dari semen dan tempat minum otomatis berupa pentil yang terbuat dari besi tahan karat yang dihubungkan dengan tempat penampung air. Jumlah kandang yang diperlukan sebanyak 18 unit.

Ransum Penelitian

Bahan  yang digunakan dalam penelitian ini adalah ransum basal yang terdiri dari tepung jagung, tepung ikan, bungkil kelapa, tepung tulang, dedak padi dan tepung kulit pepaya. Kandungan nutrisi ransum basal dan tepung limbah kulit pepaya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1. Kandungan nutrisi ransum basal dan tepung kulit buah pepaya.

Kandungan Gizi Ransum Penelitian

(*)

Tepung Kulit Buah Pepaya (**)
EM (kkal) 3244,8 2419
PK (%) 14 25,85
SK (%) 7,5 2,39
Ca (%) 0,32 18,52
P (%) 0,66 0,88

Sumber : (*) NRC, 1998

                (**) Permana, 2007

Tabel 2. Kandungan nutrisi ransum penelitian

Kandungan Nutrisi Ransum Penelitian
R0 R1 R2
EM (kkal) 3244,8 3203,51 3162,22
PK (%) 14 14,5925 15,185
SK (%) 7,5 8,051 8,062
Ca (%) 0,32 0,4235 0,527
P (%) 0,66 0,671 0,682

Keterangan :

R0 = 100% ransum basal

R1 = 95% ransum basal + 5% tepung kulit buah pepaya

R2 = 90% ransum basal + 10% tepung kulit buah pepaya

Metode Penelitian

Tahap Penelitian

  1. Persiapan kandang, pengadaan ternak, pengadaan ransum, dan peralatan. Setiap ekor babi dimasukkan ke kandang individu.
  2. Adaptasi babi terhadap ransum, kandang, perlakuan, dan lingkungan dilakukan selama satu minggu.
  3. Kandang dibersihkan dua kali sehari yaitu pada pukul 06.00 dan 12.00 WIB. Kandang dibersihkan dari semua kotoran yang dibuang ke saluran pembuangan, setelah itu babi dimandikan agar bersih dan merasa nyaman.
  4. Pemberian ransum sebanyak 1 kg/ekor dan dilakukan tiga kali sehari, yaitu pukul 06.00, 12.00 dan 16.00 WIB sehingga jumlah ransum per hari adalah 3 kg/ekor.
  5. Pemberian tepung kulit buah pepaya dilakukan dengan cara mencampurnya dalam 1 kg ransum pertama dalam 3 kali pemberian (total 3 kg/hari), diberikan pada babi sampai habis dikonsumsi.
    1. Pengambilan sampel feses yang akan diteliti dilakukan pada pagi hari setelah pembersihan kandang. Pengambilan dilakukan setelah ternak babi diberi perlakuan RVM, R1, R2 dan R3, selama 2 minggu.

 

Pengambilan Sampel Feses di Lapangan

Pengambilan sampel dilakukan terhadap 18 sampel feses yang diambil sebanyak 1 kali, dari 18 ekor babi. Feses dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberi label kemudian dimasukkan ke dalam termos es yang berisi icebrite dan dibawa menuju laboratorium BPPHK Cikole – Lembang, kemudian dilakukan pemeriksaan baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Pemeriksaan kualitatif dimaksudkan untuk mengidentifikasi jenis cacing yang menginfeksi babi berdasarkan bentuk dan ukuran telur dari larvanya, sedangkan pemeriksaan kuantitatif dimaksudkan mengetahui banyaknya telur cacing setiap gram feses (TTGF) yang menggambarkan berat ringannya derajat infeksi. Hasil pengamatan dijelaskan secara deskriptif yaitu menjelaskan tentang jumlah telur dan jenis cacing yang menginfestasi babi. Metode kuantitatif yang digunakan adalah metode McMaster, sedangkan metode kualitatif dilakukan dengan melihat bentuk dan ukurannya, kemudian dibandingkan dengan bentuk dari standar yang sudah dikenal (Soulsby, 1982).

Penghitungan Telur Cacing (Metode Mc Master)

Penyiapan larutan pengapung : Larutan pengapung dibuat dari campuran garam (NaCl) 400 gr dan gula (C6H12O6) 500 gr yang ditambahkan air dua liter kemudian diaduk sampai larut. Penghitungan telur cacing : dilakukan dengan metode McMaster. Sebanyak dua gram feses dilarutkan dalam 60 ml larutan pengapung yang kemudian dihomogenkan tiga kali dengan cara menuang dari satu gelas ke gelas lain lalu dimasukan dalam kamar hitung McMaster dengan Pipet Pasteur. Dilakukan pemeriksaan mikroskopis dengan pembesaran 10 x  10. Untuk mengetahui jumlah Total Telur tiap Gram Feses (TTGF) dihitung dengan menggunakan metode Mcmaster dengan rumus sebagai berikut:

TTGF  =  (n/bf) X (Vtot/Vhit)

Vtot      =  Volume  dari 2 gr feses ditambah larutan pengapung

Vhit      =  Volume Kamar Hitung ( 2 x 0,5)

Bf        =  Berat feses (2 gr)

N         =  Jumlah Telur yang ditemukan

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Pada pelaksanaan penelitian terdapat 3 macam perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 6 kali.

Identifikasi Jenis Cacing Berdasarkan Larva

Untuk memeriksa Larva dilakukan dengan 3 tahap  yaitu :

  1. 1.      Pembuatan Kultur Feses

Feses yang sudah diperiksa dan positif mengandung telur dicampur dengan kompos steril (Vermikulate) dengan perbandingan yang sama. Kondisinya dibuat menjadi lembab dengan menambah sedikit air. Campuran feses dengan kompos steril diletakan dalam inkubator selama 6-7 hari dengan kisaran suhu  25-27 0C atau pada suhu ruangan sehingga semua larva mencapai taraf infektif.

  1. 2.      Pengumpulan Larva dari Kultur

Setelah diinkubasi, tutup petridish kultur dibuka dan masukan air dari petridish kedalam tabung dengan pipet. Sentrifuse selama lima menit dengan kecepatan 5.000 rpm.

  1. 3.      Identifikasi Larva

Larutan larva yang telah terkumpul dalam tabung reaksi diambil dengan pipet pasteur, satu tetes larutan larva dipindahkan pada gelas objek lalu tutup dengan cover glass kemudian diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 10 x 10.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya Terhadap Jumlah Telur Cacing.

Berdasarkan hasil penelitian pada ternak babi yang dipelihara di Koperasi Peternak Babi Indonesia (KPBI), Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Lembang yang di analisis di BPPHK Cikole, Lembang telah dilakukan pada tanggal 1 mei sampai dengan tanggal 20 juni 2009. Penelitian ini menghasilkan jumlah telur dari tiap gram feses yang terdapat pada ternak babi yang diberi pakan tepung kulit buah pepaya dengan hasil yang bervariasi.

Jumlah Telur Cacing Strongylus sp.

Data hasil penelitian pengaruh pemberian tepung kulit papaya terhadap jumlah telur cacing Strongylus sp,  Ascaris sp dan  Trichuris suis tercantum pada Tabel 3.

Tabel 3. Perhitungan Jumlah Telur Cacing Strongylus sp,  Ascaris sp dan  Trichuris suis

Jenis Cacing Perlakuan
R0 R1 R2
1.    Strongylus sp 243,33 a 0 b 0 b
2.  Ascaris sp 5.786,16 a 4.628,83 b 1.719,33 b
3. Trichuris suis 569,5 a 464,16 a 285,83 b

Ket.Huruf yang berbeda dalam kolom menunjukkan pengaruh perlakuan berbeda nyata.

Berdasarkan data pada Tabel 3, dapat diketahui bahwa rata-rata telur cacing Strongylus sp terendah (0) dihasilkan pada perlakuan pemberian tepung kulit pepaya 5% dan 10% dibandingkan dengan rata-rata telur  yang dihasilkan pada perlakuan tanpa adanya pemberian tepung kulit pepaya (243,33).  Penggunaan limbah kulit buah pepaya ternyata dapat mengurangi jumlah telur cacing Strongylus sp pada babi (p<0,05). Limbah kulit buah pepaya yang mengandung papain bekerja secara vermifuga melemaskan cacing dengan cara merusak protein tubuh cacing. Papain merupakan enzim protease sulfhidril dan akan mendegradasi protein-protein jaringan konektif dan myofibril. Cacing termasuk parasit yang tubuhnya terdiri dari molekul – molekul protein yang tidak terlindungi oleh selaput sehingga bila papain masuk ke saluran usus yang banyak mengandung cacing, cacing tersebut akan terurai atau menghindar dengan keluar dari lubang anus.

Berdasarkan data pada Tabel 3, dapat diketahui bahwa rata-rata telur cacing Ascaris sp  terendah (1.719,33) dihasilkan pada perlakuan pemberian tepung kulit buah pepaya 10%. Pada perlakuan dengan pemberian tepung kulit pepaya 5% (4.628,83) dan jumlah terbesar telur cacing Ascaris sp pada perlakuan tanpa pemberian tepung kulit buah pepaya (5.786,16).   Penggunaan limbah kulit buah pepaya ternyata dapat mengurangi jumlah telur cacing Ascaris. sp pada babi.  Cacing Ascaris sp merupakan jenis cacing gilig penyebab ascariasis pada ternak babi, teutama babi muda di seluruh dunia (Soulsby, 1982). Kejadian ascariasis sangat tinggi pada babi-babi di daerah tropis dan sub tropis (Chan, 1997 dalam Tsuji, et al (2004). Cacing ini  berparasit pada usus halus (Soulsby, 1982). Infeksi dapat terjadi melalui pakan, air minum, puting susu yang tercemar, melalui kolostrum dan uterus (Levine, 1990). Satu ekor cacing betina dewasa rata-rata bertelur 200.000 butir per hari ; dan selama hidupnya diduga dapat bertelur 23 milyar butir (Dunn, 1978).

Berdasarkan data pada Tabel 3, dapat diketahui bahwa rata-rata telur cacing Trichuris suis terendah (285,83) dihasilkan pada perlakuan pemberian tepung kulit pepaya 10%, 5% (464,16) dan rata – rata terbesar terdapat pada perlakuan tanpa adanya penambahan tepung kulit pepaya (569,5). Pengaruh tepung kulit buah papaya  perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata (p<0,05), papain pada tepung kulit buah pepaya dapat menurun akibat banyaknya kematian telur cacing karena pengaruh papain dari tepung kulit pepaya.

Pengaruh Pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya Terhadap Jumlah Larva Cacing.

Berdasarkan data penelitian jumlah larva dari tiap gram feses yang terdapat pada ternak babi yang diberi pakan tepung kulit buah pepaya tidak ditemukan adanya jumlah larva cacing Strongylus sp, Ascaris sp, dan Trichuris suis dalam penelitian disebabkan adanya sanitasi ruangan dan alat – alat laboratorium dengan menggunakan alkohol yang dapat membunuh telur cacing dalam waktu 3 jam. Pemberian tepung kulit buah pepaya juga dapat menurunkan fertilitas telur cacing karena tepung kulit buah pepaya mengandung enzim papain yang secara vemifuga dapat merusak protein tubuh cacing sehingga cacing yang telah menetas tidak dapat bertahan hidup.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa pemberian tepung kulit buah pepaya pada dosis 10% dapat menurunkan jumlah telur Strongylus sp, Ascaris sp dan Trichuris suis, sedangkan tidak ditemukan larva cacing Strongylus sp, Ascaris sp, dan Trichuris suis disebabkan oleh penurunan fertilitas telur cacing yang dipengaruhi oleh papain serta prosedur sanitasi alat – alat dan ruangan laboratorium.

Saran

            Pemberian tepung kulit buah pepaya pada dosis 10% sudah mendapatkan hasil yang baik dan diharapkan tepung kulit buah pepaya dijadikan bahan pelengkap ransum karena dapat mengurangi penyakit cacingan pada ternak babi.

                                                          

 

 

 

                                                           DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2004a. Trichuris spp. http://evm.mscs.edu /courses/mic569 /docs/parasite/TRICH.HTML

Atiya, Ridayanti, dan Nuraini. 2001. Pemeriksaan Efek Anthelmentik Papain Kasar Terhadap Infeksi Buatan Cacing Haemonchus contortus. Rudolphi Pada Domba. JFF. MIPA. Unair.

Benbrook, E. A., and M. V. Sloss. 1961. Clinical Parasitology. 3  ed, Iowa State Univ. Press. Ames, Iowa, 3-17.

Dunn, A.M. 1978. Veterinary Helminthology. 2nd Ed. Williams Heinemann Medical Books LTD, London.

Goodwin, D. H. 1974. Beef Management and Production. London: Hutchinson.

Kusumamihardja, S. 1992.  Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak dan Hewan Piara. Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Lapage, G.  1956. Veterinary  Helminthology  and Enthomology. 4th  Ed. Bailliere Tindall, London.

Lawson, J. L. dan M. A. Gemmel. 1983.  Transmission in Hydatidosis and cysticercosis. Advance’s in Parasitology 2a:279.

Levine, ND. 1982.  Textbook Of Veterinary Parasitology.  Burgess Publishing Company.  USA.

Levine, ND.  1990. Buku Pelajaran  Parasitologi Veteriner. Diterjemahkan oleh Prof. Dr. Gatut Ashadi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

NRC. 1998. Nutrient Requirments of Swine. Nutrient Requirments of Domestic Animal, Ninth Revised Edition National Academy Press. Washingthon DC.

Seddon, H.R. 1967.  Helminth Infestation  2nd  Ed.  Commonwealth of Australia Department of Health, Sidney.

Siagian H. Pollung. 1999. Manajemen Ternak Babi, Diktat Kuliah Jurusan Ilmu Produksi Ternak. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sihombing. 1997. Ilmu Ternak Babi. Cetakan Pertama. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Smith, J.D. 1968. Introduction to Animal Parasitology. The English Books University Press, LH. London.

Subronto, dan I. Tjahajati. 2001. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Soulsby, E.J.L. 1982.  Helminths, Antropods and Protozoa of Domesticated Animals. Inglish Laguage Book Service Bailiere Tindall.  7th Ed. Pp.231-257.

Tarmudji, Deddy Djauhari Siswansyah dan Gatot Adiwinata.  1988.  Parasit-parasit Cacing Gastrointestinal pada sapi-sapi di Kabupaten Tapin dan Tabalong Kalimantan Selatan, di dalam Penyakit Hewan.  Balai Penelitian Veteriner, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta.

Tsuji, N., K. Suzuki., H.K. Aoki., T. Isobe., T. Arakawa dan Y. Matsumoto. 2003. Mice Intranasal  Immunized with a recombinant 16 kilodalton Antigen from Roundworm Ascaris Parasites are Protected Againts Larva Migration of Ascaris suum. Infection and Immunity Vol. 71, pp : 5314.

Wiryosuhanto, S. D. dan Jacoeb, T. N.  1994.  Prospek Budidaya Ternak Sapi. Kanisius.  Yogyakarta

Penyakit Babi.1.

Penyakit Babi.1

Canada: Governments to strengthen traceability and biosecurity

B.C. Minister of Agriculture and Lands Steve Thomson and Member of Parliament Andrew Saxton (North Vancouver) announced the investment of $3.5 million dollars at ‘Discover Agriculture in the City’ in Burnaby.

Deliver top quality food

“A strong traceability system will help Canadian producers strengthen their businesses and get the premium prices their top-quality products deserve,” said MP Saxton, on behalf of federal Agriculture Minister Gerry Ritz. “Our Government is working with the provinces and industry to create a strong national traceability system that will help producers and processors minimise risks, strengthen their businesses and continue to deliver their top-quality, safe food to consumers at home and around the world.”
 

Ready to respond to animal diseases
“The Province has been working with industry to build and implement traceability and biosecurity systems so we are ready to respond to animal disease and food safety issues,” said Minister Thomson. “B.C. is already a leader in biosecurity measures, and having these systems in place builds consumer confidence. It also positions our agri-food industry to be competitive in both the domestic and international marketplace.”
 

The two initiatives being funded include:

· $2.04 million for the Enterprise Infrastructure Traceability (EIT) to help producers, farmers, food processors and agri-food businesses with costs to purchase and install traceability infrastructure/systems to track products from receiving to shipping. The program consists of animal (product) identification, premises identification and movements recording. This funding will help proactive management of food-borne risks along the agri-food chain, contributing significantly to the health and wellbeing of British Columbians. The EIT program is being delivered through the BC Agriculture and Research Corporation, a subsidiary of the British Columbia Agriculture Council.

 

· $1.5 million will be allocated to the biosecurity program, which will help producers continue to improve their on-farm biosecurity procedures such as wearing barn-specific clothing and disinfecting farm equipment. Under this program the British Columbia Hog Marketing Commission will implement biosecurity standards for their commodity on approximately 31 farms. The biosecurity program is being delivered directly by the Ministry of Agriculture and Lands.

Ongoing efforts to implement food safety, traceability and biosecurity measures are important for achieving a safe food supply into the future and will greatly improve the Provinces protection of animal, plant and human health. Completed projects include B.C.’s $14.5-million, high-security containment Level 3 laboratory in Abbotsford and a Foreign Animal Disease Emergency Support plan (FADES) that has been developed to enhance B.C.’s response to occurrences of significant disease events.

‘Discover Agriculture in the City’ is a three-day event, open to the public, designed to build awareness among urban British Columbians about the contributions farmers make to the economy, the environment and to the health of Canadians, as well as some of the innovative uses of Canadian agricultural products.