Curcumin dalam Ransum Babi Sebagai Pengganti Antibiotik Sintetis untuk Perangsang Pertumbuhan

Sauland Sinaga1) ,  D.T.H. Sihombing 2),   Kartiarso 2) , Maria Bintang 3) 

1) Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Jatinangor Sumedang.

2) Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Darmaga Bogor.

3)Fakultas MIPA Institut Pertanian Bogor, Darmaga, Bogor

 

ABSTRAK

Penelitian mengenai “Pemberian Curcumin dalam Ransum Babi sebagai      Pengganti Antibiotik Sintetis untuk Perangsang Pertumbuhan dilaksanakan pada bulan November 2008 sampai Juni 2009 . Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penelitian dan Teaching Farm Ternak Babi, Kecamatan Cisarua, Bandung, Laboratorium Nitrisi Fapet Universitas Padjadjaran  Bandung Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan dosis penggunaan Curcumin yang memberikan pengaruh setara dengan antibiotika Virginiamycin sebagai perangsang pertumbuhan pada babi.  Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas lima perlakuan ransum (Rvm :50 ppm virginiamicin,  R0 : tanpa virginiamicin dan curcumin, R: 120 ppm curcumin, R2: 160 ppm curcumin dan R3: 200 ppm curcumin), tiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Jadi jumlah ternak yang digunakan adalah 25 ekor babi starter umur 2 bulan dengan bobot badan 18 kg dan koefisien variasi 6,33%.  Berdasarkan hasil analisis statistika menunjukkan bahwa pemberian curcumin dalam ransum sebanyak 160 ppm memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kecernaan energi, kecepatan laju makanan, Pertambahan Bobot Badan, Konversi ransum dan  waktu mencapai bobot potong.  Penggunaan curcumin dalam ransum sampai dosis 160 ppm bisa digunakan sebagai perangsang pertumbuhan menggantikan antibiotik sintetis.

 

Kata Kunci :  Curcumin, Virginiamicin,  Babi,  Antibiotik

 

ABSTRACT

Research on the effect of pig ration containing curcumin to replace sintetic antibiotic as growth promotor has been conducted from November  2008 to Juni  2009 in laboratory research and teaching farm KPBI (Koperasi Peternak Babi Indonesia), Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung, Laboratory Nutrition of Faculty Animal Husbandry University of Padjadjaran. The purpose of this research is to study the effecive dosage of curcumin in comparable with virginiamycin as growth promotor in pig.   Parameters which measured in this research were digestible energy, rate of passage of feed,   live weight gain, feed efficiency and  time length to slaugter weight. This research used method of eksperimental Completely Randomized Design (CRD) consist of five treatments (Rvm: 50 ppm virginiamicin, R0 : without virginiamicin and curcumin, R1: 120 ppm curcumin, R2: 160 ppm curcumin and R3: 200 ppm curcumin),  where every treatment repeated by five times. This research was using 25 starter period pigs,  2 months old with average body weight 18 kg and variation coefficient 6,33%.   The result of this research showed that giving curcumin as feed additive 160 ppm in pig ration showed significant effect on digestible energy, rate of passage of feed,   live weight gain, feed efficiency and  time length to slaugter weight can replace virginiamicin as growth promoter.

 

Key Word :  Curcumin, Virginiamicin,  Pig, Antibiotic

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 

          Penggunaan senyawa antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (growth promotor)  dalam ransum ternak telah menjadi perdebatan sengit para ilmuan akibat efek buruk yang ditimbulkan bagi konsumen seperti residu dan resistensi. Survey AVA Singapore menemukan daging babi dari Rumah Potong Hewan (RPH) di Indonesia mengandung residu antibiotik sebesar 53,7% dan 3,04% melebihi batas maksimum level yang dianjurkan oleh WHO.  Rusiana (2004) menemukan 85% daging dan 37% hati dari 80 ekor ayam broiler di pasar Jabotabek tercemar residu antibiotik tylosin, penicilin, oxytetracycline dan kanamicin. Samadi (2004) melaporkan penggunaan antibiotik terus menerus pada unggas di North Carolina (Amerika Serikat)mengakibatkan bakteri Escherichia coli resisten terhadap Enrofloxacin, sehingga rekomendasi penggunaan antibiotik dalam pakan pada tahun 50-an sekitar  5 – 10 ppm sekarang telah meningkat sepuluh sampai 20 kali lipat. 

 

Hamscher dkk. (2003) menemukan debu yang berasal dari bedding, pakan dan feses peternakan babi di Jerman, 90% dari sampel yang diambil mengandung  12,5 mg/kg residu antibiotik tylosin, tetracycline, sulfamethazine dan chloramphenicol, kontaminasi udara ini akan mengganggu pernapasan hewan atau manusia yang hidup di sekitar kandang.  Komisi Masyarakat Uni Eropa sejak tanggal 1 Januari 2006 (Regulasi No. 1831/2003) melarang penggunaan antibiotik Avilamycin, Avoparcin, Flavomycin, Salinomycin, Spiramycin, Virginia-mycin, Zn-Bacitracin, Carbadox, Olaquindox, dan Monensin dalam ransum ternak.  

Berdasarkan  beberapa fakta tersebut maka berbagai upaya dilakukan untuk mencari pengganti antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan.  Kunyit dan Temu Lawak adalah tanaman rempah yang memiliki bahan aktif curcumin tergolong senyawa fenol yang dapat mengganggu pembentukan membran sel pada beberapa bakteri patogen seperti Salmonella dan Escherichia coli, selain  itu curcumin juga mampu meningkatkan sekresi kelenjar liur, empedu, lambung, pankreas dan usus.   Beberapa hasil penelitian  pemberian  curcumin sebagai pemacu pertumbuhan diantaranya adalah Al-Sultan (2003) yang hasinya menunjukkan bahwa pemberian tepung kunyit 0,5% dalam ransum  ayam broiler menghasilkan pertambahan bobot badan dan konversi ransum yang baik serta meningkatkan jumlah sel eritrosit dan leukosit.  Sinaga (2003) melaporkan bahwa  pemberian 0,4 % tepung kunyit dalam ransum  babi menghasilkan  efisiensi pakan yang tinggi. Tujuan Penelitian ini adalah menjajaki penggunaan curcumin sebagai pengganti antibiotika dalam ransum babi sebagai pemacu pertumbuhan dan menguji efektivitas curcumin dalam upaya menggantikan antibiotika sebagai pemacu pertumbuhan dalam ransum babi. 

 

       

METODE PENELITIAN

 

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kandang  Teaching Farm Koperasi Peternakan Babi Indonesia (KPBI) Kabupaten Bandung. Pelaksanaan penelitian dimulai dengan periode adaptasi (14 hari), periode pemberian ransum (6 bulan), dan periode koleksi (1 bulan).

 

Bahan dan Alat Penelitian

Ransum yang digunakan dan kandungan zat makanan disajikan pada Tabel 1. Ternak yang digunakan dalam penelitian adalah  25 ekor babi lepas sapih dengan rataan bobot badan 18 kg dengan koefisien variasi 6,33%.  Alat yang digunakan adalah kandang individual  dengan tempat air minum dan tempat pakan. Timbangan kapasitas 10 dan 150 kg masing masing digunakan untuk menimbang ransum dan babi, Timbangan duduk berkapasitas 3 kg dengan tingkat ketelitian 0,01 kg, digunakan untuk menimbang ransum sisa dan feses babi. Timbangan Sartorius dengan ketelitian 0,2 g, digunakan untuk menimbang curcumin. Kantong plastik untuk tempat menampung ransum dan sisa ransum dan menampung feses.

 

 

Rancangan Percobaan

Penelitian ini  menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas lima perlakuan ransum (Tabel 1) masing-masing dengan lima ulangan. Peubah yang diukur adalah konsumsi harian, pertambahan bobot badan, konversi ransum,  kecernaan protein, energi dan laju makanan serta analisis finansial.

 

Pelaksanaan Penelitian

Periode Adaptasi

Babi ditimbang untuk mengetahui bobot awal kemudian ditempatkan pada kandang individu secara acak dan babi diberi obat cacing, selanjutnya babi diadaptasikan selama 14 hari dengan ransum percobaan. Tempat makan dan kandang dibersihkan dua kali sehari pagi pukul 7.00 dan siang hari pukul 12.00. Air minum diberikan ad libitum dan pemberian ransum dilakukan tiga kali sehari (pukul 7.30, 12.30 dan 15.30) sesuai dengan kebutuhan babi. Selama periode adaptasi dilakukan pengamatan terhadap perilaku ternak, terutama perilaku konsumsi yang memperlihatkan gejala keracunan curcumin.

Periode Pemberian Ransum

Pada akhir periode adaptasi babi ditimbang untuk mengetahui bobot awal, selanjutnya penimbangan babi dilakukan setiap dua minggu sekali yang dilakukan pada pagi hari sebelum babi diberi makan. Setiap pagi pukul 6.30 sebelum pemberian ransum, dilakukan penimbangan sisa ransum yang tidak termakan.   Koleksi feses dilakukan setiap hari selama seminggu. Sampel feses harian dikeringkan dalam oven suhu 55oC selama 96 jam lalu digiling halus. Sampel harian feses dikumpulkan berdasarkan individu babi, selanjutnya masing-masing sampel hasil pengumpulan tersebut diambil sebanyak 5% dan disimpan dalam lemari es untuk keperluan analisa laboratorium.

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1. Komposisi Pakan dalam Ransum dan Kandungan Zat Makanan Ransum Basal

 

Periode Pertumbuhan

Komposisi Bahan Makanan (%) Starter NRC 98 Grower NRC 98
Jagung lokal 55,00   52,78  
Tepung Ikan 10,00   5,00  
Bungkil Kedelai 13,00   10,00  
Dedak Padi 21,00   31,00  
Premix 0,20   0,20  
Tepung Tulang 0,78    1,00  
L-Lisin HCl 0,02 0.02
Total 100,00   100,00  
 Komposisi Nutrisi

Bahan Kering (%)

 88,45  -  89,50  -
Protein Kasar % 18,69 18,00 15,99 15,50
Energi Metabolisme (kkal/kg) 3146,77 3165,00 3121,80 3165,00
Lisin (%) 1,05 0,77 0,72 0,61
Metionin (%) 0,36 0,21 0,21 0,17
Serat Kasar (%) 5,81 5,00 5,84 5,00
Lemak Kasar (%) 5,00 0,60 6,10 0,50
Calsium (%) 0,62 - 0,52 -
Phosfor (%) 0,82 0,50 0,72 0,45

Keterangan : NRC = National Research Council

Ransum Perlakuan :   Ro        : Ransum basal (tanpa curcumin maupun virginiamicin)

                                 Rvm     : Ro ditambah  virginiamicin  50 ppm

                                 R1        : Ro ditambah  120 ppm curcumin

                                 R2        : Ro ditambah  160 ppm curcumin

                                 R3        : Ro ditambah  200 ppm curcumin

 

 

Pengukuran kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan, dilakukan dengan penambahan indikator Cr2O3 sebanyak 0,2%/kg ransum, dan pengukuran dilakukan setelah indikator muncul bersama feses beberapa jam setelah diberikan (Sihombing, 1997).  Khusus pada pengukuran kecernaan energi dan protein, feses yang diperoleh disemprot dengan larutan asam borat 5% sebelum dilakukan pengeringan dengan tujuan untuk mencegah nitrogen yang hilang karena penguapan yang diakibatkan oleh aktivitas mikroorganisme dalam feses.

Konsumsi ransum harian diperoleh dari banyaknya ransum yang dikonsumsi selama penelitian dibagi dengan jumlah hari mencapai bobot potong 90 kg.  Pertambahan berat badan harian diperoleh dari hasil penimbangan babi saat mencapai bobot potong  90 kg, dikurangi dengan penimbangan bobot badan awal,  dibagi dengan jumlah hari mencapai bobot potong.  Konversi ransum diperoleh dari hasil bagi antara konsumsi ransum harian dengan pertambahan berat badan harian dalam satuan waktu yang sama.

 

Analisis  Laboratorium

Subsampel ransum dan feses yang telah digiling halus dari masing masing perlakuan,  dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC selama 12 jam untuk menentukan kadar bahan keringnya. Total nitrogennya ditentukan dengan metode Kjeldahl dan kandungan  energi dengan bom kalorimeter.  Kecernaan energi dan protein dihitung dengan menggunakan rumus Schneider dan Flatt (1975) sebagai berikut:

 

            Kecernaan Energi  = (Energi Konsumsi – Energi Feses)  x 100

                                                            Energi Konsumsi

 

           Kecernaan Protein  = (Protein Konsumsi  – Protein Feses) x100

                                                            Protein Konsumsi

 

Analisis Data

Data yang diperoleh, kemudian dianalisis dengan sidik ragam atau analysis of variance (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh perlakuan, dan uji lanjut Duncan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan (Steel dan Torrie,  1989).

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pengaruh Perlakuan terhadap Kecernaan Protein

Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap kecernaan protein pada babi dapat dilihat pada Tabel 2. Rataan kecernaan protein adalah 71,27±6,79% masih dalam kisaran normal bagi babi ras yang mendapat perlakuan ransum yang seimbang, sesuai dengan pendapat Sihombing (1997) bahwa kecernaan protein babi berkisar antara 70 – 90% untuk ransum yang mengandung  energi metabolisme 3190 kkal/kg dan protein kasar 14%.

Berdasarkan Tabel 2, kecernaan protein tertinggi diperlihatkan pada babi yang mendapat  perlakuan R3 (74,03%), kemudian berturut-turut diikuti oleh perlakuan R2 (72,60%), R1 (72,05%), Rvm ( 70,76%) dan R0 (66,84%). Hasil analisis ragam pada pemberian curcumin dan antibiotik virginiamicin  dalam ransum babi tidak  berpengaruh nyata terhadap kecernaan protein ransum, hal ini terjadi karena kandungan protein ransum yang sama pada tiap perlakuan.

 

Tabel  2  Rataan Kecernaan Protein, Energi dan Laju Makanan

Perlakuan

Penampilan Produksi

Kecernaan Protein Kecernaan Energi Laju Makan
(%) (%) (jam)
Rvm 70,76 51,03 b  20,05  a
R0 66,84 32,59 a  19,30  a
R1 72,05 46,46 b   20,07 a
R2 72,60 46,46 b   22,32 b
R3 74,03 49,26 b   21,51 b
Rataan 71,27±6,79 45,16±9,7 20,65 ± 1,32

Keterangan :  Superskrip berbeda pada kolom yang sama, berbeda nyata (p<0,05)

 

Berdasarkan Tabel 2, kecernaan energi tertinggi diperlihatkan pada babi yang diberi perlakuan ransum Rvm (51,03%), kemudian dikuti oleh ransum R3 (49,26%), R2 (46,46%),  R1 (46,46%) dan R0 (32,59%).  Berdasarkan hasil analisis ragam,  perlakuan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kecernaan energi ransum. Pemberian curcumin dapat meningkatkan kecernaan energi ransum babi. Perlakuan R0 yaitu ransum tanpa suplemen menghasilkan kecernaan energi ransum yang  rendah, penambahan curcumin sebanyak 120 ppm dan virginiamicin mampu meningkatkan kecernaan energi ransum. Perlakuan curcumin meningkatkan kecernaan energi ransum pada babi hal ini disebabkan oleh pemberian curcumin pada dosis yang tepat dapat merangsang sekresi hormon dari kelenjar brunner pada dinding usus halus. Hormon tersebut  akan merangsang peningkatan sekresi enzim-enzim pencernaan dari kelenjar pankreas (Martini, 1998).  Jadi penambahan curcumin sebanyak 120,  160 dan 200 ppm dalam ransum setara dengan penambahan antibiotik virginiamicin hal tersebut memberikan petunjuk bahwa curcumin dapat digunakan sebagai aditive alami pengganti antibiotik sintetis dalam ransum babi untuk meningkatkan kecernaan energi ransum .

Rataan kecepatan laju makanan dalam saluran pencernaan adalah 20,65±1,32 jam (Tabel 2), hasil ini sesuai dengan pendapat Sihombing (1997) bahwa kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi remaja atau dewasa berkisar antara 10 – 24 jam.  Berdasarkan Tabel 2, kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan terlama diperlihatkan oleh babi yang diberi perlakuan R2 (22,32 jam), kemudian berturut-turut R3 (21,51 jam), R1 (20,07 jam), Rvm (20,05 jam) dan R0 (19,30 jam).  Babi dengan perlakuan R2 (curcumin 160 ppm) memperlihatkan kecepatan laju makanan yang lebih lama, karena pemberian curcumin pada dosis yang tepat dapat menyebabkan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan menjadi lebih lama, pada akhirnya meningkatkan penyerapan zat makanan.  Curcumin dapat mempengaruhi tonus dan kontraksi usus halus, pemberian dalam dosis rendah dan secara berulang akan mempercepat kontraksi tonus usus halus, tetapi pada dosis tinggi justru akan memperlambat bahkan dapat menghentikan kontraksi usus halus. Namun jika diberikan dalam dosis yang tepat akan menyebabkan kontraksi spontan yang lebih lambat, akibatnya perjalanan ransum dalam usus halus menjadi lebih lama (Bawman, 1983).

Berdasarkan hasil analisis ragam, diperoleh petunjuk bahwa pemberian curcumin berpengaruh terhadap laju makanan, yang mana pemberian curcumin dapat menurunkan laju makanan dalam saluran pencernaan babi (p< 0,05).  Pada Perlakuan R0, R1 dan Rvm atau penambahan curcumin pada taraf 120 ppm dan antibiotik sintetis belum berpengaruh nyata terhadap laju makanan. Pemberian  curcumin 160 dan 200  ppm (R2 dan R3) dalam ransum babi  menurunkan kecepatan laju makanan. Berdasarkan hasil tersebut  maka curcumin pada dosis 160 dan 200 ppm dapat digunakan dalam ransum babi untuk meningkatkan kecernaan ransum dengan cara  menurunkan laju makanan dalam usus.  

 

Konsumsi Ransum

            Penampilan produksi babi yang diamati pada penelitian ini meliputi konsumsi ransum harian, pertambahan bobot badan harian dan konversi ransum (Tabel 3).  Hasil pengamatan selama penelitian menunjukkan bahwa rataan umum konsumsi ransum harian adalah 2916,95±62,46 g/ekor. Konsumsi ransum harian tertinggi adalah babi yang diberi  perlakuan R3 (2933,99), kemudian diikuti secara berturut-turut oleh babi yang diberi perlakuan R2, Rvm, R1 dan R0 masing-masing 2930,54; 2916,95; 2915,91 dan 2887,35 k/ekor.

Konsumsi ransum dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah palatabilitas ransum, bentuk fisik ransum, berat badan, jenis kelamin, temperatur lingkungan, keseimbangan hormonal dan fase pertumbuhan (Piliang, 2000). Kunyit pada umumnya digunakan sebagai bumbu pada masakan, akan tetapi kunyit memiliki rasa pahit.

 

Tabel  3  Rataan Penampilan Produksi Babi Penelitian

Perlakuan

Penampilan Produksi

Konsumsi Ransum PBB Konversi
(g/ekor/hari) (g/ekor) (feed/gain)
Rvm 2916,95a 634,44 b    4,60b
R0 2887,35a 507,81a    5,69a
R1 2915,91a 594,21ab   4,91ab
R2 2930,54a 643,26 b   4,57b
R3 2933,99a 678,27 b   4,33b
Rataan 2916,95±62,46 611,60±68,60 4,86±0,54

Keterangan :  PBB = Pertambahan Bobot Badan, Superskrip berbeda pada kolom yang

                       sama, berbeda nyata (p<0,05)

 

            Pemberian curcumin sampai dengan dosis 200  ppm tidak menurunkan konsumsi ransum (p > 0,05).

 

Pertambahan Bobot Badan Harian

Rataan umum pertambahan bobot badan harian (PBBH) adalah 611,60±68,60 g/ekor/hari (Tabel 3). Hasil penelitian memperlihatkan rataan PBBH tertinggi pada babi yang diberi perlakuan R3 diikuti oleh R2, Rvm, R1  dan R0, masing-masing 678,27; 643,26; 634,44; 594,21 dan 507,81 g/ekor.

Pertumbuhan pada babi dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya umur, nutrisi, lingkungan, berat lahir dan penyakit.  Babi yang diberi perlakuan R3 menghasilkan  PBBH yang lebih besar daripada babi lainnya, hal ini membuktikan bahwa pemberian curcumin pada taraf  200 ppm dalam ransum babi mampu meningkatkan penyerapan zat-zat makanan yang dikonsumsi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Bawman (1983) yang memberikan cairan 10% infus temulawak dalam larutan ringer pada hewan percobaan secara intravena dengan kecepatan 10-20 tetes/menit, tonus dan kontraksi usus halus akan diperlambat. Pergerakan usus halus yang diperlambat membuat aktifitas enzim memecah bahan makanan lebih tinggi sehingga penyerapan zat-zat makanan mengalami peningkatan.

Berdasarkan analisis ragam perlakuan berpengaruh (p<0,05) terhadap PBBH, artinya bahwa setiap perlakuan ransum memberikan pengaruh yang berbeda terhadap PBBH. Terlihat bahwa pemberian curcumin dapat meningkatkan pertambahan bobot badan.  Berdasarkan Tabel 3,  PBBH babi yang mendapat perlakuan R0 dan R1 adalah sama, hal tersebut menunjukkan bahwa  penambahan curcumin sampai taraf 120 ppm belum menunjukkan efek yang signifikan terhadap pertambahan bobot babi percobaan. Demikian pula pertambahan bobot badan pada perlakuan curcumin 160 dan 200  ppm (R2 dan R3) dan penambahan virginiamicin (Rvm) dalam ransum satu sama lainnya adalah sama dan lebih tinggi dari Ro.  Dengan demikian penambahan curcumin pada dosis 160 ppm dan 200 ppm dapat digunakan sebagai aditive alami pengganti antibiotik sintetis dalam ransum babi.

 

Pengaruh perlakuan terhadap Konversi Ransum

Rataan konversi ransum penelitian adalah 4,82±0,54 (Tabel 3). Angka tersebut lebih tinggi daripada angka konversi ransum yang ditetapkan National Research Counsil (NRC) (1998) yaitu sekitar 3,25. Hal ini mungkin disebabkan perbedaan lingkungan pemeliharaan, bahan makanan yang diberikan serta genetik dari babi tersebut. Sihombing (1997), menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi konversi ransum adalah nutrisi, spesies, lingkungan, kesehatan dan keseimbangan ransum yang diberikan.  Rataan konversi ransum terendah 4,33 (R3), kemudian dilanjutkan berturut-turut 4,57 (R2); 4,60 (Rvm); 4,91 ( R1) dan 5,69 (R0). Nilai konversi ransum adalah perbandingan antara jumlah rnsum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan sebesar satu satuan, makin rendah angka konversi menunjukkan bahwa babi tersebut makin efisien dalam penggunaan ransum. (Hyun dkk,1998 ).

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian ransum perlakuan berpengaruh nyata terhadap konversi ransum (p< 0,05). Pemberian curcumin dan virginiamicin dapat menurunkan konversi ransum babi, hal ini disebabkan karena konsumsi ransum setiap perlakuan adalah sama sedangkan PBBH menunjukkan peningkatatan. Berdasarkan Tabel 3 konversi ransum perlakuan R0 (tanpa curcumin dan virginiamicin) dan R1 (120 ppm curcumin) adalah sama, hal tersebut mengindikasikan bahwa penambahan curcumin sampai taraf 120 ppmdalam ransum  belum menunjukkan efek yang signifikan terhadap konversi ransum. Konversi ransum babi  pada perlakuan curcumin 160 ppm (R2),  200  ppm ( R3) dan virginiamicin 50 ppm (Rvm) adalah sama dan lebih rendah dari R0, dengan demikian penambahan curcumin pada dosis160 ppm dan 200 ppm dapat meningkatkan efisiensi ransum babi yang setara dengan penggunaan antibiotik virginamicin

 

Analisis Finansial Pengaruh Antibiotik dan Curcumin

Pengaruh pemberian curcumin dan virginiamicin dalam ransum babi terhadap keuntungan dan biaya dapat dilihat pada Tabel 4.   Penambahan virginiamicin dan curcumin dalam ransum babi mengakibatkan terjadi penambahan biaya ransum perkilogramnya, akan tetapi penambahan biaya tersebut  diikuti oleh meningkatnya pendapatan atau penjualan, pada akhirnya keuntungan harian pemberian ransum yang mengandung   curcumin dan virginiamicin jadi lebih besar dibanding dengan ransum R0 (tanpa kedua-duanya).  

 

Tabel 4.  Analisa Finansial dari Masing-Masing Perlakuan Ransum

Perlakuan

Biaya (Rp)

Penjualan (Rp)

Keuntungan(Rp)

B/C Rasio

Rvm

4594.20

9516.60

4922.40

1.07

R0

4331.03

7617.15

3286.13

0.76

R1

4688.78

8913.15

4224.37

0.90

R2

4832.60

9648.90

4816.30

1.00

R3

4929.10

10174.05

5244.95

1.06

 

Keuntungan harian terbesar diperoleh pada perlakuan R3 (Rp 5244,95) dan terkecil pada perlakuan R0 (Rp 3286,13). Pemberian dosis curcumin yang semakin tinggi berdampak pada meningkatnya keuntungan harian. Keuntungan yang diperoleh akibat pemberian  curcumin pada dosis 160 ppm  (R2) mampu menyamai ransum virginiamicin, bahkan ransum R3 (200 ppm) lebih tinggi dari viginiamicin.  Bila dilihat B/C Rasionya,  pemberian virginiamicin dan curcumin pada dosis 160 dan 200 ppm (R2 dan R3) memiliki nilai B/C rasio lebih dari satu, artinya secara finansial penggunaan curcumin dan virginiamicin pada dosis tersebut  layak digunakan dalam sistem usaha produksi babi.

 

 

 

KESIMPULAN

Bila dilihat dari parameter kecernaan makanan, performan dan analisa finansial dari perlakuan ransum dengan additive curcumin dan virginiamicin dapat diperoleh kesimpulan bahwa pemberian dosis 160 ppm curcumin dapat digunakan sebagai penganti antibik sintetis (virginiamicin) untuk  pemacu pertumbuhan. Dosis efektif penggunaan curcumin dalam ransum babi sebagai bahan imbuhan ransum adalah 160 ppm. 

 

SARAN

Curcumin dapat digunakan dalam sistem produksi babi dengan dosis 160 ppm dalam ransum babi sebagai pemacu pertumbuhan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

AL-Sultan  S.I. 2003. The Effect of Curcuma longa (Tumeric) on Overall Performance of Broiler Chickens. Department of Public Health and Animal Husbandry, College of Veterinary Medicine and Animal Resources, King Faisal University. Saudi Arabia. J.Poultry Sci.  2 (5): 351-353, 2003

 

Ava Singapore surveilans abattoir. 2005. di sampaikan dalam seminar kebijakan pemerintah dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan menular pada babi di Indonesia oleh drh. Tri Satya N, M.Phill. Ph.D. Dir. Kesehatan Hewan Dep.Pertanian.

 

Bawman J.C. 1983. Concerning the effect of chelidonium, curcuma, absinth and

           milkthistle on billiary and pancreatic secretion in hepatopathy. Med. Monalsschriff, 29 :173-180.

 

Hamscher  G ,  Heike Theresia Pawelzick, Silke Sczesny, Heinz Nau, and Jörg Hartung. 2003. Antibiotics in dust originating from a pig-fattening farm: a new source of health hazard for farmers. Department of Food Toxicology, Animal Welfare and Behaviour of Farm Animals, School of Veterinary Medicine Hannover, Hannover, Germany. Environ Health Perspect. 111(13): 1590–1594.

 

Hyun Y, Ellis M, Riskowski G,  Johnson R.W. 1998. Growth performance of pigs subjected to multiple concurrent stressors. J.Anim Sci. 76:721-727

 

National Research Council. 1998. Nutrient Requirements of Swine. National Academy Press, Washington, D.C.

 

Martini S. 1998. Pengaruh pemberian ransum yang mengandung  berbagai jenis curcuma dan kombinasinya sebagai pakan aditif terhadap produksi karkas serta komposisi asam lemak karkas pada kelinci peranakan new zealand white. Disertasi. Unpad. Bandung.

 

Piliang W.G. 2000. Fisiologi Nutrisi. Volume I. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

 

Rusiana. 2004.  Residu Antibiotika pada Daging Ayam Broiler. WWW.  Poultry

        Indonesia. Com. (diakses 12 Juni 2004)

 

Samadi. 2004.  Feed quality for food safety. Fapet Unsyiah. Banda Aceh.

 

Sihombing D.T.H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

 

Sinaga S. 2003. Pengaruh pemberian ransum yang mengandung aditif tepung kunyit pada babi pertumbuhan. Fapet. Unpad. Bandung.

 

Schneider B.H. dan Flatt W.P. 1975. The Evaluation of Feeds Through Digestibility Experiment. The University of Georgia Press. Georgia.

 

Steel R.G.D and   Torrie J.H. 1989.  Prinsip dan Prosedur Statistika. Cetakan ke-2. Terjemahan B.  Sumantri.  PT Gramedia, Jakarta.

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KATUK (Sauropus androgynus L Merr) DALAM RANSUM BABI TERHADAP KONSUMSI INDUK, PERTAMBAHAN BOBOT BADAN DAN BERAT SAPIH ANAK

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di Teaching Farm KPBI (Koperasi Peternak Babi Indonesia), Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ransum yang mengandung ekstrak daun katuk  (Sauropus androgynus L Merr) terhadap konsumsi induk menyusui,  pertambahan bobot badan dan berat sapih anak. Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan 20 ekor babi induk. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan uji t student dengan dua perlakuan yaitu R0 (tanpa penambahan ekstrak daun katuk) dan R1 (dengan penambahan ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari), setiap perlakukan diulang sebanyak sepuluh kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum (3,787 – 3,842 kilogram/ekor/hari), tetapi dapat meningkatkan pertambahan bobot badan anak (330-410 gram/ekor/hari) dan berat sapih (13,92 – 18,22 kg/ekor). Pemberian ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari dapat diberikan pada ransum induk babi menyusui sebagai feed aditif.

 

Kata kunci : Ekstrak daun katuk, Konsumsi Ransum, Pertambahan Bobot Badan,  Berat sapih, Induk Babi.

 

ABSTRACT

 

This research was do in KPBI teaching farm at cisarua, Bandung in October until November 2007. This experiment was conducted to know the Effects of ekstract Katuk’s Leaves (Sauropus androgynus (L.) Merr) in Feed on sow feed consumtion and  weight wean. It used 20 pig mains with 200 kilograms means weight. Eksperiment method use a paired t student analytic with two treatments with ten replicates. This research show that 3 g/day ekstract of katuk’s leaves revealed no effect to feed consumtion (3,787 – 3,842 kg/day), but increase average daily gain (330-410 g/e/d) and weaning weight ( 13,92 – 18, 22 kg/pig/day). Ekstract of katuk’s leaves can use as feed additive on sow. 

 

Keywords: Sauropus androgynus (L.) Merr, feed consumtion, average daily gain, weaning weight, Sow.

 

 

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

     Babi merupakan salah satu komoditas ternak yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, karena memiliki sifat-sifat yang menguntungkan seperti laju pertumbuhan yang cepat, litter size yang tinggi, dan efisiensi ransum yang tinggi sekitar 75-80% serta bersifat prolifik yaitu beranak banyak. Induk babi dapat melahirkan 8-14 anak dalam satu kali periode kelahiran. Induk babi yang telah melahirkan tersebut akan kita sebut sebagai induk menyusui. Induk menyusui setelah melahirkan akan membutuhkan pakan yang cukup agar dapat menghasilkan susu yang cukup untuk anak anaknya.

Ransum yang berkualitas untuk menunjang proses produksi yang baik sangat dibutuhkan oleh ternak, terutama pada ternak induk setelah melahirkan. Babi induk setelah melahirkan memerlukan kualitas ransum yang baik untuk merangsang kembali nafsu makannya yang turun setelah melahirkan sehingga konsumsinya juga akan meningkat, karena biasanya konsumsi induk akan menurun setelah melahirkan diakibatkan banyaknya energi yang dikeluarkan pada proses kelahiran. Apabila konsumsi induk menurun setelah melahirkan, maka produksi susu induk juga akan menurun dikarenakan kurangnya supply zat-zat makanan untuk proses pembentukan susu. Untuk menjaga agar nafsu makan induk tetap ada setelah melahirkan dan meningkatkan konsumsinya, maka perlu diberikan suatu tambahan dalam ransum induk babi tersebut. Salah satu solusinya adalah pemberian makanan tambahan (feed aditif) dalam ransum yang tidak mengandung residu dan zat zat yang berbahaya bagi ternak yang mengkonsumsinya, diantaranya adalah pemberian ekstrak daun katuk.

Keseimbangan nilai gizi yang terkandung dalam ransum dan sesuai dengan kebutuhan induk menyusui sangat diharapkan, agar susu yang dihasilkan memiliki kandungan zat-zat makanan yang diperlukan oleh anak-anaknya. Setelah induk melahirkan dengan jumlah anak yang banyak sedangkan jumlah puting induk hanya 12, maka secara tidak langsung akan terrjadi perebutan ambing untuk memperoleh susu oleh anak anaknya yang baru lahir. Jumlah anak yang banyak tentu juga membutuhkan produksi susu yang tinggi agar anak dapat terpenuhi kebutuhannya sehingga berat sapih yang diperoleh tinggi. Apabila produksi susu induk menurun setelah melahirkan maka akan membuat berat sapih anak yang rendah. Untuk mencegah terjadinya penurunan berat sapih anak setelah lahir, perlu diperhatikan kualitas ransum yang diberikan  terhadap induk. Salah satunya adalah penambahan feed aditif dalam ransum induk, diantaranya pemberian ekstrak daun katuk.

 Katuk merupakan tanaman leguminosa. Tanaman ini umumnya sudah banyak dikenal oleh masyarakat kita sebagai obat tradisional yang mampu meningkatkan produksi susu pada ibu hamil. Tumbuhan ini banyak tumbuh dinegara kita sehingga untuk memperolehnya bukanlah hal yang sulit dan tentu saja harganya relatif  murah. Selain mempunyai khasiat obat tradisional, daun katuk juga mengandung nilai nutrisi yang baik seperti karoten, protein, energi, vitamin C, kalsium, phosfor, dan zat besi. Namun adanya zat anti nutrisi yang disebut Papeverin dalam daun katuk yang dicurigai dapat menyebabkan keracunan ternyata tidak membahayakan, kandungan dalam 1 kg daun katuk segar sangat rendah yaitu 5,8 g atau 58 % atau identik dengan 580 ppm. Melihat potensi nutrisi yang baik dan rendahnya zat antinutrisi dalam daun katuk, maka pemanfaatannya dalam campuran ransum diharapkan dapat mempengaruhi konsumsi ransum induk menyusui dan berat sapih pada babi prestarter.

Penelitian daun katuk sebagai pakan ternak telah banyak dilakukan, namun pemberiannya terhadap induk babi menyusui belum pernah dilakukan sehingga baik buruknya terhadap induk babi menyusui belum diketahui. Dengan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti pemberian ekstrak daun katuk dalam ransum terhadap konsumsi induk menyusui, pertambahan bobot badan dan berat sapih anak babi.

 

Kerangka Pemikiran

Induk menyusui merupakan induk yang telah melahirkan dan memproduksi susu (Sihombing, 1997).  Konsumsi induk menyusui dengan bobot 200 kg adalah 2,5 – 3 kg perhari dan produksi susu induk adalah 7,0 kg/ekor/laktasi (sihombing, 1997). Sedangkan bobot sapih anak yang baru lahir dengan  umur 40 hari adalah 18 kg (Siagian, 1999). Pemberian ransum yang berkualitas diharapakan mampu meningkatkan konsumsi induk dan berat sapih pada anak.    Ransum merupakan faktor penunjang proses biologis yang sangat penting bagi seekor ternak untuk pertumbuhan, pembentukan jaringan tubuh maupun produksi, sehingga dalam upaya memperoleh hasil produksi yang optimal perlu diperhatikan segi kualitas dari ransum yang diberikan. Salah satu aspek yang menentukan tinggi rendahnya kualitas ransum adalah kandungan protein, energi, vitamin, mineral dan bahan-bahan lain yang menunjang pertumbuhan dan proses pencernaan biologis.

Feed aditif adalah suatu bahan yang diberikan dalam jumlah tertentu (dibatasi) ke dalam campuran makanan dasar dengan tujuan memenuhi kebutuhan khusus dan bila pemberian dalam jumlah yang tepat dapat meningkatkan produksi ternak (Hartadi, dkk 1986). Feed aditif berupa bahan atau zat makanan tertentu seperti vitamin-vitamin, mineral-mineral atau asam-asam amino yang ditambahkan dalam ransum ternak (Sihombing, 1997). Sejak tahun 1950, feed aditif secara umum dipakai untuk ransum babi di negara-negara yang usaha peternakannya intensif dan besar, karena telah terbukti mampu memperbaiki pertumbuhan dan efisiensi pakan serta mencegah penyakit.

Tabel 1. Tujuh Senyawa Aktif Tanaman Katuk dan Pengaruhnya terhadap Fungsi Fisiologis dalam Jaringan

No. Senyawa Aktif Pengaruhnya pada fungsi fisiologi
1.2.

3.

 

4.

 

5.

Octadenoic acid9-Eicosine

5, 8, 11-Heptadecatrienoic acid methyl ester

9, 12, 15- Octadecatrienoic acid ethyl ester

11, 14, 17 Eicosatrienoic acid methyl ester

Sebagai prekursor dan terlibat dalam biosintesis senyawa Eicosanoids (prostaglandin, lipoxins, thromboxane, prostacycline. leukotrienes).
6. Androstan-17-one,3-ethyl-3-hydroxy-5 alpha Sebagai prekursor atau intermediate-step dalam sintesis senyawa hormon (progesterone, estradiol, testosterone, dan glucocorticoid).
Senyawa 1-6 secara bersamaan Memodulasi hormon-hormon laktasi dan laktogenesis serta aktivitas fisiologi yang lain.
7. 3, 4-Dimethyl-2-oxocyclopent-3-enylacetatic acid Sebagai eksogenus asam asetat dari saluran pencernaan dan terlibat dalam metabolisme selular melalui siklus Krebs.

Sumber : Suprayogi (2000)

 

Katuk merupakan tanaman leguminosa yang tumbuh menahun, berbentuk semak perdu dengan ketinggian 2,5-5 m . Tanaman ini dikenal sebagai obat tradisional yang mengandung protein, vitamin, mineral, plavanoid, saporin, tannin, lipid dan sterol (Muhlisah, 1995) dan sering digunakan sebagai perangsang produksi susu selama masa lakstasi (Suprayogi, 2000).  Selain mempunyai khasiat sebagai obat tradisional, daun katuk juga mempunyai nilai nutrisi yang baik seperti tingginya karoten, protein, energi, vitamin C, phosphor dan zat besi.   Daun katuk mempunyai senyawa aktif yang mampu meningkatkan ketersediaan nutrisi didalam darah yang menuju kelenjar ambing. Senyawa aktif tersebut diduga sebagai prekursor dalam pembentukan hormon steroid seperti prostaglandin yang berperan dalam proses reproduksi dan stimulasi pembentukan air susu dalam kelenjar ambing (Suprayogi, 2000). Senyawa aktif tersebut diantaranya Androstan-17-one, 3-ethyl-3-hydroxy-5 alpha yakni sebagai prekursor dalam sintesis senyawa hormon seperti progesteron, estradiol.

Suprayogi (2000), melaporkan bahwa dengan analisa KGSM, daun katuk mempunyai tujuh senyawa aktif utama. Senyawa yang terkandung dalam daun katuk tersebut  dapat  mempengaruhi  fungsi  fisiologis   tubuh, hal  ini  dapat  dilihat  pada Tabel 1.

Penggunaan daun katuk sebagai pakan ternak telah banyak dilakukan. Misalnya Suprayogi (2000) melaporkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk pada kambing laktasi mampu meningkatkan produksi air susu sebesar 7,75 % dan pada kelinci dapat meningkatkan kecernaan pakan dan absorpsi glukosa di saluran pencernaan. Ekstrak daun katuk diperoleh dengan cara pelarut organik Eter minyak tanah, n-heksan, Benzen, Alkohol, dan Aseton dengan menggunakan teknik soxletasi dengan aseton sebagai pelarut. Ekstrak Aseton diuapkan hingga diperoleh endapan, kemudian endapan dicuci dengan eter minyak tanah lalu dikeringkan.

           Penelitian efek farmakologi menunjukkan bahwa eksrak daun katuk pada dosis 631,6 mg/kg bobot badan menunjukkan efek laktogogum pada tikus. Pemberian ekstrak daun katuk dengan  dosis 3 x 300 mg/hari atau 900 mg/hari dengan berat badan 53 kg selama 15 hari pada kelompok ibu yang baru melahirkan dan menyusui dapat meningkatkan produksi Air Susu Ibu (ASI) yang lebih banyak yaitu sebesar 50,7 % (Sa’roni, 2004) dibandingkan dengan kelompok ibu melahirkan dan menyusui yang tidak diberi ekstrak daun katuk. Pemberian ekstrak daun katuk pada induk babi dengan bobot 200 kg dengan konsumsi 3 kg/ekor/hari  setelah dikonversikan  berdasarkan luas permukaan tubuh yaitu 3396,22 mg/ekor/hari atau setara dengan 3 g/ekor/hari.  Dari kerangka pemikiran di atas, maka dapat diajukan suatu hipotesis bahwa penggunaan ekstrak daun katuk dalam ransum sebanyak 3 g/ekor/hari mampu meningkatkan konsumsi ransum pada induk menyusui dan bobot sapih pada ternak babi.

 

Konsumsi Ransum Induk Babi Laktasi

Ransum adalah makanan yang disediakan bagi ternak untuk memenuhi kebutuhannya selama 24 jam (Anggorodi, 1979). Faktor yang mempengaruhi konsumsi ransum adalah bobot individu ternak, tipe dan tingkat produksi, jenis makanan, dan faktor lingkungan. Malole dan Pramono (1989), menambahkan bahwa yang termasuk faktor lingkungan adalah keadaan kandang, temperatur dan kelembaban kandang.

Seekor induk bunting dapat mengkonsumsi makanan 2,5-3 kilogram setiap hari.  Induk bunting atau menyusui memerlukan makanan yang lebih banyak. Kebutuhan zat-zat makanan untuk produksi air susu ternak adalah salah satu kebutuhan yang tinggi dalam usaha peternakan. Kebutuhan ternak tersebut meningkat karena disamping untuk memenuhi kebutuhan tubuh ternak itu sendiri, zat-zat tersebut juga digunakan untuk menyusun air susu yang dihasilkan.

 

Pertambahan Bobot Badan dan Berat Sapi Anak Babi

Pertumbuhan merupakan suatu perubahan yang terjadi meliputi peningkatan ukuran sel-sel tubuh dimana pertumbuhan tersebut mencakup tiga komponen utama yaitu peningkatan berat otot, peningkatan ukuran skeleton, dan peningkatan jaringan lemak tubuh. Pertumbuhan dapat terjadi secara hyperplasi dan hypertrophy. Hyperplasi merupakan penambahan jumlah sel tubuh, sedangkan hypertrophy merupakan penambahan ukuran tubuh (Anggorodi, 1979). Pertumbuhan anak sebelum sapih dipengaruhi oleh genetik, bobot lahir, litter size lahir, produksi air susu induk, perawatan induk, dan umur induk. Pada ternak babi pertambahan bobot badan babi yang belum disapih mencapai 0,22 – 0,35 kg/ hari (Eusebio, 1980).

Inglis (1980), menyatakan bahwa bobot sapih yaitu bobot badan ternak saat dipisahkan dari induknya untuk disapih.  Sapih merupakan tahap pertumbuhan suatu hewan yang makanannya tidak bergantung pada air susu induknya dan mulai mengkonsumsi ransum padat dan air.  Sumantri, (1984) menyatakan besarnya bobot sapih dipengaruhi oleh jenis kelamin, bobot badan induk, umur induk, keadaan saat lahir, kemampuan induk untuk menyusui anak dan kuantitas dan kualitas ransum yang diberikan serta suhu lingkungan.

Menurut Parakkasi (1983), semakin banyak anak yang menyusu cenderung menaikkan produksi air susu induk walaupun tidak harus menjamin kebutuhan optimum dari anak-anak tersebut.  Kandungan air susu induk babi setelah 2 hari yaitu yaitu 7% lemak, 6,5% protein, dan 5% laktosa (Sihombing, 1997).  Induk yang memiliki produksi susu tinggi akan menghasilkan anak dengan bobot sapih yang tinggi pula.  Siagian(1999), berpendapat bahwa penyapihan hendaknya dilakukan saat umur sapih, karena apabila dilakukan lebih lama maka akan berpengaruh terhadap induk.  Anak babi disapih saat berumur 4-6 minggu                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bobot sapih anak babi berkisar antara 13-18 kg/ekor (Siagian, 1999).

 

 

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

 

Bahan Penelitian

Ternak percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah babi periode induk menyusui sebanyak 20 ekor pada partus ke 2-3  dengan berat badan yang relatif sama yaitu rata-rata 200 kg dengan umur yang relatif sama serta litter size 8-12 ekor / induk menyusui.

Kandang yang digunakan untuk penelitian adalah kandang induk individu yang berukuran 4 x 5 x 1  m dengan lantai semen dan beratap seng. Setiap unit kandang dilengkapi dengan tempat makan yang terbuat dari semen dan tempat minum serta dilengkapi juga dengan tempat anak atau guard drill. Jumlah kandang yang akan digunakan sebanyak 20 unit. 

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini antara lain satu buah timbangan dengan kapasitas 50 kg dengan ketelitian 0,1 kg untuk menimbang anak babi, satu buah timbangan kecil kapasitas 15 kg dengan tingkat ketelitian 0,05 kg untuk menimbang pakan, dan satu buah timbangan sartorius dengan tingkat ketelitian 0,2 gram untuk menimbang ekstrak daun katuk. Ekstrak daun katuk yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil ekstraksi yang diperoleh dari perusahaan PT Pithochemindo Reksa dalam bentuk powder.

 

Susunan  Ransum Penelitian

            Bahan makanan yang digunakan untuk menyusun ransum penelitian adalah tepung jagung, dedak padi, bungkil kelapa, bungkil kedelai, tepung ikan, dan tepung tulang. Penyusunan ransum dilakukan berdasarkan pada kebutuhan zat-zat makanan yang dianjurkan oleh National Research Council (1998). Bahan pakan yang digunakan dan kandungan zat-zat makanan serta energi metabolis bahan pakan disajikan pada Tabel 2, dan kebutuhan zat-zat makanan induk menyusui disajikan pada Tabel 3.

 

Metode Penelitian

Peubah yang Diamati

  1. Konsumsi Ransum (kg/ekor)

      Konsumsi ransum diketahui dengan cara jumlah ransum yang diberikan dikurangi sisa pada esok pagi  harinya (24 jam).

 

  1. Pertambahan Bobot Badan (kg/ekor)

      Pertambahan bobot badan dihitung dengan rumus sebagai berikut :

PBB =berat sapih – berat lahir

                  Lama sapih  

 

  1. Berat Sapih (kg/ekor)

Berat sapih ditimbang pada saat ternak disapih umur 1,5 bulan dengan cara jumlah total berat sapih anak dibagi jumlah anak.

     Tabel 2. Kandungan Zat-zat Makanan dan Energi Bahan Pakan Penyusun Ransum

Bahan Pakan DE*

PK

SK

Kalsium

Phosfor

  (kkal/kg) ………………………………..(%)……………………
Tepung jagung 4170,73

10,50

2,00

0,21

0,31

Dedak padi 3634,15

12,00

9,00

0,04

1,04

Tepung ikan 3482,93

48,67

0,01

6,32

2,95

Bungkil kedelai 3109,36

47,00

5,00

0,24

0,81

Bungkil Kelapa 4509,76

16,25

19,92

0,05

0,60

Tepung tulang

     0,00

1,04

0,00

5,16

0,14

   

 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*DE = EM / 82% (Sihombing, 1997)

Sumber : Analisis Laboratorium Nutrisi Institut Pertanian Bogor, (2006)

 

Tabel 3. Kebutuhan Zat Makanan Induk Menyusui

Digestible* Protein Kalsium Fosfor
Energi (kkal/kg) Kasar (%) (%) (%)
3420 13-15 0,75 0,6

Sumber : National Research Council (1998)

Kandungan zat makanan dan energi metabolis bahan pakan serta kebutuhan zat zat makanan induk menyusui telah disajikan dalam Tabel 2 dan Tabel 3, lalu diformulasikan untuk mendapatkan formulasi ransum basal yang disajikan pada  Tabel 4, sedangkan kandungan zat zat makanan dan energi metabolis ransum basal disajikan pada Tabel 5.

Tabel. 4. Formulasi Ransum Basal Babi Induk Menyusui

Bahan Makanan

Persentase (%)

Tepung jagung

47,00

Dedak padi

30,50

Tepung ikan

4,50

Bungkil kedelai

5,00

Bungkil kelapa

6,00

Tepung tulang

7,00

 

 

Total

100,00

Sumber : Hasil Perhitungan

Ransum percobaan yang akan digunakan adalah sebagai berikut :

Keterangan : R0= Ransum Penelitian tanpa penambahan ekstrak daun katuk.

             R1= Ransum Penelitian ditambah 3 gram ekstrak daun katuk.

 

 

Tabel 5. Kandungan Zat-zat Makanan dan Energi Metabolis Ransum Basal

Zat Makanan dan Gross Energi

Kandungan

DE ( Kkal/kg)*

3543,02

Protein Kasar (%)

14,18

Kalsium (%)

0,77

Posfor (%)

0,68

Keterangan : * DE = EM / 82 %  (Sihombing, 1997)

 

Tahap-tahap Penelitian

  1. Melakukan persiapan kandang, pembersihan kandang, sanitasi.
  2. Pengadaan bahan pakan penyusun ransum dan penyusunan ransum   basal, serta penimbangan bahan pakan ransum perlakuan.
  3. Penyediaan babi induk yang baru melahirkan dimasukkan ke dalam kandang yang telah disediakan, serta menimbang berat anak yang baru lahir.
  4. Pemberian ransum basal, dengan adaptasi babi, terhadap kandang, ransum, perlakuan, dan lingkungan selama 1 minggu.
  5. Penimbangan terhadap ekstrak daun katuk dan diberikan 2 kali sehari sebagai ransum perlakuan.
  6. Menimbang sisa ransum yang tidak habis dikonsumsi pada esok harinya.
  7. Kandang dibersihkan dua kali dalam sehari pada pukul 6.30 WIB dan 11.30 WIB. Kotoran dari setiap kandang dibuang melalui saluran pembuangan, kemudian babi dimandikan agar bersih dan nyaman.
  8. Pada akhir penelitian menimbang berat sapih anak lepas sapih.

 

 

Rancangan Percobaan dan Analisis Statistika

Percobaan dilakukan secara eksperimen dengan analisis data dilakukan menggunakan uji t. Percobaan dilakukan dengan 2 perlakuan yaitu ransum basal dan ransum dengan penambahan ekstrak daun katuk sebanyak 3 gram yang masing masing diulang sebanyak 10 kali.

 

Model matematikanya adalah sebagai berikut :

  1. Mencari ragam masing masing babi

             

S2        =     

 

S2        =  untuk σ1 = σ2

 

  1. Mencari standar deviasi masing masing babi

 

            S          =

 

 

  1. Mencari harga t masing masing babi

            t           =          untuk ragam yang sama  σ1 = σ2

 

 

            t           =        untuk ragam yang tidak sama σ1 ≠ σ2

 

Varians terbesar
Varians terkecil

 

untuk harga F =

 

 

                        F =

 

Bila ragam homogen :dk = n1 + n2 – 2

Bila ragam tidak homogen : dk = n1-2 atau dk = n2-2

Hipotesis yang di uji :

H0       = µ ≤ µ0

H1       = µ > µ0

 

      Keterangan :

µ          = peubah yang diberi penambahan ekstrak daun katuk

µ0         = tanpa penambahan ekstrak daun katuk.

Kaidah keputusan :

Bila thit ≤ tα (0,05) terima H0 tolak H1 (tidak berbeda nyata)

Bila thit > tα  (0,05) tolak H0 dan terima H1 (berbeda nyata )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Konsumsi Ransum Induk

Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap konsumsi ransum harian babi induk menyusui dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rata-rata Konsumsi Ransum Harian Babi Induk Menyusui (kg/hari)

Ulangan

Konsumsi Harian Babi Induk Menyusui ( kg/hari)

Rataan

 
 

R0

R1

 
1

4,17

4,13

   
2

3,46

4,26

   
3

4,28

3,71

   
4

4,32

4,49

   
5

2,91

4,22

   
6

4,47

3,70

   
7

3,59

3,43

   
8

4,16

3,89

   
9

3,22

3,51

   
10

3,29

3,08

 

 
Total

37,87

38,42

38,15

 
Rataan

3,787

3,842

3,842

 

Tabel 6 menunjukkan bahwa konsumsi harian rata-rata secara keseluruhan adalah 3,815 kg/ekor/hari.  Konsumsi ransum harian hasil penelitian tersebut sesuai dengan konsumsi ransum yang dianjurkan oleh sihombing (1997) yaitu 2,5-9 kilogram/ekor/hari.

Berdasarkan pemberian ekstrak daun katuk, diperoleh rata-rata konsumsi ransum harian perlakuan masing masing R0 (3,787 kilogram/hari) dan R1 (3,842 kilogram/hari). Tinggi rendahnya konsumsi ransum dipengaruhi oleh berbagai hal diantaranya temperature kandang dan kecederungan induk mengkonsumsi ransum setelah melahirkan. Biasanya ransum yang dikonsumsi induk bunting berbeda dengan konsumsi induk menyusui (Sihombing, 1997).

            Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap konsumsi ransum, dilakukan uji t student pemberian ekstrak daun katuk  dalam ransum  tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi ransum induk menyusui. Tidak berpengaruhnya ekstrak daun katuk terhadap konsumsi induk menyusui mungkin disebabkan karena faktor lingkungan, palatabilitas, berat badan induk yang dianggap sama, kandungan zat makanan tidak begitu berbeda sehingga mengakibatkan konsumsi induk tidak berbeda. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Parakkasi (1983), bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi induk dalam mengkonsumsi ransum diantaranya lingkungan, palatabilitas, berat badan ternak, kandungan zat zat makanan, dan aktifitas ternak. Kandungan zat makanan terutama energi dalam ransum antara perlakuan yang diberi penambahan ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari dengan yang tidak diberi penambahan ekstrak daun katuk sama  dan berat badan induk yang dianggap sama menyebabkan konsumsi induk tidak begitu berbeda. Oleh sebab itu pemberian 3 gr ekstrak daun katuk pada ransum induk menyusui tidak berpengaruh terhadap konsumsi induk menyusui.

 

 

 

 

 

 

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Pertambahan Bobot Badan Anak Babi

Hasil pengamatan yang dilakukan selama penelitian mengenai pengaruh pemberian 3 gr eksrak daun katuk pada rasum induk menyusui terhadap pertambahan bobot badan  dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Pertambahan Bobot Badan (kg/hari)

Ulangan PBBH Babi Prestarter

Rataan

Induk

R0

R1

 

……..……kg/ekor…………

 
1

0,23

0,41

 
2

0,25

0,37

 
3

0,31

0,33

 
4

0,26

0,37

 
5

0,26

0,39

 
6

0,24

0,39

 
7

0,27

0,36

 
8

0,25

0,38

 
9

0,23

0,38

 
10

0,27

0,36

 

Jumlah

2,57

3,74

 
Rata-rata

0,257 a

0,374 b

0,305

Ket. Huruf yang sama arah baris menunjukkan tidak berbeda nyata

 

Tabel 7 menunjukkan bahwa rata rata total pertambahan bobot yang dihasilkan  adalah 0,305 kg/ekor. Pertambahan bobot badan tersebut sesuai dengan pendapat Eusebio (1980) yaitu antara 0,22-0,35 kg/ekor/hari. Untuk perlakuan R0 diperoleh pertambahan bobot badan yang tertinggi yaitu 0,31 kg dengan rata-rata 0,257 kg sedangkan untuk perlakuan R1 diperoleh pertambahan bobot badan tertinggi yaitu 0,41kg dengan rata-rata 0,374 kg

Untuk mengetahui pengaruh pemberian 3 g ekstrak daun katuk pada ransum induk menyusui terhadap pertambahan bobot badan dilakukan uji t student yang hasilnya memperlihatkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk dalam ransum memberikan pengaruh yang nyata (p<0,05) artinya pemberian ekstrak daun katuk dapat meningkatkan pertambahan bobot badan harian anak babi yang masih menyusui.   Besar kecilnya pertambahan bobot badan  biasanya disebabkan oleh banyak faktor diantaranya litter size, bobot lahir, genetik, umur induk dan produksi susu induk. Pada induk yang diberi eksrtak daun katuk terdapat senyawa yang berfungsi merangsang putting induk babi untuk mengeluarkan air susu. Menurut Suprayogi (2000), mekanisme senyawa aktif daun katuk dalam sintesis susu dikelenjar sekretori melalui dua jalur. (1) Aksi hormonal, yaitu daun katuk dapat memodulasi hormon-hormon laktogenesis secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung melalui aksi prostaglandin dan hormon steroid, sedangkan secara tidak langsung melalui stimulasi sel-sel kelenjar pituitari untuk melepaskan hormon prolaktin dan oksitosin. (2) Aksi metabolik, yaitu melalui proses hidrolisis senyawa-senyawa aktif daun katuk yang kemudian dapat ikut serta dalam metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak.

Pemberian ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari pada induk menyusui sangat nyata meningkatkan pertambahan bobot badan. Hal ini disebabkan adanya kandungan senyawa dalam ekstrak daun katuk yang mampu meningkatkan sekresi air susu dalam ambing induk babi sehingga menghasilkan produksi susu yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Prajonngo, dkk (1983) yang menyatakan bahwa adanya kandungan sterol dalam tanaman ini mempunyai peran untuk meningkatkan air susu. Apabila susu yang dihasilkan oleh induk banyak maka akan meningkatkan pertambahan bobot badan hal ini sesuai dengan pendapat Anggorodi (1979) bahwa laju pertumbuhan ternak dari mulai lahir sampai disapih sebagian besar dipengaruhi oleh air susu yang dihasilkan oleh induknya.

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Berat Sapih

Hasil pengamatan yang dilakukan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap berat sapih babi dapat dilihat pada Tabel 8.  Diperoleh bahwa rata rata bobot sapih yang dihasilkan secara keseluruhan adalah 16,1 kg/ekor. Bobot sapih tersebut sesuai dengan bobot sapih yang dianjurkan oleh tabel NRC (1998), yakni 13-18 kg/ekor dengan umur penyapihan antara 4-6 minggu.  Berdasarkan pemberian ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari, diperoleh bobot sapih tertinggi untuk R0 yaitu 15,2 kg dengan bobot rata-rata 13,96 kg. Adapun bobot sapi tertinggi untuk R1yaitu 19,9 kg dengan bobot rata-rata yaitu 18,22 kg.

Tabel 8. Rata-rata Berat Sapih Harian Babi Periode Prestarter

Ulangan Berat Sapih Babi Prestarter (kg/ekor)

Rataan

Induk

R0

R1

1

14,2

19,9

 
2

14,9

18,0

 
3

15,2

16,4

 
4

14,4

18,3

 
5

13,0

18,6

 
6

12,3

19,0

 
7

13,4

17,5

 
8

14,4

18,3

 
9

14,3

18,8

 
10

13,7

17,4

 

Jumlah

139,6

182,2

161

Rataan

13,96 a

18,22 b

16,1

Ket. Huruf yang sama arah baris menunjukkan tidak berbeda nyata

 

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap berat sapih dilakukan uji t student memperlihatkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk dalam ransum memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap peningkatan berat sapih (p<0,01) .  Perbedaan berat sapih biasanya disebabkan oleh banyak faktor diantaranya berat lahir, banyaknya konsumsi susu, umur sapih dan produksi susu induk. Apabila produksi susu induk tinggi, maka akan meningkatkan berat anak pada saat disapih. Penyapihan yang terlalu dini akan menghasilkan frekuensi beranak lebih banyak, akan tetapi akan mengakibatkan laju pertumbuhan anak yang lambat dikarenakan anak belum terbiasa mengkonsumsi pakan secara penuh (Siagian, 1999).

Pemberian ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari pada induk menyusui sangat nyata meningkatkan berat sapih. Hal ini disebabkan adanya kandungan zat kimia dalam ekstrak daun katuk yang mampu meningkatkan sekresi air susu dalam ambing sehingga menghasilkan produksi susu yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Prajonngo, dkk (1983) yang menyatakan bahwa adanya kandungan sterol dalam tanaman ini mempunyai peran untuk meningkatkan air susu ibu (ASI) secara hormonal, karena tanaman ini mengandung sterol bersifat estrogenic.  Selain itu Suprayogi (2000) menambahkan ada tujuh senyawa yang apabila bekerja bersama sama dalam tubuh akan memacu produksi air susu ibu (ASI), meningkatkan fungsi pencernaan dan meningkatkan pertumbuhan badan. Tujuh senyawa tersebut adalah octadenoic acid, 9-eicosine; 5,8,11-heptadecatrienoic acid methyl ester; 9,12,15-octadecatrienoic acid ethyl ester; 11,14,17 eicosatrienoic acid methyl ester; androstan-17-one, 3-ethyl-3-hydroxy-5 alpha dan 3,4-dimethyl-2-oxocyclopent-3-enylacetatic acid. Dengan adanya tujuh senyawa dalam ekstrak daun katuk tersebut sehingga merangsang hormon yang ada dalam tubuh untuk memproduksi susu yang banyak sehingga kebutuhan anak dapat tercukupi. Apabila kebutuhan anak akan susu terpenuhi maka sangat baik untuk pertumbuhannya sehingga dihasilkan berat sapih yang tinggi, karena berat sapih sangat berkaitan erat dengan ketersedian air susu induk.

Ekstrak daun katuk juga memiliki kecernaan yang tinggi sehingga terkonsumsi maksimal oleh induk untuk meningkatkan fungsional hormon untuk merangsang pembentukan air susu untuk mencukupi kebutuhan anak dalam menunjang pencapaian bobot sapih yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan meskipun konsumsi induk tidak berbeda nyata antara yang diberi 3 g/ekor/hari ekstrak daun katuk dengan yang tidak diberi 3 g ekstrak daun katuk namun berat sapih yang dihasilkan sangat nyata. Hal ini didukung oleh data yang menunjukkan bahwa bobot sapih dari induk yang diberi ekstrak daun kauk lebih tinggi dibandingkan dengan bobot sapih anak dari induk yang tidak diberi ekstrak daun katuk.   Oleh sebab itu pemberian ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari terbukti sangat nyata meningkatkan berat sapih karena tingginya kecernaan dan banyaknya kandungan zat kimia dalam ekstrak daun katuk.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil penelitian dan pembahasan adalah  sebagai berikut : Pemberian ekstrak daun katuk dalam ransum sebanyak 3 g/ekor/hari tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum babi induk menyusui,  tetapi dapat meningkatkan pertambahan bobot badan harian dan  berat sapih.

Saran

  1. Pemberian Ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari pada ransum induk menyusui dapat digunakan sebagai feed aditif untuk meningkatkan berat sapih.
  2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada induk babi bunting terhadap berat lahir dan mortalitas anak babi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan ternak Umum. PT Gramedia Pustaka Umum, Jakarta.

Bender, A.E., and K.S. Ismail. 1975. Nutritive value and toxicity of Malaysian food, Sauropus albicans. Plant Food Man 1:139-143.

Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI. 1981. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Bharata Karya Aksara, Jakarta.

Djojosoebagio, S.1965. Pengaruh Sauropus androgynus terhadap fungsi fisiologis dan produksi air susu. Makalah dalam Seminar Nasional, Penggalian Sumber Alam Indonesia untuk Farmasi, Jogjakarta.

Inglis, L. K. 1980. Introduction to Laboratory Animal Science and Technology. Pergamon Press Ltd., Oxford.

Malole, M. B. dan C. S. Pramono. 1989. Penggunaan Hewan Percobaan di Laboratorium. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Malik, A. 1997. Tinjauan fitokimia, indikasi penggunaan dan bioaktivitas daun katuk dan buah trengguli. Warta Tumbuhan Obat Indonesia. Vol 3. no 3. Kelompok Kerja Nasional Tumbuhan Obat Indonesia.

Muhlisah, F. 1995. Tanaman Obat Keluarga. Penebar Swadaya, Jakarta

 

National Research Council. 1998. Nutrient Requirement of Swine. National Academy Press, Washington, D.C.

Parakkasi, A. 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Penerbit: Angkasa, Bandung.

Prajonggo, T.S., W. Djatmiko, T. Soemarno, dan J.L. Lunardi. 1983. Pengaruh Sauropus androgynus (L.) Merr terhadap gambaran histology kelenjar susu mencit betina yang menyusui. Prosiding Kongres Nasional IX ISFI, Jakarta.

Sadi, N.H. 1983. Katuk sebagai Sumber Karoten dalam Makanan Tambahan Anak-anak. Puslitbang Gizi, Bogor.

 

Sa’roni., T.Sadjimin., M.Sja’bani., Zulaela. 2004. artikel : Effectiveness Of The Sauropus androgynus (l.) merr Leaf Extract In Increasing Mother’s Braest Milk Production. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Volume XIV nomor.

Sastroamidjojo. A.S., 1988. Obat Asli Indonesia. Dian Rakyat, Jakarta.

 

Sastrosupandi, A. 2007. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian. Kanisius, Yogyakarta.

Siagian, P. 1999. Manajemen Ternak Babi. Jurusan Ilmu Produksi     Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

 

Sihombing, D.T.H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Soedirdjoatmodjo, M.D. 1986. Bertanam Sayuran Daun. Karya Bani, Jakarta.

Soeseno, A. 1984. Kebun Sayur di Pekarangan Anda. Kinta, Jakarta.

Suprayogi, A. 2000. Studies Of The Biological Effect Of Sauropus androgynus L Merr: Efects On Milk Production And The Possibilities Of Induced Pulmonary Disorder In Lactating Sheep. George- August, University Gottingen Institut Fur Tierphysiologie Und Tierernahrung.

Tilman, D.A., S. Reksohadiprojo., S. Prawirokusumo., S. Lebdosoekojo., H .Hartadi, 1986. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada Univeersity Press, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TEPUNG BANGUN-BANGUN

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG BANGUN-BANGUN

(Coleus amboinicus. L)  PADA RANSUM BABI TERHADAP

KONVERSI RANSUM INDUK MENYUSUI DAN

PERTAMBAHAN  BOBOT BADAN ANAK

 

 

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG  BANGUN-BANGUN

 (Coleus amboinicus. L) PADA RANSUM BABI TERHADAP

KONVERSI RANSUM INDUK MENYUSUI DAN

PERTAMBAHAN BOBOT BADAN ANAK

 

Sauland Sinaga dan Angga Perdana

 

 

ABSTRAK

 

Penelitian ini telah dilaksanakan di Peternakan yang berlokasi di desa Cigugur Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat pada Bulan November – Desember 2010. Tujuan penelitian adalah untuk  mendapatkan tingkat penggunaan tepung bangun-bangun yang dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak. Lima belas ekor ternak babi menyusui dengan berat badan berkisar 125-150 kg dialokasikan ke dalam Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ransum perlakuan dan diulang sebanyak 5 kali. Kombinasi ransum perlakuan terdiri atas : R0 (ransum yang mengandung 0% tepung bangun-bangun), R1 (ransum yang mengandung 3% tepung bangun-bangun), dan R2 (ransum yang mengandung 5% tepung bangun-bangun). Hasil penelitian diperoleh bahwa penggunaan tepung bangun-bangun (R2) sebesar 5% pada ransum menghasilkan nilai konversi ransum induk menyusui terendah dan pertambahan bobot badan anak tertinggi

 

Kata kunci : Tepung bangun-bangun, Babi Induk menyusui, anak babi,  konversi ransum,  pertambahan bobot badan 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

THE EFFECT OF COLEUS AMBOINICUS. L FLOUR GIVING IN THE PIG FEED THE RATION CONVERSION OF SOW AND BODY WEIGHT GAIN OF PIGLET.

 

 

ANGGA PERDANA

 

ABSTRACT

 

 

            This research has been done in the  animal husbandry  of Cigugur, Kuningan , Jawa Barat  November  1 – December 16, 2010 with intention of knowing the level of Coleus amboinicus. L giving and the effect of Coleus amboinicus. L flour giving towards the weight gain of piglet. Fifteen sows with weight around 125-150 kg each have been allocated into the Complete Random Design three treatment rations and have been repeated five times. The combination of treatment ration consists of R0 (Ration with 0% of Coleus amboinicus. L flour), R1 (ration with 3% of Coleus amboinicus. L flour), R3 (ration with 5% of Coleus amboinicus. L flour). Based on the result of the research, it can be concluded that the giving of Coleus amboinicus. L flour in the amount of 5% gives effect forwards the weight gain of piglet and the ration conversion.

 

 

Key words :  Coleus ambonicus L flour, Conversion Ration Sow,

Sow During Lactation, Weight Gain of Piglet

 

 

PENDAHULUAN

 

1.1.     Latar Belakang

Babi merupakan salah komoditas ternak yang memiliki pontesi besar untuk dikembangkan, selain itu babi merupakan salah satu sumber penghasilan daging diantara jenis ternak lainya. Hal ini didasarkan pada karakteristik babi yang meliki persentase karkas, mencapai 65%–80% peridi (prolific) satu kali beranak bisa 6-12 ekor dan setiap induk bisa beranak 2,5 kali di dalam setahun.

 Induk babi harus mendapatkan pakan dengan kualitas baik, hal ini diperlukan untuk produksi air susu mengingat litter size yang sangat tinggi. Faktor yang dapat menentukan keberhasilan peternakan babi adalah ransum yang diberikan harus mengandung zat-zat makanan yang seimbang dan sesuai kebutuhan ternak. Induk babi saat laktasi menghasilkan sekitar 7 kg air susu perhari. Babi bunting selama 114 hari masa bunting, akibatnya  kebutuhan zat-zat makanan induk laktasi jelas lebih tinggi dibandingkan kebutuhan induk bunting.

 

Bangun-bangun adalah tanaman menjalar, memiliki daun tunggal berwarna hijau, berkayu lunak, beruas-ruas, berpenampang bulat, dengan diameter pangkal sekitar ± 15 mm, tengah 10 mm dan ujung ± 5 mm.  Di beberapa daerah, bangun-bangun dikenal dengan nama Sunda (acerang), Bali (iwak). Bangun-bangun  lebih tipis, bulu dan  kandungan  protein daun 6,20%, batang 5,12%, ranting 3,98%.

Bangun-bangun diharapkan dapat meningkatkan konsumsi dan konversi ransum lebih baik, serta pertumbuhan bobot badan  anak lebih meningkat.  Bangun-bangun adalah tanaman yang tumbuh liar di dataran rendah  sampai pada ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut. Daun ini bermanfaat sebagai obat sariawan, batuk rejan, influenza, demam, perut kembung, mulas, sembelit, bahkan sebagai anti tumor, anti kanker, anti vertigo, dan hipotensif,  asthma dan bronchitis. Menurut tradisi masyarakat Batak di Propinsi Sumetera Utara, Bangun-bangun atau Torbangun (Coleus amboinicus Lour) dipercaya mampu meningkatkan produksi susu ibu yang sedang  menyusui.

Bangun-bangun mempunyai komponen penting yaitu, senyawa-senyawa yang bersifat laktagogue, dapat menstimulir produksi kelenjar air susu pada induk laktasi, yaitu senyawa-senyawa yang bersifat buffer, antibacterial, anti oksidan,  pelumas, pelentur, pewarna dan penstabil. Produksi susu yang tinggi dapat ditandai dengan konsumsi ransum yang tinggi dan memperbaiki nilai konversi ransum karena absorbsi nutrient yang tinggi. Produksi susu yang tinggi dapat meningkatkan pertambahan bobot badan anak.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulisan terdorong untuk melakukan penelitian tentang” Pengaruh Pemberian Tepung Bangun-bangun (Coleus ambonicus Lour) pada Ransum Babi terhadap Konversi Ransum Induk Menyusui dan Pertambahan Bobot Badan Anak

 

1.2.           Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat   diidentifikasi masalah sebagai berikut :

  1. Berapa besar pengaruh pemberian tepung bangun-bangun (Coleus amboinicus L) pada ransum babi terhadap konversi ransum Induk menyusui dan pertambahan bobot badan anak
  2. Pada tingkat berapa persen pemberian tepung bangun-bangun (Coleus amboinicus L) pada ransum babi  dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.

 

1.3.           Maksud dan Tujuan

  1. Mengetahui pengaruh pemberian tepung Bangun-bangun (Coleus amboinicus. L) pada ransum babi terhadap konversi induk menyusui dan pertambahan bobot badan anak.
  2. Mendapatkan tingkat pemberian tepung Bangun-bangun (Coleus amboinicus L) pada ransum babi yang dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.

 

1.4.           Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi bagi peternak dan peneliti dalam kemajuan dunia peternakan, mengenai pengaruh pemberian tepung Bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour) pada ransum Babi terhadap konversi ransum induk menyusui  dan pertambahan bobot badan anak.  

 

 

 

 

 

 

1.5.           Kerangka Pemikiran

Konversi ransum adalah pertambahan bobot badan yang dihasilkan setiap satu ransum yang dikonsumsi. Faktor utama yang mempengaruhi konversi ransum adalah konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan, kandungan nutrisi didalam ransum dapat dimanfaatkan dengan baik oleh tubuh ternak jika proses percernaan dengan baik. Kemampuan ternak mengubah makanan ke dalam bentuk pertambahan bobot badan hal ini dapat dinyatakan sebagai jumlah kenaikan bobot badan (Bogart,1977). 

Ransum yang sempurna untuk induk yang sedang bunting harus menyediakan zat-zat makanan secara simultan dan digunakan untuk hidup pokok, mensuplai energi untuk proses hidup. Perkembangan calon anak yang sedang dikandung oleh induk adalah dengan menyimpan suatu cadangan zat-zat makanan. Bangun-bangun selain berdaya antiseptika ternyata mempunyai aktivitas tinggi melawan infeksi cacing (Vasquez dkk 2000). Senyawa aktif minyak atsiri phythocemical database Duke (2000), melaporkan bahwa dalam Bangun-bangun ini terdapat juga kandungan vitamin C, B1, B12, senyawa aktif  thymol, betacaroten, niacin, carvarol, kalsium, asam – asam lemak, asam oksalat dan serat.

Bangun–bangun juga mengandung kalium yang berfungsi sebagai pembersih darah, melawan infeksi, mengurangi rasa nyeri, menimbulkan rasa tenang dan menciutkan selaput lendir,  hewan yang mengalami setres panas membutuhkan tambahan 1 % kalium untuk mencegah hilangnya nafsu makan, menurunkan sekresi air susu dan pertambahan bobot badan. Bangun-bangun dapat memberikan manfaat kesehatan dan pertumbuhan bayi yang ibunya mengkomsumsi daun Bangun-bangun dapat meningkatkan produksi air susu ibu (Damanik,2006). Peningkatan volume air susu terjadi karena adanya penigkatan aktivitas sel epitel yang ditandai dengan meningkatnya DNA dan RNA kelenjar mamamae. Peningkatan metabolisme yang ditandai dengan menurunnya konsentrasi T4 dan glukosa serum (Silitonga, 1993).

Hasil pengamatan terhadap anak tikus yang sedang menyusui diperoleh bahwa pemberian tepung Bangun-bangun sebesar 5% dapat meningkatkan pertambahan bobot badan anak  (Tiurlan, 2008). Sebelumnya Weaning (2007) mengatakan bahwa pemberian 5% tepung Bangun- bangun pada hari ke- 14 umur kebuntingan meningkatkan produksi air susu dan konsumsi ransum juga memperbaiki nilai konversi ransum.

Berdasarkan uraian di atas maka didapat hipotesis, pemberian tepung Bangun-bangun sebesar 5% pada ransum dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.

 

1.6.           Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian telah dilaksanakan dari tanggal 1 November sampai dengan  16 Desember 2010 di Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan Jawa Barat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.      Deskripsi Ternak Babi

            Babi merupakan ternak monogastrik yang mempunyai kesanggupan dalam mengubah bahan makanan secara efisien. Ternak babi lebih cepat tumbuh, cepat dewasa dan prolifik yakni banyak anak perkelahiran berkisar 8-12 ekor dengan rata-rata 2 kali kelahiran per tahunnya.

            Menurut Sosroamidjojo (1977), babi asli Indonesia berasal dari babi hutan yang sampai sekarang masih terdapat hidup liar dihutan, dan babi ini terkenal dengan nama Celeng (Sus verrucosus), beberapa babi Indonesia yang terkenal di pasaran antara lain misalnya babi Nias, babi Tangerang, babi Karawang, babi Bali dan babi Sumba (Wahju dan Supanji, 1969).

            Klasifikasi zoologis babi adalah sebagai berikut:

                        Phylum           : Chordata

Class               : Mamalia

                        Ordo               : Ortiodactyla

                        Genus             : Sus

                        Family            : Suidae

                        Spesies           : Sus scrofa

 

2.2.      Tanaman Bangun-bangun

            Daun torbangun (Coleus amboinicus Lour) merupakan salah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai ramuan tradisional di Indonesia. Tanaman Torbangun ini tumbuh liar didataran rendah dan tempat lain sampai pada ketinggian 1100 m di atas permukaan laut. Tanaman ini bermanfaat sebagai obat sariawan, batuk, rejan, influenza, demam, perut kembung, mulas, sembelit bahkan sebagai anti tumor, anti kanker, anti vertigo dan hipotensif. Menurut tradisi masyarakat Batak di Propinsi Sumatera Utara, daun Torbangun (Coleus amboinicus Lour) dipercaya mampu meningkatkan produksi susu ibu yang sedang menyusui (Damanik dkk, 2001).

            Daun torbangun adalah jenis tanaman herba, yang telah lama dikenal di beberapa daerah di Indonesia, terutama di daerah Sumatera, khususnya masyarakat batak. Tanaman torbangun memiliki ciri fisik batang berkayu lunak, beruas-ruas dan berbentuk bulat, diameter pangkal ± 15 mm, tengah 10 mm dan ujung ± 5 mm. Tanaman torbangun jarang berbunga akan tetapi pengembang biakannya mudah sekali dilakukan dengan stek dan cepat berakar didalam tanah. Di pot pun tanaman ini dapat tumbuh dengan baik (Heyne, 1987). Pada keadaan segar, helaian daun tebal, berwarna hijau muda, kedua permukaan berbulu halus dan berwarna putih, sangat berdaging dan berair, tulang daun bercabang-cabang dan menonjol. Pada keadaan kering helaian daun tipis dan sangat berkerut, permukaan atas kasar, warna coklat, permukaan bawah berwarna lebih muda daripada permukaan atas dan tulang daun kurang menonjol.

 

Gambar 1. Tanaman Torbangun

Taksonomi tanaman bangun-bangun diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom        : Plantae

Divisi                         : Phanerogamae

Subdivisi       : Spermatophyta

Class               : Angiospermae

Family            : Limiaceae (Labialae)

Sub Family    : Oscimoidae

Genus             : Coleus

Spesies           : Coleus amboinicus Lour

Menurut Damanik dkk (2006), daun torbangun dapat memberikan manfaat kesehatan dan pertumbuhan bayi yang ibunya mengkonsumsi daun Torbangun karena daun ini dapat meningkatkan produksi air susu ibu. Peningkatan volume air susu terjadi karena adanya peningkatan aktivitas sel epitel yang ditandai dengan meningkatnya sekresi air susu, peningkatan metabolisme yang ditandai dengan menurunnya kadar glukosa serum (Silitonga, 1993). Daun torbangun mengandung kalium yang berfungsi sebagai pembersih darah, melawan infeksi, mengurangi rasa nyeri dan menimbulkan rasa tenang sehingga sekresi susu menjadi lancar. Kandungan nutrien bangun-bangun di sajikan pada Tabel 1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1. Kandungan Nutrien Tanaman Bangun-bangun

 

No.

Nutrien

Daun

Batang

Ranting

1

Air (%)

8,14

13,46

8,04

2

Lemak (%)

0,87

0,61

0,53

3

Protein (%)

6,20

5,12

3,98

4

Karbohidrat (%)

81,83

74,69

80,37

5

Energi (KKal)

359,95

324,73

342,17

6

Zn (ppm)

2,14

5,16

0,82

7

Fe (mg/100 g)

3,28

3,95

2,01

8

K (mg/100 g)

292,17

165,21

119,47

9

Ca (%)

0,23

0.118

0,10

10

Mg (%)

0,06

0,045

0,02

11

Vitamin A (IU/100g)

11335,77

-

-

12

Viatamin C (mg/100g)

168,41

-

-

Sumber: Balai Besar Industri Agro (BBIA), Bogor (2008)

 

 

 

 

 

 

2.3.      Konsumsi Ransum

            Ransum adalah makanan yang diberikan pada ternak tertentu selama 24 jam,  pemberiannya dapat dilakukan sekali atau beberapa kali selama 24 jam tersebut. Ransum sempurna adalah kombinasi beberapa bahan makanan yang bila dikonsumsi secara normal dapat mensuplai zat-zat makanan kepada  ternak dalam perbandingan jumlah, bentuk, sedemikian rupa sehingga fungsi-fungsi fisiologis dalam tubuh berjalan secara normal (Parakkasi,1990).

Crurch (1979) mengatakan faktor penting yang menentukan tingkat konsumsi makanan adalah palatabilitas yang dipengaruhi oleh bau, rasa, tekstur, suhu dan beberapa faktor lain seperti suhu lingkungan, kesehatan ternak, stress, dan bentuk fisik makanan. Clawson, dkk (1962) mengatakan konsumsi ransum dipengaruhi oleh keseimbangan protein-energi dalam ransum dan konsumsi ransum cenderung meningkat bila kandungan energi menurun.

             Induk menyusui dapat mengkonsumsi makanan 3-5 kilogram setiap hari. Induk menyusui membutuhkan makanan yang kebih banyak. Kebutuhan zat-zat makanan untuk produksi air susu ternak adalah salah satu kebutuhan yang tinggi dalam usaha peternakan. Kebutuhan ternak tersebut meningkat karena disamping untuk memenuhi kebutuhan tubuh ternak itu sendiri, zat-zat tersebut juga digunakan untuk menyusun air susu yang dihasilkan.

 

2.4.                   Konversi Ransum

Konversi ransum adalah jumlah konsumsi ransum yang dibutuhkan untukan menghasilkan 1kg pertambahan badan atau kemampuan ternak mengubah makanan kedalam bentuk bobot badan  (Bogart, 1997), sehingga angka konversi ransum tergantung pada banyaknya ransum yang dikonsumsi serta perubahaan atau kenaikan bobot badan yang dihasilkan. Semakin tinggi konsumsi ransum belum tentu akan memperbaiki angka konversi ransum apabila tidak diikuti dengan pertamabahan bobot badan.

Nilai konversi ransum merupakan perbandingan yang menunjukan efisiensi penggunaan ransum untuk menghasilkan pertambahan bobot badan sebesar satu satuan, dengan demikian semakin rendah makin rendah angka konversi makin efisien dalam pengunaan ransum. Hal ini dapat dinyatakan sebagai jumlah kenaikan bobot badan yang di hasilkan dari satu satuan makanan yang persatuan bobot badan. Perbandingan tersebut bervariasi dalam hubungannya terhadap sejumalah factor, umur ternak , bangsa, daya produksi, (Campbell dan Lasley, 1985).

 

 

Konversi ransum dapat digunakan sebagai peubah untuk seleksi terhadap ternak yang mempunyai kecepatan pertambahan bobot badan yang terhadap ternak yang mempunyai kecepatan pertambahan bobot badan yang baik (Bogart, 1997). Sihombing (1997) mengemukan bahwa nilai konversi dari dari seekor ternak erat hubungannya dengan tujuan seleksi guna mendapatkan ternak yang ekonomis. Menurut Cole dan Ronning, (1974) pada disertasi Najoan, (2002) menyatakan bahwa konversi ransum akan menurun dengan bertambahan besarnya babi dan variasi akan terjadi diantara bangsa-bangsa babi. Besar konversi pakan terhadap ransum pada babi grower ialah 3,5 artinya untuk menghasilkan berat babi 1 kg dibutuhkan 3,5 kg ransum (Goodwin, D.H. 1974).  Untuk konversi ransum induk menyusui pada babi lebih tinggi kebutuhan ransum sesuai dengan jumlah anak yang menyusui hal ini dapat di konversi ransum dengan pertambahan bobot badan anak semakin baik, untuk babi menyusui butuh konsumsi ransum 4 kg – 6 kg perharian untuk menanghasil susu 7-8 liter perharian, hal ini dapat dilihat bobot badan induk akan menurun untuk menayusui anak (Sihombing,1997).

 

 

 

     2.5.     Pertambahan Bobot Badan Anak

             Pertambahan bobot badan anak adalah pertambahan bobot badan dari berat lahir sampai berat sapih yang mengalami kenaikan bobot badan babi dengan mengonsumsi air susu induk menyusui, sehingga terjadi konsumsi ransum meningkat  pada induk menyusui dan perlukan zat-zat makanan yang berkualitas yang baik dari ransum untuk mencapai bobot badan yang maksimal.

            Menurut Parakkasi (1983), semakin banyak anak yang menyusu cenderung menaikkan produksi air susu induk walaupun tidak harus menjamin kebutuhan optimum dari anak-anak tersebut. Kandungan air susu induk babi setelah 2 hari yaitu 7% lemak, 6,5% protein, dan 5% laktosa (Sihombing, 1997). Induk yang memiliki produksi susu tinggi akan menghasilkan anak dengan pertambahan bobot badan akan meningkat, karena produksi susu tertinggi pada minggu ke-3 setelah kelahiran. Pada umur 0-3 minggu tersebut adalah konsumsi terbanyak oleh anak-anak babi untuk pertumbuhannya sehingga pertambahan bobot badan anak akan baik. Anak babi disapih saat berumur 4-6 minggu bobot sapih anak babi berkisar antara 13-14 kg/ekor dengan penambahan bobot badan perhari berkisar antara 0,30-0,32 kg/ekor (Sihombing,1997).

 

 

III

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

 

3.1.      Bahan Penelitian

3.1.1. Ternak Penelitian

Penelitian menggunakan 15 ekor ternak babi induk menyusui Landrace  partus ke 2-3 dengan kisaran bobot badan ternak tersebut adalah 120-150 kg dan umurnya relatif sama koefesian

 

3.1.2. Bangun-bangun

Tepung bangun-bangun yang digunakan dalam penelitian ini adalah batang, daun, ranting diperoleh dari Sumatra utara. Bangun-bangun dicacah dengan ukuran 1-2 cm, dilayukan, dikeringkan di bawah sinar matahari, kemudian digiling halus menjadi tepung, di Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas, Non Ruminansia dan Industrisi Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

 

 

 

 

 

3.1.3. Kandang Penelitian

Kandang  yang digunakan dalam penelitian adalah kandang individu  berukuran panjang 5 m, lebar 4 m, tinggi 1 m dengan lantai semen dan beratap seng. Setiap unit kandang dilengkapi  dengan  tempat pakan dan minum sebanyak 15 unit.

 

 3.1.4. Peralatan                                   

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Satu buah timbangan duduk berkapasitas 300 kg dengan tingkat ketelitian 0,1 kg untuk menimbang babi.
  2. Satu buah timbangan biasa dengan kapasitas 5 kg dengan tingkat ketelitian 0,05 kg untuk menimbang pakan.
  3. Satu buah timbangan santurius dengan kapasitas 100 gram dengan tingkat ketelitian 0,2 gram untuk menimbang tepung bangun-bangun.

 

 

 

 

 

3.1.5.              Ransum Penelitian

Bahan pakan yang digunakan untuk menyusun ransum penelitian antara lain: tepung jagung, dedak padi, bungkil kelapa, tepung ikan, tepung tulang, minyak kelapa, premix, tepung bangun-bangun. Penyusunan  ransum dilakukan berdasarkan pada zat-zat makanan yang dianjurkan oleh National Research Council (NRC, 1998). Kandungan nutrien dan energi metabolis bahan pakan yang di gunakan dicantumkan pada Table 2. Adapun susun ransum basal yang gunakan pada penelitian ini di cantumkan.

Tabel 2. Kandungan Nutrien dan Energi Metabolis Bahan Pakan

               Penyusun Ransum

Bahan Pakan    EM

         PK

       SK

     Ca

         P

Jagung

3420,00

10,50

2,00

0,21

0,31

 
Dedak Padi

2980,00

12,00

9,00

0,04

1,04

 
T. ikan

2856,20

48,67

0,01

6,32

2,95

 
B. kelapa

3698,00

16,25

19,92

0,05

0,60

 
B. kedelai

2550,00

47,00

5,00

0,24

0,81

 
T.Bangun-  bangun

342,28

26,43

22,43

0,15

0,00

 
T. tulang

0,00

1,04

0,00

5,16

0,14

 
Premix

0,00

0,00

0,00

0,13

0,11

 
                     

Keterangan : EM= Energi Metabolisme, PK= Protein Kasar, SK= Serat Kasar,

                        Ca= Kalsium, P= Posfor

Sumber : Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, IPB (2005) 

 

 

Tabel 3. Susunan Ransum Basal Babi Induk Menyusui (R0)

No

Bahan pakan

          Jumlah

   
             
    ………………….%……………………..

1

Tepung jagung  

48

 

2

Dedak padi  

35

 

3

Tepung ikan  

4,5

 

4

Bungkil kedelai  

4

 

5

Bungkil kelapa  

5

 

6

Tepung tulang  

3

 

7

Tepung Bangun-bangun  

0

 

8

Premix

 

0,5

 

  Jumlah  

     100,00

 
             
Sumber : Hasil perhitungan        

                Ransum perlakuan yang di gunakan dalam penelitian ini

 adalah sebagai berikut :

            R0 = 100 % Ransum basal (tanpa tepung Bangun-bangun)

            R1 =  97 % R0 ditambahkan 3 % tepung Bangun-bangun

           R2 =  95 % R0 ditambahkan 5 % tepung Bangun-bangun

 

 

 

 

Kandungan Nutrien dengan Energi Metabolisme Ransum Perlakuan di tampilkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Kandungan  Nutrien dan Energi Metabolis Ransum Perlakuan.

No

Nutrien

Energi Metabolis

Ransum Perlakuan

Kebutuhan menurut

  NRC, 1998

   

R0

R1

R2

1

Protein Kasar (%)

14,15

14,52

14,77

13-15

2

Calsium (%)

0,77

0,70

0,73

0,75

3

Phosfor (%)

0,62

0,66

0,62

0,60

4

Energi Metabolis (kkal/kg)

3363,27

3342.04

3343,51

3265,00

Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 1 dan 2

3.2.      Peubah yang Diamati

1. Konsumsi Ransum Induk (kg/hari)

Konsumsi ransum diketahui dengan cara jumlah ransum yang diberikan dikurangi sisa pada esok pagi harinya  (24 jam).

Konsumsi ransum (kg/hari) =

Jumlah ransum yang berikan (kg/hari) – Sisa ransum (kg/hari)

 

2. Pertambahan bobot badan anak (kg/ekor)

Bobot badan di timbang 2 kali selama 45 hari, pertambahan bobot badan dihitung dengan rumus sebagai berikut :

PBB = Berat Sapih – Berat Lahir

 Lama Sapih

 

3. Konversi Ransum  

Konversi ransum yaitu jumlah konsumsi ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan pertambahan bobot badan dapat di hitung dengan rumus sebagai berikut:

Konversi Ransum = Konsumsi ransum  induk (kg)

           Berat induk akhir  –  berat awal (kg)

 

 3.3.    Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental dengan  menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan dan lima ulangan, sehingga penelitian ini menggunakan 15 ekor ternak babi induk.

Model matematik yang digunakan (Steel dan Torrie, 1989) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Yij     =  µ + αi + єij

Keterangan : 

Yij      =  Nilai harapan dari perlakuan ke-i pada ulangan ke-j

µ       =  Nilai rataan umum

αi        =  Pengaruh ke i=1,2,3

Єij      =  Galat perlakuan ke-i pada ulangan ke-j=1,2,3,4,5

Asumsi :

  1. Nilai єij menyebar normal bebas satu sama lain.
  2. Nilai harapan єij = 0 atau Σ ij) = 0
  3. Ragam dari єij = δ2 atau Σ (єij) = δ2 ,       єij  ~  NID (0, δ2)

Sidik Ragam

Tabel 5. Daftar sidik ragam

 

Sumber keragaman dB JK KT Fhit
Perlakuan      2 JKP KTP KTP/KTG
Galat 3(5-1) JKG KTG  
Total 14 JKT - -

 

Hipotesis

  1. H0  : R0=R1=R2 : Perlakuan tidak berpengaruh terhadap respon.
  2. ­­­H1 : R0≠R1≠R2  : Paling sedikit ada sepasang perlakuan yang tidak sama.

Kaidah Keputusan :

  1. Bila Fhit < F 0,05: perlakuan tidak berbeda nyata (terima H0/tolak H1)
  2. Bila Fhit > F 0,05: perlakuan berbeda nyata (tolak H0/terima H1)

Apabila terdapat perbedaan yang nyata (Fhit > F α 0,05)

dengan uji Duncan dengan rumus :          

 

LSRx      =          SSRxSx

Keterangan    :          

Sx           : Simpangan Baku

R         : Jumlah Ulangan

KTG    : Kuadrat Tengah Galat

LSR     : Least Significant Range

SSR     : Student Significant Range

Kaidah keputusan :

Bila d ≤ LSR, tidak berbeda nyata             

            Bila d > LSR, berbeda nyata

            d = Selisih antara dua rata-rata perlakuan

SSR     = Standartized Siginficant Range

LSR     = Least Significant Range

r           = Range

 

 

 

 

 

 

 

3.4. Tahap-tahap Penelitian

  1. Persiapan kandang, sanitasi kandang, pengadaan ternak, pengadaan ransum dan peralatan. Setiap babi dimasukan ke kandang individu dan memperoleh satu perlakuan yang sebelumnya dilakukan pemilihan perlakuan secara acak.
  2. Adaptasi babi terhadap kandang, perlakuan dan lingkungan yang baru selama satu minggu. Untuk adaptasi pakan dilakukan dengan cara  memberikan pakan sebelumnya ditambah pakan penelitian sampai babi sudah dapat beradaptasi terhadap pakan peneltian.
  3. Kandang dibersihkan dua kali sehari yaitu pada pukul 06.00 dan 12.00 WIB. Kandang dibersihkan dari semua  kotoran ternak babi dan kotoran tersebut dibuang ke saluran pembuangan, setelah itu babi dimandikan agar bersih dan nyaman  babi. Pemberian pakan dilakukan selama tiga kali  yaitu pada pukul 07.00, 12.00, dan 16.00 WIB, sedangkan sisa pakan ditimbang setiap pagi harinya untuk mengetahui besar konsumsi pakan.
  4. Penimbangan berat lahir anak dan bobot awal badan induk
  5. Penimbangan pada akhir penelitian menimbang pertambahan bobot badan anak dan induk

 

 

3.5.  Tata Letak Kandang Penelitian

K1

B13

R1

K2

B3

R1

K3

B6

R0

K4

B4

R1

K5

B1

R1

K6

B15

R2

K7

B11

R0

 

K8

B5

R1

 

K9

B10

R2

K10

B8

R2

K11

B14

R0

K12

B7

R2

K13

B2

R0

K14

B12

R2

K15

B9

R0

 

Keterangan : Nomor Kandang       = K1, K2, K3,…K15

                        Nomor Babi               = B1, B2, B3,…B15

Ransum Perlakuan   = R0, R1 dan R2                                          

 

 

 

 

 

 

 

 

IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1.      Pengaruh Perlakuan terhadap Konversi Ransum

            Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap konversi ransum babi induk menyusui dapat dilihat pada Tabel 6.

 

Tabel 6. Rata-rata Konversi Ransum Induk Babi Menyusui. 

 

Ulangan

 

Perlakuan

 

 

 

R0

R1

R2

 
       
   

1

-9,51

-10,25

-22,44

 

2

-8,38

-9,92

-14,53

 

3

-9,74

-23,38

-30,80

 

4

-7,95

-12,92

-15,25

 

5

-6,89

-8,66

-12,56

 
Total

-42,47

-65,14

-95,57

-203,18

Rataan

-8,49

-13,03

-19,11

-40,64

Keterangan :

 R0 = Ransum basal (tanpa tepung bangun-bangun)

 R1 = Ransum dengan pertambahan 3% tepung bangun-bangun

 R2 = Ransum dengan pertambahan 5% tepung bangun-bangun

 

 Catatan :  tanda (-) menunjukan penurunan berat badan induk menyusui

Sebagai diperoleh nilai konversi (-), penurunan berat badan induk menyusui dapat di lihat pada lampiran 2.

 

 

Konversi ransum adalah jumlah ransum yang dikonsumsi untukan menghasilkan pertambahan berat badan atau kemampuan ternak mengubah makanan ke dalam bentuk bobot badan  (Bogart, 1997).

            Tabel 6 menunjukkan bahwa Pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum babi induk menyusui, diperoleh rataan konversi ransum babi induk menyusui masing-masing perlakuan adalah R0 (-8,49), R1 (-13,03) dan R2 ( -19,11). Guna mengetahui pengaruh perlakuan terhadap konversi ransum babi induk menyusui maka dilakukan analisis sidik ragam hasilnya dapat dilihat pada Lampiran 3.

Hasil analisis statistik Lampiran 3 menunjukkan bahwa pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum induk babi menyusui berpengaruh nyata terhadap (P<0,05) konversi ransum. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh antar perlakuan,  dilakukan uji  Duncan yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 7.

 

 

 

 

 

 

Tabel 7. Hasil  Uji  Duncan  Pengaruh Perlakuan Tepung  Bangun-bangun Terhadap Konversi Ransum  Induk Menyusui

 

Perlakuan

Konversi Ransum

Signifikansi (α, 0,05)

   

 

R0

-8,49

                     a

R1

-13,03

   ab

R2

-19,11

       b

 

Tabel 7 menunjukan bahwa perlakuan R2 (5% tepung bangun-bangun) nyata (P<0,05) lebih rendah nilai konversi ransumnya, di bandingankan perlakuan R0 (0% tepung bangun-bangun) pada babi induk menyusui. Adapun antara perlakuan R2 (5% tepung bangun-bangun) dengan R1 (3% tepung bangun-bangun) dan antara perlakuan R1 (3% tepung bangun-bangun) dengan R0 (0% tepung bangun-bangun) tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata (P>0,05), terhadap nilai konversi ransum babi induk menyusui.  Konversi ransum efesien karena terjadi  bobot sama untuk menghasilkan satuan bobot badan induk babi menyusui, maka pengaruh tepung bangun-bangun paling baik pertumbuhan anak,  Wening  (2007). Konversi ransum induk babi menyusui terjadi penurun bobot badan, dengan pemberian tepung bangun-bangun sebesar 3% dan 5% dapat menekan penurunan bobot induk babi menyusui dengan nilai konversi sebesar R1 (-13,03) dan R2 (-19,11). Konversi ransum induk babi menyusui terjadi penurunan bobot badan karena di pengaruhi jumlah anak babi mengkonsumsi susu Sihombing (1997), Siagian (1999).

Pemberian tepung bangun-bangun 5% dengan nilai konversi yang lebih rendah dibandingkan  3%  hal tersebut disebabkan jumlah tepung bangun-bangun yang diberikan sesuai dengan tingkat kesukaan dan kebutuhan induk babi menyusui.

            Ternak babi yang mengkonsumsi tepung bangun-bangun mempunyai nilai konversi ransum yang lebih baik dibandingkan dengan ternak babi yang tidak mengkonsumsi tepung bangun-bangun. Hal ini disebabkan oleh kandungan nutrient (protein, mineral dan vitamin) serta senyawa carvacrol yang  terkandung dalam tepung bangun-bangun yang berfungsi sebagai suplemen,  meningkatkan palatabilitas dan nafsu makan. Pemberian tepung bangun-bangun dapat meningkatkan konsumsi ransum dan memperbaiki nilai konversi ransum babi induk menyusui sesuai dengan pendapat Gunter dan Bossow (1998) serta Khajarern (2002) yang menyatakan bahwa tepung bangun-bangun dapat meningkatkan konsumsi ransum, pertumbuhan bobot badan dan efisiensi penggunaan zat makanan pada induk babi menyusui.  

 

 

 

 

4.2.      Pengaruh Perlakuan terhadap Pertambahan Bobot Badan

            Anak

 

            Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap pertambahan bobot badan anak dapat dilihat pada Tabel 8.

           Tabel 8. Rataan Pertambahan Bobot Badan Anak

 

Ulangan

 

Perlakuan

 

 

 

R0

R1

R2

 
       
  …………………………kg/ekor/hari…………………………

1

0,29

0,31

0,35

 

2

0,29

0,32

0,36

 

3

0,29

0,32

0,36

 

4

0,30

0,34

0,37

 

5

0,29

0,32

0,36

 
Total

1,17

1,62

1,80

4,59

Rataan

0,29

0,32

0,36

0,33

Keterangan :

 

 R0 = Ransum basal (tanpa tepung bangun-bangun)

 R1 = Ransum dengan penambahan 3% tepung bangun-bangun

 R2 = Ransum dengan penambahan 5% tepung bangun-bangun

 

Rataan pertambahan bobot badan anak yang dihasilkan secara keseluruhan adalah 0,33 kg/ekor/perhari, pertambahan bobot badan tersebut sesuai dengan Sihombing (1997) sekitar 0,30-0,32 kg/ ekor/hari,  dengan umur penyapihan antara 6 minggu. Rata-rata pertambahan bobot badan anak akibat pemberian tepung bangun-bangun pada induk menyusui dari yang terendah ke tertinggi adalah R0 (0,29 kg/ekor/hari), R1 (0,32 kg/ekor/hari) dan R2 (0,36 kg/ekor/hari). Guna mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertambahan bobot badan anak, maka dilakukan analisis sidik ragam dan hasilnya dapat dilihat pada Lampiran 5.

 Hasil analisis statistik (Lampiran 5) menujukkan bahwa pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum induk babi menyusui berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertambahan bobot badan anak. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan antar perlakuan dilakukan Uji Duncan yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 9.

 

Tabel 9. Hasil  Uji Duncan  Pengaruh  Perlakuan  terhadap Pertambahan Bobot  Badan  Anak.

 

Perlakuan

Pertambahan Bobot Badan Anak

Signifikansi (α, 0,05)

 

———-(kg/ekor/hari)———

 

R0

0,29

                     a

R1

0,32

   b

R2

0,36

       c

 

 

Tabel 9 menunjukkan bahwa perlakuan R1 (3% tepung bangun-bangun) dan R2 (5% tepung bangun-bangun) nyata (P>0,05) meningkatkan pertambahan bobot badan anak, dibandingkan R0 (0% tepung bangun-bangun). Pemberian tepung bangun-bangun 5%  menunjukkan peningkatan pertambahan bobot badan anak lebih tinggi dibandingkan pemberian 3%.  Hal tersebut disebabkan jumlah tepung bangun-bangun yang diberikan lebih tinggi sehingga precursor pembentukan susu dalam tubuh induk lebih tinggi. Pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum babi induk menyusui dapat meningkatkan pertambahan bobot badan anak sesuai pendapat dengan  Damanik  (2006)  yang  menyatakan bahwa tepung bangun-bangun dapat memberikan manfaat kesehatan dan pertumbuhan bayi yang ibunya mengkomsumsi bangun-bangun karena daun tersebut dapat meningkatkan produksi air susu ibu, dan hal ini juga terjadi pada ternak babi.

            Babi yang mengkonsumsi tepung bangun-bangun mempunyai pertambahan bobot badan anak yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak mengkonsumsi. Hal ini disebabkan oleh senyawa lactagogue yang  terkandung dalam tepung bangun-bangun yang mampu meningkatkan sekresi air susu dalam ambing sehingga menghasilkan produksi susu yang tinggi. Lawrence dkk (2005), mengatakan senyawa lactogogue terdiri dari beberapa komponen yang apabila bekerja bersama-sama dalam tubuh akan memacu produksi air susu ibu (ASI), meningkatkan fungsi pencernaan dan meningkatkan pertumbuhan bobot badan, beberapa senyawa tersebut adalah 3,4-dimethyl-2-oxocyclopent-3-enylacetic acid, monomethyl succinate, phenylmalonic acid, cyclopentanol, 2-methyl acetate dan methylpyro, glutamate, senyawa sterol, steroid, asam lemak, asam organik. Adanya komponen tersebut dalam bangun-bangun dapat merangsang hormon yang terdapat dalam tubuh untuk memproduksi susu yang banyak sehingga kebutuhan anak dapat tercukupi ditunjukkan dengan pertambahan bobot badan  yang tinggi. Pemberian tepung bangun-bangun terbaik bagi induk babi menyusui adalah sebesar 5% dalam ransum.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1.           Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan yaitu pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum babi induk menyusui dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung bangun-bangun sebesar 5% dalam ransum  babi dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.

 

5.2.      Saran

Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa :

            Tepung bangun-bangun dapat digunakan sebagai feed suplement untuk memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan  bobot badan anak, dengan penggunaan sebesar 5% dalam ransum.  Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang pemberian ekstrak bangun-bangun  dalam ransum babi menyusui terhadap konversi ransum induk menyusui dan pertambahan bobot badan anak.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bogart, R.1977.Scientific Farm Animal Production. Burges Publishing Co. Minneapolis, Minessota.

 

Church, D. C. 1979. Factor Affecting Feed Consumption. In : D.C. Church.

            Livestock Feed and Feeding. Durham and Downey. Inc.Pp 136-139.

 

Clawson, A. j., T.N. Blumer, W. W. G. Smart, Jr and E. R. Barrick. 1962. Influence of energy-protein ratio on performance and carcass charachteristics of swine. J. Anim. Sci. 21 : 62

 

Campbell,J.R. and J.F. 1985, The Science of Animal that Served Mankind. 3th ed. Tata Mc Graw. Hill Publishing Company Limited. New Delhi. Pp 390-392

 

Cole. H. and Ronning. 1974. Animal Agriculture. W. H. Freeman and Company San Fransisco.

 

Damanik, R, Damanik, N, Daulay Z, Saragih S, R. Premier, and. Wattanapenpaibon, Wahlgvist ML. 2001. Comsumption of bangun-bangun leaves (Coleus ambonicius lour) to increase breast milk production among bataknesse women in North Sumatra Island, Indonesia. APJCN; 10 (4): S67

 

Damanik, R, Damanik, Wahlgvist ML and Wattanapenpaibon. 2006. Lactagogue effects of Bangun-bangun, a Bataknese traditional cuisine. APJCN; 15 (2): 267-274.

 

Duke. 2000. Duke’s Contituens and Ethnobotanical Database. Phytochemical database, USDA – ARS – NGRL. http ://www.ars – grin.gov/cgi – bin/ duke/ farmcy – sc ro||3.p|

Goodwin, D.H. 1977. Pig Management and Production. Hutchinson, Edition, London. Page 19-20

 

Gunter KD, Bossow H. The effect of etheric oil Origanum vulgaris (Ropadiar) in  the feed ration of weaned pigs on their daily feed intake daily gains and food utilization (abstract). Proc 15th int Pig Vet Soc Congr, Birminghan. 223.

 

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid I. Diterjemahkan oleh Badan Litbang Kehutanan Jakarta. Yayasan Sarana Jaya, Jakarta

 

Parakkasi, A., 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Penerbit Angkasa, Bandung.

 

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan.   Universitas Indonesia, Indonesia.

 

Sosroamidjojo. M.S. 1997. Ternak Potong dan Kerja. Penerbit C.V. Yasa Guna Jakarta. Hal 30-35

 

Sihombing,. D.T.H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Institut Pertanian Bogor.

 

Siagian, P. H. 1999. Manajemen ternak Babi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

 

Silitonga, M. 1993. Efek laktakogum daun jinten (Coleus amboinicuc L.) pada tikus laktasi. Tesis. Program pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor

 

Steel, R.G.D. dan J. H. Torrie. 1989. Prinsip dan Prosedur Statistika (Terjemahan). Cetakan kedua. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

 

Tiurlan, F. H, Irma, S, Rienoviar, Dede. A, Meity, S. 2000. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Favanoid dan Alkaloid dari Herba Bangun-bangun (Coleus ambonicus Lour) dan Katuk (Suropus Andrigynus Merr). Laporan Penelitian. BBIA. Bogor

 

Najuan. A. 2002. Evaluasi Berbagai Bahan Pakan Daerah Sulawesi Utara untuk Penggemukan Babi. Disertasi UNPAD. Bandung.

 

National Research Council. 1998. Nutrisi Reguiment of Swine, National Academy Press, Washington, D.C.

 

Khajarern, J. The efficacy of origanum essential oils in sow feed. Int Pig Topics. 2002; 17: 17.

 

Lawrence, D., R., and Bacharach, A., L., 1946, Evaluation of Drug Activities, Academic Press, London

 

Vasquez E. A., W. Kraus, A. D. Solsoloy, and B.M. Rejesus. 2000. The uses of species and medicinal: antifungal, antibacterial, anthelmintic, and molluscicidal constituents of Philippine plant, http: //www.fao;org/ x2230e/x2230e8

 

Wahyu. J., 1985 dan D. Supanji. 1969. Pedoman Berternak Babi. Direktorat Peternakan Rakyat. Direktorat Jendral Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta. Hal. 5-7

 

Weaning, W. 2007. Penambahan Daun Torbangun (Coleus amboinicus lour) Dalam Ransum Pengaruhnya terhadap Sifat Reproduksi dan Produksi Air Susu Mencit Putih (Mus Musculus Albinus). Skripsi. Jurusan Ilmu Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor

 

Kebutuhan Nutrisi dan Ransum Babi

Pakan Ternak Babi

Babi adalah  ternak  monogastric dan bersifat prolific (banyak anak    tiap kelahiran),  pertumbuhannya  cepat  dan  dalam umur enam bulan sudah dapat dipasarkan. Selain itu ternak babi efisien dalam mengkonversi berbagai sisa pertanian dan restoran menjadi daging oleh sebab itu memerlukan pakan yang mempunyai protein, energi, mineral dan vitamin   yang tinggi (Ensminger, 1991). Contoh bahan pakan yang biasa dipakai di Papua dan NTT : daun dan ubi jalar/kayu, daun2 legum, batang dan buah pisang, cacing tanah, katak/kodok,   daun dan buah labu, buah merah, batang talas dan pepaya dimasak dulu, jambu biji, tebu,kangkung, batu kapur, abu tungku, tulang hewan/ikan.

Konsumsi Ransum

Ransum adalah makanan yang disediakan bagi ternak untuk 24 jam (Anggorodi, 1994).  Suatu ransum seimbang menyediakan semua zat makanan yang dibutuhkan untuk memberi makan ternak selama 24 jam.

Tabel 1a .  Konsumsi Ransum dan Air Minum Babi Menurut Umur / Periode

Umur 

Fase Produksi

 

Macam Ransum Konsumsi 

(kg/hari/ekor)

Air minum 

(l/ekor/hari)

1-4 mg 

4-8 mg

8-12 mg

12-16 mg

16-20 mg

20 – di jual

Induk / Bibit

Dara (6 bln)

Jantan (6 bln)

Induk Kering

Bunting

Induk Laktasi

Jantan aktif

Susu Pengganti 

Pre Starter

Starter

Grower

Grower

Finisher

 

Grower

Grower

Bibit

Bibit

Bibit

Bibit

0.02-0.05 

0.5-0.75

1.00-1.25

1.5-2.00

2.25-2.75

2.75-3.5

 

1.5-2.00

1.5-2.00

2.50-3.50

2.00-2.50

3.00-4.50

2.00-2.50

0.25-0.5 

0.75-2.0

2.0-3.5

3.5-4.0

4.0-5.0

5.0-7.0

 

6.0-8.0

6.0-8.0

7.0-9.0

7.0-9.0

15.0-20.0

7.0-9.0

Ket : Konsumsi Tergantung pada : Bentukpakan, JenisPakan,  Kandungan Ransum,

Kepadatan kandang, Suhu Lingkungan,  Stress dan Manajemen.

 

Konsumsi ransum sangat dipengaruhi oleh berat badan dan umur ternak.  Hafez dan Dyer (1969) menyatakan bahwa konsumsi ransum akan semakin meningkat dengan meningkatnya berat badan ternak.  Jumlah ransum yang dikonsumsi juga akan bertambah dengan bertambahnya umur ternak.

Temperatur juga dapat  mempengaruhi jumlah konsumsi ransum harian.  Pada temperatur yang tinggi ternak akan mengurangi konsumsi ransum (Devendra dan Fuller,1979).  Tingginya kandungan serat kasar dalam ransum akan  mempengaruhi daya cerna dan konsumsi ransum sekaligus mempengaruhi efisiensi penggunaan makanan (Tillman et al., 1984).

Efisiensi Penggunaan Makanan

Efisiensi penggunaan makanan merupakan pertambahan berat badan yang dihasilkan setiap satuan ransum yang dikonsumsi.  Efisiensi penggunaan makanan tergantung pada (1) kebutuhan ternak akan energi dan protein untuk pertumbuhan, hidup pokok atau fungsi lain, (2) kemampuan ternak mencerna makanan, (3) jumlah makanan yang hilang melalui proses metabolisme dan (4) tipe makanan yang dikonsumsi (Campbell dan Lasley, 1985).

Devendra dan Fuller (1979) juga menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi efisiensi penggunaan makanan adalah nutrisi, lingkungan, kesehatan ternak dan keseimbangan ransum yang diberikan.

Bogart (1977) menyatakan bahwa efisiensi penggunaan makanan dapat digunakan sebagai parameter untuk seleksi terhadap ternak yang mempunyai pertambahan berat badan yang baik.

Beberapa factor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun ransum babi adalah  ketersediaannya dilapangan dalam arti mudah untuk memperolehnya, Kandungan zat-zat makanan mencukupi bagi kebutuhan ternak babi, ekonomis dan efisien dalam mencerna bahan-bahan makanan yang diberikan. Kebutuhan zat makanan babi lepas sapih tergantung pada umur dan bobot badan seperti Tabel 1b (NRC.1998) .

Kandungan protein (asam-asam amino) ransum yang optimal pada ransum babi harus pula memperhatikan kandungan energinya, hal ini disebabkan karena sejumlah energi tertentu dibutuhkan per tiap gram protein dengan demikian protein dapat digunakan efisien untuk pertumbuhan, kebutuhan lisin ternak babi yang sedang tumbuh dengan berat badan 35 – 60 kg adalah 0,61% (Sihombing, 1997). Huges dan Varley, (1980) menyatakan selain kebutuhan asam amino perlu juga diperhitungkan keseimbangan  protein dan energi untuk menjaga pertumbuhan babi yang optimal.

Bila kita lihat dalam tabel 1. terlihat bahwa kebutuhan protein kasasr  bagi babi grower dan pengakhiran adalah 18 sampai dengan 13.5 % dengan energi yang dapat dicerna rata-rata 3400 Kkall.  Karena ternak Babi merupakan ternak monogastrik maka yang harus diperhatikan adalah serat kasar yang rendah (maksimum 5%) terutama pada fase pertumbuhan kecuali pada induk bisa sampai 10% maksimumnya.

Tabel 1b. Kebutuhan zat-zat makanan babi fase grower – finisher. (NRC 1988)

Zat-zat makanan  

Satuan

20-30 kg 

Bobot badan

35-60 kg 

Bobot badan

60-100 kg 

Bobot badan

Energi dpt dicerna 

Protein kasar

Asam Amino Esl :

Arginin

Fenilalanin

Histidin

Isoleusin

Leusin

Lisin

Metionin

Treonin

Triptophan

Valin

 

Mineral

Besi

Fosfor

Yodium

Kalium

Kalsium

Khlorin

Magnesium

Mangan

Natrium

Selenium

Tembaga

Zink

Vitamin

Vitamin A

Vitamin D

Vitamin E

Vitamin K

Kkal/kg 

%

 

%

%

%

%

%

%

%

%

%

%

 

 

mg

%

%

%

%

%

%

mg

%

mg

mg

mg

 

IU

IU

IU

Mg

3.380 

16

 

0.2

0.7

0.18

0.5

0.6

0.7

0.45

0.45

0.12

0.50

 

 

60.00

0.5

0.14

0.23

0.6

0.13

0.04

2.0

0.1

0.15

4.0

60.0

 

1.300

200

11

2

3.390 

14.0

 

0.18

0.61

0.16

0.44

0.52

0.61

0.40

0.39

0.11

0.44

 

 

50

0.45

0.14

0.20

0.55

0.13

0.04

2.00

0.1

0.15

3.0

60

 

1.300

150

11.0

2.0

3.395 

13.0

 

0.16

0.57

0.15

0.41

0.48

0.57

0.30

0.37

0.10

0.41

 

 

40

0.4

0.14

0.17

0.5

0.13

0.04

2.0

0.10

0.10

3.0

50.0

 

1.300

125

11.0

2.0

 

Metode Penyusunan Ransum Babi

1.    Mula-mula kita mengetahui kandungan zat-zat makanan bahan-bahan  penyusun ransum dalam keadaan kering (Tabel 2) anda dapat memperolehnya dari tabel NRC atau Tabel  Baham Makanan Aggorodi.  Bula tidak ada bahan tersebut dianalisis dahulu di laboratorium kandungannya.

2.     Kemudian buat ransum jumlahnya total 100 dari masing-masing bahan kemudian kalikan dengan kandungannya sehingga diperoleh tabel 3. Contoh jagung  jumlah dalam ransum 10% dikali kandungannya 10,5 maka jagung memberikan  1,05 PK (Protein Kasar), dan seterusnya kemudian jumlahkan protein total semua bahan adalah 14%, begitu juga untuk yang lain. Perhitungan ini dicoba terus sampai sesuai dengan kebutuhan seperti tabel 1b.

Tabel 2. Kandungan beberapa bahan pakan berasal dari limbah pertanian

No Bahan Makanan PK DE Abu Kalsium

Phospor

SK Harga/kg
1 Jagung 10.5 3250 2.15 0.234 0.414 2.5 1100
2 Daun Ubi Jalar 27 500 16.1 1.37 0.46 16.2 100
3 Dedak Padi 12 2980 16.9 0.03 0.12 9 700
4 Ubi Jalar 3.2 3480 2.65 0.28 0.23 3.45 400
5 Daun singkong 24 500 12 1.54 0.457 22 100
6 Tepung tulang 0 0 0 29.58 11.64 0 1000
7 Minyak 8000
8 Singkong 3.3 3400 3.3 0.26 0.16 4.15 400

 

 

Tabel 3. Hasil Perhitungan beberapa bahan pakan berasal dari Limbah

Pertanian untuk Pakan Babi

Bahan Makanan Jumlah PK DE Abu Kalsium Phospor SK Harga/kg
1 Jagung 10 1.05 325 0.215 0.0234 0.041 0.25 11000
2 Daun Ubi Jalar 30 8.1 150 4.83 0.411 0.138 4.86 3000
3 Dedak Padi 30 3.6 894 5.07 0.009 0.036 2.7 21000
4 Ubi Jalar 22 0.7 765.6 0.583 0.0616 0.051 0.76 8800
5 Daun Singkong 2 0.48 10 0.24 0.0308 0.009 0.44 200
6 Tepung Tulang 2 0 0 0 0.5916 0.233 0 2000
7 Minyak 2 0 160 0 0 0 0 0
9 Ubi Kayu 2 0.07 68 0.066 0.0052 0.003 0.08 800
Total 100 14 2373 11.004 1.1326 0.47 9.09 468

 

Contoh 2. Perhitungan ransum lain dengan menggunakan jagung, pollard, tepung ikan, bungkil kacang kedelai, tepung tulang, dedak padi dan minyak nabati. Komposisi zat makanan dan susunan ransum yang digunakan masing-masing diperlihatkan dibawah ini :

Komposisi Zat Makanan dan Harga*) dari Bahan Makanan yang Digunakan

Bahan Makanan 

 

PK   (%) EM (kkal/kg) Lisin (%) Ca (%)

(%)

SK (%) Harga  per kg 

(Rp)

Jagung 

Pollard

Dedak Padi

Tepung Ikan

B.K.Kedelai

Tepung Tulang

Minyak Nabati

10,5 

15,1

12,0

52,9

47,0

-

-

3250 

2320

2980

2860

2550

-

8000

0,28 

0,64

0,62

3,72

2,95

-

-

0,02 

0,15

0,03

3,90

0,24

29,58

-

0,30 

0,72

0,12

2,85

0,81

11,64

-

2,5 

7,5

9,0

0,0

5,0

-

-

1600 

1100

750

1200

2500

2500

3900

Ket: PK = Protein Kasar, EM = Energi Metabolis, Ca = Kalsium, P = Posfor, SK = Serat Kasar,          *) harga pada bulan Nopember 2001.

Susunan Ransum hasil perhitungan :

Bahan dan Zat Makanan R  a  n  s  u  m    P  e  r  l  a  k  u  a  n
A B C D E
a b a b a b a b a b
Jagung 

Pollard

Dedak Padi

Tepung Ikan

B.K.Kedelai

TepungTulang

Minyak Nabati

Kandungan:

Protein Kasar (%)

EM (kkal/kg)

Lisin (%)

Kalsium (%)

Posfor (%)

Serat Kasar (%)

Harga /kg (Rp)

80 

0

0

10

4

1

5

 

15,57

3388

0,71

0,71

0,43

2,20

1810

80 

0

8

5

5

1

2

 

13,89

3243

0,58

0,52

0,30

2,92

1643

60 

20

0

10

4

1

5

 

16,49

3202

0,79

0,74

0,588

3,20

1660

60 

20

8

5

5

1

2

 

14,81

3057

0,65

0,55

0,44

3,92

1543

40 

40

0

10

4

1

5

 

17,41

3016

0,86

0,76

0,72

4,20

1560

40 

40

8

5

5

1

2

 

15,73

2871

0,72

0,57

0,59

4,92

1443

20 

60

0

10

4

1

5

 

18,33

2830

0,93

0,79

0,86

5,20

1460

20 

60

8

5

5

1

2

 

16,65

2685

0,79

0,60

0,73

5,92

1343

80

0

10

4

1

5

 

19,25

2644

1,00

0,81

1,00

6,20

1360

80

8

5

5

1

2

 

17,56

2499

0,86

0,628

0,88

6,92

1243

 

Contoh 3. Bahan Pakan Ternak Babi dan Perhitungannya di desa Muliama dan

Kewin Kec. Osologaima Irian Jaya yang dilaporkan oleh Batseba

No Bahan Makanan PK DE Abu Kalsium Phospor SK Harga/kg
1 Ampas Tahu 30.3 500 5.1 0 0 22.2 200
2 Daun Ubi Jalar 27 500 16.1 1.37 0.46 16.2 100
3 Dedak Padi 12 2980 16.9 0.03 0.12 9 700
4 Ubi Jalar 3.2 3480 2.65 0.28 0.23 3.45 500
5 Daun Singkong 24 500 12 1.54 0.457 22 100
6 Daun Kol 21.5 500 11.8 0.598 0.722 12.9 100
7 Batang Pisang 5.87 400 18.3 1.06 0.12 26.8 100
8 Umbi Singkong 3.3 3400 3.3 0.26 0.16 4.15 500
 

 

Bahan Makanan Jumlah PK DE Abu Kalsium Phospor SK
Harga/kg
1 A.Tahu 7 2.12 35 0.357 0 0 1.55 1400
2 Daun Ubi Jalar 30 8.1 150 4.83 0.411 0.138 4.86 3000
3 Dedak Padi 5 0.6 149 0.845 0.0015 0.006 0.45 3500
4 Ubi Jalar 20 0.64 696 0.53 0.056 0.046 0.69 10000
5 Daun Singkong 5 1.2 25 0.6 0.077 0.0229 1.1 500
6 Daun Kol 10 2.15 50 1.18 0.0598 0.0722 1.29 1000
7 Batang Pisang 16 0.94 64 2.928 0.1696 0.0192 4.29 1600
9 Umbi Singkong 7 0.23 238 0.231 0.0182 0.0112 0.29 3500
Total 100 16 1407 11.501 0.7931 0.3155 14.5 245

 

 

 

Tabel diatas diperoleh kebutuhan protein Kasar  cukup untuk periode grower dan pengakhiran, begitu juga terhadap mineral kalsium, akan tetapi serat kasar yang tinggi 14% ini bisa diantisipasi karena babi lokal disana kemungkinan sudah beradaptasi dengan serat kasar tersebut yang ditandai dengan perut yang besar, kebutuhan energi terlihat sangat kurang perlu di beri  bahan pakan sumber energi yang tinggi. Mengenai harga pakan cukup murah atau mungkin “Zero Feed Cost atau tanpa biaya, karena sudah tersedia di sekitarnya.

Untuk mengurangi zat anti nutrisi Ubi jalar tidak hanya memiliki zat gizi yang tedapat didalam umbinya seperti tripsin inhibitor pada ubi jalar dan Asam Sianida/HCN) pada singkung dapat dihilangkan/ dikurangi  dengan cara pencincangan, pengukusan, merebusan dan pemanasan sebelum digunakan untuk pakan ternak.

 

Ransum babi Periode Starter :

Anak babi yang telah lepas sapih biasanya disapih pada umur 8 minggu dan mencapai bobot rata-rata 20 kg disebut babi priode starter (Sihombing, 1997). Selanjutnya dikatakan anak babi dengan bobot 20 kg sudah ada harapan sekitar 98% dapat hidup sampai mencapai bobot potong (90-100 kg) maksudnya bahwa babi priode starter telah melewati masa-masa kritis dimana sebelum masa ini , babi lebih mudah terserang penyakit dan kematian sangat tinggi yaitu 30 %. Babi priode starter merupakan awal dari proses pengemukan seperti dikatakan oleh Cunha,(1977), bahwa ternak pada priode starter mulai makan lebih banyak karena pada priode ini ternak babi sedang mengalami pertumbuhan yang terus meningkat(pertumbuhan eksponential).

Ensminger (1969) mengatakan bahwa pada priode starter berat badan ternak babi biasanya antara 15-45 kg dan protein yang dibutuhkan berkisar antara 14-16 %. Sedangkan Krider dan Carrol (1977) menyatakan bahwa setelah ternak babi mencapai priode starter ransum yang diberikan harus mengandung protein sekitar 16%.

Menurut NRC (1979) kebutuhan protein kasar pada babi starter adalah 16%, energi metabolisme sebesar 3175 Kkal, serta penambahan bobot badan yang diharapkan 0,6 kg. Diharapkan pula setiap harinya mengkonsumsi ransum sebanyak 1,7 kg sehingga konsumsi protein kasar 272 gram dan energi dapat dicerna 5610 Kkal. Walaupun demikian tingkat protein ransum ditentukan pula oleh kemampuan bahan makanan itu untuk menyediakan asam-asam amino essensial.

Ransum yang seimbang ialah ransum yang mengandung zat nutrisi yang berkualitas untuk kesehatan, pertumbuhan dan produksi ternak. Sutardi (1980) mengatakan ternak akan mencapai tingkat penampilan produksi tertinggi sesuai dengan potensi genetik bila memperoleh zat-zat makanan yang dibutuhkannya. Zat makanan itu akan diperoleh ternak dengan jalan mengkonsumsi sejumlah makanan.

Tingkat konsumsi ransum adalah jumlah makanan yang dimakan oleh ternak bila bahan makanan tersebut diberikan adbilitum. Faktor yang mempengaruhi konsumsi ransum dapat dibagi menjadi 2 yaitu : yang berpengaruh secara langsung seperti besar dan berat badan, umur, kondisi ternak serta cekaman yang diakibatkan oleh lingkungan seperti temperatur lingkungan, kelembaban udara, dan sinar matahari (Parrakasi, 1990), sedangkan berpengaruh secara tidak langsung ialah keadaan air ransum, adanya makanan pembatas konsumsi dan kecernaan (Parrakasi, 1985).

Clawson et al. (1962) mengatakan konsumsi ransum dipengaruhi keseimbangan protein dan energi dari tingkat lemak ransum. Anggorodi (1985), berpendapat bahwa konsumsi ransum cenderung meningkat bila kandungan energi ransum rendah dan konsumsi ransum akan menurun bila kandungan energi ransum tinggi. Thomas dan Korneygay (1972) mengungkapkan bahwa ada kecendrungan babi yang mendapat ransum dengan protein rendah akan mengkonsumsi lebih rendah.

Menurut NRC (1988), bahwa dalam masa pertumbuhan babi dengan bobot badan 20-50 kg akan mengkonsumsi pakan per hari 1900 gram berat kering. Penggunaan pakan oleh babi yang masih muda lebih efisien dibanding dengan babi yang telah lewat pubertas, karena konsumsi yang semakin tinggi tidak selalu diikuti dengan kenaikan bobot badan. Pada ransum dengan tingkat protein masing-masing 14%; 16%; 18%, konsumsi paka rata-rata adalah 1,961 kg; 1,984 kg dan 1,986 kg dengan bobot badan 20-90kg (Close, 1983).

Frekuensi pemberian pakan memberi pengaruh terhadap jumlah pakan yang dikonsumsi. Pada umumnya pakan per hari akan meningkat dengan meningkatnya dengan frekuensi pemberian pakan. Menurut Supnet (1980), bahwa babi dengan bobot 10-90 kg diberi pakan 2 kali sehari akan mengkonsumsi pakan rata-rata/hari/ekor sebesar 1,54 kg. Pada pemberian 3 kali sehari konsumsi pakan sebesar 1,92 kg dan yang diberi secara adbilitum konsumsi pakan sebesar 2,61 kg/ekor/hari.

Tillman et al. (1984), mengatakan bahwa ada hubungan yang dekat antara daya cerna dan kecepatan kecernaan dan ini berkaitan erat antara daya cerna ransum dan konsumsi ransum. Semakin tinggi daya cerna ransum maka konsumsi pun akan semakin tinggi.

Suhu lingkungan juga turut mempengaruhi tingkat konsumsi ransum, semakin tinggi suhu lingkungan konsumsi makanan akan semakin rendah (Winchester, 1964). Supnet (1980) mengatakan meningkatnya temperatur lingkungan akan menurunkan konsumsi ransum yang diikuti temperatur rectal dan kecepatan respirasi ternak babi meningkat. Oleh karena itu temperatur udara yang tinggi dalam kandang menyebabkan ternak mengurangi konsumsi pakannya agar produksi panas dalam tubuh menurun (Esmay, 1977). Whitemore mengungkapkan bahwa temperatur lingkungan optimal untuk ternak babi dengan bobot badan 20-50 kg adalah 18-22°c.

Menurut Church (1979), palatabilitas merupakan faktor penting yang menentukan tingkat konsumsi, yang tergantung pada bau, rasa, tekstur, dan suhu. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Sutardi (1980), bahwa faktor umum yang mempengaruhi konsumsi adalah palatabilitas ternak terhadap ransum yang diberikan.

Pemberian makanan yang baik umumnya dipertimbangkan atas dasar kecepatan pertumbuhan.  Bogart (1977), menyatakan bahwa bahwa konversi ransum adalah kemampuan ternak mengubah makanan kedalam bentuk pertambahan bobot badan. Hal ini dapat dinyatakan baik sebagai jumlah kenaikan bobot badan yang dihasilkan dari satu satuan makanan yang dibutuhkan per satuan bobot badan. Perbandingan tersebut bervariasi dalam hubungannya terhadap sejumlah faktor, seperti umur ternak, bangsa, dan daya produksi.

Konversi ransum dapat digunakan sebagai peubah untuk seleksi terhadap ternak yang mempunyai kecepatan pertambahan bobot badan yang baik (Bogart,1977). Sihombing (1983), mengemukakan bahwa nilai konversi dari seekor ternak erat kaitannya dengan tujuan seleksi guna mendapatkan ternak yang ekonomis. Nilai konversi ransum dipengaruhi oleh pertumbuhan babi itu sendiri (Dunkin,1978). Menurut Cole (1972), bahwa konversi ransum akan menurun dengan bertambah besarnya babi dan variasi akan terjadi diantara bangsa-bangsa babi.

Campbell dan Lesley (1977), melaporkan konversi ransum tergantung kepada; 1. kemampuan ternak untuk mencerna zat makanan, 2. kebutuhan ternak akan energi dan protein untuk pertumbuhan, hidup pokok dan fungsi tubuh lainnya, 3. jumlah makanan yang hilang melalui proses metabolisme dan kerja yang tidak produktif, serta 4. tipe makanan yang dikonsumsi. Faktor lain yang mempengaruhinya adalah keturunan, umur, berat badan, tingkat konsumsi makanan, pertambahan bobot badan, palatabilitas, dan hormon. Sedangkan menurut Devendra dan Fuller (1979), menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi konversi ransum adalah nutrisi, bangsa ternak, lingkungan, kesehatan ternak dan keseimbangan ransum yang diberikan.

Temperatur udara dengan kisaran 30-33°C akan menurunkan konversi ransum pada ternak babi yang sedang bertumbuh (Sihombing, 1983). Williamson dan Payne (1978), mengatakan bahwa konversi ransum akan menurun apabila suhu meningkat diatas suhu kritis. Pada temperatur 7°C; 23°C; dan 33°C dengan rata-rata bobot badan 10 kg diperoleh konversi ransum masing-masing 2,52; 2,18; dan 2,28 (Pond dan Maner, 1974).

Menurut Arganosa et al.(1977), bahwa kandungan energi ransum berpengaruh terhadap konversi ransum, pada ransum berenergi 3000 Kkal EM/kg dan 2400 Kkal EM/kg, konversi ransum masing-masing adalah 3,37 dan 4,26. sedangkan protein ransum 14%; 16% dan 18%, konversi ransum yang diperoleh 2,91; 2,82; 2,88 (Campell et al.,1975).

 

Ransum Babi Periode Grower

Menurut Sihombing (1997) babi periode grower yaitu babi yang memiliki bobot rata-rata 35 kg hingga mencapai bobot badan 60 kg. Periode grower merupakan periode yang harus diperhatikan akan kebutuhan zat makanannya, dan ransum yang bermutu tinggi adalah salah satu faktor terpenting yang mempengaruhi performans babi grower. Ransum yang terdiri dari pakan yang bermutu tinggi dan disusun memenuhi kebutuhan zat-zat makanan babi dan dicampur baik adalah syarat untuk memperoleh performans yang optimal.

Parakkasi (1983) mengatakan bahwa pada waktu babi masih muda, pertumbuhannya terutama terdiri dari  protein dan air akan tetapi setelah babi tersebut mempunyai berat badan sekitar 40 kg, energi yang disimpan berupa protein telah konstan dan mulailah energi tersebut dipakai untuk pembentukan jaringan lemak yang semakin meningkat dengan bertambahnya umur.

Menurut Tillman, dkk. (1984) pertumbuhan mempunyai tahap-tahap yang cepat dan lambat. Tahap cepat terjadi pada saat lahir sampai pubertas, dan tahap lambat terjadi pada saat-saat kedewasaan tubuh tercapai. Tahap-tahap pertumbuhan ini membentuk gambaran sigmoid pada grafik pertumbuhan yang ditentukan oleh tingkat konsumsi bila tingkat konsumsi tinggi, pertumbuhan juga cepat, sedangkan pengurangan makanan akan memperlambat kecepatan pertumbuhan.

Ransum Induk Untuk Reproduksi yang Tinggi

Pemberian pakan pada induk agar supaya prolifik bukan hanya terlihat baik, tetapi bagaimana untuk mempertahankan kondisi tubuh induk tersebut, kebutuhan izat makanan pada babi bibit, berdasarkan fase produksi tertera pada Tabel di bawah ini  .

 

Tabel 4a. Kebutuhan zat-zat makanan perkilogram ransum babi bibit (NRC 1988)

Zat-zat makanan  

Satuan

Dara Bunting, Induk Bunting dan jantan Yunior/Senior Induk Laktasi
Energi dpt dicerna 

Energi Metabolisme

Protein kasar

Asam Amino Esensial :

Arginin

Fenilalanin

Histidin

Isoleusin

Leusin

Lisin

Metionin

Treonin

Triptophan

Valin

 

Mineral

Besi

Fosfor

Yodium

Kalium

Kalsium

Khlorin

Magnesium

Mangan

Natrium

Selenium

Tembaga

Zink

Vitamin

Vitamin A

Vitamin D

Vitamin E

Vitamin K

Kkal/kg 

Kkal/kg

%

 

%

%

%

%

%

%

%

%

%

%

 

 

mg

%

%

%

%

%

%

mg

%

mg

mg

mg

 

IU

IU

IU

Mg

3.400 

3200

12

 

00

0.15

0.37

0.42

0.43

0.23

0.52

0.34

0.09

0.46

 

 

80

0.6

0.14

0.20

0.75

0.25

0.04

10

0.15

0.15

5

50

 

4000

200

10

2

3.395 

3195

13.0

 

0.40

0.25

0.39

0.70

0.58

0.36

0.85

0.43

0.12

0.55

 

 

80

0.5

0.14

0.20

0.75

0.25

0.04

10

0.20

0.15

5

50

 

2000

200

10

2

 

1. Pakan Induk Sebelum Kawin

a. Induk Dara

Nutrisi pada babi dara sebelum kawin pertama harus mencapai tujuan :

1.    memaksimumkan tingkat ovulasi pertama/ litter size.

2.            memperbaiki kondisi babi tubuh dara (otot dan lemak) untuk cadangan masa yang akan yang akan akibat  dari fariasi jumlah pakan yang diberikan .

Jumlah ovulasi sel telur yang normal pada babi dara pertama kali biasanya hanya  13-14 sel telur, jumlah ini akan menghasilkan  litter size yang baik.  Biasanya babi dara pada  birahi pertama jarang langsung dikawinkan. Usaha  untuk meningkatkan ovulasi induk pengganti : a. Mengawinkan induk pengganti pada birahi 2-3, b. mulai mencatat dan mengawasi siklus birahinya induk pengganti c. Memberikan pakan yang berlebih.

Babi pengganti (gilt) jumlah ovulasi bertambah sangat lambat, (satu sel telur/ bulan)   contohnya babi pengganti pada ovulasi pertama  hanya sembilan buah,   14-15 sel telur merupakan  jumlah ovulasi yang maksimum diharapkan.  Sebuah pendekatan alternatif yang sederhana adalah dengan menunggu pada tingkat ovulasi yang puncak/maksimum pada birahi ketiga.  Seperti ditunjukkan pada

tabel 4b.

 

Tabel 4b. Umur seksual dan tingkat ovulasi / litter size pada babi dara.

Sumber oestrus ke 

1                   2                 3

Huges dan Varley (1980) 

Mac. Pherson et. al (1973)

10,6               11,8               10,9 

7,9                 9,7               11,0

 

Untuk keperluan tersebut  perlu memberikan pakan yang tinggi/baik  (atau tingkat energi yang tinggi) dikenal dengan “Effect Flushing” yang digambarkan pada ilustrasi

tabel 5.

Tabel 5. Tingkat pakan dan jumlah ovulasi pada babi pengganti/dara/gilt.

Tingkat pakan                                                 Jumlah ovulasi 

Prepuberty     Birahi Pertama                      Pengamatan I     Pengamatan II

Ad-libitum        Adlibitum                                          13,9                       13,6

Ad-libitum        Dibatasi                                            11,1                          -

Dibatasi           Adlibitum                                          13,6                       13,5

Dibatasi           Dibatasi                                            11,1                       11,1

Self et.al. 1955

 

Penggunaan flushing pada babi dara harus lebih awal  (estrus ke dua) untuk mengurangi resiko litter size yang kecil. Cara pemberian pakan yang tinggi dan   seleksi pada induk pengganti/dara sampai saat hari kawin, akan memeberikan performan babi dara yang baik serta masa produksi  lama .

 

b. Induk Dewasa /Sow

Pada induk pengganti/gilt  periode penyapihan ke estrus dan kawin biasanya sangat singkat (kurang dari seminggu), ini berakibat pada manipulasi reproduksi induk babi dengan  pakan sangat pendek. Akan tetapi jika jumlah ovulasi sel telur sangat rendah (kira-kira 14 sel telur) dapat juga dilakukan flushing. Kenyataanya jumlah ovulasi periode akhir penyapihan ke estrus sangat bervariasi (15 – 25) pada induk babi dewasa/sow.  Untuk meningkatkan jumlah ovulasi perlu perencanaan pakan yang baik saat penyapihan ke oestrus.  Walaupun biasanya  tidak cukup waktu sebelum induk menjadi birahi untuk ovulasi sel telur.  Seperti terlihat pada tabel 6.

Tabel 6. Effek pakan yang tinggi dan tingkat ovulasi babi.

Jumlah Percobaan          Jml hari flushing ke oestrus           Penambahan ovulasi 

sel telur

6                                           0-1                                                      0.4 

6                                           2-7                                                      0,9

8                                           10                                                       1,6

14                                         12-14                                                    2,2

2                                           21                                                       3,1

Huges dan Varley,1980

Penundaan kembali pengawinan babi dara setelah beranak pertama sampai 12-15 hari akan menghasilkan peningkatan jumlah litter size 1 – 1,5 pada beranak ke dua, disajikan pada tabel 7.

Tabel 7. Pengaruh Penundaan Kawin pada Beranak Kedua terhadap Jumlah Litter

Size Babi Induk

Peneliti                                  Kurang 12 – 15 hari                  Lebih dari 12-15 hari
Fahmy et.al (1979)                           9,3                                            10,4 

Love (1979)                                      9,3                                            10,4

Walker et.al (1979)                           8,2                                            10,6

Brooks (1980)                                   9,3                                            10,5

King et. al. (1980)                             8,4                                            10,5

King et.al (1981)                               9,8                                            10,9

 

Dalam prakteknya peternak harus menghitung berapa penambahan biaya akibat penundaan perkawinan terhadap penambahan litter sizesize tersebut. Dalam pemberian pakan flushing yang baik antara penyapihan dan oestrus berguna untuk mempertahankan berat badan,  kondisi tubuh dan persiapan untuk laktasi.

 

2. Pakan Induk Setelah Kawin

Tujuan Utama kita dalam pemberian pakan babi bunting (sow/gilt) adalah meningkatkan daya hidup dari embrio/ foetus yang akhirnya meningkatkan litter size. Untuk itu perlu juga diperhatikan effek pakan tersebut terhadap kelahiran, setelah lahir dan masa laktasi dari anak babi yang dilahirkan.

Diketahui bahwa pakan yang baik /tinggi (high level) pada awal kebuntingan babi darah akan menurunkan jumlah embrio yang hidup, seperti ditunjukkan pada tabel 8. Hal ini,  dijelaskan oleh skema 1

Tabel 8. Jumlah pakan pada awal kebuntigan terhadap embrio yang hidup .

Pakan yang diberikan 

Tinggi                            Rendah

Jumlah Ovulasi                                           15,4                              15,5

Embrio yang  tersedia                                 11,8                              12,7

Embrio yang hidup (%)                               77                                  82

Hughes 1993

 

Hormon progesteron ini sangat diperlukan embrio awal kebuntingan (14-12 hari) hormon ini merangsang sekresi protein rahim untuk embrio,  penurunan kadar horman ini mengakibatkan penurunan milk uterin yang dihasilkan.  Akan tetapi kasus jumlah embrio hidup pada induk (sow) tidak dipengaruhi oleh tingkat pakan, seperti terlihap pada tabel 9.

 

 

Tabel 9. Tingkat jumlah pakan pada awal kebuntingan dan litter size

dari induk (sow)

Sumber                                                   Tingkat pakan pada awal kebutingan 

Tinggi                     Rendah

Kirkwood & Thacker (1980)                     15,8                       15,5 

Hughes (1993)                                          11,4                       11,3

 

Skema 1. Mekanisme efek dari makanan pada kematian embrio pada awal kebuntingan.

 

Makanan yang baik pada awal kebuntingan

 

 

Pertambahan berat badan tinggi

 

 

Penambahan aliran darahke hati

 

 

Penurunan konsentrasi progesteron dalam plasma

 

 

Tidak optimalnya sekresi dari milk uterin untuk  pakan embrio dalam rahim

 

 

Penurunan jumlah embrio yang hidup

 

 

Pada awal minggu ketiga kebuntingan,  pemberian pakan lebih dari standar tidak berpengaruh terhadap jumlah litter size yang dihasilikan.  Pemberian pakan pada umur ini, harus cukup untuk mempertahankan rata-rata berat lahir dari anak babi saat lahir.  Hal ini berguna untuk menghindari kematian anak babi setelah disapih,  bila anak babi yang lahir terlalu bervariasi maka anak babi yang ringan akan mati akibat ketidak mampuan bersaing untuk memperoleh kolostrum.

Penambahan pakan induk (sow) selama kebuntingan akan meningkatkan berat babi lahir, juga meningkatkan variasi berat badan dari anak babi yang lahir.  Bila pemberian pakan lebih rendah dari nilai kondisi normal , maka foetus pada bagian tengah dari  tanduk uterus tidak dapat memperoleh makanan yang cukup dari sirkulasi darah dari induk (seperti pada tabel 10.)

Tabel 10 : Effek dari foetus pada posisi uterus induk babi

Jumlah foetus          Posisi foetus            Berat Foetus (gr) kebuntingan 

Pada tanduk            di uterus                    70 hari                       110 hari

5                       Atas                               168                           1109 

Tengah                          165                             882

Bawah                           187                            1214

 

7                       Atas                               178                           1271

Tengah                          140                             967

Bawah                           172                           1132

Salmon –legagneur, 1969

 

Ketika memberikan pakan lebih pada babi bunting (gilt/sow) yang pada akhirnya  kelebihan ini akan digunakan oleh foetus yang terletak di berbagai ujung dari tanduk uterus mengalami  pertambahan berat badan yang lebih tinggi. Oleh sebab itu dianjurkan memberikan pakan yang lebih sedikit saat bunting dengan tujuan mengurangi kematian anak babi selama disapih.  Contohnya berat anak babi yang memiliki bobot 1,6 kg dapat mengakibatkan distokia saat lahir, hal ini yang pada akhirnya akan meningkatkan kematian babi saat lahir (still birth) dan kematian sebelum disapih (Prewening mortality).

Faktor yang sangat penting dalam membatasi pemberian pakan pada babi bunting (gilt/sow) adalah adanya peningkatan  jumlah pakan yang dikonsumsi (feed intake) pada ransum baik dan penurunan menuju laktasi, seperti pada tabel 11.

 

Tabel 11. Hubungan antara Feed Intake pada babi yang bunting dan laktasi.

Jumlah pakan yang diberikan 

Rendah           Tinggi

Feed intake babi bunting (kg/hari)               1,9                  3,7 

Laktasi feed intake (kg/hari)                         6,2                 4,9

Salmon – legagneur, 1962.

 

Yang disimpulkan bahwa babi akan makan bertambah selama bunting dan berkurang selama menyusui. Maka dengan itu sejak kita mengetahui kebutuhan nutrisi dari induk rendah kita mengurangi kandungan gizi dari bahan makanan tersebut, akan tetapi pada saat laktasi kita tingkatkan nilai gizi dari bahan makanan tersebut.  Hal ini kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan ternak tersebut sampai dengan laktasi.  Cara yang praktis dengan memberikan pakan yang rendah selama kebuntingan (kurang 2,5 kg selama kebuntingan).

Pada tahun 80 an banyak ilmuan menganjurkan bahwa penambahan lemak 10-15 % pada 3 minggu akhir kebuntingan akan meningkatkan jumlah anak yang hidup saat penyapihan, ternyata perlakuan ini menyebabkan kematian anak meningkat 15-17 %   sebelum penyapihan, lihat tabel pada Tabel 12.

Tabel 12. Efek penambahan lemak pada pakan induk babi akhir kebuntingan.

Control                     Penambahan lemak
Litter size                                               9,7                                   9,7 

Pre weaning mortality (%)                   17,3                                 14,5

Kematian anak < 1,1 kg (%)                57,9                                 40,8

Henry, Pickard dan Huges 1983

 

3.Pakan Induk Babi Menyusui

Umumnya induk kurang nafsu makan saat laktasi, hal ini mengakibatkan sukar terpenuhi kebutuhan nutrisi dari induk untuk hidup pokok dan produksi susu yang tinggi.   Pada saat ini induk biasanya memobilisasi jaringan tubuhnya untuk memproduksi susu untuk anaknya.  Hal ini bisa kita lihat pada tabel 13.

Tabel 13. Efek tingkat pemberianpakan pada performan babi laktasi.

Pakan Induk Laktasi 

Tinggi                     Rendah

Kehilangan berat badan induk (kg)                 5,1                          30,0 

Kehilangan lemak punggung (mm)                 1,9                            4,2

Crrep Feed Intake (Kg)                                   2,5                            2,9

Berat litter yang disapi (kg)                           68,7                          62,3

Hughes, 1993.

 

Hal ini juga berpengaruh terhadap performan reproduksi induk babi seperti terlihat pada tabel 14

Tabel 14. Tingkat Pakan Laktasi dan Performan Reproduksi pada induk

pengganti (gilt)

Tingkat Pakan Laktasi 

Tinggi                    Rendah

Interval sapih-kawin (hari)                              11,5                       16,3 

Embrio yang hidup (%)                                   71,0                       72,0

Litter size yang hidup (lahir hidup)                   9,6                         9,8

Sumber : Huges 1989.

Pada saat laktasi induk biasanya mengalami penurunan feed intake sampai  2,5 –3,5 kg/hari pada saat ini perhatian kita harus tertuju pada keselamatan dan pertumbuhan anak, dimana kebutuhan normalnya adalah 6-7 kg/ hari untuk memenuhi hidup pokok dan produksi susu .    Sedangkan pada induk yang baik feed intake ada yang tidak berubah, hal ini membuat kondisi tubuh induk tetap baik dan pertumbuhan anak tetap terjaga.  Pola penurunan pakan pada induk laktasi di bagi menjadi dua yaitu masa yang panjang pada induk dewasa(sow) dan masa yang pendek pada induk muda (gilt).

Biasanya induk muda (gilt)  mengalami kekurangan pakan pada fase laktasi akan mengalami kehilangan berat badan yang lebih besar pada induk yang sudah tua (sow). Kekurangan pakan pada induk yang dewasa (sow) pada masa laktasi mempunyai effek yang rendah terhadap kembali birahi setelah penyapihan, tetapi ada juga induk yang tidak estrus setelah disapih setelah mengalami kekurangan pakan tersebut, hal  ini bisa kita lihat pada tabel 15.

Tabel 15.   Effek Pakan laktasi terhadap Fertilitas Induk Dewasa (sow)

Tingkat Pakan Induk Laktasi 

Tinggi               Rendah

Interval sapih- kawin                                         6,2                   7,1 

Induk tidak estrus   (%)                                     8,0                 16,0

Tingkat konsepsi (%)                                     100,0                 94,0

Hughes, 1993

Secara normal terlihat bahwa ukuran litter size akan menurun akibat penurunan tingkat pakan pada saat laktasi, effek ini berakibat pada penambahan kematian embrio pada tiga minggu awal kebuntingan,  dapat dilihat pada tabel 16.

Tabel 16. Tingkat Pakan induk Laktasi Terhadap Litter Size pada Induk Dewasa.

Tingkat Pakan Induk Laktasi 

Tinggi                Rendah

Embrio yang hidup (%)                                       78,0                    64,0 

Liiter size (lahir hidup)                                        10,7                      9,8

Hughes, 1989

Umumnya effek laktasi terhadap performan reproduksi induk biasanya mengalami penurunan berat badan dan kondisi tubuh. Oleh sebab itu  kesimpulan yang dapat diambil  ditunjukkan pada tabel 17.

Tabel 17. Effek terhadap berat badan dan kondisi tubuh induk pada saat laktasi

dan performan reproduksi pada induk dewasa.

Interva            Induk         Litter size  

Sapih-kawin    tdk birahi   Lahir hidup

Kehilangan berat badansaat laktas           Tinggi        6,6            26                   9,8 

Rendah    7,0            23                 11,7

Kehilangan berat badan saat sapih            Tinggi        6,3           11                 10,7

Rendah     8,2           37                   8,8

Kehilangan Lemak punggung saat laktasi  Tinggi        5,9           37                   9,2

Rendah     7,3           23                  10,5

Kehilangan Lemak punggung saat sapih    Tinggi       5,8             9                   11,4

Rendah     8,1          39                     8,9

Hughes, 1993

Oleh sebab itu disarankan untuk mempertahankan kondisi tubuh dan anak pada fase laktasi perlu peningkatan feed intake yang maksimum pada fase laktasi.

Pengaturan dalam Pemberian Pakan Induk Secara Praktis

Dari hasil pembahasan diatas maka diperoleh suatu metode dalam pemberian pakan induk tergantung pada fase hidup induk tersebut , hal ini dirangkum dalam tabel 18.

Tabel 18. Kesimpulan Tingkat Pemberian Pakan pada Babi Induk

Gilt/sow Fase Reproduksi Level/tingkat Alasan
Dara/gilt 

 

 

Dara/gilt

 

 

 

Sow

 

 

 

Gilt

 

Gilt

 

 

 

 

Sow

 

 

 

 

 

Gilt/Sow

Prepubertas 

 

 

Puber ke estrus pada birahike dua

 

 

Sapih ke kawin

 

 

 

Awal kebuntingan

 

Akhir kebuntingan

 

 

 

 

Semua kebuntingan

 

 

 

 

Laktasi

 

 

Tinggi 

 

 

Tinggi

 

 

 

Tinggi

 

 

 

Rendah

 

Rendah-sedang

 

 

 

 

Rendah-sedang

 

 

 

 

 

Tinggi

 

Pertumbuhan masimum 

Kondisi tubuh maksimum

 

Pertumbuhan masimum

Kondisi tubuh maksimum

Penambahan ovulasi

 

Pemulihan kondisi tubuh

Pertumbuhan berat hidup

Menjamin ovulasi

 

Embrio hidup maximum

 

Memperbaiki kondisi tubuh

Kemauan laktasi maksimum

Mengurangi variasi berat lahir

 

Menjaga dan memperbaiki kondisi tubuh

Kemauan laktasi maksimum

Mengurangi variasi berat lahir

 

Meningkatkan jumlah susu

Mengurangi kehilangan berat dan kondisi tubuh

Meningkatkan performan reproduksi.

 

Tabel 18 ini dapat disimpulkan  dalam gambar 1. dimana kita memberikan pakan menurut fase reproduksi.  Untuk merubah hal teori diatas menjadi lebih sederhana dalam kehidupan sehari hari, kita harus tahu apa definisi pakan tinggi (high) dan Rendah (low) yang ditafsirkan berapa kilogram pakan yang dikonsumsi perhari.   Pemberian pakan yang aktual dan baik dianjurkan pada setiap fase siklus reproduksi disajikan pada tabel 19.

Banyak peternak hanya memberi pakan induk menjadi dua bagian yaitu pakan induk kering (dry sow ) dan induk laktasi (Laktating sow). Ditambah pakan standar Grower/Finisher  digunakan untuk pakan induk pengganti (gilt) dari seleksi sampai dengan dikawinkan.  Kandungan energi 12,5 – 13 MJ/kg untuk pakan induk kering dan 14 – 14,5 MJ DE /kg untuk pakan induk laktasi. Kandungan protein pada kedua pakan  tersebut harus berdasarkan kebutuhan asam amino ideal atau imbangan   lisin : energi yang rasional yaitu 0,3 gr lisin/MJ DE pada pakan induk kering,  dan 0,55 – 0,7 gr lisin /MJ DE pada pakan induk laktasi.

 

Gambar 1.  Siklus hidup induk babi dan managemen pemberian pakannya

 

 

 

 

 

 

Pakan rendah untuk membantu embrio tetaphidup

 

 

Pakan cukup/sedang untuk menjaga laktasi tetap tinggi

PUBER

 

 

 

 

 

KAWIN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAHIR
 

Pakan tinggi untuk meningkat ovulasi

 

 

 

 

 

SAPIH

 

 

 

 

 

 

Pakan tinggi untuk produksi susu dan pencegahan penurunan berat badan

 

 

Tabel 19. Jumlah pakan yang diberikan pada induk

Gilt/Sow Fase Reproduksi Banyaknya diberikan (kg/hari) Ransum
Dara 

 

Dara

 

 

Sow

 

Gilt

 

Gilt

Sow

 

Gilt/Sow

Prepubertas 

 

Puber ke estrus pada birahike dua

 

Sapih ke kawin

 

Awal kebuntingan

 

Akhir kebuntingan

Semua kebuntingan

Laktasi

3 kg atau adlibitum 

 

3 kg atau adlibitum

 

 

3 kg atau adlibitum

 

2,0 – 2,2 kg

 

2,0 – 2,5 kg

2,0 – 2,5 kg

 

5 kg

Growing/Finisher atau Laktasi 

Growing/Finisher atau Laktasi

 

Laktasi

 

Induk Kering

 

Induk Kering

Induk Kering

 

Laktasi

 

Data ini tentunnya hanya membantu akan tetapi peternak yang menyajikan bagaimana cara yang terbaik di lapangan . Sebaiknya induk dikandangkan secara individu untuk menghindari variasi berat badan, oleh sebab itu kita harus yakin bahwa setiap individu induk mendapat bagian yang sama untuk mengkonsumsii pakan.  Perlu juga dipertimbankan penambahan pemberian pakan induk sebanyak 0,25 kg/hari dalam kondisi dingin atau terlampau kurus.   Tetapi perlu diperhatikan jangan sampai induk bunting kelebihan makan, hal ini berakibat pada penurunan nafsu makan pada saat laktasi, yang akhirnya akan berakibat penurunan berat badan dan kondisi tubuh selama masa laktasi.

Faktor iklim dan suhu lingkungan perlu juga diperhitungkan, untuk meningkatkan nafsu makan induk yang kurang baik  bisa dilakukan dengan meningkatkan pemberian pakan 3 – 4 kali sehari atau menaburkan tepung ikan pada permukaan pakan yang diberikan, sehingga memeberikan bau yang meningkatkan nafsu makan.

 

 

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG KULIT BUAH PEPAYA (Carica Papaya) DALAM RANSUM BABI PERIODE FINISHER TERHADAP PERSENTASE KARKAS, TEBAL LEMAK PUNGGUNG DAN LUAS URAT DAGING MATA RUSUK

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Teaching Farm Ternak Babi, Desa Kertawangi Kecamatan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung pada tanggal 1 Maret 2009 sampai dengan 30 Juni 2009. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya) dalam ransum babi periode finisher dilihat dari persentase karkas, tebal lemak punggung, dan luas urat daging mata rusuk. Penelitian ini menggunakan 18 ekor ternak babi kastrasi den. Kisaraan bobot badan rata-rata ternak babi adalah 60,56 kg dengan koefisien variasi kurang dari 6,8%. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari tiga perlakuan, dimana setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan Uji Sidik Ragam, apabila signifikan; maka dilakukan Uji Duncan. Berdasarkan hasil analisis statistika menunjukkan bahwa pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya)10% dalam ransum ternak babi tidak mempengaruhi terhadap persentase karkas, tetapi dapat menurunkan sedangkan pada tebal lemak punggung dan meningkatkan luas urat daging mata rusuk. Pemberian Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya) 10% dalam ransum babi dapat digunakan sebagai bahan pakan alternative  bagi ternak babi.

Kata Kunci:     Carica Papaya, Persentase Karkas, Tebal Lemak Punggung, dan Luas Urat Daging Mata Rusuk.

ABSTRACT

 

This Research of “ The Effect of Papaya (Carica papaya) Skin Fruit Flour in Ration for The Finisher Period of Pigs to Percentage Carcass, Back Fat and Loin Eye Area” has been held since March 1, 2009 to Juni 30, 2009 at  KPBI Obor Swastika, Cisarua,  Bandung. The purpose of this research is to find dosage level of  papaya skin fruit flour  that can be added into ration so that can be give the best to percentage carcass, Back Fat and loin eye area for the finisher period of pigs. This research was using 18-finisher period of pigs, age 6 months with weight rate 60.56 kg and variation coefficient  6,8%. The method that was used in this research is Complete Randomize Design with three dosage of papaya skin fruit flour , i.e. 0, 5, 10% with six replications. The result of the research shows give 10% papaya skin fruit flour  in ration pig no significant effect to percentage carcass, but increased loin eye area and decreased back fat thickness (p<0,05).  10% papaya skin fruit flour as alternative stuff can be used for pig finisher periode.

 

 

Keywords: pigs, Percentage Carcass, Back Fat Thickness, Loin Eye Area, Papaya skin flour

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Babi merupakan salah satu komoditas ternak penghasil daging yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena memiliki sifat-sifat dan kemampuan yang menguntungkan antara lain : laju pertumbuhan yang cepat, jumlah anak per kelahiran (litter size)  yang tinggi, efisiensi ransum yang baik (75-80%) dan persentase karkas yang tinggi (65-80%) (Siagian, 1999). Selain itu, babi mampu memanfaatkan sisa-sisa makanan atau limbah pertanian menjadi daging yang bermutu tinggi. Karakteristik reproduksinya unik bila dibandingkan dengan ternak sapi, domba dan kuda, karena babi merupakan hewan yang memiliki sifat prolifik yaitu jumlah perkelahiran yang tinggi (10-14 ekor/kelahiran), serta jarak antara satu kelahiran dengan kelahiran berikutnya pendek. Babi merupakan salah satu sumber protein hewani bagi masyarakat Indonesia. Karkas merupakan bagian utama dari ternak penghasil daging. Kualitas karkas pada dasarnya adalah nilai karkas yang dihasilkan ternak berdasarkan kriteria yang ditentukan oleh konsumen yaitu karkas yang mengandung daging maksimal dan lemak minimal serta tulang yang proporsional, hal ini dapat dilihat dari persentase karkas yang tinggi, tebal lemak punggung yang tipis dan luas daging mata rusuk yang besar. Persentase karkas babi adalah yang terbesar dibandingkan lemak lain yaitu 75% dari bobot hidupnya, hal ini disebabkan kulit dari keempat kakinya adalah termasuk dalam karkas babi kecuali kepala dan jeroan. Selain itu juga permintaan daging babi yang cukup tinggi sebesar 7,11 % yakni pada tahun 2002 sebanyak 164,491 ton naik menjadi 177,093 ton pada tahun berikutnya, sedangkan peningkatan populasi babi hanya sebesar 3,63 % yakni dari 5.926.807 ekor menjadi 6.150.535 ekor (Dirjen  Bina Produksi Peternakan, 2003), hal ini menunjukan bahwa babi mempunyai peranan yang cukup besar dalam mensuplai kebutuhan daging walaupun dengan keterbatasan konsumen serta dapat mendorong semakin potensialnya peternakan babi di Propinsi Jawa Barat khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan dan komposisi tubuh yang meliputi distribusi berat dan komposisi kimia komponen karkas yaitu faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan salah satu diantaranya adalah kualitas dan kuantitas pakan. Kualitas pakan yang baik sering kali peternak mengeluarkan biaya yang tinggi, oleh karena itu untuk meminimalkan biaya ransum maka dibutuhkan bahan pakan alternatif yang bersifat kontinyu, mudah didapat, murah, bergizi tinggi dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Bahan pakan yang dimaksud diantaranya adalah kulit buah pepaya.

Tepung kulit buah pepaya mengandung kadar protein yang tinggi yaitu 25,85% dan serat kasar yang cukup rendah yaitu sebesar 12,51% (Laboratorium Nutrisi Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan UNPAD, 2008). Kulit buah pepaya didapat dari limbah industri pembuatan manisan yang didapat dari daerah Kabupaten Garut, yaitu di Kecamatan Leles. Penggunaan kulit buah pepaya sebagai campuran makanan ternak Babi masih jarang digunakan, kecuali pada beberapa peternakan sapi potong tradisional di kecamatan leles, dan hasilnya menurut para peternak, daging dari sapi-sapi yang diberi kulit buah pepaya segar menjadi lebih merah dan dagingnya lebih padat. Berdasarkan hal tersebut diatas, kulit buah pepaya dapat dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak karena berpotensi sebagai sumber protein nabati. Hasil survey dilapangan menunjukan bahwa potensi kulit buah pepaya adalah 30% dari tiap buah papaya, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang berapa besar tingkat pemberian kulit buah pepaya dalam bentuk tepung sebagai bahan pakan ternak dalam ransum yang dapat meningkatkan produktivitas ternak.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya) dalam Ransum Babi Periode Finisher terhadap persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk”.

Maksud dan Tujuan

Sejalan dengan permasalahan, maka tujuan penelitian ini adalah:

  1. Mengetahui pengaruh pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya dalam ransum babi periode finisher  terhadapi persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk.
  2. Mengetahui persentase pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya dalam ransum babi periode finisher  sehingga dapat memberikan pengaruh terbaik terhadap persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk.

 

Kerangka Pemikiran

Daging merupakan komponen karkas yang penting dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Daging adalah komponen utama karkas. Karkas juga tersusun dari lemak jaringan adipose, tulang, tulang rawan, jaringan ikat dan tendo. Komponen-komponen tersebut menentukan ciri-ciri kualitas dan kuantitas daging (Soeparno, 1998). Komponen bahan kering yang terbesar dari daging adalah protein. Nilai nutrisi daging yang lebih tinggi disebabkan daging mengandung asam amino esensial yang lengkap dan seimbang (Forrest, dkk, 1975).

Di dalam pembentukan daging pada masa pertumbuhan, ternak babi membutuhkan asupan protein dan energi yang sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan protein dan energi ternak tergantung pada beberapa faktor termasuk berat hidup, pertambahan berat badan, dan konsumsi pakan (Soeparno, 1998). Protein merupakan bagian terbesar pembentuk urat daging, organ-organ tubuh, tulang rawan dan jaringan ikat. Konsumsi protein dan energi yang lebih tinggi akan menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih cepat (Anggorodi, 1994). Kandungan protein (asam-asam amino) ransum yang optimal pada ransum babi harus pula memperhatikan kandungan energinya, hal ini disebabkan karena sejumlah energi tertentu dibutuhkan per tiap gram protein dengan demikian protein dapat digunakan efisien untuk pertumbuhan, kebutuhan lisin ternak babi yang sedang tumbuh dengan berat badan 35 – 60 kg adalah 0,61% (Sihombing, 1997). kebutuhan protein kasar bagi babi grower dan pengakhiran adalah 18 sampai dengan 13.5 % dengan energi yang dapat dicerna rata-rata 3400 Kkall. Karena ternak Babi merupakan ternak monogastrik maka yang harus diperhatikan adalah serat kasar yang rendah terutama pada fase pertumbuhan kecuali pada induk.

Di dalam kulit buah pepaya masih terdapat kandungan nutrisi yang tinggi sehingga diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan pakan alternatif untuk ternak. Kulit buah pepaya memiliki kekurangan yaitu mudah busuk, oleh karena itu untuk mengatasinya maka kulit buah pepaya dijadikan tepung sehingga menjadi lebih tahan lama. Tepung kulit buah pepaya memiliki kandungan nutrisi antara lain protein kasar 24,85%, serat kasar 18,52%, lemak kasar 8,87%, abu 8,52%, kalsium 2,39% dan phosphor 0,88% (Laboratorium Nutrisi Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan UNPAD, 2008), dan Fe 0,385% (Analisis Laboratorium Institut Pertanian Bogor, 2008). Kulit buah pepaya memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pakan alternatif sumber protein yang dapat mengganti atau mengurangi penggunaan bahan pakan sumber protein lainnya seperti bungkil kedelai dan lain-lain.

Kulit buah pepaya selain memiliki kadar protein yang tinggi, juga mengandung enzim papain. Enzim ini banyak terkandung dalam kulit, batang, daun, dan buah (http://en.wikipedia.org/wiki/Papaya). Papain merupakan salah satu enzim proteolitik. Manfaat papain antara lain adalah dapat digunakan sebagai pelunak daging (enzim papain mampu memecah serat-serat daging, sehingga daging lebih mudah dicerna), papain berfungsi membantu pengaturan asam amino dan membantu mengeluarkan racun tubuh. Dengan cara ini sistem kekebalan tubuh dapat ditingkatkan, (www.Damandiri.or.id). Kulit buah pepaya selain memiliki protein yang tinggi dan enzim papain juga memiliki kandungan zat besi yang tinggi sebesar 0,385% (Analisis Laboratorium Institut Pertanian Bogor, 2008).    Protein dibutuhkan oleh babi masa pertumbuhan. Protein dalam ransum digunakan untuk membangun, menjaga dan memelihara protein jaringan dan organ tubuh, menyediakan asam-asam amino makanan, menyediakan energi dalam tubuh serta menyediakan sumber lemak badan (Tilman, dkk., 1986). Papain dapat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh, hal ini dikarenakan papain memiliki lebih dari 50 asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh (http://en.wikipedia.org/wiki/papain). Dengan pemberian tepung kulit buah pepaya dalam ransum babi diharapkan dapat memberikan pengaruh terbaik terhadap persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk.

Berdasarkan uraian diatas dapat dikemukakan hipotesis bahwa pemberian tepung kulit buah pepaya dalam ransum sampai 10% dapat memberikan pengaruh yang terbaik terhadap persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk babi periode finisher.

Lokasi dan Waktu Penelitian

            Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan bulan April 2009 di Laboratorium Penelitian (KPBI) Koperasi Peternak Babi Indonesia, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung.

TINJAUAN PUSTAKA

Deskripsi Tanaman Pepaya

Tanaman pepaya menurut Rukmana (1995) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

            Kingdom          : Plantae (Tumbuh-tumbuhan)

            Divisi               : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)

            Sub-divisi        : Angiospermae (Biji tertutup)

            Kelas               : Dicotyledonae (Biji berkeping dua)

            Ordo                : Caricales

            Family                         : Caricaceae

            Spesies           : Carica papaya L.

Buah pepaya merupakan salah satu buah yang telah lama dikenal luas di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, pepaya sangat dikenal semua lapisan masyarakat. Buah pepaya telah lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Buah matangnya sangat digemari karena cita rasanya yang enak, relatif tingginya kandungan nutrisi dan vitamin, serta fungsinya dalam melancarkan pencernaan.

Potensi Kulit Buah Pepaya

Tanaman pepaya yang dipelihara secara intensif dan sistem penanamannya monokultur (satu jenis), tingkat produktifitasnya dapat mencapai 50-150 buah/pohon. Bila lahan kebun seluas 1,0 hektar ditanami pepaya pada jarak tanam 3×3 m terdapat populasi 1.000 tanaman, maka produksi per hektar dapat mencapai 50.000-150.000 butir buah atau setara dengan 20-60 ton buah pepaya dengan catatan, banyak terdapat humus, tata udara dan tata air tanahnya baik, dengan pH sekitar 6-7. Panen perdana tanaman pepaya dapat dilakukan pada saat umur 9-11 bulan. Di dalam satu buah pepaya persentase kulit buahnya dapat mencapai 30% yang 10% diantaranya adalah biji pepaya. Panen tanaman pepaya dapat dilakukan secara kontinyu setiap 5-7 hari sekali bergantung pada kematangan buah, permintaan pasar, dan tujuan penggunaan (Rukmana, 1995).

Kulit buah pepaya merupakan bagian terluar dari buah pepaya yang masih mengandung nilai nutrisi cukup tinggi. Kulit buah pepaya pada keadaan kering mengandung protein kasar sebesar 25,58 %, lemak kasar 8,87 %, serat kasar 18,52 %, Ca 2,39 %, P 0,88 %, dan Abu 8,52 % (Laboratorium Nutrisi Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan UNPAD, 2008). Kandungan nutrisi kulit buah pepaya relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan bahan pakan sumber protein lain, antara lain kacang hijau yang memiliki kandungan protein kasar 26,7 %, lemak 1,47 %, serat kasar 5,93 %, Ca 0,16 %, P 0,72 %, dan abu 5,22 %, bungkil kelapa yang mengandung protein kasar 21 %, lemak 10,9 %, serat kasar 14,2 %, Ca 0,165 %, P 0,62 %, dan abu 8,24 %, serta ampas tahu yang hanya mengandung protein kasar 20,81 %, lemak 7,08 %, serat kasar 14,88 %, Ca 0,64 %, P 0,28 %, dan abu 3,74 % (Sutardi, 1983).

Deskripsi Ternak Babi

Babi merupakan ternak monogastrik yang memiliki kesanggupan dalam mengubah bahan makanan secara efisien apabila ditunjang dengan kualitas ransum yang dikonsumsi. Babi lebih cepat tumbuh, cepat dewasa dan bersifat prolifik yang ditunjukkan dengan banyaknya anak dalam setiap kelahiran yang berkisar antara 8 -14 ekor dengan rata-rata dua kali kelahiran pertahunnya (Sihombing, 1997). Menurut Sihombing (1997), pertumbuhan babi yang digemukkan untuk tujuan daging dibagi menjadi beberapa periode yaitu periode pra sapih (pre starter), lepas sapih (starter), pertumbuhan (grower), dan finisher. Babi periode finisher adalah babi setelah melewati periode pertumbuhan, dicirikan dengan berat hidup 60-90 kg, sedangkan pertambahan bobot badan babi periode finisher adalah 701-815 gram/hari (Annison, 1987).  Soeparno (1992), mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan komponen tubuh secara kumulatif mengalami pertambahan berat selama pertumbuhan sampai mencapai kedewasaan, jadi pertumbuhan mempengaruhi pula distribusi berat dan komponen-komponen tubuh ternak termasuk tulang, otot, dan lemak. Menurut Sutardi (1980), kecepatan pertumbuhan suatu ternak dipengaruhi berbagai faktor antara lain bangsa, jenis kelamin, umur, makanan, dan kondisi lingkungan.

Produksi Karkas Babi

               Karkas babi merupakan bagian tubuh ternak setelah dilakukan pemisahan terhadap kepala, bulu, kuku, isi rongga dada. Karkas babi yang dihasilkan berkisar antara 60-90% dari berat hidup tergantung pada kondisi, genetik, kualitas pakan dan cara pemotongan (Ensminger, 1984). Persentase karkas adalah perbandingan antara bobot karkas dengan bobot potong yang dinyatakan dalam persen (Forrest, dkk. 1975). Bobot potong yang tinggi tidak selalu menghasilkan bobot karkas yang tinggi. Hal ini dikarenakan sering adanya perbedaan pada berat kepala, bulu, isi rongga dada dan perut (Soeparno, 1992), oleh karenanya bobot potong lebih dari 90 kg memang meningkatkan hasil berat karkas tetapi persentase karkas yang dihasilkan akan menurun (Sihombing, 1997). Bobot potong optimum dapat dicapai jika terdapat interaksi antara jenis pakan yang diberikan, cara pemberian pakan, bangsa ternak, jenis kelamin dan kematangan seksual (Davendra dan Fuller, 1979). Persentase karkas babi dibagi menjadi beberapa kelas, kelas 1 menurut USDA  adalah 68-72% (Forrest, dkk. 1975). Besarnya persentase karkas dipengaruhi oleh faktor tipe dan ukuran ternak serta penanganan ternak, lamanya pemuasaan, serta banyaknya kotoran yang dikeluarkan (Soeparno, 1992).  Persentase karkas akan meningkat dengan meningkatnya bobot potong (Forrest et. all, 1975), dinyatakan pula dengan meningkatnya presentase lemak karkas menyebabkan persentase otot dan tulang menurun. Persentase karkas normal berkisar antara 60-75% dari berat hidup. Persentase ini lebih tinggi pada babi dibandingkan dengan ternak lain seperti domba dan sapi karena babi tidak mempunyai rongga badan yang terlalu besar serta babi mempunyai lambung tunggal (Blakelly dan Bade, 1998).

Tebal Lemak Punggung

Pengukuran tebal lemak punggung pertama kali dilakukan tahun 1952 oleh Hazel dan Kline dengan alat yang disebut ”back fat probe” setelah itu sangat meluas penggunaannya maupun perkembangan teknologi peralatannya. Ukuran tebal lemak punggung secara langsung menggambarkan produksi lemak atau daging. Tebal lemak punggung babi yang tipis memberi persentase hasil daging yang tinggi dan sebaliknya tebal lemak punggu yang tinggi memberi hasil persentase hasil daging yang rendah. Sejak tahun 1968 Lembaga USDA di Amerika Serikat telah menentukan suatu cara dalam penentuan kelas karkas dari babi siap potong.

Luas Urat Daging Mata Rusuk

Kualitas daging erat hubungannya dengan ukuran luas penampang otot longisimus (longisimus muscle area) sering juga disebut urat daging mata rusuk yang diukur diantara tulang rusuk ke 10 dan 11 (Miller, dkk. 1991). Luas urat daging mata rusuk dapat digunakan untuk menduga perdagingan karkas dan berat karkas karena terdapat korelasi dengan total daging pada karkas dimana yang lebih berat akan mempunyai ukuran penampang urat daging mata rusuk yang lebih besar.

Crampton dkk (1969), menjelaskan bahwa luas urat daging mata rusuk dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi ternak. Menurut Figueroa (2001) yang meneliti pengaruh performans babi pertumbuhan finisher yang diberikan pakan rendah protein, rendah energi, tepung biji sorghum-kedelai memperoleh nilai rata-rata luas urat daging mata rusuk sebesar 42,97 cm2. Menurut Soeparno (1992), luas urat daging mata rusuk dipengaruhi juga oleh bobot potong. Bobot potong yang tinggi akan menghasilkan daging mata rusuk yang lebih luas.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Bahan Penelitian dan Ternak Penelitian

Ternak yang digunakan adalah 18 ekor ternak babi hasil persilangan Landrace. Kisaran bobot badan rata-rata ternak babi adalah 60,56 kg dengan koefisien variasi kurang dari 6,25. Babi ditempatkan secara acak dalam kondisi kandang individu dengan kondisi lingkungan yang sama dan jenis kelamin babi yaitu jantan kastrasi. Kandang yang digunakan adalah kandang individu yang berukuran 0,6 x 2 x 1,2 m dengan lantai semen dan beratap seng, dilengkapi tempat makan dan minum sebanyak 18 unit. Tiap kandang diberi nomor untuk memudahkan dalam pengontrolan dan pengambilan data.

Peralatan yang digunakan dalam penelitian yaitu:Timbangan duduk kapasitas 200 kg (ketelitian 0,1 kg) untuk   menimbang berat ternak.Timbangan duduk kapasitas 15 kg (ketelitian 0,1 kg) untuk menimbang jeroan.Timbangan gantung 150 kg (ketelitian 0,1 kg) untuk menimbang berat karkas. Pisau, plastik mika transparan dan milimeter block untuk menentukan luas urat daging mata rusuk. Mistar untuk mengukur tebal lemak punggung.

Kulit Buah Pepaya

Ransum yang diberikan pada ternak percobaan dalam penelitian berupa tepung. Bahan Tepung Kulit Buah Pepaya didapat dari PT. Karya Mulya, Leles Kabupaten Garut. Bahan tersebut dikeringkan hingga kadar air 15% kemudian digiling hingga menjadi tepung.

Ransum Penelitian

Bahan makanan yang digunakan untuk menyusun ransum adalah tepung jagung, tepung ikan, bungkil kelapa, tepung tulang, bungkil kedelai, tepung tulang, dedak padi, dan premix. Penyusunan ransum dilakukan berdasarkan pada kebutuhan zat-zat makanan yang dianjurkan National Research Council (1988).  Tepung kulit buah pepaya dicampur ke dalam ransum dalam jumlah dosis yang berbeda sebagai bahan yang akan diteliti pengaruhnya. Komposisi zat makanan dan susunan ransum yang digunakan masing-masing diperlihatkan pada Tabel 1, sedangkan kandungan ransum percobaan terdapat pada Tabel 2.

Tabel 1. Kandungan nutrisi ransum basal dan tepung kulit buah pepaya. 

Kandungan Gizi Ransum Basal Tepung Kulit Buah Pepaya
EM (kkal) 3244,8 2419
PK (%) 14 25,85
SK (%) 7,5 2,39
Ca (%) 0,32 18,52
P (%) 0,66 0,88

Sumber : Ransum basal (NRC, 1998) 

     Tepung kulit buah pepaya (Permana, 2007)        

Tabel 2. Kandungan nutrisi ransum penelitian

Kandungan Nutrisi Ransum Penelitian
R0 R1 R2
EM (kkal) 3244,81 3203,51 3162,22
PK (%) 14,02 14,59 15,18
SK (%) 7,54 8,05 8,06
Ca (%) 0,32 0,4235 0,52
P (%) 0,66 0,671 0,68

R0 = 100% ransum basal

R1 = 95% ransum basal + 5% tepung kulit buah pepaya

R2 = 90% ransum basal + 10% tepung kulit buah pepaya

Metode Penelitian dan Tahap Penelitian

  1. Persiapan kandang, sanitasi kandang, pengadaan ternak, pengadaan ransum dan peralatan serta penimbangan bobot awal ternak sebelum penelitian dimulai. Setiap babi dimasukkan ke kandang individu dan memperoleh satu perlakuan secara acak.
  2. Adaptasi babi terhadap kandang, ransum, perlakuan dan lingkungan yang baru dilakukan selama 1 minggu, dan pemberian obat cacing.
  3. Pemberian ransum sebanyak 1 kg/ ekor dilakukan selama tiga kali sehari, pukul 07.00 dan 12.00 dan 16.00 WIB dengan jumlah ransum per hari adalah 3 kg/ekor.
  4. Penimbangan bobot badan dilakukan setiap 2 minggu sekali dengan menggunakan timbangan duduk pada pagi hari sebelum babi dibersihkan.
  5. Tepung Kulit Buah Pepaya di campur 5% dan 10% dalam ransum basal pada perlakuan R1 dan R2.
  6. Kandang dibersihkan dua kali sehari yaitu pada pukul 06.00 dan 12.00 WIB. Kandang dibersihkan dari semua kotoran ternak babi dan kotoran tersebut dibuang ke saluran pembuangan, setelah itu babi  dimandikan agar  bersih dan merasa nyaman.
  7. Setelah babi mencapai bobot badan 90 kg babi siap dipotong, tetapi sebelum dipotong babi dipuasakan dahulu selama 18 jam untuk mengurangi stress dan menghindarkan kontaminasi isi saluran pencernaan terhadap karkas (Sihombing, 1997). Sesaat sebelum dipotong, ternak babi ditimbang bobot potongnya. Babi ditusuk pada leher bagian atas dekat rahang bawah menuju jantung. Bulu dihilangkan dengan cara dikerok setelah sebelumnya direndam dalam air panas dengan suhu 70°C selama 2 menit kemudian kepala dipisahkan dari tubuh.
  8. Setelah melalui sayatan lurus ditengah perut hingga dada pada tulang dada, rectum dibebaskan melalui anus dan isi perut serta dada dikeluarkan termasuk alat kelamin, vesica urinaria, diaphragma dan ekor.
  9. Tulang dada sampai dengan tulang ekor dipotong sehingga karkas pisah menjadi 2 bagian dan baru dilakukan penimbangan terhadap berat karkas dengan menggunakan timbangan digital.
  10. Antara tulang rusuk ke 10 dengan 11 dipotong dengan menggunakan pisau untuk digambar urat daging mata rusuknya (Miller, dkk. 1991) dengan menggunakan plastik mika transparan, kemudian diukur luasnya dengan menggunakan milimeter block.
  11. Tebal lemak punggung diukur dengan mistar berskala centimeter diatas punggung babi yaitu pada tulang rusuk pertama, keduabelas, dan terakhir kemudian dirata-ratakan (Forest, et.al, 1975).

 

Peubah yang Diamati

Peubah yang diamati dalam penelitian adalah :

  1. Persentase Karkas (%)

Diperoleh dari berat karkas (BK) dibagi bobot potong (BP) dikali 100% atau   dengan rumus :      

    Berat karkas             x  100%

    Berat potong

  1. Luas Urat Daging Mata Rusuk

Diukur dengan menggunakan milimeter block yang ditempelkan pada plastik mika yang telah digambar berdasarkan luas urat daging mata rusuk yang diamati kemudian dihitung berapa banyak kotak yang terisi penuh (Forrest, et al..  1975).

3.   Tebal Lemak Punggung

      Diukur dengan mistar berskala centimeter diatas punggung babi yaitu pada tulang rusuk pertama, keduabelas, dan terakhir kemudian dirata-ratakan (Forest, et.al, 1975).

Rancangan Percobaan dan Analisis Statistik

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental dengan  menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan, Salah satu perlakuan sebagai kontrol tanpa mengandung tepung kulit buah pepaya dan 2 perlakuan lainnya mengandung kulit buah pepaya dengan dosis yang berbeda. Masing-masing perlakuan terdiri dari lima ulangan, sehingga penelitian ini menggunakan 18 ekor ternak babi.  Model matematik yang digunakan (Steel dan Torrie, 1989) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Yij = µ + αi + єij .

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Tepung Kulit Buah Pepaya Dalam Ransum Babi Periode Finisher Terhadap Persentase Karkas

Data hasil pengamatan selama penelitian tentang pengaruh berbagai dosis tepung kulit buah papaya pada ransum persentase karkas dapat dilihat  pada  Tabel 4.

Tabel 4. Rata-rata Persentase Karkas Hasil Penelitian dari Perlakuan.

Ulangan Perlakuan Rataan

(%)

R0 R1 R2
  ———————%———————  
1 76,47059 76,24309 78,26087
2 77,77778 77,04918 76,53631
3 75,5814 78,02198 77,04918
4 74,7191 75,70621 78,57143
5 76,13636 79,54545 77,34807
6 78,48837 77,9661 77,71739
Rata-rata 76,52893 77,422 77,58054 77,17716

 

Rata-rata persentase karkas secara keseluruhan adalah 77,17%, ini menunjukkan persentase tinggi termasuk ke dalam  kelas 1 menurut USDA yaitu antara 68-72%, ini disebabkan oleh rendahnya berat isi  jeroan dalam bobot potong yang optimal (90 kg). Bobot potong 90 kg adalah bobot potong optimal, dimana berat karkas tinggi, berat karkas sangat mempengaruhi persentase karkas (Hovorka dan Pavlik, 1973).

Berdasarkan pemberian dosis tepung buah kulit pepaya : 0; 5; dan 10% dalam ransum diperoleh persentase karkas berturut-turut : 76,52; 77,42 dan 77,58. Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian berbagai dosis kulit buah pepaya dalam ransum ternak babi pada penelitian ini  tidak berpengaruh terhadap persentase karkas. Hal ini disebabkan karena  persentase karkas merupakan hasil dari pembagi berat karkas dan berat potong jadi pada ternak yang bangsa sama cenderung memperoleh persentase yang sama pula. Penelitian ini sesuai dengan Rikas et al. (2008) yang menyatakan bahwa pemberian tepung kulit buah pepaya dalam ransum kelinci tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum dan persentase karkas, tetapi memperbaiki efisiensi penggunaan ransum pada kelinci.

Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Tepung Kulit Buah Pepaya Dalam Ransum Babi Periode Finisher Terhadap Luas Urat Daging Mata Rusuk

Data hasil pengamatan selama penelitian tentang pengaruh berbagai dosis tepung kulit buah pepaya pada ransum terhadap luas urat mata daging rusuk dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rata-rata Luas Urat Daging Mata Rusuk Hasil Penelitian dari Perlakuan.

Ulangan Perlakuan Rataan

(cm2)

R0 R1 R2
  ——————– cm2——————–  
1 34,6 41,0 42,8
2 35,7 42,2 39,6
3 37,5 40,6 41,5
4 41,0 40,4 41,0
5 38,0 39,0 39,7
6 36,9 39,3 42,0
Rata-rata 37,2 a 40,4  b 41,1 b 39,6

Ket. Huruf yang sama dalam baris menunjukkan tidak berbeda nyata

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa rataan luas urat daging mata rusuk secara keseluruhan adalah 39,6 cm2. Hasil tersebut masih berada dalam kisaran normal sesuai dengan Figueroa (2001) yang meneliti nilai rata-rata luas urat daging mata rusuk pada babi periode finisher yaitu sebesar 42,97 cm2. Berdasarkan pemberian dosis tepung kulit buah pepaya : 0; 5 dan 10 %, diperoleh persentase karkas berturut-turut : 37,28; 40,41 dan 41,1 cm2.

Berdasarkan hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian berbagai dosis tepung kulit buah pepaya dapat meningkatkan luas daging mata rusuk (p<0,05) karena  Tepung kulit buah pepaya mengandung kadar protein yang cukup tinggi yaitu 25,85% dan serat kasar yang cukup rendah yaitu sebesar 12,51% (Hasil analisis di Laboratorium Nutrisi Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan UNPAD, 2008), sehingga dapat digunakan oleh ternak sebagai sumber asam amino untuk membentuk daging.   Selain itu  kulit buah papaya memiliki Enzim papain termasuk enzim protease, yaitu enzim yang menghidrolisis ikatan peptida pada protein, untuk melakukan aktivitasnya protease membutuhkan air sehingga dikelompokkan ke dalam kelas hidrolase. Protease berperan dalam sejumlah reaksi biokimia seluler, selain diperlukan untuk degradasi senyawa protein nutrien, protease terlibat dalam sejumlah mekanisme patogenisitas, sejumlah pasca translasi protein, dan mekanisme akspresi protein ekstraseluler.

Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Tepung Kulit Buah Pepaya Dalam Ransum Babi Periode Finisher Terhadap Tebal Lemak Punggung

Data hasil pengamatan selama penelitian tentang pengaruh berbagai dosis tepung kulit buah pepaya pada ransum terhadap tebal lemak punggung dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rata-rata Tebal Lemak Punggung Hasil Penelitian dari Perlakuan.

Ulangan Perlakuan Rataan

(cm)

R0 R1 R2
  ———————cm——————–  
1 3,3 2,8 2,5  
2 3,2 2,6 3,0
3 3,0 2,7 2,6
4 3,0 2,8 2,7
5 3,1 3,0 2,9
6 3,4 2,9 2,5
Rata-rata 3,1 2,8 2,7 2,88

 

Dari tabel 6 dapat dilihat bahwa rataan tebal lemak punggung secara keseluruhan adalah 2,88 cm. Hasil tersebut termasuk ke dalam kelas 1 sesuai dengan pendapat Forrest (1975) yang meneliti nilai rata-rata tebal lemak punggung pada babi periode finisher kelas 1 < 3,56 cm. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh tebal lemak punggung dengan urutan dari yang terbesar hingga yang terkecil adalah perlakuan R0 (3,1 cm), R1 (2,8cm), dan R2 (2,7 cm), untuk mengetahui pengaruh Kulit buah pepaya terhadap tebal lemak punggung dilakukan analis sidik ragam yang hasilnya adalah pemberian kulit buah pepaya dapat menurunkan tebal lemak punggung babi finisher  (p<0,05), dari sini dapat kita peroleh bahwa energi yang berlebihan pada ransum dengan adanya kulit tepung kulit buah papaya dapat di transformasi menjadi sumber protein tubuh. Enzim papain yang ada pada kulit buah papaya juga mampu meningkatkan kecernaan ransum terutama protein.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

            Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung kulit buah pepaya sampai tingkat 10 % dalam ransum tidak memberi pengaruh terhadap produksi karkas, tetapi berpengaruh nyata terhadap luas urat daging mata rusuk dan tebal lemak punggung babi periode finisher.

Tepung kulit buah pepaya sampai tingkat 10 % dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pakan alternatif sumber protein dalam ransum dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap produksi dan komponen karkas.

Saran

Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui batas maksimal penggunaan dosis tepung kulit buah pepaya yang memberikan pengaruh yang baik terhadap persentase karkas.

Penggunaan Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya) bisa dijadikan alternatif 10% sebagai pakan alternative untuk ternak babi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Atiya, dkk. 2001. Pemeriksaan Efek Anthelmentik Papain Kasar Terhadap Infeksi Buatan Cacing Haemonchus contortus. Rudolphi Pada Domba. JFF. MIPA. Unair.

Benbrook, E. A., and M. V. Sloss. 1961. Clinical Parasitology. 3  ed, Iowa State Univ. Press. Ames, Iowa, 3-17.

Kusumamihardja, S. 1992.  Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak dan Hewan Piara. Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Lawson, J. L. dan M. A. Gemmel. 1983.  Transmission in Hydatidosis and cysticercosis. Advance’s in Parasitology 2a:279.

Levine, N.D. 1982.  Textbook Of Veterinary Parasitology.  Burgess Publishing Company.  USA.

NRC. 1998. Nutrient Requirments of Swine. Nutrient Requirments of Domestic Animal, Ninth Revised Edition National Academy Press. Washingthon DC.

Siagian H. Pollung. 1999. Manajemen Ternak Babi, Diktat Kuliah Jurusan Ilmu Produksi Ternak. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sihombing. 1997. Ilmu Ternak Babi. Cetakan Pertama. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Subronto, dan I. Tjahajati. 2001. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Soulsby, E.J.L.  1982.  Helminths, Antropods and Protozoa of Domesticated Animals. Inglish Laguage Book Service Bailiere Tindall.  7th Ed. Pp.231-257.

Tarmudji, Deddy Djauhari Siswansyah dan Gatot Adiwinata.  1988.  Parasit-parasit Cacing Gastrointestinal pada sapi-sapi di Kabupaten Tapin dan Tabalong Kalimantan Selatan, di dalam Penyakit Hewan.  Balai Penelitian Veteriner, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta.

Wiryosuhanto, S. D. dan T.N.Jacoeb.  1994.  Prospek Budidaya Ternak Sapi.

Kanisius.  Yogyakarta.

______________Papain juga dapat memecah makanan yang mengandung protein hingga terbentuk berbagai senyawa asam amino yang bersifat autointoxicating (http://www.cybermed.cbn.net.id. Diakses 25 Juni 2008)

____________. Papain mempunyai sifat Vermifuga kemampuan menguraikan protein sehingga protein terurai menjadi polipeptida dan dipeptida (http://www. Wikipedia. Com. Diakses 25 Juni 2008)

____________. Papain merupakan enzim protease sulfhidril dan akan mendegradasi protein-protein jaringan konektif dan myofibril (http://www.asiamaya.com. Diakses 25 Juni 2008).

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG KULIT BUAH PEPAYA (Carica papaya) DALAM RANSUM TERHADAP JUMLAH TELUR DAN LARVA CACING DALAM FESES TERNAK BABI PERIODE FINISHER

ABSTRAK

Penelitian telah dilakukan di Koperasi Peternak Babi Indonesia (KPBI), Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa jumlah telur dalam tiap gram feses yang terdapat pada ternak babi yang diberi pakan tepung kulit buah pepaya dan mengetahui jumlah larva yang menginvestasi ternak babi tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sensus dengan dua kali pengulangan pengambilan sampel, ternak penelitian yang digunakan adalah 18 ekor ternak babi sehingga diperoleh 36 sampel. Pengambilan feses dilakukan di kandang pemeliharaan diambil dari rektum dari tiap ekor ternak babi. Sampel yang telah diambil dianalisis kemudian dilakukan pemeriksaan untuk mengidentifikasi jumlah telur dan larva cacing yang menginfeksi ternak babi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh pengurangan jumlah telur cacing Strongylus sp, Ascaris sp dan Trichuris suis pada pemberian tepung kulit buah pepaya 5% dan 10% serta tidak ditemukan adanya larva  Strongylus sp, Ascaris sp dan Trichuris suis.

Kata kunci : babi, jumlah telur, jumlah larva, tepung kulit buah pepaya

 

ABSTRACT

The research had done at Koperasi Peternak Babi Indonesia (KPBI), Village of Kertawangi, Subdistrict Cisarua, Lembang, Regency of Bandung. This research aimed to know how many eggs in each gram of feces contain in pig livestock which was given papaya skin fruit flour and to know how many larvae invest that pig livestock. The research method used census method with two times repetition took sample, research livestock used 18 pigs livestock thus gained 36 samples. Feces collecting did in pen of hogs caring took from rectum each pig livestock. The samples took which had analyzed then investigated to know how many eggs and to know how many larvae invest that pig livestock. The results showed that the influence of reducing the amount of Strongylus sp worm eggs, Ascaris sp and Trichuris suis on the skin giving papaya powder 5% and 10% and amount of Strongylus sp, Ascaris sp and Trichuris suis did not find any larvae.

Keywords: pigs, amount of eggs, amount of larvae, papaya skin flour

 

 

PENDAHULUAN

            Babi merupakan salah satu komoditas ternak penghasil daging yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena mempunyai sifat – sifat menguntungkan diantaranya : laju pertumbuhan yang cepat, jumlah anak perkelahiran (litter size) yang tinggi, efisien dalam mengubah pakan menjadi daging dan memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap makanan dan lingkungan.

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha pengembangan ternak babi dari aspek manajemen adalah faktor kesehatan atau kontrol penyakit. Ternak babi sangat peka terhadap penyakit, salah satunya adalah penyakit endoparasit. Parasit merupakan makhluk hidup yang dalam kehidupannya menggunakan makanan makhluk hidup lain sehingga sifatnya merugikan. Cacing mempunyai salah satu sifat merugikan yaitu menimbulkan gangguan nafsu makan dan pertumbuhan. Gangguan pada pertumbuhan akan berlangsung cukup lama sehingga produktivitas akan turun. Gejala-gejala dari hewan yang terinfeksi  cacing antara lain, badan lemah dan bulu rontok. Jika infeksi sudah lanjut diikuti dengan anemia, diare dan badannya menjadi kurus yang akhirnya bisa menyebabkan kematian. Adanya parasit di dalam tubuh ternak tidak harus diikuti oleh perubahan yang sifatnya klinis. Kehadiran parasit cacing bisa diketahui melalui pemeriksaan feses, dimana ditemukan telur cacing, makin banyak cacing makin banyak pula telurnya. Perubahan populasi cacing dalam perut babi dapat diikuti dengan menghitung telur tiap gram feses (TTGF) secara rutin.

Tingkat prevalensi parasit cacing  tergantung pada jumlah dan jenis cacing yang menginfeksinya. Guna mengurangi resiko akibat infestasi cacing ini perlu diketahui jenis cacing, siklus hidup dan epidemologi dari cacing tersebut. Mengendalikan parasit diperlukan pemeriksaan rutin terhadap adanya endoparasit, terutama jenis dan derajat infestasi yang dapat dilakukan bersama-sama dengan pemeriksaan fisik secara rutin (Subronto dan Tjahajati, 2001). Masalah penyakit khususnya penyakit cacingan pada babi dapat diatasi dengan cara menggunakan obat cacing. Pemberian obat-obatan tersebut harus diulang-ulang dan disesuaikan dengan daur hidup cacing. Biaya yang dibutuhkan untuk pemberian obat cacing memerlukan biaya yang mahal. Alternatif lainnya untuk pengobatan adalah dengan pemberian obat tradisional yang dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu jenis flora yang ada di negara kita yaitu pepaya. Selain mudah didapat buah pepaya pun relatif murah harganya.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya (Carica papaya) Dalam Ransum Terhadap Jumlah Telur Dan Larva Cacing Dalam Feses Ternak Babi Periode Finisher”.

 

Identifikasi Masalah

Jumlah telur dan larva cacing dalam tiap gram feses yang terdapat pada babi finisher yang diberi pakan tepung kulit buah papaya (Carica papaya).

Maksud dan Tujuan Penelitian

Mengetahui jumlah telur dan larva cacing dalam tiap gram feses yang terdapat pada babi yang diberi pakan tepung kulit buah papaya (Carica papaya).

Kerangka Pemikiran

Parasit merupakan makhluk hidup yang dalam kehidupannya mengambil makanan makhluk lain, sehingga sifatnya merugikan. Parasit dibagi menjadi dua macam, yaitu ektoparasit dan endoparasit. Ektoparasit adalah parasit yang hidupnya dipermukaan tubuh hewan, yang keberadaannya mengganggu ketentraman hewan dalam pemeliharaan sehingga akan mengganggu proses fisiologis hewan tersebut, sedangkan endoparasit adalah yang hidup di dalam tubuh hewan.

Endoparasit di dalam tubuh akan merampas zat-zat makanan yang diperlukan bagi induk semangnya, cacing dalam jumlah banyak akan mengakibatkan kerusakan usus atau menyebabkan terjadinya berbagai reaksi tubuh yang antara lain disebakan oleh toksin yang dihasilkan oleh cacing-cacing tersebut. Parasit-parasit tersebut biasanya tidak menyebabkan kematian pada hewan secara langsung, melainkan mengakibatkan terjadinya penurunan berat badan pada hewan dewasa dan pertumbuhan akan terhambat pada hewan-hewan muda. (Tarmudji dkk, 1988). Penyakit endoparsit, terutama cacing, menyerang hewan pada usia muda (kurang dari 1 tahun). Presentase yang sakit oleh endoparasit dapat mencapai 30% dan angka kematian yang bisa ditimbulkan adalah sebanyak 30% (Wiryosuhanto dan Jacoeb, 1994).

Menurut Subronto dan Tjahajati (2001), untuk terjadinya infeksi, parasit harus mampu mengatasi pertahanan tubuh hospes definitive. Hubungan parasit dengan hospes dan keadaan sekitarnya perlu dianalisis untuk tiap keadaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah parasit sehingga mampu berkembang serta mencapai kematangan seksual tergantung pada (a) kesempatan hospes berkenalan dengan parasit, (b) biologi parasit, dan (c) tingkat kerentanan hospes. Tiap parasit memiliki sifat khusus dalam daur hidupnya dan kemampuan dari parasit untuk menghasilkan keturunannya.

Jumlah telur tiap gram feses (TTGF) berbanding lurus dengan jumlah cacing betina dewasa yang terdapat dalam saluran pencernaan (Robert dan Swann 1981 dalam Kusumamihardja 1992). Gejala terserangnya parasit cacing akan terjadi tergantung dari jenis parasit, kondisi induk semang, organ yang dipengaruhinya, jumlah parasit, iklim dan umur hewan.  Beberapa faktor yang akan mempengaruhi pertumbuhan cacing diantaranya kepadatan inang antara dan inang definitif, derajat infeksi dari inang definitif, serta penyebaran inang yang terinfeksi oleh cacing tersebut (Lawson dan Gemmel, 1983). Beberapa alternatif zat aditif telah ditawarkan bagi peternak untuk memicu produksi dan reproduksi yang dihasilkan melalui ekstraksi berbagai jenis tanaman yang mempunyai senyawa bioaktif sebagai antioksidan, antibiotik, meningkatkan nafsu makan, meningkatkan sekresi enzim-enzim pencernaan dan meningkatkan kekebalan tubuh, untuk itu negara kita mempunyai peluang cukup besar karena kaya akan keanekaragaman sumber daya alam hayati.

Pepaya (Carica papaya L) merupakan tanaman obat tradisional yang memiliki khasiat sebagai penambah nafsu makan, obat cacing, menurunkan tekanan darah, anemia dan membunuh amuba. Kandungan kimia yang dikandung pepaya antara lain enzim papain, alkaloid karpaina, glikosid, saponin, sakarosa, dextrosa serta mengandung vitamin A yang cukup tinggi yaitu 18.250 IU yang berfungsi sebagai provitamin A. Papain juga dapat memecah makanan yang mengandung protein hingga terbentuk berbagai senyawa asam amino yang bersifat autointoxicating atau otomatis menghilangkan terbentuknya substansi yang tidak diinginkan akibat pencernaan yang tidak sempurna. (Cybermed.cbn.net.id, 2006). Papain mempunyai sifat Vermifuga kemampuan menguraikan protein sehingga protein terurai menjadi polipeptida dan dipeptida. Cacing termasuk protein yang tidak terlindungi oleh selaput sehingga bila papain masuk ke saluran usus yang banyak mengandung cacing, cacing tersebut akan terurai atau menghindar dengan keluar dari lubang anus. Papain bisa memecah protein menjadi arginin, senyawa arginin merupakan salah satu asam amino esensial yang dalam kondisi normal tidak bisa diproduksi tubuh dan biasa diperoleh melalui pakan, namun bila enzim papain terlibat dalam proses pencernaan protein, secara alami sebagian protein dapat diubah menjadi arginin. Proses pembentukan arginin dengan papain ini turut mempengaruhi produksi hormon pertumbuhan. (Wikipedia.com, 2006).

Papain melemaskan cacing dengan cara merusak protein tubuh cacing. Papain merupakan enzim protease sulfhidril dan akan mendegradasi protein-protein jaringan konektif dan myofibril. Proses penguiraian protein pada cacing terjadi melalui mekanisme pemutusan ikatan sebagai berikut : —Phe—AA — Z;—Val—AA— Zi—Leu—AA—Z;—He—AA—Z

(AA merupakan residu asam amino; z merupakan residu asam amino; ester, atau amida) (Asiamaya.com, 2001).

Beberapa penelitian yang mendukung pemanfaatan pepaya sebagai anthelmetika diantaranya yang dilakukan secara in vitro (Atiyah, 2001) dalam penelitiannya digunakan bahan berupa getah yang diperoleh dengan cara menyadap buah muda pepaya tanpa dipetik. Isolasi papain dilakukan dengan membiarkan getah dalam alkohol 80%, sehingga papain akan mengendap. Endapan papain dikeringkan dalam oven bersuhu 50 – 550C selama enam jam, uji terhadap Ascaris sp dilakukan dengan merendam cacing pada larutan papain secara in vitro bekerja sebagai antelmentik pada dosis 600 mg. Perlakuan efek antelmentik papain kasar terhadap cacing lambung (Haemochus contortus), secara in vivo pada domba jantan terinfeksi, dilakukan (Ridayanti, 2001) hasilnya menunjukkan pemberian papain kasar sampai 0,6 g/kg bobot badan meyebabkan penurunan jumlah cacing dan telurnya. (Nuraini, 2001) dari Jurusan Biologi FMIPA Unair, dalam penelitiannya membuktikan, secara in vitro pemberian 50% perasan daun pepaya gantung (Carica papaya) setelah setengah jam, sudah menimbulkan efek kematian pada cacing hati sapi (Fasciola gigantica). Bila lamanya mencapai dua jam, semua cacing yang direndam akan mati (Atiya, dkk. 2001). Berdasarkan kerangka pemikiran diatas diambil hipotesa bahwa pemberian limbah kulit buah pepaya mampu mengurangi jumlah telur dan larva cacing.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1 Mei sampai tanggal 20 Juni 2009 di Koperasi Peternak Babi Indonesia (KPBI), Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung. Analisis dilakukan di Laboratorium Balai Penyidikan Penyakit Hewan dan Kesmavet (BPPHK) Jl. Raya Tangkuban Perahu. KM 22 Cikole Lembang.

TINJAUAN PUSTAKA

Deskripsi Ternak Babi

Babi merupakan ternak monogastrik yang memiliki kesanggupan dalam mengubah bahan makanan secara efisien apabila ditunjang dengan kualitas ransum yang dikonsumsi. Besarnya konversi babi terhadap ransum ialah 3,5 artinya untuk menghasilkan berat babi 1 kg dibutuhkan makanan sebanyak 3,5 kg ransum (Goodwin, D. H. 1974). Babi lebih cepat tumbuh, cepat dewasa dan bersifat prolifik yang ditunjukkan dengan banyaknya anak dalam setiap kelahiran yang berkisar antara 8 -14 ekor dengan rata-rata dua kali kelahiran pertahunnya (Sihombing, 1997).

Beberapa jenis penyakit pada babi khususnya penyakit parasiter oleh cacing masih banyak ditemukan di lapangan, antara lain Nematodiosis.  Penyakit  ini disebabkan oleh  cacing dari klas nematoda atau cacing gilig.  Infeksi cacing ini menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi, karena menyebabkan pertumbuhan ternak menjadi tidak optimal. Akhir-akhir ini telah mulai adanya laporan tentang adanya sifat resistensi cacing terhadap beberapa jenis sediaan antelmintika (obat pembasmi cacing)  yang diduga disebabkan oleh penggunaan obat yang tidak rasional (ketidak tepatan  pemilihan obat, waktu pengobatan dan dosis yang diberikan).  Penelitian ini dilakukan dengan harapan hasilnya dapat digunakan sebagai acuan dalam  memberantas cacingan khususnya untuk babi-babi yang kaji.

            Pada dasarnya babi mengkonsumsi makanannya untuk memenuhi kebutuhan energinya, yang dipakai untuk mengatur suhu tubuh, fungsi vital, aktivitas, reproduksi dan produksi. Untuk babi jumlah makanan yang dikonsumsi sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan, kandungan energi ransum, dan level pemberian makanan. Untuk babi di daerah tropis, jumlah makanan yang dikonsumsi cenderung lebih sedikit daripada di daerah subtropis. Hal ini akan berdampak negatif terhadap performans ternak babi khususnya di daerah tropis, jika tidak diimbangi dengan pemberian nutrient esensial yang secukupnya, oleh karena itu perlu disusun ransum seimbang yang mengandung nutrien lengkap dan jumlah serta proporsi yang tepat agar ternak babi dapat berkembang dengan baik dan sehat.

 

Endoparasit  Pada Ternak Babi

            Parasit merupakan mahluk hidup yang dalam kehidupannya mengambil makanan mahluk hidup lain, sehingga sifatnya merugikan. Parasit dibagi menjadi dua macam, yaitu ektoparasit dan endoparasitEktoparasit adalah parasit yang hidupnya dipermukaan tubuh hewan, yang keberadaannya mengganggu ketentraman hewan dalam pemeliharaan sehingga akan mengganggu proses fisiologis hewan tersebut, sedangkan endoparasit adalah yang hidup di dalam tubuh hewan.

Menurut Subronto dan Tjahajati (2001), untuk terjadinya infeksi, parasit harus mampu mengatasi pertahanan tubuh hospes definitif. Dalam tubuh hospes yang bertindak sebagai reservoir, populasi parasit harus mantap dari generasi induk sampai generasi selanjutnya. Parasit dapat lepas dari hospes yang bertindak sebagai reservoir dengan cara parasit dibebaskan oleh hospes dan langsung masuk ke dalam tubuh hospes definitif atau hospes yang bertindak sebagai reservoir dihancurkan terlebih dahulu dan baru masuk setelah parasit bebas masuk ke dalam tubuh hospes definitive. Penularan terhadap hospes yang rentan oleh parasit stadium infektif yang terdapat di luar tubuh hospes definitif dimungkinkan apabila parasit sanggup mengatasi faktor lingkungan, persaingan antar parasit sendiri dan gangguan secara mekanis oleh ternak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah parasit sehingga mampu berkembang serta mencapai kematangan seksual tergantung pada (a) kesempatan hospes berkenalan dengan parasit, (b) biologi parasit, dan (c) tingkat kerentanan hospes. Tiap parasit memiliki sifat khusus dalam daur hidupnya dan kemampuan dari parasit untuk menghasilkan keturunannya. Parasit akan bertahan tergantung pada jumlah telur yang dihasilkan, panjang waktu menghasilkan telur dan jumlah telur yang dihasilkan setiap hari (Subronto dan Tjahajati, 2001).

 

Helminthiasis  Pada Ternak Babi

Kesehatan Ternak Babi dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain kondisi lingkungan pemeliharaan, makanan, pola manajemen, bibit penyakit dan kelainan – kelainan metabolisme. Presentase ternak yang sakit oleh endoparasit dapat mencapai 30% dan angka kematian yang bisa ditimbulkan adalah sebanyak 30% (Wiryosuhanto dan Jakob, 1994).

            Nematoda adalah cacing yang hidup bebas atau sebagai parasit.  Ciri-ciri tubuhnya tidak bersegmen dan biasanya berbentuk silinder yang memanjang serta meruncing pada kedua ujungnya. Nematoda memiliki siklus hidup langsung, sehingga tidak memerlukan inang antara dalam perkembangan hidupnya. Cacing betina dewasa bertelur dan mengeluarkan telur bersamaan dengan tinja, di luar tubuh telur akan berkembang. Larva infektif dapat masuk ke dalam tubuh babi secara aktif, tertelan atau melalui gigitan vektor berupa rayap. Badannya dibungkus oleh lapisan kutikula yang dilengkapi dengan gelang – gelang yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa (Kusumamihardja, 1992).

Strongylus sp

Strongylus sp merupakan cacing parasit pada ternak babi, berdasarkan klasifikasi taksonomi dalam Soulsby (1982) cacing ini termasuk dalam klasifikasi :

Filum               :  Nemathelminthes

Kelas               :  Nematoda

Ordo                :  Strongylyda

Superfamili      :  Strongyloidea

Famili              :  Strongylus

  Spesies           :  Strongylus vulgaris, Strongylus equines, Stronglus 

   Edentates

 

Morfologi an Siklus Hidup

Cacing Strongylus sp mulutnya dilapisi oleh kapsul yang bentuknya hampir bulat. Suatu cincin yang tersusun dari tonjolan – tonjolan seperti pagar dikenal sebagai korona radiata mengelilingi mulut. Cacing ini tidak mempunyai gigi ataupun lempeng – lempeng pemotong, cacing jantan mempunyai suatu pelebaran di ujung posteriornya dan cacing betina mempunyai ujung ekor yang lancip.

Strongylus sp memliki siklus hidup langsung. Cacing betian dewasa bertelur dan keluar tubuh inang bersama dengan feses. Di luar tubuh inangnya telur akan berkembang. Perkembangan sel telur setelah terjadinya pembelahan membagi diri menjadi dua, lalu empat dan seterusnya. Kemudian embrio berkembang menajdi masa morula kemudian masa kecebong yaitu ujung anteriornya lebar dan embrionya melingkar dua kali.  Pada kondisi tropis di Indonesia yang suhunya 280C – 300C  merupakan suhu yang relatif baik untuk menetasnya telur strongylus sp. Telur akan berkembang menjadi L3 dalam waktu 3 – 4 hari.

Telur strongylus sp menetas di luar tubuh induk semang menghasilkan larva 1 (L1) dalam suhu 80C – 380C kemudian melewati dua kali ekdisis (ganti kulit) menjadi L2 dan selanjutnya L3 disebut stadium infektif. Larva pertama biasanya keluar dari telur yang berumur dua hari bila keadaan baik. Larva makan bakteri yang terdapat dalam feses kemudian melakukan ekdisis dua kali dalam waktu 5 – 6 hari sehingga mencapai larva ketiga (larva infektif). Larva infektif memiliki selubung kutikula ganda sehingga relatif lebih tahan teehadap berbagai kondisi buruk.

Gejala Klinis dan Patogenesis

            Patogenesis infestasi cacing adalah proses perubahan patologis yang terjadi akibat interaksi antara cacing dan inangnya. Jenis dan perluasan dari kontak parasit dan jaringan inang ditentukan oleh mekanisme biologis yang tak terpisahkan antara parasit dan proses fisiologik induk semang yang merespon masuknya cacing.

            Larva strongylus sp mulai menimbulkan kerusakan pada saat menyusup dalam dinding usus kecil dan usus besar. Selanjutnya larva keempat dan kelima menimbulkan kerusakan pada sistem arteri dan mulai katup aorta sampai arteri mesenterica cranialis dan cabang-cabangnya. Peradangan terjadi pada lapisan media dan menimbulkan thrombus (darah beku). Larva biasanya terbungkus dalam thrombus, bila thrombus ini lepas biasanya berakibat fatal terutama bila thrombus ini terjadi pada daerah pangkal sistem arteri yang bisa mengakibatkan penyumbatan arteri coronaria (Kusumamihardja, 1992).

Ascaris sp

Berdasarkan kalsifikasi taksonomi dalam soulsby (1986) cacing ini termasuk dalam klasifikasi :

Filum               :  Nematoda

Kelas               :  Secernentea

Ordo                :  Ascaridida

Famili              :  Ascarididae

Genus             :   Ascaris

Spesies           :   Ascaris sp, Ascaris lumbricoides

 

Morfologi dan Siklus Hidup

Cacing Ascaris sp  merupakan jenis cacing gilig penyebab ascariasis pada ternak babi, teutama babi muda di seluruh dunia (Soulsby, 1982). Kejadian ascariasis sangat tinggi pada babi-babi di daerah tropis dan sub tropis (Chan, 1997 dalam Tsuji, et al (2003). Cacing ini  berparasit pada usus halus (Soulsby, 1982). Infeksi dapat terjadi melalui pakan, air minum, puting susu yang tercemar, melalui kolostrum dan uterus (Levine, 1990).

Siklus hidup ascaris terdiri dari 2 fase perkembangan, yaitu eksternal dan internal. Fase eksternal  dimulai  dari sejak telur dikeluarkan dari tubuh penderita bersama tinja. Pada kondisi lingkungan yang menunjang larva stadium 1 di alam akan menyilih menjadi larva stadium 2 yang bersifat infektif ( siap menulari ternak babi jika tertelan). Di dalam usus, kulit  telur  infektif yang tertelan akan rusak sehingga larva terbebas (larva stadium II). Larva stadium II tersebut selanjutnya  menembus mukosa usus dan bersama sirkulasi darah vena porta menuju ke hati. Dari telur tertelan sampai larva mencapai organ hati, butuh waktu sekitar  24 jam (Smith, 1968). Dari hati, larva stadium II  akan terus mengikuti sirkulasi  darah sampai ke organ jantung  dan paru-paru. Setelah 4 – 5 hari infeksi, larva stadium II akan mengalami perkembangan menjadi larva stadium III, selanjutnya menuju ke alveoli, bronkus dan trakhea (Soulsby, 1982).  Dari trakea, larva menuju ke saluran pencernaan. Larva stadium III mencapai  usus halus  dalam waktu 7 – 8 hari dari infeksi, selanjutnya menjadi larva stadium IV, pada hari ke 21-29 larva stadium IV menjadi larva stadium V di dalam usus halus (Lapage, 1956) dan selanjutnya pada hari ke 50 – 55 telah menjadi cacing dewasa (Seddon, 1967). Satu ekor cacing betina dewasa rata-rata bertelur 200.000 butir per hari dan selama hidupnya diduga dapat bertelur 23 milyar butir (Dunn, 1978).

 

Gejala Penyakit dan Patogenesis

Ascaris sp merupakan cacing yang sangat berbahaya karena telurnya dapat masuk ke saluran pencernaan dan telur akan menjadi larva pada usus. Larva akan menembus usus dan masuk ke pembuluh darah. Ia akan beredar mengikuti sistem peredaran, yakni hati, jantung dan kemudian di paru-paru. Pada paru-paru, cacing akan merusak alveolus, masuk ke bronkiolus, bronkus, trakea, kemudian di laring. Ia akan tertelan kembali masuk ke saluran cerna. Setibanya di usus, larva akan menjadi cacing dewasa.

Pada stadium larva, Ascaris dapat menyebabkan gejala ringan di hati dan di paru-paru akan menyebabkan sindrom Loeffler. Sindrom Loeffler merupakan kumpulan tanda seperti demam, sesak nafas, eosinofilia, dan pada foto Roentgen thoraks terlihat infiltrat yang akan hilang selama 3 minggu. Pada stadium dewasa, di usus cacing akan menyebabkan gejala khas saluran cerna seperti tidak nafsu makan, muntah-muntah, diare, konstipasi, dan mual. Bila cacing masuk ke saluran empedu makan dapat menyebabkan kolik atau ikterus. Bila cacing dewasa kemudian masuk menembus peritoneum badan atau abdomen maka dapat menyebabkan akut abdomen.

Trichuris suis

Berdasarkan klasifikasi taksonomi dalam Soulsby (1986) cacing ini termasuk dalam klasifikasi :

Filum               :  Nematoda

Kelas               :  Adenophorea

Ordo                :  Trichurida

Famili              :  Trichuridae

Genus             :  Trichuris

Spesies           :  Trichuris suis

 

Morfologi dan Siklus Hidup

Cacing Trichuris sp berparasit pada mukosa kolon babi (Anonimous, 2004a). Selain menginfeksi babi-babi peliharaan, juga dilaporkan menginfeksi babi liar dan babi hutan. Cacing ini sering disebut Whipworm. Morfologinya hampir sama dengan Trichuris trichura yang menginfeksi manusia dan primata lain, namun belum ada bukti kongkret yang menyatakan bahwa kedua parasit tersebut dapat saling bertukar induk semang seperti halnya cacing Ascaris sp pada babi dan manusia (Soulsby, 1982). 

Siklus hidup  cacing Trichuris sp, di mulai dari keluarnya  telur dari tubuh bersama tinja dan berkembang menjadi telur infektif dalam waktu beberapa minggu. Telur yang sudah berembrio dapat tahan beberapa bulan apabila berada di tempat yang lembab. Infeksi biasanya terjadi  secara peroral (tertelan lewat pakan dan atau air minum). Apabila tertelan, telur-telur tersebut pada sekum  akan menetas dan dalam waktu sekitar empat minggu telah menjadi cacing dewasa (Soulsby, 1982).

Epidemiologi Cacing pada Ternak Babi

            Studi tentang epidemiologi cacing pada ternak babi bertujuan untuk menyelidiki fluktuasi jumlah telur dalam feses. Jumlah cacing nematoda selain dipengaruhi oleh iklim juga dipengaruhi oleh cara pemeliharaan. Situasi lingkungan dan pengairan tempat perkandangan perlu diperbaiki dengan baik agar dapat dihindari daerah perkandangan yang lembab dan basah atau banyak kubangan tidak sehat yang memungkinkan sebagai tempat hidupnya induk semang antara lain, khususnya siput. Kesehatan lingkungan perkandangan biasanya dapat dipelihara dengan baik. Kebersihan kandang harus terjaga dan dihindari adanya pakan yang masih tersisa di malam hari. Sejauh mungkin diupayakan agar seluruh pakan yang disediakan habis termakan dan tidak banyak yang jatuh berceceran di lantai atau menumpuk di sekitar kandang.

Faktor suhu dan kelembaban sangat besar pengaruhnya terhadap  kelangsungan hidu cacing stasium bebas di alam. Suhu optimum baggi kehidupan tiap parasit berbeda-beda tergantung dari spesiesnya. Kisaran suhu yang diperlukan oleh Nematoda stadium bebas di alam adalah antara 180-380C. Selain suhu faktor lain yang berpengaruh adalah kelembaban. Kelembaban yang tinggi sangat membantu dalam menghancurkan feses yang diduga mengandung telur cacing yang dapat meningkatkan stadium infektif dari cacing.

Kerugian Akibat Infestasi Parasit Cacing

            Adanya infestasi parasit cacing yang patogen di dalam tubuh ternak tidak selalu mengakibatkan parasitisme yang sifatnya klinis. Parasitisme cacing baru akan memperlihatkan gejala klinis bila keseimbangan hubungan terganggu, yang mungkin disebabkan oleh kepekaan hospes yang menurun dan atau oleh peningkatan jumlah cacing yang patogen di dalam tubuh ternak. Kerusakan jaringan oleh parasit yang virulen dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Perubahan yang ditimbulkan oleh parasit cacing dapat berupa (1) kerusakan sel dan jaringan, (2) perubahan fungsi faal dari hospes, (3) penurunan daya tahan terhadap agen penyakit lain, (4) masuknya agen penyakit sekunder setelah terjadinya kerusakan mekanik lain dan (5) parasit mampu menyebarkan mikroorganisme patogen.

Jumlah TTGF dapat dipakai sebagai penduga barat atau ringannya derajat infestasi. Infestasi ringan memiliki jumlah TTGF 50-500, infestasi sedang memiliki TTGF 500-2000 dan infestasi berat memiliki jumlah TTGF lebih dari 2000 (Taazona dalam Kusumamihardja, 1992), derajat keparahan infestasi tergantung jumlah cacing yang menginfestasi. Penurunan berat badan akan terjadi pada infestasi 300 ekor dewasa atau setara dengan 1800 TFGF (Kusumamihardja, 1992).

Infestasi parasit cacing dapat menyebabkan penurunan bobot badan dan gastritis. Penurunan berat badan dapat terjadi akibat anoreksia, peningkatan asam lambung, gastrin dan kolesistokinin yang menyebabkan pengosongan lambung secara cepat sehingga penyerapan makanan kurang efektif. Cacing merampas sari-sari makanan yang diperlukan bagi hospes, menghisap darah atau cairan tubuh dan makan jaringan tubuh. Gejala-gejala yang timbul pada hewan yang terinfestasi cacing antara lain badan lemah, nafsu makan kurang, bulu rontok, kulit pucat dan penurunan produksi susu. Jika infestasi sudah lanjut diikuti anemia, diare dan badannya menjadi kurus yang akhirnya bisa menyebabkan kematian (Subronto dan Ida Tjahajati, 2001).

Pengendalian Penyakit Cacingan pada Babi

Pengendalian penyakit cacing memerlukan penanganan yang terncana secara baik dengan memperlihatkan faktor pengobatan dan tatalaksana pemeliharaan ternak yang memadai. Peternak seringkali mengabaikan managemen peternakan yang baik, apabila dikaji secara seksama akan terlihat betapa besar kerugian yang dapat ditimbulkan oleh infrksi cacing.

Obat yang diberikan dan cara pemberiannya harus sesuai dengan petunjuk dokter hewan agar lebih efektif dan efisien. Pemberantasan penyakit cacing pada babi tidak cukup hanya mengandalkan ilmu pengobatan saja, tetapi harus memperhitungkan pula faktor ekonomi, penataan lingkungan, kebersihan kandang, daur hidup cacing serta tidak bisa hanya diberikan satu kali saja. Pemberian obat medik harus diulang – ulang dan disesuaikan dengan daur hidup cacing.

Potensi Limbah Buah Pepaya

Penyakit cacing pada ternak babi selain dapat diobati menggunakan obat – obatan medik, dapat juga diobati dengan menggunakan obat alternatif yaitu dengan pemberian tepung kulit buah pepaya. Tepung kulit buah pepaya mengandung zat atau enzim papain yang dapat berfungsi sebagai obat cacing atau anthelmentik. Enzim papain termasuk enzim protease, yaitu enzim yang menghidrolisis ikatan peptida pada protein, untuk melakukan aktivitasnya protease membutuhkan air sehingga dikelompokkan ke dalam kelas hidrolase. Protease berperan dalam sejumlah reaksi biokimia seluler, selain diperlukan untuk degradasi senyawa protein nutrien, protease terlibat dalam sejumlah mekanisme patogenisitas, sejumlah pasca translasi protein, dan mekanisme akspresi protein ekstraseluler. Pelepasan protease oleh cacing nematoda parasitik mempunyai peranan penting pada proses reaksi biologik seperti metabolisme protein. aktivitas protease mempunyai korelasi signifikan pada saat cacing parasitik menjalani penetrasi ke jaringan.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Bahan dan Alat Penelitian

Ternak yang digunakan adalah 18 ekor ternak babi hasil persilangan Landrace dengan Yorkshire. Kisaran bobot badan rata-rata ternak babi adalah 60,56 kg dengan koefisien variasi 1,42%. Babi ditempatkan secara acak dalam kondisi kandang individu dengan kondisi lingkungan yang sama dan jenis kelamin babi yaitu jantan kastrasi. Ransum yang diberikan pada ternak percobaan dalam penelitian berupa tepung. Bahan ransum didapat dari PT. Karya Mulya, Leles Kabupaten Garut. Bahan tersebut dikeringkan kemudian digiling hingga menjadi tepung.

  Alat-alat yang digunakan untuk mengindentifikasi jumlah telur dan larva cacing adalah : Mikroskop, alat untuk mengidentifikasi dan menghitung telur cacing (McMaster), cover glass, rak tabung, Erlenmeyer, gelas ukur, batang pengaduk, pipet pasteur, corong glass, timbangan, kain kassa, kapas, tabung reaksi, tabung sentrifugasi, sentrifugasi, cawan petri.

Kandang yang digunakan untuk penelitian adalah kandang individu yang berukuran 2 x 0,6 x 1,2 m dengan lantai semen dan beratap seng. Setiap unit kandang dilengkapi dengan tempat makan yang terbuat dari semen dan tempat minum otomatis berupa pentil yang terbuat dari besi tahan karat yang dihubungkan dengan tempat penampung air. Jumlah kandang yang diperlukan sebanyak 18 unit.

Ransum Penelitian

Bahan  yang digunakan dalam penelitian ini adalah ransum basal yang terdiri dari tepung jagung, tepung ikan, bungkil kelapa, tepung tulang, dedak padi dan tepung kulit pepaya. Kandungan nutrisi ransum basal dan tepung limbah kulit pepaya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1. Kandungan nutrisi ransum basal dan tepung kulit buah pepaya.

Kandungan Gizi Ransum Penelitian

(*)

Tepung Kulit Buah Pepaya (**)
EM (kkal) 3244,8 2419
PK (%) 14 25,85
SK (%) 7,5 2,39
Ca (%) 0,32 18,52
P (%) 0,66 0,88

Sumber : (*) NRC, 1998

                (**) Permana, 2007

Tabel 2. Kandungan nutrisi ransum penelitian

Kandungan Nutrisi Ransum Penelitian
R0 R1 R2
EM (kkal) 3244,8 3203,51 3162,22
PK (%) 14 14,5925 15,185
SK (%) 7,5 8,051 8,062
Ca (%) 0,32 0,4235 0,527
P (%) 0,66 0,671 0,682

Keterangan :

R0 = 100% ransum basal

R1 = 95% ransum basal + 5% tepung kulit buah pepaya

R2 = 90% ransum basal + 10% tepung kulit buah pepaya

Metode Penelitian

Tahap Penelitian

  1. Persiapan kandang, pengadaan ternak, pengadaan ransum, dan peralatan. Setiap ekor babi dimasukkan ke kandang individu.
  2. Adaptasi babi terhadap ransum, kandang, perlakuan, dan lingkungan dilakukan selama satu minggu.
  3. Kandang dibersihkan dua kali sehari yaitu pada pukul 06.00 dan 12.00 WIB. Kandang dibersihkan dari semua kotoran yang dibuang ke saluran pembuangan, setelah itu babi dimandikan agar bersih dan merasa nyaman.
  4. Pemberian ransum sebanyak 1 kg/ekor dan dilakukan tiga kali sehari, yaitu pukul 06.00, 12.00 dan 16.00 WIB sehingga jumlah ransum per hari adalah 3 kg/ekor.
  5. Pemberian tepung kulit buah pepaya dilakukan dengan cara mencampurnya dalam 1 kg ransum pertama dalam 3 kali pemberian (total 3 kg/hari), diberikan pada babi sampai habis dikonsumsi.
    1. Pengambilan sampel feses yang akan diteliti dilakukan pada pagi hari setelah pembersihan kandang. Pengambilan dilakukan setelah ternak babi diberi perlakuan RVM, R1, R2 dan R3, selama 2 minggu.

 

Pengambilan Sampel Feses di Lapangan

Pengambilan sampel dilakukan terhadap 18 sampel feses yang diambil sebanyak 1 kali, dari 18 ekor babi. Feses dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberi label kemudian dimasukkan ke dalam termos es yang berisi icebrite dan dibawa menuju laboratorium BPPHK Cikole – Lembang, kemudian dilakukan pemeriksaan baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Pemeriksaan kualitatif dimaksudkan untuk mengidentifikasi jenis cacing yang menginfeksi babi berdasarkan bentuk dan ukuran telur dari larvanya, sedangkan pemeriksaan kuantitatif dimaksudkan mengetahui banyaknya telur cacing setiap gram feses (TTGF) yang menggambarkan berat ringannya derajat infeksi. Hasil pengamatan dijelaskan secara deskriptif yaitu menjelaskan tentang jumlah telur dan jenis cacing yang menginfestasi babi. Metode kuantitatif yang digunakan adalah metode McMaster, sedangkan metode kualitatif dilakukan dengan melihat bentuk dan ukurannya, kemudian dibandingkan dengan bentuk dari standar yang sudah dikenal (Soulsby, 1982).

Penghitungan Telur Cacing (Metode Mc Master)

Penyiapan larutan pengapung : Larutan pengapung dibuat dari campuran garam (NaCl) 400 gr dan gula (C6H12O6) 500 gr yang ditambahkan air dua liter kemudian diaduk sampai larut. Penghitungan telur cacing : dilakukan dengan metode McMaster. Sebanyak dua gram feses dilarutkan dalam 60 ml larutan pengapung yang kemudian dihomogenkan tiga kali dengan cara menuang dari satu gelas ke gelas lain lalu dimasukan dalam kamar hitung McMaster dengan Pipet Pasteur. Dilakukan pemeriksaan mikroskopis dengan pembesaran 10 x  10. Untuk mengetahui jumlah Total Telur tiap Gram Feses (TTGF) dihitung dengan menggunakan metode Mcmaster dengan rumus sebagai berikut:

TTGF  =  (n/bf) X (Vtot/Vhit)

Vtot      =  Volume  dari 2 gr feses ditambah larutan pengapung

Vhit      =  Volume Kamar Hitung ( 2 x 0,5)

Bf        =  Berat feses (2 gr)

N         =  Jumlah Telur yang ditemukan

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Pada pelaksanaan penelitian terdapat 3 macam perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 6 kali.

Identifikasi Jenis Cacing Berdasarkan Larva

Untuk memeriksa Larva dilakukan dengan 3 tahap  yaitu :

  1. 1.      Pembuatan Kultur Feses

Feses yang sudah diperiksa dan positif mengandung telur dicampur dengan kompos steril (Vermikulate) dengan perbandingan yang sama. Kondisinya dibuat menjadi lembab dengan menambah sedikit air. Campuran feses dengan kompos steril diletakan dalam inkubator selama 6-7 hari dengan kisaran suhu  25-27 0C atau pada suhu ruangan sehingga semua larva mencapai taraf infektif.

  1. 2.      Pengumpulan Larva dari Kultur

Setelah diinkubasi, tutup petridish kultur dibuka dan masukan air dari petridish kedalam tabung dengan pipet. Sentrifuse selama lima menit dengan kecepatan 5.000 rpm.

  1. 3.      Identifikasi Larva

Larutan larva yang telah terkumpul dalam tabung reaksi diambil dengan pipet pasteur, satu tetes larutan larva dipindahkan pada gelas objek lalu tutup dengan cover glass kemudian diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 10 x 10.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya Terhadap Jumlah Telur Cacing.

Berdasarkan hasil penelitian pada ternak babi yang dipelihara di Koperasi Peternak Babi Indonesia (KPBI), Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Lembang yang di analisis di BPPHK Cikole, Lembang telah dilakukan pada tanggal 1 mei sampai dengan tanggal 20 juni 2009. Penelitian ini menghasilkan jumlah telur dari tiap gram feses yang terdapat pada ternak babi yang diberi pakan tepung kulit buah pepaya dengan hasil yang bervariasi.

Jumlah Telur Cacing Strongylus sp.

Data hasil penelitian pengaruh pemberian tepung kulit papaya terhadap jumlah telur cacing Strongylus sp,  Ascaris sp dan  Trichuris suis tercantum pada Tabel 3.

Tabel 3. Perhitungan Jumlah Telur Cacing Strongylus sp,  Ascaris sp dan  Trichuris suis

Jenis Cacing Perlakuan
R0 R1 R2
1.    Strongylus sp 243,33 a 0 b 0 b
2.  Ascaris sp 5.786,16 a 4.628,83 b 1.719,33 b
3. Trichuris suis 569,5 a 464,16 a 285,83 b

Ket.Huruf yang berbeda dalam kolom menunjukkan pengaruh perlakuan berbeda nyata.

Berdasarkan data pada Tabel 3, dapat diketahui bahwa rata-rata telur cacing Strongylus sp terendah (0) dihasilkan pada perlakuan pemberian tepung kulit pepaya 5% dan 10% dibandingkan dengan rata-rata telur  yang dihasilkan pada perlakuan tanpa adanya pemberian tepung kulit pepaya (243,33).  Penggunaan limbah kulit buah pepaya ternyata dapat mengurangi jumlah telur cacing Strongylus sp pada babi (p<0,05). Limbah kulit buah pepaya yang mengandung papain bekerja secara vermifuga melemaskan cacing dengan cara merusak protein tubuh cacing. Papain merupakan enzim protease sulfhidril dan akan mendegradasi protein-protein jaringan konektif dan myofibril. Cacing termasuk parasit yang tubuhnya terdiri dari molekul – molekul protein yang tidak terlindungi oleh selaput sehingga bila papain masuk ke saluran usus yang banyak mengandung cacing, cacing tersebut akan terurai atau menghindar dengan keluar dari lubang anus.

Berdasarkan data pada Tabel 3, dapat diketahui bahwa rata-rata telur cacing Ascaris sp  terendah (1.719,33) dihasilkan pada perlakuan pemberian tepung kulit buah pepaya 10%. Pada perlakuan dengan pemberian tepung kulit pepaya 5% (4.628,83) dan jumlah terbesar telur cacing Ascaris sp pada perlakuan tanpa pemberian tepung kulit buah pepaya (5.786,16).   Penggunaan limbah kulit buah pepaya ternyata dapat mengurangi jumlah telur cacing Ascaris. sp pada babi.  Cacing Ascaris sp merupakan jenis cacing gilig penyebab ascariasis pada ternak babi, teutama babi muda di seluruh dunia (Soulsby, 1982). Kejadian ascariasis sangat tinggi pada babi-babi di daerah tropis dan sub tropis (Chan, 1997 dalam Tsuji, et al (2004). Cacing ini  berparasit pada usus halus (Soulsby, 1982). Infeksi dapat terjadi melalui pakan, air minum, puting susu yang tercemar, melalui kolostrum dan uterus (Levine, 1990). Satu ekor cacing betina dewasa rata-rata bertelur 200.000 butir per hari ; dan selama hidupnya diduga dapat bertelur 23 milyar butir (Dunn, 1978).

Berdasarkan data pada Tabel 3, dapat diketahui bahwa rata-rata telur cacing Trichuris suis terendah (285,83) dihasilkan pada perlakuan pemberian tepung kulit pepaya 10%, 5% (464,16) dan rata – rata terbesar terdapat pada perlakuan tanpa adanya penambahan tepung kulit pepaya (569,5). Pengaruh tepung kulit buah papaya  perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata (p<0,05), papain pada tepung kulit buah pepaya dapat menurun akibat banyaknya kematian telur cacing karena pengaruh papain dari tepung kulit pepaya.

Pengaruh Pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya Terhadap Jumlah Larva Cacing.

Berdasarkan data penelitian jumlah larva dari tiap gram feses yang terdapat pada ternak babi yang diberi pakan tepung kulit buah pepaya tidak ditemukan adanya jumlah larva cacing Strongylus sp, Ascaris sp, dan Trichuris suis dalam penelitian disebabkan adanya sanitasi ruangan dan alat – alat laboratorium dengan menggunakan alkohol yang dapat membunuh telur cacing dalam waktu 3 jam. Pemberian tepung kulit buah pepaya juga dapat menurunkan fertilitas telur cacing karena tepung kulit buah pepaya mengandung enzim papain yang secara vemifuga dapat merusak protein tubuh cacing sehingga cacing yang telah menetas tidak dapat bertahan hidup.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa pemberian tepung kulit buah pepaya pada dosis 10% dapat menurunkan jumlah telur Strongylus sp, Ascaris sp dan Trichuris suis, sedangkan tidak ditemukan larva cacing Strongylus sp, Ascaris sp, dan Trichuris suis disebabkan oleh penurunan fertilitas telur cacing yang dipengaruhi oleh papain serta prosedur sanitasi alat – alat dan ruangan laboratorium.

Saran

            Pemberian tepung kulit buah pepaya pada dosis 10% sudah mendapatkan hasil yang baik dan diharapkan tepung kulit buah pepaya dijadikan bahan pelengkap ransum karena dapat mengurangi penyakit cacingan pada ternak babi.

                                                          

 

 

 

                                                           DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2004a. Trichuris spp. http://evm.mscs.edu /courses/mic569 /docs/parasite/TRICH.HTML

Atiya, Ridayanti, dan Nuraini. 2001. Pemeriksaan Efek Anthelmentik Papain Kasar Terhadap Infeksi Buatan Cacing Haemonchus contortus. Rudolphi Pada Domba. JFF. MIPA. Unair.

Benbrook, E. A., and M. V. Sloss. 1961. Clinical Parasitology. 3  ed, Iowa State Univ. Press. Ames, Iowa, 3-17.

Dunn, A.M. 1978. Veterinary Helminthology. 2nd Ed. Williams Heinemann Medical Books LTD, London.

Goodwin, D. H. 1974. Beef Management and Production. London: Hutchinson.

Kusumamihardja, S. 1992.  Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak dan Hewan Piara. Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Lapage, G.  1956. Veterinary  Helminthology  and Enthomology. 4th  Ed. Bailliere Tindall, London.

Lawson, J. L. dan M. A. Gemmel. 1983.  Transmission in Hydatidosis and cysticercosis. Advance’s in Parasitology 2a:279.

Levine, ND. 1982.  Textbook Of Veterinary Parasitology.  Burgess Publishing Company.  USA.

Levine, ND.  1990. Buku Pelajaran  Parasitologi Veteriner. Diterjemahkan oleh Prof. Dr. Gatut Ashadi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

NRC. 1998. Nutrient Requirments of Swine. Nutrient Requirments of Domestic Animal, Ninth Revised Edition National Academy Press. Washingthon DC.

Seddon, H.R. 1967.  Helminth Infestation  2nd  Ed.  Commonwealth of Australia Department of Health, Sidney.

Siagian H. Pollung. 1999. Manajemen Ternak Babi, Diktat Kuliah Jurusan Ilmu Produksi Ternak. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sihombing. 1997. Ilmu Ternak Babi. Cetakan Pertama. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Smith, J.D. 1968. Introduction to Animal Parasitology. The English Books University Press, LH. London.

Subronto, dan I. Tjahajati. 2001. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Soulsby, E.J.L. 1982.  Helminths, Antropods and Protozoa of Domesticated Animals. Inglish Laguage Book Service Bailiere Tindall.  7th Ed. Pp.231-257.

Tarmudji, Deddy Djauhari Siswansyah dan Gatot Adiwinata.  1988.  Parasit-parasit Cacing Gastrointestinal pada sapi-sapi di Kabupaten Tapin dan Tabalong Kalimantan Selatan, di dalam Penyakit Hewan.  Balai Penelitian Veteriner, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta.

Tsuji, N., K. Suzuki., H.K. Aoki., T. Isobe., T. Arakawa dan Y. Matsumoto. 2003. Mice Intranasal  Immunized with a recombinant 16 kilodalton Antigen from Roundworm Ascaris Parasites are Protected Againts Larva Migration of Ascaris suum. Infection and Immunity Vol. 71, pp : 5314.

Wiryosuhanto, S. D. dan Jacoeb, T. N.  1994.  Prospek Budidaya Ternak Sapi. Kanisius.  Yogyakarta

ADITIVE RACTOFAMINE DAN CLENBUTEROL DALAM RANSUM TERNAK

Chinese government clamps down even more on illegal substances in pig feed
//22 Mar 2011
Henan’s authories have been ordered by a Chinese government taskforce to clamp down even more on the use of illegal substances in animal feed.
This action has been sparked by the recent headlines that exposed pigs being fed the illegal drug clenbuterol/ ractopine in order to produce leaner pig meat. Leaner meat brings in more money for producers as the price charged for the meat could be tagged as higher.

Severe punishment
A spokesperson stated that ‘those who deliberately add substances harmful to humans to pig food should be severely punished, and further added that local food safety officers who were negligent in their duties or involved in conspiring with illegal additive producers or pig farmers should also be punished in accordance with the law,’ said a report by xinhuanet.com.

It has further been discovered that a subsidiary of China’s largest meat processor Shuanghui Group used clenbuterol tainted pork in its meat products.

Ractopine
According to the Henan provincial government, new inspections are underway to focus on other additives such as ractopamine and salbutamol, which were used as alternatives to clenbuterol but were neglected in the first inspections that were carried out.

Saat ini di Cina sedang menertibkan penambahan bahan obat-obatan ( clenbuterol/ractofamine) dalam ransum babi dalam system produksinya, ini sejenis hormon yang merangsang pembentukan otot dan menurunkan lemak pada babi babi periode finisher ( pengakhiran). Dilihat dari segi keuntungan memang sangat menggiurkan karena kualitas karkas menjadi lebih baik. Akan tetapi obat ini dari beberapa literature mempunyasi efek samping diantaranya : Gangguan system reproduksi, gangguan system saraf karena obat ini sangat peka pada organ yang memunyai reseptor yang banyak seperti otak dan mata, gangguan fungsi jantung bahkan bisa mengeraskan pembuluh darah, yang ditakutin terjadi pada pembuluh darah di otak maupun di jantung.
Penelitian tingkah laku babi yang di teliti di departemen pertanian USA di peroleh bahwa babi yang mengkonsumsi obat obat ini menunjukkan penyimpangan tingkah laku seperti hiperaktif dan agresif. Oleh sebab itu marilah kita belajar kepada alam supaya hal ini tidak terjadi kepada kita. Perlu juga diwaspadai hal ini apakah sudah masuk ke dunia ternak babi dan sapi kita. Indonesia sangat kaya akan bahan alami yang bisa di terapkan untuk meningkatkan daging dan menurunkan lemak hanya perlu waktu dan kesabaran, akan tetapi menghasilkan daging yang aman.
Perlu payung hukum yang jelas untuk hal ini karena yang beresiko tetap adalah masyarakat kita yang mengkonsumsi daging tersebut. Dan semua pelaku peternakan di negeri kita duduk bersama menjaga keamanan pangan kita.

DETEKSI LOGAM BERAT PLUMBUM (Pb) DAN KADMIUM (Cd) PADA HATI DAN GINJAL BABI YANG DIPASARKAN DI PASAR TRADISIONAL WILAYAH KARAWANG

ABSTRAK

Penelitian mengenai Deteksi Logam Berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada Hati dan Ginjal Babi yang dipasarkan Di pasar Tradisional wilayah Karawang dilaksanakan di Laboratorium Kimia Bahan Alam dan Lingkungan Universitas Padjadjaran, mulai pada bulan November 2009 sampai bulan Desember 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar kandungan logam berat Pb dan Cd pada hati dan ginjal babi yang dipasarkan di Pasar tradisional wilayah Karawang . Lima belas sampel hati dan ginjal diperoleh dari pasar-pasar tradisional yang menjual daging babi di Karawang,  kemudian dianalisis menggunakan mesin AAS.  Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey.  Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah logam berat yang terdeteksi sebesar 1,4096 dan rata-rata kandungan logam berat Pb pada hati sebesar 0,2013. Jumlah logam berat Pb yang terdeteksi pada   ginjal sebesar 0,7921 ppm dengan rata-rata sebesar 0,1153 ppm. Sedangkan jumlah kandungan logam berat Cd pada hati yang terdeteksi adalah sebesar 0,4266 ppm, dengan rata-rata sebesar 0,0426 ppm. Jumlah kandungan logam berat Cd yang terdeteksi pada ginjal sebesar 0,4096 ppm dengan  rata-rata 0,0341 ppm. Kandungan logam berat Pb pada hati dan ginjal masih dibawah batas maksimum residu (BMR) yang direkomendasikan oleh POM (1998) yaitu sebesar 2,0000 ppm. Sedangkan kandungan logam berat Cd pada hati dan ginjal melebihi batas maksimum residu (BMR) yang direkomendasikan oleh EPA yaitu sebesar 0,01 ppm.

Kata kunci: Plumbum, Kadmium,Hati babi, Ginjal babi

 

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ternak babi dipelihara dengan tujuan utama untuk menghasilkan daging babi berkualitas baik dan  tinggi. Daging nilai gizi yang sangat baik yang dibutuhkan manusia, terutama untuk pertumbuhan dan perkembangan anak –anak, menjaga kesehatan tubuh dan sebagai sumber protein hewani dan energi. Daging sehat tersebut dihasilkan dari pemotongan hewan yang sehat. Daging yang akan dikonsumsi oleh manusia haruslah berasal dari hewan yang sehat serta dipotong dibawah pengawasan dan pemeriksaan petugas yang berwenang.

            Ternak babi termasuk salah satu ternak omnivorus yaitu pemakan semua bahan makanan, yang memiliki perut besar sederhana yang membutuhkan makanan konsentrat (Sihombing,1997). Babi merupakan jenis ternak pemakan berbagai jenis makanan mulai dari biji-bijian, rumput-rumputan dan makanan yang berasal dari hewan atau sisa-sisa makanan manusia dan hewan, sehingga memungkinkan bahan-bahan yang berbahaya seperti logam berat Pb dan Cd ikut masuk kedalam saluran pencernaan. Komposisi ransum yang digunakan pada ternak babi adalah wheat (gandum terigu), barley (jelay), oats (gandum haver), minyak hewan (domba, sapi), bungkil kedelai, herring (tepung ikan), bungkil kanola, garam dapur beriodin, kalsium fosfat, kalsium karbonat.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 Berdasarkan komposisi ransum tersebut dapat dilihat adanya jenis biji-bijian dan mineral fosfat yang dikonsumsi oleh ternak babi, dimana biji-bijian sebagai sumber pencemaran Plumbum (Pb), hal ini dapat terjadi diakibatkan biji-bijian yang terkontaminasi oleh debu atau udara asap kendaraan dan juga terdapat mineral fosfat yaitu sebagai sumber pencemaran Kadmium (Cd), dimana pemupukan tanah oleh fosfat mempengaruhi jumlah Cd yang terserap oleh tanaman (Darmono, 1995). Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh interaksi antara Cd dan fosfat yang bersifat antagonisme, sehingga menimbulkan hambatan terhadap aktivitas kerja enzim dan mengakibatkan toksisitas Cd. Kebanyakan toksisitas Cd terjadi karena adanya defisiensi unsur tersebut yang mengakibatkan meningkatnya absorpsi Cd (Darmono, 2001). Padi-padian dan produk biji-bijian juga biasanya merupakan sumber utama Cd (Frank, C. Lu,1995)

Berkembangnya industri-industri logam atau pertambangan dan bertambahnya jumlah kendaraan menjadi salah satu faktor meningkatnya pencemaran lingkungan. Beberapa logam berat berbahaya seperti Plumbum (Pb) dan Kadmium (Cd) merupakan sumber kontaminasi lingkungan. Dapat dikatakan bahwa setiap industri pertambangan melibatkan logam Cd dalam proses operasionalnya, begitupun dengan adanya pengaruh dari pembuangan sampah industri yang mengandung Pb, sehingga logam Cd dan Pb menjadi sumber pencemaran lingkungan.

Pemeliharaan ternak babi ini adalah untuk jenis pork (pedaging) kurang lebih 16 minggu, dan untuk jenis bacon (lemak)  kurang lebih 26 minggu (Williamson dan Payne, 1993) dalam jangka waktu tersebut dapat memungkinkan logam berat berakumulasi didalam hati dan ginjal melalui saluran pencernaan ternak babi. Melalui pencernaan yaitu pakan babi yang dapat berupa berbagai jenis makanan dapat terkontaminasi logam berat, sehingga bila pakan tersebut dikonsumsi sebagian dari logam berat tersebut terakumulasi dalam organ hati dan ginjal. Penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa hati pada ternak ayam broiler, ayam buras, dan bebek merupakan tempat akumulasi logam Pb dan Cd.

            Dalam memenuhi kebutuhan akan pangan yang baik, aman, dan dapat diterima serta bergizi, tidak semua orang mampu menilai sendiri aspek-aspek tersebut. Bahan pangan hasil ternak hanya memenuhi persyaratan keamanan pangan yaitu terhindar dari cemaran biologi, fisik dan kimia. Berkembangnya industri-industri logam/pertambangan dan bertambahnya jumlah kendaraan menjadi salah satu faktor meningkatnya pencemaran lingkungan. Karawang merupakan salah satu daerah kawasan industri yang ada di Jawa Barat, selain itu sebagian masyarakat yang tinggal dipinggiran Karawang ada yang beternak babi tradisional yang diternakkan tanpa kandang sehingga memungkinkan daging babi yang dijual dipasar tradisonal Karawang sebagian masuk dari peternakan tradisional Karawang. Beberapa logam berat berbahaya seperti logam plumbum (Pb) dan kadmium (Cd)  merupakan sumber kontaminasi lingkungan. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan tahun 1989 telah menetapkan bahwa batas maksimum residu kandungan logam berat Pb yang diizinkan pada makanan yaitu sekitar 2,00 ppm. Batas maksimum kandungan residu logam berat Cd menurut Environmental Protection Agency tahun 1985 dalam makanan sebesar 0,01 ppm

            Masuknya logam berat kedalam mahluk hidup dapat melalui pencemaran, pernafasan dan penetrasi melalui kulit, penelitian terlebih dahulu telah membuktikan bahwa hati dan ginjal pada ternak ayam merupakan tempat akumulasi logam Pb dan Cd. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh keracunan logam berat adalah anemia, gangguan pada berbagai  organ tubuh dan penurunan kecerdasan. Pengawasan yang dilakukan Pemerintah terhadap kandungan residu logam berat hanya sebatas daging dan hasil olahannya sedangkan pada organ dalam  belum menjadi perhatian Pemerintah. Pada hati, ginjal, paru-paru dan usus, masih dikonsumsi masyarakat.

Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Deteksi Logam Berat Plumbum (Pb) dan Kadmium (Cd) Pada Hati dan Ginjal Babi Di Pasar Tradisional Wilayah Karawang”.

Identifikasi Masalah

            Berapa besar kandungan logam berat Pb dan Cd pada hati dan ginjal babi yang ada dijual di  pasar tradisional wilayah Karawang.

Maksud dan Tujuan .

Mengetahui besar  kandungan residu logam berat Pb dan Cd pada  hati dan ginjal babi yang dijual di pasar-pasar tradisional di wilayah Karawang kemudian dibandingkan dengan batas maksimum cemaran logam berat Pb dan Cd yang direkomendasikan oleh Dirjen POM (1989) dan EPA (1985).

Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber informasi ilmiah mengenai besarnya kandungan residu logam berat Pb dan Cd dari hati dan ginjal babi dan kegunaan praktis dapat mengetahui apakah  logam berat Pb dan Cd dalam hati dan ginjal babi masih dalam batasan yang ditetapkan oleh Dirjen POM (1989) dan EPA (1985 .

Kerangka Pemikiran 

Ternak babi merupakan jenis ternak omnivorus yang dapat memakan berbagai jenis makanan mulai dari biji-bijian, rumput-rumputan, dan sisa makanan manusia atau hewan. Hal ini dapat menyebabkan logam berat masuk melalui saluran pencernaan melalui pakan yang dikonsumsi. Komposisi ransum ternak babi yang didalamnya terdapat biji-bijian yaitu merupakan sumber pencemaran Pb, hal ini dapat terjadi diakibatkan biji-bijian yang terkontaminasi oleh debu atau udara asap kendaraan dan juga terdapat mineral fosfat yaitu sebagai sumber pencemaran Cd, dimana pemupukan tanah oleh fosfat mempengaruhi jumlah Cd yang terserap oleh tanaman (Darmono, 1995). Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh interaksi antara Cd dan fosfat yang bersifat antagonisme, sehingga menimbulkan hambatan terhadap aktivitas kerja enzim dan mengakibatkan toksisitas Cd. Kebanyakan toksisitas Cd terjadi karena adanya defisiensi unsur tersebut yang mengakibatkan meningkatnya absorpsi Cd (Darmono, 2001). Padi-padian dan produk biji-bijian juga biasanya merupakan sumber utama Cd (Frank, C. Lu,1995). Sumber air juga dapat menjadi salah satu penyebab adanya kandungan logam berat dalam tubuh ternak ini. Akumulasi logam berat yang tertinggi biasanya dalam organ detoksikasi (hati) dan ekskresi (ginjal), (Darmono, 2001). Pada hewan yang mempunyai kadar Pb lebih dari 10 ppm pada hati menandakan bahwa hewan tersebut mengalami keracunan (Clarke, 1975). Absorpsi Pb pada hewan yang muda lebih tinggi dibandingkan yang tua (Piskac, 1981). Akumulasi Pb dan Cd dapat terjadi dalam tubuh manusia dan ternak.

Toksisitas logam berat pada manusia menyebabkan beberapa akibat negatif, tetapi yang terutama adalah kerusakan jaringan, terutama jaringan detoksikasi dan ekskresi (hati dan ginjal). Beberapa penyakit yang disebabkan oleh keracunan logam berat adalah anemia, gangguan pada berbagai organ tubuh dan penurunan kecerdasan. Anak-anak merupakan golongan yang beresiko tinggi keracunan logam berat. Hal ini disebabkan organ-organ tubuhnya masih dalam taraf perkembangan sehingga penyerapan logam berat pada saluran pencernaan lebih tinggi. Pada orang dewasa, penyerapan logam berat lebih rendah pada saluran pencernaannya, tetapi hal ini tergantung dari ukuran partikel, daya larut, dan status gizi (Hayes, 2001).

Timbal atau plumbum (Pb) adalah metal kehitaman yang merupakan bahan baku untuk pembuatan alat-alat listrik seperti aki, baterai, juga digunakan untuk melapisi logam lain untuk mencegah terjadinya korosif. Logam Pb dapat mencemari lingkungan udara yang sangat tinggi disebabkan logam Pb merupakan hasil samping dari pembakaran kendaraan bermotor (Darmono, 1995), serta logam berat Pb dapat masuk ke dalam badan perairan yaitu melalui pengkristralan Pb di udara dengan bantuan air hujan (Heryando, 2004). Timbal merupakan logam toksik yang bersifat kumulatif. Toksisitas Pb pada anak-anak dalam dosis yang kecil dan berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan neurotoksik (racun saraf) dan kelainan tingkah laku. Keracunan Pb walaupun tidak menunjukkan gejala keracunan tetapi pengaruhnya sangat mengkhawatirkan, baik berupa penurunan neurobehaviour maupun daya intelektualitasnya (Darmono, 1995).

Toksisitas Pb pada anak umur sekitar 2 tahun ialah 45% berasal dari makanan yang terkontaminasi logam berat (Darmono, 2001). Bayi dan anak-anak lebih peka terhadap toksisitas Pb dari pada orang dewasa, yang disebabkan mereka memilki absorpsi Pb lebih intensif. Organ otak, hati dan ginjal masih relatif muda dan masih terus berkembang dan mereka mengkonsumsi makanan lebih banyak untuk setiap unit berat badannya (Darmono, 2001). Tingkat kecerdasan (IQ) akan menurun pada anak yang kadar Pb dalam darahnya tinggi, dan ternyata hal tersebut juga berpengaruh terhadap orang dewasa, terutama pada wanita hamil dan menyusui (Darmono, 2001). Anak-anak yang lahir dari ibu yang memiliki kadar Pb yang tinggi dalam darahnya menyebabkan bobot bayi yang dilahirkan lebih rendah daripada yang normal (Darmono, 2001). Rata-rata intake logam Pb per hari sekitar 0,3 mg (Darmono,1995). Menurut FAO/WHO batas konsumsi harian logam Pb adalah 3,5 μg/kg atau 0,0035 ppm dari berat badan (Claeys dkk, 2003). Logam berat Pb yang masuk dalam tubuh berasal dari makanan, salah satunya produk hati yang dilaporkan masih memiliki kandungan Pb 150μg/kg atau 0,15 ppm

(Winarno dan Rahayu, 1994).

Logam Kadmium (Cd) adalah metal berbentuk kristal putih keperakan dan biasa terdapat pada industri alloy, pemurnian Zn, pestisida (Juli, 2000). Jumlah Cd yang diserap oleh tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk pH tanah, kandungan mineral lain (Ca) dan pemupukan tanah oleh fosfat (Darmono, 1995). Menurut Linder (1992) ada dua fenomena yang akan menunjukkan bahwa Cd tidak esensial untuk tubuh karena: (1) sangat sukar dipindah ke dalam fetus melewati plasenta; (2) sukar dikeluarkan dalam tubuh. Pada mahluk hidup Cd tidak memiliki peranan gizi, malah berdampak racun dalam jumlah yang sedikit (Darmono, 1995). Kadmium masuk dalam tubuh mahluk hidup melalui dua jalan yaitu saluran pencernaan (pakan) dan saluran pernafasan (udara), setelah Cd diabsorpsi dalam tubuh kemudian didistribusikan kedalam darah ke berbagai jaringan, terutama terakumulasi dalam hati dan ginjal. Dua organ tersebut merupakan deposit Cd dalam tubuh yang jumlahnya 50% dari total Cd yang ada dalam tubuh. Logam ini tertimbun dalam jaringan sangat lambat untuk dilepas kembali. Kandungan Cd akan meningkat di dalam organ tersebut sesuai dengan bertambahnya umur, yang berada dalam tubuh tidak mudah diuraikan karena Cd merupakan logam berat yang memilki waktu paruh yang panjang yaitu sekitar 20-30 tahun, sehingga selama itu pula Cd akan bertahan dalam tubuh manusia. Manusia mengkonsumsi Cd dalam keadaan normal pada makanan berkisar antara 0,21-0,42 mg per minggu (Peter dkk, 1995). Mudah meresap kedalam tanah dan air, dari tanah dan air tersebut  kemudian masuk kedalam tumbuhan dan hewan melalui mata rantai makanan. Sumber Cd selain berasal dari tanah, air juga dari makanan (Peter dkk, 1995).

Logam berat Pb dan Cd kemungkinan besar akan terakumulasi pada hati babi, mengingat ayam broiler dengan pemeliharaan yang intensif dengan pola makan yang teratur masih dilaporkan dalam hatinya memiliki kandungan logam berat Pb dan Cd (Ellin, 2002). Hati beserta kantung empedu pada ternak babi berperan penting dalam pencernaan, empedu juga membantu pengaturan isi usus agar berjalan normal. Hati bertugas sebagai tempat penyimpanan berbagai zat makanan, seperti vitamin A dan glikogen. Hati juga sanggup mendetoksikasi bahan-bahan racun dan mendeaminasi beberapa asam amino, juga bertugas mendesintegrasi sel-sel darah merah yang tidak terpakai lagi. Penggunaan lemak sebagai energi juga adalah oleh pekerjaan hati (Sihombing, 1997).

Upaya terbaik dalam menghindari timbulnya pencemaran logam berat Pb dan Cd yang terdapat didalam organ akumulator yaitu hati ini adalah melalui pemeliharaan ternak babi ini, perlu diperhatikan terutama dalam masalah pakan dan sumber air yang dipergunakan agar terhindar dari pencemaran logam berat Pb dan Cd.

Mengingat akan adanya bahaya logam berat, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan tahun 1989 telah menetapkan bahwa batas maksimum residu kandungan logam berat Pb yang diizinkan pada makanan yaitu sekitar 2,00 ppm. Batas maksimum kandungan residu logam berat Cd menurut Environmental Protection Agency tahun 1985 dalam makanan sebesar 0,01 ppm.

Lokasi dan Waktu Penelitian

            Persiapan penelitian ini adalah pengambilan sampel hati dan ginjal babi dari pasar kemudian dilakukan analisis di Laboratorium kimia Bahan Alam dan Lingkungan FMIPA, jurusan kimia Unpad. Jalan Singaperbangsa Bandung. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2009.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

 

Bahan dan alat Penelitian

            Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hati dan ginjal babi yang dipotong di Pasar tradisional di Karawang Jawa Barat, yang berasal dari peternakan babi dari Solo, Kuningan dan Lampung kemudian dipotong yang disebar ke pasar-pasar tradisional didaerah Karawang.

 

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan sampel hati dan ginjal babi yang dipasarkan

di pasar wilayah Karawang, yaitu Pasar Bojong, Pasar Karawang, Pasar Johar,  dengan ulangan dilakukan sebanyak 5 kali. Hati dan ginjal babi yang dijadikan sampel secara keseluruhan adalah 15hati dan 15 ginjal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, dan data hasil penelitian ini dianalisis secara deskriptif. Jumlah rata-rata Pb dan Cd dari sampel yang diteliti kemudian dibandingkan dengan batas maksimum cemaran logam berat Pb dan Cd yang direkomendasikan oleh SNI dan EPA.

Teknik Pengambilan Sampel

Setiap pedagang akan diambil sampel sebanyak 100 gr hati babi segar dan ginjal untuk analisis Pb dan Cd. Dari hati dan ginjal babi tersebut diambil sebanyak 5 gr untuk analisis Pb dan Cd. Banyaknya ulangan yang dilakukan sebanyak 5 kali. Hati dan ginjal babi yang dijadikan sampel secara keseluruhan masing-masing 15.  Hati dan ginjal babi yang digunakan sebagai sampel analisis Pb selanjutnya dimasukan kedalam plastik yang telah diberi label P dan untuk sampel analisis Cd diberi label K untuk kemudian disimpan didalam termos yang telah berisi es dengan suhu ± 4oC. Data hasil penelitian ini dibahas secara deskriptif kemudian dibandingkan dengan batas maksimum cemaran logam berat Plumbum (Pb) dan Kadmium (Cd) yang direkomendasikan oleh SNI dan EPA.

Peubah Yang Diamati

Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah kandungan residu logam berat Pb dan Cd hati dan ginjal babi mentah yang dijual di pasar tradisional diwilayah Karawang.

Prosedur Penelitian (Darmono, 2001)

           Alur tahapan penelitian yang dilakukan pada bahan yang diduga mengandung kandungan logam berat Pb dan Cd yaitu pada hati dan ginjal babi yang dijual dipasar tradisional diwilayah Karawang adalah :  

1. Pengumpulan sampel.

Pengumpulan sampel berasal dari pedagang di Pasar Bojong, Pasar             Karawang dan Pasar Johar dari tiap pedagang menjual 1 potong hati dan ginjal babi dilakukan 5 kali ulangan. Jumlah sampel keseluruhan yaitu 15 hati dan 15 ginjal (kiri dan kanan) diperoleh dari 15 ekor jumlah babi yang dipotong.

2. Pengujian kandungan logam berat pada hati dan ginjal babi.

 Setelah sampel terkumpul dilakukan pengujian kandungan logam berat Pb dan 

 Cd dengan prosedur kerja sebagai berikut :

Prosedur Kerja :

  1. Persiapan sampel yaitu menimbang berat basah kemudian di oven dengan suhu 1050C sampai kering, kemudian ditimbang berat kering sampel. Masing-masing sampel dipisahkan dan  diberi label.
  2. Penyucian alat-alat, semua peralatan yang terbuat dari gelas dicuci, dibilas dengan aquades dan aquabides, ditiriskan, dikeringkan, dibungkus kemudian disimpan.

 

  1. Analisa kandungan Pb dan Cd yaitu masing-masing sampel yang telah diberi kode dimasukkan ke dalam erlenmeyer sebanyak 5 gr setiap sampelnya. Tahapan ekstraksi yaitu 5 gr hati dan 5 gr ginjal masing-masing ditambahkan 10 ml HNO3 (asam nitrat) dan 5 ml H2SO4, .  kemudian destruksi diatas hot plate dalam ruang asam selama 10 jam dengan suhu 1150C. Disaring dengan whatman 41 dan didapat filtrat jernih, simpan ke dalam labu volumetrik + aquades 10 ml lalu pindahkan ke dalam tabung reaksi dan diukur kandungan Pb dan Cd dengan mesin AAS

Perhitungan AAS yaitu :

Kadar logam (ppm) = a x v / w

a = Konsentrasi larutan sampel (ppm)

v = Volume ekstrak/pengenceran (10 ml)

w = Berat sampel (gr)

Prinsip kerja mesin AAS adalah :

      AAS (AA-6300 Shimadzu Atomic Absorption  Spectrophotometry)

adalah merupakan salah satu metoda analisis yang dapat digunakan untuk menentukan unsur-unsur logam di dalam suatu bahan dengan kepekaan tinggi berdasarkan (absorbance) radiasi resonansi oleh atom bebas unsur tersebut. Berdasarkan penguapan larutan sampel, kemudian logam yang terkandung didalamnya diubah menjadi atom bebas. Sampel diatomisasi pada alat atomizer melalui nyala api dengan bahan bakar asetilen murni. Atom tersebut mengabsorpsi radiasi dari sumber cahaya yang dipancarkan dari lampu katoda (hollow cathode lamp) yang mengandung unsur yang ditentukan. Banyaknya penyerapan radiasi kemudian diukur pada panjang gelombang tertentu menurut jenis logamnya, dengan Pb 283, 3 nm dan Cd 228,8 nm. Kepekaan pengukuran akan maksimal bila diperoleh populasi atom yang tersebar dalam nyala dan terjadi pada suhu optimal (Darmono, 1995).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Kandungan Mineral Pb pada Hati dan Ginjal Babi

 

Tabel 1. Deteksi Logam Pb pada Hati dan Ginjal Babi (ppm)

Ulangan Pb dalam Hati Pb dalam Ginjal
 

1

0 0,0062
2 0 0
3 0 0
4 0,1897 0
5 0 0
6 0 0,2397
7 0,3170 0
8 0,4355 0,0230
9 0 0,0583
10 0,125 0
11 0 0,0832
12 0,0542 0,0687
13 0,0109 0
14 0 0
15 0,2775 0,3130
Jumlah 14,096 0,7921
Ratarata 0,2013 0,1131

 

Tabel 1. Deteksi Logam berat Pb yang dilakukan pada hati dan ginjal babi ternyata positif mengandung logam berat Pb, namun semua sampel yang diuji masih dibawah batas maksimum yang direkomendasikan atau ditentukan oleh Dirjen POM (1998) yaitu sebesar 2,0000 ppm. Rata-rata kandungan logam berat Pb pada hati dan ginjal (kiri dan kanan) babi pada keseluruhan pasar yang diambil sampelnya adalah sebesar 0,2013 ppm dan pada ginjal sebesar 0,1131. Ini menunjukkan bahwa jumlah kandungan Logam berat Pb yang paling banyak tersebar terdapat di organ hati. Jumlah sampel yang terdeteksi logam berat Pb pada hati dan ginjal adalah 14 sampel dari 30 sampel keseluruhan yaitu diantaranya 7 sampel hati dan 7 sampel ginjal. Sampel hati dan ginjal yang diuji tersebut diambil dari 3 pasar yang ada di wilayah Karawang diantaranya pasar Bojong dimana sumber daging babi berasal dari peternakan di Solo. Kemudian pasar Karawang, sumber daging babi berasal dari peternakan tradisional yang ada di Karawang dan peternakan Kuningan serta  pasar Johar, daging babi berasal dari Sumatera yaitu Lampung. Semua daging dikirim melalui bandar pada pagi hari.

Residu Logam berat Pb yang terdeteksi disebabkan dari beberapa sumber. Absorpsi Pb pada hewan yang muda lebih tinggi dibandingkan yang tua (Piskac, 1981).   Air merupakan salah satu sumber yang dapat menjadi salah satu penyebab adanya kandungan logam berat dalam tubuh ternak ini. Akumulasi logam berat yang tertinggi biasanya dalam organ detoksikasi (hati) dan ekskresi (ginjal), (Darmono, 2001). Masuknya logam berat melalui air dapat terjadi ketika ternak membutuhkan air untuk minum. Hal ini sejalan dengan pendapat Heryando (2004) bahwa pencemaran pada air oleh logam berat Pb dapat terjadi oleh pengikisan logam berat pada pipa ledeng ataupun logam berat yang mengendap didalam badan perairan. Walaupun hasil yang diperoleh masih dibawah maksimum pada setiap pedagang maupun konsumen harus mewaspadai akan terjadinya proses pencemaran oleh Logam berat Pb, karena logam ini nyata dapat membuat dampak negative bagi tubuh manusia yang mengkonsumsinya.

Hal ini sesuai dengan pendapat Darmono (2001) bahwa tumbuhan jenis legumes untuk pakan ternak dan sayuran dapat mengakumulasi logam berat Pb dalam jumlah yang cukup besar. Tercemarnya sayuran dan pakan hijauan ternak oleh logam berat Pb merupakan sumber utama terjadinya pencemaran pada hewan ternak sehingga hati dan ginjal yang dihasilkan mengandung logam berat Pb.

Kandungan Mineral Cd pada Hati dan Ginjal Babi

Tabel 2. Deteksi Logam Berat Cd pada Hati dan Ginjal Babi (ppm)

Ulangan Cd dalam Hati Cd dalam Ginjal
 

1

0,0072 0
2 0 0
3 0 0,0310
4 0,0654 0,0875
5 0,0562 0,0345
6 0 0,0022
7 0,1932 0,0480
8 0,0360 0,0477
9 0,0225 0,0165
10 0,0257 0,0260
11 0 0,0127
12 0,0077 0,0375
13 0,0065 0,0250
14 0,0062 0,0410
15 0 0
Jumlah 0,4266 0,4096
Ratarata 0,0426 0,0341

 

Tabel 2. deteksi logam berat Cd yang dilakukan pada hati dan ginjal babi ternyata positif mengandung logam berat Cd. Semua sampel yang diuji diatas batas yang ditentukan oleh EPA (1985) yaitu sebesar 0,01 ppm. Rata-rata kandungan logam berat Cd pada hati dan ginjal babi adalah 0,0426 ppm dan pada ginjal sebesar 0,0341 ppm.  Ini menunjukkan bahwa jumlah kandungan logam berat Cd yang paling banyak tersebar terdapat di organ hati. Kandungan logam berat Cd pada hati dan ginjal babi  lebih kecil daripada jumlah logam berat Pb yang diuji sebelumnya, namun logam berat Cd masih dibawah batas aman yang ditentukan oleh EPA (1985).

Tingginya logam berat Cd pada hati dan ginjal babi dapat disebabkan beberapa sumber diantaranya pakan yang diberikan seperti biji-bijian, rumput atau hijauan. Hal ini dapat terjadi karena ternak tersebut berasal dari wilayah disekitarnya berupa areal persawahan yang letaknya di pinggir jalan sehingga banyak dilewati oleh kendaraan dan merupakan kawasan industri sehingga pakan yang dikonsumsi oleh ternak tersebut yang berasal dari bijian, rumput maupun hijauan dapat terkontaminasi oleh logam berat Cd. Sebagian Ternak yang dipotong dan dipasarkan berasal dari peternakan rakyat yang berada di Karawang. Karawang merupakan salah satu kawasan Industri, sedangkan peternakan babi rakyat di Karawang masih tergolong peternakan yang pola pemeliharaanya masih tradisional, dimana banyak peternak menggembalakan  ternak babi dengan pemeliharaan lepas.

Pencemaran logam berat Cd pada hati juga dapat bersumber dari air.   Faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya pencemaran oleh logam berat Cd pada hati babi yaitu berasal dari banyaknya penggunaan peralatan yang terbuat dari logam Cd seperti keramik dan plastic berwarna kuning sampai coklat tua. Selain itu lamanya waktu paruh dari logam Cd hingga bertahun-tahun membuktikan  bahwa logam tersebut berikatan kuat dengan protein sehingga sulit untuk dikeluarkan dengan pemanasan. Hal ini sesuai dengan pendapat Darmono (2001) bahwa sifat dari logam Cd yaitu dapat membentuk ikatan yang kuat dengan protein membentuk metaloenzim yang bersifat irreversible (tidak mudah lepas).

Oleh karena itu, hasil yang diperoleh dari pengujian kandungan logam berat Cd pada hati babi yang di pasarkan dipasar-pasar tradisional di wilayah Karawang diatas batas maksimum yang ditentukan oleh EPA (1985) yaitu 0,0100 ppm. Hasil analisis pada hati babi yang dipasarkan di pasar-pasar tradisional A dan pasar B wilayah Karawang diperoleh diatas batas maksimum, sehingga para pedagang maupun para konsumen harus tetap mewaspadai akan terjadinya proses pencemaran oleh logam berat Cd, karena logam ini nyata dapat membuat dampak negativ bagi tubuh manusia yang mengkonsumsinya. Kadmium masuk dalam tubuh mahluk hidup melalui dua jalan yaitu saluran pencernaan (pakan) dan saluran pernafasan (udara), setelah Cd diabsorpsi dalam tubuh kemudian didistribusikan kedalam darah ke berbagai jaringan, terutama terakumulasi dalam hati dan ginjal. Dua organ tersebut merupakan deposit Cd dalam tubuh yang jumlahnya 50% dari total Cd yang ada dalam tubuh. Logam ini tertimbun dalam jaringan sangat lambat untuk dilepas kembali.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis kandungan residu logam Pb dan Cd pada hati dan ginjal babi ternyata masih banyak mengandung logam berat  terutama logam Cd yang melebihi batas maksimum kandungan logam berat yang dikeluarkan oleh EPA (1985) pada hati dan ginjal babi.

Saran

Sebaiknya perlu perhatian dalam keseimbangan gizi dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung sumber mineral kalsium (ca), besi (Fe) dan protein. Kalsium, besi, dan protein dalam absorpsinya dapat menurunkan absorpsi Pb dan Cd sehingga daya toksisitas Pb dan Cd menjadi berkurang dalam tubuh.

DAFTAR  PUSTAKA

Claeys, F., C. Sykes, C. Limbos, dan G. Ducoffre. 2003. Childhood Lead    Poisoning In Brussels Prevalence Study and Etiological Factors. Scientific    Institute of Public Health, Belgium. J.Phys.IV France 107.

 

Clarke, E.G.C. dan Myra. L. Clarke. 1975. Veterinary Toxicology. Macmillan Publishing. Co.Inc, New York.

 

Darmono. 1995. Logam dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. UI-Press, Jakarta.

————. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran Hubungannya dengan Toksikologi Senyawa Logam. UI-Press, Jakarta.    

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan. Nomor: 03725/B/SK/VII/89. Tentang Batas Maksimum Cemaran Logam Dalam Makanan.

Ellin, Harlia. 2002. Aspek Keamanan Pangan Dari Produk Rumah Pemotongan Ayam. Disertasi. Universitas Padjadjaran, Bandung. 

Frank C, Lu. 1995. Toksikologi Dasar (Asas, Organ sasaran, Dan Penilaian Risiko). Edisi Kedua. Penerjemah Edi Nugroho. UI-Press, Jakarta.

Hayes, A. Wallace. 2001. Principles and Methods of Toxicology. Edisi Keempat. The Gillette Company Boston, Massachusetts.

Heryando, Palar. 2004. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Linder, Maria C. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme Dengan Pemakaian Secara Klinis. Kata Pengantar Hamish H. Munro. UI-Press, Jakarta.

Piskac, Alois. 1981. Veterinary Toxicology. University of Veterinary Medicine        Czechoslovakia, Elsevier Scientific Publishing Company Amsterdam-  Oxford-New York.

Sihombing. D. T. H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Undang-Undang Pangan R. I. 1997. Undang-undang Pangan No. 7. Tahun 1996.     Sinar Grafika, Jakarta..

 

Williamson. G. dan W.J.A Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Edisi Ketiga. Penerjemah SGN Djiwa Darmadja. Gadjah Mada University Press.

 

Winarno. F. G. & Titi Sulistyowati Rahayu. 1994. Bahan Tambahan Untuk                     Makanan Dan Kontaminan. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta

 

PENGARUH SUBSTITUSI JAGUNG OLEH CORN FIBER DALAM RANSUM BABI TERHADAP KONVERSI RANSUM DAN LAJU PERTUMBUHAN

ABSTRAK

Suatu Penelitian tentang “Pengaruh Substitusi Jagung oleh Corn Fiber dalam Ransum Babi terhadap Konversi Ransum dan Laju Pertumbuhan” dengan tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh substitusi jagung oleh Corn Fiber dalam ransum  babi terhadap konversi ransum dan laju pertumbuhan.

Penelitian ini menggunakan 24 ekor babi periode starter yang berumur 8 minggu dengan bobot badan rata-rata 20 kg dan koefisien variasi 6,94 %. Rancangan Percobaan adalah Rancangan Acak Lengkap dengaan empat macam perlakuan yaitu tingkat substitusi jagung oleh Corn Fiber sebanyak 0 %, 20 %, 35 % dan 50 %, setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi jagung oleh Corn Fiber tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap konversi ransum sampai pada tingkat substitusi jagung oleh corn fiber sebesar 35 % dan memberikan pengaruh yang berbeda pada tingkat substitusi corn fiber sebesar 50 % dimana semakin tinggi kandungan corn fiber yang mensubstitusi jagung dalam ransum babi mengakibatkan laju pertumbuhan semakin menurun. Substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 35 % memberikan pengaruh terbaik terhadap konversi ransum dan laju pertumbuhan.

Kata Kunci : Jagung, Corn Fiber, Konversi Ransum, Laju Pertumbuhan,  Babi.

ABSTRACT

This research is about the effect of corn substitution by corn fiber in pigs rations to the ration convertion and growth rate with purpose to know the effect of corn substitution by corn fiber in pigs rations to the ration convertion and growth rate.

 

This research was using 24 starter period pigs, age 8 weeks with weight rate 20 kg and variation coefficient 6,94  %. The method wich was used in this research is Complete Randomize Design with four levels of corn substitution by corn fiber i.e, 0%, 20%, 35% and 50% with six replications.

 

The result of the research shows that the corn substitution by corn fiber does not give the different effect to the ration convertion up to 35 % and gives the different effect to the ration convertion value in 50 % levels corn substitution by corn fiber, where the high percentation of corn fiber to substitute the corn will decrease pigs growth rate. Corn substitution by corn fiber in pigs ration up to 35 % give the best effect to ration convertion and growth rate.

Key Word : Corn, Corn Fiber, Ration Convertion, Growth Rate, Pigs.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

            Peningkatan kesejahteraan dan perubahan pola fikir masyarakat tentang sumber makanan bergizi sangat mempengaruhi tingkat konsumsi daging. Permintaan akan daging yang cukup tinggi harus diimbangi dengan pengembangan serta budidaya ternak yang diharapkan mampu meningkatkan produksi daging dan hasil ikutan ternak lainnya. Salah satu ternak yang berpotensi untuk dikembangkan dalam usaha pemenuhan kebutuhan daging adalah babi. (Ahlschwede et al. 2004).

            Babi merupakan ternak yang mempunyai potensi cukup baik sebagai penghasil daging. Peningkatan produktivitas babi terus dilakukan karena usaha peternakan babi sangat potensial untuk dikembangkan. Keuntungan memelihara babi antara lain adalah efisien dalam mengkonversi pakan menjadi daging, bersifat prolifik (banyak anak per kelahiran), memiliki pertambahan bobot badan yang tinggi serta persentasi karkas yang tinggi (Williams, 2006).

            Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi usaha peternakan khususnya babi adalah ketersediaan pakan. Biaya untuk pakan dalam usaha peternakan babi mencapai 70 – 80 % dari total biaya produksi sehingga komposisi ransum perlu disusun seoptimal mungkin untuk mencapai keuntungan yang maksimal.  Populasi babi yang ada di Indonesia pada tahun 2003 sekitar 12 juta ekor. Daging babi merupakan salah satu sumber protein hewani bagi masyarakat Indonesia yang mengkonsumsinya yang jumlahnya sekitar 30 juta jiwa, membutuhkan sumber pakan sekitar 30.000 ton per hari (2,5 kg/ekor/hari) atau 10,95 juta ton per tahun (Statistik Dirjen Peternakan, 2007).

            Babi merupakan ternak monogastrik (berlambung tunggal) yang tidak dapat mencerna serat kasar sehingga bahan pakan utama babi adalah biji-bijian, terutama biji-bijian yang serat kasarnya tidak terlalu tinggi, biasanya 30 % dari bahan pakan tersebut adalah jagung. Pemerintah Indonesia mengimpor jagung kira-kira 65 % dari kebutuhan pakan ternak, yaitu sekitar 2,135 juta ton per tahun atau setara dengan Rp 2,78 milyar per tahun (Soebijanto, 2003).

            Harga jagung yang tinggi menjadi kendala dalam usaha meningkatkan produksi ternak babi. Hal ini disebabkan oleh ketersediaannya yang terbatas karena bersaing dengan kebutuhan manusia, oleh karena itu perlu dicari alternatif untuk menurunkan biaya pakan tersebut.     Salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah harga jagung yang tinggi sekaligus mengefisienkan penggunaan ransum adalah dengan mencari sumber-sumber bahan pakan yang belum umum digunakan sebagai bahan pakan dengan harga relatif murah, mudah didapat, tersedia secara kontinu, mempunyai nilai gizi yang cukup bagi kebutuhan ternak, tidak bersifat racun bagi ternak, serta tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Salah satu bahan pakan alternatif tersebut adalah corn fiber.

            Corn fiber yang merupakan hasil sampingan (by product) dari pengolahan minyak jagung yang memiliki kandungan nutrisi yang tidak jauh berbeda dengan jagung sehingga dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk ransum ternak ruminansia maupun non ruminansia (Rea et al., 2007). Dalam hal ini faktor pembatas yang perlu diperhatikan adalah kandungan serat kasar terutama pada ternak yang masih sangat muda (Williams, 2006).

            Kandungan serat kasar dari corn fiber adalah 9,22 % (Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, 2004). Dengan produksi corn fiber sebanyak 500 ton/hari di PT. Suba Indah Tbk akan membuka peluang  besar dalam pemanfaatan corn fiber sebagai bahan pakan dalam ransum ternak, khususnya babi. (Bagian Produksi PT. Suba Indah Tbk, 2004).  

Kerangka Pemikiran

Babi merupakan ternak penghasil daging yang sangat efisien, sebab tingkat pertumbuhannya yang relatif cepat dengan rata-rata pertambahan berat badan periode starter sebesar 450 gram/hari, grower 700 gram/hari dan finisher sebesar 820 gram/hari. (NRC, 2008), bersifat prolifik ( banyak anak per kelahiran), serta merupakan salah satu hewan omnivora yang memakan segala jenis makanan (Van Barneveld, 2007).

  Jagung selain sebagai bahan makanan manusia juga merupakan bahan makanan ternak seperti unggas dan babi sebagai sumber energi. Menurut Dirjen Peternakan (2007), produksi jagung di Indonesia berkisar 1.4 ton/ha, sedangkan produksi di Negara-negara Asia rata-rata 1,8 ton/ha dan produksi dunia kira-kira 2 ton/ha.  Jagung merupakan bahan makanan sumber energi yang sangat penting bagi ternak. Energi didefenisikan sebagai kapasitas melakukan kerja. Energi dalam penggunaan makanan diukur dengan produksi panas yang timbul dari oksidasi biokemis di dalam tubuh ternak atau energi yang hilang melalui ekskresi tubuh. Energi dibutuhkan untuk proses hidup yaitu untuk kebutuhan hidup pokok, memelihara jaringan tubuh dan pembentukan jaringan tubuh yang baru antara lain ; pertumbuhan, kebuntingan dan laktasi (Williams, 2006). Sebagian kecil dari energi disimpan dalam bentuk glikogen di dalam hati dan otot, sedangkan sebagian besar disimpan dalam tubuh berbentuk lemak jika kelebihan energi.  Kekurangan energi dimanifestasikan dengan pertumbuhan yang lambat, kehilangan jaringan tubuh, dan atau rendahnya produksi daging tanpa adanya tanda-tanda yang nyata (Ahlschwede et al. 2004).

            Dalam usaha mengoptimalkan produksi babi, tingginya harga bahan pakan jagung merupakan salah satu kendala, hal ini disebabkan oleh ketersediaannya yang terbatas karena bersaing dengan kebutuhan manusia. Tingginya biaya untuk jagung tersebut menyebabkan harga daging menjadi tinggi juga, yang pada akhirnya akan menurunkan permintaan akan daging babi. Usaha untuk mengatasi masalah harga bahan pakan yang tinggi dapat dilakukan dengan mencari sumber bahan pakan alternative dengan syarat ; harga relatif murah, mudah didapat, tersedia banyak, memiliki zat-zat makanan yang diperlukan oleh ternak, tidak beracun, serta tidak bersaing dengan kebutuhan manusia.

            Corn fiber merupakan salah satu bahan pakan alternative yang memenuhi syarat-syarat diatas. corn fiber merupakan hasil sampingan (by product) dari pengolahan minyak jagung. PT. Suba Indah. Tbk. merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang usaha pengolahan minyak jagung. Komoditas utama dari PT. Suba Indah Tbk, adalah minyak jagung Omega-3 dan Omega-6 dengan by product seperti ; Starch (tepung pati), Corn Gluten Meal (dengan kadar protein lebih besar dari 60 %), dan corn fiber. Corn fiber merupakan by product yang paling banyak dihasilkan yaitu berkisar 500 ton/hari. (Bagian Produksi PT. Suba Indah Tbk, 2004).

            Penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa corn fiber dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan babi, yang menyatakan bahwa corn fiber dapat digunakan sebagai bahan pakan babi periode starter sebanyak 5 – 10 % dalam ransum (Edward, 2007). Selanjutnya, English, et al. 2008, menyatakan bahwa corn fiber bisa digunakan sebagai bahan pakan dalam ransum babi periode grower sebanyak 10 – 20 %, dan sebanyak    20 – 30 % dalam ransum babi periode finisher.  Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik suatu hipotesis bahwa corn fiber dapat mensubstitusi bahan pakan jagung dalam ransum babi sampai 50% (17,5 % dalam ransum babi periode starter atau 15 % dalam ransum babi periode grower atau 12,5 % dalam ransum babi finisher) dan memberikan pengaruh baik terhadap konversi ransum dan laju pertumbuhan.

Corn Fiber

            Dari segi fisik, jagung berwarna kuning sedangkan corn fiber berwarna kuning kecoklatan. Dari segi bau keduanya berbeda, jagung memiliki bau khas jagung yang digiling sedangkan corn fiber memiliki bau yang menyerupai gandum/bijian terbakar (toasted cereals) bercampur dengan bau fermentasi jagung. Karakteristik bau corn fiber sangat khas dibanding produk bahan pakan lainnya (Bagian Produksi PT. Suba Indah Tbk, 2004).

Corn fiber merupakan hasil sampingan (by product) dari pengolahan minyak jagung yang memiliki kandungan nutrisi yang tidak jauh berbeda dengan jagung sehingga dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk ransum ternak ruminansia maupun non ruminansia (Edward, 2007). Dalam hal ini faktor pembatas yang perlu diperhatikan adalah kandungan serat kasar terutama pada ternak yang masih sangat muda (English, 2008).  Kandungan zat makanan dari corn fiber jika dibandingkan dengan jagung dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan Zat Makanan Corn Fiber dibandingkan dengan Jagung.

Zat Makanan Corn fiber* Jagung
Protein Kasar      (%)            10,31               10,50
Serat Kasar         (%)              9,22                 2,00
Kalsium              (%)              0,08                 0,02
Phosfor               (%)              0,05                 0,30
EM                (Kkal/kg)        3563,12           3420,00

Sumber :a)   Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak IPB, 2004.

              b) *Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia                           Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, 2004.

Penampilan Produksi Babi

Konversi Ransum

            Konversi ransum adalah jumlah konsumsi ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg pertambahan bobot badan atau kemampuan ternak mengubah makanan kedalam bentuk tambahan bobot badan (Van Barneveld, 2007). Nilai konversi ransum merupakan perbandingan yang menunjukkan efisiensi penggunaan ransum untuk menghasilkan pertambahan bobot badan sebesar satu satuan, dengan demikian makin rendah angka konversi  akan makin efisien dalam penggunaan ransum (Williams, 2006). Edwards  (2007) mengemukakan bahwa terdapat hubungan positif antara selera makan dan efisiensi penggunaan pakan dan bobot badan. Konversi ransum ransum ditentukan dengan cara membagi konsumsi pakan dengan pertambahan bobot badan dalam satuan yang sama.

Menurut English (2008) konversi ransum tergantung kepada: (1) kemampuan ternak untuk mencerna zat makanan, (2) kebutuhan ternak akan energi dan protein untuk pertumbuhan, hidup pokok dan fungsi tubuh lainnya, (3) jumlah makanan yang hilang melalui metabolisme dan kerja yang tidak produktif dan (4) tipe makanan yang dikonsumsi: sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi konversi ransum adalah genetik, umur, berat badan, tingkat konsumsi makanan, pertambahan bobot badan perhari, palatabilitas dan hormon. NRC (2008) memberikan rekomendasi angka konversi yang diharapkan dari berbagai tipe babi sebagai berikut; untuk babi dengan bobot badan 20 kg – 50 kg dan 50 kg – 110 kg berturut-turut adalah 2,71 dan 3,79 atau rata-rata angka konversi 3,25.

Laju Pertumbuhan

            Faktor makanan yang mempengaruhi pertumbuhan adalah kandungan zat makanan serta daya cerna bahan makanan tersebut. Daya cerna bahan makanan akan mempengaruhi laju perjalanan makanan pada ternak yang tentu saja akan mempengaruhi percepatan pertumbuhan ternak.

Kurva pertumbuhan normal adalah berbentu sigmoid. Pertumbuhan mempunyai tahapan laju pertumbuhan yang berbeda-beda. Laju pertumbuhan postnatal (setelah kelahiran) hingga penyapihan mula-mula berlangsung sangat lambat. Pada fase penyapihan hingga pubertas laju pertumbuhan mengalami percepatan (logaritmik), selanjutnya berangsur-angsur menurun kemudian berhenti setelah mencapai kedewasaan. (Edwards, 2007). Grafik pertumbuhan ditentukan oleh tingkat konsumsi, bila tingkat konsumsi tinggi pertumbuhan juga cepat, sedangkan bila terjadi pengurangan makanan dapat memperlambat kecepatan pertumbuhan. NRC (2008) memberikan rekomendasi rata-rata pertambahan bobot-badan yang diharapkan dari berbagai periode pemeliharaan babi adalah sebagai berikut; untuk babi periode starter sebesar 450 gram/hari, untuk babi periode grower 700 gram/hari dan untuk babi periode finisher adalah sebesar 820 gram/hari. III

BAHAN DAN METODOLOGI PENELITIAN

Bahan Penelitian

            Ternak yang digunakan pada percobaan ini adalah babi persilangan Landrace dan Duroc, bobot badan rata-rata 20 kg sebanyak 24 ekor, dengan koefisien variasi kurang dari 6,9%. Babi ditempatkan secara acak dalam 24 kandang individu dengan kondisi lingkungan yang sama. Jenis kelamin babi adalah jantan (kastrasi) dan betina. Babi dipelihara selama 3,5 bulan yakni dari periode starter sampai dengan periode finisher.

            Corn fiber yang digunakan dalam penelitian ini adalah produk sampingan dari pengolahan minyak jagung PT. Suba Indah Tbk. Corn fiber digiling hingga berbentuk tepung, sehingga memudahkan dalam pencampuran dengan bahan pakan penyusun ransum lainnya. Kandungan zat makanan corn fiber tersebut adalah protein kasar sebesar 10,31 %, Serat kasar 9,22 %, Lemak Kasar 11,78 %, Energi Metabolisme 3563,12 kkal, Calsium 0,08 %, dan Phosfor sebesar 0,05 %. (Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, 2004).

            Kandang yang digunakan untuk penelitian adalah kandang individu yang berukuran 0,6 x 2 x 1,2 m dengan lantai semen dan beratap genteng/seng yang dilengkapi dengan tempat makan dan minum, jumlah kandang yang diperlukan sebanyak 24 unit. Tiap kandang diberi nomor untuk memudahkan dalam pengontrolan dan pengambilan data. Setiap kandang juga dilengkapi dengan kantong plastik sebagai tempat pakan yang akan diberikan setiap hari. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu buah timbangan duduk berkapasitas 100 kg dengan tingkat ketelitian 0,1 kg untuk menimbang babi dan satu buah timbangan duduk dengan kapasitas 5 kg dengan tingkat ketelitian 0,01 kg untuk menimbang pakan dan sisa pakan.

            Ransum penelitian untuk babi terdiri dari dedak padi, jagung, konsentrat (Phokphan 152), premix, tepung tulang, minyak sawit, garam dan corn fiber yang mensubstitusi jagung. Corn fiber dicampurkan dengan bahan ransum yang lain sampai benar-benar homogen lalu diberikan pada babi. Ransum penelitian ada tiga macam yaitu ransum babi pada periode starter, ransum babi pada periode grower dan ransum babi pada periode finisher. Ransum diberikan 3 kali sehari secara ad libitum terbatas sebanyak 1-2 kg pakan kering/ekor/hari pada babi periode starter, 2-3 kg pakan kering/ekor/hari pada babi periode grower, dan 3-4 kg pakan kering/ekor/hari pada babi periode finisher.

Tabel 2. Kandungan Zat-zat Makanan dari Bahan Pakan yang digunakan dalam                 Ransum Babi

Bahan ransum EM PK SK   Kalsium Phospor
  kkal —————————–%—————————-
Jagung 3420,00 10,50  2,00   0,02 0,30
Dedak Padi

Konsentrat Premix

Minyak Sawit

Tepung Tulang

Corn Fiber     

2980,00

2948,00

      0,00

8600,00    

      0,00

3563,12

12,00

34,00

  0,00

  0,00 

  0,00

10,31

       9,00

 4,83

 0,00

 0,00

 0,00

  9,22     

  0,03

1,80

0,13

       0,00

     29,82

0,08

0,12

1,21

 0,11

      0,00

    12,49

0,05

Sumber : Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia                                Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, 2004.

Tabel 3. Kebutuhan Zat-zat Makanan Babi setiap Periode

Zat-Zat Makanan Starter Grower Finisher
EM                (Kkal/kg) 3250 3260 3275
Protein Kasar    (%) 18 15 13
Serat Kasar       (%) 4 – 5 5 – 6 6 – 7,5
Kalsium            (%) 0,7 0,6 0,5
Phosfor             (%) 0,6 0,5 0,4

Sumber :  NRC, 2008.

Tabel 4. Susunan dan Kandungan Zat-zat Makanan Ransum Babi Periode Starter

Bahan

Ransum

R0 R1 R2 R3
Corn fiber

Jagung

Dedak Padi

Konsentrat

Tepung Tulang

Premix

Garam

Minyak sawit

       0,00

     35,00

     27,50

     32,50

       1,29

       0,50

       0,50

       3,21

        7,00

      28,00

      27,50

 32,50                                                

        1,41

        0,50

        0,50

        3,09

       12,25

       22,75

       27,50

       32,50 

         1,50

         0,50

         0,50

         3,00

        17,50

        17,50

        27,50

        32,50

          0,58

          0,50

          0,50

          2,92

Total    100,00     100,00      100,00       100,00
EM (Kkal/kg)  3250,66   3250,35    3250,12     3250,75
PK      (%)      18,03  18,01        18,00  18,00
SK      (%)        4,32         4,93          5,06          5,68
Ca       (%)        0,75         0,75          0,76          0,76
 P        (%)        0,68         0,67          0,65          0,64

Keterangan untuk tabel 4, 5 dan 6 :  Ransum terdiri atas,    

R0 =  Ransum kontrol dengan substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 0 % 

         (0 % dalam ransum babi periode starter, grower dan finisher).

R1 =  Ransum dengan substitusi jagung oleh  corn fiber sebanyak 20 %

(7 % dalam ransum babi periode starter atau 6 % dalam ransum babi periode     grower atau 5 % dalam ransum babi periode finisher).

R2 =  Ransum dengan substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 35 %

(12,25 % dalam ransum babi periode starter atau 10,50 % dalam ransum babi periode grower atau 8,75 % dalam ransum babi periode finisher).

R3 =  Ransum dengan substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 50 %

(17,50 % dalam ransum babi periode starter atau 15 % dalam ransum babi periode grower atau 12,50 % dalam ransum babi periode finisher).

Kandungan EM, PK, SK, Ca pada ransum babi tiap periode pemeliharaan merupakan hasil perhitungan berdasarkan susunan ransum babi periode starter (20 -35 kg), grower (35-60 kg) dan finisher (60-90 kg). Perhitungan mengacu pada kebutuhan zat-zat makanan dan kandungan zat-zat makanan dari bahan pakan yang digunakan dalam ransum babi tiap periode pemeliharaan.

Tabel 5. Susunan dan Kandungan Zat-zat Makanan Ransum Babi Periode Grower

Bahan

Ransum

R0 R1 R2 R3
Corn Fiber

Jagung

Dedak Padi

Konsentrat

Tepung Tulang

Premix

Garam

Minyak sawit

       0,00

     30,00

     43,50

     21,50

       0,81

       0,65

       0,50

       3,54

        6,00

      24,00

      43,50

 21,50                                                

        0,91

        0,65

        0,50

        3,44

       10,50

       19,50

       43,50

       21,50 

         0,99

         0,65

         0,50

         3,36

        15,00

        15,00

        43,50

        21,50

          1,06

          0,65

          0,50

          3,29

Total    100,00     100,00      100,00       100,00
EM (Kkal/kg)  3260,56   3260,54    3260,10     3260,52
PK      (%)      15,68  15,66        15,66  15,65
SK      (%)        5,55         5,98          6,02          6,63
Ca       (%)        0,61         0,63          0,63          0,63
 P        (%)        0,58         0,57          0,56          0,54

 

Tabel 6. Susunan dan Kandungan Zat-zat Makanan Ransum Babi Periode Finisher

Bahan

Ransum

R0 R1 R2 R3
Corn Fiber

Jagung

Dedak Padi

Konsentrat

Tepung Tulang

Premix

Garam

Minyak sawit

       0,00

     25,00

     54,00

     14,00

       1,67

       0,70

       0,50

       4,63

        5,00

      20,00

      54,00

 14,00                                                

        1,75

        0,70

        0,50

        4,55

         8,75

       16,25

       54,00

       14,00 

         1,81

         0,70

         0,50

         4,49

        12,50

        12,50

        54,00

        14,00

          1,87

          0,70

          0,50

          4,43

Total    100,00     100,00      100,00       100,00
EM (Kkal/kg)  3275,10   3275,37    3275,58     3275,79
PK      (%)      13,86  13,85        13,84  13,84
SK      (%)        6,24         6,72          7,13          7,96
Ca       (%)        0,51         0,51          0,51          0,52
 P        (%)        0,46         0,45          0,44          0,43

 

Metodologi Penelitian

Persiapan Penelitian

            Tahap awal dari penelitian adalah melakukan persiapan kandang, pengadaan babi, pengadaan timbangan untuk ransum dan babi serta peralatan lainnya yang dibutuhkan selama penelitian. Babi dimasukkan ke kandang individu, penempatan babi dilakukan secara acak kemudian diberikan perlakuan awal sebagai penyesuaian dengan maksud menghilangkan pengaruh ransum terdahulu dan membiasakan babi dengan ransum penelitian serta dengan lingkungan kandang. Waktu yang dibutuhkan pada masa penyesuaian adalah satu minggu.

            Kandang dibersihkan sebanyak dua kali sehari yaitu pada pukul 06.00 WIB dan 12.00 WIB. Hal yang dilakukan adalah membersihkan semua kotoran dari setiap kandang ke saluran pembuangan dan memandikan babi agar babi bersih dan merasa nyaman. Pemberian ransum dilakukan tiga kali sehari yaitu pada pukul 07.00 WIB, 13.00 WIB dan pada pukul 16.00 WIB, sedangkan sisa ransum ditimbang pada pagi berikutnya pukul 06.30 WIB.

            Penimbangan bobot badan dilakukan setiap dua minggu sekali dengan menggunakan timbangan duduk, dilakukan pada pagi hari sebelum babi diberi makan.

Peubah yang diamati

  1. Konversi ransum

            Konversi ransum adalah jumlah konsumsi ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg pertambahan bobot badan.

                                                     Konsumsi Ransum (gram/hari)

            Konversi Ransum  =          

                                                Pertambahan Bobot Badan (gram/hari)

  1. Laju Pertumbuhan (gram/hari)

            Laju pertumbuhan adalah kecepatan pertumbuhan dari ternak yang ditentukan berdasarkan pertambahan bobot badan (gram/hari). Rata-rata pertambahan bobot badan diperoleh dengan menimbang setiap ekor babi tiap dua minggu sekali sebelum ransum pagi diberikan, sedangkan rataan pertambahan berat badan kemudian dihitung dari selisih penimbangan sebelumnya dengan jarak waktu penimbangan yaitu 14 hari.

                           PBB     =

            Dimana : W1      =  bobot badan awal

                           W2      =  bobot badan akhir

                           t2 – t1  =  selisih waktu antara perolehan W2 dan W1 (14 hari)

Metode Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu tingkat substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 0 %, 20 %,   35 % dan 50 % pada tiap periode pemeliharaan (periode starter, grower, dan finisher). Setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali, maka ternak babi yang digunakan sebanyak 24 ekor babi.   

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Perlakuan Terhadap Konversi Ransum

            Hasil pengamatan yang diperoleh selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap konversi ransum babi dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7. Rata-Rata Konversi Ransum Babi Selama Penelitian

Ulangan Perlakuan Rata-rata
R0 R1 R2 R3
1 3,66 3,48 3,35 4,36  
2 3,16 3,60 3,67 3,56  
3 3,33 3,57 3,19 3,62  
4 3,30 3,75 3,28 3,80  
5 3,06 3,22 3,34 3,47  
6 2,97 3,76 3,72 4,27  
Rata-rata 3,25 3,56 3,42 3,85 3,52

 

Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa rata-rata konversi ransum tertinggi adalah sebesar 3,85 (perlakuan R3), kemudian disusul berturut-turut oleh perlakuan R1 (3,56), perlakuan R2 (3,42), dan rata-rata konversi ransum yang paling rendah adalah babi yang diberi perlakuan R0 yaitu sebesar 3,25.

            Tabel 7 menunjukkan bahwa rataan umum konversi ransum adalah sebesar 3,52 sedangkan nilai konversi rata-rata yang direkomendasikan NRC (2008) yaitu sebesar 3,25. Nilai konversi ransum penelitian yang lebih besar dari NRC (2008) menunjukkan bahwa babi kurang efisien dalam mengubah ransum menjadi daging, hal ini bisa disebabkan oleh daya cerna babi yang rendah terhadap serat yang dalam hal ini dipasok oleh bahan pakan substitusi jagung yaitu corn fiber.

            Nilai konversi ransum merupakan perbandingan yang menunjukkan efisiensi penggunaan ransum untuk menghasilkan pertambahan bobot badan sebesar satu satuan, dengan demikian makin rendahnya angka konversi menunjukkan bahwa ternak tersebut makin efisien dalam penggunaan ransum (Edwards, 2007).  Konversi ransum sangat dipengaruhi oleh tingkat konsumsi ransum dan tingkat pertambahan bobot badan harian dari ternak babi. Nilai konversi yang tinggi menunjukkan bahwa bahan makanan tersebut kurang efisien untuk diubah menjadi daging, dan sebaliknya semakin rendah nilai konversi ransum menunjukkan bahwa bahan makanan tersebut efisien untuk diubah menjadi daging.

            Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan terhadap konversi ransum dilakukan Uji Tukey seperti terlihat pada Tabel 8

Tabel 8. Hasil Uji Tukey Pengaruh Perlakuan terhadap Konversi Ransum.

Perlakuan Rataan Konversi Ransum Signifikansi
R0 3,25 a
R2 3,42 ab
R1 3,56 ab
R3 3,85  b

Keterangan : Huruf yang sama ke arah kolom menunjukkan tidak berbeda nyata.

            Hasil Uji Tukey pada Tabel 8 diatas menunjukkan bahwa perlakuan R0 tidak berbeda nyata dengan R2 dan R1 yang berarti bahwa R0, R2 dan R1 memberikan pengaruh yang tidak berbeda terhadap konversi ransum babi. Perlakuan R1 juga tidak berbeda nyata dengan perlakuan R3 yang berarti bahwa R1 dan R3 memberikan pengaruh yang tidak berbeda terhadap konversi ransum. Sedangkan perlakuan R0 berbeda nyata dengan perlakuan R3 yang ditunjukkan dengan rataan konversi R3 yang jauh lebih besar dibandingkan R0. Semakin tinggi konversi ransum maka semakin kurang efisien ternak tersebut untuk mengubah makanan menjadi daging.           

            Perbedaan nilai konversi ransum babi yang diberi perlakuan R3 dibandingkan dengan perlakuan lainnya dapat disebabkan antara lain oleh tingkat palatabilitas babi serta daya cerna babi untuk mencerna ransum yang akan menghasilkan pertambahan bobot badan. Van Barneveld (2007) mengatakan bahwa daya cerna dan keseimbangan nutrisi bahan makanan dapat mempengaruhi konsumsi dan laju pertumbuhan. Daya cerna yang rendah pada babi menyebabkan terhambatnya pertumbuhan yang optimal.

            Babi tidak mempunyai tempat khusus dalam saluran pencernaannya untuk aktivitas mikroorganisme atau proses fermentasi yang intensif seperti pada ternak ruminansia. Kapasitas lambungnya sangat kecil dibandingkan ternak ruminansia ataupun kuda. Oleh karena itu kemampuan untuk mencerna serat sangat rendah, demikian juga kecernaan zat-zat makanan lainnya akan menurun bila kandungan serat kasar dalam ransum meningkat.

Gerak laju digesta (isi saluran pencernaan) babi yang diberi ransum berserat tinggi lebih cepat dibandingkan dengan serat rendah. Laju gerak digesta tersebut meningkat karena serat dalam saluran pencernaan menyerap air sehingga konsistensi feses menjadi lembek. Karena laju cepat, maka kesempatan untuk dicerna dalam saluran pencernaan lebih singkat, dan akibatnya kecernaan zat nutrisi yang terkandung juga lebih rendah (Edwards, 2007).

Kandungan serat kasar yang tinggi dalam ransum akan menurunkan daya cerna babi. Daya cerna yang paling tinggi adalah perlakuan R0 yang disusul berturut-turut oleh R2, R1, dan R3. Daya cerna terhadap serat kasar yang berbeda mengakibatkan nilai konversi ransum babi yang diberi perlakuan R0 lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya, hal ini berarti babi yang diberi perlakuan R0 lebih efisien dalam mengubah ransum menjadi daging dibandingkan dengan babi yang diberi perlakuan R1, R2 dan R3.

Pengaruh Perlakuan Terhadap Laju Pertumbuhan

             Hasil pengamatan terhadap rata-rata pertambahan bobot badan babi selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Rata-Rata Pertambahan Bobot Badan Babi selama Penelitian.

Dua Minggu ke- Perlakuan
R0 R1 R2 R3
  ———————————— gram ——————————
1 410,71 404,76 401,12 404,76
2 587,42 495,47 518,09 464,28
3 635,32 567,38 532,21 577,38
4 651,19 587,14 554,49 509,52
5 686,92 611,18 602,85 585,71
6 730,24 684,76 686,43 660,71
7 755,95 720,23 702,38 690,47

 

Laju pertumbuhan babi diukur berdasarkan data pertambahan bobot badan per 2 minggu (babi ditimbang setiap 2 minggu). Dari data pertambahan bobot badan tiap 2 minggu masing-masing perlakuan kemudian ditentukan persamaan regresi. Dari persamaan regresi laju pertumbuhan tersebut ditampilkan grafik regresi dari masing-masing perlakuan yaitu tingkat substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 50 % (R3), 35 % (R2), 20 % (R1) serta R0 yaitu ransum tanpa substitusi jagung oleh corn fiber (ransum kontrol).

            Persamaan regresi dari masing-masing perlakuan kemudian diproyeksikan berdasarkan pertambahan bobot badan (Y, dalam gram/hari) terhadap waktu penimbangan (X, setiap 2 minggu). Semakin besar sudut yang dibentuk antara sumbu X dengan kurva regresi berarti laju pertumbuhan babi makin tinggi. Hasil analisis regresi laju pertumbuhan dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

Grafik Regresi Laju Pertumbuhan Babi Selama Penelitian

Setelah dilakukan analisis regresi linear maka diperoleh persamaan regresi linear yang dihitung berdasarkan pertambahan bobot badan babi setiap dua minggu selama penelitian adalah sebagai berikut :

  – Substitusi jagung oleh Corn Fiber sebanyak 0   % : Y(R0) = 440,68 + 49,03X

  – Substitusi jagung oleh Corn Fiber sebanyak 20 % : Y(R1) = 386,02 + 48,88X

  – Substitusi jagung oleh Corn Fiber sebanyak 35 % : Y(R2) = 383,78 + 46,82X

  – Substitusi jagung oleh Corn Fiber sebanyak 50 % : Y(R3) = 376,36 + 44,94X

Dari persamaan regresi Y = a + bX (Steel dan Torrie, 2006) dari setiap perlakuan diatas dapat dilihat bahwa nilai b (sudut kemiringan) yang paling tinggi ditunjukkan oleh babi yang diberi perlakuan R0 yaitu sebesar 49,03 kemudian berturut-turut disusul oleh R1 (48,88), R2 (46,82), dan nilai b yang paling rendah ditunjukkan oleh babi yang diberi perlakuan R3 yaitu sebesar 44,94.

Nilai b adalah koefisien arah garis regresi laju pertumbuhan yang menunjukkan besarnya sudut yang dibentuk antara sumbu X dengan kurva regresi, dimana semakin besar sudut kemiringan maka hal itu menunjukkan semakin tinggi juga laju pertumbuhan dari babi yang dipelihara. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa laju pertumbuhan yang paling baik dari semua perlakuan ditunjukkan oleh babi yang diberi perlakuan R0 yang disusul berturut-turut oleh babi yang diberi perlakuan R1, R2 sedangkan laju pertumbuhan yang paling lambat ditunjukkan oleh babi yang diberi perlakuan R3.

Berdasarkan hasil analisis regresi diperoleh bahwa kandungan serat kasar dalam ransum yang dalam hal ini dipasok oleh corn fiber akan menghambat laju pertumbuhan, maka semakin tinggi kandungan corn fiber yang mensubstitusi jagung dalam ransum babi menyebabkan laju pertumbuhan semakin menurun.

Menurut Williams (2006) Faktor makanan yang mempengaruhi pertumbuhan adalah kandungan zat makanan serta daya cerna bahan makanan tersebut. Daya cerna bahan makanan akan mempengaruhi laju perjalanan makanan pada ternak yang tentu saja akan mempengaruhi percepatan pertumbuhan babi.

Serat kasar yang menghambat daya cerna serta berpengaruh besar terhadap laju pertumbuhan sebagian besar berasal dari corn fiber. Semakin tinggi kandungan corn fiber dalam ransum babi maka semakin tinggi juga serat kasar dalam ransum dan hal ini juga akan menyebabkan semakin rendahnya daya cerna terhadap makanan, demikian juga sebaliknya.

Kecernaan karbohidrat secara umum menurun dengan meningkatnya kandungan serat dalam ransum, namun akan meningkat sejalan dengan meningkatnya umur babi (Van Barneveld,  2007). Kandungan serat kasar yang tinggi akan menyebabkan rate of passage meningkat dan akan mempercepat waktu transit makanan dalam saluran pencernaan babi, akibatnya kecernaan zat-zat makanan menurun.

Menurut Van Barneveld (2007) gerak laju digesta yang lebih cepat pada babi yang mendapat serat kasar tinggi menyebabkan kontak atau akses enzim-enzim ke dalam ransum berkurang. Hal ini mengakibatkan keluaran (out put) bahan kering feses lebih banyak pada babi yang mendapat serat kasar tinggi, yang berarti zat-zat makanan yang tidak tercerna (ampas) lebih banyak. Laju pertumbuhan terbaik ditunjukkan oleh R0, hal ini disebabkan dalam ransum babi yang diberi perlakuan R0 tidak mengandung corn fiber sehingga kandungan serat kasar dalam ransum tidak terlalu tinggi dan hal ini yang membuat laju pertumbuhan babi tinggi.

Bahan pakan jagung dalam ransum babi yang diberi perlakuan R1, R2 dan R3 berturut-turut di substitusi oleh corn fiber sebanyak 20 %, 35%, dan 50% dimana, corn fiber yang ada dalam ransum akan menambah kandungan serat kasar dalam ransum yang selanjutnya akan menyebabkan daya cerna terhadap makanan rendah, dengan semakin menurunnya daya cerna maka laju pertumbuhan babi juga akan semakin menurun.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

            Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan diatas diperoleh kesimpulan atas penelitian yang telah dilakukan yaitu :

  1. Substitusi jagung oleh corn fiber sampai tingkat 35% dalam ransum babi periode pertumbuhan tidak memberikan pengaruh terhadap konversi ransum dan pertumbuhan tetapi pada tingkat 50 % dapat mengakibatkan  laju pertumbuhan semakin menurun.
  1. Substitusi jagung oleh corn fiber sebesar 35 % memberikan hasil  terbaik terhadap konversi ransum dan laju pertumbuhan.

 

Saran

            Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan disarankan substitusi jagung oleh corn fiber sebesar 35 % dapat digunakan dalam ransum babi yang sedang bertumbuh.

DAFTAR PUSTAKA

Ahlschwede,WT. Christian,C.J.,Johnson,R.K. and Robinson, O.W. 2004. Crossbreeding System for Commercial Pork Production, Pork Industry Hand Book. Purdue Univ. USA. PIH. 39, 1-8.

Direktorat Jenderal Peternakan. 2007. Statistika Indonesia. Jakarta.

Edwards, A.C. 2007. Sow Nutrition Review in Pig Production. Post Graduate Foundation in Veterinary Science. Univ. Sidney press.  pp. 133-142.

English, P.R., V.R. Fowler, S. Bexter and Smith, B. 2008. The Growing and Finishing Pig : Inproving Efficiency, Farming Press Books. Ipswich, UK. P. 27-38. 

http://www.subaindahtbk.com.  2004. Profil Perusahaan Pengolahan Minyak         Jagung  PT. Suba Indah tbk.

 

NRC. (National Research Council).2008. Nutrient Requirments of Swine. Tenth    Edition. National Academy Press. Washington, D.C. USA.

Rea. Jhon.C, Ronald O. Bates and Trygve L. Venm. 2007. Byproduct, Damaged Feeds and Nontraditional Feed Sources For Swine, University of      Missouri,          Columbia.

Steel, R.G.D dan J. H. Torrie. 2006. Prinsip dan Prosedur Statistika    (terjemahan)          Cetakan ke-4  PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Hal 289-300.

Subijanto, B. 2003. Bahan Baku Pakan Ternak Kebanyakan Masih Impor, Harian             KOMPAS, Rabu 16 April 2003, Jakarta.

Van Barneveld, R.  2007. The Basic in Pig Nutrition . The Basic. Pig Research and Development Corporation, Canberra. Pp. 1-15. 

Williams, K. 2006. Determining Protein Deposit Rate. Farmnote. F54/May. Agdex 440/50, QDPI Brisbane. Australia.

Curcumin dalam Ransum Babi Sebagai Pengganti Antibiotik Sintetis untuk Perangsang Pertumbuhan

ABSTRAK

Penelitian mengenai “Pemberian Curcumin dalam Ransum Babi sebagai      Pengganti Antibiotik Sintetis untuk Perangsang Pertumbuhan dilaksanakan pada bulan November 2008 sampai Juni 2009 . Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penelitian dan Teaching Farm Ternak Babi, Kecamatan Cisarua, Bandung, Laboratorium Nitrisi Fapet Universitas Padjadjaran  Bandung Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan dosis penggunaan Curcumin yang memberikan pengaruh setara dengan antibiotika Virginiamycin sebagai perangsang pertumbuhan pada babi.  Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas lima perlakuan ransum (Rvm :50 ppm virginiamicin,  R0 : tanpa virginiamicin dan curcumin, R: 120 ppm curcumin, R2: 160 ppm curcumin dan R3: 200 ppm curcumin), tiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Jadi jumlah ternak yang digunakan adalah 25 ekor babi starter umur 2 bulan dengan bobot badan 18 kg dan koefisien variasi 6,33%.  Berdasarkan hasil analisis statistika menunjukkan bahwa pemberian curcumin dalam ransum sebanyak 160 ppm memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kecernaan energi, kecepatan laju makanan, Pertambahan Bobot Badan, Konversi ransum dan  waktu mencapai bobot potong.  Penggunaan curcumin dalam ransum sampai dosis 160 ppm bisa digunakan sebagai perangsang pertumbuhan menggantikan antibiotik sintetis.

 

Kata Kunci :  Curcumin, Virginiamicin,  Babi, Antibiotik

 

ABSTRACT

Research on the effect of pig ration containing curcumin to replace sintetic antibiotic as growth promotor has been conducted from November  2008 to Juni  2009 in laboratory research and teaching farm KPBI (Koperasi Peternak Babi Indonesia), Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung, Laboratory Nutrition of Faculty Animal Husbandry University of Padjadjaran. The purpose of this research is to study the effecive dosage of curcumin in comparable with virginiamycin as growth promotor in pig.   Parameters which measured in this research were digestible energy, rate of passage of feed,   live weight gain, feed efficiency and  time length to slaugter weight. This research used method of eksperimental Completely Randomized Design (CRD) consist of five treatments (Rvm: 50 ppm virginiamicin, R0 : without virginiamicin and curcumin, R1: 120 ppm curcumin, R2: 160 ppm curcumin and R3: 200 ppm curcumin),  where every treatment repeated by five times. This research was using 25 starter period pigs,  2 months old with average body weight 18 kg and variation coefficient 6,33%.   The result of this research showed that giving curcumin as feed additive 160 ppm in pig ration showed significant effect on digestible energy, rate of passage of feed,   live weight gain, feed efficiency and  time length to slaugter weight can replace virginiamicin as growth promoter.

 

Key Word :  Curcumin, Virginiamicin,  Pig, Antibiotic

PENDAHULUAN

 

          Penggunaan senyawa antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (growth promotor)  dalam ransum ternak telah menjadi perdebatan sengit para ilmuan akibat efek buruk yang ditimbulkan bagi konsumen seperti residu dan resistensi. Survey AVA Singapore menemukan daging babi dari Rumah Potong Hewan (RPH) di Indonesia mengandung residu antibiotik sebesar 53,7% dan 3,04% melebihi batas maksimum level yang dianjurkan oleh WHO.  Rusiana (2004) menemukan 85% daging dan 37% hati dari 80 ekor ayam broiler di pasar Jabotabek tercemar residu antibiotik tylosin, penicilin, oxytetracycline dan kanamicin. Samadi (2004) melaporkan penggunaan antibiotik terus menerus pada unggas di North Carolina (Amerika Serikat)mengakibatkan bakteri Escherichia coli resisten terhadap Enrofloxacin, sehingga rekomendasi penggunaan antibiotik dalam pakan pada tahun 50-an sekitar  5 – 10 ppm sekarang telah meningkat sepuluh sampai 20 kali lipat. 

 

Hamscher dkk. (2003) menemukan debu yang berasal dari bedding, pakan dan feses peternakan babi di Jerman, 90% dari sampel yang diambil mengandung  12,5 mg/kg residu antibiotik tylosin, tetracycline, sulfamethazine dan chloramphenicol, kontaminasi udara ini akan mengganggu pernapasan hewan atau manusia yang hidup di sekitar kandang.  Komisi Masyarakat Uni Eropa sejak tanggal 1 Januari 2006 (Regulasi No. 1831/2003) melarang penggunaan antibiotik Avilamycin, Avoparcin, Flavomycin, Salinomycin, Spiramycin, Virginia-mycin, Zn-Bacitracin, Carbadox, Olaquindox, dan Monensin dalam ransum ternak.  

Berdasarkan  beberapa fakta tersebut maka berbagai upaya dilakukan untuk mencari pengganti antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan.  Kunyit dan Temu Lawak adalah tanaman rempah yang memiliki bahan aktif curcumin tergolong senyawa fenol yang dapat mengganggu pembentukan membran sel pada beberapa bakteri patogen seperti Salmonella dan Escherichia coli, selain  itu curcumin juga mampu meningkatkan sekresi kelenjar liur, empedu, lambung, pankreas dan usus.   Beberapa hasil penelitian  pemberian  curcumin sebagai pemacu pertumbuhan diantaranya adalah Al-Sultan (2003) yang hasinya menunjukkan bahwa pemberian tepung kunyit 0,5% dalam ransum  ayam broiler menghasilkan pertambahan bobot badan dan konversi ransum yang baik serta meningkatkan jumlah sel eritrosit dan leukosit.  Sinaga (2003) melaporkan bahwa  pemberian 0,4 % tepung kunyit dalam ransum  babi menghasilkan  efisiensi pakan yang tinggi. Tujuan Penelitian ini adalah menjajaki penggunaan curcumin sebagai pengganti antibiotika dalam ransum babi sebagai pemacu pertumbuhan dan menguji efektivitas curcumin dalam upaya menggantikan antibiotika sebagai pemacu pertumbuhan dalam ransum babi. 

       

METODE PENELITIAN

 

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kandang  Teaching Farm Koperasi Peternakan Babi Indonesia (KPBI) Kabupaten Bandung. Pelaksanaan penelitian dimulai dengan periode adaptasi (14 hari), periode pemberian ransum (6 bulan), dan periode koleksi (1 bulan).

 

Bahan dan Alat Penelitian

Ransum yang digunakan dan kandungan zat makanan disajikan pada Tabel 1. Ternak yang digunakan dalam penelitian adalah  25 ekor babi lepas sapih dengan rataan bobot badan 18 kg dengan koefisien variasi 6,33%.  Alat yang digunakan adalah kandang individual  dengan tempat air minum dan tempat pakan. Timbangan kapasitas 10 dan 150 kg masing masing digunakan untuk menimbang ransum dan babi, Timbangan duduk berkapasitas 3 kg dengan tingkat ketelitian 0,01 kg, digunakan untuk menimbang ransum sisa dan feses babi. Timbangan Sartorius dengan ketelitian 0,2 g, digunakan untuk menimbang curcumin. Kantong plastik untuk tempat menampung ransum dan sisa ransum dan menampung feses.

 

Rancangan Percobaan

Penelitian ini  menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas lima perlakuan ransum (Tabel 1) masing-masing dengan lima ulangan. Peubah yang diukur adalah konsumsi harian, pertambahan bobot badan, konversi ransum,  kecernaan protein, energi dan laju makanan serta analisis finansial.

Pelaksanaan Penelitian

Periode Adaptasi

Babi ditimbang untuk mengetahui bobot awal kemudian ditempatkan pada kandang individu secara acak dan babi diberi obat cacing, selanjutnya babi diadaptasikan selama 14 hari dengan ransum percobaan. Tempat makan dan kandang dibersihkan dua kali sehari pagi pukul 7.00 dan siang hari pukul 12.00. Air minum diberikan ad libitum dan pemberian ransum dilakukan tiga kali sehari (pukul 7.30, 12.30 dan 15.30) sesuai dengan kebutuhan babi. Selama periode adaptasi dilakukan pengamatan terhadap perilaku ternak, terutama perilaku konsumsi yang memperlihatkan gejala keracunan curcumin.

Periode Pemberian Ransum

Pada akhir periode adaptasi babi ditimbang untuk mengetahui bobot awal, selanjutnya penimbangan babi dilakukan setiap dua minggu sekali yang dilakukan pada pagi hari sebelum babi diberi makan. Setiap pagi pukul 6.30 sebelum pemberian ransum, dilakukan penimbangan sisa ransum yang tidak termakan.   Koleksi feses dilakukan setiap hari selama seminggu. Sampel feses harian dikeringkan dalam oven suhu 55oC selama 96 jam lalu digiling halus. Sampel harian feses dikumpulkan berdasarkan individu babi, selanjutnya masing-masing sampel hasil pengumpulan tersebut diambil sebanyak 5% dan disimpan dalam lemari es untuk keperluan analisa laboratorium.

Tabel 1. Komposisi Pakan dalam Ransum dan Kandungan Zat Makanan Ransum Basal

  Periode Pertumbuhan
Komposisi Bahan Makanan (%) Starter NRC 98 Grower NRC 98
Jagung lokal 55,00   52,78  
Tepung Ikan 10,00   5,00  
Bungkil Kedelai 13,00   10,00  
Dedak Padi 21,00   31,00  
Premix 0,20   0,20  
Tepung Tulang 0,78   1,00  
L-Lisin HCl 0,02 0.02
Total 100,00   100,00  
 

Komposisi Nutrisi

Bahan Kering (%)

 

88,45

 

-

 

89,50

 

-

Protein Kasar % 18,69 18,00 15,99 15,50
Energi Metabolisme (kkal/kg) 3146,77 3165,00 3121,80 3165,00
Lisin (%) 1,05 0,77 0,72 0,61
Metionin (%) 0,36 0,21 0,21 0,17
Serat Kasar (%) 5,81 5,00 5,84 5,00
Lemak Kasar (%) 5,00 0,60 6,10 0,50
Calsium (%) 0,62 - 0,52 -
Phosfor (%) 0,82 0,50 0,72 0,45

Keterangan : NRC = National Research Council

Ransum Perlakuan :   Ro        : Ransum basal (tanpa curcumin maupun virginiamicin)

                                 Rvm     : Ro ditambah  virginiamicin  50 ppm

                                 R1        : Ro ditambah  120 ppm curcumin

                                 R2        : Ro ditambah  160 ppm curcumin

                                 R3        : Ro ditambah  200 ppm curcumin

Pengukuran kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan, dilakukan dengan penambahan indikator Cr2O3 sebanyak 0,2%/kg ransum, dan pengukuran dilakukan setelah indikator muncul bersama feses beberapa jam setelah diberikan (Sihombing, 1997).  Khusus pada pengukuran kecernaan energi dan protein, feses yang diperoleh disemprot dengan larutan asam borat 5% sebelum dilakukan pengeringan dengan tujuan untuk mencegah nitrogen yang hilang karena penguapan yang diakibatkan oleh aktivitas mikroorganisme dalam feses.

Konsumsi ransum harian diperoleh dari banyaknya ransum yang dikonsumsi selama penelitian dibagi dengan jumlah hari mencapai bobot potong 90 kg.  Pertambahan berat badan harian diperoleh dari hasil penimbangan babi saat mencapai bobot potong  90 kg, dikurangi dengan penimbangan bobot badan awal,  dibagi dengan jumlah hari mencapai bobot potong.  Konversi ransum diperoleh dari hasil bagi antara konsumsi ransum harian dengan pertambahan berat badan harian dalam satuan waktu yang sama.

 

Analisis  Laboratorium

Subsampel ransum dan feses yang telah digiling halus dari masing masing perlakuan,  dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC selama 12 jam untuk menentukan kadar bahan keringnya. Total nitrogennya ditentukan dengan metode Kjeldahl dan kandungan  energi dengan bom kalorimeter.  Kecernaan energi dan protein dihitung dengan menggunakan rumus Schneider dan Flatt (1975) sebagai berikut:

 

            Kecernaan Energi  = (Energi Konsumsi – Energi Feses)  x 100

                                                            Energi Konsumsi

           Kecernaan Protein  = (Protein Konsumsi  – Protein Feses) x100

                                                            Protein Konsumsi

 

Analisis Data

Data yang diperoleh, kemudian dianalisis dengan sidik ragam atau analysis of variance (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh perlakuan, dan uji lanjut Duncan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan (Steel dan Torrie,  1989).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pengaruh Perlakuan terhadap Kecernaan Protein

Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap kecernaan protein pada babi dapat dilihat pada Tabel 2. Rataan kecernaan protein adalah 71,27±6,79% masih dalam kisaran normal bagi babi ras yang mendapat perlakuan ransum yang seimbang, sesuai dengan pendapat Sihombing (1997) bahwa kecernaan protein babi berkisar antara 70 – 90% untuk ransum yang mengandung  energi metabolisme 3190 kkal/kg dan protein kasar 14%.

Berdasarkan Tabel 2, kecernaan protein tertinggi diperlihatkan pada babi yang mendapat  perlakuan R3 (74,03%), kemudian berturut-turut diikuti oleh perlakuan R2 (72,60%), R1 (72,05%), Rvm ( 70,76%) dan R0 (66,84%). Hasil analisis ragam pada pemberian curcumin dan antibiotik virginiamicin  dalam ransum babi tidak  berpengaruh nyata terhadap kecernaan protein ransum, hal ini terjadi karena kandungan protein ransum yang sama pada tiap perlakuan.

Tabel  2  Rataan Kecernaan Protein, Energi dan Laju Makanan

Perlakuan Penampilan Produksi
Kecernaan Protein Kecernaan Energi Laju Makan
(%) (%) (jam)
Rvm 70,76 51,03 b  20,05  a
R0 66,84 32,59 a  19,30  a
R1 72,05 46,46 b   20,07 a
R2 72,60 46,46 b   22,32 b
R3 74,03 49,26 b   21,51 b
Rataan 71,27±6,79 45,16±9,7 20,65 ± 1,32

Keterangan :  Superskrip berbeda pada kolom yang sama, berbeda nyata (p<0,05)

Berdasarkan Tabel 2, kecernaan energi tertinggi diperlihatkan pada babi yang diberi perlakuan ransum Rvm (51,03%), kemudian dikuti oleh ransum R3 (49,26%), R2 (46,46%),  R1 (46,46%) dan R0 (32,59%).  Berdasarkan hasil analisis ragam,  perlakuan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kecernaan energi ransum. Pemberian curcumin dapat meningkatkan kecernaan energi ransum babi. Perlakuan R0 yaitu ransum tanpa suplemen menghasilkan kecernaan energi ransum yang  rendah, penambahan curcumin sebanyak 120 ppm dan virginiamicin mampu meningkatkan kecernaan energi ransum. Perlakuan curcumin meningkatkan kecernaan energi ransum pada babi hal ini disebabkan oleh pemberian curcumin pada dosis yang tepat dapat merangsang sekresi hormon dari kelenjar brunner pada dinding usus halus. Hormon tersebut  akan merangsang peningkatan sekresi enzim-enzim pencernaan dari kelenjar pankreas (Martini, 1998).  Jadi penambahan curcumin sebanyak 120,  160 dan 200 ppm dalam ransum setara dengan penambahan antibiotik virginiamicin hal tersebut memberikan petunjuk bahwa curcumin dapat digunakan sebagai aditive alami pengganti antibiotik sintetis dalam ransum babi untuk meningkatkan kecernaan energi ransum .

Rataan kecepatan laju makanan dalam saluran pencernaan adalah 20,65±1,32 jam (Tabel 2), hasil ini sesuai dengan pendapat Sihombing (1997) bahwa kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi remaja atau dewasa berkisar antara 10 – 24 jam.  Berdasarkan Tabel 2, kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan terlama diperlihatkan oleh babi yang diberi perlakuan R2 (22,32 jam), kemudian berturut-turut R3 (21,51 jam), R1 (20,07 jam), Rvm (20,05 jam) dan R0 (19,30 jam).  Babi dengan perlakuan R2 (curcumin 160 ppm) memperlihatkan kecepatan laju makanan yang lebih lama, karena pemberian curcumin pada dosis yang tepat dapat menyebabkan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan menjadi lebih lama, pada akhirnya meningkatkan penyerapan zat makanan.  Curcumin dapat mempengaruhi tonus dan kontraksi usus halus, pemberian dalam dosis rendah dan secara berulang akan mempercepat kontraksi tonus usus halus, tetapi pada dosis tinggi justru akan memperlambat bahkan dapat menghentikan kontraksi usus halus. Namun jika diberikan dalam dosis yang tepat akan menyebabkan kontraksi spontan yang lebih lambat, akibatnya perjalanan ransum dalam usus halus menjadi lebih lama (Bawman, 1983).

Berdasarkan hasil analisis ragam, diperoleh petunjuk bahwa pemberian curcumin berpengaruh terhadap laju makanan, yang mana pemberian curcumin dapat menurunkan laju makanan dalam saluran pencernaan babi (p< 0,05).  Pada Perlakuan R0, R1 dan Rvm atau penambahan curcumin pada taraf 120 ppm dan antibiotik sintetis belum berpengaruh nyata terhadap laju makanan. Pemberian  curcumin 160 dan 200  ppm (R2 dan R3) dalam ransum babi  menurunkan kecepatan laju makanan. Berdasarkan hasil tersebut  maka curcumin pada dosis 160 dan 200 ppm dapat digunakan dalam ransum babi untuk meningkatkan kecernaan ransum dengan cara  menurunkan laju makanan dalam usus.  

 

 

 

Konsumsi Ransum

            Penampilan produksi babi yang diamati pada penelitian ini meliputi konsumsi ransum harian, pertambahan bobot badan harian dan konversi ransum (Tabel 3).  Hasil pengamatan selama penelitian menunjukkan bahwa rataan umum konsumsi ransum harian adalah 2916,95±62,46 g/ekor. Konsumsi ransum harian tertinggi adalah babi yang diberi  perlakuan R3 (2933,99), kemudian diikuti secara berturut-turut oleh babi yang diberi perlakuan R2, Rvm, R1 dan R0 masing-masing 2930,54; 2916,95; 2915,91 dan 2887,35 k/ekor.

Konsumsi ransum dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah palatabilitas ransum, bentuk fisik ransum, berat badan, jenis kelamin, temperatur lingkungan, keseimbangan hormonal dan fase pertumbuhan (Piliang, 2000). Kunyit pada umumnya digunakan sebagai bumbu pada masakan, akan tetapi kunyit memiliki rasa pahit.

Tabel  3  Rataan Penampilan Produksi Babi Penelitian

Perlakuan Penampilan Produksi
Konsumsi Ransum PBB Konversi
(g/ekor/hari) (g/ekor) (feed/gain)
Rvm 2916,95a 634,44 b    4,60b
R0 2887,35a 507,81a    5,69a
R1 2915,91a 594,21ab   4,91ab
R2 2930,54a 643,26 b   4,57b
R3 2933,99a 678,27 b   4,33b
Rataan 2916,95±62,46 611,60±68,60 4,86±0,54

Keterangan :  PBB = Pertambahan Bobot Badan, Superskrip berbeda pada kolom yang

                       sama, berbeda nyata (p<0,05)

            Pemberian curcumin sampai dengan dosis 200  ppm tidak menurunkan konsumsi ransum (p > 0,05).

Pertambahan Bobot Badan Harian

Rataan umum pertambahan bobot badan harian (PBBH) adalah 611,60±68,60 g/ekor/hari (Tabel 3). Hasil penelitian memperlihatkan rataan PBBH tertinggi pada babi yang diberi perlakuan R3 diikuti oleh R2, Rvm, R1  dan R0, masing-masing 678,27; 643,26; 634,44; 594,21 dan 507,81 g/ekor.

Pertumbuhan pada babi dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya umur, nutrisi, lingkungan, berat lahir dan penyakit.  Babi yang diberi perlakuan R3 menghasilkan  PBBH yang lebih besar daripada babi lainnya, hal ini membuktikan bahwa pemberian curcumin pada taraf  200 ppm dalam ransum babi mampu meningkatkan penyerapan zat-zat makanan yang dikonsumsi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Bawman (1983) yang memberikan cairan 10% infus temulawak dalam larutan ringer pada hewan percobaan secara intravena dengan kecepatan 10-20 tetes/menit, tonus dan kontraksi usus halus akan diperlambat. Pergerakan usus halus yang diperlambat membuat aktifitas enzim memecah bahan makanan lebih tinggi sehingga penyerapan zat-zat makanan mengalami peningkatan.

Berdasarkan analisis ragam perlakuan berpengaruh (p<0,05) terhadap PBBH, artinya bahwa setiap perlakuan ransum memberikan pengaruh yang berbeda terhadap PBBH. Terlihat bahwa pemberian curcumin dapat meningkatkan pertambahan bobot badan.  Berdasarkan Tabel 3,  PBBH babi yang mendapat perlakuan R0 dan R1 adalah sama, hal tersebut menunjukkan bahwa  penambahan curcumin sampai taraf 120 ppm belum menunjukkan efek yang signifikan terhadap pertambahan bobot babi percobaan. Demikian pula pertambahan bobot badan pada perlakuan curcumin 160 dan 200  ppm (R2 dan R3) dan penambahan virginiamicin (Rvm) dalam ransum satu sama lainnya adalah sama dan lebih tinggi dari Ro.  Dengan demikian penambahan curcumin pada dosis 160 ppm dan 200 ppm dapat digunakan sebagai aditive alami pengganti antibiotik sintetis dalam ransum babi.

Pengaruh perlakuan terhadap Konversi Ransum

Rataan konversi ransum penelitian adalah 4,82±0,54 (Tabel 3). Angka tersebut lebih tinggi daripada angka konversi ransum yang ditetapkan National Research Counsil (NRC) (1998) yaitu sekitar 3,25. Hal ini mungkin disebabkan perbedaan lingkungan pemeliharaan, bahan makanan yang diberikan serta genetik dari babi tersebut. Sihombing (1997), menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi konversi ransum adalah nutrisi, spesies, lingkungan, kesehatan dan keseimbangan ransum yang diberikan.  Rataan konversi ransum terendah 4,33 (R3), kemudian dilanjutkan berturut-turut 4,57 (R2); 4,60 (Rvm); 4,91 ( R1) dan 5,69 (R0). Nilai konversi ransum adalah perbandingan antara jumlah rnsum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan sebesar satu satuan, makin rendah angka konversi menunjukkan bahwa babi tersebut makin efisien dalam penggunaan ransum. (Hyun dkk,1998 ).

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian ransum perlakuan berpengaruh nyata terhadap konversi ransum (p< 0,05). Pemberian curcumin dan virginiamicin dapat menurunkan konversi ransum babi, hal ini disebabkan karena konsumsi ransum setiap perlakuan adalah sama sedangkan PBBH menunjukkan peningkatatan. Berdasarkan Tabel 3 konversi ransum perlakuan R0 (tanpa curcumin dan virginiamicin) dan R1 (120 ppm curcumin) adalah sama, hal tersebut mengindikasikan bahwa penambahan curcumin sampai taraf 120 ppmdalam ransum  belum menunjukkan efek yang signifikan terhadap konversi ransum. Konversi ransum babi  pada perlakuan curcumin 160 ppm (R2),  200  ppm ( R3) dan virginiamicin 50 ppm (Rvm) adalah sama dan lebih rendah dari R0, dengan demikian penambahan curcumin pada dosis160 ppm dan 200 ppm dapat meningkatkan efisiensi ransum babi yang setara dengan penggunaan antibiotik virginamicin

 

Analisis Finansial Pengaruh Antibiotik dan Curcumin

Pengaruh pemberian curcumin dan virginiamicin dalam ransum babi terhadap keuntungan dan biaya dapat dilihat pada Tabel 4.   Penambahan virginiamicin dan curcumin dalam ransum babi mengakibatkan terjadi penambahan biaya ransum perkilogramnya, akan tetapi penambahan biaya tersebut  diikuti oleh meningkatnya pendapatan atau penjualan, pada akhirnya keuntungan harian pemberian ransum yang mengandung   curcumin dan virginiamicin jadi lebih besar dibanding dengan ransum R0 (tanpa kedua-duanya).  

Tabel 4.  Analisa Finansial dari Masing-Masing Perlakuan Ransum

Perlakuan Biaya (Rp) Penjualan (Rp) Keuntungan(Rp) B/C Rasio
Rvm 4594.20 9516.60 4922.40 1.07
R0 4331.03 7617.15 3286.13 0.76
R1 4688.78 8913.15 4224.37 0.90
R2 4832.60 9648.90 4816.30 1.00
R3 4929.10 10174.05 5244.95 1.06

 

Keuntungan harian terbesar diperoleh pada perlakuan R3 (Rp 5244,95) dan terkecil pada perlakuan R0 (Rp 3286,13). Pemberian dosis curcumin yang semakin tinggi berdampak pada meningkatnya keuntungan harian. Keuntungan yang diperoleh akibat pemberian  curcumin pada dosis 160 ppm  (R2) mampu menyamai ransum virginiamicin, bahkan ransum R3 (200 ppm) lebih tinggi dari viginiamicin.  Bila dilihat B/C Rasionya,  pemberian virginiamicin dan curcumin pada dosis 160 dan 200 ppm (R2 dan R3) memiliki nilai B/C rasio lebih dari satu, artinya secara finansial penggunaan curcumin dan virginiamicin pada dosis tersebut  layak digunakan dalam sistem usaha produksi babi.

KESIMPULAN

Bila dilihat dari parameter kecernaan makanan, performan dan analisa finansial dari perlakuan ransum dengan additive curcumin dan virginiamicin dapat diperoleh kesimpulan bahwa pemberian dosis 160 ppm curcumin dapat digunakan sebagai penganti antibik sintetis (virginiamicin) untuk  pemacu pertumbuhan. Dosis efektif penggunaan curcumin dalam ransum babi sebagai bahan imbuhan ransum adalah 160 ppm. 

 

SARAN

Curcumin dapat digunakan dalam sistem produksi babi dengan dosis 160 ppm dalam ransum babi sebagai pemacu pertumbuhan.

DAFTAR PUSTAKA

AL-Sultan SI. 2003. The Effect of Curcuma longa (Tumeric) on Overall Performance of Broiler Chickens. Department of Public Health and Animal Husbandry, College of Veterinary Medicine and Animal Resources, King Faisal University. Saudi Arabia. J.Poultry Sci.  2 (5): 351-353, 2003

Ava Singapore surveilans abattoir.2005. di sampaikan dalam seminar kebijakan pemerintah dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan menular pada babi di Indonesia oleh drh. Tri Satya N, M.Phill. Ph.D. Dir. Kesehatan Hewan Dep.Pertanian.

Bawman JC. 1983. Concerning the effect of chelidonium, curcuma, absinth and

           milkthistle on billiary and pancreatic secretion in hepatopathy. Med. Monalsschriff, 29 :173-180.

Hamscher  G ,  Heike Theresia Pawelzick, Silke Sczesny, Heinz Nau, and Jörg Hartung. 2003. Antibiotics in dust originating from a pig-fattening farm: a new source of health hazard for farmers. Department of Food Toxicology, Animal Welfare and Behaviour of Farm Animals, School of Veterinary Medicine Hannover, Hannover, Germany. Environ Health Perspect. 111(13): 1590–1594.

Hyun Y, Ellis M, Riskowski G,  Johnson RW. 1998. Growth performance of pigs subjected to multiple concurrent stressors. J.Anim Sci. 76:721-727

National Research Council. 1998. Nutrient Requirements of Swine. National Academy Press, Washington, D.C.

Martini S. 1998. Pengaruh pemberian ransum yang mengandung  berbagai jenis curcuma dan kombinasinya sebagai pakan aditif terhadap produksi karkas serta komposisi asam lemak karkas pada kelinci peranakan new zealand white. Disertasi. Unpad. Bandung.

Piliang WG. 2000. Fisiologi Nutrisi. Volume I. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rusiana. 2004.  Residu Antibiotika pada Daging Ayam Broiler. WWW.  Poultry

        Indonesia. Com. (diakses 12 Juni 2004)

Samadi. 2004.  Feed quality for food safety. Fapet Unsyiah. Banda Aceh.

Sihombing DTH. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Sinaga S. 2003. Pengaruh pemberian ransum yang mengandung aditif tepung kunyit pada babi pertumbuhan. Fapet. Unpad. Bandung.

Schneider, BH. dan Flatt W.P. 1975. The Evaluation of Feeds Through Digestibility Experiment. The University of Georgia Press. Georgia.

Steel RGD and   Torrie JH. 1989.  Prinsip dan Prosedur Statistika. Cetakan ke-2. Terjemahan B.  Sumantri.  PT Gramedia, Jakarta.