Posts belonging to Category Uncategorized



PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KATUK (Sauropus androgynus L Merr) DALAM RANSUM BABI TERHADAP KONSUMSI INDUK, PERTAMBAHAN BOBOT BADAN DAN BERAT SAPIH ANAK

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di Teaching Farm KPBI (Koperasi Peternak Babi Indonesia), Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ransum yang mengandung ekstrak daun katuk  (Sauropus androgynus L Merr) terhadap konsumsi induk menyusui,  pertambahan bobot badan dan berat sapih anak. Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan 20 ekor babi induk. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan uji t student dengan dua perlakuan yaitu R0 (tanpa penambahan ekstrak daun katuk) dan R1 (dengan penambahan ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari), setiap perlakukan diulang sebanyak sepuluh kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum (3,787 – 3,842 kilogram/ekor/hari), tetapi dapat meningkatkan pertambahan bobot badan anak (330-410 gram/ekor/hari) dan berat sapih (13,92 – 18,22 kg/ekor). Pemberian ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari dapat diberikan pada ransum induk babi menyusui sebagai feed aditif.

 

Kata kunci : Ekstrak daun katuk, Konsumsi Ransum, Pertambahan Bobot Badan,  Berat sapih, Induk Babi.

 

ABSTRACT

 

This research was do in KPBI teaching farm at cisarua, Bandung in October until November 2007. This experiment was conducted to know the Effects of ekstract Katuk’s Leaves (Sauropus androgynus (L.) Merr) in Feed on sow feed consumtion and  weight wean. It used 20 pig mains with 200 kilograms means weight. Eksperiment method use a paired t student analytic with two treatments with ten replicates. This research show that 3 g/day ekstract of katuk’s leaves revealed no effect to feed consumtion (3,787 – 3,842 kg/day), but increase average daily gain (330-410 g/e/d) and weaning weight ( 13,92 – 18, 22 kg/pig/day). Ekstract of katuk’s leaves can use as feed additive on sow. 

 

Keywords: Sauropus androgynus (L.) Merr, feed consumtion, average daily gain, weaning weight, Sow.

 

 

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

     Babi merupakan salah satu komoditas ternak yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, karena memiliki sifat-sifat yang menguntungkan seperti laju pertumbuhan yang cepat, litter size yang tinggi, dan efisiensi ransum yang tinggi sekitar 75-80% serta bersifat prolifik yaitu beranak banyak. Induk babi dapat melahirkan 8-14 anak dalam satu kali periode kelahiran. Induk babi yang telah melahirkan tersebut akan kita sebut sebagai induk menyusui. Induk menyusui setelah melahirkan akan membutuhkan pakan yang cukup agar dapat menghasilkan susu yang cukup untuk anak anaknya.

Ransum yang berkualitas untuk menunjang proses produksi yang baik sangat dibutuhkan oleh ternak, terutama pada ternak induk setelah melahirkan. Babi induk setelah melahirkan memerlukan kualitas ransum yang baik untuk merangsang kembali nafsu makannya yang turun setelah melahirkan sehingga konsumsinya juga akan meningkat, karena biasanya konsumsi induk akan menurun setelah melahirkan diakibatkan banyaknya energi yang dikeluarkan pada proses kelahiran. Apabila konsumsi induk menurun setelah melahirkan, maka produksi susu induk juga akan menurun dikarenakan kurangnya supply zat-zat makanan untuk proses pembentukan susu. Untuk menjaga agar nafsu makan induk tetap ada setelah melahirkan dan meningkatkan konsumsinya, maka perlu diberikan suatu tambahan dalam ransum induk babi tersebut. Salah satu solusinya adalah pemberian makanan tambahan (feed aditif) dalam ransum yang tidak mengandung residu dan zat zat yang berbahaya bagi ternak yang mengkonsumsinya, diantaranya adalah pemberian ekstrak daun katuk.

Keseimbangan nilai gizi yang terkandung dalam ransum dan sesuai dengan kebutuhan induk menyusui sangat diharapkan, agar susu yang dihasilkan memiliki kandungan zat-zat makanan yang diperlukan oleh anak-anaknya. Setelah induk melahirkan dengan jumlah anak yang banyak sedangkan jumlah puting induk hanya 12, maka secara tidak langsung akan terrjadi perebutan ambing untuk memperoleh susu oleh anak anaknya yang baru lahir. Jumlah anak yang banyak tentu juga membutuhkan produksi susu yang tinggi agar anak dapat terpenuhi kebutuhannya sehingga berat sapih yang diperoleh tinggi. Apabila produksi susu induk menurun setelah melahirkan maka akan membuat berat sapih anak yang rendah. Untuk mencegah terjadinya penurunan berat sapih anak setelah lahir, perlu diperhatikan kualitas ransum yang diberikan  terhadap induk. Salah satunya adalah penambahan feed aditif dalam ransum induk, diantaranya pemberian ekstrak daun katuk.

 Katuk merupakan tanaman leguminosa. Tanaman ini umumnya sudah banyak dikenal oleh masyarakat kita sebagai obat tradisional yang mampu meningkatkan produksi susu pada ibu hamil. Tumbuhan ini banyak tumbuh dinegara kita sehingga untuk memperolehnya bukanlah hal yang sulit dan tentu saja harganya relatif  murah. Selain mempunyai khasiat obat tradisional, daun katuk juga mengandung nilai nutrisi yang baik seperti karoten, protein, energi, vitamin C, kalsium, phosfor, dan zat besi. Namun adanya zat anti nutrisi yang disebut Papeverin dalam daun katuk yang dicurigai dapat menyebabkan keracunan ternyata tidak membahayakan, kandungan dalam 1 kg daun katuk segar sangat rendah yaitu 5,8 g atau 58 % atau identik dengan 580 ppm. Melihat potensi nutrisi yang baik dan rendahnya zat antinutrisi dalam daun katuk, maka pemanfaatannya dalam campuran ransum diharapkan dapat mempengaruhi konsumsi ransum induk menyusui dan berat sapih pada babi prestarter.

Penelitian daun katuk sebagai pakan ternak telah banyak dilakukan, namun pemberiannya terhadap induk babi menyusui belum pernah dilakukan sehingga baik buruknya terhadap induk babi menyusui belum diketahui. Dengan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti pemberian ekstrak daun katuk dalam ransum terhadap konsumsi induk menyusui, pertambahan bobot badan dan berat sapih anak babi.

 

Kerangka Pemikiran

Induk menyusui merupakan induk yang telah melahirkan dan memproduksi susu (Sihombing, 1997).  Konsumsi induk menyusui dengan bobot 200 kg adalah 2,5 – 3 kg perhari dan produksi susu induk adalah 7,0 kg/ekor/laktasi (sihombing, 1997). Sedangkan bobot sapih anak yang baru lahir dengan  umur 40 hari adalah 18 kg (Siagian, 1999). Pemberian ransum yang berkualitas diharapakan mampu meningkatkan konsumsi induk dan berat sapih pada anak.    Ransum merupakan faktor penunjang proses biologis yang sangat penting bagi seekor ternak untuk pertumbuhan, pembentukan jaringan tubuh maupun produksi, sehingga dalam upaya memperoleh hasil produksi yang optimal perlu diperhatikan segi kualitas dari ransum yang diberikan. Salah satu aspek yang menentukan tinggi rendahnya kualitas ransum adalah kandungan protein, energi, vitamin, mineral dan bahan-bahan lain yang menunjang pertumbuhan dan proses pencernaan biologis.

Feed aditif adalah suatu bahan yang diberikan dalam jumlah tertentu (dibatasi) ke dalam campuran makanan dasar dengan tujuan memenuhi kebutuhan khusus dan bila pemberian dalam jumlah yang tepat dapat meningkatkan produksi ternak (Hartadi, dkk 1986). Feed aditif berupa bahan atau zat makanan tertentu seperti vitamin-vitamin, mineral-mineral atau asam-asam amino yang ditambahkan dalam ransum ternak (Sihombing, 1997). Sejak tahun 1950, feed aditif secara umum dipakai untuk ransum babi di negara-negara yang usaha peternakannya intensif dan besar, karena telah terbukti mampu memperbaiki pertumbuhan dan efisiensi pakan serta mencegah penyakit.

Tabel 1. Tujuh Senyawa Aktif Tanaman Katuk dan Pengaruhnya terhadap Fungsi Fisiologis dalam Jaringan

No. Senyawa Aktif Pengaruhnya pada fungsi fisiologi
1.2.

3.

 

4.

 

5.

Octadenoic acid9-Eicosine

5, 8, 11-Heptadecatrienoic acid methyl ester

9, 12, 15- Octadecatrienoic acid ethyl ester

11, 14, 17 Eicosatrienoic acid methyl ester

Sebagai prekursor dan terlibat dalam biosintesis senyawa Eicosanoids (prostaglandin, lipoxins, thromboxane, prostacycline. leukotrienes).
6. Androstan-17-one,3-ethyl-3-hydroxy-5 alpha Sebagai prekursor atau intermediate-step dalam sintesis senyawa hormon (progesterone, estradiol, testosterone, dan glucocorticoid).
Senyawa 1-6 secara bersamaan Memodulasi hormon-hormon laktasi dan laktogenesis serta aktivitas fisiologi yang lain.
7. 3, 4-Dimethyl-2-oxocyclopent-3-enylacetatic acid Sebagai eksogenus asam asetat dari saluran pencernaan dan terlibat dalam metabolisme selular melalui siklus Krebs.

Sumber : Suprayogi (2000)

 

Katuk merupakan tanaman leguminosa yang tumbuh menahun, berbentuk semak perdu dengan ketinggian 2,5-5 m . Tanaman ini dikenal sebagai obat tradisional yang mengandung protein, vitamin, mineral, plavanoid, saporin, tannin, lipid dan sterol (Muhlisah, 1995) dan sering digunakan sebagai perangsang produksi susu selama masa lakstasi (Suprayogi, 2000).  Selain mempunyai khasiat sebagai obat tradisional, daun katuk juga mempunyai nilai nutrisi yang baik seperti tingginya karoten, protein, energi, vitamin C, phosphor dan zat besi.   Daun katuk mempunyai senyawa aktif yang mampu meningkatkan ketersediaan nutrisi didalam darah yang menuju kelenjar ambing. Senyawa aktif tersebut diduga sebagai prekursor dalam pembentukan hormon steroid seperti prostaglandin yang berperan dalam proses reproduksi dan stimulasi pembentukan air susu dalam kelenjar ambing (Suprayogi, 2000). Senyawa aktif tersebut diantaranya Androstan-17-one, 3-ethyl-3-hydroxy-5 alpha yakni sebagai prekursor dalam sintesis senyawa hormon seperti progesteron, estradiol.

Suprayogi (2000), melaporkan bahwa dengan analisa KGSM, daun katuk mempunyai tujuh senyawa aktif utama. Senyawa yang terkandung dalam daun katuk tersebut  dapat  mempengaruhi  fungsi  fisiologis   tubuh, hal  ini  dapat  dilihat  pada Tabel 1.

Penggunaan daun katuk sebagai pakan ternak telah banyak dilakukan. Misalnya Suprayogi (2000) melaporkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk pada kambing laktasi mampu meningkatkan produksi air susu sebesar 7,75 % dan pada kelinci dapat meningkatkan kecernaan pakan dan absorpsi glukosa di saluran pencernaan. Ekstrak daun katuk diperoleh dengan cara pelarut organik Eter minyak tanah, n-heksan, Benzen, Alkohol, dan Aseton dengan menggunakan teknik soxletasi dengan aseton sebagai pelarut. Ekstrak Aseton diuapkan hingga diperoleh endapan, kemudian endapan dicuci dengan eter minyak tanah lalu dikeringkan.

           Penelitian efek farmakologi menunjukkan bahwa eksrak daun katuk pada dosis 631,6 mg/kg bobot badan menunjukkan efek laktogogum pada tikus. Pemberian ekstrak daun katuk dengan  dosis 3 x 300 mg/hari atau 900 mg/hari dengan berat badan 53 kg selama 15 hari pada kelompok ibu yang baru melahirkan dan menyusui dapat meningkatkan produksi Air Susu Ibu (ASI) yang lebih banyak yaitu sebesar 50,7 % (Sa’roni, 2004) dibandingkan dengan kelompok ibu melahirkan dan menyusui yang tidak diberi ekstrak daun katuk. Pemberian ekstrak daun katuk pada induk babi dengan bobot 200 kg dengan konsumsi 3 kg/ekor/hari  setelah dikonversikan  berdasarkan luas permukaan tubuh yaitu 3396,22 mg/ekor/hari atau setara dengan 3 g/ekor/hari.  Dari kerangka pemikiran di atas, maka dapat diajukan suatu hipotesis bahwa penggunaan ekstrak daun katuk dalam ransum sebanyak 3 g/ekor/hari mampu meningkatkan konsumsi ransum pada induk menyusui dan bobot sapih pada ternak babi.

 

Konsumsi Ransum Induk Babi Laktasi

Ransum adalah makanan yang disediakan bagi ternak untuk memenuhi kebutuhannya selama 24 jam (Anggorodi, 1979). Faktor yang mempengaruhi konsumsi ransum adalah bobot individu ternak, tipe dan tingkat produksi, jenis makanan, dan faktor lingkungan. Malole dan Pramono (1989), menambahkan bahwa yang termasuk faktor lingkungan adalah keadaan kandang, temperatur dan kelembaban kandang.

Seekor induk bunting dapat mengkonsumsi makanan 2,5-3 kilogram setiap hari.  Induk bunting atau menyusui memerlukan makanan yang lebih banyak. Kebutuhan zat-zat makanan untuk produksi air susu ternak adalah salah satu kebutuhan yang tinggi dalam usaha peternakan. Kebutuhan ternak tersebut meningkat karena disamping untuk memenuhi kebutuhan tubuh ternak itu sendiri, zat-zat tersebut juga digunakan untuk menyusun air susu yang dihasilkan.

 

Pertambahan Bobot Badan dan Berat Sapi Anak Babi

Pertumbuhan merupakan suatu perubahan yang terjadi meliputi peningkatan ukuran sel-sel tubuh dimana pertumbuhan tersebut mencakup tiga komponen utama yaitu peningkatan berat otot, peningkatan ukuran skeleton, dan peningkatan jaringan lemak tubuh. Pertumbuhan dapat terjadi secara hyperplasi dan hypertrophy. Hyperplasi merupakan penambahan jumlah sel tubuh, sedangkan hypertrophy merupakan penambahan ukuran tubuh (Anggorodi, 1979). Pertumbuhan anak sebelum sapih dipengaruhi oleh genetik, bobot lahir, litter size lahir, produksi air susu induk, perawatan induk, dan umur induk. Pada ternak babi pertambahan bobot badan babi yang belum disapih mencapai 0,22 – 0,35 kg/ hari (Eusebio, 1980).

Inglis (1980), menyatakan bahwa bobot sapih yaitu bobot badan ternak saat dipisahkan dari induknya untuk disapih.  Sapih merupakan tahap pertumbuhan suatu hewan yang makanannya tidak bergantung pada air susu induknya dan mulai mengkonsumsi ransum padat dan air.  Sumantri, (1984) menyatakan besarnya bobot sapih dipengaruhi oleh jenis kelamin, bobot badan induk, umur induk, keadaan saat lahir, kemampuan induk untuk menyusui anak dan kuantitas dan kualitas ransum yang diberikan serta suhu lingkungan.

Menurut Parakkasi (1983), semakin banyak anak yang menyusu cenderung menaikkan produksi air susu induk walaupun tidak harus menjamin kebutuhan optimum dari anak-anak tersebut.  Kandungan air susu induk babi setelah 2 hari yaitu yaitu 7% lemak, 6,5% protein, dan 5% laktosa (Sihombing, 1997).  Induk yang memiliki produksi susu tinggi akan menghasilkan anak dengan bobot sapih yang tinggi pula.  Siagian(1999), berpendapat bahwa penyapihan hendaknya dilakukan saat umur sapih, karena apabila dilakukan lebih lama maka akan berpengaruh terhadap induk.  Anak babi disapih saat berumur 4-6 minggu                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bobot sapih anak babi berkisar antara 13-18 kg/ekor (Siagian, 1999).

 

 

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

 

Bahan Penelitian

Ternak percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah babi periode induk menyusui sebanyak 20 ekor pada partus ke 2-3  dengan berat badan yang relatif sama yaitu rata-rata 200 kg dengan umur yang relatif sama serta litter size 8-12 ekor / induk menyusui.

Kandang yang digunakan untuk penelitian adalah kandang induk individu yang berukuran 4 x 5 x 1  m dengan lantai semen dan beratap seng. Setiap unit kandang dilengkapi dengan tempat makan yang terbuat dari semen dan tempat minum serta dilengkapi juga dengan tempat anak atau guard drill. Jumlah kandang yang akan digunakan sebanyak 20 unit. 

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini antara lain satu buah timbangan dengan kapasitas 50 kg dengan ketelitian 0,1 kg untuk menimbang anak babi, satu buah timbangan kecil kapasitas 15 kg dengan tingkat ketelitian 0,05 kg untuk menimbang pakan, dan satu buah timbangan sartorius dengan tingkat ketelitian 0,2 gram untuk menimbang ekstrak daun katuk. Ekstrak daun katuk yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil ekstraksi yang diperoleh dari perusahaan PT Pithochemindo Reksa dalam bentuk powder.

 

Susunan  Ransum Penelitian

            Bahan makanan yang digunakan untuk menyusun ransum penelitian adalah tepung jagung, dedak padi, bungkil kelapa, bungkil kedelai, tepung ikan, dan tepung tulang. Penyusunan ransum dilakukan berdasarkan pada kebutuhan zat-zat makanan yang dianjurkan oleh National Research Council (1998). Bahan pakan yang digunakan dan kandungan zat-zat makanan serta energi metabolis bahan pakan disajikan pada Tabel 2, dan kebutuhan zat-zat makanan induk menyusui disajikan pada Tabel 3.

 

Metode Penelitian

Peubah yang Diamati

  1. Konsumsi Ransum (kg/ekor)

      Konsumsi ransum diketahui dengan cara jumlah ransum yang diberikan dikurangi sisa pada esok pagi  harinya (24 jam).

 

  1. Pertambahan Bobot Badan (kg/ekor)

      Pertambahan bobot badan dihitung dengan rumus sebagai berikut :

PBB =berat sapih – berat lahir

                  Lama sapih  

 

  1. Berat Sapih (kg/ekor)

Berat sapih ditimbang pada saat ternak disapih umur 1,5 bulan dengan cara jumlah total berat sapih anak dibagi jumlah anak.

     Tabel 2. Kandungan Zat-zat Makanan dan Energi Bahan Pakan Penyusun Ransum

Bahan Pakan DE*

PK

SK

Kalsium

Phosfor

  (kkal/kg) ………………………………..(%)……………………
Tepung jagung 4170,73

10,50

2,00

0,21

0,31

Dedak padi 3634,15

12,00

9,00

0,04

1,04

Tepung ikan 3482,93

48,67

0,01

6,32

2,95

Bungkil kedelai 3109,36

47,00

5,00

0,24

0,81

Bungkil Kelapa 4509,76

16,25

19,92

0,05

0,60

Tepung tulang

     0,00

1,04

0,00

5,16

0,14

   

 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*DE = EM / 82% (Sihombing, 1997)

Sumber : Analisis Laboratorium Nutrisi Institut Pertanian Bogor, (2006)

 

Tabel 3. Kebutuhan Zat Makanan Induk Menyusui

Digestible* Protein Kalsium Fosfor
Energi (kkal/kg) Kasar (%) (%) (%)
3420 13-15 0,75 0,6

Sumber : National Research Council (1998)

Kandungan zat makanan dan energi metabolis bahan pakan serta kebutuhan zat zat makanan induk menyusui telah disajikan dalam Tabel 2 dan Tabel 3, lalu diformulasikan untuk mendapatkan formulasi ransum basal yang disajikan pada  Tabel 4, sedangkan kandungan zat zat makanan dan energi metabolis ransum basal disajikan pada Tabel 5.

Tabel. 4. Formulasi Ransum Basal Babi Induk Menyusui

Bahan Makanan

Persentase (%)

Tepung jagung

47,00

Dedak padi

30,50

Tepung ikan

4,50

Bungkil kedelai

5,00

Bungkil kelapa

6,00

Tepung tulang

7,00

 

 

Total

100,00

Sumber : Hasil Perhitungan

Ransum percobaan yang akan digunakan adalah sebagai berikut :

Keterangan : R0= Ransum Penelitian tanpa penambahan ekstrak daun katuk.

             R1= Ransum Penelitian ditambah 3 gram ekstrak daun katuk.

 

 

Tabel 5. Kandungan Zat-zat Makanan dan Energi Metabolis Ransum Basal

Zat Makanan dan Gross Energi

Kandungan

DE ( Kkal/kg)*

3543,02

Protein Kasar (%)

14,18

Kalsium (%)

0,77

Posfor (%)

0,68

Keterangan : * DE = EM / 82 %  (Sihombing, 1997)

 

Tahap-tahap Penelitian

  1. Melakukan persiapan kandang, pembersihan kandang, sanitasi.
  2. Pengadaan bahan pakan penyusun ransum dan penyusunan ransum   basal, serta penimbangan bahan pakan ransum perlakuan.
  3. Penyediaan babi induk yang baru melahirkan dimasukkan ke dalam kandang yang telah disediakan, serta menimbang berat anak yang baru lahir.
  4. Pemberian ransum basal, dengan adaptasi babi, terhadap kandang, ransum, perlakuan, dan lingkungan selama 1 minggu.
  5. Penimbangan terhadap ekstrak daun katuk dan diberikan 2 kali sehari sebagai ransum perlakuan.
  6. Menimbang sisa ransum yang tidak habis dikonsumsi pada esok harinya.
  7. Kandang dibersihkan dua kali dalam sehari pada pukul 6.30 WIB dan 11.30 WIB. Kotoran dari setiap kandang dibuang melalui saluran pembuangan, kemudian babi dimandikan agar bersih dan nyaman.
  8. Pada akhir penelitian menimbang berat sapih anak lepas sapih.

 

 

Rancangan Percobaan dan Analisis Statistika

Percobaan dilakukan secara eksperimen dengan analisis data dilakukan menggunakan uji t. Percobaan dilakukan dengan 2 perlakuan yaitu ransum basal dan ransum dengan penambahan ekstrak daun katuk sebanyak 3 gram yang masing masing diulang sebanyak 10 kali.

 

Model matematikanya adalah sebagai berikut :

  1. Mencari ragam masing masing babi

             

S2        =     

 

S2        =  untuk σ1 = σ2

 

  1. Mencari standar deviasi masing masing babi

 

            S          =

 

 

  1. Mencari harga t masing masing babi

            t           =          untuk ragam yang sama  σ1 = σ2

 

 

            t           =        untuk ragam yang tidak sama σ1 ≠ σ2

 

Varians terbesar
Varians terkecil

 

untuk harga F =

 

 

                        F =

 

Bila ragam homogen :dk = n1 + n2 – 2

Bila ragam tidak homogen : dk = n1-2 atau dk = n2-2

Hipotesis yang di uji :

H0       = µ ≤ µ0

H1       = µ > µ0

 

      Keterangan :

µ          = peubah yang diberi penambahan ekstrak daun katuk

µ0         = tanpa penambahan ekstrak daun katuk.

Kaidah keputusan :

Bila thit ≤ tα (0,05) terima H0 tolak H1 (tidak berbeda nyata)

Bila thit > tα  (0,05) tolak H0 dan terima H1 (berbeda nyata )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Konsumsi Ransum Induk

Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap konsumsi ransum harian babi induk menyusui dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rata-rata Konsumsi Ransum Harian Babi Induk Menyusui (kg/hari)

Ulangan

Konsumsi Harian Babi Induk Menyusui ( kg/hari)

Rataan

 
 

R0

R1

 
1

4,17

4,13

   
2

3,46

4,26

   
3

4,28

3,71

   
4

4,32

4,49

   
5

2,91

4,22

   
6

4,47

3,70

   
7

3,59

3,43

   
8

4,16

3,89

   
9

3,22

3,51

   
10

3,29

3,08

 

 
Total

37,87

38,42

38,15

 
Rataan

3,787

3,842

3,842

 

Tabel 6 menunjukkan bahwa konsumsi harian rata-rata secara keseluruhan adalah 3,815 kg/ekor/hari.  Konsumsi ransum harian hasil penelitian tersebut sesuai dengan konsumsi ransum yang dianjurkan oleh sihombing (1997) yaitu 2,5-9 kilogram/ekor/hari.

Berdasarkan pemberian ekstrak daun katuk, diperoleh rata-rata konsumsi ransum harian perlakuan masing masing R0 (3,787 kilogram/hari) dan R1 (3,842 kilogram/hari). Tinggi rendahnya konsumsi ransum dipengaruhi oleh berbagai hal diantaranya temperature kandang dan kecederungan induk mengkonsumsi ransum setelah melahirkan. Biasanya ransum yang dikonsumsi induk bunting berbeda dengan konsumsi induk menyusui (Sihombing, 1997).

            Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap konsumsi ransum, dilakukan uji t student pemberian ekstrak daun katuk  dalam ransum  tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi ransum induk menyusui. Tidak berpengaruhnya ekstrak daun katuk terhadap konsumsi induk menyusui mungkin disebabkan karena faktor lingkungan, palatabilitas, berat badan induk yang dianggap sama, kandungan zat makanan tidak begitu berbeda sehingga mengakibatkan konsumsi induk tidak berbeda. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Parakkasi (1983), bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi induk dalam mengkonsumsi ransum diantaranya lingkungan, palatabilitas, berat badan ternak, kandungan zat zat makanan, dan aktifitas ternak. Kandungan zat makanan terutama energi dalam ransum antara perlakuan yang diberi penambahan ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari dengan yang tidak diberi penambahan ekstrak daun katuk sama  dan berat badan induk yang dianggap sama menyebabkan konsumsi induk tidak begitu berbeda. Oleh sebab itu pemberian 3 gr ekstrak daun katuk pada ransum induk menyusui tidak berpengaruh terhadap konsumsi induk menyusui.

 

 

 

 

 

 

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Pertambahan Bobot Badan Anak Babi

Hasil pengamatan yang dilakukan selama penelitian mengenai pengaruh pemberian 3 gr eksrak daun katuk pada rasum induk menyusui terhadap pertambahan bobot badan  dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Pertambahan Bobot Badan (kg/hari)

Ulangan PBBH Babi Prestarter

Rataan

Induk

R0

R1

 

……..……kg/ekor…………

 
1

0,23

0,41

 
2

0,25

0,37

 
3

0,31

0,33

 
4

0,26

0,37

 
5

0,26

0,39

 
6

0,24

0,39

 
7

0,27

0,36

 
8

0,25

0,38

 
9

0,23

0,38

 
10

0,27

0,36

 

Jumlah

2,57

3,74

 
Rata-rata

0,257 a

0,374 b

0,305

Ket. Huruf yang sama arah baris menunjukkan tidak berbeda nyata

 

Tabel 7 menunjukkan bahwa rata rata total pertambahan bobot yang dihasilkan  adalah 0,305 kg/ekor. Pertambahan bobot badan tersebut sesuai dengan pendapat Eusebio (1980) yaitu antara 0,22-0,35 kg/ekor/hari. Untuk perlakuan R0 diperoleh pertambahan bobot badan yang tertinggi yaitu 0,31 kg dengan rata-rata 0,257 kg sedangkan untuk perlakuan R1 diperoleh pertambahan bobot badan tertinggi yaitu 0,41kg dengan rata-rata 0,374 kg

Untuk mengetahui pengaruh pemberian 3 g ekstrak daun katuk pada ransum induk menyusui terhadap pertambahan bobot badan dilakukan uji t student yang hasilnya memperlihatkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk dalam ransum memberikan pengaruh yang nyata (p<0,05) artinya pemberian ekstrak daun katuk dapat meningkatkan pertambahan bobot badan harian anak babi yang masih menyusui.   Besar kecilnya pertambahan bobot badan  biasanya disebabkan oleh banyak faktor diantaranya litter size, bobot lahir, genetik, umur induk dan produksi susu induk. Pada induk yang diberi eksrtak daun katuk terdapat senyawa yang berfungsi merangsang putting induk babi untuk mengeluarkan air susu. Menurut Suprayogi (2000), mekanisme senyawa aktif daun katuk dalam sintesis susu dikelenjar sekretori melalui dua jalur. (1) Aksi hormonal, yaitu daun katuk dapat memodulasi hormon-hormon laktogenesis secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung melalui aksi prostaglandin dan hormon steroid, sedangkan secara tidak langsung melalui stimulasi sel-sel kelenjar pituitari untuk melepaskan hormon prolaktin dan oksitosin. (2) Aksi metabolik, yaitu melalui proses hidrolisis senyawa-senyawa aktif daun katuk yang kemudian dapat ikut serta dalam metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak.

Pemberian ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari pada induk menyusui sangat nyata meningkatkan pertambahan bobot badan. Hal ini disebabkan adanya kandungan senyawa dalam ekstrak daun katuk yang mampu meningkatkan sekresi air susu dalam ambing induk babi sehingga menghasilkan produksi susu yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Prajonngo, dkk (1983) yang menyatakan bahwa adanya kandungan sterol dalam tanaman ini mempunyai peran untuk meningkatkan air susu. Apabila susu yang dihasilkan oleh induk banyak maka akan meningkatkan pertambahan bobot badan hal ini sesuai dengan pendapat Anggorodi (1979) bahwa laju pertumbuhan ternak dari mulai lahir sampai disapih sebagian besar dipengaruhi oleh air susu yang dihasilkan oleh induknya.

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Berat Sapih

Hasil pengamatan yang dilakukan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap berat sapih babi dapat dilihat pada Tabel 8.  Diperoleh bahwa rata rata bobot sapih yang dihasilkan secara keseluruhan adalah 16,1 kg/ekor. Bobot sapih tersebut sesuai dengan bobot sapih yang dianjurkan oleh tabel NRC (1998), yakni 13-18 kg/ekor dengan umur penyapihan antara 4-6 minggu.  Berdasarkan pemberian ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari, diperoleh bobot sapih tertinggi untuk R0 yaitu 15,2 kg dengan bobot rata-rata 13,96 kg. Adapun bobot sapi tertinggi untuk R1yaitu 19,9 kg dengan bobot rata-rata yaitu 18,22 kg.

Tabel 8. Rata-rata Berat Sapih Harian Babi Periode Prestarter

Ulangan Berat Sapih Babi Prestarter (kg/ekor)

Rataan

Induk

R0

R1

1

14,2

19,9

 
2

14,9

18,0

 
3

15,2

16,4

 
4

14,4

18,3

 
5

13,0

18,6

 
6

12,3

19,0

 
7

13,4

17,5

 
8

14,4

18,3

 
9

14,3

18,8

 
10

13,7

17,4

 

Jumlah

139,6

182,2

161

Rataan

13,96 a

18,22 b

16,1

Ket. Huruf yang sama arah baris menunjukkan tidak berbeda nyata

 

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap berat sapih dilakukan uji t student memperlihatkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk dalam ransum memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap peningkatan berat sapih (p<0,01) .  Perbedaan berat sapih biasanya disebabkan oleh banyak faktor diantaranya berat lahir, banyaknya konsumsi susu, umur sapih dan produksi susu induk. Apabila produksi susu induk tinggi, maka akan meningkatkan berat anak pada saat disapih. Penyapihan yang terlalu dini akan menghasilkan frekuensi beranak lebih banyak, akan tetapi akan mengakibatkan laju pertumbuhan anak yang lambat dikarenakan anak belum terbiasa mengkonsumsi pakan secara penuh (Siagian, 1999).

Pemberian ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari pada induk menyusui sangat nyata meningkatkan berat sapih. Hal ini disebabkan adanya kandungan zat kimia dalam ekstrak daun katuk yang mampu meningkatkan sekresi air susu dalam ambing sehingga menghasilkan produksi susu yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Prajonngo, dkk (1983) yang menyatakan bahwa adanya kandungan sterol dalam tanaman ini mempunyai peran untuk meningkatkan air susu ibu (ASI) secara hormonal, karena tanaman ini mengandung sterol bersifat estrogenic.  Selain itu Suprayogi (2000) menambahkan ada tujuh senyawa yang apabila bekerja bersama sama dalam tubuh akan memacu produksi air susu ibu (ASI), meningkatkan fungsi pencernaan dan meningkatkan pertumbuhan badan. Tujuh senyawa tersebut adalah octadenoic acid, 9-eicosine; 5,8,11-heptadecatrienoic acid methyl ester; 9,12,15-octadecatrienoic acid ethyl ester; 11,14,17 eicosatrienoic acid methyl ester; androstan-17-one, 3-ethyl-3-hydroxy-5 alpha dan 3,4-dimethyl-2-oxocyclopent-3-enylacetatic acid. Dengan adanya tujuh senyawa dalam ekstrak daun katuk tersebut sehingga merangsang hormon yang ada dalam tubuh untuk memproduksi susu yang banyak sehingga kebutuhan anak dapat tercukupi. Apabila kebutuhan anak akan susu terpenuhi maka sangat baik untuk pertumbuhannya sehingga dihasilkan berat sapih yang tinggi, karena berat sapih sangat berkaitan erat dengan ketersedian air susu induk.

Ekstrak daun katuk juga memiliki kecernaan yang tinggi sehingga terkonsumsi maksimal oleh induk untuk meningkatkan fungsional hormon untuk merangsang pembentukan air susu untuk mencukupi kebutuhan anak dalam menunjang pencapaian bobot sapih yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan meskipun konsumsi induk tidak berbeda nyata antara yang diberi 3 g/ekor/hari ekstrak daun katuk dengan yang tidak diberi 3 g ekstrak daun katuk namun berat sapih yang dihasilkan sangat nyata. Hal ini didukung oleh data yang menunjukkan bahwa bobot sapih dari induk yang diberi ekstrak daun kauk lebih tinggi dibandingkan dengan bobot sapih anak dari induk yang tidak diberi ekstrak daun katuk.   Oleh sebab itu pemberian ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari terbukti sangat nyata meningkatkan berat sapih karena tingginya kecernaan dan banyaknya kandungan zat kimia dalam ekstrak daun katuk.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil penelitian dan pembahasan adalah  sebagai berikut : Pemberian ekstrak daun katuk dalam ransum sebanyak 3 g/ekor/hari tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum babi induk menyusui,  tetapi dapat meningkatkan pertambahan bobot badan harian dan  berat sapih.

Saran

  1. Pemberian Ekstrak daun katuk sebanyak 3 g/ekor/hari pada ransum induk menyusui dapat digunakan sebagai feed aditif untuk meningkatkan berat sapih.
  2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada induk babi bunting terhadap berat lahir dan mortalitas anak babi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan ternak Umum. PT Gramedia Pustaka Umum, Jakarta.

Bender, A.E., and K.S. Ismail. 1975. Nutritive value and toxicity of Malaysian food, Sauropus albicans. Plant Food Man 1:139-143.

Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI. 1981. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Bharata Karya Aksara, Jakarta.

Djojosoebagio, S.1965. Pengaruh Sauropus androgynus terhadap fungsi fisiologis dan produksi air susu. Makalah dalam Seminar Nasional, Penggalian Sumber Alam Indonesia untuk Farmasi, Jogjakarta.

Inglis, L. K. 1980. Introduction to Laboratory Animal Science and Technology. Pergamon Press Ltd., Oxford.

Malole, M. B. dan C. S. Pramono. 1989. Penggunaan Hewan Percobaan di Laboratorium. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Malik, A. 1997. Tinjauan fitokimia, indikasi penggunaan dan bioaktivitas daun katuk dan buah trengguli. Warta Tumbuhan Obat Indonesia. Vol 3. no 3. Kelompok Kerja Nasional Tumbuhan Obat Indonesia.

Muhlisah, F. 1995. Tanaman Obat Keluarga. Penebar Swadaya, Jakarta

 

National Research Council. 1998. Nutrient Requirement of Swine. National Academy Press, Washington, D.C.

Parakkasi, A. 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Penerbit: Angkasa, Bandung.

Prajonggo, T.S., W. Djatmiko, T. Soemarno, dan J.L. Lunardi. 1983. Pengaruh Sauropus androgynus (L.) Merr terhadap gambaran histology kelenjar susu mencit betina yang menyusui. Prosiding Kongres Nasional IX ISFI, Jakarta.

Sadi, N.H. 1983. Katuk sebagai Sumber Karoten dalam Makanan Tambahan Anak-anak. Puslitbang Gizi, Bogor.

 

Sa’roni., T.Sadjimin., M.Sja’bani., Zulaela. 2004. artikel : Effectiveness Of The Sauropus androgynus (l.) merr Leaf Extract In Increasing Mother’s Braest Milk Production. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Volume XIV nomor.

Sastroamidjojo. A.S., 1988. Obat Asli Indonesia. Dian Rakyat, Jakarta.

 

Sastrosupandi, A. 2007. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian. Kanisius, Yogyakarta.

Siagian, P. 1999. Manajemen Ternak Babi. Jurusan Ilmu Produksi     Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

 

Sihombing, D.T.H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Soedirdjoatmodjo, M.D. 1986. Bertanam Sayuran Daun. Karya Bani, Jakarta.

Soeseno, A. 1984. Kebun Sayur di Pekarangan Anda. Kinta, Jakarta.

Suprayogi, A. 2000. Studies Of The Biological Effect Of Sauropus androgynus L Merr: Efects On Milk Production And The Possibilities Of Induced Pulmonary Disorder In Lactating Sheep. George- August, University Gottingen Institut Fur Tierphysiologie Und Tierernahrung.

Tilman, D.A., S. Reksohadiprojo., S. Prawirokusumo., S. Lebdosoekojo., H .Hartadi, 1986. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada Univeersity Press, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ADITIVE RACTOFAMINE DAN CLENBUTEROL DALAM RANSUM TERNAK

Chinese government clamps down even more on illegal substances in pig feed
//22 Mar 2011
Henan’s authories have been ordered by a Chinese government taskforce to clamp down even more on the use of illegal substances in animal feed.
This action has been sparked by the recent headlines that exposed pigs being fed the illegal drug clenbuterol/ ractopine in order to produce leaner pig meat. Leaner meat brings in more money for producers as the price charged for the meat could be tagged as higher.

Severe punishment
A spokesperson stated that ‘those who deliberately add substances harmful to humans to pig food should be severely punished, and further added that local food safety officers who were negligent in their duties or involved in conspiring with illegal additive producers or pig farmers should also be punished in accordance with the law,’ said a report by xinhuanet.com.

It has further been discovered that a subsidiary of China’s largest meat processor Shuanghui Group used clenbuterol tainted pork in its meat products.

Ractopine
According to the Henan provincial government, new inspections are underway to focus on other additives such as ractopamine and salbutamol, which were used as alternatives to clenbuterol but were neglected in the first inspections that were carried out.

Saat ini di Cina sedang menertibkan penambahan bahan obat-obatan ( clenbuterol/ractofamine) dalam ransum babi dalam system produksinya, ini sejenis hormon yang merangsang pembentukan otot dan menurunkan lemak pada babi babi periode finisher ( pengakhiran). Dilihat dari segi keuntungan memang sangat menggiurkan karena kualitas karkas menjadi lebih baik. Akan tetapi obat ini dari beberapa literature mempunyasi efek samping diantaranya : Gangguan system reproduksi, gangguan system saraf karena obat ini sangat peka pada organ yang memunyai reseptor yang banyak seperti otak dan mata, gangguan fungsi jantung bahkan bisa mengeraskan pembuluh darah, yang ditakutin terjadi pada pembuluh darah di otak maupun di jantung.
Penelitian tingkah laku babi yang di teliti di departemen pertanian USA di peroleh bahwa babi yang mengkonsumsi obat obat ini menunjukkan penyimpangan tingkah laku seperti hiperaktif dan agresif. Oleh sebab itu marilah kita belajar kepada alam supaya hal ini tidak terjadi kepada kita. Perlu juga diwaspadai hal ini apakah sudah masuk ke dunia ternak babi dan sapi kita. Indonesia sangat kaya akan bahan alami yang bisa di terapkan untuk meningkatkan daging dan menurunkan lemak hanya perlu waktu dan kesabaran, akan tetapi menghasilkan daging yang aman.
Perlu payung hukum yang jelas untuk hal ini karena yang beresiko tetap adalah masyarakat kita yang mengkonsumsi daging tersebut. Dan semua pelaku peternakan di negeri kita duduk bersama menjaga keamanan pangan kita.

DETEKSI LOGAM BERAT PLUMBUM (Pb) DAN KADMIUM (Cd) PADA HATI DAN GINJAL BABI YANG DIPASARKAN DI PASAR TRADISIONAL WILAYAH KARAWANG

ABSTRAK

Penelitian mengenai Deteksi Logam Berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada Hati dan Ginjal Babi yang dipasarkan Di pasar Tradisional wilayah Karawang dilaksanakan di Laboratorium Kimia Bahan Alam dan Lingkungan Universitas Padjadjaran, mulai pada bulan November 2009 sampai bulan Desember 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar kandungan logam berat Pb dan Cd pada hati dan ginjal babi yang dipasarkan di Pasar tradisional wilayah Karawang . Lima belas sampel hati dan ginjal diperoleh dari pasar-pasar tradisional yang menjual daging babi di Karawang,  kemudian dianalisis menggunakan mesin AAS.  Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey.  Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah logam berat yang terdeteksi sebesar 1,4096 dan rata-rata kandungan logam berat Pb pada hati sebesar 0,2013. Jumlah logam berat Pb yang terdeteksi pada   ginjal sebesar 0,7921 ppm dengan rata-rata sebesar 0,1153 ppm. Sedangkan jumlah kandungan logam berat Cd pada hati yang terdeteksi adalah sebesar 0,4266 ppm, dengan rata-rata sebesar 0,0426 ppm. Jumlah kandungan logam berat Cd yang terdeteksi pada ginjal sebesar 0,4096 ppm dengan  rata-rata 0,0341 ppm. Kandungan logam berat Pb pada hati dan ginjal masih dibawah batas maksimum residu (BMR) yang direkomendasikan oleh POM (1998) yaitu sebesar 2,0000 ppm. Sedangkan kandungan logam berat Cd pada hati dan ginjal melebihi batas maksimum residu (BMR) yang direkomendasikan oleh EPA yaitu sebesar 0,01 ppm.

Kata kunci: Plumbum, Kadmium,Hati babi, Ginjal babi

 

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ternak babi dipelihara dengan tujuan utama untuk menghasilkan daging babi berkualitas baik dan  tinggi. Daging nilai gizi yang sangat baik yang dibutuhkan manusia, terutama untuk pertumbuhan dan perkembangan anak –anak, menjaga kesehatan tubuh dan sebagai sumber protein hewani dan energi. Daging sehat tersebut dihasilkan dari pemotongan hewan yang sehat. Daging yang akan dikonsumsi oleh manusia haruslah berasal dari hewan yang sehat serta dipotong dibawah pengawasan dan pemeriksaan petugas yang berwenang.

            Ternak babi termasuk salah satu ternak omnivorus yaitu pemakan semua bahan makanan, yang memiliki perut besar sederhana yang membutuhkan makanan konsentrat (Sihombing,1997). Babi merupakan jenis ternak pemakan berbagai jenis makanan mulai dari biji-bijian, rumput-rumputan dan makanan yang berasal dari hewan atau sisa-sisa makanan manusia dan hewan, sehingga memungkinkan bahan-bahan yang berbahaya seperti logam berat Pb dan Cd ikut masuk kedalam saluran pencernaan. Komposisi ransum yang digunakan pada ternak babi adalah wheat (gandum terigu), barley (jelay), oats (gandum haver), minyak hewan (domba, sapi), bungkil kedelai, herring (tepung ikan), bungkil kanola, garam dapur beriodin, kalsium fosfat, kalsium karbonat.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 Berdasarkan komposisi ransum tersebut dapat dilihat adanya jenis biji-bijian dan mineral fosfat yang dikonsumsi oleh ternak babi, dimana biji-bijian sebagai sumber pencemaran Plumbum (Pb), hal ini dapat terjadi diakibatkan biji-bijian yang terkontaminasi oleh debu atau udara asap kendaraan dan juga terdapat mineral fosfat yaitu sebagai sumber pencemaran Kadmium (Cd), dimana pemupukan tanah oleh fosfat mempengaruhi jumlah Cd yang terserap oleh tanaman (Darmono, 1995). Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh interaksi antara Cd dan fosfat yang bersifat antagonisme, sehingga menimbulkan hambatan terhadap aktivitas kerja enzim dan mengakibatkan toksisitas Cd. Kebanyakan toksisitas Cd terjadi karena adanya defisiensi unsur tersebut yang mengakibatkan meningkatnya absorpsi Cd (Darmono, 2001). Padi-padian dan produk biji-bijian juga biasanya merupakan sumber utama Cd (Frank, C. Lu,1995)

Berkembangnya industri-industri logam atau pertambangan dan bertambahnya jumlah kendaraan menjadi salah satu faktor meningkatnya pencemaran lingkungan. Beberapa logam berat berbahaya seperti Plumbum (Pb) dan Kadmium (Cd) merupakan sumber kontaminasi lingkungan. Dapat dikatakan bahwa setiap industri pertambangan melibatkan logam Cd dalam proses operasionalnya, begitupun dengan adanya pengaruh dari pembuangan sampah industri yang mengandung Pb, sehingga logam Cd dan Pb menjadi sumber pencemaran lingkungan.

Pemeliharaan ternak babi ini adalah untuk jenis pork (pedaging) kurang lebih 16 minggu, dan untuk jenis bacon (lemak)  kurang lebih 26 minggu (Williamson dan Payne, 1993) dalam jangka waktu tersebut dapat memungkinkan logam berat berakumulasi didalam hati dan ginjal melalui saluran pencernaan ternak babi. Melalui pencernaan yaitu pakan babi yang dapat berupa berbagai jenis makanan dapat terkontaminasi logam berat, sehingga bila pakan tersebut dikonsumsi sebagian dari logam berat tersebut terakumulasi dalam organ hati dan ginjal. Penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa hati pada ternak ayam broiler, ayam buras, dan bebek merupakan tempat akumulasi logam Pb dan Cd.

            Dalam memenuhi kebutuhan akan pangan yang baik, aman, dan dapat diterima serta bergizi, tidak semua orang mampu menilai sendiri aspek-aspek tersebut. Bahan pangan hasil ternak hanya memenuhi persyaratan keamanan pangan yaitu terhindar dari cemaran biologi, fisik dan kimia. Berkembangnya industri-industri logam/pertambangan dan bertambahnya jumlah kendaraan menjadi salah satu faktor meningkatnya pencemaran lingkungan. Karawang merupakan salah satu daerah kawasan industri yang ada di Jawa Barat, selain itu sebagian masyarakat yang tinggal dipinggiran Karawang ada yang beternak babi tradisional yang diternakkan tanpa kandang sehingga memungkinkan daging babi yang dijual dipasar tradisonal Karawang sebagian masuk dari peternakan tradisional Karawang. Beberapa logam berat berbahaya seperti logam plumbum (Pb) dan kadmium (Cd)  merupakan sumber kontaminasi lingkungan. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan tahun 1989 telah menetapkan bahwa batas maksimum residu kandungan logam berat Pb yang diizinkan pada makanan yaitu sekitar 2,00 ppm. Batas maksimum kandungan residu logam berat Cd menurut Environmental Protection Agency tahun 1985 dalam makanan sebesar 0,01 ppm

            Masuknya logam berat kedalam mahluk hidup dapat melalui pencemaran, pernafasan dan penetrasi melalui kulit, penelitian terlebih dahulu telah membuktikan bahwa hati dan ginjal pada ternak ayam merupakan tempat akumulasi logam Pb dan Cd. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh keracunan logam berat adalah anemia, gangguan pada berbagai  organ tubuh dan penurunan kecerdasan. Pengawasan yang dilakukan Pemerintah terhadap kandungan residu logam berat hanya sebatas daging dan hasil olahannya sedangkan pada organ dalam  belum menjadi perhatian Pemerintah. Pada hati, ginjal, paru-paru dan usus, masih dikonsumsi masyarakat.

Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Deteksi Logam Berat Plumbum (Pb) dan Kadmium (Cd) Pada Hati dan Ginjal Babi Di Pasar Tradisional Wilayah Karawang”.

Identifikasi Masalah

            Berapa besar kandungan logam berat Pb dan Cd pada hati dan ginjal babi yang ada dijual di  pasar tradisional wilayah Karawang.

Maksud dan Tujuan .

Mengetahui besar  kandungan residu logam berat Pb dan Cd pada  hati dan ginjal babi yang dijual di pasar-pasar tradisional di wilayah Karawang kemudian dibandingkan dengan batas maksimum cemaran logam berat Pb dan Cd yang direkomendasikan oleh Dirjen POM (1989) dan EPA (1985).

Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber informasi ilmiah mengenai besarnya kandungan residu logam berat Pb dan Cd dari hati dan ginjal babi dan kegunaan praktis dapat mengetahui apakah  logam berat Pb dan Cd dalam hati dan ginjal babi masih dalam batasan yang ditetapkan oleh Dirjen POM (1989) dan EPA (1985 .

Kerangka Pemikiran 

Ternak babi merupakan jenis ternak omnivorus yang dapat memakan berbagai jenis makanan mulai dari biji-bijian, rumput-rumputan, dan sisa makanan manusia atau hewan. Hal ini dapat menyebabkan logam berat masuk melalui saluran pencernaan melalui pakan yang dikonsumsi. Komposisi ransum ternak babi yang didalamnya terdapat biji-bijian yaitu merupakan sumber pencemaran Pb, hal ini dapat terjadi diakibatkan biji-bijian yang terkontaminasi oleh debu atau udara asap kendaraan dan juga terdapat mineral fosfat yaitu sebagai sumber pencemaran Cd, dimana pemupukan tanah oleh fosfat mempengaruhi jumlah Cd yang terserap oleh tanaman (Darmono, 1995). Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh interaksi antara Cd dan fosfat yang bersifat antagonisme, sehingga menimbulkan hambatan terhadap aktivitas kerja enzim dan mengakibatkan toksisitas Cd. Kebanyakan toksisitas Cd terjadi karena adanya defisiensi unsur tersebut yang mengakibatkan meningkatnya absorpsi Cd (Darmono, 2001). Padi-padian dan produk biji-bijian juga biasanya merupakan sumber utama Cd (Frank, C. Lu,1995). Sumber air juga dapat menjadi salah satu penyebab adanya kandungan logam berat dalam tubuh ternak ini. Akumulasi logam berat yang tertinggi biasanya dalam organ detoksikasi (hati) dan ekskresi (ginjal), (Darmono, 2001). Pada hewan yang mempunyai kadar Pb lebih dari 10 ppm pada hati menandakan bahwa hewan tersebut mengalami keracunan (Clarke, 1975). Absorpsi Pb pada hewan yang muda lebih tinggi dibandingkan yang tua (Piskac, 1981). Akumulasi Pb dan Cd dapat terjadi dalam tubuh manusia dan ternak.

Toksisitas logam berat pada manusia menyebabkan beberapa akibat negatif, tetapi yang terutama adalah kerusakan jaringan, terutama jaringan detoksikasi dan ekskresi (hati dan ginjal). Beberapa penyakit yang disebabkan oleh keracunan logam berat adalah anemia, gangguan pada berbagai organ tubuh dan penurunan kecerdasan. Anak-anak merupakan golongan yang beresiko tinggi keracunan logam berat. Hal ini disebabkan organ-organ tubuhnya masih dalam taraf perkembangan sehingga penyerapan logam berat pada saluran pencernaan lebih tinggi. Pada orang dewasa, penyerapan logam berat lebih rendah pada saluran pencernaannya, tetapi hal ini tergantung dari ukuran partikel, daya larut, dan status gizi (Hayes, 2001).

Timbal atau plumbum (Pb) adalah metal kehitaman yang merupakan bahan baku untuk pembuatan alat-alat listrik seperti aki, baterai, juga digunakan untuk melapisi logam lain untuk mencegah terjadinya korosif. Logam Pb dapat mencemari lingkungan udara yang sangat tinggi disebabkan logam Pb merupakan hasil samping dari pembakaran kendaraan bermotor (Darmono, 1995), serta logam berat Pb dapat masuk ke dalam badan perairan yaitu melalui pengkristralan Pb di udara dengan bantuan air hujan (Heryando, 2004). Timbal merupakan logam toksik yang bersifat kumulatif. Toksisitas Pb pada anak-anak dalam dosis yang kecil dan berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan neurotoksik (racun saraf) dan kelainan tingkah laku. Keracunan Pb walaupun tidak menunjukkan gejala keracunan tetapi pengaruhnya sangat mengkhawatirkan, baik berupa penurunan neurobehaviour maupun daya intelektualitasnya (Darmono, 1995).

Toksisitas Pb pada anak umur sekitar 2 tahun ialah 45% berasal dari makanan yang terkontaminasi logam berat (Darmono, 2001). Bayi dan anak-anak lebih peka terhadap toksisitas Pb dari pada orang dewasa, yang disebabkan mereka memilki absorpsi Pb lebih intensif. Organ otak, hati dan ginjal masih relatif muda dan masih terus berkembang dan mereka mengkonsumsi makanan lebih banyak untuk setiap unit berat badannya (Darmono, 2001). Tingkat kecerdasan (IQ) akan menurun pada anak yang kadar Pb dalam darahnya tinggi, dan ternyata hal tersebut juga berpengaruh terhadap orang dewasa, terutama pada wanita hamil dan menyusui (Darmono, 2001). Anak-anak yang lahir dari ibu yang memiliki kadar Pb yang tinggi dalam darahnya menyebabkan bobot bayi yang dilahirkan lebih rendah daripada yang normal (Darmono, 2001). Rata-rata intake logam Pb per hari sekitar 0,3 mg (Darmono,1995). Menurut FAO/WHO batas konsumsi harian logam Pb adalah 3,5 μg/kg atau 0,0035 ppm dari berat badan (Claeys dkk, 2003). Logam berat Pb yang masuk dalam tubuh berasal dari makanan, salah satunya produk hati yang dilaporkan masih memiliki kandungan Pb 150μg/kg atau 0,15 ppm

(Winarno dan Rahayu, 1994).

Logam Kadmium (Cd) adalah metal berbentuk kristal putih keperakan dan biasa terdapat pada industri alloy, pemurnian Zn, pestisida (Juli, 2000). Jumlah Cd yang diserap oleh tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk pH tanah, kandungan mineral lain (Ca) dan pemupukan tanah oleh fosfat (Darmono, 1995). Menurut Linder (1992) ada dua fenomena yang akan menunjukkan bahwa Cd tidak esensial untuk tubuh karena: (1) sangat sukar dipindah ke dalam fetus melewati plasenta; (2) sukar dikeluarkan dalam tubuh. Pada mahluk hidup Cd tidak memiliki peranan gizi, malah berdampak racun dalam jumlah yang sedikit (Darmono, 1995). Kadmium masuk dalam tubuh mahluk hidup melalui dua jalan yaitu saluran pencernaan (pakan) dan saluran pernafasan (udara), setelah Cd diabsorpsi dalam tubuh kemudian didistribusikan kedalam darah ke berbagai jaringan, terutama terakumulasi dalam hati dan ginjal. Dua organ tersebut merupakan deposit Cd dalam tubuh yang jumlahnya 50% dari total Cd yang ada dalam tubuh. Logam ini tertimbun dalam jaringan sangat lambat untuk dilepas kembali. Kandungan Cd akan meningkat di dalam organ tersebut sesuai dengan bertambahnya umur, yang berada dalam tubuh tidak mudah diuraikan karena Cd merupakan logam berat yang memilki waktu paruh yang panjang yaitu sekitar 20-30 tahun, sehingga selama itu pula Cd akan bertahan dalam tubuh manusia. Manusia mengkonsumsi Cd dalam keadaan normal pada makanan berkisar antara 0,21-0,42 mg per minggu (Peter dkk, 1995). Mudah meresap kedalam tanah dan air, dari tanah dan air tersebut  kemudian masuk kedalam tumbuhan dan hewan melalui mata rantai makanan. Sumber Cd selain berasal dari tanah, air juga dari makanan (Peter dkk, 1995).

Logam berat Pb dan Cd kemungkinan besar akan terakumulasi pada hati babi, mengingat ayam broiler dengan pemeliharaan yang intensif dengan pola makan yang teratur masih dilaporkan dalam hatinya memiliki kandungan logam berat Pb dan Cd (Ellin, 2002). Hati beserta kantung empedu pada ternak babi berperan penting dalam pencernaan, empedu juga membantu pengaturan isi usus agar berjalan normal. Hati bertugas sebagai tempat penyimpanan berbagai zat makanan, seperti vitamin A dan glikogen. Hati juga sanggup mendetoksikasi bahan-bahan racun dan mendeaminasi beberapa asam amino, juga bertugas mendesintegrasi sel-sel darah merah yang tidak terpakai lagi. Penggunaan lemak sebagai energi juga adalah oleh pekerjaan hati (Sihombing, 1997).

Upaya terbaik dalam menghindari timbulnya pencemaran logam berat Pb dan Cd yang terdapat didalam organ akumulator yaitu hati ini adalah melalui pemeliharaan ternak babi ini, perlu diperhatikan terutama dalam masalah pakan dan sumber air yang dipergunakan agar terhindar dari pencemaran logam berat Pb dan Cd.

Mengingat akan adanya bahaya logam berat, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan tahun 1989 telah menetapkan bahwa batas maksimum residu kandungan logam berat Pb yang diizinkan pada makanan yaitu sekitar 2,00 ppm. Batas maksimum kandungan residu logam berat Cd menurut Environmental Protection Agency tahun 1985 dalam makanan sebesar 0,01 ppm.

Lokasi dan Waktu Penelitian

            Persiapan penelitian ini adalah pengambilan sampel hati dan ginjal babi dari pasar kemudian dilakukan analisis di Laboratorium kimia Bahan Alam dan Lingkungan FMIPA, jurusan kimia Unpad. Jalan Singaperbangsa Bandung. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2009.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

 

Bahan dan alat Penelitian

            Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hati dan ginjal babi yang dipotong di Pasar tradisional di Karawang Jawa Barat, yang berasal dari peternakan babi dari Solo, Kuningan dan Lampung kemudian dipotong yang disebar ke pasar-pasar tradisional didaerah Karawang.

 

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan sampel hati dan ginjal babi yang dipasarkan

di pasar wilayah Karawang, yaitu Pasar Bojong, Pasar Karawang, Pasar Johar,  dengan ulangan dilakukan sebanyak 5 kali. Hati dan ginjal babi yang dijadikan sampel secara keseluruhan adalah 15hati dan 15 ginjal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, dan data hasil penelitian ini dianalisis secara deskriptif. Jumlah rata-rata Pb dan Cd dari sampel yang diteliti kemudian dibandingkan dengan batas maksimum cemaran logam berat Pb dan Cd yang direkomendasikan oleh SNI dan EPA.

Teknik Pengambilan Sampel

Setiap pedagang akan diambil sampel sebanyak 100 gr hati babi segar dan ginjal untuk analisis Pb dan Cd. Dari hati dan ginjal babi tersebut diambil sebanyak 5 gr untuk analisis Pb dan Cd. Banyaknya ulangan yang dilakukan sebanyak 5 kali. Hati dan ginjal babi yang dijadikan sampel secara keseluruhan masing-masing 15.  Hati dan ginjal babi yang digunakan sebagai sampel analisis Pb selanjutnya dimasukan kedalam plastik yang telah diberi label P dan untuk sampel analisis Cd diberi label K untuk kemudian disimpan didalam termos yang telah berisi es dengan suhu ± 4oC. Data hasil penelitian ini dibahas secara deskriptif kemudian dibandingkan dengan batas maksimum cemaran logam berat Plumbum (Pb) dan Kadmium (Cd) yang direkomendasikan oleh SNI dan EPA.

Peubah Yang Diamati

Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah kandungan residu logam berat Pb dan Cd hati dan ginjal babi mentah yang dijual di pasar tradisional diwilayah Karawang.

Prosedur Penelitian (Darmono, 2001)

           Alur tahapan penelitian yang dilakukan pada bahan yang diduga mengandung kandungan logam berat Pb dan Cd yaitu pada hati dan ginjal babi yang dijual dipasar tradisional diwilayah Karawang adalah :  

1. Pengumpulan sampel.

Pengumpulan sampel berasal dari pedagang di Pasar Bojong, Pasar             Karawang dan Pasar Johar dari tiap pedagang menjual 1 potong hati dan ginjal babi dilakukan 5 kali ulangan. Jumlah sampel keseluruhan yaitu 15 hati dan 15 ginjal (kiri dan kanan) diperoleh dari 15 ekor jumlah babi yang dipotong.

2. Pengujian kandungan logam berat pada hati dan ginjal babi.

 Setelah sampel terkumpul dilakukan pengujian kandungan logam berat Pb dan 

 Cd dengan prosedur kerja sebagai berikut :

Prosedur Kerja :

  1. Persiapan sampel yaitu menimbang berat basah kemudian di oven dengan suhu 1050C sampai kering, kemudian ditimbang berat kering sampel. Masing-masing sampel dipisahkan dan  diberi label.
  2. Penyucian alat-alat, semua peralatan yang terbuat dari gelas dicuci, dibilas dengan aquades dan aquabides, ditiriskan, dikeringkan, dibungkus kemudian disimpan.

 

  1. Analisa kandungan Pb dan Cd yaitu masing-masing sampel yang telah diberi kode dimasukkan ke dalam erlenmeyer sebanyak 5 gr setiap sampelnya. Tahapan ekstraksi yaitu 5 gr hati dan 5 gr ginjal masing-masing ditambahkan 10 ml HNO3 (asam nitrat) dan 5 ml H2SO4, .  kemudian destruksi diatas hot plate dalam ruang asam selama 10 jam dengan suhu 1150C. Disaring dengan whatman 41 dan didapat filtrat jernih, simpan ke dalam labu volumetrik + aquades 10 ml lalu pindahkan ke dalam tabung reaksi dan diukur kandungan Pb dan Cd dengan mesin AAS

Perhitungan AAS yaitu :

Kadar logam (ppm) = a x v / w

a = Konsentrasi larutan sampel (ppm)

v = Volume ekstrak/pengenceran (10 ml)

w = Berat sampel (gr)

Prinsip kerja mesin AAS adalah :

      AAS (AA-6300 Shimadzu Atomic Absorption  Spectrophotometry)

adalah merupakan salah satu metoda analisis yang dapat digunakan untuk menentukan unsur-unsur logam di dalam suatu bahan dengan kepekaan tinggi berdasarkan (absorbance) radiasi resonansi oleh atom bebas unsur tersebut. Berdasarkan penguapan larutan sampel, kemudian logam yang terkandung didalamnya diubah menjadi atom bebas. Sampel diatomisasi pada alat atomizer melalui nyala api dengan bahan bakar asetilen murni. Atom tersebut mengabsorpsi radiasi dari sumber cahaya yang dipancarkan dari lampu katoda (hollow cathode lamp) yang mengandung unsur yang ditentukan. Banyaknya penyerapan radiasi kemudian diukur pada panjang gelombang tertentu menurut jenis logamnya, dengan Pb 283, 3 nm dan Cd 228,8 nm. Kepekaan pengukuran akan maksimal bila diperoleh populasi atom yang tersebar dalam nyala dan terjadi pada suhu optimal (Darmono, 1995).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Kandungan Mineral Pb pada Hati dan Ginjal Babi

 

Tabel 1. Deteksi Logam Pb pada Hati dan Ginjal Babi (ppm)

Ulangan Pb dalam Hati Pb dalam Ginjal
 

1

0 0,0062
2 0 0
3 0 0
4 0,1897 0
5 0 0
6 0 0,2397
7 0,3170 0
8 0,4355 0,0230
9 0 0,0583
10 0,125 0
11 0 0,0832
12 0,0542 0,0687
13 0,0109 0
14 0 0
15 0,2775 0,3130
Jumlah 14,096 0,7921
Ratarata 0,2013 0,1131

 

Tabel 1. Deteksi Logam berat Pb yang dilakukan pada hati dan ginjal babi ternyata positif mengandung logam berat Pb, namun semua sampel yang diuji masih dibawah batas maksimum yang direkomendasikan atau ditentukan oleh Dirjen POM (1998) yaitu sebesar 2,0000 ppm. Rata-rata kandungan logam berat Pb pada hati dan ginjal (kiri dan kanan) babi pada keseluruhan pasar yang diambil sampelnya adalah sebesar 0,2013 ppm dan pada ginjal sebesar 0,1131. Ini menunjukkan bahwa jumlah kandungan Logam berat Pb yang paling banyak tersebar terdapat di organ hati. Jumlah sampel yang terdeteksi logam berat Pb pada hati dan ginjal adalah 14 sampel dari 30 sampel keseluruhan yaitu diantaranya 7 sampel hati dan 7 sampel ginjal. Sampel hati dan ginjal yang diuji tersebut diambil dari 3 pasar yang ada di wilayah Karawang diantaranya pasar Bojong dimana sumber daging babi berasal dari peternakan di Solo. Kemudian pasar Karawang, sumber daging babi berasal dari peternakan tradisional yang ada di Karawang dan peternakan Kuningan serta  pasar Johar, daging babi berasal dari Sumatera yaitu Lampung. Semua daging dikirim melalui bandar pada pagi hari.

Residu Logam berat Pb yang terdeteksi disebabkan dari beberapa sumber. Absorpsi Pb pada hewan yang muda lebih tinggi dibandingkan yang tua (Piskac, 1981).   Air merupakan salah satu sumber yang dapat menjadi salah satu penyebab adanya kandungan logam berat dalam tubuh ternak ini. Akumulasi logam berat yang tertinggi biasanya dalam organ detoksikasi (hati) dan ekskresi (ginjal), (Darmono, 2001). Masuknya logam berat melalui air dapat terjadi ketika ternak membutuhkan air untuk minum. Hal ini sejalan dengan pendapat Heryando (2004) bahwa pencemaran pada air oleh logam berat Pb dapat terjadi oleh pengikisan logam berat pada pipa ledeng ataupun logam berat yang mengendap didalam badan perairan. Walaupun hasil yang diperoleh masih dibawah maksimum pada setiap pedagang maupun konsumen harus mewaspadai akan terjadinya proses pencemaran oleh Logam berat Pb, karena logam ini nyata dapat membuat dampak negative bagi tubuh manusia yang mengkonsumsinya.

Hal ini sesuai dengan pendapat Darmono (2001) bahwa tumbuhan jenis legumes untuk pakan ternak dan sayuran dapat mengakumulasi logam berat Pb dalam jumlah yang cukup besar. Tercemarnya sayuran dan pakan hijauan ternak oleh logam berat Pb merupakan sumber utama terjadinya pencemaran pada hewan ternak sehingga hati dan ginjal yang dihasilkan mengandung logam berat Pb.

Kandungan Mineral Cd pada Hati dan Ginjal Babi

Tabel 2. Deteksi Logam Berat Cd pada Hati dan Ginjal Babi (ppm)

Ulangan Cd dalam Hati Cd dalam Ginjal
 

1

0,0072 0
2 0 0
3 0 0,0310
4 0,0654 0,0875
5 0,0562 0,0345
6 0 0,0022
7 0,1932 0,0480
8 0,0360 0,0477
9 0,0225 0,0165
10 0,0257 0,0260
11 0 0,0127
12 0,0077 0,0375
13 0,0065 0,0250
14 0,0062 0,0410
15 0 0
Jumlah 0,4266 0,4096
Ratarata 0,0426 0,0341

 

Tabel 2. deteksi logam berat Cd yang dilakukan pada hati dan ginjal babi ternyata positif mengandung logam berat Cd. Semua sampel yang diuji diatas batas yang ditentukan oleh EPA (1985) yaitu sebesar 0,01 ppm. Rata-rata kandungan logam berat Cd pada hati dan ginjal babi adalah 0,0426 ppm dan pada ginjal sebesar 0,0341 ppm.  Ini menunjukkan bahwa jumlah kandungan logam berat Cd yang paling banyak tersebar terdapat di organ hati. Kandungan logam berat Cd pada hati dan ginjal babi  lebih kecil daripada jumlah logam berat Pb yang diuji sebelumnya, namun logam berat Cd masih dibawah batas aman yang ditentukan oleh EPA (1985).

Tingginya logam berat Cd pada hati dan ginjal babi dapat disebabkan beberapa sumber diantaranya pakan yang diberikan seperti biji-bijian, rumput atau hijauan. Hal ini dapat terjadi karena ternak tersebut berasal dari wilayah disekitarnya berupa areal persawahan yang letaknya di pinggir jalan sehingga banyak dilewati oleh kendaraan dan merupakan kawasan industri sehingga pakan yang dikonsumsi oleh ternak tersebut yang berasal dari bijian, rumput maupun hijauan dapat terkontaminasi oleh logam berat Cd. Sebagian Ternak yang dipotong dan dipasarkan berasal dari peternakan rakyat yang berada di Karawang. Karawang merupakan salah satu kawasan Industri, sedangkan peternakan babi rakyat di Karawang masih tergolong peternakan yang pola pemeliharaanya masih tradisional, dimana banyak peternak menggembalakan  ternak babi dengan pemeliharaan lepas.

Pencemaran logam berat Cd pada hati juga dapat bersumber dari air.   Faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya pencemaran oleh logam berat Cd pada hati babi yaitu berasal dari banyaknya penggunaan peralatan yang terbuat dari logam Cd seperti keramik dan plastic berwarna kuning sampai coklat tua. Selain itu lamanya waktu paruh dari logam Cd hingga bertahun-tahun membuktikan  bahwa logam tersebut berikatan kuat dengan protein sehingga sulit untuk dikeluarkan dengan pemanasan. Hal ini sesuai dengan pendapat Darmono (2001) bahwa sifat dari logam Cd yaitu dapat membentuk ikatan yang kuat dengan protein membentuk metaloenzim yang bersifat irreversible (tidak mudah lepas).

Oleh karena itu, hasil yang diperoleh dari pengujian kandungan logam berat Cd pada hati babi yang di pasarkan dipasar-pasar tradisional di wilayah Karawang diatas batas maksimum yang ditentukan oleh EPA (1985) yaitu 0,0100 ppm. Hasil analisis pada hati babi yang dipasarkan di pasar-pasar tradisional A dan pasar B wilayah Karawang diperoleh diatas batas maksimum, sehingga para pedagang maupun para konsumen harus tetap mewaspadai akan terjadinya proses pencemaran oleh logam berat Cd, karena logam ini nyata dapat membuat dampak negativ bagi tubuh manusia yang mengkonsumsinya. Kadmium masuk dalam tubuh mahluk hidup melalui dua jalan yaitu saluran pencernaan (pakan) dan saluran pernafasan (udara), setelah Cd diabsorpsi dalam tubuh kemudian didistribusikan kedalam darah ke berbagai jaringan, terutama terakumulasi dalam hati dan ginjal. Dua organ tersebut merupakan deposit Cd dalam tubuh yang jumlahnya 50% dari total Cd yang ada dalam tubuh. Logam ini tertimbun dalam jaringan sangat lambat untuk dilepas kembali.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis kandungan residu logam Pb dan Cd pada hati dan ginjal babi ternyata masih banyak mengandung logam berat  terutama logam Cd yang melebihi batas maksimum kandungan logam berat yang dikeluarkan oleh EPA (1985) pada hati dan ginjal babi.

Saran

Sebaiknya perlu perhatian dalam keseimbangan gizi dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung sumber mineral kalsium (ca), besi (Fe) dan protein. Kalsium, besi, dan protein dalam absorpsinya dapat menurunkan absorpsi Pb dan Cd sehingga daya toksisitas Pb dan Cd menjadi berkurang dalam tubuh.

DAFTAR  PUSTAKA

Claeys, F., C. Sykes, C. Limbos, dan G. Ducoffre. 2003. Childhood Lead    Poisoning In Brussels Prevalence Study and Etiological Factors. Scientific    Institute of Public Health, Belgium. J.Phys.IV France 107.

 

Clarke, E.G.C. dan Myra. L. Clarke. 1975. Veterinary Toxicology. Macmillan Publishing. Co.Inc, New York.

 

Darmono. 1995. Logam dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. UI-Press, Jakarta.

————. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran Hubungannya dengan Toksikologi Senyawa Logam. UI-Press, Jakarta.    

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan. Nomor: 03725/B/SK/VII/89. Tentang Batas Maksimum Cemaran Logam Dalam Makanan.

Ellin, Harlia. 2002. Aspek Keamanan Pangan Dari Produk Rumah Pemotongan Ayam. Disertasi. Universitas Padjadjaran, Bandung. 

Frank C, Lu. 1995. Toksikologi Dasar (Asas, Organ sasaran, Dan Penilaian Risiko). Edisi Kedua. Penerjemah Edi Nugroho. UI-Press, Jakarta.

Hayes, A. Wallace. 2001. Principles and Methods of Toxicology. Edisi Keempat. The Gillette Company Boston, Massachusetts.

Heryando, Palar. 2004. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Linder, Maria C. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme Dengan Pemakaian Secara Klinis. Kata Pengantar Hamish H. Munro. UI-Press, Jakarta.

Piskac, Alois. 1981. Veterinary Toxicology. University of Veterinary Medicine        Czechoslovakia, Elsevier Scientific Publishing Company Amsterdam-  Oxford-New York.

Sihombing. D. T. H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Undang-Undang Pangan R. I. 1997. Undang-undang Pangan No. 7. Tahun 1996.     Sinar Grafika, Jakarta..

 

Williamson. G. dan W.J.A Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Edisi Ketiga. Penerjemah SGN Djiwa Darmadja. Gadjah Mada University Press.

 

Winarno. F. G. & Titi Sulistyowati Rahayu. 1994. Bahan Tambahan Untuk                     Makanan Dan Kontaminan. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta

 

Curcumin dalam Ransum Babi Sebagai Pengganti Antibiotik Sintetis untuk Perangsang Pertumbuhan

ABSTRAK

Penelitian mengenai “Pemberian Curcumin dalam Ransum Babi sebagai      Pengganti Antibiotik Sintetis untuk Perangsang Pertumbuhan dilaksanakan pada bulan November 2008 sampai Juni 2009 . Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penelitian dan Teaching Farm Ternak Babi, Kecamatan Cisarua, Bandung, Laboratorium Nitrisi Fapet Universitas Padjadjaran  Bandung Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan dosis penggunaan Curcumin yang memberikan pengaruh setara dengan antibiotika Virginiamycin sebagai perangsang pertumbuhan pada babi.  Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas lima perlakuan ransum (Rvm :50 ppm virginiamicin,  R0 : tanpa virginiamicin dan curcumin, R: 120 ppm curcumin, R2: 160 ppm curcumin dan R3: 200 ppm curcumin), tiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Jadi jumlah ternak yang digunakan adalah 25 ekor babi starter umur 2 bulan dengan bobot badan 18 kg dan koefisien variasi 6,33%.  Berdasarkan hasil analisis statistika menunjukkan bahwa pemberian curcumin dalam ransum sebanyak 160 ppm memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kecernaan energi, kecepatan laju makanan, Pertambahan Bobot Badan, Konversi ransum dan  waktu mencapai bobot potong.  Penggunaan curcumin dalam ransum sampai dosis 160 ppm bisa digunakan sebagai perangsang pertumbuhan menggantikan antibiotik sintetis.

 

Kata Kunci :  Curcumin, Virginiamicin,  Babi, Antibiotik

 

ABSTRACT

Research on the effect of pig ration containing curcumin to replace sintetic antibiotic as growth promotor has been conducted from November  2008 to Juni  2009 in laboratory research and teaching farm KPBI (Koperasi Peternak Babi Indonesia), Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung, Laboratory Nutrition of Faculty Animal Husbandry University of Padjadjaran. The purpose of this research is to study the effecive dosage of curcumin in comparable with virginiamycin as growth promotor in pig.   Parameters which measured in this research were digestible energy, rate of passage of feed,   live weight gain, feed efficiency and  time length to slaugter weight. This research used method of eksperimental Completely Randomized Design (CRD) consist of five treatments (Rvm: 50 ppm virginiamicin, R0 : without virginiamicin and curcumin, R1: 120 ppm curcumin, R2: 160 ppm curcumin and R3: 200 ppm curcumin),  where every treatment repeated by five times. This research was using 25 starter period pigs,  2 months old with average body weight 18 kg and variation coefficient 6,33%.   The result of this research showed that giving curcumin as feed additive 160 ppm in pig ration showed significant effect on digestible energy, rate of passage of feed,   live weight gain, feed efficiency and  time length to slaugter weight can replace virginiamicin as growth promoter.

 

Key Word :  Curcumin, Virginiamicin,  Pig, Antibiotic

PENDAHULUAN

 

          Penggunaan senyawa antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (growth promotor)  dalam ransum ternak telah menjadi perdebatan sengit para ilmuan akibat efek buruk yang ditimbulkan bagi konsumen seperti residu dan resistensi. Survey AVA Singapore menemukan daging babi dari Rumah Potong Hewan (RPH) di Indonesia mengandung residu antibiotik sebesar 53,7% dan 3,04% melebihi batas maksimum level yang dianjurkan oleh WHO.  Rusiana (2004) menemukan 85% daging dan 37% hati dari 80 ekor ayam broiler di pasar Jabotabek tercemar residu antibiotik tylosin, penicilin, oxytetracycline dan kanamicin. Samadi (2004) melaporkan penggunaan antibiotik terus menerus pada unggas di North Carolina (Amerika Serikat)mengakibatkan bakteri Escherichia coli resisten terhadap Enrofloxacin, sehingga rekomendasi penggunaan antibiotik dalam pakan pada tahun 50-an sekitar  5 – 10 ppm sekarang telah meningkat sepuluh sampai 20 kali lipat. 

 

Hamscher dkk. (2003) menemukan debu yang berasal dari bedding, pakan dan feses peternakan babi di Jerman, 90% dari sampel yang diambil mengandung  12,5 mg/kg residu antibiotik tylosin, tetracycline, sulfamethazine dan chloramphenicol, kontaminasi udara ini akan mengganggu pernapasan hewan atau manusia yang hidup di sekitar kandang.  Komisi Masyarakat Uni Eropa sejak tanggal 1 Januari 2006 (Regulasi No. 1831/2003) melarang penggunaan antibiotik Avilamycin, Avoparcin, Flavomycin, Salinomycin, Spiramycin, Virginia-mycin, Zn-Bacitracin, Carbadox, Olaquindox, dan Monensin dalam ransum ternak.  

Berdasarkan  beberapa fakta tersebut maka berbagai upaya dilakukan untuk mencari pengganti antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan.  Kunyit dan Temu Lawak adalah tanaman rempah yang memiliki bahan aktif curcumin tergolong senyawa fenol yang dapat mengganggu pembentukan membran sel pada beberapa bakteri patogen seperti Salmonella dan Escherichia coli, selain  itu curcumin juga mampu meningkatkan sekresi kelenjar liur, empedu, lambung, pankreas dan usus.   Beberapa hasil penelitian  pemberian  curcumin sebagai pemacu pertumbuhan diantaranya adalah Al-Sultan (2003) yang hasinya menunjukkan bahwa pemberian tepung kunyit 0,5% dalam ransum  ayam broiler menghasilkan pertambahan bobot badan dan konversi ransum yang baik serta meningkatkan jumlah sel eritrosit dan leukosit.  Sinaga (2003) melaporkan bahwa  pemberian 0,4 % tepung kunyit dalam ransum  babi menghasilkan  efisiensi pakan yang tinggi. Tujuan Penelitian ini adalah menjajaki penggunaan curcumin sebagai pengganti antibiotika dalam ransum babi sebagai pemacu pertumbuhan dan menguji efektivitas curcumin dalam upaya menggantikan antibiotika sebagai pemacu pertumbuhan dalam ransum babi. 

       

METODE PENELITIAN

 

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kandang  Teaching Farm Koperasi Peternakan Babi Indonesia (KPBI) Kabupaten Bandung. Pelaksanaan penelitian dimulai dengan periode adaptasi (14 hari), periode pemberian ransum (6 bulan), dan periode koleksi (1 bulan).

 

Bahan dan Alat Penelitian

Ransum yang digunakan dan kandungan zat makanan disajikan pada Tabel 1. Ternak yang digunakan dalam penelitian adalah  25 ekor babi lepas sapih dengan rataan bobot badan 18 kg dengan koefisien variasi 6,33%.  Alat yang digunakan adalah kandang individual  dengan tempat air minum dan tempat pakan. Timbangan kapasitas 10 dan 150 kg masing masing digunakan untuk menimbang ransum dan babi, Timbangan duduk berkapasitas 3 kg dengan tingkat ketelitian 0,01 kg, digunakan untuk menimbang ransum sisa dan feses babi. Timbangan Sartorius dengan ketelitian 0,2 g, digunakan untuk menimbang curcumin. Kantong plastik untuk tempat menampung ransum dan sisa ransum dan menampung feses.

 

Rancangan Percobaan

Penelitian ini  menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas lima perlakuan ransum (Tabel 1) masing-masing dengan lima ulangan. Peubah yang diukur adalah konsumsi harian, pertambahan bobot badan, konversi ransum,  kecernaan protein, energi dan laju makanan serta analisis finansial.

Pelaksanaan Penelitian

Periode Adaptasi

Babi ditimbang untuk mengetahui bobot awal kemudian ditempatkan pada kandang individu secara acak dan babi diberi obat cacing, selanjutnya babi diadaptasikan selama 14 hari dengan ransum percobaan. Tempat makan dan kandang dibersihkan dua kali sehari pagi pukul 7.00 dan siang hari pukul 12.00. Air minum diberikan ad libitum dan pemberian ransum dilakukan tiga kali sehari (pukul 7.30, 12.30 dan 15.30) sesuai dengan kebutuhan babi. Selama periode adaptasi dilakukan pengamatan terhadap perilaku ternak, terutama perilaku konsumsi yang memperlihatkan gejala keracunan curcumin.

Periode Pemberian Ransum

Pada akhir periode adaptasi babi ditimbang untuk mengetahui bobot awal, selanjutnya penimbangan babi dilakukan setiap dua minggu sekali yang dilakukan pada pagi hari sebelum babi diberi makan. Setiap pagi pukul 6.30 sebelum pemberian ransum, dilakukan penimbangan sisa ransum yang tidak termakan.   Koleksi feses dilakukan setiap hari selama seminggu. Sampel feses harian dikeringkan dalam oven suhu 55oC selama 96 jam lalu digiling halus. Sampel harian feses dikumpulkan berdasarkan individu babi, selanjutnya masing-masing sampel hasil pengumpulan tersebut diambil sebanyak 5% dan disimpan dalam lemari es untuk keperluan analisa laboratorium.

Tabel 1. Komposisi Pakan dalam Ransum dan Kandungan Zat Makanan Ransum Basal

  Periode Pertumbuhan
Komposisi Bahan Makanan (%) Starter NRC 98 Grower NRC 98
Jagung lokal 55,00   52,78  
Tepung Ikan 10,00   5,00  
Bungkil Kedelai 13,00   10,00  
Dedak Padi 21,00   31,00  
Premix 0,20   0,20  
Tepung Tulang 0,78   1,00  
L-Lisin HCl 0,02 0.02
Total 100,00   100,00  
 

Komposisi Nutrisi

Bahan Kering (%)

 

88,45

 

-

 

89,50

 

-

Protein Kasar % 18,69 18,00 15,99 15,50
Energi Metabolisme (kkal/kg) 3146,77 3165,00 3121,80 3165,00
Lisin (%) 1,05 0,77 0,72 0,61
Metionin (%) 0,36 0,21 0,21 0,17
Serat Kasar (%) 5,81 5,00 5,84 5,00
Lemak Kasar (%) 5,00 0,60 6,10 0,50
Calsium (%) 0,62 - 0,52 -
Phosfor (%) 0,82 0,50 0,72 0,45

Keterangan : NRC = National Research Council

Ransum Perlakuan :   Ro        : Ransum basal (tanpa curcumin maupun virginiamicin)

                                 Rvm     : Ro ditambah  virginiamicin  50 ppm

                                 R1        : Ro ditambah  120 ppm curcumin

                                 R2        : Ro ditambah  160 ppm curcumin

                                 R3        : Ro ditambah  200 ppm curcumin

Pengukuran kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan, dilakukan dengan penambahan indikator Cr2O3 sebanyak 0,2%/kg ransum, dan pengukuran dilakukan setelah indikator muncul bersama feses beberapa jam setelah diberikan (Sihombing, 1997).  Khusus pada pengukuran kecernaan energi dan protein, feses yang diperoleh disemprot dengan larutan asam borat 5% sebelum dilakukan pengeringan dengan tujuan untuk mencegah nitrogen yang hilang karena penguapan yang diakibatkan oleh aktivitas mikroorganisme dalam feses.

Konsumsi ransum harian diperoleh dari banyaknya ransum yang dikonsumsi selama penelitian dibagi dengan jumlah hari mencapai bobot potong 90 kg.  Pertambahan berat badan harian diperoleh dari hasil penimbangan babi saat mencapai bobot potong  90 kg, dikurangi dengan penimbangan bobot badan awal,  dibagi dengan jumlah hari mencapai bobot potong.  Konversi ransum diperoleh dari hasil bagi antara konsumsi ransum harian dengan pertambahan berat badan harian dalam satuan waktu yang sama.

 

Analisis  Laboratorium

Subsampel ransum dan feses yang telah digiling halus dari masing masing perlakuan,  dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC selama 12 jam untuk menentukan kadar bahan keringnya. Total nitrogennya ditentukan dengan metode Kjeldahl dan kandungan  energi dengan bom kalorimeter.  Kecernaan energi dan protein dihitung dengan menggunakan rumus Schneider dan Flatt (1975) sebagai berikut:

 

            Kecernaan Energi  = (Energi Konsumsi – Energi Feses)  x 100

                                                            Energi Konsumsi

           Kecernaan Protein  = (Protein Konsumsi  – Protein Feses) x100

                                                            Protein Konsumsi

 

Analisis Data

Data yang diperoleh, kemudian dianalisis dengan sidik ragam atau analysis of variance (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh perlakuan, dan uji lanjut Duncan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan (Steel dan Torrie,  1989).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pengaruh Perlakuan terhadap Kecernaan Protein

Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap kecernaan protein pada babi dapat dilihat pada Tabel 2. Rataan kecernaan protein adalah 71,27±6,79% masih dalam kisaran normal bagi babi ras yang mendapat perlakuan ransum yang seimbang, sesuai dengan pendapat Sihombing (1997) bahwa kecernaan protein babi berkisar antara 70 – 90% untuk ransum yang mengandung  energi metabolisme 3190 kkal/kg dan protein kasar 14%.

Berdasarkan Tabel 2, kecernaan protein tertinggi diperlihatkan pada babi yang mendapat  perlakuan R3 (74,03%), kemudian berturut-turut diikuti oleh perlakuan R2 (72,60%), R1 (72,05%), Rvm ( 70,76%) dan R0 (66,84%). Hasil analisis ragam pada pemberian curcumin dan antibiotik virginiamicin  dalam ransum babi tidak  berpengaruh nyata terhadap kecernaan protein ransum, hal ini terjadi karena kandungan protein ransum yang sama pada tiap perlakuan.

Tabel  2  Rataan Kecernaan Protein, Energi dan Laju Makanan

Perlakuan Penampilan Produksi
Kecernaan Protein Kecernaan Energi Laju Makan
(%) (%) (jam)
Rvm 70,76 51,03 b  20,05  a
R0 66,84 32,59 a  19,30  a
R1 72,05 46,46 b   20,07 a
R2 72,60 46,46 b   22,32 b
R3 74,03 49,26 b   21,51 b
Rataan 71,27±6,79 45,16±9,7 20,65 ± 1,32

Keterangan :  Superskrip berbeda pada kolom yang sama, berbeda nyata (p<0,05)

Berdasarkan Tabel 2, kecernaan energi tertinggi diperlihatkan pada babi yang diberi perlakuan ransum Rvm (51,03%), kemudian dikuti oleh ransum R3 (49,26%), R2 (46,46%),  R1 (46,46%) dan R0 (32,59%).  Berdasarkan hasil analisis ragam,  perlakuan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kecernaan energi ransum. Pemberian curcumin dapat meningkatkan kecernaan energi ransum babi. Perlakuan R0 yaitu ransum tanpa suplemen menghasilkan kecernaan energi ransum yang  rendah, penambahan curcumin sebanyak 120 ppm dan virginiamicin mampu meningkatkan kecernaan energi ransum. Perlakuan curcumin meningkatkan kecernaan energi ransum pada babi hal ini disebabkan oleh pemberian curcumin pada dosis yang tepat dapat merangsang sekresi hormon dari kelenjar brunner pada dinding usus halus. Hormon tersebut  akan merangsang peningkatan sekresi enzim-enzim pencernaan dari kelenjar pankreas (Martini, 1998).  Jadi penambahan curcumin sebanyak 120,  160 dan 200 ppm dalam ransum setara dengan penambahan antibiotik virginiamicin hal tersebut memberikan petunjuk bahwa curcumin dapat digunakan sebagai aditive alami pengganti antibiotik sintetis dalam ransum babi untuk meningkatkan kecernaan energi ransum .

Rataan kecepatan laju makanan dalam saluran pencernaan adalah 20,65±1,32 jam (Tabel 2), hasil ini sesuai dengan pendapat Sihombing (1997) bahwa kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi remaja atau dewasa berkisar antara 10 – 24 jam.  Berdasarkan Tabel 2, kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan terlama diperlihatkan oleh babi yang diberi perlakuan R2 (22,32 jam), kemudian berturut-turut R3 (21,51 jam), R1 (20,07 jam), Rvm (20,05 jam) dan R0 (19,30 jam).  Babi dengan perlakuan R2 (curcumin 160 ppm) memperlihatkan kecepatan laju makanan yang lebih lama, karena pemberian curcumin pada dosis yang tepat dapat menyebabkan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan menjadi lebih lama, pada akhirnya meningkatkan penyerapan zat makanan.  Curcumin dapat mempengaruhi tonus dan kontraksi usus halus, pemberian dalam dosis rendah dan secara berulang akan mempercepat kontraksi tonus usus halus, tetapi pada dosis tinggi justru akan memperlambat bahkan dapat menghentikan kontraksi usus halus. Namun jika diberikan dalam dosis yang tepat akan menyebabkan kontraksi spontan yang lebih lambat, akibatnya perjalanan ransum dalam usus halus menjadi lebih lama (Bawman, 1983).

Berdasarkan hasil analisis ragam, diperoleh petunjuk bahwa pemberian curcumin berpengaruh terhadap laju makanan, yang mana pemberian curcumin dapat menurunkan laju makanan dalam saluran pencernaan babi (p< 0,05).  Pada Perlakuan R0, R1 dan Rvm atau penambahan curcumin pada taraf 120 ppm dan antibiotik sintetis belum berpengaruh nyata terhadap laju makanan. Pemberian  curcumin 160 dan 200  ppm (R2 dan R3) dalam ransum babi  menurunkan kecepatan laju makanan. Berdasarkan hasil tersebut  maka curcumin pada dosis 160 dan 200 ppm dapat digunakan dalam ransum babi untuk meningkatkan kecernaan ransum dengan cara  menurunkan laju makanan dalam usus.  

 

 

 

Konsumsi Ransum

            Penampilan produksi babi yang diamati pada penelitian ini meliputi konsumsi ransum harian, pertambahan bobot badan harian dan konversi ransum (Tabel 3).  Hasil pengamatan selama penelitian menunjukkan bahwa rataan umum konsumsi ransum harian adalah 2916,95±62,46 g/ekor. Konsumsi ransum harian tertinggi adalah babi yang diberi  perlakuan R3 (2933,99), kemudian diikuti secara berturut-turut oleh babi yang diberi perlakuan R2, Rvm, R1 dan R0 masing-masing 2930,54; 2916,95; 2915,91 dan 2887,35 k/ekor.

Konsumsi ransum dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah palatabilitas ransum, bentuk fisik ransum, berat badan, jenis kelamin, temperatur lingkungan, keseimbangan hormonal dan fase pertumbuhan (Piliang, 2000). Kunyit pada umumnya digunakan sebagai bumbu pada masakan, akan tetapi kunyit memiliki rasa pahit.

Tabel  3  Rataan Penampilan Produksi Babi Penelitian

Perlakuan Penampilan Produksi
Konsumsi Ransum PBB Konversi
(g/ekor/hari) (g/ekor) (feed/gain)
Rvm 2916,95a 634,44 b    4,60b
R0 2887,35a 507,81a    5,69a
R1 2915,91a 594,21ab   4,91ab
R2 2930,54a 643,26 b   4,57b
R3 2933,99a 678,27 b   4,33b
Rataan 2916,95±62,46 611,60±68,60 4,86±0,54

Keterangan :  PBB = Pertambahan Bobot Badan, Superskrip berbeda pada kolom yang

                       sama, berbeda nyata (p<0,05)

            Pemberian curcumin sampai dengan dosis 200  ppm tidak menurunkan konsumsi ransum (p > 0,05).

Pertambahan Bobot Badan Harian

Rataan umum pertambahan bobot badan harian (PBBH) adalah 611,60±68,60 g/ekor/hari (Tabel 3). Hasil penelitian memperlihatkan rataan PBBH tertinggi pada babi yang diberi perlakuan R3 diikuti oleh R2, Rvm, R1  dan R0, masing-masing 678,27; 643,26; 634,44; 594,21 dan 507,81 g/ekor.

Pertumbuhan pada babi dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya umur, nutrisi, lingkungan, berat lahir dan penyakit.  Babi yang diberi perlakuan R3 menghasilkan  PBBH yang lebih besar daripada babi lainnya, hal ini membuktikan bahwa pemberian curcumin pada taraf  200 ppm dalam ransum babi mampu meningkatkan penyerapan zat-zat makanan yang dikonsumsi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Bawman (1983) yang memberikan cairan 10% infus temulawak dalam larutan ringer pada hewan percobaan secara intravena dengan kecepatan 10-20 tetes/menit, tonus dan kontraksi usus halus akan diperlambat. Pergerakan usus halus yang diperlambat membuat aktifitas enzim memecah bahan makanan lebih tinggi sehingga penyerapan zat-zat makanan mengalami peningkatan.

Berdasarkan analisis ragam perlakuan berpengaruh (p<0,05) terhadap PBBH, artinya bahwa setiap perlakuan ransum memberikan pengaruh yang berbeda terhadap PBBH. Terlihat bahwa pemberian curcumin dapat meningkatkan pertambahan bobot badan.  Berdasarkan Tabel 3,  PBBH babi yang mendapat perlakuan R0 dan R1 adalah sama, hal tersebut menunjukkan bahwa  penambahan curcumin sampai taraf 120 ppm belum menunjukkan efek yang signifikan terhadap pertambahan bobot babi percobaan. Demikian pula pertambahan bobot badan pada perlakuan curcumin 160 dan 200  ppm (R2 dan R3) dan penambahan virginiamicin (Rvm) dalam ransum satu sama lainnya adalah sama dan lebih tinggi dari Ro.  Dengan demikian penambahan curcumin pada dosis 160 ppm dan 200 ppm dapat digunakan sebagai aditive alami pengganti antibiotik sintetis dalam ransum babi.

Pengaruh perlakuan terhadap Konversi Ransum

Rataan konversi ransum penelitian adalah 4,82±0,54 (Tabel 3). Angka tersebut lebih tinggi daripada angka konversi ransum yang ditetapkan National Research Counsil (NRC) (1998) yaitu sekitar 3,25. Hal ini mungkin disebabkan perbedaan lingkungan pemeliharaan, bahan makanan yang diberikan serta genetik dari babi tersebut. Sihombing (1997), menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi konversi ransum adalah nutrisi, spesies, lingkungan, kesehatan dan keseimbangan ransum yang diberikan.  Rataan konversi ransum terendah 4,33 (R3), kemudian dilanjutkan berturut-turut 4,57 (R2); 4,60 (Rvm); 4,91 ( R1) dan 5,69 (R0). Nilai konversi ransum adalah perbandingan antara jumlah rnsum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan sebesar satu satuan, makin rendah angka konversi menunjukkan bahwa babi tersebut makin efisien dalam penggunaan ransum. (Hyun dkk,1998 ).

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian ransum perlakuan berpengaruh nyata terhadap konversi ransum (p< 0,05). Pemberian curcumin dan virginiamicin dapat menurunkan konversi ransum babi, hal ini disebabkan karena konsumsi ransum setiap perlakuan adalah sama sedangkan PBBH menunjukkan peningkatatan. Berdasarkan Tabel 3 konversi ransum perlakuan R0 (tanpa curcumin dan virginiamicin) dan R1 (120 ppm curcumin) adalah sama, hal tersebut mengindikasikan bahwa penambahan curcumin sampai taraf 120 ppmdalam ransum  belum menunjukkan efek yang signifikan terhadap konversi ransum. Konversi ransum babi  pada perlakuan curcumin 160 ppm (R2),  200  ppm ( R3) dan virginiamicin 50 ppm (Rvm) adalah sama dan lebih rendah dari R0, dengan demikian penambahan curcumin pada dosis160 ppm dan 200 ppm dapat meningkatkan efisiensi ransum babi yang setara dengan penggunaan antibiotik virginamicin

 

Analisis Finansial Pengaruh Antibiotik dan Curcumin

Pengaruh pemberian curcumin dan virginiamicin dalam ransum babi terhadap keuntungan dan biaya dapat dilihat pada Tabel 4.   Penambahan virginiamicin dan curcumin dalam ransum babi mengakibatkan terjadi penambahan biaya ransum perkilogramnya, akan tetapi penambahan biaya tersebut  diikuti oleh meningkatnya pendapatan atau penjualan, pada akhirnya keuntungan harian pemberian ransum yang mengandung   curcumin dan virginiamicin jadi lebih besar dibanding dengan ransum R0 (tanpa kedua-duanya).  

Tabel 4.  Analisa Finansial dari Masing-Masing Perlakuan Ransum

Perlakuan Biaya (Rp) Penjualan (Rp) Keuntungan(Rp) B/C Rasio
Rvm 4594.20 9516.60 4922.40 1.07
R0 4331.03 7617.15 3286.13 0.76
R1 4688.78 8913.15 4224.37 0.90
R2 4832.60 9648.90 4816.30 1.00
R3 4929.10 10174.05 5244.95 1.06

 

Keuntungan harian terbesar diperoleh pada perlakuan R3 (Rp 5244,95) dan terkecil pada perlakuan R0 (Rp 3286,13). Pemberian dosis curcumin yang semakin tinggi berdampak pada meningkatnya keuntungan harian. Keuntungan yang diperoleh akibat pemberian  curcumin pada dosis 160 ppm  (R2) mampu menyamai ransum virginiamicin, bahkan ransum R3 (200 ppm) lebih tinggi dari viginiamicin.  Bila dilihat B/C Rasionya,  pemberian virginiamicin dan curcumin pada dosis 160 dan 200 ppm (R2 dan R3) memiliki nilai B/C rasio lebih dari satu, artinya secara finansial penggunaan curcumin dan virginiamicin pada dosis tersebut  layak digunakan dalam sistem usaha produksi babi.

KESIMPULAN

Bila dilihat dari parameter kecernaan makanan, performan dan analisa finansial dari perlakuan ransum dengan additive curcumin dan virginiamicin dapat diperoleh kesimpulan bahwa pemberian dosis 160 ppm curcumin dapat digunakan sebagai penganti antibik sintetis (virginiamicin) untuk  pemacu pertumbuhan. Dosis efektif penggunaan curcumin dalam ransum babi sebagai bahan imbuhan ransum adalah 160 ppm. 

 

SARAN

Curcumin dapat digunakan dalam sistem produksi babi dengan dosis 160 ppm dalam ransum babi sebagai pemacu pertumbuhan.

DAFTAR PUSTAKA

AL-Sultan SI. 2003. The Effect of Curcuma longa (Tumeric) on Overall Performance of Broiler Chickens. Department of Public Health and Animal Husbandry, College of Veterinary Medicine and Animal Resources, King Faisal University. Saudi Arabia. J.Poultry Sci.  2 (5): 351-353, 2003

Ava Singapore surveilans abattoir.2005. di sampaikan dalam seminar kebijakan pemerintah dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan menular pada babi di Indonesia oleh drh. Tri Satya N, M.Phill. Ph.D. Dir. Kesehatan Hewan Dep.Pertanian.

Bawman JC. 1983. Concerning the effect of chelidonium, curcuma, absinth and

           milkthistle on billiary and pancreatic secretion in hepatopathy. Med. Monalsschriff, 29 :173-180.

Hamscher  G ,  Heike Theresia Pawelzick, Silke Sczesny, Heinz Nau, and Jörg Hartung. 2003. Antibiotics in dust originating from a pig-fattening farm: a new source of health hazard for farmers. Department of Food Toxicology, Animal Welfare and Behaviour of Farm Animals, School of Veterinary Medicine Hannover, Hannover, Germany. Environ Health Perspect. 111(13): 1590–1594.

Hyun Y, Ellis M, Riskowski G,  Johnson RW. 1998. Growth performance of pigs subjected to multiple concurrent stressors. J.Anim Sci. 76:721-727

National Research Council. 1998. Nutrient Requirements of Swine. National Academy Press, Washington, D.C.

Martini S. 1998. Pengaruh pemberian ransum yang mengandung  berbagai jenis curcuma dan kombinasinya sebagai pakan aditif terhadap produksi karkas serta komposisi asam lemak karkas pada kelinci peranakan new zealand white. Disertasi. Unpad. Bandung.

Piliang WG. 2000. Fisiologi Nutrisi. Volume I. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rusiana. 2004.  Residu Antibiotika pada Daging Ayam Broiler. WWW.  Poultry

        Indonesia. Com. (diakses 12 Juni 2004)

Samadi. 2004.  Feed quality for food safety. Fapet Unsyiah. Banda Aceh.

Sihombing DTH. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Sinaga S. 2003. Pengaruh pemberian ransum yang mengandung aditif tepung kunyit pada babi pertumbuhan. Fapet. Unpad. Bandung.

Schneider, BH. dan Flatt W.P. 1975. The Evaluation of Feeds Through Digestibility Experiment. The University of Georgia Press. Georgia.

Steel RGD and   Torrie JH. 1989.  Prinsip dan Prosedur Statistika. Cetakan ke-2. Terjemahan B.  Sumantri.  PT Gramedia, Jakarta.

H1N1

The H5N1 bird flu virus may be evolving the ability to spread from mammal to mammal, says a team who have discovered that pigs in Indonesia have been infected with the disease since 2005.

The H5N1 bird flu kills 60 per cent of the people it infects. However, most infections occur after direct contact with an infected bird and the disease does not appear to spread well between humans. One way the virus could develop the ability to spread among humans is to first infect pigs, which have many biochemical similarities to humans. Flu viruses adapted to pigs have less trouble adapting to humans than do bird flu viruses – one pig-adapted virus caused the swine flu pandemic in 2009.

Chairul Nidom of Airlangga University in Surabaya, Indonesia, and colleagues in Japan have been tracking H5N1 in pigs since 2005 in Indonesia, the country hardest hit by the avian flu virus. They now report (PDF) that between 2005 to 2007 -when the avian flu peaked- 7.4 per cent of 700 pigs they tested also carried H5N1. There have been sporadic reports of H5N1 in pigs, but this is the first time the extent of the problem has been measured.

Not from pig to pig
In each case, the virus in pigs closely resembled H5N1 from nearby outbreaks in poultry, suggesting it has jumped from the bird to the pig population. That and the small proportion of pigs infected suggest the virus cannot yet spread between pigs. “If the virus was better adapted to pigs it would have spread like wildfire,” says Ab Osterhaus of the University of Rotterdam in the Netherlands, a flu expert not involved in the research.

Virus can easily evade
Since 2007, avian flu outbreaks have diminished in poultry and in people in Indonesia and the investigators found that the rate of infection in pigs has similarly dropped. The team showed that infected pigs show no symptoms. “H5N1 viruses could easily evade detection as they spread through Indonesia in asymptomatic pigs,” warn Nidom and colleagues. Nidom says that in one pig, the virus had developed the ability to bind to a molecule present in the noses of both pigs and humans. That’s exactly the kind of change that could allow it to spread between people. “This shows we should keep a close watch on pig flu, as it can change rapidly,” warns Osterhaus.

New EU collaboration
The European Union is heeding the call and is funding a scientific collaboration called FLUPIG, to study how bird flu adapts to pigs and how it spreads to people. It will meet for the first time later this month.

Canada: Governments to strengthen traceability and biosecurity

B.C. Minister of Agriculture and Lands Steve Thomson and Member of Parliament Andrew Saxton (North Vancouver) announced the investment of $3.5 million dollars at ‘Discover Agriculture in the City’ in Burnaby.

Deliver top quality food

“A strong traceability system will help Canadian producers strengthen their businesses and get the premium prices their top-quality products deserve,” said MP Saxton, on behalf of federal Agriculture Minister Gerry Ritz. “Our Government is working with the provinces and industry to create a strong national traceability system that will help producers and processors minimise risks, strengthen their businesses and continue to deliver their top-quality, safe food to consumers at home and around the world.”
 

Ready to respond to animal diseases
“The Province has been working with industry to build and implement traceability and biosecurity systems so we are ready to respond to animal disease and food safety issues,” said Minister Thomson. “B.C. is already a leader in biosecurity measures, and having these systems in place builds consumer confidence. It also positions our agri-food industry to be competitive in both the domestic and international marketplace.”
 

The two initiatives being funded include:

· $2.04 million for the Enterprise Infrastructure Traceability (EIT) to help producers, farmers, food processors and agri-food businesses with costs to purchase and install traceability infrastructure/systems to track products from receiving to shipping. The program consists of animal (product) identification, premises identification and movements recording. This funding will help proactive management of food-borne risks along the agri-food chain, contributing significantly to the health and wellbeing of British Columbians. The EIT program is being delivered through the BC Agriculture and Research Corporation, a subsidiary of the British Columbia Agriculture Council.

 

· $1.5 million will be allocated to the biosecurity program, which will help producers continue to improve their on-farm biosecurity procedures such as wearing barn-specific clothing and disinfecting farm equipment. Under this program the British Columbia Hog Marketing Commission will implement biosecurity standards for their commodity on approximately 31 farms. The biosecurity program is being delivered directly by the Ministry of Agriculture and Lands.

Ongoing efforts to implement food safety, traceability and biosecurity measures are important for achieving a safe food supply into the future and will greatly improve the Provinces protection of animal, plant and human health. Completed projects include B.C.’s $14.5-million, high-security containment Level 3 laboratory in Abbotsford and a Foreign Animal Disease Emergency Support plan (FADES) that has been developed to enhance B.C.’s response to occurrences of significant disease events.

‘Discover Agriculture in the City’ is a three-day event, open to the public, designed to build awareness among urban British Columbians about the contributions farmers make to the economy, the environment and to the health of Canadians, as well as some of the innovative uses of Canadian agricultural products.

The European Food Safety Authority (EFSA) has assessed the public health risks from salmonella in pigs and the impact of possible control measures

The assessment suggests that pigs and pig meat may be responsible for 10 to 20% of all human cases of salmonellosis in the EU – but with differences between countries – and that controlling salmonella more effectively within the pig meat food chain would have a direct impact on reducing the number of human cases.

 This work by EFSA’s Biological Hazards Panel (BIOHAZ) was at the request of the European Commission and will support the setting of any targets for the reduction of salmonella in pigs across the European Union. To support the Panel opinion and in line with EFSA’s strategy on cooperation and networking with Member States, a consortium of institutes from across the European Union was established for the first time. This consortium developed an EU level model to quantify the public health risk of Salmonella in the pig meat food chain, from farm to fork.

 The Panel found evidence suggesting that the human cases attributable to salmonella in pig meat will mainly depend on the levels of salmonella in pigs and pig meat, as well as on consumption patterns and the relative importance of the other sources of salmonella.

 Reduce salmonella in humans
The Panel evaluated a series of measures to reduce the number of human cases of salmonella. These included ensuring pigs in breeding holdings are free from salmonella, ensuring that the feed is also free from salmonella, adequate cleaning and disinfection of holdings, avoiding contamination during slaughter, and decontaminating carcasses. The Panel indicated that these measures should be used in combination and based on the individual situation of each Member State; and that a hundredfold reduction of the number of salmonella bacteria on contaminated carcasses would result in a 60-80% reduction of the cases of human salmonellosis originating from pig meat consumption.

 The experts also indicated that in order to reduce salmonella in pigs going to slaughter, decreasing the levels of salmonella in holdings where pigs are bred would result in highest reduction. In Member States which have high levels of salmonella this would lead to the greatest reduction. The Panel also says that ensuring feed is salmonella-free could lead to further reductions, and, in Member States with lower levels of salmonella, this approach would have the highest impact.

 The opinion also recommends that information on the temperature at which the pig meat is kept during transportation and how consumers store it at home is important to further understand the factors that lead to risks for salmonella in humans.

HEMORAGIK PROLIFERATIF ENTEROPATI (M. Dudi Pinisurya)

Sekitar 90% babi dengan sindrom nefrotik merupakan sindrom nefrotik idiopatik. Sindrom nefrotik idiopatik terdiri dari 3 tipe secara histologis : Sindrom nefrotik kelainan minimal, glomerulonephritis proliferatif (mesangial proliferation), dan glomerulosklerosis fokal segmental. Ketiga gangguan ini dapat mewakili 3 penyakit berbeda dengan manifestasi klinis yang serupa; dengan kata lain, ketiga gangguan ini mewakili suatu spektrum dari satu penyakit tunggal.

Differensial diagnosis untuk anak dengan edema adalah enteropati kekurangan protein, penyakit hati, penyakit jantung congenital, glomerulonefritis akut atau kronis, dan malnutrisi protein. Diagnosis selain SNKM dipertimbangkan jika pasien berumur dibawah 1 tahun, riwayat keluarga, penemuan extrarenal (arthritis, bercak-bercak, dan anemia), hipertensi atau edema pulmoner, insufisiensi renal akut atau kronis, dan hematuria.

Stroke sendiri terbagi atas dua jenis, stroke iskemik dan stroke hemoragik. Pada iskemik, satu atau lebih bekuan darah menyumbat pasokan darah ke otak hingga menimbulkan kerusakan otak. Sedangkan, hemoragik adalah pecahnya pembuluh darah akibat dinding pembuluh yang rapuh atau anomali bawaan (cacat sejak lahir).

Efek: mendadak mati, hitam atau kotoran bernoda darah.

 
2. Penyebab

Proliferatif Enteropati (PE, ileitis) – istilah umum untuk nekrotik enteritis (NE), daerah ileitis (RI), usus babi adenopathy (PIA) dan hemoragik proliferatif Enteropati (TYR).
            Proliferatif Enteropati disebabkan oleh bakteri, Lawsonia intracellularis, yang mereproduksi dalam sel. Ini adalah Gram negatif, melengkung, organisme berbentuk batang dengan ujung runcing dan dapat tumbuh dalam sel buatan budaya oleh beberapa laboratorium khusus di seluruh dunia. Organisme dapat menghasilkan mikro-koloni setelah 7-14 hari dan dapat bertahan hidup di luar sel sampai 2 minggu pada 5 ° C tetapi tidak berkembang biak. Budaya murni dari organisme penyebab semua bentuk penyakit.      Masukkan bakteri sel-sel lapisan usus, biasanya mereka dari ujung usus kecil (ileum) dan kadang-kadang mereka yang berada di usus besar, dan bertambah banyak, sehingga sel-sel untuk menjadi dewasa dalam penampilan, menghilangkan vili menyerap dan mendorong kriptus antara mereka untuk memanjangkan, sehingga membuat lapisan usus no-serap, tebal dan kental di daerah terinfeksi. Peradangan terjadi dengan hilangnya merah (dan beberapa putih) sel darah dan sel-sel epitel usus yang terinfeksi. Seperti usus pulih, mukosa tebal mungkin rusak dan menjadi nekrotik seperti dalam nekrotik ileitis, akhirnya menimbulkan penebalan otot di Daerah ileitis mantel atau “pipa air usus”. Rincian lebih cepat dapat menyebabkan kehilangan darah yang besar ke dalam ileum menyebabkan hemoragik Enteropati proliferatif. Pulih babi kebal terhadap infeksi ulang.
3. Tanda-tanda klinis
            Proliferatif Enteropati (PE, ileitis) – istilah umum untuk nekrotik enteritis (NE), daerah ileitis (RI), usus babi adenopathy (PIA) dan hemoragik proliferatif Enteropati (TYR).
            Penyakit klinis yang paling sering dilihat di akhir-akhir ini-disapih babi dan berlangsung selama sekitar 6 minggu. Ini memiliki masa inkubasi 3-6 minggu dan dapat terjadi pada hewan dari segala usia 3-4 minggu untuk orang dewasa. Tanda-tanda pertama kegagalan untuk mendapatkan berat badan atau kehilangan berat badan dan berbagai derajat inappetence. Babi yang terkena tampak pucat, mungkin muntah, adalah anemia dan mungkin memiliki kotoran menghitam karena kehadiran hitam, diubah darah. Beberapa hewan longgar granular melewati kotoran yang tersebar pada beton seperti semen basah ramuan terutama di mana infeksi dengan organisme seperti spirochaetes hadir. 4-6 minggu setelah terkena babi dapat pulih sepenuhnya. Beberapa mati tiba-tiba pada tahap ini dengan hemoragik proliferatif Enteropati. Ini biasanya tampak pucat dengan suhu tubuh yang rendah (37,8 ° C, 100 ° F) 1-2 jam sebelum kematian dan dapat dari segala umur 6-10 minggu ke atas. Breeding saham mungkin mati tiba-tiba dari proliferatif berdarah penyakit Enteropati ketika pertama kali memasuki kawanan. Dua belas persen dari kawanan yang baru terinfeksi dapat terpengaruh dan 6% mungkin mati. Beberapa hewan pulih tetap terhambat. Mereka mungkin tampak kurus, pucat dan mungkin ringan diare.
4. Diagnosis
            Proliferatif Enteropati dan sindrom yang terkait (NE, PIA, TYR dan RI) harus dipertimbangkan jika babi tumbuh menjadi pucat dengan hilangnya kondisi dan kotoran menghitam hadir. Babi lebih tua, tanda-tanda ini dan kematian mendadak dari hemoragik proliferatif Enteropati juga dapat disebabkan ulserasi lambung. Diare atau kotoran longgar bukan merupakan indikator yang dapat diandalkan dari penyakit. Enteropati proliferatif dapat dikonfirmasi pada bedah mayat yang terkena babi. Terminal ileum adalah menebal, pucat dan berkerut ke lapisan adalah flip yang menolak peregangan. Bagian usus besar juga akan terpengaruh. Mungkin ada gumpalan darah di usus yang terkena dan darah ini muncul sekali hitam mencapai usus besar. Ulserasi lambung tidak ada. Lapisan usus yang terkena dapat ditutupi dengan jaringan yang mati. Tes laboratorium mengkonfirmasi adanya penyakit atau infeksi. Karakteristik perubahan dalam susunan sel-sel dari lapisan usus dapat dilihat oleh mikroskop. Organisme dapat dibuktikan dalam, atau terisolasi dari, sel-sel ini dan dikukuhkan sebagai Lawsonia intracellularis. L. intracellularis juga dapat diidentifikasi dalam tinja oleh Polimerase Chain Reaction (PCR) dan antibodi untuk itu dapat dideteksi dalam darah yang terinfeksi ternak.
5. Perlakuan dan kontrol
            Proliferatif Enteropati (PE, ileitis) – istilah umum untuk nekrotik enteritis (NE), daerah ileitis (RI), usus babi adenopathy (PIA) dan hemoragik proliferatif Enteropati (TYR).
            Individu yang terkena dampak klinis babi dapat diobati dengan injeksi panjang atau antimikrobial tetrasiklin bertindak seperti tylosin, tiamulin dan lincomycin. Pengobatan air kelompok-kelompok yang terkena dengan tetrasiklin, tylosin, tiamulin atau lincomycin biasanya menghasilkan penyembuhan klinis. Pengobatan Chlortetracycline feed untuk dua minggu akan memiliki efek yang sama dan valnemulin, tiamulin atau tylosin juga efektif. Seperti penyakit ini dapat kambuh 3 minggu setelah akhir pengobatan pada kelompok terinfeksi, kedua pengobatan sering diberikan 18 hari setelah akhir kursus pertama. Ketika spirochaetosis, salmonellosis atau penyakit bakteri lainnya hadir, perawatan harus diubah sesuai. Pengendalian didasarkan pada pengobatan. Hal ini dapat diberikan secara terus-menerus pada tingkat rendah, namun penyakit akan kambuh setelah pengobatan dihentikan. Paling umum, dua mata kuliah pengobatan diberikan, mulai 18 hari setelah masuk ke rumah atau lebih awal jika penyakit terjadi sebelum ini. Desinfeksi dengan kuaterner amonium, yodium dan oksidasi desinfektan pada akhir masa pengobatan dan kontrol hewan pengerat mengurangi kemungkinan infeksi ulang. Ternak didirikan oleh histerektomi dan dipelihara secara terpisah biasanya bebas dari penyakit, tetapi dapat menjadi terinfeksi. Breeding saham harus datang dari ternak bersih. Tidak ada vaksin.

 DAFTAR PUTAKA

 Blogs.Saulandsinaga.Unpad.Ac.Id (di unduh pada tgl 28 Februari 2010)

Nutrisi Singkong

Nilai per 100 gram porsi makanan Air, 59.68 g Energi, 160 kcal Energi, 669 kj Protein, 1.36 g Total lemak, 0.28 g Karbohirat, 38.05 g Serat, 1.8 g Ampas, 0.62 g Mineral Kalsium, Ca, 16 mg Besi, Fe, 0.27 mg Magnesium, Mg, 21 mg Phospor, P, 27 mg Potassium, K, 271 mg Sodium, Na, 14 mg Seng, Zn, 0.34 mg Tembaga, Cu, 0.1 mg Mangan, Mn, 0.384 mg Selenium, Se, 0.7 mcg Vitamin Vitamin C, asam ascorbic, 20.6 mg Thiamin, 0.087 mg Riboflavin, 0.048 mg Niacin, 0.854 mg Asam Pantothenic, 0.107 mg Vitamin B-6, 0.088 mg Folate, 27 mcg Vitamin B-12, 0 mcg Vitamin A, 25 IU Vitamin A, RE, 2 mcg_RE Vitamin E, 0.19 mg_ATE Lemak Asam lemak jenuh, saturated, 0.074 g 4:0, 0 g 6:0, 0 g 8:0, 0 g 10:0, 0 g 12:0, 0.001 g 14:0, 0 g 16:0, 0.069 g 18:0, 0.005 g Asam lemak tak jenuh, monounsaturated, 0.075 g 16:1, 0 g 18:1, 0.075 g 20:1, 0 g 22:1, 0 g Asam lemak tak jenuh, polyunsaturated, 0.048 g 18:2, 0.032 g 18:3, 0.017 g 18:4, 0 g 20:4, 0 g 20:5, 0 g 22:5, 0 g 22:6, 0 g Kolesterol, 0 mg Asam Amino Tryptophan, 0.019 g Threonine, 0.028 g Isoleucine, 0.027 g Leucine, 0.039 g Lysine, 0.044 g Methionine, 0.011 g Cystine, 0.028 g Phenylalanine, 0.026 g Tyrosine, 0.017 g Valine, 0.035 g Arginine, 0.137 g Histidine, 0.02 g Alanine, 0.038 g Asam Aspartic, 0.079 g Asam Glutamic, 0.206 g Glycine, 0.028 g Proline, 0.033 g Serine, 0.033 g

Mulberry Heart Disease /MHD (Dita F Yuniar)

Terjadinya: Worldwide Umur terpengaruh: Weaners, petani / finishers Efek: Inappetence, kelemahan, tiba-tiba mati Penyebab Penyakit jantung murbei hasil dari kekurangan vitamin E (alfa-tokoferol) dalam ransum, diperparah oleh metionin dan sistin yang rendah dan tingginya kadar lemak dalam makanan. Dioksidasi lemak, tembaga dan penyimpanan basah sereal, terutama asam propionat jelai yang tersimpan mungkin semua Vitamin E mengurangi tingkat. Tingkat selenium tampaknya menjadi normal dalam banyak kasus kondisi ini, tetapi jaringan kadar vitamin E bahkan ketika diet rendah tingkat tampaknya memadai. Alpha tokoferol bertindak baik sebagai antioksidan dan sebagai stabilisator membran lipid. Kehilangan spesifik terikat membran arakidonat dan asam linolenat terjadi pada kekurangan vitamin E dan ini dikaitkan dengan diet rendah kadar asam ini. Tanda-tanda klinis utama dari kekurangan kompleks ini muncul akibat dari efek pada metabolisme energi. Sel-sel yang terkena dampak paling parah dalam babi hepatosit (sel hati) dan sel-sel otot jantung dan otot rangka. Sindrom berkembang sebagai akibat dari gagal jantung kongestif, ditambah dengan hydropericardium. Keturunan mungkin memainkan peran sebagai babi Landrace telah dikatakan rentan. Tanda-tanda klinis Babi dari segala usia mungkin akan terpengaruh, tetapi kondisi umumnya terjadi pada hewan 20-50 kg. Babi yang terkena anoreksia dan depresi dengan melemahkan otot dan menurunkan suhu tubuh. Mereka mungkin menjadi cyanotic sebelum kematian yang terjadi dalam waktu 24 jam dari awal tanda-tanda klinis. Pemulihan telah dicatat, tetapi angka kematian biasanya 100%. Kematian mendadak adalah umum. Kematian dapat terjadi setelah penanganan dan hewan yang terkena dalam suatu kelompok dapat menunjukkan beberapa tanda-tanda sirkulasi malu seperti kelesuan, sianosis dan kekesalan. Getaran otot dapat terjadi, terutama di bahu. Mungkin ada kekakuan, pincang atau penyerahan diri. Diagnosis Tanda-tanda klinis yang meliputi inappetence dan depresi, kelemahan otot, menurunkan suhu tubuh dan sianosis sebelum kematian mungkin menyarankan murbei penyakit jantung ketika dilihat pada babi dengan berat antara 20 dan 50kg. Bedah mayat temuan dapat digunakan untuk mengkonfirmasikan diagnosis. Lesi jantung karakteristik. Bangkai biasanya dalam kondisi baik dengan cairan dan sisa-sisa fibrin dalam semua rongga tubuh. Hati diperbesar dan berbintik-bintik. Perikardial rongga yang penuh dengan cairan agar-agar dan fibrin dan permukaan hati berlumuran pendarahan berjalan dari dasar ke puncak. Pendarahan serupa terjadi di endocardium (dalam hati). Mereka terletak tepat di bawah membran dan muncul mikroskopis sebagai daerah bebas sel darah merah yang tidak jelas myonecrosis (mati serabut otot). Microangiopathy (kerusakan pembuluh darah kecil) dapat hadir dan dalam kebanyakan kasus degenerasi dari otot mungkin juga hadir. Edema usus, Actinobacillus pleuropenumoniae dan Streptococcus suis Tipe II infeksi juga dapat menyebabkan kematian mendadak dengan cairan atau fibrin dalam rongga tubuh. Kematian dari sindrom stres babi biasanya mengikuti latihan. Yang histopatologi dan hati Vitamin E biasanya analisis konfirmasi. Perlakuan dan kontrol Penggunaan tingkat tinggi Vitamin E (2-3 kali tingkat yang disarankan) mencegah perkembangan kondisi dan Vitamin E menyiratkan kekurangan. Injeksi dengan alfa-tokoferol atau alfa-tokoferol-selenium persiapan adalah nilai dalam kelompok hewan yang terkena. Vitamin E ini juga tersedia sebagai komponen dari campuran vitamin yang larut lemak. Tergantung kontrol memastikan bahwa tingkat memadai diet vitamin E terdapat pada ransum terakhir (10.000 -20.000 IU (3.0-6.0g/tonne). Pandangan bahwa Vitamin E harus disertakan pada lima kali lipat persentase lemak dari ransum yang diukur dalam mg / kg pakan biasanya memadai tetapi juga secara aktif oksidasi lemak mungkin perlu hingga 20 kali lipat persentase lemak. vitamin E bisa dikembalikan ke normal dalam beberapa jam melalui suntikan, namun mungkin diperlukan waktu 2 minggu dengan pakan suplemen. 3 maret 2010 http://www.pigprogress.net/health-diseases/m/mulberry-heart-disease-mhd-56.html