Posts belonging to Category Reproduksi Babi



METODE PERBAIKAN GENETIK PADA BABI (Thoyib Hari Prayogo)

Metode perbaikan genetik pada babi atau bisa disebut juga konsep dasar perbaikan ternak babi salah satu caranya yaitu dengan memilih seekor pejantan yang berindeks tinggi, yakni pejantan yang berlemak punggung tipis, laju pertumbuhan dan efisiensi konversi makanannya baik sekali, maka turunan induk yang dikawininya diharpkan memiliki indeks yang baik pula.Metode perbaikan genetika pada babi dapat dilakukan atau dilihat dengan cara menguraikan teori bagaimana sifat-sifat produksi diwariskan dari generasi ke generasi dapat dilihat dari :

1. Genetika

2. Kromosom dan Gen

3. Variabilitas

4. Heretabilitas

1. Genetika

Salah satu fakta yang muncul paling mencolok bila mempelajari reproduksi ternak adalah kesanggupannya mewariskan sifat-sifat yang khusus dari sebab itu peternak tidak ada kesulitan untuk membedakan seekor babi Yorkshire dari Hampshire, Duroc atau dari Lacombe, masing-masing babi ini memilii sifat-sifat yang mudah diketahui yang diwariskan. Namun bila memeriksa terperinci sifat-sifat sekelompok babi yang bangsa dan umurnya sama, akan menemui adanya variasi untuk sifat-sifat tertentu dan keseragaman untuk sifat-sifat yang lain diantara individi-individu dalam kelompok tersebut. Misalnya dalam sekelompok babi Landrace sedikit sekali variasi arah telinga, tetapi perbedaan waktu untuk mencapai babi siap potong dapat berbeda 3 minggu atau lebih meskipun tanggal lahirnya sama.

 

2. Kromosom dan Gen

            Setiap ternak seratus persen bertumbuh dari satu sel, yakni sebuah sel telur tertunas atau zigot. Sel ini harus membagi diri dan mendplikasi dirinya berkali-kali selama kurun waktu antara sejak tertunas dan perkembangan seekor ternak dewasa yang selanjutnya sanggup berproduksi. Kedua sel telur dan sel sperma memiliki setengah dari sepasang susunan berbentuk tangkai yang dikenal dengan kromosom. Sel telur yang telah ditunasi berasal dari perpaduan sebuah sel telur dari tetua betina dan sebuah sel sperma dari tetua jantan. Ketika pertunasan terjadi, perpaduan sel sperma dengan sel telur menghasilkan perpasangan kromosom dari sel sperma dan dari sel telur. Sejak batas, sel yang telah ditunasi atau dibuahi tadi disebut zigot mulai membagi diri dan membentuk embrio.

3. Variabilitas

Variasi Genetis adalah sebagian dari variasi yang terdapat diantara babi diakibatkan oleh kombinasi pasangan kromosom yang disumbangkan oleh seekor ternak keturunannya. Dalam pembentukan suatu sel telur, ataupun sel sperma anggota setiap pasangan yang akan masuk dalam sel sepenuhnya ditentukan oleh adanya kesempatan dan setiap anggota pasangan dapat mengandung gen yang berbeda sedikit. Pada babi dengan 19 pasang kromosom yang berbeda telah dihitung bahwa ada kemungkinan lebih dari satu juta kombinasi kromosom yang mungkin. Jumlah kombnasi pasangan kromosom yang besar ini memberi ide kepada kita betapa besar variasi sifat-sifat yang mungkin diwariskan pada babi.      Variasi oleh Lingkungan bukan hanya gen sumber perbedaan antara dua ekor ternak. Perbedaan makanan, penyakit atau cuaca yang ekstrem semuanya dapat mempengaruhi perkembangan. Faktor ini sangat berpengaruh terhadap manajemen ternak.

4. Heritabilitas

            Heritabilitas adalah derajat suatu sifat yang dipengaruhi oleh komposisi faktor genetis. Heritablitas secara sederhana didefinisikan sebagai bagian dari variasi yang dusebabkan oleh warisan. Heritabilitas 50% menyatakan bahwa separuh dari variasi adalah faktor genetis dan separuh lagi oleh lingkungan. Sifat-sifat yang tinggi nilai heritabilitasnya adalah yang termudah diperbaiki dalam suatu peternakan babi. Pengawinan dan seleksi dari individu yang superior dakam sifat-sifat ini akan berpengaruh besar dalam perbaikan ternak. Heritabilitas yang agak rendah tetapi masih masuk akal derajat perbaikan dapat dicapai melalui perkawinan dan seleksi individu yang superior untuk sifat-sifat yang dimaksud yang heritabilitasnya sedang. Sifat-sifat yang heritabilitasnya rendah tidak bertanggap baik terhadap seleksi.

SELEKSI PADA INDUK BABI BAKALAN (AHMAD RADIK RAHARJA)

Seleksi Memilih Babi Bakalan Induk

Dara pengganti induk harus di pilih dengan cermat dan sungguh – sungguh .babi dara ini paling sedikit harus sebaik induk yang di gantikannya dan di inginkan yang lebih syuperior dalam hal produktivitas dan kualitas dan performens yang potensial yang dapat diteruskan keturunanya.

Calon – calon induk harus :

1) subur  menghamil anaknya

2) sanggup mengasuh anak- anaknya

3) berasal dari yang berkualitas genetis yang baik.

Kriteria  seleksi yang di berlakukan  bagi babi dara termasuk perkembangan kelenjar susu ,bentuk fisik , dan performans harus baik.

Perkembangan kelenjar susu

 Babi dara perlu sekali memiliki minimum  12 putting normal yang berspasi dan berpasangan baik sepanjang garis bawah perut .jumlah putting yang seharusnya dimiliki babi dara dapat di periksa ulang sewaktu babi dara mencapai bobot babi potong .babi dara yang diduga memiliki putting buta ,putting terbalik atau ketidaknormalan yang lain yang di temukan sewaktu mencapai babi potong harus di afkir . putting yang tidak berfungsi  pada saat babi dara melahirkan, jelas akan mengurangi kesanggupan menyusukan anak yang banyak .Produktivitas babi dara akan sangat rendah karena jumlah anak yang akan di sapih akan rendah oleh putting yang tidak berfungsi .Oleh alasan ini maka perkembangan kelenjar susu harus diutamakan juga saat memlih babi  dara untuk bibit.segi pewarisan.

Kebaikan fisik

Kebaikan fisik harus di tinjau dari segi perwarisan genetis maupun kesaangupan bertahan terhadap stress lingkungan. Babi dara yang tidak normal fisiknya dapat meneruskannya kepada keturunanya. Terutama struktur kaki perlu mendapat perhatian karena hal ini langsung berpengaruh terhadap performans betina .Bagi babi dara terutama hal ini penting karena ia harus berdiri di lantai semen dan memikul berat pejantan saat kawin dan juga mengemban berat masa bunting ,Seseorang  dapat memperbaiki keadaan fisik ternaknya dengan mengafkir rernak yang lemah kakinya.

 Performans 

Kreteria  utama seleksi yang lain adalah perfprmans bagi dara ,yang meliputi khas seperti kualitas karkas dan laju pertumbuhan dan keefisienan menggunakan makanan .seekor babi dara pengganti harus memiliki kualitas karkas dan pertumbuhan yang lebih baik dari ternak biasa atau rata – rata ternak .

Tahap Seleksi Induk :

    1.     Seleksi dari babi siap jual  umur 5-7 bulan     

              ( kaki, perut, organ rep, temperamen,pertumbuhan, TLP, FCR)

    2.     Telah divaksin Erysipelas, Leptospirosis parvovirus.

    3.     Kawinkan pada estrus ke 2 dan 3. Lama  114 +/-  4 hari

Penanganan Induk Bunting :

  1. Cek induk bunting atau tidak 21 hari kemudian
  2. Cek Ultrasonic 30 hari setelah kawin
  3. Induk Bunting 2 – 3 kg/hari air adlibitum
  4. Induk di vaksin E. Coli, Erysipelas, Leptospirosis, parvovirus.

 

Penanganan Induk Melahirkan

  1. Induk melahirkan 2,5 – 3 jam/litter
  2. Induk tersebut lahir berbaring
  3. Isolasi dari babi lain
  4. Siapkan guard rail/ crate untuk anak tidak tertindih, cold, bedding, penghangat.
  5. Selama melahirkan diawasi trus.

 

Ciri Induk Babi Mau dan telah Melahirkan

  1. Gelisah, sering bangun tidur.
  2. Menggit pintu/batang
  3. Mengorek-ngorek lantai
  4. Membuat sarang bila bahan ada
  5. Adanya colostrum pada puting
  6. Vulva bengkak turun
  7. Keluarnya cairan uterus ketika mau keluar anak pertama
  8. Proses melahirkan 15 menit/anak
  9. Keluarnya plasenta jika anak semua keluar
  10. Induk tidak langsung mau makan pada hari proses melahirkan.

 

Induk Babi Laktasi / Menyusui

  1. Laktasi bisa lebih dari 8 bulan
  2. Usahakan  3 – 4 minggu
  3. Keluar susu biasanya interval 45 menit
  4. Induk total dapat mengontrol air susunya
  5. Teat order biasanya 1 – 2 hari stlh lahir
  6. Ikatan induk dengan anak dengan suara dan bau
  7. Untuk fostering beda lahir ½ hari
  8. Fostering untuk mengseragamkan berat anak
  9. Produksi susu 10l/hari bantu dengan creep feeding untuk meningkatkan growth anak
  10. Sediakan air minum induk 20 – 25 l/air  

 

Waning to Remating/ Culling

  1. Untuk meningkatkan produktifitas induk
  2. 2 minggu tidak estrus induk di culling
  3. Induk biasanya 6 kali melahirkan stlah itu culling
  4. Kontak jantan dan pencahayaan sangat membantu estrus
  5. Much Feed and Water during mating

 

 

  • Pelaksanaan seleksi, memilih babi-babi dewasa yang hendak dipakai sebagai bibit dapat dilakukan cara:

1. Pemilihan individu (induk dan pejantang yang bagus)

2. Pemilihan menurut hasil produksi keturunan

3. Pemilihan menurut silsilah Calon – calon induk harus subur  menghamil anaknya,

sanggup mengasuh anak- anaknya dan  berasal dari yang berkualitas genetis yang baik.

  • Kriteria  seleksi yang di berlakukan  bagi babi dara termasuk perkembangan kelenjar susu ,bentuk fisik , dan performans harus baik
  • Tahap Seleksi Induk :

    1.     Seleksi dari babi siap jual  umur 5-7 bulan     

             ( kaki, perut, organ rep, temperamen,pertumbuhan, TLP, FCR)

    2.     Telah divaksin Erysipelas, Leptospirosis parvovirus.

    3.     Kawinkan pada estrus ke 2 dan 3. Lama  114 +/-  4 hari

DAFTAR PUSTAKA

Sihombing.2006.Ilmu Ternak Babi. Cetakan kedua. Yogyakarta: Gadjah Mada University.

http://animal-intelektual.blogspot.com/2009/07/seleksi-individu-ternak.html

Diakses tanggal : 5 Maret 2010, 11:00 WIB

http://blogs.unpad.ac.id/saulandsinaga/category/perkawinan-dan-reproduksi-babi/ diakses tanggal 10 Maret 2010, !0:00 WIB

http://matanews.com/2009/04/27/bali-deteksi-penumpang-ln-hindari-flu-babi/ diakses tanggal 11 Maret 2010, !2:10 WIB

http://blogs.unpad.ac.id/SaulandSinaga/wp-content/uploads/2009/04/pict0350.jpg diakses tanggal 11 Maret 2010, !2:10 WIB

Study into the efficacy of sow AI strategies

Research by the Agri-Food and Biosciences Institute (AFBI), Northern Ireland, UK, has compared the efficacy of various insemination strategies in sows. Success in their use ‘would greatly depend on accurate and timely heat detection and subsequent insemination.’

The trial focused on two methods. The first one was the traditional method of insemination, using a sponge catheter which delivers semen into the cervix of the sow. In this method, sows are normally inseminated twice within each heat to ensure a successful conception. Recently a new type of catheter was introduced – the Deep Intrauterine (DUI) catheter which delivers the semen into the uterine horn and closer to the egg. Manufacturers claim that only one insemination is required using this catheter to achieve conception.

Sow herd
The trial was conducted on the sow herd at the AFBI and was co-funded by Pig ReGen and DARD. In total, 180 sows were used and three insemination procedures were compared:

* ‘Normal’ - Sows were inseminated twice using a normal catheter.

* ‘DUI + Normal’ – After detection, sows were inseminated twice.

* ‘DUI Once’ – After detection, sows were inseminated once within 24 hours.

Low conception rate
In this study, the lowest conception rate (72%) and lowest number of pigs born alive (11.1) were the result of inseminating sows with the DUI catheter once 24 hrs after heat was detected.

Under normal commercial management where sows are inspected for heat and inseminated within time blocks, it is difficult to ensure high success rates using the ‘once’ method.

However, the combination of the DUI catheter with a normal catheter within a ‘twice’ insemination procedure optimised conception rates (88%) and the number of pigs born alive with little effect on the average birth weight of piglets born.

Number of pigs born
As expected, as the number of pigs born increased, the average birth weight of pigs decreased. However, in this case the difference was not excessive. If the DUI catheter was to be used on farm, specialised training is required as incorrect use can damage the reproductive tract within the sow.

A high standard of hygiene should also be in place since the insertion of a ‘dirty’ catheter would deliver infection deep into the reproductive organs of the sow.

SELEKSI INDUK BABI SAMPAI REMATING

Tahap Seleksi Induk :

    1.     Seleksi dari babi siap jual  umur 5-7 bulan     

              ( kaki, perut, organ rep, temperamen,pertumbuhan, TLP, FCR)

    2.     Telah divaksin Erysipelas, Leptospirosis parvovirus.

    3.     Kawinkan pada estrus ke 2 dan 3. Lama  114 +/-  4 hari

Penanganan Induk Bunting

  1. Cek induk bunting atau tidak 21 hari kemudian
  2. Cek Ultrasonic 30 hari setelah kawin
  3. Induk Bunting 2 – 3 kg/hari air adlibitum
  4. Induk di vaksin E. Coli, Erysipelas, Leptospirosis, parvovirus.

 

Penanganan Induk Melahirkan

  1. Induk melahirkan 2,5 – 3 jam/litter
  2. Induk tersebut lahir berbaring
  3. Isolasi dari babi lain
  4. Siapkan guard rail/ crate untuk anak tidak tertindih, cold, bedding, penghangat.
  5. Selama melahirkan diawasi trus.

 

Ciri Induk Babi Mau dan telah Melahirkan

  1. Gelisah, sering bangun tidur.
  2. Menggit pintu/batang
  3. Mengorek-ngorek lantai
  4. Membuat sarang bila bahan ada
  5. Adanya colostrum pada puting
  6. Vulva bengkak turun
  7. Keluarnya cairan uterus ketika mau keluar anak pertama
  8. Proses melahirkan 15 menit/anak
  9. Keluarnya plasenta jika anak semua keluar
  10. Induk tidak langsung mau makan pada hari proses melahirkan.

 

Induk Babi Laktasi / Menyusui

  1. Laktasi bisa lebih dari 8 bulan
  2. Usahakan  3 – 4 minggu
  3. Keluar susu biasanya interval 45 menit
  4. Induk total dapat mengontrol air susunya
  5. Teat order biasanya 1 – 2 hari stlh lahir
  6. Ikatan induk dengan anak dengan suara dan bau
  7. Untuk fostering beda lahir ½ hari
  8. Fostering untuk mengseragamkan berat anak
  9. Produksi susu 10l/hari bantu dengan creep feeding untuk meningkatkan growth anak
  10. Sediakan air minum induk 20 – 25 l/air  

 

Waning to Remating/ Culling

  1. Untuk meningkatkan produktifitas induk
  2. 2 minggu tidak estrus induk di culling
  3. Induk biasanya 6 kali melahirkan stlah itu culling
  4. Kontak jantan dan pencahayaan sangat membantu estrus
  5. Much Feed and Water during mating
  6. Pakan anak sapihan biasanya ditambahkan obat untuk menghindari penyakit.

PERKAWINAN DAN REPRODUKSI BABI

Seleksi
Seleksi ialah: memili hewan-hewan ternak yang bernilai tinggi, oleh karena itu untuk mengadakan seleksi, haruslah memilih babi-babi yang menguntungkan. Dengan seleksi bisa diharapkan ada perbaikan karakter ekonomi tertentu, misalnya pertumbuhan, daya tahan, produksi.
Pelaksanaan seleksi, memilih babi-babi dewasa yang hendak dipakai sebagai bibit dapat dilakukan cara:
1. Pemilihan individu (induk dan pejantang yang bagus)
2. Pemilihan menurut hasil produksi keturunan
3. Pemilihan menurut silsilah

Reproduksi Babi
Yang dimaksud dengan perkembang biakan ialah mengusahakan hewan ternak, agar bisa memperoleh keturunan. Dengan demikian mengembang biakan babi pun mengusahakan agar babi-babi yang dipiara, bisa memperoleh keturunan pula. Seorang peternak yang terampil harus memperhatikan pemilihan bibit yang memenuhi persyaratan dalam penyeleksian dan perkawinan.
Babi termasuk hewan yang subur untuk dipelihara kemudian dijual, karena jumlah perkelahiran (litter size) lebih dari satu (polytocous) dan jarak perkelahiran pendek. Seekor induk dalam satu tahun dapat menghasilkan dua kali melahirkan dan 20 ekor anak sama dengan 1800 kg daging sapi setahun.
Untuk memperoleh hasil yang memuaskan dan menguntungkan maka seorang peternak yang ingi maju perlu mengetahui hal-hal yang menyangkut tentang perkembang biakan ternak (babi), berikut ini kita akan pelajari tentang:

a) Organ reproduksi jantan
 Organ Reproduksi Jantan fungsi umumnya adalah :
 Memproduksi sel jantan, disebut spermatozoa (sperma)
 Memasukkan sperma pada alat reproduksi betina pada saat bertepatan.
Nama Letak/bentuk Fungsi
Testis 2 buah Berada diluar tubuh dan dibungkus scrotum  memproduksi sperma,
 menghasilkan hormon testoteron (memelihara kedewasaan, memelihara organ reproduksi, menumbuhkan nafsu sexual sehingga menimbulkan keinginan untuk kawin.
Seminiferous tubules Terdapat dalam testes bebentuk tabung yang bergulung-gulung  sperma dihasilkan dalam tabung ini, terus menerus semenjak akil balik.
Saluran efferen Terletak antara testes dan epididymus Saluran yang membawa sperma dari rate testes menuju epididymis
Epididymis Tabung besar yang berkelok-kelok Sebagai jalan keluarnya sperma, menyimpan sperma, keluarnya cairan yang memberi makan sperma, tempat dimana sperma menjadi masak.
Vas deferens Saluran yang bulat Membawa sperma kedalam urethra pada saat ejakulasi (penyemprotan)
Kelenjar prostat Terletak dileher kandung air kencing (bladder). Membersikan urethra selama ejakulasi dan melebarkan sehingga sperma bisa keluar dengan lancar.
Kelenjar Cowper’s Terletak diatas urethra, di daerah pervis Menghasilkan alkalin yang dapat membersihkan urethra pada saat semen terlepas.
Urethra Suatu tabung panjang yang menghubungkan kandungan air kencing dengan glan penis Jalan sperma dan air kencing
Penis Adalah alat kopulasi Untuk memasukkan seperma pada saat perkawinan.
Sperma Sperma disebut juga semen, yang berarti benih (bahasa Yunani) diproduksi dalam testis oleh cellular dalam bentuk yang kental seperti agar-agar

b) Organ reproduksi betina
Nama Letak/bentuk Fungsi
Ovarium Babi mempunyai 2 ovarim yang berbentuk bulat kecil Menghasilkan ovum (telur) dan berbagai hormon yg membantu dalam reproduksi dan mempengaruhi pertumbuhan
Oviduct Bagian alat reproduksi yang menghubungkan ovarium dengan uterus Pada oviduc bagian atas telur dibiahi
Uterus Bagian reproduksi yang paling luas Mempersiapkan tempat bagi telur-telur yang telah dibuahi sampai berkembang menjadi janin (anak babi) + 114 hari
Cervix Merupakan bulatan yang kuat, yang menghubungkan vagina dan uterus Pada saat perkawinan terjadi, cervix ini mengunci ujung penis dengan lipatan urat itu sehingga mendorong pejantan berejakulatie
Vagina Saluran yang cukup lebar yang menghubungkan uterus dengan vulva. Pada saat perkawinan penis masuk vagina supaya bisa mengendapkan semen ke dalam uterus.
Vulva Alat kelamin vagian luar yang terbuka, dan pada bagian bawah terdapat clitoris. Bila babi birahi, alat ini nampak merah.

c) Masa birahi (head period)
Peristiwa Interval Rata-rata
Umur saat pubertas (bln) 4-7 (bln) 6 (bln)
Lama birahi (hari) 1-5 (hari) 2-3 (hari)
Panjang siklus birahi 18-24 (hari) 21 (hari)
Waktu ovulasi (jam setelah birahi) 12-48 (jam) 24-36 (jam)
Saat yang baik untuk kawin Estrus hari kedua
Lama kebuntingan (hari) 111-115 114 (hari)
3 bln, 3 mg, 3 hari

Hanya pada saat-saat birahi saja, babi mau menerima pejantan atau dapat dikawinkan. Tanpa timbul birahi, babi tidak dapat dipaksakan kawin. Oleh karena itu peternak secara cepat mengetahui masa birahinya.

Tanda-tanda birahi :
 Babi nampak gelisah dan berteriak-teriak
 Kemaluan bengkak, pada vulva nampak merah, bagi babi induk yang sudah sering beranak biasanya tak begitu nampak merah
 Selalu mencoba menaiki temannya, atau ingin keluar dari kandang
 Bila punggung diberi beban atau diduduki diam saja.
 Dari kemaluan sering keluar lendir.

Faktor-faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya birahi pertama:
 Faktor bibit
 Faktor lingkungan, seperti iklim, makan, stress akibat sakit
 Karena terganggu gemuk bisa terlambat
d) Mengawinkan babi
Menurut penelitian, ovulasi : terlepasnya sel telur dari indung telur 30-35 jam atau hari kedua setelah gejalah birahi terlihat. Sedang sel jantan (sperma) yang ada didalam vagina cervix akan saling bertemu pada saluran telur (oviduc) bagian atas dekat ovarium.
Didalam alat reproduksi betina, sperma dapat hidup 24-48 jam. Dan untuk mencapai oviduc memerlukan waktu 4-6 jam. Akan tetapi perlu diketahui bahwa ada sperma yang hidupnya lebih pendek, kurang dari 24 jam setelah terjadi ovulasi dan tidak semua sel telur bisa dibuahi. Jumlah sel telur bisa 12-16, yang masak bersama-sama dan bisa dibuahi. Akan tetapi sering juga sampai 20 buah: sebaliknya, juga tidak jarang hanya 3 atau 4 buah.
Kita mengawinkan babi harus betul-betul tepat pada waktunya, yakni babi dikawinkan pada hari kedua setelah nampak birahi. Terkecuali babi dara (gilt) bisa dikawinkan pada hari pertama dari masa birahi. Karena birahnya babi dara lebih pendek dibanding babi-babi yang pernah beranak. Apabila babi yang sedang birahi itu tidak dikawinkan, birahi akan terulang kembali pada 18 – 24 hari, atau rata-rata 3 minggu (21 hari)

e) Mengawinkan babi dara dan induk yang telah beranak
 Mengawinkan babi dara
 Babi mulai baliq pada umur 5-6 bulan, sudah birahi tapi sebaiknya jangan dikawinkan dulu, karena kedewasaan tubuh baru tercapai pada umur 8-10 bulan dengan berat badan + 100-120 kg.
 Untuk mencapai konsepsi (pembuahan) yang tinggi hendaknya, babi itu dikawinkan 2 kali selama masa birahi
 Babi yang baru dikawinkan hendaknya ditempatkan tepisah dari babi-babi lain, selama 2 hari, diberikan makanan yang baik dan ditempatkan dilingkungan tenang.
 Mengawinkan induk yang telah beranak
 Induk yang pernah beranank yang akan dikawinkan kembali sebelumnya dilakukan penyapian terlebih dahulu.
 Induk yang habis menyapih pada umumnya akan birahi lagi 3-10 hari
 Biasanya babi yang baru menyapi akan kurus, maka sebaiknya perkawinan ditunda dulu sampai babi gemuk dan sehat kembali.

f) Sistim Perkawinan: Untuk mengawinkan babi bisa dilakukan dua sistem yakni:
1. Perkawinan Alam :
 Pada umumnya perkawinan bisa berlangsung selama 10 – 15 menit
 Babi betina yang birahi dimasukkan dalam kandang pejantan, bisa dikawinkan sampai dua kali untuk mendapatkan hasil yang optimal.
 Betina yang kecil dan jantan yang besar bisa dibantu dengan membuat kandang secara khusus
 Perbandingan jantan dan betina : jantan usia 1 tahun adalah 1jantan : 15-20 betina; umur jantan setahun keatas adalah 1 jantan : 30 betina.
2. Perkawinan buatan = Artificial Insimination (AI) = Insiminasi buatan (IB)
Perkawinan ini adalah memasukkan serma kedalam kelamin betina dengan tindakan manusia.
 Keuntungan AI atau IB antara lain:
 Manfaat seekor pejantan bisa diperbesar
 Perkawinan bisa dilakukan diantara hewan yang tempatnya berjauhan, misalnya babi Indenesia dengan Autralia atu Belanda.
 Dengan IB, tidaklah setiap peternak memelihara pejantan sendiri sehingga bisa hemat biaya.
 Pemacek yang karena sesuatu hal, misalnya pejantan terlalu besar, pincang, dst sulit dilakukan, dengan IB dapat dikerjakan.
 Kelemahan IB, antara lain:
 Tidak semua inseminator mempunyai pengalaman yang cukup, sehingga hasil kurang terjamin.
 Kemungkinan akan terbawanya bagian penyakit senantiasa ada, karena pelaksanaannya yang ceroboh.
 Menyebarkan keturunan yang jelek. Misalnya karena sperma diambil tanpa memilih pejantan yang bagus.
 Terlalu banya babi yang memiliki keturunan yang sama (inbreed)

g) Kebuntingan
Selama bunting babi tidak akan birahi. Lama bunting rata-rata 114 hari (3 bulan, 3 minggu, 3 hari), dan lama kebuntingan bisa dipengaruhi oleh :
 Faktor induk : induk muda yang pertama kali bunting, biasa waktunya lebih pendek.
 Jumlah anak: bila jumlah anak yang dikandung lebih banyak, bisa lamanya bunting lebih pendek
 Bangsa babi: akan mempengaruhi kebuntingan.
 Babi bunting harus mendapat makanan yang cukup baik, supaya badan kuat waktu melahirkan, dan bibit tumbuh sehat (akan dibahas secara khusus)

h) Kelahiran dan Keguguran
Pada sistem pemeliharaan manapun, babi-babi hendak beranak haruslah disendirikan seminggu sebelum beranak agar sang induk memperoleh ketenangan.
Sebagai persiapan :
 Kandang harus bersih dan steril (dengan Lysol kreolin)
 Lantai ditaburi sekam atau jerami
 Kandang harus kering
Sebelum melakukan persiapan , terlebih dahulu harus melakukan suatu persiapan dan harus mengetahui tanda-tanda babi yang hendak beranak, proses kelahiran serta kesukaran-kesukaran yang dialami.
 Tanda-tanda babi yang akan melahirkan:
 Perut sangat turun kebawah
 Vulva kelihatan merah dan membesar (36 jam sebelum melahirkan)
 Putting keras berwana kebiru-biruan, karena berisi air susu apabila dipijat keluar susu.
 Nafsu makan berkurang, dan nampak sangat gelisah
 Sering mengumpulkan sarang
 Biasanya mengentak-entakkan kaki dan sebentar-bentar kencing.

 Proses kelahiran biasanya berlangsung 1 – 12 jam, akan tetapi perlu diketahui bahwa kelahiran normal terdiri dari 3 tingkat (stadium):
1. Stadium persiapan :
 Ikatan rahim menjadi kendor dan turun letaknya
 Sisi badan menjadi cekung dan pinggangnya menjadi turun kebawah, karena jaringan pengikat menjadi elastis.
 Bibir kemaluan merah, membesar
 Ambing menjadi tegang, berisi air susu, dan putting menunjukkan warna kebiruan pertanda anak akan segera lahir.
 Induk siap-siap mengumpulkan sarang
2. Stadium pembukaan:
 Pada saat ini rahim mulai berkontraksi (mengkerut), hal ini tak nampak dari luar, yang bisa diperhatikan adalah tingkahlakunya saja, dimana babi nampak gelisah, tidur berdiri berulang kali, memukul-mukul ekornya, mengentak-entak kaki sering kencing.
 Akibat kontraksi rahim, janin mencapai letak yang tepat yakni perut turun kebawah dan tubuh nampak memanjang.
 Pada saat ini cervix terbuka lebar, karena daging mulai mengendor. Cervix yang tak dapat terbuka menyulitkan kelahiran dan berbahaya.

3. Stadium Pelepasan:
Setelah melewati stadium pembukaan karena bantuan dari kontraksi rahim beserta kejang daging perut, maka janin mulai keluar.
 Keguguran, hal ini terjadi karena berbagai sebab.
 Karena temperatur tubuh terlalu tinggi
 Ransum kekurangan zat-zat tertentu (mineral, protein, vitamin-vitamin)
 Akibat keracunan
 Induk menderita anemia
 Infeksi uterus yang mengakibatkan makanan untuk janin terputus
 Induk menderita Brucellosis (keguguran menular)
 Kesukaran dan keterlambatan pada waktu melahirkan :
 Cervix terlalu sempit, tak dapat terbuka secara wajar
 Kontraksi rahim lemah, akibat infeksi
 Anak yang keluar melintang
 Adanya dua ekor anak yang keluar bersama-sama
 Karena anak yang lahir kepala atau pantatnya terlampau besar.

REPRODUKSI DAN TARGET PRODUKSI BABI (Tambahan)

Reproduksi Babi

Babi termasuk hewan yang subur untuk dipelihara kemudian dijual,  karena jumlah perkelahiran (litter size) lebih dari satu (polytocous) dan jarak perkelahiran pendek. Seekor induk dalam satu tahun dapat menghasilkan dua kali melahirkan dan 20 ekor anak sama dengan 1800 kg daging setiap tahun.

Tabel 1. Data Reproduksi Babi Induk

Peristiwa Interval Rata-rata
Umur saat pubertas (bln)

Lama Birasi (estrus) (hari)

Panjang Siklus birashi (hari)

Waktu ovulasi (jam stlah birahi)

Saat yang baik untuk kawin

Lama Kebuntingan (har)

4 – 7

1 – 5

18 – 24

12 – 48

estrus hr kedua

111 – 115

6

2 – 3

21

24 – 36

114

(3 bln, 3 mg, 3 hr)

Pubertas/birahi pada babi dara 4 – 7 bulan dengan rata-rata bobot badan 70-110 kg akan tetapi tidak dikawinkan sebelum umur 8 bulan atau pada periode estrus/birahi  yang ketiga hal ini berguna untuk produksi anak yang lebih banyak dan lama hidup induk lebih panjang. Agar diperoleh anak yang lebih banyak maka induk dikawinkan pada 12 – 24 jam setelah tanda estrus/birahi. Estrus atau birahi pada induk babi adalah karena aktifitas dari hormon estrogen yang dihasilkan oleh ovarium, kejadian ini terjadi selama 3 – 4 hari dengan perubahan tingkah laku seperti suka mengganggu pejantan, kegelisahan meningkat, menaiki betina lainnya dan nafsumakan menurun serta mengeluarkan suara yang khas, kalau ditekan atau diduduki punggungnya diam saja, vulva yang membengkak dan memerah serta lendir keruh dan mengental muncul, bila tanda tanda ini terlihat berarti bebi betinna tersebut siap kawin.     Dalam praktek dengan dua kali perkawinan yaitu 12 dan 24 jam setelah tanda estrus dimulai supaya ovum banyak dibuahi dan jumlah anak (litter size tinggi).

Untuk meningkatkan jumlah anak induk perlu di Flushing  yaitu konsumsi induk ditingkatkan selama 7 – 14 hari sebelum dikawinkan untuk meningkatkan jumlah anak perkelahiran bila pakan selama fase pertumbuhan dibatasi.

Perkawinan yang paling umum adalah perkawinan kelompok (lot Mating) cara ini adalah menempatkan satu atau beberapa ekor jantan kedalam kandang beberapa ekor betina yang sedang birahi, cara ini mengurangi tenaga kerja yang diperlukan.  Hand mating memasukkan  seekor betina dan seekor jantan setelah kawin kemudian jantan dipisahkan kembali ini untuk memudahkan pengontrolan ibu dan bapak anak yang lahir  kondisi kandang kawin ini harus tenang dan tidak licin.

Kebuntingan

Lama bunting rata-rata 114 hari, kematian embrio/fetus paling sering terjadi/ fase kritis pada saat 30 – 35 hari awal kebuntingan. Perlakuan terhadap temperatur yang ekstrim, pemberian pakan harus rendah pada awal kebuntingan ini dan penggunaan obat-obatan harus hati-hati.

Kelahiran

Induk sebaiknya ditempatkan ke kandang melahirkan 3 – 7 hari menjelang melahirkan, dalam kandang harus bersih, tenang dan  Tanda induk mau melahirkan Gelisah, membuat sarang bila ada medianya, organ reproduksi dan kelenjar mamae membesar dan susu akan keluar bila ditekan saat 12 – 48 jam menjelang kelahiran. Laju pernapasan meningkat menjelang 12 jam kelahiran  kelahiran paling sering menjelang malam hari. Induk merebahkan diri pada satu sisi saat melahirkan kelahiran dengan pola berurutan (satu-satu) selama kurang lebih 1 – 5 jam, anak yang lahir biasanya 70% kaki depan dulu keluar, anak babi dengan kaki belakang duluan paling banyak mati lahir, bila periode kelahiran cukup lama perlu dilakukan perogohan kedalam alat reproduksi induk, mungkin ada yang sungsang. Perlakuan anak setelah lahir adalah dibersihkan  hidungnya dan badannya dari cairan rahim, dan dibantu diberikan susu pertama (colostrum), berikan penghangat pada kandang anak yang baru lahir. Maka dengan itu selama proses kelahiran harus senantiasa diawasi oleh anak kandang. Induk yang terlampau tua, gemuk dan gelisah selalu lebih banyak mengalami problem saat melahirkan oleh sebab itu induk sebaiknya melahirkan sebanyak 8 – 10 kali setelah itu diafkir.  Pemotongan ari-ari dipotong dengan cara mengikat dulu pada bagian dekat perut kemudian di gunting lalu diberikan antibiotik (betadin/yodium).     Induk akan birahi kembali 3 – 5 hari setelah anaknya disapih/dipisahkan oleh sebab itu induk dapat dikawinkan kembali untuk memperbanyakjumlah anak yang lahir pertahun. Lama penyapihan biasanya 2 bulan akan tetapi dapat dipersingkat menjadi 3 minggu dengan perlakuan tertentu.

Anak Babi Setelah Lahir

Anak babi saat lahir sangat lemah, tidak berbulu (tidak tahan dingin) perlu suhu kandang harus 35 oC, cadangan energi yang ada dalam tubuh anak babi cukup hanya 7 – 8 jam oleh sebab itu susu induk sangat diperlukan setelah lahir, oleh sebab itu  perlu ada jerami pada lantai anak dan diberi penghangat (lampu minyak atau listrik).

Defisiensi Besi (Fe) atau anemia cepat muncul pada anak babi yang baru lahir yangdipelihara terkurung hal ini disebabkan oleh persediaan Fe dalam tubuh babi cukuprendah, Fe dalam susucukuprendah, kontak babi dengan tanah sumber Fe  dibatasi dan laju pertumbuhan babi yang cepat. Ciri anak babi yang kekurangan Fe ini terlihat pucat, lemah,  bulu berdiri dan bernafas cepat  oleh sebab itu 48 – 72 jam zat besi harus diberikan antara lain dengan cara : disuntik dengan (paling dianjurkan), disediakan tanah supaya anak babi bisa menjilat-jilat larutan fe digosokkan pada ambing/susu induk yang umum adalah dengan menyuntikkan iron dextran kedalam otot leher atau paha.

Perebutan puting susu sangat hebat saat babi baru lahir biasanya babi berebut pada babi pada bagian depan karena susu yang paling banyak diproduksi. Oleh sebab itu anak yang lemah atau kecil mendapat susu yang paling sedikit maka anak tersebut menjadi lebih kecil maka dengan itu perlu diberikan susu atau makanan tambahan bagi anak selama menyusui.

Pentirian anak babi bisa dilakuakan bila lama anak babi terlampau banyak dibanding dengan jumlah puting atau induk babi bati saat melahirkan, akan tetapi pentirian bisa dilakukan bila umur jarak antar melahirkan dengan induk lain kurang dari 2 hari, sebelum dilakukan pentirian sebaiknya diberikan bau-bauan yang sama (dengan kotoran, oli, cairan rahim atau bau yang kuat) agar induk yang menerima tidak mencium bau yang berbeda kemudian akanmenolakanak tersebut.

Pemotongan gigi taring anak babi harus dilakukan segera setelah lahir untuk menjaga agar tidak melukai ambing (susu induk), denganmenggunakan tang pemotongan ini harus hati-hati  agar tidak kena gusi/lidah, pemotongan ekor dapat dilakukan bila diperlukan untuk kebersihan danmenghindari perkelahian.

Kastrasi/kebiri sebaiknya dilakukan pada anak babi jantan sebelum berumur 10 hari kecuali pada anak yang akan dicalonkan pejantan, pisau diugunakan untuk memotong skrotum, dan tangan harus steril atau didesinfektan.

Reproduksi Jantan

Sedangkan jantan lebih lama 5 – 8 bulan dengan bobot badan 75 – 110 kg akan tetapi dikawinkan pada umur 12 bulan. Sebelum digunakan sebagai pejantan perlu di tes dulu dengan mengawinkan dengan 2 – 3  dara yang akan dipotong bila setelah  4 – 5 mg kebuntingan dipotong maka didapat 8 – 10 embrio maka jantan tersebut subur/fertil. Jantan yang berumur setahun dapat dikawinkan dengan induk 7 – 8 tiap minggunya, sedangkan

pejantan dewasa 12 induk/minggu.

TARGET PRODUKSI  BABI YANG HARUS DICAPAI

Parameter Angka
Rasio jantan : BetinaKelahiran induk/thn

Service Return Rate

Jumlah anak / kelahiran

Lahir anak hidup/kelahiran

Jumlah anak yang disapih /kelahiran

Umur sapih

Jumlah anak /Induk/Tahun

Kematian babi %

Pertambahan Badan (berat badan)

-    Preweaning (3 -10 kg)

-          Weaners (10-25 kg)

-          Growers (25-55 kg)

-          Finishers ( 55- 90 kg)

Konversi Ransum (Konsumsi/PBB)

-  Preweaning

-          Weaners

-          Growers

-          Finishers

-          Overall

-          Rata peternakan

- Tebal lemak punggung (mm)

18.52,4 kali

12.3 %

11.33 ekor

10.44 ekor

9.2 ekor

25.8 hari

20.3 ekor

2.5 ekor

200 gram/hari

450 gram/hari

730 gram /hari

850 gram/hari

610 gram/hari

1.0

1.6

2.3

2.8

2.3

2.8

12 mm

SELEKSI DAN REPRODUKSI BABI

Seleksi
Seleksi ialah: memili hewan-hewan ternak yang bernilai tinggi, oleh karena itu untuk mengadakan seleksi, haruslah memilih babi-babi yang menguntungkan. Dengan seleksi bisa diharapkan ada perbaikan karakter ekonomi tertentu, misalnya pertumbuhan, daya tahan, produksi.
Pelaksanaan seleksi, memilih babi-babi dewasa yang hendak dipakai sebagai bibit dapat dilakukan cara:
1. Pemilihan individu (induk dan pejantang yang bagus)
2. Pemilihan menurut hasil produksi keturunan
3. Pemilihan menurut silsilah

Reproduksi Babi
Yang dimaksud dengan perkembang biakan ialah mengusahakan hewan ternak, agar bisa memperoleh keturunan. Dengan demikian mengembang biakan babi pun mengusahakan agar babi-babi yang dipiara, bisa memperoleh keturunan pula. Seorang peternak yang terampil harus memperhatikan pemilihan bibit yang memenuhi persyaratan dalam penyeleksian dan perkawinan.
Babi termasuk hewan yang subur untuk dipelihara kemudian dijual, karena jumlah perkelahiran (litter size) lebih dari satu (polytocous) dan jarak perkelahiran pendek. Seekor induk dalam satu tahun dapat menghasilkan dua kali melahirkan dan 20 ekor anak sama dengan 1800 kg daging sapi setahun.
Untuk memperoleh hasil yang memuaskan dan menguntungkan maka seorang peternak yang ingi maju perlu mengetahui hal-hal yang menyangkut tentang perkembang biakan ternak (babi), berikut ini kita akan pelajari tentang:

a) Organ reproduksi jantan
 Organ Reproduksi Jantan fungsi umumnya adalah :
 Memproduksi sel jantan, disebut spermatozoa (sperma)
 Memasukkan sperma pada alat reproduksi betina pada saat bertepatan.
Nama Letak/bentuk Fungsi
Testis 2 buah Berada diluar tubuh dan dibungkus scrotum  memproduksi sperma,
 menghasilkan hormon testoteron (memelihara kedewasaan, memelihara organ reproduksi, menumbuhkan nafsu sexual sehingga menimbulkan keinginan untuk kawin.
Seminiferous tubules Terdapat dalam testes bebentuk tabung yang bergulung-gulung  sperma dihasilkan dalam tabung ini, terus menerus semenjak akil balik.
Saluran efferen Terletak antara testes dan epididymus Saluran yang membawa sperma dari rate testes menuju epididymis
Epididymis Tabung besar yang berkelok-kelok Sebagai jalan keluarnya sperma, menyimpan sperma, keluarnya cairan yang memberi makan sperma, tempat dimana sperma menjadi masak.
Vas deferens Saluran yang bulat Membawa sperma kedalam urethra pada saat ejakulasi (penyemprotan)
Kelenjar prostat Terletak dileher kandung air kencing (bladder). Membersikan urethra selama ejakulasi dan melebarkan sehingga sperma bisa keluar dengan lancar.
Kelenjar Cowper’s Terletak diatas urethra, di daerah pervis Menghasilkan alkalin yang dapat membersihkan urethra pada saat semen terlepas.
Urethra Suatu tabung panjang yang menghubungkan kandungan air kencing dengan glan penis Jalan sperma dan air kencing
Penis Adalah alat kopulasi Untuk memasukkan seperma pada saat perkawinan.
Sperma Sperma disebut juga semen, yang berarti benih (bahasa Yunani) diproduksi dalam testis oleh cellular dalam bentuk yang kental seperti agar-agar

b) Organ reproduksi betina
Nama Letak/bentuk Fungsi
Ovarium Babi mempunyai 2 ovarim yang berbentuk bulat kecil Menghasilkan ovum (telur) dan berbagai hormon yg membantu dalam reproduksi dan mempengaruhi pertumbuhan
Oviduct Bagian alat reproduksi yang menghubungkan ovarium dengan uterus Pada oviduc bagian atas telur dibiahi
Uterus Bagian reproduksi yang paling luas Mempersiapkan tempat bagi telur-telur yang telah dibuahi sampai berkembang menjadi janin (anak babi) + 114 hari
Cervix Merupakan bulatan yang kuat, yang menghubungkan vagina dan uterus Pada saat perkawinan terjadi, cervix ini mengunci ujung penis dengan lipatan urat itu sehingga mendorong pejantan berejakulatie
Vagina Saluran yang cukup lebar yang menghubungkan uterus dengan vulva. Pada saat perkawinan penis masuk vagina supaya bisa mengendapkan semen ke dalam uterus.
Vulva Alat kelamin vagian luar yang terbuka, dan pada bagian bawah terdapat clitoris. Bila babi birahi, alat ini nampak merah.

c) Masa birahi (head period)
Peristiwa Interval Rata-rata
Umur saat pubertas (bln) 4-7 (bln) 6 (bln)
Lama birahi (hari) 1-5 (hari) 2-3 (hari)
Panjang siklus birahi 18-24 (hari) 21 (hari)
Waktu ovulasi (jam setelah birahi) 12-48 (jam) 24-36 (jam)
Saat yang baik untuk kawin Estrus hari kedua
Lama kebuntingan (hari) 111-115 114 (hari)
3 bln, 3 mg, 3 hari

Hanya pada saat-saat birahi saja, babi mau menerima pejantan atau dapat dikawinkan. Tanpa timbul birahi, babi tidak dapat dipaksakan kawin. Oleh karena itu peternak secara cepat mengetahui masa birahinya.

Tanda-tanda birahi :
 Babi nampak gelisah dan berteriak-teriak
 Kemaluan bengkak, pada vulva nampak merah, bagi babi induk yang sudah sering beranak biasanya tak begitu nampak merah
 Selalu mencoba menaiki temannya, atau ingin keluar dari kandang
 Bila punggung diberi beban atau diduduki diam saja.
 Dari kemaluan sering keluar lendir.

Faktor-faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya birahi pertama:
 Faktor bibit
 Faktor lingkungan, seperti iklim, makan, stress akibat sakit
 Karena terganggu gemuk bisa terlambat
d) Mengawinkan babi
Menurut penelitian, ovulasi : terlepasnya sel telur dari indung telur 30-35 jam atau hari kedua setelah gejalah birahi terlihat. Sedang sel jantan (sperma) yang ada didalam vagina cervix akan saling bertemu pada saluran telur (oviduc) bagian atas dekat ovarium.
Didalam alat reproduksi betina, sperma dapat hidup 24-48 jam. Dan untuk mencapai oviduc memerlukan waktu 4-6 jam. Akan tetapi perlu diketahui bahwa ada sperma yang hidupnya lebih pendek, kurang dari 24 jam setelah terjadi ovulasi dan tidak semua sel telur bisa dibuahi. Jumlah sel telur bisa 12-16, yang masak bersama-sama dan bisa dibuahi. Akan tetapi sering juga sampai 20 buah: sebaliknya, juga tidak jarang hanya 3 atau 4 buah.
Kita mengawinkan babi harus betul-betul tepat pada waktunya, yakni babi dikawinkan pada hari kedua setelah nampak birahi. Terkecuali babi dara (gilt) bisa dikawinkan pada hari pertama dari masa birahi. Karena birahnya babi dara lebih pendek dibanding babi-babi yang pernah beranak. Apabila babi yang sedang birahi itu tidak dikawinkan, birahi akan terulang kembali pada 18 – 24 hari, atau rata-rata 3 minggu (21 hari)

e) Mengawinkan babi dara dan induk yang telah beranak
 Mengawinkan babi dara
 Babi mulai baliq pada umur 5-6 bulan, sudah birahi tapi sebaiknya jangan dikawinkan dulu, karena kedewasaan tubuh baru tercapai pada umur 8-10 bulan dengan berat badan + 100-120 kg.
 Untuk mencapai konsepsi (pembuahan) yang tinggi hendaknya, babi itu dikawinkan 2 kali selama masa birahi
 Babi yang baru dikawinkan hendaknya ditempatkan tepisah dari babi-babi lain, selama 2 hari, diberikan makanan yang baik dan ditempatkan dilingkungan tenang.
 Mengawinkan induk yang telah beranak
 Induk yang pernah beranank yang akan dikawinkan kembali sebelumnya dilakukan penyapian terlebih dahulu.
 Induk yang habis menyapih pada umumnya akan birahi lagi 3-10 hari
 Biasanya babi yang baru menyapi akan kurus, maka sebaiknya perkawinan ditunda dulu sampai babi gemuk dan sehat kembali.

f) Sistim Perkawinan: Untuk mengawinkan babi bisa dilakukan dua sistem yakni:
1. Perkawinan Alam :
 Pada umumnya perkawinan bisa berlangsung selama 10 – 15 menit
 Babi betina yang birahi dimasukkan dalam kandang pejantan, bisa dikawinkan sampai dua kali untuk mendapatkan hasil yang optimal.
 Betina yang kecil dan jantan yang besar bisa dibantu dengan membuat kandang secara khusus
 Perbandingan jantan dan betina : jantan usia 1 tahun adalah 1jantan : 15-20 betina; umur jantan setahun keatas adalah 1 jantan : 30 betina.
2. Perkawinan buatan = Artificial Insimination (AI) = Insiminasi buatan (IB)
Perkawinan ini adalah memasukkan serma kedalam kelamin betina dengan tindakan manusia.
 Keuntungan AI atau IB antara lain:
 Manfaat seekor pejantan bisa diperbesar
 Perkawinan bisa dilakukan diantara hewan yang tempatnya berjauhan, misalnya babi Indenesia dengan Autralia atu Belanda.
 Dengan IB, tidaklah setiap peternak memelihara pejantan sendiri sehingga bisa hemat biaya.
 Pemacek yang karena sesuatu hal, misalnya pejantan terlalu besar, pincang, dst sulit dilakukan, dengan IB dapat dikerjakan.
 Kelemahan IB, antara lain:
 Tidak semua inseminator mempunyai pengalaman yang cukup, sehingga hasil kurang terjamin.
 Kemungkinan akan terbawanya bagian penyakit senantiasa ada, karena pelaksanaannya yang ceroboh.
 Menyebarkan keturunan yang jelek. Misalnya karena sperma diambil tanpa memilih pejantan yang bagus.
 Terlalu banya babi yang memiliki keturunan yang sama (inbreed)

g) Kebuntingan
Selama bunting babi tidak akan birahi. Lama bunting rata-rata 114 hari (3 bulan, 3 minggu, 3 hari), dan lama kebuntingan bisa dipengaruhi oleh :
 Faktor induk : induk muda yang pertama kali bunting, biasa waktunya lebih pendek.
 Jumlah anak: bila jumlah anak yang dikandung lebih banyak, bisa lamanya bunting lebih pendek
 Bangsa babi: akan mempengaruhi kebuntingan.
 Babi bunting harus mendapat makanan yang cukup baik, supaya badan kuat waktu melahirkan, dan bibit tumbuh sehat (akan dibahas secara khusus)

h) Kelahiran dan Keguguran
Pada sistem pemeliharaan manapun, babi-babi hendak beranak haruslah disendirikan seminggu sebelum beranak agar sang induk memperoleh ketenangan.
Sebagai persiapan :
 Kandang harus bersih dan steril (dengan Lysol kreolin)
 Lantai ditaburi sekam atau jerami
 Kandang harus kering
Sebelum melakukan persiapan , terlebih dahulu harus melakukan suatu persiapan dan harus mengetahui tanda-tanda babi yang hendak beranak, proses kelahiran serta kesukaran-kesukaran yang dialami.
 Tanda-tanda babi yang akan melahirkan:
 Perut sangat turun kebawah
 Vulva kelihatan merah dan membesar (36 jam sebelum melahirkan)
 Putting keras berwana kebiru-biruan, karena berisi air susu apabila dipijat keluar susu.
 Nafsu makan berkurang, dan nampak sangat gelisah
 Sering mengumpulkan sarang
 Biasanya mengentak-entakkan kaki dan sebentar-bentar kencing.

 Proses kelahiran biasanya berlangsung 1 – 12 jam, akan tetapi perlu diketahui bahwa kelahiran normal terdiri dari 3 tingkat (stadium):
1. Stadium persiapan :
 Ikatan rahim menjadi kendor dan turun letaknya
 Sisi badan menjadi cekung dan pinggangnya menjadi turun kebawah, karena jaringan pengikat menjadi elastis.
 Bibir kemaluan merah, membesar
 Ambing menjadi tegang, berisi air susu, dan putting menunjukkan warna kebiruan pertanda anak akan segera lahir.
 Induk siap-siap mengumpulkan sarang
2. Stadium pembukaan:
 Pada saat ini rahim mulai berkontraksi (mengkerut), hal ini tak nampak dari luar, yang bisa diperhatikan adalah tingkahlakunya saja, dimana babi nampak gelisah, tidur berdiri berulang kali, memukul-mukul ekornya, mengentak-entak kaki sering kencing.
 Akibat kontraksi rahim, janin mencapai letak yang tepat yakni perut turun kebawah dan tubuh nampak memanjang.
 Pada saat ini cervix terbuka lebar, karena daging mulai mengendor. Cervix yang tak dapat terbuka menyulitkan kelahiran dan berbahaya.

3. Stadium Pelepasan:
Setelah melewati stadium pembukaan karena bantuan dari kontraksi rahim beserta kejang daging perut, maka janin mulai keluar.
 Keguguran, hal ini terjadi karena berbagai sebab.
 Karena temperatur tubuh terlalu tinggi
 Ransum kekurangan zat-zat tertentu (mineral, protein, vitamin-vitamin)
 Akibat keracunan
 Induk menderita anemia
 Infeksi uterus yang mengakibatkan makanan untuk janin terputus
 Induk menderita Brucellosis (keguguran menular)
 Kesukaran dan keterlambatan pada waktu melahirkan :
 Cervix terlalu sempit, tak dapat terbuka secara wajar
 Kontraksi rahim lemah, akibat infeksi
 Anak yang keluar melintang
 Adanya dua ekor anak yang keluar bersama-sama
 Karena anak yang lahir kepala atau pantatnya terlampau besar.