Posts belonging to Category Perkandangan Babi



Peternak Babi di Kaltim dan Kalbar Perlu Pendampingan

Setiap anggota masyarakat di manapun berada senantiasa berusaha untuk hidup eksis dimanapun mereka hadir dan mencari nafkah. Dalam kehidupannya, banyak manusia yang sering kurang beruntung, maka mereka ini perlu pendampingan untuk menumbuhkan mereka sesuai potensi yang ada di sekitarnya sehingga mereka dapat hidup mandiri dalam kemajuan yang ada. Hal yang perlu diberikan dalam pendampingan adalah bagaimana mengembangkan potensi yang ada, bagaimana membangun kerjasama, bagaimana membangun jaringan kerja. Selain itu bagaimana membangun skil atau keterampilan hidup bagi setiap anggota masyarakat yang kurang beruntung.  Padahal ternak ini merupakan bagian dari budaya penduduk local yang tidak bisa dihilangkan ( suku dayak ), dimana kegiatan keagamaan dan adat senantiasa ketersediaan ternak ini sangat diperlukan.  

Beternak babi merupakan ternak yang sangat menguntungkan untuk menopang perekonomian keluarga bila di kelola dengan baik.  Sumbangsih ternak babi untuk kecukupan protein hewani selain dari sapi dan ayam tidak bisa di abaikan sebelah mata pemerintah sebagai pembuat keputusan, Babi mampu menjadi mesin daging yang paling efisien dan produktif , terutama dalam sifar prolifiknya/ kesuburannya  (rata-rata 1,8 ton berat hidup/induk/tahun), tidak ada hewan ternak lain yang bisa menyamai rekor ternak ini, Negara Cina dengan penduduk sekitar dua miliar kecukupan kebutuhan protein hewani mereka 80% dari daging ternak ini.   Hasil perjalanan penulis melakukan Pembinaan ke Kalimantan Barat dan Timur bulan November 2011 dan Januari 2012, untuk pertama kali pembinaan kepada masyarakat peternak babi yang merupakan upaya menumbuhkan system beternak yang efisien dan ramah lingkungan bagi masyarakat peternak babi sebagai pekerjaan utama maupun yang menjadikan sebagai pekerjaan tambahan.

 

Beberapa Temuan Peternakan Babi di Kaltim dan Kalbar

1. Keberadaan peternakan babi di kaltim dan Kalbar dalam segi organisasi (kelompok/koperasi) kurang mendapat perhatian makanya peternakan ini sepertinya berjalan sendiri sendiri turun temurun  tanpa ada support dan pembinaan, padahal kelembagaan kelompok peternak sangat diperlukan untuk dapat  memecahkan masalah mereka hadapi.

2. Melihat kondisi lapangan, diskusi dan curah pendapat selama pembinaan ke dua daerah ini ada masalah yang cukup menonjol yaitu: belum tersedianya obat-obatan bagi ternak sehingga kematian yang tinggi pada fase awal (starter) mendekati 80 %, dengan dominasi penyakit anemia, inveksi seperti mencret, pneumonia dan Hog-Cholera, peternak hampir 100%  tidak mengetahui penyebab kematian ini padahal bila akses obat-obatan mudah di peroleh didukung pengetahuan beternak memadai hal ini bisa diatasi.

3. Masalah lain adalah pemberian ransum ternak kurang  memenuhi  syarat untuk kebutuhan hidup pokok dan produksi. Hal ini ditunjukkan bahwa pemberian ransum babi hamper sama dengan sapi dengan dominasi hijauan ( daun ubi dan talas) mendekati 80%, akibatnya pertumbuhan babi cukup lambat dengan persentase karkas yang rendah.   Bila dilihat dari luas lahan dan panjang garis pantai dan sungai  tidaklah susah mendapatkan bahan pakan yang berkualitas asal ada koordinasi dan kemauan untuk memproduksi bahan ransum sumber energi

( ubi, jagung dll) dan protein ( tepung ikan tawar/laut, kelapa, kedelai dan kacang).

4. Beberapa diskusi ditemukan bahwa ditemukan bahwa belum adanya sistem perkandangan dan pengelolaan limbah ternak babi yang memadai padahal secara teknis dan ekonomis hal ini mudah dilakukan terutama dengan cara composting,  secara teori dikethui bahwa kompos asal babi sangat tinggi akan kandungan nitrogen dan phosphor yang dapat menekan penggunaan pupuk kimia sampai 80%,  apabila hal ini tidak dilakukan maka reaksi anaerob di bawah kandang akan menciptakan bau yang menyengat, padahal bau ini bila dikumpulkan dalam system tertutut maka dapat menghasilkan energy hijau (Biogas).

Solusi dan Tindak lanjut
Diperlukan pembinaan yang intensif dan terprogram berdasarkan masalah dan potensi local untuk membentuk peternakan yang efisien, ekonomis  dan ramah lingkungan, karena bila hal ini tidak dilakukan sama saja dengan membunuh ayam dalam lumbung padi. Ini harus melibatkan tenaga akhli, tokoh agama dan adat serta pemerintah sebagai fasilitator.   Mimpi 20 tahun kedepan bukan tidak mungkin bahwa Kalimantan merupakan lumbung ternak (protein hewani) Indonesia, mimpi ini hanya dapat terwujud bila kesadaran dan asa yang kuat

Kandang Babi Induk

Kandang harus memenuhi tuntutan biologis ternak babi. Ternak babi tergolong hewan berdarah panas atau homeoterm, yaitu mekanisme fisiologisnya selalu berusaha mempertahankan kemantapan keadaan internal tubuh dengan kondisi lingkungan eksternal yang cocok baginya.

Lahan kandang harus dipilih yang bertopografi yang memungkinkan digunakan untuk peternakan babi. Sedapat mungkin dari areal perkandangan dapat disalurkan limbah ternak ketempat penampungan limbah oleh grafitasi saja. Air permukaan harus diarahkan menjauh dari tempat perkandangan dan penampungan limbah. Rambesan dari kandang dan dari penampungan limbah sewdapat mungkin tinggal dilahan peternak itu sendiri dan jangan mencemari lahan milik oranglain.

Tata letak bangunan biasanya disesuaikan dengan keadaan atau topografi lahjan, hamun harus memenuhi persyaratan teknis kandang ternak babi. Bagi peternak babi dangan usaha sekeluarga, atau beternak babi di pekarangan rumah yang memelihara sampai 10 ekor induk, dapat mendirikan hanya satu bangunan kandang dengan luas lantai misalnya 50 m² dengan manajemen pemeliharaan yang efisien. Dalam bangunan kandang tersebut sudah dapat petak kandang jantan, induk tak bunting dam babi bunting, kandang melahirkan sekaligus untuk induk berlaktasi serta kandang membesarkan anak atau kandang menggemukan.

Bangunan kandang babi untuk daerah tropis seperti indonesia lebih sederhan dibandingkan dengan daerah subtropis atau daerah beriklim dingin. Suhu diindonesia rata-tata 27,2◦C, namun suhu di pelbagai daerah

Suhu optimal bagi ternak babi

Status babi Bobot badan  (Kg) Suhu optiomal (◦C)
Baru lahir 1 – 2 35
Menyusui 2 – 5 25 – 34
Lepas sapih/fase bertumbuh 5 – 40 18 – 24
Fase bertumbuh – pengakhiran 40 – 90 12 – 22
Babi bunting 130 – 250 14 – 20
Induk menyusukan anak 130 – 250 5 – 18

 

Unit ataubangsal kandang mengasuh anak ( nursery pens ) yangterdiri dari petak – petak setelah anak babi disapih dan tinggal disitu sampai umur atau bobot badan 35 – 40 Kg. Mungkin juga ditampatkan di petak – petak kandang ini induk bersama anaknya yang dipindahkan dari kandang melahirkan setelah anak berumur 2 – 3 minggu dan induk tinggal disitu sampai anak disapih.

Dalam merancang suatu kompleks peternakan babi, sasaran atau tujuan dapat dinyatakan pada salah satu atau beberapa dari pada hal sebagai berikut :

  1. Untuk mengandangkan ternak babi baik menggunakan ventilasi dengan tenaga maupun ventilasi secara alami.
  2. Memberikan fasilitas untuk babi yang dipelihara dan
  3. Untukmenghasilkan daging

Rancangan perkandangan dapat berubah dari waktu lalu ke sekarang berdasarkan pengalaman sebelumnya baik kegagalan maupun keberhasilan.  Dalam merancang suatu perkandangan selalu dipertimbangkan agar biaya sekecil mungkin, dengan penampilan dan kualitas yang dapat diterima. Tetapi pada kandang ternak sebenarnya tekananutama (paling besar) ditujukan pada penampilan dimana hal itu mempengaruhi terhadap biaya dari sistem produksi.

Dalam merancang bangunan utnuk ternak terdapat enam data dasar yang diperlukan, dimana satu dengan yang lain tidak terpisah tetapi harus dipertimbangkan segala interaksi dan pengaruhnya ;

Lingkungan Bangunan

Tersedianya informasi yang cukup tentang lingkungan ternak sehingga memung-kinkan kita untuk menduga modifikasi iklim yang diperlukan untuk mencapai penampilan optimum secara ekonomis. Modifikasi lingkungan memungkinkan merubah makanan menjadi daging secara effisien (merupakan alasan yang prinsipal untuk kandang ternak babi).  Untuk mencapai dan mempertahankan produksi yang optimum diperlukan faktor antara lain untuk mempertahankan kondisi iklim optimum/ lingkungan optimum sejalan dengan kebutuhan ternak.

Apa yang dimaksud dengan lingkungan optimum ?, faktor apa yang mempengaru-hinya ? Effisiensi produksi ternak babi tergantung kepada keberadaan dimana zat makanan dalam ransum yang digunakan untuk kebutuhan pokok dan untuk produksi jaringan ternak, dengan sistem perkandangan yang intensif sehingga ternak tidak bebas untuk memiliki kondisi tempat tinggal dimana adalah terbatas, oleh karena itu adalah penting untuk mengetahui atau mengerti pengaruh lingkungan terhadap kesehatan ternak, kesejahtraan dan produktivitas.

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa daerah temperatur netral (DTN/ Thermo Netral Zone) dikenal sebagai :

-          kisaran temperatur udara dimana laju metabolisme ternak babi adalah dalam suatu keadaan minimum, tetap dan bebas dari temperatur udara.

-          Kisaran suhu udara dimana metabolisme secara normal diperoleh atau secara mencukupi

-          Produksinya panas danhilangnya panas dari tubuh adalah kira-kira sama atau seimbang.

Keseimbangan  energi dari seekor ternak beberapa sangat dipengaruhi oleh temperatur dan sering digunakan sebagi kriteria tunggal, dalam merinci atau speci-fikasi lingkungan.

 Zoometry dan tingkah laku ternak

Zoometrik adalah ukuran dari ternak dan hubungannya dengan lingkungan kandang, ini sangat penting karena ukuran ternak babi pada umur yang berbeda perlu dijamin agar bangunan dan peralatan berfungsi untuk ukuran kandang ternak babi. Zoometrik perlujuga diketahui untuk pemanfaatan peralatan dapat difungsikan dihubungkan dengan ukuran kandang.

Ukuran ternak babi harus digunakan untuk rancangan peralatan dengan baik seperti

-          tempat makanan ransum

-          tinggi alat minum (kalau menggunakan water nipple )

-          ukuran dan jarak slat dll

Data zoometrik (seperti berat, panjang, umur dan ukuran langkah ternak babi) digunakan untuk rancangan perkandangan.

Bahan dan struktur bangunan

Bahanyang banyak digunakan terutama diluar negeri adalah ;

-          Stainless steel untuk gerobak makanan , kandang babi di daerah yang sangat berkarat, lantai berkisi dan alat minum.

-          Pipa Polivinilchlorida (PVC) untuk air dan membawa makanan.

-          Kayu Blok (timber) untuk menjaga panas apalagi diberi perlakuan untuk memberi daya tahan terhadap kelembaban.

-          Bahan kawat untuk cenderung lebih bersih

-          Bahan plastik lebih disenangi oleh ternak karena bahan tersebut hangat.

Alat-alat atau perlengkapan kandang

  Kandang yang sempurna memerlukan perlengkapan-perlengkapan yaitu :

   1) Tempat makan dan minum

Tempat makan
Ada dua macam tempat makan yaitu yang berbentuk bak dari pasangan semen dan yang kedua ialah tempat makan berupa kotak yang bahannya dari papan ataupun seng. Tempat makan yang berbentuk kotak ini bisa dibuat memanjang ataupun bulat. (Perhatikan pada gambar.) Masing-masing bisa dipakai secara individual atau kelompok. Demikian juga mengenai tempat minum, ada yang berupa bak, tabung dan nozzle.

 
Baik tempat makan ataupun tempat minum ini merupakan perlengkapan kadang yang mutlak diperlukan oleh babi. Oleh karena itu perlengkapan kandang ini harus dengan baik dan memenuhi persyaratan.

Persyaratan pembuatan tempat makan/air minum yang perlu diperhatikan antara lain

 :
• Ukuran tempat makan dan minum hendaknya disesuaikan dengan umur/besar kecilnya babi.
• Mudah dibersihkan.
• Konstruksi tempat makan dan minum harus dijaga, agar babi tidak bisa dengan mudah masuk menginjak-injak ataupun berbaring di dalamnya.
• Tempat makan dan minum letaknya lebih tinggi daripada lantai.
• Permukaan bagian dalam mesti keras, rata dan halus agar sisa makanan tidak bisa tertinggal di sela-selanya, dan mudah dibersihkan.
• Tepi-tepi atau bibir tempat makan dan minum harus dibuat agak bulat seperti punggung belut, sehingga tidak tajam.

      2) Bak air

Seriap kandang hendaknya juga dilengkapi dengan bak air yang terletak di dekat kandang. Bak ini dimaksudkan untuk menampung persediaan air, sehingga sewaktu-waktu air itu hendak diperlukan untuk membersihkan lantai, alat-alat lain, serta memberikan minum selalu siap, tanpa ada sesuatu kesulitan. Ukuran serta jumlah bak ini bisa disesuaikan dengan jumlah babi yang dipiara.

      3) Bak penampungan kotoran

Setiap kandang atau ruangan hendaknya dilengkapi dengan saluran atau parit yang menghubungkan kandang dengan bak penampungan kotoran, sehingga dengan letak lantai yang sedikit miring, air kencing dan kotoran dengan mudah bisa dialirkan langsung kotoran ini ialah bahwa semua kotoran akan tertampung di dalamnya dan tidak mengganggu sekelilingnya serta bisa dimanfaatkan untuk usaha-usaha pertanian. Ukuran bak ini tergantung dari persediaan bak yang ada serta jumlah babi atau luas kandang.

      4) Pintu kandang

Khusus kandang induk sebaiknya perlu dilengkapi sekaligus dengan pintu penghalang, sehingga kematian anak babi akibat tertindih induk bisa dihindarkan. Tetapi apabila tidak ada perlengkapan semacam ini, anak babi bisa ditaruh di dalam kotak tersendiri. Hanya pada saat menyusu saja anak-anak babi tersebut dicampur dengan induknya. Anak-anak babi tersebut harus selalu diawasi.

Kandang induk menyusui
Kandang induk yang efisien ialah jika kandang tersebut nyaman bagi induk dan sekaligus nyaman bagi anak-anak yang dilahirkan, sehingga anak-anaknya bisa mendapatkan kesempatan hidup pada kandang tersebut.
Pada pokoknya kadang babi induk bisa dibedakan antara kandang individual dan kelompok.

      a) Kandang individual

Pada kandang induk individual ini satu ruangan hanyalah disediakan untuk seekor babi. Konstruksi kandang ialah kandang tunggal, di mana kandang hanya terdiri dari satu baris kandang. Dan kandang tersebut atap bagian depanyanya dibuat lebih tinggi daripada bagian belakang, tetapi pada saat hujan, atap bagian depan diusahakan bisa ditutup. Untuk ukuran kandang tersebut adalah sebagai berikut :
• Tinggi bagian depan 2,5 m, bagian belakang 2 m.
• Panjang 2,5 m, ditambah halaman pengumbaran yang terletak di belakang sepanjang 4 m.
• Tinggi tembok 1 m
• Lebar 3 m.
• Pada ren (halaman pengumbarannya) yang berukuran panjang 4 m itu lantainya bisa dibuat dari pasangan seme, tanah atau batu, di mana induk bisa makan di situ pula. Sedangkan untuk diding depan bisa dibuat dari tembok, bamboo, papan atau bahan lain seperti anyaman kawat. Tetapi apabila dinding itu bahannya dari kawat, harus diusahakan dengan anyaman yang kecil, dan kuat supaya anak-anaknya tidak bisa keluar.
• Kandang ini perlu dilengkapi dengan guard-rail (pintu penghalang) yang terletak di dalam, guna mencegah babi kecil mati tertindih.
• Kandang tersebut juga dilengkapi dengan tempat makan khusus untuk anak-anak babi. Tempat makan ini diberi pagar pemisah agar induk tidak bisa mengganggu makanan yang diberikan kepada anak-anaknya.
• Dilengkapi dengan lampu pemanas.
• Kandang diberikan tilam dari jerami kering yang bersing.

      b) Kandang kelompok

Pada pokoknya kandang induk kelompok ini sama seperti pada kandang individual. Biasanya konstruksi kandang ini ialah kandang ganda, sehingga bisa dilengkapi dengan gang/jalan yang dapat dipakai untuk memberikan makanan dan air minum, sedang alat perlengkapan lainnya sama seperti pada kandang tunggal.

Kandang babi

Kandang  Memenuhi Sifat Biologis dan Iklim Setempat

Kandang harus memenuhi tuntutan biologis ternak babi. Ternak babi tergolong hewan berdarah panas atao homeoterm, yakni mekanisme fisiologisnya selalu berusaha memepertahankan kemantapan keadaan internal tubuh dengan kondisi lingkungan eksternal yang tidak cocok baginya. Babi selalu berusaha mencapai keadaan homeostatis melalaui neraca panas tubuh, termoregulasi, neraca biokemis (air, elektrolit, dan senyawa karbon) dan neraca sirkulasi kardio-faskuler. Ternak yang dalam keadaan stress akan mempengaruhi keseimbangan hormon-hormon dan enzim-enzim tubuh yang selanjutnya mempengaruhi metaboisme ternak. Hal ini mungkin juga akan mengubah tingkah laku ternak, yang selanjutnya berpengaruh terhadap produksi, reproduksi maupun kesehatan ternak.

Pada babi kandang-kandang terlihat tingkah laku yang menyimpang dan hal tersebut mungkin oleh faktor genetik dan oleh faktor lingkungan, misalnya kandang yang kurang memadai dan oleh defisiensi zat-zat makanan. Tingkah laku yang menyimpang ini antara lain, kebiasaan menggigit ekor (tailbiting) dan telinga temannya, kanibalisme, suka menggosok-gosok cungurnya ke lantai atau temannya; suka menggosokkan anusnya ke lantai atau dinding landing, suka mengunyah tanpa isi, suka merusak atau menggigit sekat atau penghalang kandang dan hiperaktif.

Dari sebab-sebab faktor eksternal tersebut sedapat mungkin harus dimanipuler oleh pengusaha ternak babi, antara lain menyediakan kandang yang sesuai bagi ternak dan manajemen sebaik mungkin.

Selain kandang harus menyenangkan bagi ternak babi, tetapi juga mudah dibersihkan, mudah kering dan sedapat mungkin terhindar dari suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, humiditas, hembusan angin, terik surya dan memungkinkan sirkulasi udara yang baik sehingga akan sangat dibatasi kepengapan maupun bau yang tak disukai.

Tempat bangunan kandang harus dipilih yang drainasenya (buangan air) baik. Tempat yang sulit dikeringkan, terutama tanah permukaan, sangat berperan dalam pemeliharaan kesehatan lingkungan peternakan.

Luas Kandang

Luas bangunan kandang babi tergantung dari banyak babi yang dipelihara dan tipe usaha yang dijalankan. Tipe usaha yang hanya menggemukan babi, kandangnya sederhana dan dapat semacam saja.

Dalam merencanakan kandang babi sudah tentu dipertimbangkan antara lain :

1)      sarana jalan

2)      ketinggian lokasi (altitute)

3)      Ketersediaan air

4)      Kemungkinan pengadaan listrik

5)      sarana komunikasi

6)      Kemungkinan memperoleh bahan ransum

7)      Kelandaian lahan

8)      Keadaan lingkungan sekitar

9)      Kondisi tanah

10)  Pengaruh terhadap kesehatan ternak dan lain sebagainya.

Khusus  untuk tujuan penghasil bibit ternak, pertimbangan keadaan lingkungan sekitar peternakan harus diperhatikan, antara lain harus aman dari lalulintas ternak atau hewan liar, maupun manusia.

Bangunan kandang babi untuk daerah tropis seperti Indonesia lebih sederhana dibandingkan dengan untuk daerah subtropics atau daerah beriklim dingin. Suhu di Indonesia 27,2° C, namun suhu di berbagai daerah berbeda, tergantung dari letak geografis, ketinggian tempat, kelandaian, sinar, angin, hujan, dan kelembaban.

Suhu atau temperature lingkungan mikro harus dimodifikasi agar sesuai dengan tuntutan hidup ternak babi yang dipelihara dalam kandang. Harus diusahakan agar mikroklimat dalam kandang serasi bagi kehidupan atau kebutuhan fisiologis babi. Bila suhu terlalu tinggi, babi akan kehilangan panas evaporatif (berkeringat atau terengah-engah), konsumsi makanan biasanya menurun, konsumsi air minum meningkat, berusaha mencari kesejukan, dan tingkah laku mungkin berubah, dan faktor- faktor tersebut mengakibatkan gangguan produksi. Suhu lingkungan yang berbeda mengakibatkan pertumbuhan babi berbeda. Temperatur  yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan mengganggu kehidupan babi, sebab babi akan bertumbuh baik di lingkungan zone termonetralnya, yakni berkisar antara 20-26° C.

Syarat faktor- faktor fisik bangunan kandang untuk daerah tropis :

1)      Bahan bangunan yang tahan lama, relatif murah dan berdaya pantul tinggi terhadap sinar

2)      Berkemampuan rendah menyimpan beban panas  yang berasal dari tubuh ternak

3)      Landaian (slope) atap cukup, biasanya 30-45° sehingga ternak terlindung baik terhadap panas sinar, hujan dan angin

4)      Langit-langit bangunan cukup tinggi sesuai kebutuhan

5)      Terjamin sirkulasi udara yang baik, sehingga udara tak sehat keluar dan udara segar masuk

6)      Luas ruangan bagi ternak cukup memadai

7)      Arah memanjang (poros) bangunan kandang adalah Timur-Barat, berbeda dari arah bangunan di daerah beriklim subtropics ataupun beriklim dingin.

Tata Letak dan Bentuk Bangunan Kandang

Tata letak bangunan biasanya disesuaikan dengan keadaan atau topografi lahan, namun harus memenuhi persyaratan teknis kandang ternak babi.

Bagi peternak babi dengan usaha sekeluarga, atau beternak babi di pekarangan rumah yang memelihara sampai 10 ekor induk, dapat mendirikan hanya satu bangunan kandang dengan luas lantai misalnya 50 m² dengan manajemen pemeliharaan yang efisien. Dalam bangunan kandang tersebut sudah terdapat petak kandang pejantan, induk tak bunting dan babi bunting, kandang melahirkan sekaligus untuk induk berlaktasi serta kandang membesarkan anak atau kandang penggemukan.

Kandang betina sebelum dan selama bunting

Bagi betina kering susu, yang belum bunting, dan selama bunting dikandangkan terpisah dari golongan babi lain hingga 3-10 hari sebelum melahirkan anak. Di dalam bagian atau unit kandang ini juga dibuat petak kandang tempat mengawinkan babi bentuk octagonal  diperlukan agar pejantan tidak mengalami kesulitan menaiki betina, sebab sering bagian belakang betina terletak di pojok kandang kawin yang biasa. Pejantan perlu ditempatkan berdekatan dengan betina yang akan kawin, agar merangsang betina lebih cepat berahi dan juga untuk mengurangi betina yang mengalami “berahi tersembunyi” (silent heat). Bila memungkinkan antara setiap 20 petak kandang diantarai jalan setapak dalam kandang.

DAFTAR PUSTAKA

Animal Waste Management. 1971. Proceedings of National Symposium on Animal Waste Management, September 28-30, 1971. The Airlie House, Warrenton, Virginia.

Anonymous. 1947. Pig Boom in China. Pig International (Sept., 1974), hlm. 44.

Sihombing, D.T.H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Fakultas Peternakan IPB, Bogor.

KANDANG BABI

Untuk mencapai sukses didalam usaha ternak babi seperti halnya dengan usaha-usaha ternak lainnya, maka kandang sangat dibutuhkankarena memiliki fungsi:

  1. Tempat berlindung terhadap panas dan hujan, memudahkan perawatan.
  2. Mempermudah tata laksana (pelayanan)
  3. Melindungi bahaya dari luar
  4. Kebersihan lingkungan terjaga.
  5. Memenuhi persyaratan kesehatan.

Syarat dan lokasi pembuatan kandang:

  1. Jauh dari pemukiman, jauh dari keramaian
  2. Penanganan limbah harus baik
  3. Persediaan air dan makanan cukup
  4. cukup mendapat sinar matahari, sirkulasi udara yang baik
  5. kandang harus higienis

Macam-macam kandang:

Ada berbagai macam kandang babi , masing-masing bisa dibedakan menurut kontruksi dan kegunaannya.

  1. berbagai macam kandang menurut kontruksinya:

ü  kandang tunggal yakni bangunan kandang yang terdiri dari satu saja.

ü  Kandang ganda, yakni bangunan kandang yang terdiri dari dua baris yang letaknya bisa saling berhadapan ataupun bertolak belakang

  1. Berbagai macam kandang menurut kegunaannya:

ü  Kandang Induk :

  • Kandang Indifidual
  • Kandang kelompok

ü  Kandang fattening :

  • Kandang kelompok
  • Kandang batteray

ü  Kandang pejantan

KANDANG DAN LIMBAH BABI

Alasan utama untukmengandangkanternak babi adalah untuk memodifikasi iklim alami dan menghasilkan suatu lingkungan yang lebih baik, hal ini akan memberi  :

-          laju pertumbuhanyang lebih cepat

-          Effisiensi/ konversi ransum yang baik

Untuk itu perlu kita ketahui tentang lingkungan TERBAIK untuk ternak babi dan bagaimana untuk mencapainya serta mengatasi penyebab  masalah lingkungan.

Kalau kita berbicara tentang lingkungan, pertama kali kita ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan LINGKUNGAN PANAS.

1. Lingkungan Panas dari seekor ternak babi adalah kombinasi dari :

-          Temperatur udara ( C, F )         -   Kelembapan ( Rh %)

-          Kecepatan udara diatas/ pada ternak babi ( m/menit)

-          Tipe lantai                                  -  Perubahan pancaran panas

Semua ini mengontrol keseimbangan energi dari ternak babi atau turut menentukan berapa energi dari ransum digunakan untuk pertumbuhan dan berapa untuk supaya tetap hangat.

2. Lingkungan Fisik

Antara lain :

-          bentuk dan ukuran kandang           -     bau

-          gas dan konsentrasi debu               -     cahaya

-          kebisingan

Semua ini mempengaruhi tingkah laku ternak babi dimana akan berpengaruh terhadap :  Konsumsi ransum dan laju pertumbuhan.  Babi pada dasarnya seperti manusia adalah mahluk homeothermik yang berarti mempertahankan suhu tubuh secara konstan (39 oC)dengan lingkunganyang berubah-ubah.

Untuk lingkungan panas kita mengenal :

  1. Perpindahan panas dari ternak babi , yang dapat terjadi melalui :

-          Konduksi ( perpindahan panas antara permukaan yang bersentuhan)

-          Konveksi ( Perpindahan panas dengan pergerakan udara atau gas)

-          Radiasi (Perpindahanpanas dengan pancaran panas)

-          Evaporasi/ Pengupan (kehilangan panas dari paru-paru yang dapat meningkat dengan napas pendek/cepat atau kehilangan panas dari permukaan kulit dengan membasahi dirinya sendiri.

  1. Temperatur kritis terendah, tertinggi dan daerah netral yaitu :

-          Temperatur kritis terendah (TKR) adalah temperatur udara dibawah dimana ternak babi membakar tambahan energi ransum untuk tetap hangat.

-          Temperatur Kritis Tertinggi (TKT) adalah  temperatur udara diatas dimana ternak babi harus mengurangi konsumsi ransumnya untuk mengurangi produksi panas/ energi dengan demikian temperatur tubuhnya tidak naik/tetap.

-          Temperatur Daerah Netral (TDN) adalah temperatur antara TKR dan TKT dimana ternakbabi mempertahankan pada temperatur yang menyenangkan dalam arti secara fisik . Secara tidak sadar dengan vasodilation dan vasocontriction (pembesaran/ penyempitan saluran darah /blood vessel) yang berguna untuk merubah aliran darah ke kulit. Secara tidak sadar dengan perubahan tubuh seperti membungkuk atau terlentang.

Ternak babi apakah berada pada TKR atau TKT tergantung kepada :

-          Berat                                 -      Ketahanan

-          Panas lantai                      -      Kecepatan udara

-          Perolehan energi              -      Ukuran kelompok

-          Pancaran panas

Hal ini oleh Bruce (1981) mengkombinasikan faktor-faktor ini dalam suatu mode matematika untuk memperkirakan TKR dan TKT untuk ternak babi , model ini sudah barang tentu sangat berguna karena memungkinkan kita untuk membandingkan lingkungan yang berbeda atau membuat keputusan dan sekaligus untuk memperbaikinya.

  1. Lingkungan Fisik mencakup :

I     Kebisingan dan cahaya, kedua faktor lingkungan ini kelihatannya mempunyai  pengaruh kecil terhadap penampilan ternak.

II    Bau dan Gas : gas amoniak (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S) dilepaskan selama penguraian dari air kencing dan kotoran. Kedua gas ini adalah beracun dan pada konsentrasi yang rendah dapatmenyebabkan infeksi pada alat penapasan .

  1. NH3

Dapat dideteksi dengan bau pada konsentrasi 5 ppm, Hasil percobaan di A.S. memperlihatkan bahwa kisaran pada 50-70 ppm hanya berpengaruh kecil terhadap laju pertumbuhan , tetapi perlu diingat bahwa selalu terjadi interaksi

lingkungan dengan demikian perlu dijaga agar konsentrasi amoniak di bawah 10 ppm.

b. H2S

Dapat dideteksi dengan bau pada konsentrasi kurang dari 1 ppm . batas yang aman untuk tempat kerja adalah 10 ppm dan batas/ ukuran ini merupakan maksimum yang diperbolehkan untuk peternakan babi.

c. CO2

Adalah hasil dari pernapasan dan harus tidak lebih dari 3000 ppm. Konsentrasi normal CO2 dari dalam udara adalah 340 ppm. Ketiga gas ini dapat dideteksi dengan Disposal Gas –Detecting Tubes.

III Ruangan ; ternak babi menggunakan ruangan dalam suatu kandang tergantung pada : Temperatur , bentuk kandang, ukuran, type lantai, lokasi/ penempatan tempat ransum dan minuman serta tingkat sosial dalam kelompok.

Ketentuan ruangan yang telah ditentukan oleh Victorian Welfare Code adalah

Berat badan babi (kg) Luas (m2)
11 – 20

21 – 40

41 – 60

61 – 80

81 – 100

0.18

0.32

0.44

0.56

0.65

Bagaimana Mencapai Lingkungan yang Baik :

  1. Insulasi ; harus digunakan pada semua daerah peternakan babi dan mengurangibiaya pengeluaran suatu usaha peternakan babi dengan 3 cara :

-          Memperbaiki EPM ( ternak merasa hangat dengan cara merobah lebih   banyak energi  menjadi panas).

-          Mengurangi kondensasi/ pengembunan (dengan menjaga atap tetap hangat, pengembunan dapat dikurangi atau dihilangkan dan atap akan tidak berkarat).

-          Memperbaiki laju pertumbuhan; (mengisolasi atap dan menjaganya lebih dingin dan mengurangi pancaran panas, dengan demikian keadaan babi menyenangkan dan memungkinkan ternak babi untuk makan lebih banyak sehinggga pertumbuhan meningkat).

  1. Aliran udara/ ventilasi ; pengertiannya adalah pergantian udara di dalam dengan udara diluar. Ventilasi diperlukan untuk :

-     Pengeluaran CO2 dan diganti dengan O2 (oksigen)

-          Memindahkan gas dari kotoran, amoniak dan H2S.

-          Memindahkan air yang dihasilkan dari musim 9iklim) dingin

-          Mengeluarkan kelebihan panas tubuh dan penyinaran pada musim panas (hangat)

-          Mengeluarkan air yang diuapkan (evaporasi) dari air siraman yang digunakan pada musim panas.

BENTUK BANGUNAN UNTUK BABI SAPIHAN

DAN SEDANG BERTUMBUH

Dalam merancang suatu kompleks peternakan babi, sasaran atau tujuan dapat dinyatakan pada salah satu atau beberapa dari pada hal sebagai berikut :

  1. Untuk mengandangkan ternak babi baik menggunakan ventilasi dengan tenaga maupun ventilasi secara alami.
  2. Memberikan fasilitas untuk babi yang dipelihara dan
  3. Untukmenghasilkan daging

Rancangan perkandangan dapat berubah dari waktu lalu ke sekarang berdasarkan pengalaman sebelumnya baik kegagalan maupun keberhasilan.  Dalam merancang suatu perkandangan selalu dipertimbangkan agar biaya sekecil mungkin, dengan penampilan dan kualitas yang dapat diterima.

Tetapi pada kandang ternak sebenarnya tekananutama (paling besar) ditujukan pada penampilan dimana hal itu mempengaruhi terhadap biaya dari sistem produksi.

Dalam merancang bangunan utnuk ternak terdapat enam data dasar yang diperlukan, dimana satu dengan yang lain tidak terpisah tetapi harus dipertimbangkan segala interaksi dan pengaruhnya ;

  1. 1. Lingkungan Bangunan

Tersedianya informasi yang cukup tentang lingkungan ternak sehingga memung-kinkan kita untuk menduga modifikasi iklim yang diperlukan untuk mencapai penampilan optimum secara ekonomis. Modifikasi lingkungan memungkinkan merubah makanan menjadi daging secara effisien (merupakan alasan yang prinsipal untuk kandang ternak babi).  Untuk mencapai dan mempertahankan produksi yang optimum diperlukan faktor antara lain untuk mempertahankan kondisi iklim optimum/ lingkungan optimum sejalan dengan kebutuhan ternak.

Apa yang dimaksud dengan lingkungan optimum ?, faktor apa yang mempengaru-hinya ? Effisiensi produksi ternak babi tergantung kepada keberadaan dimana zat makanan dalam ransum yang digunakan untuk kebutuhan pokok dan untuk produksi jaringan ternak, dengan sistem perkandangan yang intensif sehingga ternak tidak bebas untuk memiliki kondisi tempat tinggal dimana adalah terbatas, oleh karena itu adalah penting untuk mengetahui atau mengerti pengaruh lingkungan terhadap kesehatan ternak, kesejahtraan dan produktivitas.

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa daerah temperatur netral (DTN/ Thermo Netral Zone) dikenal sebagai :

-          kisaran temperatur udara dimana laju metabolisme ternak babi adalah dalam suatu keadaan minimum, tetap dan bebas dari temperatur udara.

-          Kisaran suhu udara dimana metabolisme secara normal diperoleh atau secara mencukupi

-          Produksinya panas danhilangnya panas dari tubuh adalah kira-kira sama atau seimbang.

Keseimbangan  energi dari seekor ternak beberapa sangat dipengaruhi oleh temperatur dan sering digunakan sebagi kriteria tunggal, dalam merinci atau speci-fikasi lingkungan.

  1. 2. Zoometry dan tingkah laku ternak

Zoometrik adalah ukuran dari ternak dan hubungannya dengan lingkungan kandang, ini sangat penting karena ukuran ternak babi pada umur yang berbeda perlu dijamin agar bangunan dan peralatan berfungsi untuk ukuran kandang ternak babi. Zoometrik perlujuga diketahui untuk pemanfaatan peralatan dapat difungsikan dihubungkan dengan ukuran kandang.

Ukuran ternak babi harus digunakan untuk rancangan peralatan dengan baik seperti

-          tempat makanan ransum

-          tinggi alat minum (kalau menggunakan water nipple )

-          ukuran dan jarak slat dll

Data zoometrik (seperti berat, panjang, umur dan ukuran langkah ternak babi) digunakan untuk rancangan perkandangan.

  1. 3. Bahan dan struktur bangunan

Bahanyang banyak digunakan terutama diluar negeri adalah ;

-          Stainless steel untuk gerobak makanan , kandang babi di daerah yang sangat berkarat, lantai berkisi dan alat minum.

-          Pipa Polivinilchlorida (PVC) untuk air dan membawa makanan.

-          Kayu Blok (timber) untuk menjaga panas apalagi diberi perlakuan untuk memberi daya tahan terhadap kelembaban.

-          Bahan kawat untuk cenderung lebih bersih

-          Bahan plastik lebih disenangi oleh ternak karena bahan tersebut hangat.

  1. 4. Hasil, Hasil Sampingan dan Kotoran

Pada suatu usaha peternakanbabi yang dijalankan, kotoran ternak adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari sebagai mana halnya ternak babi itu sendiri dan keduanya harus ditempatkan pada rancangan,  pertimbangan seksama harus diberikan trhadap penyimpanan, pemindahan dan penggunaannya, jadi pada tahapawal perencanaan sudah harus dipikirkan atau dipertimbangkan.

Berapa ransum yang tidak pernah dimakan oleh ternak babi (terbuang) ? Beberapa peneliti berpendapat makana/ransum yang terbuang berkisar antara 6-9 % bahkan ada yang sampai 30 %. Tempat makanan memegang peranan dalam mengurangi ransum yang terbuang dan juga type lantai misalnya slat dimana ransum terbuang langsung kebawah!.

Aspek lain yang sering dilupakan adalah AIR , dalam hubungan ternak dengan air kita harus mengetahui. :

-          Berapa konsumsi air  tiapekorternak babi

-          Berapa konsumsi air tiaphari pada suatu usaha peternakan babi

-          Berapa laju pengaturan (kemampuan penyediaan air) litter/menit yang harus dilakukan untuk memenuhi ha ltersebut.

Kebutuhan air yang tidak memadai akan mendahului kesulitan produksi

-          penampilan dan daya nafsu makan berkurang

-          perkelahian dan cekaman meningkat

-          kerugian untuk periode waktu panjang yang akhirnya berakibat fatal.

Jumlah air yang digunakan untuk unit peternakan babi yang besar dan intensif dapat berbeda dari 11 litter/ekor/hari (atau lebih rendah) hingga  pada suatu puncaknya 24 litter/ekor/hari pada musim panas, hal ini tergantung pada :

-          apakah air digunakan untuk membersihkan

-          air terbuang dari alat minum

-          air digunakan untuk mendinginkan/ menyiram trnak dlsb.

  1. 5. Pekerjaan Rutin dan Kebutuhan Tenaga Kerja

Mekanisasi pertanian kelihatannya secara berangsur menggantikan tenaga kerja dengan sistem mesin secara intensif, tidak terkecuali dengan industri peternakan babi misalnya :

-          alat makanan secara mekanik

-          alat pendorong yang dijalankan secara otomatis

-          kontrol lingkungan kandang secara otomatis dengan cara termostatik

-          kontrol kipas dan keran

-          pengambilan kotoran dengan sistem pendorong

  1. 6. Modal dan Biaya Operasi.

Sebagaimana kondisi temperatur bergerak naik turun dari kisaran optimum, energi selalu dipertahankan untuk pertambahan berat badan. Fuller (1970) menyarankan bahwa penambahan 0,026 kg ransum diperlukan oleh seekor babi sedang bertumbuh untuk tiap oC dibawah kebutuhan temperatur kandang .

Total rancangan peternakanbabi, perlu dipertimbangkan kelayakan ekonomi secara keseluruhan dan biaya bangunan dari produksi ternak babi. Sering terjadi kenaikan biaya bahanbangunan jauh lebih besar dari kenaikan harga daging babi. Misalnya di Australia kenaikan biaya bangunan (1970-80) hingga April 1986  adalah 60 %, sedangkan kenaikan harga daging babi pada waktu yang sama hanya 15% .

MANAGEMEN LIMBAH BABI

Bau disebabkan  oleh 80 macam Gas diantaranya Amonia,

Hidrogen sulfida, skatol,indol dsb. Berasal dari urin

Dan feses ternak mayarakt tidak nyaman.

Tingkat Pembentukan bau ditentukan :

1.  Rancangan   Pelindung,

  1. Sistempembungan dan
  2. Pengumpulan Limbah dan
  3. Manajemen peternakan,

yg dipengaruhi iklimdan topografi.

Bau merupakan hasil penguraian (Dekomposisi) manure.

Penyebaran Bau Oleh Udara dan Angin, Sinar Matahari,

Awan, Suhu.

Dekomposisi melalui proses Aerobil dan Anaerobik.

Aerobik ada O2 Dekomposisi lengkap menghasilkan

karbohidrat, air, bahan terlarut,nitrogen

anorganik,senyawa belerang,  menghasilkan bau

SEDIKIT.

Anaerobik, tanpa O2 Dekomposisi kurang lengkaP, hasil

lebih kompleks seperti amonia, hidrogen sulfida,

metan menghasilkan bau lebih BANYAK.

Mengurangi Pembentukan Bau

KANDANG

  • Pembersihan kandang harus teratur
  • Penggunaan Bakterisida danDesinfektan dikurangi.
  • Penggunaan air Recycle dapat mengurangi bau.
  • Genangan air dikandang dihindari.

SALURAN

a. Dibuat dari bahan yang halus, beton,

b. Harus mempunyai kemiringan 1 %.

c. Pipa tertutup harus mempunyai kemiringan 1 %.

d. Pemisahan saluran limbah dan air hujan.

KOLAM

  1. Kolam anerobik yang paling efektif mengurangi bau.
  2. Pemuatan limbah tidak lebih kapasitas kolam.
  3. Ph Kolam harus dijaga senetral mungkin.
  4. Sampah asing, sisa kelahiran,ternak mati tdk masuk kolam.
  5. Bangunan bisa ditutup menghasilkan energi sehingga bau dikurangi.

TERNAK MATI

  1. Dapat menggunakan Buaya, Lele, Dog Food,dll.
  2. Penguburan harus ditutup tanah
  3. Bila dilakukan pengomposan ternak mati ditutup serbuk gergaji 3 m.

PENANAMAN PEPOHONAN

  1. Bunga atau tanaman yang menyerap bau
  2. Penanaman pohon tinggi untukmenahan angin
  3. Pemanfaatan Limbah Untuk Pepohonan/tanaman

seperti kompos.

MANIPULASI PAKAN

  1. Hindari penggunaan pakan yang menghasilkan bau.
  2. Buat pakan yang seimbang sesuai dengan kebutuhan.
  3. Penambahan enzim,probiotik meningkatkan kecernaan bahan pakan.
  4. Penggunaan zeolit untuk mengurangi bau manaure.
  5. Pemberian jumlah pakan yang secukupnya tdk sisa
  1. Pemberishan tempat pakan yang rutin.

Pembautan Kompos Untuk Pupuk Organik

Bertani merupakan mata pencaharian sebagian besar rakyat kita sampai sekarang ini masih  memegang peranan penting dalam perekonomian, khusunya di daerah cisarua lembang yang merupakan daerah pertanian tanaman kering yang cocok untuk tanaman sayur-sayuran dan bunga.  Keberhasilan bercocok tanam sangat bergantung pada cara pengolahan lahan yang menjamin tersedianya unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik, karena itu pengolahan lahan dan pemupukan perlu dilakukan. Hal ini telah disadari oleh petani/peternak setempat, tetapi, masalahnya ketergantungan yang besar pada penggunaan pupuk buatan memerlukan biaya yang mahal, apalagi disaat krisis ekonomi yang berkepanjangan berakibat melambungnya harga pupuk, sehingga tidak terjangkau oleh petani/peternak kecil. Oleh karena itu perlu dicari alternatif pemecahan dengan memanfaatkan potensi setempat, penggunaan kompos merupakan alternatif terbaik untuk  menanggulangi masalah tersebu.

Pemanfaatan Kotoran ternak untuk menyuburkan lahan pertanian telah lama dilakukuan oleh petani/peternak, tetapi diperlukan proses yang cukup lama, sehingga diperlukan penerapan teknologi sederhana yang mudah diserap yaitu melalui pengomposan dengan menambahkan probiotik. Cara ini lebih cepat dibandingkan dengan cara konvensional, karena mikroorganisme yang ada di dalam probiotik lebih cepat mendegradasi senyawa yang ada di dalam feses.

Feses merupakan limbah organik yang bersifat biodegradable, yaitu senyawa yang mudah diuraikan oleh mikroorganisme.  Menurut Suriawiria (1981) bahwa feses masih  mengandung senyawa yang dibutuhkan oleh tanaman, yaitu nitorgen 5 – 7 %, pospor 3 – 6 % dan kalium 1 – 6 %.  Seekor ternak setiap tahunnya menghasilkan feses sebanyak 20,2 m3 (Djadjadiningrat dan Harry Harsono 1983 ) menurut Kiziorowski dan Kucharski (1972) bahwa seekor babi dapat menghasilkan total nitrogen sebanyak 80,3 kg pertahun. Ken Casey dan Eugene menyatakan produksi limbah ternak perunit ternak sebanyak 3,7 kg/hari, volume 1m3 mengandung 3 kg Nitrogen 2,5 kg phosfor dan 0,75 kg Kalium. Tetapi penggunaan feses cecara langsung dapat menyebabkan kematian tanaman, sehingga diperlukan suatu proses pengomposan.  Pengomposan termasuk kedalam pengolahan secara biologis, yaitu proses yang mengikut sertakan aktivitas dari enzim dan kemampuan mikroorganisme yang tujuannya untuk menghilangkan beberapa senyawa yang tidak diharapkan kehadirannya, baik senyawa berbahaya untuk kehidupan maupun kehadirannya akan menimbulkan kerugian ( Soewedo Hadiwiyoto, 1983).

Penggunaan probiotik akan mempercepat proses pengomposan, sebagaimana pernyataan Suharsono (1997) bahwa probiotik mengandung mikroorganisme yang dapat merangsang pertumbuhan. Beberapa mikroba yang terdapat dalam probiotik yaitu bakteri proteilitik, lignolitik, selulolitik, lipolitik, dan nitrogen non fiksasi. Kandungan mekroorganisme yang beragam mengakibatkan  rangkaian proses antara satu jenis biakan dengan lainnya, serta kemungkinan besar hasil sampingan yang membahayakan akan termanfaatkan, sehingga pada pembuatan kompos penggunaan polikultur dianggap paling memadai dan menguntungkan (Suriawiria, 1981).

Alat dan bahan : Limbah organik rumah tangga, pertanian  dan kotoran ternak, probiotik (EM4, Biomikro dll). Singkup, tempat penimbangan, Termometer.

Prosedur Kerja :

  1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
  2. Seleksi bahan tersebut dari bahan-bahan yang sukar terdegradasi (kaca, plastik, kain, batu dll) bahan yang besar harus dikecilkan dulu supaya mudah dicampur dan homogen .
  3. Timbang tiap bahan kompos yang sudah dibersihkan sesuai dengan kebutuhan sehingga dicapai C/N rasio 20 – 30 dengan kadar air 50 – 60 %. Pada saat penambahan kadar air atau pencampuran  anda dapat menam-bahakan probiotik atau pupuk kimia agar mempercepat proses pengomposan dan memperkayakompos yang dihasilkan.
  4. Sesudah ditimbang bahan tersebut dicampur sampai dengan homogen atau dibuat berlapis-lapis selang seling didalam tempat pengomposan.
  5. Lakukan pembalikan pada harike 3 dan 6 dan hari ke 10 dan hari ke 17 serta setiap hari cek kadar airnya (tambahkan) supaya kelembapan tetap terjada 50-60%.
  6. Lakukan pengukuran suhu harus tercapai 70 oC pada hari ke 6.
  7. Pada hari ke 21 kompos sudah dapat digunakan untuk tanaman atau di packing  setelah dingin terlebih dahulu

Beberapa formula kompos yang biasa dipakai di jawa adalah sebagai berikut :

Kotoran ternak 80%, Abu sekam 10%, kalsit atau kapur 5%, Serbuk gergaji maksimum 5 %, dan penambahan probiotik 0,25% stardec dengan kadar air 60%, tempat pembuatan kompos harus dibuat naungan atau gundukan kompos ditutup dengan plastik supaya cahaya matahari dan hujan tidak langsung mengenai  kompos.

Tabel 7. kadar C/N rasio bebrapa jenis bahan organik  berdasarkan bahan kering

Bahan % Nitrogen C/N Rasio
Urin

Darah

Buangan Pajagalan

Tinja

Lumpur Aktif

Rumput Segar

Sayuran

Pupuk Hijau

Ganggang laut

Kulit Kentang

Sampah kota

Jerami jelai

Jerami gandum

Tahi gergaji

Pupuk Kandang

Kotoran Kerbau

Kotoran kuda

Kotoran Sapi

Kotoran Ayam

Kotoran Babi

Kotoran kambing/domba

15-18

10-14

7-10

5.5-6.5

5.0-6.0

4

3.6

2.15

1.9

1.5

1.05

1.05

0.3

0.11

2.5

0.8

3

2

6-10

6

12

12

14

19

25

24

68

125

150

20

18

25

18

15

25

30

Cara menghitung agar diperoleh C/N rasio yang diinginkan 30 yang baik untuk pupuk kompos ialah dengan memilih bahan-bahan yang lebih rendah dari 30 dan lebih tinggi dari 30, kemudian hitung dengan metode bujur sangkar.